Minggu, 03 Agustus 2008

Calon Menantu buat Ibu

cerpen ini dimuat di majalah Anggun edisi 1 Agustus 2008

“KAPAN kamu menikah?” tanya ibu, membuatku tersedak. Setangkup nasi di atas sendok yang hampir masuk ke mulutku, nyaris tumpah dalam piring. Tanganku gemetar, mukaku berubah memerah. Bagai disambar petir di siang bolong, aku termangu. Diam. Selera makanku mendadak hilang. Lalu, aku letakkan kembali sendok di atas piring. Tapi mulutku, entah kenapa, tiba-tiba jadi bungkam. Aku tak mampu menjawab pertanyaan ibu yang serasa menapar mukaku.



Ruang makan di rumah kami yang semula dingin, ketika semilir angin masuk dari pintu dapur tiba-tiba merambatkan hawa panas. Apalagi, di atas kompor gas, ibu masih menjerang air, yang kebetulan mendidih. Suara jerangan air sekan-akan menghukumku dalam kesenyapan. Aku memandang ibu, dengan diam.

“Kenapa kamu diam?” kembali ibu bertanya, yang justru membuatku bungkam “Apa kamu masih ragu menjadikan Winda sebagai istrimu?”

Aku masih diam, tidak menjawab pertanyaan ibu. Meski tak hanya sekali itu, ibu mendesakku untuk segera nikah, tapi aku tahu persis calon menantu yang didambakan ibu. Karena itulah, aku bingung memberikan jawaban. Maklum, Winda perempuan yang tak masuk dalam kriteria calon menantu yang diidamkan ibu. Walau dalam banyak hal, Winda mampu meluluhkan hati ibu, setelah kuperkenalkan kepada ibu sekitar tiga tahun lalu, tapi masih ada dua penilaian yang selalu membuat ibu sulit menerimanya; ia tidak pernah belajar di pesantren dan tidak memakai jilbab.

“Bagaimana dengan pendapat ibu? Karena, aku masih belum bisa menentukan pilihan; apa Winda itu calon menantu ibu yang tepat…?”

“Ibu hanya ingin minta kepastianmu! Pasalnya, kemarin pamanmu datang ke sini menawarimu untuk dijodohkan dengan Novi, putrinya. Bagaimana dengan kamu? Jika ibu, tak keberatan! Novi itu gadis yang baik, penurut, patuh, dan tidak kurang apa pun jika kelak menjadi istrimu!”

“Bu, Novi itu masih saudara, tepatnya masih sepupu…”

“Memang, apa yang salah kalau kamu menikahi Novi? Agama tidak melarang itu, nak! Karena sepupu itu tidak termasuk golongan wanita yang haram untuk dinikahi!” potong ibu.

“Meskipun tidak tergolong wanita yang haram dinikahi tetapi dari catatan medis tak jarang kutemukan fakta lelaki yang menikahi saudara sepupu bisa mengakibatkan adanya….” tak kuasa aku melanjutkan apa yang mengumpal dalam pikiranku.

“Nak, ibumu tidak pernah sekolah dan baca Koran, tetapi tidak pernah agama membolehkan sesuatu hal yang dihalalkan itu kemudian bisa berakibat fatal…!” potong ibu kembali, yang membuatku diam.

Ibu memandangku, menunggu aku buka mulut. Tapi aku tak tega membantah ibu. Mata ibu yang berwarna biru, serupa ombak di tengah lautan, entah kenapa selalu membuatku tenggelam dalam kebisuan. Maka aku kemudian bangkit, dan berdiri dari kursi, meninggalkan ibu yang masih menghabiskan sisa nasi yang tergenang di tengah piring.

“Ibu masih menunggu jawabanmu. Maka, sebaiknya kamu memikirkan tawaran pamanmu itu sebab jika besuk pamanku datang ke sini lagi, ibu tak dihadang perasaan tak enak untuk memberikan sebuah jawaban!”

