Tampilkan postingan dengan label esai sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Sejarah Kelam 1965 dalam Sastra

Esai ini dimuat di Radar Surabaya, Minggu 2 Oktober 2011

SEJARAH kelam peristiwa tragis tahun 65 seperti tak pernah kering untuk dijadikan sebagai latar sebuah cerita -termasuk novel. Apalagi peristiwa kelabu itu tidak saja menimbulkan "kontroversi" hingga sekarang ini, melainkan juga masih meninggalkan kenangan bahkan pengalaman pahit bagi sebagian orang yang terlibat ataupun dituduh terlibat organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia.

Dari peristiwa "tragis" itu, pengarang bisa melakukan rekonstruksi bahkan memberi "tafsir baru" atas fakta di masa lalu yang kelabu. Pada sisi lain, pengarang ingin mengenang sekeping kisah dari seseorang yang pernah dituduh terlibat dalam peristiwa kelabu itu --dengan harapan kisah itu bisa menjadi bahan renungan.

Tak berlebihan, jika novel Lasmi --karya Nusya Kuswantin yang mengangkat tokoh Lasmi, korban dari peristiwa tragis 1965 lantaran dia menjadi anggota Gerwani-- ini tidak saja menjadi bahan renungan, melainkan melengkapi deretan kisah novel yang mengungkap "fagmen sejarah" buram bangsa Indonesia tahun 1965. Meski pun novel Lasmi ini bisa dikata tidak memiliki pretensi untuk mengungkap fakta baru di balik peristiwa kelabu 1965 itu, duka lara yang menyelimuti kisah Lasmi (tokoh utama dalam novel ini) bisa mematik kesadaran pembaca untuk merenung sejarah kelabu di masa lalu. Sebab, Lasmi telah menjadi korban dari peristiwa sejarah yang buram.

Menanggung Takdir dari Pilihan Hidup
Lasmi, hanyalah prototif dari sosok wanita kampung di sebuah desa, di Malang (Jawa Timur). Meski tinggal di desa, dia ternyata memiliki jiwa moderat. Dia yang dianugerahi pengetahuan dan kebetulan lahir dari keluarga terpandang kemudian ingin membantu orang kampung dengan membangun sekolah (untuk orang tua dan anak-anak). Bersuamikan Sutikno, seorang guru --cita-cita Lasmi itu tidak menemui jalan buntu bahkan bisa berjalan dengan mulus. Mungkin, satu hal yang membuatnya terbebani, ia tak bisa menggaji guru yang ikut mengajar di sekolah. Hingga suatu hari, ia yang sedang membutuhkan guru menjahit bertemu dengan Mbak Sum.

Kedatangan Mbak Sum ternyata mengubah jalan hidup Lasmi. Untuk memajukan sekolah, atas saran Mbak Sum, Lasmi ikut up-grading. Habis itu Lasmi memutuskan menggabungkan Taman Kanak-kanak Melati (yang ia dirikan susah payah itu) ke dalam yayasan Melati. Konsekuensi dari pilihan itu, Lasmi tercatat sebagai anggota Gerwani. Pilihan itu diambil, karena ia merasa terbebas dari beban memikirkan gaji. Tapi, sejak itu ia mulai sibuk dengan aktivitas dan rapat, bahkan tak lama kemudian menjadi ketua Gerwani tingkat desa.

Tapi peristiwa tragis 1965 membuat Lasmi harus menjadi korban. Ia pun harus menanggung takdir dari pilihan hidup yang telah ia jalani. Ia bersama Sutikno (dan anaknya Gong) lalu melarikan diri untuk cari selamat. Deretan penderitaan harus ia alami bersama keluarga, lari dari satu desa ke desa lain, tidak lain untuk sembunyi. Tapi, pelarian itu kemudian menemui takdir akhir --sebuah ending yang nyaris tidak bisa ditebak atas apa yang dipilih Lasmi, penderitaan Gong dan akhir kisah Sutikno.

