Tampilkan postingan dengan label di balik proses kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label di balik proses kreatif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2016

Tanggung Jawab Moral Penulis Biografi

Satu tahun yang lalu (tepatnya tanggal 7 Agustus 2015), aku menerima "sebuah e-mail" dari seseorang yang tidak kukenal. E-mail tersebut diberi judul "permohonan". Dari judul yang dibuat, rasanya tidak ada yang menarik untuk kubaca lebih jauh. Sejenak aku berpikir: ah, ini paling-paling surat elektronik dari seseorang yang ingin minta sumbangan, atau bisa jadi surat elektronik dari orang di luar negeri untuk minta bantuan kepadaku lantaran dia dinikahi orang asing, lalu suaminya meninggal (biasanya kecelakaan), dan dia memiliki dana cukup besar yang ditawarkan kepadaku untuk bisa kurahasiakan.

baca lebih lanjut...?

Selasa, 12 Maret 2013

Jalan Panjang Kelahiran Buku "Tidur Berbantal Koran"

"Tugas saya --sebagai penulis-- hanyalah menulis dan berusaha. Setelah itu saya serahkan takdir: ke mana jodoh naskah itu akan terbit." Sepenggal kalimat itu, mungkin dapat dikatakan ungkapan yang tepat setelah saya mengalami "pengalaman" agak panjang terkait dengan terbitnya buku saya Tidur Berbantal Koran. Sebab saat menulis buku itu, saya tak tebersit pikiran akan menerbitkan buku tersebut di Elex Media Komputindo. Tapi, tidak saya duga, akhirnya naskah tersebut diterbitkan penerbit Elex Media Komputindo.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 08 Januari 2012

Dari Penjual Koran (Jalanan) Menjadi Penulis

tulisan ini dimuat di indonesiabuku.com [14 Februari 2010] dan "prolog" untuk buku saya: Tidur Berbantal Koran [Elex Media: 2013]

Batu permata tidak bisa menjadi berkilap tanpa gesekan; demikian juga dengan manusia; tidak akan bisa menjadi baik tanpa cobaan (William Shakespeare)

Tanpa dihimpit oleh cobaan, aku mungkin tidak akan pernah jadi penulis. Sebab cobaan yang datang tanpa pernah aku undang itu, seperti menjerumuskanku ke jalanan yang penuh dengan debu. Aku pun terpaksa jadi penjual koran di jalanan Yogyakarta ketika ayah jatuh sakit dan tak mampu mengirimiku uang kuliah.

Tetapi dari lempeng jalanan kota Gudeg itu, aku justru mengenal kehidupan. Aku merasa didewasakan oleh kehidupan keras jalanan, dan dari halaman koran, aku belajar menulis. Meski tidak ada guru menulis di sampingku yang membimbing, aku merasa lembaran-lembaran koran itu adalah guru yang bijak di tengah kehidupan jalanan sebab lembaran-lembaran koran itu telah membakar spirit dan membuka mataku untuk bisa menulis di kelak kemudian hari.

Semua itu, berawal dari kisah yang unik. Sebuah kisah yang membuatku tersadar bahwa aku harus berubah. Tak mungkin, aku akan menjadi penjual koran di sepanjang jalanan terus. Tak mungkin, aku harus menjadi anak jalan, disengat terik mentari yang garang dan bergelantungan di pintu bus, naik turun dari satu bus ke bus yang lain. Jadi, aku harus bisa mewujudkan mimpiku...

Pagi itu, tepat di hari ketujuh aku jualan koran. Matahari bersinar dengan cerah. Itu adalah pagi yang akan membawa berkah dan anugerah. Beda ketika hari diselimuti dengan mendung dan hari sedang turun hujan. Aku pasti hanya bisa duduk termangu di emperan toko dan menatap gelap langit dengan raut sedih. Karena kehadiran matahari di pagi hari bisa membuatku leluasa menjajakan setumpuk koran di tanganku sepanjang jalan, menumpang naik bus; menawarkan berita hangat yang jadi headline koran.

Aku baru saja mengambil setumpuk koran di agen pasar Gading, lalu melangkah ke tepi jalan untuk menunggu tumpangan bus dari terminal Umbulharjo. Tapi, nasibku pagi itu seperti didekap kemujuran. Ketika keluar dari pasar, lampu trafick light ternyata menyala merah. Kondisi itu menjadikan semua kendaraan yang melaju dari arah Timur harus berhenti. Kebetulan bus Mustika –salah satu bus jurusan Yogyakarta-Semarang—sedang terdampar di perempatan Gading.

Aku pun segera berlari, kemudian menaiki bus Mustika itu dengan memendam setangkup harapan bisa mengais rezeki. Setelah aku di atas bus, aku pun beraksi dengan cepat: aku membagi-bagikan koran ke seluruh penumpang. Itu jurus jitu jualan koran yang biasa aku terapkan untuk menarik rasa penasaran penumpang agar mau membeli. Dengan cara itu, para penumpang dapat membaca koran sekitar dua sampai tiga menit, lalu aku menarik koran yang aku bagikan itu dari depan. Jika mereka sempat membaca sebentar, tapi diliputi penasaran untuk membaca lebih lanjut, maka tidak ada jalan lain kecuali mereka harus rela merogoh uang dari saku mereka untuk membeli koran.

Aksiku di atas bus di pagi itu, rupanya membawa kerkah. Ada tiga penumpang yang membeli koran Kedaulatan Rakyat yang aku jajakan. Hatiku lega. Aku mengelus dada, karena aku telah mengantongi uang Rp 600.00 di sakuku. Waktu itu, tahun 1995 harga koran Kedaulatan Rakyat Rp 200.00 dan dari setiap 1 eksemplar yang berhasil aku jual, aku mendapatkan keuntungan separoh (Rp 100.00). Jadi, pagi itu, aku sudah meraup keuntungan Rp 300.00. Keuntungan di awal pagi itu, membuatku ingin istirahat sejenak. Aku ingin menghirup segelas kecil teh manis dan makan satu pisang goreng di warung Bu Tum, di Pojok Benteng Kulon untuk sekadar mengganjal perut agar aku tidak terkulai lemas di jalanan atau jatuh dari bus.

Pelecut Kesadaran dari Tukang Becak
Pagi masih terasa menggigilkan tubuhku, meskipun sinar mentari sudah bersinar cerah dari ufuk Timur. Angin pagi yang menelusup kencang dari celah-celah jendela bus, membuat kantukku hilang. Aku merapat ke pintu bus. Bus masih terus melaju, dan aku menggelantung di pintu bus. Tepat di perempatan Pojok Benteng Kulon, bus berhenti untuk menaikkan penumpang. Aku turun, kemudian melangkahkan kaki ke warung Bu Tum.

Perutku sudah terasa seperti melilit. Tenggorokanku dicekam haus. Lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan membuat aku tidak sabar. Aku menunggu di pinggir jalan dengan cemas. Akhirnya, ketika jalanan agak sepi, aku pun buru-buru melangkah. Tetapi, di saat aku melangkahkan kaki dengan lunglai ke arah warung bu Tum, tiba-tiba sebuah suara membuyarkan harapanku untuk bisa segera menenggak teh hangat.

“Koran…, mas!”