Aku diam, tak menjawab, dan masuk kamar bahkan tak pernah berpikir tentang perjodohan itu. Dan esoknya, aku kembali ke Jakarta lebih awal dari jadwal yang aku rencanakan. Padahal, semula aku berniat pulang ke rumah selama seminggu. Tetapi, perjodohan itu membuatku tidak betah tinggal lebih dari dua hari.
***

KINI, sudah satu tahun perjodohan yang ditawarkan oleh ibu itu berlalu. Aku tidak pernah memberi sebuah jawaban pasti kepada ibu, dan aku juga tidak tahu; jawaban apa yang diberikan oleh ibu kepada paman. Tetapi diam-diam aku justru semakin akrab menjalin hubungan dengan Novi, meski hubungan itu hanya sekedar saling mengenal lebih dekat. Dan, itu terjadi setelah aku putus hubungan dengan Winda sekitar setengah tahun yang lalu.

Masih kuingat, pertemuanku dengan Novi sekitar setengah tahun yang lalu saat ayahnya harus dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung. Apalagi saat itu paman dirawat di Jakarta sebab rumah sakit di Bogor, tempat tinggal Novi dan keluarga tidak memungkinkan paman bisa dirawat dengan peralatan modern. Maka aku memutuskan untuk menjenguk paman. Meski, ibu tidak memintaku menyempatkan datang ke rumah sakit karena ibu tahu kesibukanku sebagai wartawan sebuah radio asing Jerman yang ditugaskan di Jakarta sulit kutinggalkan, aku diam-diam, dan tanpa sepengetahuan ibu, justru menjenguk paman.

Setelah bertahun-tahun aku tak pernah melihat senyum Novi yang dulu terpahat dalam bingkai album foto yang masih aku simpan, aku masih belum lupa dengan seraut wajahnya. Ia masih seperti dulu, ramping, tidak terlalu gemuk, murah senyum, juga tidak pernah melepas jilbab. Saat-saat genting harus merawat ayahnya seperti itu, bahkan ia cukup cekatan. Pantas saja, ibuku senang dengan Novi, dan selalu mendesakku untuk memilih Novi agar menjadi istriku. Kini aku baru sadar kenapa dulu-dulu, setiap kali aku memperkenalkan kekasihku untuk kuajak pulang ke rumah yang hampir mencapai tiga belas calon, ibu seperti tak berkenan.

Pertemuan di rumah sakit itu memang tak meninggalkan sebuah kenangan. Aku lebih banyak diam, dan Novi juga tak banyak bicara. Apalagi ia harus duduk menemani paman di tepi ranjang, merawat dengan telaten. Saat akhirnya jam besuk itu habis dan aku harus pulang, Novi sempat mengantarku sampai di pintu kamar. Ketika itu, aku tiba-tiba teringat dengan sebuah novel yang baru kubeli sebelum aku ke rumah sakit. “Tadi, aku sempat mampir di toko buku Gramedia, dan membeli sebuah novel. Aku berharap novel ini dapat menemanimu dan membuatmu tabah…” kataku, seraya menyerahkan bungkusan plastik putih yang berisi sebuah novel Laskar Pelangi.

“Tidak kusangka, engkau masih sempat menjenguk dan meninggalkan sebuah novel untukku. Terima kasih, ya! Eh, aku hampir lupa, bagaimana dengan kabar mbak Winda? Kenapa tadi kamu tidak sekalian mengajak dia ke sini?”

Aku yang hampir melangkah pulang meninggalkan lorong panjang rumah sakit, hanya berdiri mematung dan tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi, tak ada gunanya aku menutupi semua yang telah dia ketahui, karena aku tahu, ibu pasti sudah bercerita banyak tentang Winda kepada Novi. “Aku sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan Winda. Dia telah meninggalkanku dan lebih memilih lelaki lain…” jawabku pendek.

