Selasa, 17 November 2009

sepeda onthel kenangan

cerita pendek

DI KOTA kecil itu –mungkin engkau tidak akan pernah mememukan pada selembar peta- aku dulu dilahirkan. Kota itu tidak pernah diguyur salju, tetapi menyimpan tetes cerita kehidupan masa kecilku. Tetapi, saat aku menginjak usia dua puluh tahun, aku meninggalkan kota kecil yang tidak ramai itu. Aku pergi, mengayuh sepeda dengan memanggul tas punggung yang sarat dengan bara dendam --di suatu pagi yang rumpil. Itulah pagi yang paling menyedihkan sekaligus menyenangkan dalam hidupku.

Pagi itu, tanganku gemetar ketika aku hendak menyeret sepeda onthel tua milik ayahku keluar dari rumah -sepeda onthel tua yang dulu pernah digunakan ayahku untuk keliling pulau Jawa. Ayah yang dari tadi diam dan membisu, duduk di kursi seperti tidak rela hendak melepas kepergianku. Atau mungkin dugaanku salah! Bisa jadi ayah tidak rela aku membawa pergi sepeda onthel tua yang dahulu menjadi sahabat karibnya dalam menjelajahi jalanan.

Dari sorot mata ayah, aku menangkap denah kesedihan yang mirip dasar sebuah danau. Ada genangan lumpur, bongkahan batu karang dan sorot mata ayah yang tajam menatap itu, ah… aku rasakan seperti mata orang yang ditinggal mati salah seorang anak yang ia cintai dengan sepenuh hati.

Aku yang hendak pergi jauh, seperti tak rela meninggalkan genangan air mata itu menggumpal di sudut kelopak mata ayah, orang yang sudah mulai udzur itu. Aku dekati ayah yang duduk termangu –seperti kebiasaan yang selalu dijalani ayah setiap Minggu pagi ketika ayah tidak pergi ke pasar untuk jualan baju dan seragam sekolah.

Di depan ayah, aku seperti cicak kecil di hadapan seekor buaya. Aku diam, berdiri mematung dengan kaki gemetar dilanda cemas. Tapi bertahun-tahun aku dididik ayah untuk tidak takut. Diam-diam, aku mengumpulkan keberanian untuk pamit pergi. Aku tak ingin ayah tak memberiku restu. Sekali pun aku tahu, sebenarnya ayah tidak setuju aku kuliah.

“Ayah, aku akan pergi. Tak ada yang aku harapkan dari ayah, kecuali sebongkah doa,” ucapku pelan, tetapi aku yakin masih cukup terdengar dengan jelas di telinga ayah. “Aku ingin setiap langkahku menginjak tanah ini mendapatkan restu ayah.”

Ayah masih diam, seakan sedang berpikir. Lama, aku menunggu sebuah jawaban menentramkan yang akan keluar dari mulut ayah, seorang lelaki yang telah mewariskan segumpal darah dalam diriku.

“Tak semestinya kau kuliah. Kau tahu, aku sudah tak kuat untuk bekerja seperti dulu lagi. Tetapi, jika itu kemauanmu, aku tak bisa mencegahmu,” akhirnya, ayah berkata dengan berat hati. “Apalagi ibumu tak tega melihatmu kerap kali menghabiskan malam-malammu hanya duduk di ujung gang.

Aku diam. Seperti ada jarak yang memisahkan antara kami -–aku dan ayah. Aku merasa ada di tempat yang cukup jauh yang tak akan bisa terjangkau oleh ayah. Jarak yang bisa memisahkan kami, sekali pun aku di dekat ayah. Jadi, tidak perlu aku menambah luka di hati ayah. Aku tahu, hati ayah bergemuruh. Aku bisa merasakan gemuruh hati ayah itu sebagaimana degup yang kurasakan di dadaku.

Aku memang tidak cukup dekat dengan ayah, tetapi aku bisa mencium kecemasan di relung hati ayah. Rupanya, kecemasan ayah akan kepergianku masih belum pupus. Seminggu yang lalu, ketika aku bercerita pada ayah tentang keinginanku melanjutkan kuliah, aku dapat melihat dengan jelas wajah ayah langsung bersemu merah. Ayah terhenyak kaget. Dua tahun aku menganggur dan menghabiskan malam di ujung gang membuat ayahku sepeti tidak percaya dengan keputusanku.

“Untuk apa kau kuliah? Tidak cukupkah kau jadi penjahit dan berdagang melanjutkan usaha ayah?”

Aku tidak kaget dengan ucapan ayah. Aku anak yang tidak berprestasi. Dari MI –sekolah setingkat SD-- sampai SMA, aku nyaris tak pernah berhasil mengukir prestasi. Beda dengan adik dan kakakku. Dari SD sampai SMA, aku selalu terjerumus sekolah swasta sementara adik dan kakakku berhasil masuk SMP dan SMA Negeri.

Aku mengenal ayah adalah orang paling pendiam yang pernah aku kenal. Tidak banyak kata. Tidak banyak bicara. Sepatah kata yang diucapkan ayah ibarat hujan yang tiba-tiba turun setelah musim kemarau yang panjang. Jadi, jika ayah sudah bicara, pasti ayah tak sedang bergurau. Ada kegalauan di hati ayah dengan keinginanku itu. Aku tahu ayah tidak setuju dari sorot mata ayah yang berwarna merah.

“Aku hanya ingin meninggalkan kampung ini, ayah!” jawabku sedikit bimbang, “Aku tahu, jalan ini adalah jalan terbaik bagiku.”

“Di kampungmu ini kau tak henti-henti membuat ulah, lalu bagaimana kau dapat membuat ayahmu percaya jika di kota nanti kau tidak akan menjadi lebih nakal karena sewaktu tinggal di kampungmu yang aku awasi saja kau sudah cukup merepotkan…”

Aku tahu kenapa ayah mengkhawatirkanku. Tapi aku ingin mengubah takdirku dan pilihanku pergi dari kampung melanjutkan kuliah adalah satu jalan yang akan mengubah masa laluku. Aku berhak menentukan masa depanku. Aku berhak mengukir takdir yang akan aku warnai dalam lembaran hidupku. Aku ibarat pelukis. Aku ingin mewarnai kanvas hidupku dengan cat dan warna yang aku inginkan.