Aku menoleh. Tidak kulihat ada orang yang aku yakini akan membeli koranku, kecuali aku hanya melihat tiga tukang becak yang menyandarkan tubuhnya di atas becak masing-masing. Aku sama sekali tak percaya, jika suara mengagetkan yang aku dengar itu bersumber dari salah satu tukang becak tersebut. Aku merasa ada hantu di pagi hari yang sengaja iseng menggodaku. Aku celingukan, menoleh ke sekitar untuk memastikan sumber suara itu.

Tetapi lamat-lamat, dari kejauhan aku melihat salah satu dari tukang becak itu melambaikan tangannya ke arahku. Aku menoleh ke belakang, mengira tukang becak itu melambaikan tangannya memanggil seseorang di belakangku. Lagi-lagi, tak kulihat ada orang lain yang dipanggil.

“Koran, mas…!” kembali suara misterius itu membuatku terhenyak kaget.

Aku menoleh, dan kulihat satu dari tiga tukang becak itu melambaikan tangan ke arahku. Aku menunjuk ke dadaku, kemudian mengangkat tumpukan koran yang masih menggunung di tangan kananku untuk sekadar memastikan bahwa tukang becak itulah yang memanggilku.

Dia menggangguk. Aku segera berlari ke arahnya.

“Kamu ini jualan koran, tapi kayak orang tidak butuh duit. Dipanggil berkali-kali, seperti orang bingung saja. Kamu boleh melihat tampangku ini memang sebagai tukang becak, tapi jujur, aku tetap tidak mau ketinggalan berita koran…” omel tukang becak itu, ketika aku berada di dekatnya.

Aku hanya tersenyum geli, tetapi aku tak peduli dengan omelan tukang becak itu.

“Aku kira sampeyan bercanda waktu memanggilku, pak,” jawabku sekenanya.

Ia merogoh uang dari sakunya yang kumal. “Koran Kedaulatan Rakyat,” ucapnya seraya mengulurkan uang.

Aku mengulurkan koran kemudian menerima uangnya, seraya tersenyum. Tapi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa heran dengan tukang becak itu. Dia rela merogoh kocek dari saku kumalnya untuk membeli koran dari tanganku dan sesaat kemudian, ketika aku melangkah pergi dari hadapannya, aku melihat ia membaca koran tersebut dengan cermat.

Aku tak tahu, rubrik apa yang dibaca oleh tukang becak itu. Apa berita kriminal? Lowongan kerja ataukah berita politik? Tapi, sindiran tukang becak tersebut membuatku serasa tersulut api yang membuatku tergeragap. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Selama tujuh hari aku jualan koran, aku tidak pernah membaca koran yang kujajakan sendiri. Aku seperti tak peduli dengan apa yang kujual karena yang aku inginkan adalah koranku laku. Tak peduli, apa isi berita di koran kecuali aku melihat sekilas berita pada halaman awal.

Demi mengejar keuntungan, aku terpaksa berlari sekencang angin mengejar bus; naik turun dari satu bus ke bus lain, numpang jualan dari terminal Umbulharjo sampai jalan Magelang kemudian kembali ke terminal lagi, dan seterusnya --berkali-kali hingga siang hati lalu aku pulang ke kontrakan dengan disergap letih dan capek. Tak pernah aku meluangkan waktu untuk membaca dengan detail isi berita koran yang aku jual.

Aku melangkahkan kakiku ke warung Bu Tum, tetapi pikiranku masih dikerubuti rasa heran dengan tukang becak tersebut. Rasa hausku lenyap tiba-tiba. Rasa lapar yang tadi mengoyak perutku seperti sirna. Maka setibaku di warung bu Tum, aku pun duduk lemas di sudut warung. Tetapi, nanar pandangan mataku seperti tak bisa berpaling: aku menatap ke arah tukang becak itu yang sedang membaca koran dengan mata khusuk.

Tanpa aku pesan, bu Tum seperti tahu apa yang aku inginkan. Tidak lama setelah aku duduk, teh hangat porsi gelas kecil seharga Rp 50.00 pun terhidang di depanku. Aku masih tercenung. Pandangan mataku terus menatap sosok tukang becak yang suntuk membaca koran di atas bacaknya. Sementara itu, teh hangat di hadapanku seperti tidak menarik perhatianku. Pisang goreng yang lezat di atas piring di depanku juga tidak lagi menarik simpatiku. Pagi itu, aku benar-benar merasa disadarkan oleh tukang becak itu.

Lima menit kemudian, bu Tum menatapku heran, “Engkau datang ke warung ini untuk memesan teh atau mau melamun?”

Aku tegeragap. Suara bu Tum --seketika menyadarkanku. “Tentu saja aku datang ke sini untuk minum teh bu. Dari tadi aku bahkan sudah haus…”

“Tetapi, kenapa teh itu dibiarkan dingin?”

Aku menatap segelas teh yang masih mengepulkan asap tepat di hadapanku. Saat itulah, aku baru merasakan jika tenggorokanku haus. Aku meminum teh di hadapanku dengan beringas. Haus di tenggorokanku tandas dalam sekali teguk. Satu pisang goreng di atas meja pun segera aku santap. Perutku tidak lagi melilit. Itulah moment-moment di pagi hari yang membahagiakan tatkala aku istirahat, mensyukuri hasil keringat di awal menjajakan koran meskipun aku harus rela menunggu koranku laku terlebih dahulu dua sampai tiga eksemplar untuk bisa minum teh hangat dan satu pisang goreng.

Belajar Menulis dari Koran
Pengalamanku bertemu dengan tukang becak yang membeli koran daganganku dan menyindirku di pagi itu, ternyata menyadarkan pola pikirku dan mengukir sejarah baru dalam kehidupanku di jalanan. Sebab sejak itu, tukang becak itu jadi langgananku; hampir tiap hari ia membeli koran dariku. Hasrat tukang becak yang membeli koran dari tanganku dan membacanya di atas becak dengan muka masih kusut, telah mendorongku membiasakan membaca setumpuk koran yang aku jual. Sehabis menunaikan ritual pagi minum teh hangat dan makan satu pisang goreng di warung, aku duduk di emperan toko untuk meluangkan waktu sekitar setengah jam atau satu jam membaca setumpuk koran daganganku.

Dari kebiasaan baca koran di emperan toko [dan kadang-kadang di bawah pohon di tepi jalan di perempatan Bugisan dan Patangpuluhan] itu, pada satu hari aku tiba-tiba disadarkan sebuah tulisan yang ditulis mahasiswa di rubrik Opini atau Debat Mahasiswa di Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas. Saat membaca, aku benar-benar tersadar dan terhenyak, karena ternyata aku menemukan kenyataan seorang mahasiswa bisa menulis di koran. Apalagi, saat aku membaca koran Minggu di rubrik resensi buku, sering kali aku menjumpai deretan “nama penulis” dengan identitas masih mahasiswa.

Setiap selesai membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa itu, otakku serasa mendidih bagai air yang dijerang di atas tungku. Ada sekelebat mimpi di dadaku yang memompaku untuk bisa menulis: menorehkan namaku di koran seperti mereka. Maka dalam hati, aku berjanji bahwa suatu saat nanti aku harus bisa menulis di koran. Dan sejak itu aku pun mulai rajin membaca koran yang aku jual dan mempelajari tulisan yang dimuat di koran secara autodidak.