Tidak Ada Terobosan Baru
Harus diakui, tak sedikit pengarang di negeri ini yang menggarap novel dengan sandaran setting peristiwa tragis 1965 dalam sebuah novel, termasuk Lasmi ini. Tapi, dalam novel ini nyaris tidak ada terobosan yang digemakan. Pertama, sejarah tragis 1965 seperti hanya dijadikan tempelan sehingga nyaris tak memberikan nuansa baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Kedua, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tetapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban.

Kekuatan novel memang terletak pada kekuatan narasi. Tetapi dalam menulis novel, dikenal cara menggambarkan bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tidak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh "aku") untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun "tak mendedahkan teknik baru". Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin dan tidak njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur.

Meski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil. Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara masif --menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini. Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk anti-kekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi wanita --persamaan derajat. ***

*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Jakarta

baca lebih lanjut...?

Minggu, 10 Juli 2011

Rekonsiliasi Konflik lewat Sastra

Esai ini dimuat di Lampung Post, Minggu 10 Juli 2011

PASCAPECAH konflik Sambas 1999, berbagai upaya membangun konstelasi rekonsiliasi bisa dikatakan belum berjalan baik. Hubungan sosial kelompok antaretnis yang pernah bersitegang (Madura-Melayu) masih meninggalkan segregasi kuat untuk saling curiga, khawatir, bahkan diliputi kebencian. Warga Madura hingga kini masih tidak bisa kembali ke Bumi Sambas. Rekonsiliasi seperti berhadapan dengan jurang kebekuan. Dengan kondisi memprihatinkan itu, berbagai program digagas dan dicanangkan untuk membuka ruang pertikaian itu mencair kembali.

Namun, dari berbagai program kegiatan yang coba ditawarkan itu, belum pernah melibatkan media sastra untuk dijadikan alternatif atau terobosan. Padahal, sastra tidak bisa disangkal memiliki peranan dalam setiap perubahan sosial pada masyarakat.

Sastra berperan tak hanya sebagai refleksi, tapi sekaligus refraksi atas totalitas peristiwa sejarah dari perjalanan suatu bangsa. Dengan peran sastra sebagai ruang refleksi itu, sastra bisa memberi sumbangan pada proses transformasi: menanamkan kesadaran yang ujungnya berpotensi menjadi amunisi untuk jembaran rekonsiliasi.

Sastra dan Misi Perdamaian
Misi yang diemban pengarang melalui sastra itulah yang mendorong Sashi Tharoor—sastrawan India yang mengemban misi perdamaian PBB—tak ragu merangkul atau melibatkan sastra dibanding dengan melibatkan peran agama dan sains ilmiah demi menciptakan perdamaian dunia.

Karena—di mata Sashi Tharoor—sastra mampu melengkapi apa yang "hilang atau sengaja dihilangkan" dari agama dan sains. Itu tidak lain karena agama pada satu sisi justru bisa memunculkan konflik, sementara sains—tidak jarang—membuka ruang kosong yang mengurung manusia dalam ruang kehampaan jiwa dan spiritualitas.

Tak salah, kalau tak sedikit pengarang melahirkan karya sastra untuk mengetuk nurani dan kesadaran umat manusia demi menciptakan perdamaian. Dr. Ang Swee Chai, seorang dokter yang pernah terlibat dalam kamp pengungsian Palestina, melalui buku From Beirut to Jerussalem mengungkapkan kesaksian terhadap pembantaian warga Palestina.

Padahal, ia berdarah Yahudi dan beragama Kristen. Namun, kesaksian yang diberikan mampu mengetuk hati nurani dunia internasional.

Karya sastra lain yang mengembuskan semangat misi perdamaian dan mengutuk pertikaian itu juga didengungkan Tolstoy melalui novel War and Peace. Dengan karya itu, Tolstoy yang ikut terlibat perang dan menjadi saksi sejarah tak saja mengutuk perang, tetapi juga mengharapkan pintu perdamaian.

Misi Tolstoy itu juga diemban Mary Shelley, Wordsworth. Konon, karya-karya sastra itu mampu memberi suntikan dan semangat hidup bagi korban perang untuk bisa menatap kembali masa depan.