Keinginanku sudah bulat tak bisa dicegah oleh siapa pun, kecuali ibu. Maka ayah tak bisa mencegah kepergianku. Dan pagi itu adalah pagi yang membahagiakan dalam hidupku. Aku akan pergi meninggalkan kampung untuk melanjutkan kuliah. Tapi, aku tak pantas tak menghormati ayah. Maka, aku mencium tangan ayah sebelum aku pergi. Itulah untuk kedua kalinya aku mencium tangan ayahku –yang pertama, dulu saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD tepat hari raya Idul Fitri.

Meski ayah tak setuju, aku merasakan tangan ayah perlahan-lahan mulai berubah dingin, padahal sebelumnya tangan ayah terasa hangat. Tapi tangan ayah yang dingin itu seperti merambatkan secuil keberanian di hatiku. Tapi, ayah tidak mengucapkan sepatah pun kata. Dia diam serupa patung. Dingin bagai bongkahan es batu. Aku seperti bersalaman dengan arca.

Di belakangku, ibu –wanita setengah bidadari yang telah jadi penyelamat masa depanku-- sudah berdiri dengan diam. Air mata ibu hampir menitik, ketika aku berpaling. Aku melihat dengan jelas tangan ibu menggenggap sesuatu. “Kamu akan berangkat sekarang?”

Aku mengangguk. Entah mengapa, aku selalu tak bisa mengatakan sesuatu pada ibu, apalagi pagi itu aku harus berpamitan untuk sebuah perpisahan. Aku tak akan pernah pergi melanjutkan kuliah, jika ibu seminggu lalu tidak jadi pembelaku di hadapan ayah. “Sudahlah, pak! Biarlah anakmu pergi. Siapa tahu, kehidupan dia tak di kampung ini. Biarlah dia pergi dan aku yang akan mengusahakan uang untuknya,” jawab ibu waktu ayah berusaha mencegah kepergianku.

Tak ada keluarga, saudara dan famili yang rela melepaskan kepergianku. Apalagi, aku akan pergi kuliah. Tetapi, aku sejujurnya tak butuh dukungan keluarga, saudara dan famili. Aku hanya butuh restu dan doa ibu. Bagiku, itu sudah cukup karena doa ibu adalah jalan lempang masa depanku.

“Kau tahu, ayah dan ibu habis pulang dari tanah suci. Jadi, sudah tidak memiliki tabungan lagi. Lalu, dari mana ayah dan ibu mengirimi uang bulanan untuk kuliahmu?” ujar ibu lembut,” Jika kau kuliah tahun lalu, mungkin kami dapat membatalkan berangkat ke tanah suci. Tapi sekarang ini keadaannya sudah lain.”

“Ibu tak usah cemas,” jawabku tegas.

“Lantas, dari mana biaya untuk kuliahmu?”

“Setelah di kota nanti, aku akan berusaha mencari pekerjaan!” rayuku pada ibu. “Jadi aku hanya butuh dukungan dan doa dari ibu. Itu adalah bekal yang tidak terkira buat kepergianku…”

Ibu luluh. Bagai matahari yang hampir tenggelam di waktu senja, ibu kemudian memberiku restu.

Aku tidak pernah pergi merantau dan kepergianku di pagi itu adalah perantauanku untuk kali pertama. Ibuku tentu akan merasa kehilangan. Tetapi, di sudut mata ibu, aku melihat ada seberkas sinar yang bisa aku tangkap sebagai bentuk kebanggaan. Anak kedua dari tiga bersaudara yang selama ini kerapkali menjadi omongan dan gunjingan tetangga akan pergi jauh -pergi untuk kuliah.

“Doa ibu adalah wesel dari Tuhan yang akan membuatku hidup bahagia,” kataku tegas sebelum kepergianku.

“Aku beruntung, kau berani hidup di kota dengan keyakinan seperti itu. Ibumu tidak percaya jika Tuhan akan membiarkan hidupmu menderita setelah kau tiba di kota nanti. Tetapi, kau pasti butuh uang jajan dan makan,“ ujar ibu, seraya memasukkan lembaran uang ke dalam sakuku.

Kulihat ibu mengulum seulas senyum. Tapi senyum ibu kurasakan meninggalkan tanda tanya di lubuk hatiku. Ibu tersenyum manis, tetapi aku melihat di sudut mata ibu ada mendung yang hampir pecah. Mata ibu seperti basah. Aku dapat memahami, karena tepat di kelopak mata ibu, ada selarik kecemasan. Juga, rasa bangga.

Aku mengangguk, “Doa ibu sudah cukup menjadi bekal kepergianku.”

“Tak akan pernah ibu berhenti mendoakanmu, anakku. Pesan ibu, jangan pernah engkau meninggalkan shalat dan mengaji.”

Aku mengangguk lagi, meski anggukanku itu setengah hati. Aku sudah tidak kuat menahan pilu di hatiku lebih lama lagi menggegoti ulu hatiku karena aku cukup lama menangguhkan perpisahan segera berakhir. Air mataku bisa menitik dan karena itu; aku memutuskan untuk segera pergi.

Aku melangkah ke ruang tamu. Kuseret sepeda onthel tua milik ayah keluar dari rumah. Ibu mengikutiku dari belakang tapi aku tak ingin melihat mata ibuku yang mulai dibebani mendung. Aku tak menoleh. Aku tuntun pelan-pelan sepeda onthel itu ke gang kecil di depan rumah dan tanganku gemetaran. Aku merasa ada kekuatan yang tiba-tiba muncul memberiku tenaga tatkala aku menaiki sepeda onthel tua itu melaju menyusuri gang.

Semula, aku mengayuh sepeda tua itu pelan-pelan. Tetapi, ketika gayuhan kakiku yang pelan itu mulai menjauhkanku dari rumah, aku mengayuh pedal sepeda onthel itu sekuat tenaga. Sepeda tua yang aku naiki itu –mulai menyusuri gang kecil yang tak lama lagi akan membawaku pergi meninggalkan kota kelahiranku. Dengan sepeda onthel tua milik ayah itu, aku akan pergi ke kota Gudeg dan aku ingin membuktikan kepada orang-orang di kampungku; bahwa bocah tengil yang dahulu kerap kali gagal sekolah kini akan melanjutkan kuliah.