Ironisnya, tidak jarang, ketika aku khusuk membaca koran di emperan toko, aku kerap kali lupa kuliah: “bolos”. Jujur, di jalanan aku mengenal kehidupan. Dari halaman koran, aku bisa belajar menulis. Aku merasa seperti dianugerahi sepasang mata untuk melihat sekeliling dengan mata yang tajam. Dengan tanpa bimbingan seorang tutor atau guru menulis, aku belajar menulis dengan jurus tanpa “kitab suci”. Ibarat murid di biara Shaolin, aku belajar ilmu bela diri dengan hanya melihat hasil lukisan tendangan atau pukulan yang terpampang di tembok biara Shaolin lalu tengah malam gulita aku belajar untuk mempraktekkan apa yang aku lihat tersebut.

Jadi, setiap pagi hari aku melakoni ritual jualan koran di jalanan, lalu menjelang siang berangkat kuliah dengan mengayuh sepeda dari Krapyak ke kampus dan malam hari aku melatih diri untuk menulis. Semua itu kulakukan untuk mewujudkan mimpiku; aku harus bisa menorehkan namaku di lembaran koran, tidak harus jadi penjaja koran jalanan terus atau jadi anak jalanan abadi.

Aku belajar menulis di malam hari, lalu aku kirim ke sejumlah koran. Tapi, jalan yang aku lalui tidaklah mulus. Seratus halangan dan terpaan, nyaris membuatku hampir putus asa saat tulisan yang aku buat itu ditolak oleh redaktur media massa. Aku diliputi kegamangan, patah arah. Bahkan dalam hatiku, sempat terbesit keraguan: apakah aku memang benar-benar tidak akan pernah jadi penulis?

Tidak Patah Arang
Aku memang kerap gamang! Tapi, usaha keras, tidak jarang membuahkan hasil. Aku tidak jadi patah arah. Sekeras apa pun persaingan merebut lembaran koran, bagiku masih keras dan kejam kehidupan di jalanan. Itu yang aku ketahui. Sebab di jalanan, aku sempat diancam dengan sebilah belati yang dihunuskan tepat di wajahku. Di jalanan, aku sempat berkelahi dengan penjaja koran dari Madura, karena ia merasa lahannya aku rebut. Di jalanan, aku juga bergaul dengan preman yang kerap kali mabuk dan berkelahi. Di jalanan, aku kerap kali bertemu dengan copet yang dengan jeli dan cekatan menguntit dompet para penumpang. Itu alasanku, kenapa aku tak patah arah jika hanya berjuang bisa menembus koran.

Usaha keras, ditunjang kesabaran dan mental tidak patah arah, rupanya mampu merubah “jalan hidupku”. Setelah berjuang dengan keras, satu persatu, tulisanku dimuat di koran lokal hingga kemudian menembus koran nasional, yakni di Kedaulatan Rakyat, Bernas, Solo Pos, Bengawan Pos, Wawasan, Suara Merdeka, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Suara Indonesia, Lampung Post, Batam Post, Harian Riau Mandiri, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Matabaca, Gatra, Tempo, Koran Tempo, Republika, Seputar Indonesia, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Bisnis Indonesia, Suara Karya, Tabloit Nova, Majalah Anggun, Gamma, Forum Keadilan, The Jakarta Post dan Kompas.

Aku mulai menginjakkan kaki di Yogyakarta untuk kuliah dan menjadi penjual koran pada penghujung tahun 1995. Keterbatasan pengetahuan dan tidak ada guru yang membimbingku, menjadikanku tidak bisa mewujudkan mimpiku untuk menjadi penulis dengan mudah. Mimpiku hanya menggumpal di sudut otakku. Apalagi, waktu itu aku tak memiliki uang lebih untuk membeli mesin ketik yang dapat mewujudkan mimpiku bisa menulis di lembaran koran. Di sisi lain, tak ada teman yang punya mesin ketik yang bisa aku pinjam dengan leluasa. Jadi, mimpiku itu terkubur dalam lorong waktu kurang lebih dua tahun.

Waktu berlalu. Deraan, cobaan dan ujian hidup pun silih berganti. Aku bahkan terpaksa keluar kuliah ketika menginjak semester dua --karena tak bisa bayar SPP. Tapi mimpiku untuk mampu menulis di lembaran koran seperti tidak pernah padam. Apalagi, setelah keluar kuliah aku praktis hidup di jalanan. Hampir setiap pagi aku jualan koran. Tapi di jalanan itu, aku belajar mengenal kehidupan dan bersentuhan dengan setumpuk koran: belajar autodidak cara menulis di koran.

Tahun 1996, aku daftar kuliah lagi. Seiring dengan berjalannya waktu, satu tahun kemudian aku mulai merintis menulis dan mengirim tulisan berupa cerpen ke koran di sela-sela kesibukan kuliah dan jualan koran. Hampir satu tahun, kerja kerasku bahkan tak membuahkan hasil. Tidak ada satu pun tulisanku yang dimuat di koran. Aku hampir putus asa. Tetapi dalam “keputusasaanku” itu, aku mulai menekuni bidang fotografi dan iseng-iseng aku mengirimkan foto yang aku hasilkan itu ke koran.

Rupanya, dari keisengan tersebut ternyata membuahkan hasil. Sebuah foto yang aku kirim ke koran ternyata berbuah manis: dimuat di rubrik “Citra Foto” di Kedaulatan Rakyat (Kamis, 11 Desember 1997). Bermula dari pemuatan fotoku itulah, “rasa percaya diriku” untuk menulis bersemi lagi. Mesin ketik yang sempat kugadaikan, kemudian aku tebus. Aku kemudian berjuang keras untuk menulis lagi.

Tetapi, perjuangan kerasku ternyata tidak mulus. Aku mengalami jatuh bangun, dan hampir setahun kemudian, aku bisa bernapas lega ketika tulisan resensiku berjudul “Potret Yogya Sehari-Semalam” dimuat di koran harian Kedaulatan Rakyat (Minggu, 01 November 1998). Lalu, disusul tulisan resensiku yang berjudul “Sekolah dan Kepelikan Sistem Pendidikan” yang juga dimuat di koran Kedaulatan Rakyat belum genap sebulan (Minggu, 29 November 1989).

Dua tulisanku yang dimuat di koran itu memang membuatku percaya diri. Tetapi jalan lempang ke depan, tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan. Karena menginjak tahun 1999, tidak ada ada satu pun tulisanku yang dimuat. Baru memasuki tahun 2000, aku kembali bisa bernapas lega lantaran empat (4) tulisan resensi-ku dimuat di Bernas, Kedaulatan Rakyat dan Majalah Forum Keadilan.

Mulai Merambah Sejumlah Media
Setelah melalui perjuangan keras, pada tahun 2001 tulisanku mulai bertebaran di koran. Tahun 2001, ada tujuh belas (17) tulisan resensiku yang dimuat di koran --mulai dari koran Kedaulatan Rakyat, Surabaya Post, Majalah Gamma, Pikiran Rakyat, Media Indonesia bahkan sudah tembus Kompas.

Tahun berikutnya, 2002, tulisanku yang dimuat di koran mulai meningkat. Dari tujuh belas tulisan yang dimuat tahun 2001, meningkat menjadi tiga puluh (30) tulisan. Pada tahun 2002, selain banyak tulisanku yang dimuat di media massa yang sebelumnya belum pernah memuat tulisanku (seperti di Solo Pos, Bengawan Post, Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Surya, Jawa Pos dan bahkan Jakarta Post) aku juga kembali menulis cerpen. Cerita pendek pertamaku berjudul “Mbah Kardoen” dimuat di Solo Pos (Minggu, 28 Juli 2002).