Dalam deretan sastrawan dalam negeri, dapat disebutkan nama seperti W.S. Rendra, Seno Gumira Adjidarma, Pramoedya Ananta Toer, dan beberapa sastrawan lain lagi. W.S. Rendra lewat puisi Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang (1960), menggambarkan duka lara akibat perang. Seno, lewat buku kumpulan cerpen Saksi Mata, merekam kejahatan-kejahatan yang dilakukan TNI terhadap masyarakat Timur Leste pada masa transisi Timor Timur menjadi Timur Leste.

Bahkan, dengan tegas, Seno—lewat kumpulan esai—mengatakan "Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara". Adapun Pramoedya mengisahkan banyak cerita tentang perang dan penjajahan. Dengan tema itu, ia ingin mengusung pesan perdamaian lewat karya yang ia tulis.

Pijar Kedalaman Empati
Karya sastra yang mengisahkan tema perang dan kejahatan—konflik dan tragedi pembantaian— haruslah diakui bukan hasil liputan di permukaan belaka atas peristiwa perang atau segala bentuk kejahatan.

Sastra yang mengibarkan bendera perdamaian dari cerita perang adalah pijar kedalaman empati tentang kehancuran tubuh, ceceran darah, rasa empati demi orang-orang yang kehilangan anggota keluarga (seperti anak, istri, orang tua), bahkan pantulan dari renik psikologis manusia dalam situasi konflik yang dapat menumbuhkan makna baru: memperkaya pemahaman atas kenyataan, berdasarkan sudut pandang, visi, perspektif, dan kesadaran baru.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya menjadikan terobosan terkait dengan apa yang dikatakan Friedrich Schiller (1993). Schiller berpendapat sastra itu memiliki peran dan fungsi yang sungguh menakjubkan. Sastra bisa tampil sebagai permainan penyeimbang bagi tatanan mental manusia terkait dengan adanya energi yang butuh diekspresikan. Energi itulah kemudian mendorong manusia untuk kreatif, mermiliki kepekaan dan human of interest terhadap sesama.

Meskipun harus diakui bahwa tidak semua karya sastra mengembuskan pesan dan misi perdamaian, karya-karya sastra yang digali dan terinspirasi dari kedalaman sukma untuk kemudian merefleksikan konflik, perang, dan penjajahan dapat menjadi "warta perdamaian dan kebenaran". Ia mengusung pesan agung mengutuk perang, dan mengharapkan tatanan baru yang harmonis antarkehidupan umat manusia, di mana pun bahkan sampai kapan pun.

Dengan penjelasan di atas, tak ada salahnya jika progam kegiatan rekonsiliasi untuk perdamaian Sambas pascakonflik 1999 dicanangkan atau digagas dengan melibatkan media sastra sebagai sebuah terobosan—atau alternatif. Upaya itu tentu tidak saja demi mengenang atau sekadar ajang romantisme konflik pada masa lalu, tetapi lebih menekankan pada setiap pihak atau kelompok antaretnis untuk melakukan refleksi sekaligus refraksi atas peristiwa berdarah tersebut. Dengan demikian, akan bisa muncul kesadaran baru demi mencapai rekonsiliasi pascakonflik yang sampai sekarang mengalami kebekuan hingga akhirnya lahir perdamaian bersama.

N. Mursidi, aktivis Yayasan Anak Layang-Layang, Kini sedang melakukan riset perdamaian pascakonflik Sambas 1999 untuk novel "Anak 7 Pulau"

baca lebih lanjut...?

Minggu, 16 November 2008

sastra dan terorisme

esai sastra

TEKA-TEKI seputar eksekusi tiga terpidana mati pelaku kasus Bom Bali I –Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufron yang sempat menghebohkan selama enam tahun sejak terjadi peledakan yang menewaskan 202 orang dan pelaksanaannya tertunda-tunda-- akhirnya terjawab. Minggu (9/11), dini hari (sekitar pukul 00.15 WIB), ketiganya dieksekusi mati di Lembah Nirbaya, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 27 Juli 2008

kematian (Sejarah) novel (?)