Aku, bocah tengil itu mengayuh sepeda onthel tua meninggalkan rumah dan tak ingin menoleh ke belakang seakan-akan aku tak punya rumah untuk pulang.

Condet, 6 November 2009

baca lebih lanjut...?

Rabu, 28 Oktober 2009

siluet ka`bah dalam lengkung pelangi

Cerita Pendek

SETIAPKALI senja mengendap di altar cakrawala, dan tampak lengkung pelangi berwarna jingga merona di balik kabut, ayah selalu duduk termangu di beranda rumah seakan-akan sedang menunggu seseorang yang hendak bertamu ke rumah kami. Tetapi, aku tidak pernah menjumpai ada tamu yang kemudian datang ke rumah kami. Aku sering kali justru menjumpai ayah memasuki rumah dengan memendam rasa kecewa, tatkala adzan maghrib berkumandang. Dengan tergesa, ayah lalu ganti baju, meraih kopiah di atas almari, dan bergegas pergi ke sebuah masjid di dekat rumah kami.

Aku tak tahu, kapan tepatnya ayah mulai mencintai senja dan suka memandang langit yang dihiasi lengkung pelangi. Semula, aku menduga, ayah mulai sering duduk sendiri di beranda, sejak ibu meninggal tiga tahun yang lalu. Aku pikir, ayah masih diliputi perasaan berduka karena ditinggal pergi oleh ibu. Tapi, dugaanku itu ternyata salah.

“Aku tak sedang mengenang almarhumah ibumu dengan cara melihat senja di balik kabut yang dihiasi lengkung pelangi…” ujar ayah, pada suatu senja, “Jika itu yang kukenang, aku mungkin akan kau anggap gila, karena aku ini tahu bahwa orang yang sudah meninggal jelas tak akan hidup lagi...”

“Jika tidak mengenang almarhumah ibu lantas untuk apa ayah duduk termangu di beranda rumah, memandang lengkung pelangi di balik senja yang melindap?”

“Aku hanya ingin memandangi siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi,” jawab ayah, membuatku tak mengerti. “Dan setelah melihat bayangan Ka`bah itu, aku seperti merasakan kesenangan yang tidak terkira …”

Kupandangi senja yang baru saja melindap di cakrawala, menerawang jauh ke balik bayangan lengkung pelangi yang disepuh seribu rupa warna-warni. Setitik pun, tak kulihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Hanya kulihat senja yang ungu, lengkung pelangi dan hamparan langit temaram yang hampir petang.

“Kamu melihat?” tanya ayah.

“Hmmm… Tidak!”

“Sayang, kamu tidak bisa melihat! Jika bisa, pasti kamu akan duduk di beranda ini setiap senja dan kemudian merengkuh silut itu untuk ayahmu!”

Aku sama sekali tak mengerti. Di mataku, ini sungguh tak masuk akal. Bagaimana mungkin ayah bisa melihat sileut Ka`bah dalam lengkung pelangi, sementara aku tidak melihat setitik pun bayangan Ka`bah melintas dalam mataku. Aku jadi penasaran, dan berusaha mendesak ayah.

Tapi ayah tak pernah mau berterus terang. Aku jadi diliputi penasaran.

Tapi siang ini, aku baru sadar, kalau ayah sering duduk di beranda memandangi lengkung pelangi, tepat sebulan setelah lebaran setelah dua kakak perempuanku dan anak-anak mereka yang lucu meninggalkan rumah kami untuk kembali ke kota. Sempat aku menduga, kepergian mereka itulah yang membuat ayah merasa kesepian lantaran setelah kepergian mereka, praktis ayah tinggal bersamaku, putri terakhirnya.

Tetapi, aku tahu, ayah tak pernah merasa kesepian dengan kepergian mereka. Ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi lantaran ayah memendam impian. Sebuah impian yang mengumpal dan perlahan mampu menyingkap awan ketika senja melindap lalu siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi terpampang di mata ayah.

Sayangnya, aku terlambat bisa mengantar ayah merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi yang diimpikan itu …
***

SIANG ini aku tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi ayah yang mendadak diserang panas. Sejak ditinggal pergi oleh ibu tiga tahun lalu, ayah memang sering sakit-sakitan. Maklum, usia ayah sudah enam puluh tahun lebih. Setiap satu bulan sekali, aku terpaksa harus mengantar ayah berobat jalan dengan setumpuk penyakit yang dia derita, mulai dari serangan paru-paru, lemah jantung hingga kencing manis dan entah apa lagi.

Tetapi, sakit panas yang diderita ayah kali ini sungguh di luar dugaanku. Kemarin sore, ayah masih terlihat sehat bahkan lahap menghabiskan sepiring nasi dengan sayur asam yang kubuat sebelum beliau duduk di beranda menengadah ke langit yang kata ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung palangi. Dan siang ini, tahu-tahu ia diserang panas sebelum aku pamit pergi ke rumah paman Salim yang kebetulan hendak pergi ke tanah suci bersama bibi Jumroh, besok sore.

Awalnya aku nyaris tak jadi berangkat ke rumah paman, tak tega meninggalkan ayah di rumah sendiri. Tapi, ayah memaksaku untuk tetap pergi dan sebelum aku pergi, masih kuingat pesan pendek ayah, “Salam buat pamanmu. Sampaikan pesanku agar di tanah suci nanti ayah didoakan cepat-cepat dipanggil Allah untuk segera menyusul…”

Dalam perjalanan ke rumah paman di kampung sebelah, aku menyimpan pesan ayah dalam ingatanku. Aku tak tahu, di kemudian hari, pesan ayah itu masih tersimpan dalam ingatan dan membuatku selalu ditikam salah.
***

ORANG-ORANG lalu lalang, dan rumah paman Salim terlihat ramai saat aku tiba di depan rumah paman diantar oleh seorang tukang ojeg. Aku cepat-cepat menelusup masuk rumah paman melalui pintu belakang, dan disambut bibi Jumroh yang kebetulan sedang di dapur. Bibi menggandeng tanganku, memasuki ruang tengah yang dipenuhi beberapa tamu yang nyaris tak kukenal. Kulihat, orang-orang menyalami bibi dengan wajah berbinar, saling mengharapkan sebuah doa. Lalu, beberapa orang bersalaman untuk pamit pulang tapi dari luar pintu, datang beberapa tamu lagi seperti tiada henti.