Tahun 2003, proses kreatifku mencapai puncaknya karena kerja kerasku berhasil menorehkan lima puluh enam (56) tulisan --dalam berbagai genre- yang dimuat di koran dan majalah. Aku tidak hanya menulis resensi buku dan cerpen, melainkan menulis esai sastra, esai film, opini dan bahkan juga puisi. Tahun 2004, bisa dikatakan tulisanku yang dimuat di koran menurun jumlahnya karena cuma ada tiga puluh tujuh (37) tulisanku yang dimuat di koran.

Tahun 2005, aku hijrah ke Jakarta bekerja sebagai wartawan. Kesibukanku mulai merenggut waktuku sebagai penulis freelance di sejumlah koran dan majalah yang sudah mulai aku rintis sejak 1998. Tak salah, jika ada dua belas (12) tulisanku yang dimuat di koran selama tahun 2005. Tahun 2006, ada dua puluh dua (22) tulisan yang dimuat di koran. Lalu, tahun 2007, ada dua puluh delapan (28) tulisan. Tahun 2008, ada empat puluh tiga (43) tulisan dan tahun 2009, ada dua puluh sembilan (29) tulisan.

Kini, sudah sepuluh tahun lebih aku menjadi penulis freelance di sejumlah koran lokal dan nasional: menulis resensi buku, opini, esai sastra, esai film dan cerita pendek. Tak kurang ada 300 tulisanku yang sudah dimuat di koran lokal dan nasional. Mimpiku untuk bisa jadi penulis akhirnya terwujud. Bahkan, berkat tulisanku yang banyak dimuat di koran itulah aku kemudian bisa menjadi wartawan.

Dulu, sebelum lulus kuliah UIN Yogyakarta, ketika kampus tempatku menimba ilmu mengadakan lomba cerpen dan resensi buku yang dijaring dari tulisan-tulisan yang pernah dimuat di koran, aku mendapat juara pertama untuk kategori lomba cerpen dan resensi buku (tahun 2002). Tahun berikutnya, 2003, aku kembali merebut juara. Selain itu, beberapa kali aku juga memenangi lomba menulis resensi buku yang diadakan oleh beberapa penerbit. Satu “prestasi gemilang” aku raih tatkala IKAPI mengadakan lomba blog buku; aku berhasil terpilih jadi juara pertama dalam lomba blog Pesta Buku Jakarta 2008.

Semua prestasi itu seperti sebuah mimpi. Pasalnya, sejarah hidupku nyaris selalu diliputi rentetan kegagalan. Sedari kecil, bahkan aku nyaris kehilangan mimpi dan masa depan. Sebelum kuliah, aku tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Apalagi, terbesit sebuah mimpi besar untuk jadi wartawan. Jika sekarang ini aku berhasil jadi penulis dan wartawan, itu semata-mata karena “kecelakaan sejarah”.

Awalnya, aku terjerumus menjadi penjual koran dan setelah membaca koran aku memiliki mimpi untuk jadi penulis. Mimpiku itu, sekarang sudah terwujud. Karena itu, bermimpilah setinggi langit. Suatu hari nanti, mimpimu itu akan jadi kenyataan. Dalam meraih mimpu itu, aku tidak memungkiri apa yang dikatakan oleh Dough Hoper, “you are what you think (Anda adalah apa yang Anda pikirkan)”.

Jadi, jangan takut untuk bermimpi!

baca lebih lanjut...?

Senin, 12 Desember 2011

Sekelumit Kisah di Balik acara "Apa dan Siapa" TVOne


Aku -sebenarnya-- bukan siapa-siapa. Tidak ada yang istimewa. Tak ada yang patut dibanggakan. Dari SD sampai kuliah di Perguruan Tinggi, nyaris selalu digulung setumpuk kegagalan. Setelah lulus SD, tak bisa meraih impian bisa sekolah SMP favorit. Ketika lulus SMP, kembali tak lagi bisa merengkuh mimpi bisa masuk SMA unggulan. Bahkan ketika lulus SMA, dua kali gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terpaksa harus menganggur selama dua tahun.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 21 Agustus 2011

Kekuatan Imajinasi

Esai ini dimuat di Radar Surabaya, Minggu 21 Agustus 11

DULU, tatkala dorongan menulis itu menjeratku, aku langsung menyalakan komputer dan menuangkan ide yang melintas tersebut -begitu saja. Tak peduli malam. Tak peduli siang. Aku menulis, seakan aku dirasuki kekuatan gaib -yang menuntun tanganku untuk bergerak. Aku seperti sebuah robot yang dikendalikan kekuatan gaib yang tak pernah kukenal. Aku menulis lantaran aku didorong oleh keinginan untuk menulis.

Tapi ironisnya, sering kali aku tak bisa merampungkan tulisanku itu daripada sukses merakit cerita sampai tuntas. Jujur kuakui! Meskipun dorongan menulis itu kerap datang menggebu-gebu, lantaran tak ada konsep dan tak ada bayangan yang jelas tentang apa yang harus kutulis, akhirnya kekuatan gaib yang "mendorongku" itu pun hanya membuatku kecewa setelah aku berjuang sekuat tenaga mencurahkan kekuatanku, tetapi tak menghasilkan sebuah cerita -seperti yang terlintas dalam kepalaku.

Tak sedikit, tulisanku tak rampung. Mungkin, hanya satu atau dua yang dapat kurampungkan. Selebihnya? Kadang teronggok di komputer bahkan kerap tak kusentuh lagi. Terlupakan, tidak pernah menjadi sebuah cerita pendek. Tragis! Tetapi, itulah pengalaman buruk yang dulu sering aku alami!

Untung jika suatu hari aku tiba-tiba ingat kembali dan mendapat ilham baru untuk cerita yang pernah terbengkalai itu. Aku lalu menyentuhnya lagi dan mampu merampungkannya, meski harus tertatih-tatih dan kedodoran!

Tapi aku tak pernah tahu, dan tak pernah peduli. Aku hanya merasakan, saat ada dorongan lagi menulis untuk merampungkan tulisanku yang terbengkali, rasanya ada semacam "kebahagiaan" yang membuatku digelayuti kedamaian setelah bisa menuntaskan ide itu jadi sebuah cerpen. Rasanya habis buang hajat dan kegelisahan yang sempat membuatku terus dicekam rasa cemas itu pun akhirnya bebas dan hilang.

Plooooong! Itulah satu perasaan senang, tatkala aku bisa merampungkan sebuah tulisan!

Teknik Imaging
Bertahun-tahun petaka itu terjadi dan berlalu tanpa pernah ada solusi dan jawaban! Aku tak pernah tahu, jawaban kebuntuanku itu. Hingga suatu hari, aku membaca sebuah buku yang mengisahkan kesuksesan Jack Niclaus bermain golf yang dibantu teknik imaging. Pendeknya, Niclaus sukses karena ia mengandalkan kekuatan imajinasi (atau kekuatan pikiran).

Ceritanya, setiap kali Jack Niclaus ingin menganyunkan tongkat, dalam benaknya, ia menggambarkan (membayangkan) jalannya bola. Lalu datang proyeksi kedua, yakni cara dia memukul tongkat agar mampu menghasilkan jalan bola yang ia inginkan. Tak pelak, setelah dia mengayunkan tongkatnya, bola pun masuk ke lubang sebagaimana yang ia inginkan!