Sekilas, aku melihat senyum Novi yang tadi sempat tergambar jelas di tepi bibir manisnya tiba-tiba berubah seperti menyiratkan rasa iba. “Maaf, aku tak tahu. Semoga pertanyaanku tadi tidak membuatmu sedih!”

“Tak apa-apa! Aku doakan, semoga ayahmu cepat sembuh! Tolong, kabari aku jika ada apa-apa dengan paman!” ucapku, seraya melangkah dengan tegak, seakan aku ini lelaki tangguh yang tidak sedang dirundung patah hati. Padahal dalam hati, aku sedang bergolak; desakan ibu untuk memintaku segera menikah dan aku masih dilanda sedih karena Winda telah meninggalkanku dan memilih menikah dengan lelaki lain.

Rupanya, pertemuanku dengan Novi di rumah sakit itu membuat kami semakin akrab. Dua hari kemudian, dia kirim sms padaku memberi kabar bahwa ayahnya sudah dibawa pulang. Meski kami tidak pernah bertemu lagi setelah peristiwa itu, tetapi kami masih sering berkomunikasi. Tak jarang, aku kirim sms atau telpon Novi saat-saat tak lagi sibuk kerja. Hanya saja, aku tak pernah memberi kepastian tentang hubungan kami. Aku hanya tak mengerti, kenapa tiba-tiba ibu tahu hubungan kami dan menanyakan soal keseriusanku untuk memilih Novi.

“Ibu tahu, kini kau dekat dengan Novi dan itu yang membuat ibu harus bertanya kepadamu. Apalagi yang membuatmu harus berpikir lama? Novi itu gadis baik, tidak kurang satu apa pun untuk kau jadikan istri! Lantas, apa yang membuamu ragu?” tanya ibu lewat telpon, yang membuatku nyaris terkejut. Tapi, aku hanya diam, tak menjawab.

“Kemarin, pamanmu kembali menanyakan pada ibu soal keseriusanmu dengan Novi. Jika kamu tidak mau, tentu ibu bisa menolak dengan halus, tetapi jika kamu diam, lantas apa yang harus ibu katakan? Padahal, Novi itu gadis baik…”

“Ibu selalu saja melebih-lebih Novi. Jadi aku tak bisa obyektif untuk memutuskan. Jelas, itu bisa membuatku hanya menuruti permintaan ibu jika aku menikahi Novi, tapi jika ibu memintaku berkata jujur, terus terang aku ragu!” jawabku setengah emosi.

Aku tahu, ibu terkejut. Mungkin ibu tidak menduga akan mendengar jawabanku yang nyaris membuatnya terperanjak kaget, tapi aku pikir ibu sudah tahu apa yang ada dalam hatiku. Ibu tidak pernah salah membaca hatiku dan bertahun-tahun aku menjadi anaknya, ibu mengenalku cukup jauh. Maka ibu tidak menanyakan lebih jauh lagi, dan menutup telepon.

Dan, aku tahu apa yang akan dikatakan ibu pada paman.
***

TAK ada sesuatu yang mengejutkan jika hari ini aku menerima sms dari Novi yang memberi kabar padaku, bahwa ia akan menikah dua minggu lagi. Aku sudah tahu soal pernikahan itu dari ibu seminggu yang lalu saat ibu menelponku dan memarahiku habis-habisan lewat telpon. Aku hanya diam tapi yang membuatku bingung justru ibu kembali bertanya padaku, “Lalu, kapan kamu menikah? Usiamu sudah hampir tiga puluh tahun. Apa lagi yang kamu tunggu? Kamu ini sudah kerja, dan bahkan bisa dikatakan mapan. Maka aku belum bisa tenang dan bahagia selama melihatmu belum memiliki pasangan hidup. Ibu hanya ingin kamu segera menikah, sebelum ibu…”

“Bu, Novi mungkin bukan jodohku. Tapi, ibu tidak usah kawatir dan ragu! Karena aku sudah memiliki calon yang ibu dambakan. Dia itu gadis berjilbab seperti yang ibu harapkan. Di acara pernikahan Novi nanti, aku mungkin akan mengajak dia untuk aku kenalkan pada ibu...”