Hingga akhirnya, perlahan tamu mulai susut dan pulang. Hanya tinggal keluarga dekat. Aku memberanikan diri mendekati tempat paman Salim duduk, menyampaikan pesan ayah. Tidak kuduga, wajah paman mendadak berubah merah seakan tertampar oleh pesan ayah.

“Setelah mendengar pesan dari ayahmu, aku tiba-tiba teringat peristiwa di masa lalu. Dulu sebelum kamu lahir, sekitar tahun 70-an dan orang-orang naik haji masih naik kapal, ayahmu sudah berniat hendak pergi ke tanah suci. Tapi, ayahmu mungkin belum beruntung atau takdir yang memang belum membawa ayahmu pergi ke tanah suci…” ujar paman tiba-tiba, membuatku kaget dan termangu, “Aku tak tahu! Aku hanya tahu, orang-orang bercerita bahwa ayahmu pernah ikut arisan haji dan separoh dari mereka itu sudah berangkat ke tanah suci, tapi jatah untuk ayahmu tidak juga kunjung keluar…”

“Jika yang diikuti ayah itu serupa arisan, kenapa ayah tidak mendapatkan jatah atau giliran, meskipun berangkat belakangan?” tanyaku, ingin tahu lebih jauh lantaran sampai detik ini ayah belum kesampaian pergi ke tanah suci.

“Sayangnya, arisan haji itu kemudian berhenti di tengah jalan! Tak lagi berlanjut, karena orang-orang yang jadi anggota arisan itu kebetulan sudah tua dan satu persatu mulai meninggal dunia. Tragisnya lagi, ahli waris anggota arisan tak dibebani tanggung jawab membayar padahal ayahmu belum mendapat giliran pergi ke tanah suci …”

Aku diam dan terpaku mendengar cerita paman Salim. Alangkah, malang nasib ayah! Air mataku, perlahan mulai mengalir dari sudut mataku, membasahi wajahku. Dan aku baru sadar, jika ayah memendam sebuah mimpi yang belum kesampaian. Kupikir, impian terpendam ayah itulah yang membuatnya duduk di beranda, membayangkan siluet Ka`bah setiapkali senja mengendap di balik awan.

“Pantas,” ucapku seketika, “Ayah selalu membayangkan siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi setiapkali senja melindap. Aku tak tahu, kalau ayah duduk di beranda dan menengadah ke arah langit itu, seakan-akan ayah benar-benar melihat Ka`bah…”

“Jika kau tidak keberatan, juallah tegalan yang menjadi warisanmu! Mumpung, ayahmu masih sehat…!”

Dalam hati, aku tidak keberatan dengan usul paman Salam.
***

SENJA baru saja turun dan seperti terapung-apung di cakrawala, ketika aku tiba di rumah. Tetapi belum sempat aku memasuki rumah, Kang Paijo, salah satu tetanggaku sebelah rumah, buru-buru menyambutku. Ia terlihat gugup. Wajahnya seperti bimbang. Dan akhirnya, dia gemetar berucap, “Ayahmu pingsan…!” suaranya, seperti tercekat, “Tadi, aku temukan ayahmu jatuh dari teras.”

Buru-buru, aku memasuki rumah, dan menemukan ayah dalam keadaan terbujur kaku di atas balai. Napas ayah naik turun, membuatku masih dapat bernapas lega. Aku mendekati ayah, kupegang erat-erat tangannya. Entah kenapa, aku tiba-tiba cemas seperti disergap perasaan bersalah dan dosa.

“Sebaiknya, ayahmu segera dibawa ke rumah sakit. Mungkin aku bisa meminta tolong kepada pak Burhan untuk membawa ayahmu ke rumah sakit dengan mobilnya,” akhirnya Kang Paijo menawarkan bantuan.

Aku mengangguk.

Buru-buru, Kang Paijo pergi.

Air mataku perlahan membasahi kening. Kulihat mata ayah terpejam, seakan ia tertidur dengan nyenyak. Aku gerayangi bagian kepalanya dan kutemukan ada darah segar menggenang di sebagian rambutnya.

Lima menit berlalu. Lalu, sepuluh menit. Setelah lima belas menit berlalu, Kang Paijo tidak juga kunjung datang, aku disergap takut. Napas ayah mulai tidak terkendali. Hingga sesuatu tidak terduga, akhirnya terjadi. Mataku seperti terganggu oleh sebuah perkembangan yang nyaris tak kusangka. Napas ayah mendadak berhenti. Kupegang urat nadi ayah, tak ada darah mengalir di sepanjang tanganya.

Aku memeluk tubuh ayah erat-erat, tak ingin ayah meninggal sebelum mimpinya melihat Ka`bah terwujud ketika aku sudah bertekat hendak menjual tanah warisan. Tapi tubuh ayah sudah beku. Dan aku tahu, ayah sudah meninggal dunia…

Perlahan, aku bangkit lalu berjalan menuju beranda. Senja masih mengapung di cakrawala. Pelangi berwarna jingga merona di balik awan. Tiba-tiba, senja hari itu, aku melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Tetapi, aku sudah terlambat mengantar ayah bisa merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi itu… ***

Ciputat, 06/11/ 2008

baca lebih lanjut...?

Jumat, 11 September 2009

sang saka kecil di atap rumah

cerpen

siaku sembilan tahun. Aku masih ingat, tatkala itu, aku masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Tapi prahara bendera mungil yang sempat berkibar sebentar di atap rumahku itu seperti terjadi kemarin sore. Kibar bendera mungil yang kujahit dengan susah payah ketika aku kecil itu masih terpatri kuat dalam ingatanku. Aku sedih menatap bendera kecil itu tidak lagi berkibar di atas rumah, setelah ayah ditikam marah.