Itulah teknik imaging a la Niclaus yang membuatnya sukses di lapangan golf! Meski teknik itu terkesan sepele dan gampang dilakukan lantaran tinggal membayangkan jalannya bola, dan cara memukul tongkat tapi hasil yang diraih ternyata sungguh gemilang. Kekuatan imajinasi itu ternyata dapat berubah menjadi kenyataan setelah dibayangkan dalam pikiran dengan kuat!

Setelah aku renungkan, ternyata teknik imaging ala Jack Niclaus dalam bermain golf itu tidak beda jauh dengan teknik dalam menulis cerpen. Maka aku kemudian berusaha mempraktekkan teknik ala Jack Niclaus itu. Tak kupungkiri, ternyata teknik imaging itu cukup ampuh. Gamblangnya, setiapkali ide sebuah cerita itu melintas dalam benakku dan kemudian aku menyalakan komputer, aku membayangkan jalannya cerita itu seperti jalannya sebuah bola. Selanjutnya, ketika aku hendak nulis muncul bayangan kedua, gerakan tanganku menekan huruf-huruf di keyboad supaya jalannya cerita itu bisa bergulir sampai berakhir pada ending cerita!

Teknik imaging itu akhirnya membuatku tidak lagi menemui jalan buntu. Apalagi dalam teknik menulis cerita pendek, dikenal satu adagium "Saat menulis sebuah cerita pendek, kuncinya Anda harus tahu ending cerita. Jika sudah tahu ending cerita, maka tak ada kesulitan karena semua akan bergulir..."

Maka saat ending cerita itu sudah aku temukan, tak ada lagi kesulitan menulis. Ibarat jalannya sebuah bola yang terbayangkan hingga ke lobang, maka aku tinggal menulis mengikuti alur yang bergulir ke ending cerita sebagaimana yang aku inginkan. Apakah ending itu akan menunju akhir yang mengejutkan? Itu perlu dibangun dengan sering latihan dan uji coba!

Kekuatan "teknik imaging" yang diterapkan Jack Niclaus dalam bermain golf itu ternyata sejalan dengan himbauan Mary T. Browne dalam memanfaatkan kekuatan pikiran untuk meraih segala hal yang ingin diraih seseorang. Dari 5 aturan pikiran yang disusun Mary, salah satunya adalah "melihat hal itu telah terjadi". Dengan kata lain, membayangkan bola itu terjadi masuk ke lubang dan membayangkan cerita yang ditulis selesai sampai ending cerita.

Di balik Kekuatan Imajinasi
Albert Einstein pernah berkata, "Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan." Apa yang dikatakan Eintein itu, memang tidak salah. Dari sebuah imajinasi, cerita pendek lahir. Dari sebuah imajinasi, sebuah teori bergulir. Dari sebuah imajinasi, apa pun yang Anda inginkan bisa menjadi kenyataan.

Lalu, bagaimana menggunakan kekuatan imajinasi dalam menulis cerpen?

Imajinasi adalah ruh. Imajinasi adalah energi. Imajinasi adalah daya kreatif. Imajinasi adalah energi. Imajinasi itu adalah sebuah getaran. Pendek kata, imajinasi adalah embrio sebuah cerita pendek. Jadi kerja cerpenis tanpa ditopang kekuatan imajinasi ibarat pengembara yang berjalan tanpa peta.

Padahal yang dikehendaki oleh seorang cerpenis adalah berjalan menuju akhir cerita. Kekuatan imajinasi itu, tak lain adalah peta yang menuntut Anda berjalan ke garis finish (ending cerita).***

(Ciputat, 22 Maret 2008)

baca lebih lanjut...?

Selasa, 08 Maret 2011

Tidur Berbantal Buku

Lahir sebagai anak dari keluarga pedagang (kaki lima), buku merupakan barang langka yang nyaris tak mendapatkan tempat istimewa di rumah kami. Hampir setiap sudut rumah kami, sejauh mata memandang, dipenuhi tumpukan barang dagangan; baju, seragam sekolah, dan kaos.

Tidak ada rak buku. Tak ada tumpukan buku. Tidak ada koran harian yang diantar tukang loper koran ke rumah kami. Tetapi, kontras dengan pemandangan itu, di salah satu sudut rumah kami, ironisnya ada setumpuk koran bekas. Setumpuk koran itulah yang membuat kami --kakakku, aku dan adikku-- memiliki hiburan. Tak jarang, setelah ayah membeli berkilo-kilo koran bekas, kami rebutan menggunting koran bekas tersebut untuk kami jadikan sebagai kliping.

Setumpuk koran bekas itu, memang dibeli oleh ayah untuk membungkus barang dagangan. Tetapi kami memanfaatkannya dengan cara lain. Meski hanya setumpuk koran bekas, tetap tidak menghalangi kami untuk membacanya. Praktis, dari setumpuk koran bekas itulah, kami bisa mengintip bahkan mengenal dunia. Karena untuk menunjang sekolah -terus terang-, kami hanya dibekali ayah dengan dua sampai tiga buku pelajaran. Buku-buku pelajaran itu pun nyaris tidak pernah kami keluarkan bahkan selalu tersimpan rapi di dalam tas (kami).

Keadaan menyedihkan itu, ironisnya berlangsung hingga aku lulus SMA. Tidak betah tinggal di rumah --setelah lulus SMA-- akhirnya aku melanglang buana ke Yogyakarta. Tidak ada niat untuk kuliah, kecuali hanya sekedar lari dari rumah untuk mencari pekerjaan. Tetapi kota Yogja ternyata mampu menghipnotis-ku. Tanpa pikir panjang lagi, aku memutuskan untuk kuliah setelah eksotisme kota Gudeg tersebut membuatku betah. Tak pernah kusangka, keputusan itu kemudian menjerumuskanku bisa mencintai buku (padahal aku lahir dari keluarga yang nyaris tak mengajarkan kami semua untuk dekat atau mencintai buku), bahkan mengantarkanku untuk menjadi penulis.

Akhirnya, Jadi Peresensi
Perkenalanku dengan buku, diawali dengan serentetan kisah-kisah unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak pertama aku tinggal di rumah tua yang aku kontrak bersama teman-teman di daaerah Krapyak, Yogyakarta. Setelah kami membayar uang kontrakan, ternyata kami mendapat kabar jika rumah itu tergolong angker. Aku yang memiliki jiwa usil, seketika itu dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Maka, tepat hari pertama aku tinggal, aku langsung menelisik semua bagian rumah tersebut dan saat aku temukan sebuah bangunan kamar di belakang rumah, aku pun ditikam penasaran. Aku pun mengintip ke dalam kamar itu lewat lubang kunci.

Tak kuduga sebelumnya, ternyata di dalam kamar itu tersimpan bertumpuk-tumpuk buku. Tidak sabar lagi, aku pun mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintunya, aku lalu menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak sia-sia di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang kuraih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, aku yang waktu itu belum pernah membaca buku --maksudku; selain buku pelajaran sekolah-- langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Terus terang, novel itu pula yang telah membuka mataku untuk mengenal sastra.