“Benarkah? Dia dari mana? Apakah ia lebih cantik dari Novi sehingga kau tidak memilih Novi sebagai pilihanmu?” tanya ibu dengan girang. Aneh, aku merasa ibu tidak pernah senang seperti hari itu. Mungkin ibu sudah mengharap aku segera menikah dan aku memang tak punya pilihan lain apalagi ibu selalu berpesan padaku, menikah itu setengah dari agama.

Tapi, kali aku terpaksa harus berbohong pada ibu. “Sudahlah, bu! Nanti ibu juga akan tahu sendiri setelah bertemu dengan calon menantu ibu! Aku jamin, dia tidak akan mengecewakan ibu karena pilihanku kali ini tidak salah!” tegasku, tanpa ragu.

Aku tak tahu saat ibu menutup telepon; apa ibu tahu aku berhohong atau tidak. Tapi aku kini justru dihadang persoalan baru. Karena aku tak tahu siapa nanti yang harus kukenalkan pada ibu sebagai calon menantunya, sementara kini aku tak punya teman akrab, apalagi kekasih yang bisa aku ajak ke acara pernikahan Novi dua minggu nanti. Padahal, aku yakin ibu sudah membayangkan dan menunggu dengan cemas, karena ingin melihat wajah calon menantunya yang akan aku perkenalkan nanti pada ibu.***

Kado pernikahan buat Zaki AM
Ciputat, 3 Juni 2008

*) n mursidi, cerpenis asal Lasem, Jateng. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa nasional dan lokal. Kini, ia sedang menulis sebuah novel.

7 komentar:

Ni'amul Ausath mengatakan...

Ngomong -ngomong..., kapan ibu ente punya menantu dari kamu..? kasih tau ya.. P. Nur...!

Musthafa Amin mengatakan...

Terima Kasih atas kunjungan mas Nur. Sebuah kebanggaan bagi saya dikunjungi oleh sastrawan seperti anda. kebetulan saya sering menjumpai tulisan-tulisan anda di media massa. terima kasih atas kunjungannya.

Musthafa Amin
tongkronganbudaya.wordpress.com

Yosandy L. mengatakan...

Saya tidak tahu mimpi apa sampai Tokoh Sastrawan mengunjungi blog saya. Mas Nur, mohon berkenan saya menjadikan blog Mas Nur sebagai link blog.
Sukses dan ditunggu selalu karya-karyanya, Mas Nur !

Asep Suryana mengatakan...

Terima kasih kunjungan malamnya. Bung Mursidi sudah punya "POTLOT", saya telusuri apa bedanya dengan"ETALASE BUKU", apa ingin memisahkan antara Resensi Buku dengan cerpen dan essay, tapi tidak juga. Terima kasih saya jadi dapat info tentang PJB di Istora. Saya belum nambah resensinya baru minggu depan. Wassalmu'alaikum wr. wb.

Musthov mengatakan...

saya pengen banget bikin kado cerpen untuk pernikahan sahabat saya, seperti cerpen ini. tapi sayang, saya masih baru belajar dan belum pernah bisa nulis cerpen..

n. mursidi mengatakan...

aku yakin, sampeyan pasti bs bikin cerpen yg bahkan akan lebih menarik dari saya. sebab, jujur saja, saya dulu belajar menulis dari sampeyan. jika tdk keberatan, sampeyan bisa kirim ke majalah "anggun" (karena majalah pernikahan, maka cerpennya jelas bertema pernikahan) lewat emailku. aku tunggu!!!

fahmi amrulloh mengatakan...

lha iki wis tak ampiri..okre, tak kira² wae panjang cerpennya brur..