Siang itu cakrawala kulihat berwarna kelabu, serupa warna sendu relung hatiku. Aku pulang dari sekolah dengan langkah lunglai, memakai sepatu dengan tali yang kusut dan berdebu. Aku terus melangkah, dahaga menggaruk tenggorakanku. Gang sempit ke arah rumahku lengang, dan aku ingin cepat sampai ke rumah. Tapi aku seperti digelayuti lelah untuk berlari.

Tidak tampak anak-anak kecil berseragam sekolah merah putih bermain di gang sempit itu, kecuali aku seorang diri –yang sedang berjalan pulang dengan galau. Tetapi, entah mengapa, siang itu kelengangan gang ke rumahku seperti berbeda. Angin berisik seperti mengabarkan kemerdekaan yang pernah diukir para pejuang di zaman dulu. Aku merasakan hembusan ruh pahlawan menelusup di sela-sela dedaunan tanaman di depan rumah tetangga-tetanggaku yang tampak sahdu.

Aku terus melangkah, dan sesekali mengamati setiap rumah yang aku lewati. Aku lihat tiang-tiang tertancap di depan rumah dan di setiap tiang itu bendera merah putih berkibaran diterpa angin yang bertiup sahdu. Sesekali, angin bertiup kencang membuat setiap bendera yang ada di depan rumah tetanggaku berkibar menawan.

Tapi tiba-tiba aku merasa heran, ada setangkup perasaan ganjil yang menelusup diam-diam dan gamang dalam hatiku tatkala aku sudah berdiri tepat di depan rumahku. Seperti ada yang hilang dari sesap ganjil mataku. Tak kulihat tiang bendera tertancam di depan rumah. Tidak ada sang saka merah putih berkibar di tiang bambu yang biasa ayah tancamkan di depan rumah.

Siang itu, aku seperti berdiri di depan rumahku yang asing. Aku seperti berdiri di depan rumah orang luar yang tak kena peraturan untuk memasang bendera selama satu minggu sampai hari proklamasi kemerdekaan. Sejenak, aku menatap sekeliling. Tak ada rumah tetanggaku yang tidak memasang bendera merah putih kecuali rumahku. Rumah yang tampak sepi dan beku, lantaran tidak ada kibar sang saka merah putih di hari menjelang kemerdekaan bangsaku.

Penghormatanku pada para pahlawan yang gugur di medan perang sebagaimana cerita yang pernah aku dengar dari guru sejarah-ku, seperti menyeretku pada kesedihan. Aku merasa seperti anak orang Belanda yang sedang bertandang ke kampungku sendiri, tak seperti seorang anak Sekolah Dasar yang pulang dari sekolah dengan seragam merah putih.

Kakiku gemetaran, saat aku kembali melihat setiap rumah tetanggaku dan kibar sang saka merah putih di setiap rumah serasa meluruhkan jiwaku. Langkah kakiku kaku. Aku ditikam kerinduan untuk mengingat masa lalu, mengingat para pejuang dulu ketika mereka berperang melawan penjajah.

Aku bergegas memasuki rumah, langsung menerabas ke dapur. Di rumah hanya ada nenek yang termangu di dapur menanak nasi. Diam-diam, aku mengambil gelas dan melangkah dengan kaki gemetar. “Kau sudah pulang?” tanya nenek saat melihatku.

“Anak-anak dipulangkan lebih pagi dari biasa karena besok anak-anak berangkat kemah, nek…” jawabku seraya menuang air putih dari baskom.

Setelah segelas air putih meluruhkan tenggorokanku, aku memasuki ruang kerja ayah. Kulihat kain berserakan di lantai, di bawah mesin jahit tua ayah –yang terongggok membisu. Siang itu, ayah dan ibu kebetulan belum pulang masih di pasar menjual segala jenis pakaian yang sebagian ayah jahit sendiri, termasuk bendera.

Tak pernah ayah mengajariku menjahit, membuatku ditikam bingung. Apa yang harus kulakukan untuk merajut kain merah putih itu agar bisa menjadi sebuah bendera? Berdiri serupa patung, tiba-tiba sekelebat bayangan ayah yang sedang menjahit sepulang dari pasar seakan memberiku pelajaran tidak langsung. Tak ingin ayah pulang dan tahu apa yang aku lakukan, buru-buru aku pungut kain merah dan putih yang berserak yang kutahu; kain itu sisa dari potongan bendera yang dijahit ayah kemarin sore.

Setelah aku pilih-pilih, aku temukan dua lembar kain merah-putih yang nyaris seukuran. Selanjutnya, untuk membuat kedua kain merah putih itu jadi sama seukuran, kuraih gunting yang tergeletak di sisi lengan mesin jahit. Kupotong sisi kain merah yang berukuran lebih besar. Lalu, aku duduk di kursi mesin jahit.

Sial, benang yang biasanya terpasang di lubang jarum ternyata lepas. Terpaksa, aku memasukkan ujung benang ke lubang jarum. Awalnya, kesulitan. Tetapi setelah tiga kali bersusah payah memasukkan jarum ke lubang, aku dapat bernapas panjang. Benang terpasang, dua lembar kain merah dan putih yang sudah kupotong seukuran sudah siap untuk dijahit.

Entah dapat ilmu menjahit dari mana, aku seperti merasa ada tangan ghaib yang menuntun tanganku tiba-tiba menjadi cekatan. Dua kain merah putih berukuran kecil itu kujahit, lalu bagian ujung kain kurekatkan untuk merapikan bentuk bendera. Setelah aku menjahit tiga tali sebagai pengait untuk diikatkan pada bambu, betapa senangnya hatiku ketika menatap bendera kecil seukuran 30 x 17 cm itu sudah siap aku kibarkan.
***

AKU tahu apa yang kulakukan terhadap bendera kecilku itu sebelum ayah pulang dari pasar. Kembali aku melangkah ke dapur. Aku lihat nenek masih menunggu tungku dengan diam. Gagang sapu yang terkulai di sudut dapur, kusambar diam-diam. Untung, nenek tak melihatku. Dengan langkah bersijingkat aku melangkah ke depan rumah. Tapi sial. Aku lupa mengambil parang.