Kenapa aku bisa terjerat dan tertarik dengan buku-buku sastra --terutama novel-- daripada buku-buku bertema lain? Pertama, buku sastra, terlebih novel tatkala dibaca melibatkan emosi atau perasaan pembaca. Tak mustahil, jika buku sastra (baca: novel) bisa mengaduk perasaan pembaca dan bahkan bisa membuatnya menitikkan air mata, karena hanyut kisah tragis yang dirangkai oleh sang pengarang. Karena itu, tak jarang ada cerita dari seorang pembaca berubah setelah membaca novel lantaran dia mendapatkan spirit yang dibangun dari konflik yang diracik oleh sang pengarang. Juga berkat selarik pesan yang dihembuskan sebuah novel.

Dari konteks inilah, wajar kalau tidak sedikit para pembaca novel seperti Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi merasa tercerahkan. Kendati demikian, tak sedikit juga novel yang mencemaskan, membahayakan dan mencelakakan --sampai-sampai dilarang terbit, disweeping bahkan dibakar.

Kedua, buku-buku sastra khususnya novel ditulis sang pengarang dengan kekuatan imajinasi. Sementara imajinasi itu, bisa melambungkan seseorang meraih cita-cita, mewujudkan impian pembaca yang nyaris tidak mungkin terwujudkan. Tak salah, jika Albert Einstein pernah berkata, "Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan." Apa yang dikatakan Eintein itu, memang tidak salah. Dari sebuah imajinasi, novel lahir. Dari sebuah imajinasi, sebuah teori kemudian bergulir. Dari sebuah imajinasi, apa pun yang kita inginkan bisa menjadi kenyataan.

Sejak perjumpanku dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, aku diam-diam sering kali bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis kubaca, aku pun kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang aku baca, menjadikanku disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya aku kuliah, dan tidak sengaja bertemu Arief Syarwani --temanku sekampus-- yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mataku seperti berbinar. Aku pun langsung meminjamnya.

"Jika ini bukuku, pasti aku tidak keberatan meminjamkannya padamu. Tetapi, buku ini juga aku pinjam dari seorang teman dan aku telah berjanji untuk meresensinya di media massa."

Aku yang waktu itu masih awam dengan dunia tulis-menulis, jelas tak paham apa itu resensi buku. Maka aku dengan lugunya segera mencercanya dengan setumpuk pertanyaan untuk menjelaskan apa itu resensi buku, bagaimana cara membuat resensi buku dan kemudian mengirimkannya ke media massa. Di hadapan temanku itu, aku seperti orang dungu. Orang dari kampung yang tidak tahu peta buku dan seluk-beluk menulis. Untung, dia mau menjelaskan dengan gamblang dan tidak segan-segan memberikan saran jika aku berminat mau menulis resensi buku dan mengirim ke media massa.

Rasa penasaran ingin mencoba, membuatku kehilangan harga diri. Maka, dengan "memaksa" aku minta dia tidak keberatan merelakan buku itu aku bawa pulang, "Bagaimana kalau aku yang meresensi buku itu lebih dulu. Aku berjanji, dua hari lagi buku itu aku kembalikan..."

Seperti kejatuhan durian, aku hanya terpana saat dia mengulurkan novel itu untuk aku bawa pulang. Maka semalam suntuk, aku melahap buku itu. Esoknya, aku pun resensinya. Sebagaimana saran yang ia berikan, aku lalu mengirim resensi itu ke harian Kedaulatan Rakyat. Dua minggu kemudian, keberuntungan itu tiba; resensiku dimuat. Seketika itu, aku bangga. Karena, sebelumnya aku telah berkali-kali menulis cerpen. Tragisnya, tak ada satu pun yang dimuat. Jadi, tulisan resensi itu adalah tulisan pertamaku yang dimuat di media massa.

Rupanya, tulisan pertama-ku itu merupakan jalan lempang bagiku untuk menjadi peresensi. Setelah itu, resensiku sering dimuat di media massa. Akhirnya, setelah bertahun-tahun aku menulis resensi buku, aku pun mendapatkan keuntungan. Setidaknya, ada tiga keuntungan yang didapat dari meresensi buku. Pertama, mendapatkan honor dari media massa bersangkutan. Kedua, mendapatkan buku (kiriman gratis) dari penerbit, dan tidak jarang masih ditambahi dengan bonus berupa uang sebagai tanda terima kasih. Ketiga, dengan menulis resensi, pembaca bisa belajar tak sekadar jadi pembaca pasif, melainkan bisa mengungkapkan apa yang telah dibaca, mengkritisi, dan bahkan membantah buku tersebut.

Tidur Berbantal Buku
Seiring dengan perjalanan waktu, setelah aku menulis sejumlah resensi buku, terus terang, berkah paling menyenangkan adalah datangnya buku-buku baru yang dialamatkan ke tempat tinggalku. Wajar, ketika aku masih tinggal di Yogja, kamar kost-ku sudah dipenuhi dengan buku-buku kiriman dari penerbit. Ada beberapa buku yang dikirim sebagai hadiah setelah aku meresensi buku. Ada juga beberapa buku yang aku dapatkan dari penerbit, tetapi tidak sebagai bonus resensi melainkan lebih pada jalinan kerjasama timbal-balik. Artinya, aku dikirimi buku itu dengan catatan nanti diminta untuk mempublikasikan ke media dalam bentuk resensi buku. Di samping itu, ada juga buku-buku yang aku dapatkan dari beberapa teman yang kebetulan jadi penulis, atau bekerja di salah satu penerbit sebagai editor.

Dengan datangnya buku-buku gratis kiriman dari penerbit itu, tak mustahil kamarku banjir buku. Jika dahulu rumahku dipenuhi dengan barang dagangan, dan sepanjang mata memandang nyaris dipenuhi baju, seragam sekolah, kaos dan sejumlah pakaian, pemandangan itu telah berubah seratus delapan puluh derajat dan nyaris bertolak belakang. Sejak masih tinggal di kota Gudeg, hampir di setiap sudut kamarku nyaris dipenuhi dengan buku. Maklum, selain sering mendapatkan buku kiriman gratis dari penerbit, tak jarang aku membeli beberapa buku setelah mendapat honor dari menulis.

Dengan bertumpuknya buku di kamarku, aku pernah memiliki kebiasaan unik. Hal itu bermula saat aku masih tinggal di Yogja dan bisa disebut keranjingan menulis resensi buku. Tuntutan untuk membaca serius sebelum meresensi buku, membuatku kerapkali harus tidur sampai larut malam. Tetapi ketika mataku sudah disergap rasa kantuk, tiba-tiba setumpuk buku yang ada di sampingku kemudian tak sengaja kujadikan sebagai bantal. Setelah bangun, aku baru tersadar kalau semalaman aku tidur berbantalkan setumpuk buku.

Meski setelah bangun dari tidur leherku seperti terkilir, anehnya kebiasaan itu tak dapat aku hilangkan. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu dan aku sudah pindah ke Jakarta, memiliki pekerjaan tetap, bahkan sudah bisa membeli bantal, uniknya kebiasaan itu masih kerap terjadi.

Apakah yang aku lakukan itu dapat dikatakan sebagai penghinaan terhadap buku lantaran aku menjadikannya sebagai bantal untuk tidurku?

Sampai sekarang, aku tak pernah tahu; apa kebiasaanku itu buruk atau justru tergolong kurang ajar. Untuk itu, aku senang jika ada pembaca blog ini yang bisa membantuku untuk memberi jawaban yang melegakan! ***

(Ciputat, 26 Juni 2008)

baca lebih lanjut...?