esai ini dimuat di Seputar Indonesia, Minggu 27 Juli 08

Jauh-jauh hari, ketika film Ayat-ayat Cinta (AAC) sedang santer diberitakan akan diangkat --diadaptasi-- ke layar lebar, saya sudah memprediksi kalau kelak film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu pasti akan melampaui novelnya. Ternyata, dugaan saya itu tidak meleset. Setelah film AAC diluncurkan dan diputar di sejumlah gedung bioskop, apa yang saya ramalkan itu tidak salah. Tidak kurang empat juta penonton (dari segala umur), rela antre berdesak-desakan untuk sekedar menonton akting Fedi Nuril, Rianti Catwright, Saskia A. Mecca, Carissa Putri, dan Melanie Putria.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 25 Mei 2008

merindukan novel pendobrak

esai sastra ini dimuat di koran Seputar Indonesia Minggu 25 Mei 2008

Dunia perbukuan masih diwarnai kelatahan para penulis dan penerbit. Lantas harapan untuk membaca buku-buku berkualitas berbuah kekecewaan.

baca lebih lanjut...?

Selasa, 01 Januari 2008

novel tebal dan dilema sebuah pesan

(esai ini dimuat Surya, Minggu 22 April 07)

TIGA tahun lalu ketika saya masih kuliah di Yogya, ada seorang teman yang datang ke kontrakan hendak meminjam novel Arus Balik karya monumental Pramoedya Ananta Toer. Sebelumnya, ia memang tak tahu tentang novel itu karena pengetahuannya tentang buku boleh dikata masih "minim". Ia ingin meminjam novel Arus Balik itu lantaran "dikompori" oleh teman-teman. "Novel itu sangat bagus dan cukup mengagumkan, rugi jika kamu tidak sempat membaca novel itu." Karena "penasaran", dengan sembunyi-sembunyi dia datang ke kontrakan saya dan mengaku ingin meminjam karya Pramoedya itu.

baca lebih lanjut...?

Kamis, 13 Desember 2007

Esai Perang, Tradisi dan Perang (Palestina)

esai ini dimuat di Surya, Minggu 10 Desember 2006

KARYA sastra yang bagus kerap menyeruak dari celah keadaan zaman yang bergolak, adat yang mengungkung, situasi perang, kesengsaraan akibat pendudukan dan serinai "kesengsaraan hidup" yang mencekam. Karena itu, tak jarang sebuah karya sastra lahir dari gejolak perang, hegemoni adat istiadat yang memihak kaum lelaki dan kesengsaraan akibat pendudukan. Dengan kondisi zaman yang timpang itu, pengarang seakan dipanggil untuk bersuara lantang lewat karya sastra.

baca lebih lanjut...?

Selasa, 11 Desember 2007

Selebritas dan buku Sastra

Esai ini dimuat di Sinar Harapan, Sabtu 8 April 2006

"Writers are born, not made", begitulah pemahaman orang awam terhadap sosok penulis. Padahal sosok penulis adalah manusia biasa, bukanlah malaikat. Kalau toh akhir-nya bisa jadi penulis, itupun lantaran menempa hidup dengan latihan. Untuk menyebut sebagian kecil penulis kawakan; Pramoedya, Muchtar Lubis dan Aswendo Atmowiloto, harus dicatat bahwa sebelum mereka dikenal sebagai penulis besar, dulu sempat mengalami susah dan duka untuk mendapat predikat sebagai penulis.

baca lebih lanjut...?

Senin, 10 Desember 2007

Epik Ramayana dalam Berbagai Narasi

(esai ini dimuat di Sinar Harapan, Sabtu 28 Mei 2005/ilustrasi dari situs wikipedia)

SUDAH 24 abad yang lalu (tepatnya sekitar abad ke 4 SM) kisah Ramayana ditulis Walmiki. Tetapi epik klasik itu, seperti tak ditikam waktu. Cerita the path of Rama itu, selain terus hidup sepanjang zaman, juga menjadi dongeng yang tak mengenal basi. Tak berlebihan kalau hampir semua orang mengenal kisah Ramayana dan mengagumi tokoh utamanya --Rama dan Sita.

baca lebih lanjut...?