Buru-buru, aku kembali ke dapur. Aku ambil parang yang terletak tak jauh dari tempat nenek merunduk tepat di depan kompor.

“Untuk apa parang itu?“ tanya nenek mengagetkanku.

“Untuk memotong gagang sapu yang tak berguna, nek,” kilahku, “Ini untuk tugas besok sebelum berangkat kemah,” lanjutku berbohong.

“Hati-hati, parang itu bisa melukai tangamu!”

“Tak usah takut nek, aku sudah besar dan tahu cara menggunakan parang yang benar,” sombongku seraya melangkah ke depan rumah.

Sampai di depan rumah, parang itu aku tebaskan pada gagang sapu serat kelapa. Gagang sapu itu putus dengan sempurna. Cepat-cepat aku ikatkan tali bendera kecilku di gagang bekas sapu itu. Aku lalu mengambil tangga di sebelah rumah, dan aku pasang di sisi rumah agar aku bisa naik ke atap rumah. Setelah aku naik ke atap rumah, kuikatkan gagang sapu itu di sebuah kayu. Aku tak ingin benderaku yang kecil itu tidak berkibar di antara bendera-bendera yang lain dari milik tetangga kecuali benderaku nanti berkibar dan terpasang paling tinggi.

Tak butuh waktu lama, bendera kecilku itu sudah terpasang di atap rumah. Saat angin bertiup dengan kencang, aku tahu, benderaku berkibar mirip sebuah layar yang terikat pada tiang kapal. Aku buru-buru turun dari atap rumah, dengan perasaan bangga sebab telah mengibarkan bendera menjelang hari kemerdekaan. Aku turun dengan cepat lantaran takut ayah keburu datang.

Sesampai di bawah, aku kemudian mendongakkan kepala ke atap rumah. Kulihat bendera kecilku mulai berkibar diterpa angin, dan aku menghormat –seakan melakukan sebuah upacara seorang diri.

Tepat di saat aku baru saja menurunkan tanganku memberi penghormatan pada sang saka kecilku, nenek memanggilku. Dia memintaku untuk segera makan siang. Aku masih ingat, siang itu aku makan dengan lahap.
***

SORE itu, aku terbangun dari tidur siangku yang cukup panjang. Aku mendengar ayah dan ibu bertengkar, tetapi aku tidak tahu apa yang mereka ributkan. Aku lirik jam dinding di kamarku. Pukul 15.30 WIB.

Aku masih belum sadar penuh. Lamat–lamat kudengar ayah seperti dibakar api amarah. “Itulah anakmu yang selama ini kau manjakan! Setiap kali aku memarahinya, kau membela. Sekarang mau kutaruh di mana mukaku ini!” bentak ayah pada ibuku.

“Dia masih kecil, tak tahu apa-apa! Itu pun salahmu sendiri, kenapa kau tak mau masang bendera menjelang hari kemerdekaan padahal kau sendiri menjahit dan jualan bendera… ” bela ibuku.

“Tetapi kalau anakmu itu tidak memasang bendera di atap rumah, tidak mungkin aku dipanggil pak lurah dan dimarahi seperti tadi,” ujar ayah.

Ibu hanya diam.

“Kau tahu, apa kata pak lurah padaku?” tanya ayah pada ibu, “Aku dianggapnya tak bisa mendidik anak…”

“Harusnya kau bilang, anak kita masih kecil dan tidak tahu apa-apa..” bela ibu

“Sudah kubilang seperti itu,” tangkis ayah “Justru karena itulah pak lurah punya bahan untuk menganggapku sebagai ayah yang tidak becus mendidik anak…”

Aku bangkit, dan keluar dari kamar. Aku merasa semua itu ada sangkut pautnya denganku, sehingga aku ingin tahu lebih jauh. Tetapi, betapa hatiku langsung ciut ketika ayah memandang ke arahku. Mata ayah seperti menyala merah, dan seumur hidupku tak pernah kulihat mata ayah merah seperti itu. “Anak kurang ajar,” bentak ayah kepadaku,

Aku diam, tak berkata-kata. Aku lihat ayah memegang bendera mungilku dengan masih utuh sebagaimana aku tadi mengikatkannya pada gagang sapu yang kupotong.

Jantungku berdegup kencang. Tetapi, langkah kakiku ingin membuktikan sendiri apa yang sedang terjadi. Aku melangkah ke depan rumah. Aku dongakkan kepalaku. Tak ada bendera kecil yang tadi berkibar tinggi di antara bendera milik tetanggaku.

Air mataku menitik. Aku kemudian melangkah ke dalam rumah. Aku berjalan ke arah ibuku berdiri, tepat di sisi ayah. Aku tahu, ayah hendak memarahiku. Tetapi, buru-buru ibu mendekapku.

“Kau tidak salah, anakku! Tadi memang pak lurah marah pada ayahmu gara-gara kau memasang bendera kecil di atap rumah. Tetapi, tindakanmu itu menjadi salah sebab ayahmu tak memasang bendera besar sebagaimana tetangga yang lain. Jadinya, ayahmu dikira telah menghina pak Lurah, sebab tidak memasang bendera besar… Besok, tolong jangan diulangi lagi…” ucap ibuku seraya mengelus-elus rambutku.

Sore itu, hatiku serasa damai dan jiwaku serasa dibelai oleh alunan cinta seorang ibu yang penuh perhatian. “Apa yang membuatmu tiba-tiba memasang bendera kecil itu di atap rumah, nak?” tanya ibu membuatku terperanjak.

Mulutku seperti terekam oleh lem. Aku tak bisa angkat bicara.

Tetapi, entah mengapa, tiba-tiba mulutku ingin bicara dan akhirnya keluar suatu hal yang tak pernah aku duga, “Bunda, apa anak kecil tidak boleh mengibarkan bendera kecil di atap rumah untuk menghormati kemerdekaan dengan caranya sendiri?”