Jumat, 26 November 2010

Tulislah Buku untuk Orang Lain...!

/1/
KANTOR redaksi majalah Anggun, suatu siang yang begitu merona. Aku berdiri mematung, bersidekap di tangga terakhir sebelum kaki kananku menginjak lantai ruang itu. Sejenak, aku edarkan pandangan. Sebuah ruangan yang tak asing. Ruangan sebuah redaksi yang dipenuhi meja komputer. Lima reporter sibuk menulis di depan komputer. Di sudut ruangan, dua layouter sedang mengolah desain. Dari kaca terang yang tembus pandang, aku menatap ruang terpisah, tempat pimred Anggun. Ia duduk menyandarkan kepala, seraya menatap langit-langit.

Gamang, aku melangkah. Tetapi, satu langkah kakiku yang kemudian menginjak lantai redaksi, rupanya menimbulkan ruangan itu terusik dengan kehadiranku. Semua menoleh sebentar ke arahku --sebelum kemudian melanjutkan kerja kembali.

“Jika orang Indonesia sibuk seperti orang-orang yang ada di sini, Indonesia pasti tak akan jadi negara miskin dan banyak utang...” gurauku saat berdiri di tengah ruangan.

“Setiap kali datang ke Anggun selalu menjadi pengganggu!” jawab Imam Ma`ruf, pimred majalah Anggun dari balik ruangan.

Aku menoleh ke arahnya. Dari balik kaca ruangan, aku mengumbar senyum yang sumbang seraya melangkahkan kakiku memasuki ruangannya, lalu duduk di depannya. “Setiap aku datang ke sini, suasana redaksi selalu mencekam seperti ruangan mayat di rumah sakit. Tak ada senyum. Tak ada tawa...”

“Biasa, lagi deadline...” ujarnya pendek “Oh, ya... kau sibuk apa? Daripada datang cuma menjadi pengganggu, mending kau membantu menulis untuk rubrik kata buku di majalah Anggun. Aku tak ada waktu lagi...”

“Tapi aku tidak ada buku yang bertema pernikahan yang cocok untuk diresensi di majalah Anggun...” jawabku pendek.

Ia tidak menjawab, tetapi berdiri, mendekati rak buku, memilih sebuah buku dari deretan buku yang ada: buku bersampul merah. Ia kemudian meletakkan buku itu tepat di depanku, “Ini buku yang bisa kau resensi...”

Aku meraih buku di hadapanku –buku berjudul Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta, karya Salim A. Fillah. Aku membalik halaman buku itu, menimang waktu yang harus aku butuhkan untuk membaca, dan menulis menjadi sebuah resensi. Memang tak sulit bagiku membuat resensi buku mengingat aku sudah bertahun-tahun menulis resensi di media masa. Tapi, kecepatan membaca di saat deadline yang pendek, membuatku harus kerja keras.

“Tak sulit memang membuat resensi. Tapi kerja ikhlas dengan tanpa honor inilah yang membuatku tidak bisa berpikir dengan cepat,” jawabku sambil tertawa.

“Sesekali menulislah dengan ikhlas, tanpa menghitung honor,” timpalnya dengan tawa yang keras. “Siapa tahu, kelak di kemudian hari kau akan mendapatkan berkah dari keikhlasanmu ini...”

Aku hanya diam, kemudian merenung...

/2/
TAK ada satu kejadian yang terjadi secara kebetulan dalam hidup ini. Itulah titik awal aku berkenalan dengan buku terbitan Pro-U Media. Malam itu, aku membaca buku itu dengan mengerahkan jurus cepat. Maklum, deadline menghadang di ujung waktu dan aku harus segera menulis resensi buku tersebut.

Waktu itu, aku belum menikah. Jadi, hembusan pesan yang digemakan oleh sang penulis hanya memberiku suntikan untuk bisa mengamalkannya jika kelak di kemudian hari aku menikah. Tapi, satu hal yang membuatku tergugah setelah membaca buku itu adalah keinginan untuk bisa menulis buku.

Semua itu, memang bukan sebuah kebetulan, karena setelah itu aku mendapat tempat di redaksi Anggun. Aku kerap datang ke kantor redaksi Anggun, membaca buku-buku kiriman dari penerbit --termasuk buku kiriman dari kelompok Pro-U Media. Juga berkah yang lain, aku kemudian jadi kontributor yang mengisi resensi buku, cerpen dan beberapa rubrik lain di majalah Anggun. Kesempatan itu yang mengantarku berkenalan dengan bapak Fauzil Adzim ketika suatu hari penulis bestseller itu jadi narasumber pada acara seminar di Universitas Indonesia dan Imam Ma`ruf mengajakku menjemput pak Fauzil Adzim untuk berbincang-bincang tentang rubrik “kolom Fauzil Adzim” tentang pernikahan yang sudah lama ada di majalah Anggun.

Siang hampir berganti sore. Setelah berbicang “panjang” tentang rubrik tersebut dan berbagai tema seputar pernikahan, Imam Ma`ruf menawarkan diri mengantar ke Bandara Soekarno Hatta. Senja masih menggantung di langit, tatkala sampai di bandara, dan waktu ternyata masih tersisa cukup panjang. Dalam kesempatan itu, aku berbincang dengan bapak Fauzil Adzim tentang penerbitan dan buku-buku best-seller yang dia tulis. Tapi bagiku, ada satu pertanyaan menganjal dan ingin aku telisik lebih jauh lagi tentang kesuksesan bapak Faudzin Adzin dalam menulis buku.

“Saya sudah membaca beberapa buku yang bapak tulis meskipun harus saya akui tidak semuanya. Tapi saya tidak menutup mata, hampir semua buku yang bapak tulis bisa menjadi best-seller,” aku menarik napas panjang, diam sejenak, sebelum kemudian melanjutkan, “Ini terkait buku-buku yang bapak tulis..., di balik itu sebenarnya faktor apa yang berperan penting bisa menjadikan hampir semua buku bapak bisa best-seller?”

Bapak Fauzin Adzim menoleh ke kerumunan orang di bandara Soekarno-Hatta. Orang-orang hilir mudik, orang-orang seperti berjalan dengan bergegas. Sementara aku, Imam Ma1ruf dan bapak Fauzil Adzin duduk santai di depan bandara membunuh waktu. Tetapi, tanpa aku sadari, tiba-tiba bapak Fauzil Adzim menjawab dengan pendek “Saya sebenarnya tak memiliki pretensi yang cukup melambung. Saya menulis buku di mana hal itu menurut saya bisa bermanfaat bagi orang lain...”

Aku mengangguk. Sesuatu yang terkesan sepele.

“Sekarang ini, saya sebenarnya sedang merencanakan untuk menulis buku. Tapi, saya masih bingung dengan tema yang hendak saya tulis. Mungkin novel, atau bisa jadi sebuah memoar. Apa kira-kira resep yang ingin bapak usulkan seputar tema buku yang bisa saya tulis?”

“Tulislah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan cara itulah, buku yang kau tulis pasti akan dibaca orang!” jawab bapak Fauzil Adzin.

Senja turun pelan, seiring gugusan pelangi yang mengguratkan warna jingga di cakrawala. Tak lama kemudian, Fauzil Adzim terbang ke Yogyakarta. Tapi, ucapan bapak Fauzin Adzim itu seperti menggenangi pikiranku, bahkan terkenang dalam ingatan...