Ibu melirik ke arah ayah. Ayah pun melirik ke arah ibu. Aku tak akan pernah bisa melupakan peristiwa itu, peristiwa yang terjadi dua puluh empat tahun yang lalu. ***

Ciputat, 31 Agustus 2009

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 29 Agustus 2009

doa kutukan di pagi lebaran

cerita pendek

/1/
PANTASKAH aku menyebut perempuan misterius yang mengirimiku setumpuk pesan pendek di pagi buta itu sebagai bidadari yang dikirim Tuhan di akhir Ramadhan? Atau justru sebaliknya, dia pantas aku sebut sebagai sundal? Tetapi, kalau ia itu bidadari yang dikirim oleh Tuhan, kenapa ia mengutukku di subuh lebaran seolah-olah aku ini manusia berlumur dosa yang tak bisa tersepuh oleh embun pagi bulan suci Ramadhan?

Menjelang subuh. Ponselku yang tergeletak lunglai di samping tubuhku bergetar. Sudah tiga jam yang lalu, aku menimang-nimangnya seperti bayi yang minta untuk disentuh. Aku tak bisa tidur, disergap gelisah. Padahal, malam itu, aku baru tiba di rumah. Diseret letih. Perjalanan jauh dari Jakarta, ternyata tidak mampu membuatku lelap dalam tidur nyenyak. Bahkan, memejamkan mata sekali pun. Sekedar mengisi lengang pagi, aku mengirim sejumlah pesan pendek ke beberapa kenalan, rekan kerja dan sanak keluarga.

Tetapi, tiga jam berlalu, ponselku tak mendapatkan sapaan hangat. Tak ada satu pun, pesan pendekku terbalas. Tiga jam, ponselku membeku hanya mengirim pesan, tak dihinggapi balasan. Jadi, aku disergap malas untuk meraih ponselku di subuh itu, meski pun aku tahu ponselku bergetar, dan layarnya menyala. Pertanda ada pesan pendek menghampiri benda mungil itu, tapi mataku sudah mulai disergap kantuk.

Aku meringkuk, bagai sosis dalam balutan selimut.

Gema takbir terdengar sayup-sayup, merambat di sela-sela ranting dan daun pohon pisang di samping rumah. Kesiur angin terdengar merintih, daun-daun di pekarangan bergoyang dan merambatkan irama yang ganjil. Aku memejamkan mata. Tetapi rasa kantuk tidak juga kunjung menyeretku ke dunia mimpi. Aku menyibak selimut, mengambil ponsel yang tergolek di samping tubuhku, dan membuka pesan pendek yang masuk. Dingin merayap menerobos lubang-lubang jendela, merayapkan sepenggal kecemasan di dada. Hawa dingin menggigilkan kulit, kala aku lihat di layar ponselku tercantum nama seorang perempuan misterius.

Subuh itu, dia mengirimiku sebuah pesan pendek lagi. Sebuah pesan yang telah menggiringku pada ruas waktu yang rumpil, menyudutkanku di lorong petaka. Aku tercekat, membaca pesannya. Aku dikutuknya, tepat di pagi lebaran.

/2/
AKU tak mengenal perempuan misterius itu kecuali lewat sebuah perkenalan yang tak terduga di akhir bulan Ramadhan, tepatnya lima hari menjelang lebaran.

Siang itu, aku disergap bingung, setelah mencari buku di rak, dan tak menemukan buku yang kucari. Aku duduk tercenung, mengingat terakhir kali aku menyentuh buku tersebut. Tapi, ingatanku hilang. Mataku kabur dan tiba-tiba aku dikejutkan getaran ponselku di atas meja.

Kuraih benda mungil itu. Kubuka sms yang menelusup di dalam ponsel. Tak kusangka ternyata pesan itu datang dari nomor yang tidak aku catat. "Aku nawang, boleh kenalan? Jika tak keberatan, siapa namamu?"

Tak ada pekerjaan yang membuatku sibuk, aku membalas. "Boleh! Tetapi, kamu dapat nomor-ku dari mana?"

Tidak ada balasan. Aku kecewa. Menjelang malam, pesanku masih tak terbalas. Aku mengambil kesimpulan; ia tak lebih perempuan iseng. Dan malam itu, aku tidur memeluk ponselku, erat-erat.

/3/
TETAPI, betapa terkejutnya tatkala bangun tidur, aku mendapati ponselku disinggahi sebuah pesan. Aku buka. Entah mengapa, aku merasa pesan pendek kadang bisa menghibur, mengundang takjub. Lagi-lagi, aku dikejutkan pesan pendek perempuan misterius itu. "Aku dapat nomor kau dari temanku yang kau benci setengah mati," balasnya. Singkat, membuatku jengah.

Aku tak punya musuh, mengapa tiba-tiba ada perempuan yang ngaku, bahwa aku telah membenci seseorang sampai setengah mati? Aku penasaran. Maka, aku membalas, "Maaf, aku tak pernah membenci siapa pun. Maka tak ada alasan juga jika aku membenci setengah mati temanmu! Mungkin, kamu salah orang?"

Tak ada balasan. Aku kecewa. Mentari belum terbit lantas bangkit ke kamar mandi, membasuh muka.

Menjelang malam, pesan singkatku padanya belum dibalas. Aku mengambil kesimpulan; ia itu perempuan iseng. Dan malam itu, aku kembali tidur memeluk ponselku, erat-erat.

/4/
TIGA hari lagi, lebaran datang. Kantor tempatku bekerja sudah libur. Siang itu, buru-buru aku beli tiket. Antrian panjang di stasiun, terpaksa jalani jika aku memaksakan diri pulang. Maka aku berdiri mematung berjam-jam. Iseng-iseng aku mengirim pesan pendek pada kekasihku. Tak sampai semenit, aku mendapat balasan. Tapi, dugaanku ternyata salah. Pesan yang menyelusup ternyata dari perempuan misterius, bukan balasan dari kekasihku.

Pandangan mataku kabur, ketika kubaca pesannya, "Tidak! Aku tidak salah. Aku hanya heran, kenapa kamu membenci setengah mati kepada temanku, bahkan sampai-sampai kamu tega menuduh dia itu perempuan gila?"