/3/
Keinginanku untuk menulis sebuah buku tentang pengalaman menulis di media massa -yang pernah aku ceritakan pada bapak Faudil Adzim— sebenarnya sudah cukup lama aku konsep. Tetapi, setiap kali keinginan itu melingkupi pikiranku, ada segumpal keraguan yang menyergap: “aku merasa tidak percaya diri”.

Hingga suatu hari, aku berkesempatan bertemu Mas Cecep Romli [dari penerbit Adelweiss] di sebuah rumah makan padang di daerah Ciputat. Dalam pertemuan itu, aku iseng-iseng menceritakan sepenggal kisah dari pengalaman hidupku. Di luar dugaanku, Mas Cecep ternyata menanamkan api dukungan dan mendorong nyaliku agar aku tidak perlu digenggam keraguan dan segera menulis pengalamanku ini dalam sebuah buku. Ia bahkan berjanji, kelak akan menerbitkan jika sudah jadi buku.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku kembali terjerumus ke dalam lumpur keraguaan. Janji itu tak mampu menyulut inspirasiku tergerak menulis. Setahun berlalu, aku bergeming. Aku seperti tidak memiliki nyali, tak punya hasrat yang kuat untuk dapat menulis. Keinginan itu lantas pudar. Niat untuk menuangkan pengalaman itu, akhirnya mengendap dalam lorong waktu.

Setelah aku menikah, keinginan menulis buku itu kembali berkelebat. Dorongan itu datang dari istriku. Setiap kali ia dilanda letih setelah mengajar, aku menceritakan sepenggal demi sepenggal kisahku sebagai dongeng pengantar tidur. Di luar dugaanku, setelah aku menceritakan hampir seluruh pengalamanku, ia memintaku menuliskan pengalamanku itu dalam sebuah buku memoar.

Tetapi, impitan hidup kerap kali menjebol tembok ketangguhanku. Aku bahkan dihinggapi kejenuhan untuk menulis. Selama dua bulan, aku tak menulis sebagai penulis freelance di media. Satu hal yang nyaris membunuhku dalam ruang rumpil yang ganjil. Pasalnya, media massa itu ibarat “sawah ladangku” sejak aku mulai menulis. Anehnya, selama dua bulan itu aku seperti lupa dengan masa lalu, lupa perjuanganku yang penuh leleran keringat untuk berjuang menembus media koran atau majalah...

Hingga suatu hari, aku merasa tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk istriku, aku merasa tak berguna karena tidak bisa membuatnya bisa meraih kebahagiaan seperti umumnya kehidupan orang berumah tangga. Pada titik itulah, aku kembali ingat buku Barakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta, karya Salim A. Fillah. Aku yakin buku itu ditulis untuk orang lain –sebagaimana pernah diucapkan bapak Fauzil Adzim kurang lebih 3 tahun lalu. Sebelum terbang ke Yogya, ia sempat berpesan. “Tulislah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan cara itu, buku yang kau tulis akan dibaca orang!”

Selama 3 tahun, ucapan itu masih terekam kuat di otakku, jadi obor yang mampu menyalakan sisa ingatanku untuk menulis buku memoar. Jadi, dari obor itu aku lantas memberanikan menulis pengalamanku -berbagi pangalaman dan menularkan sepenggal perjuangan dalam merebut halaman koran. Dengan menulis itu, aku berharapa di kelak kemudian hari akan memberikan manfaat bagi orang lain. Jika tidak mampu memberi manfaat bagi orang lain, setidaknya aku sudah berusaha menjadikan diriku bermanfaat bagi istriku.

Sekarang buku memoar yang aku tulis itu (berjudul Tidur Berbantal Buku) sudah selesai dan ada di salah satu penerbit di Jakarta. Dalam waktu dekat, buku itu pun akan terbit. Ini memang berkah dari suatu peristiwa, yang terangkum dari rentetan panjang berbagai kejadian, yang tidak terjadi secara kebetulan. ***



baca lebih lanjut...?

Minggu, 30 Maret 2008

di balik pemuatan tulisan ganda

PAGI ini (Minggu 30/3/08), aku kembali mengalami kecelakaan parah. Tubuhku memang tak sampai remuk, kakiku juga tak mengalami patah tulang, dan tanganku tidak terluka. Tapi di dalam hati yang paling dalam -terus terang-, jiwaku terkoyak luka. Hatiku seperti dibebani satu dosa psikologis yang akut, bahkan (tak jarang) sampai tiga bulan setelah ini.

baca lebih lanjut...?

Rabu, 20 Februari 2008

tulisan yang membuat pembaca menangis

Semalam, kala aku membaca novel Karnak Cafe (Najib Mahfudz) tiba-tiba ponsel-ku bergetar. Aku bergegas melipat novel, dan seketika menyambar ponsel bututku yang sejak dua jam sebelumnya teronggok tidak tersentuh. Padahal, aku termasuk orang yang tak bisa tergoyahkan saat serius membaca novel. Maka, tak jarang hp-ku kerapkali sia-sia karena sering kutelantarkan, tatkala aku sudah memeluk erat-erat sebuah buku.

baca lebih lanjut...?

Senin, 28 Januari 2008

kala cerpen serupa berita

SUDAH hampir tiga bulan ini, tak ada satu pun cerpenku yang dimuat di media. Cerpen terakhirku Tamu di Malam Bulan Ramadhan, dimuat harian Surya, Minggu 7 Oktober 2007. Sebenarnya, cerpen itu pun cerpen lama yang aku tulis sekitar tahun 2003, tapi aku revisi kembali habis-habisan. Aku berusaha membuat cerpen itu sebisa mungkin punya nilai aktual dan karena saat merevisi cerpen itu terjadi di bulan Ramadhan, maka kurangkai dengan "nuansa religius" bulan puasa.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 11 Januari 2008

Honor Haram Sebuah Tulisan

SEBULAN yang lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2007 aku mendapatkan kabar mengejutkan dari rumah. Sebuah sms aku terima dari kakakku, yang mengabarkan bahwa aku mendapat kiriman wesel yang dialamatkan ke rumah untuk honor sebuah cerpenku yang telah dimuat --beberapa bulan lalu-- di koran Minggu Republika.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 16 Desember 2007

Kapan Kau Jadi Penulis Skenario?

"KAPAN kau akan jadi penulis skenario? Kau jangan sesumbar, dan omong besar tanpa pernah ada bukti! Aku selalu mendengar mulut busukmu, kau selalu melontarkan kritik bahwa sinetron di Indonesia ini tak bermutu, tetapi anehnya aku tak pernah melihat kau menulis skenario dan ditayangkan di sebuah stasiun tv apalagi difilmkan!" cemoohmu saat aku kembali bicara soal sinetron dan film dengan menggebu-gebu meski aku ini bukan seorang penulis skenario.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 30 November 2007

Tugas Penulis adalah Menulis....!

MINGGU pagi, 25 November 2007. Matahari terbit dari ufuk timur memancarkan harapan baru. Tetapi, entah kenapa aku bangun tidak terlalu pagi. Mungkin, dapat disebut agak kesiangan. Aku heran, kenapa belakangan ini selalu bangun kesiangan padahal sudah jarang lembur. Aku bahkan disergap rasa malas untuk bangun. Bantal yang kumuh, sarung yang berubah jadi selimut seringkali justru membuatku merasa nikmat terlelap dalam buaian mimpi.

baca lebih lanjut...?