Degggg! Hatiku bergetar. Jantungku berdetak. Angin berhembus kencang, seakan badai datang tiba-tiba. Apa dia itu Ani, adik kelasku dulu sewaktu aku kuliah di Yogyakarta? Aku menahan napas dan tak berusaha membalas! Aku bingung, siapa dia?

Antrian tiket masih panjang.

Sore hari, aku baru mendapat tiket yang akan membawaku pulang, esok hari.

/5/
SELEPAS subuh, kereta membawaku pulang ke kampung. Aku menyandarkan tubuh dan menuntaskan sisa kantuk yang tertunda. Tapi belum sempat tidur disergap mimpi, tiba-tiba sebuah pesan singkat menelusup ke hpku. Aku buka, penasaran, lantaran ibu di rumah sudah berkali-kali menyanyakan hari kepulanganku.

Tetapi, lagi-lagi aku tertipu. Pesan yang masuk bukan datang dari ibuku, melainkan datang dari perempuan misterius yang kembali mengusikku. "Kenapa kau menuduh ia gila? Bukankah kamu yang sebenarnya gila?" tulisnya, singkat dan padat. Hatiku bergemuruh, dibakar amarah.

Semestinya, aku menelponnya untuk menjelasnya duduk perkara agar ia tidak sembarang kirim pesan. Tetapi, aku urung.

Kereta melaju, membawaju pulang ke kampung. Aku tidur sepanjang perjalanan.

/6/
SEHARI sebelum lebaran, aku sampai di kotaku. Tetapi, aku tidak langsung pulang ke rumah, lantaran ada urusan dengan teman. Aku naik bus, dan kembali menyambung tidurku yang tak nyenyak.

Tapi, lagi-lagi perempuan misterius itu membuatku terjengah. Ia kembali kirim sms.

"Kau masih belum tahu, siapa sebenarnya nama temanku yang kamu tuduh gila itu? Dia adalah Susan. Dia kini tinggal di Jepang, lho!. Kamu mungkin dapat menghubungi, jika mau nanti aku kasih nomornya atau emailnya."

Oh...., aku baru ingat dan tersadar kalau teman perempuan misterius itu tidak lain adalah Susan. Sosok perempuan yang tak pernah aku kenal, tapi ia merasa kenal akrab denganku.

Bus yang aku tumpangi, sampai di pangkalan. Aku turun dan menyambung lagi naik becak.

Aku sampai di rumah temanku, saat matahari tenggelam. Ia memintaku menginap. Aku tak bisa mengelak.

/7/
PERSIS selepas isak, aku baru tiba di rumah. Ibu menyambutku, memelukku erat-erat, seakan aku ini seorang anak hilang yang baru pulang. "Kau tambah gemuk!" puji ibu.

Aku hanya tersenyum.

"Kau sudah makan? Ibu sudah siapkan ikan sotong yang katamu, selalu membuatmu tidak betah tinggal di Jakarta karena di sana tak seenak yang ibu buat..." rayu ibu, membuat perutku seketika digaruk lapar.

Buru-buru mandi lalu kuhabiskan masakan yang disediakan ibu di atas meja. Setelah kenyang ibu memintaku istirahat.

Malam merambat sunyi. Gema takbir dan suara bedug terus berkumandang memecah malam.

/8/
DI atas ranjang, tubuhku tergolek lemas. Tetapi aku tidak bisa pergi ke dunia mimpi. Rasa capek nyaris melumatku terbujur kaku sepanjang malam hingga hari berganti pagi.

Sekedar mengisi kelengangan pagi, aku mengirimi sejumlah pesan ke beberapa kenalan dekat, rekan kerja dan sanak keluarga. Tetapi, tiga jam berlalu, ponselku tak mendapatkan sapaan hangat. Tidak ada satu pun pesan yang aku kirim terbalas. Tiga jam, ponselku membeku hanya mengirim pesan dan tak dihinggapi balasan. Maka, aku disergap malas meraih ponselku di pagi itu ketika tiba-tiba ada pesan yang masuk. Aku bergeming.

Aku menggeliat, lalu meringkuk bagai sosis dalam balutan selimut tebal.

Gema takbir terdengar sayup-sayup, merambat di daun pohon pisang di samping rumah. Kesiur angin terdengar merintih, daun-daun di pekarangan bergoyang merambatkan sebuah irama yang ganjil. Aku memejamkan mata, ingin tidur. Tetapi kantuk tidak juga kunjung menyeretku ke dunia mimpi. Aku sibak selimut. Beringsut mengambil ponsel dan membuka pesan yang masuk. Dingin pagi merayap pelan menerobos lubang jendela, merayapkan kecemasan. Hawa dingin terasa sepi, menyentuh kulitku ketika kulihat di layar ponselku tercantum nama perempuan misterius.

Dengan hati berdebar, aku membuka pesan singkatnya. Aku yakin, dia akan mengucapkan "kata maaf" di hari raya idul fitri di pagi itu. Tapi, lagi-lagi aku tertipu.

"Benar kata Susan, kamu itu memang lelaki gila. Tahu tidak? Dendam Susan padamu itu bagai petir, sampai-sampai aku ngeri mendengar sumpahnya! Siapa sebenarnya temanmu itu yang sampai tega melukai hati Susan karena telah memperkosanya? Ternyata, sebagai temannya, hatimu itu tak ubahnya binatang juga!" tulisnya, panjang. Menyakitkan!

Hatiku pedih, seperti diguyur hujan api. Tetapi aku tetap tidak membalasnya dengan pedas. Aku ingat wejangan seorang kiai yang pernah kukunjungi, kalau engkau diumpat orang dengan umpatan pedas bahwa kamu dikatakan mirip binatang, justru kamu harus bersyukur. Pasalnya, binatang itu di sisi Allah tak punya dosa. "Umpatan itu mirip sebuah doa," ujar pak kiai.

Maka, aku membalasnya dengan lembut. "Amin! Kamu menganggapku orang gila bahkan binatang. Bukankah orang gila dan binatang itu tak punya dosa di sisi Allah? Trima kasih di hari yang fitri ini kau telah mendoakanku tak punya dosa --seperti orang gila dan binatang yang tak punya dosa."

Tapi, hati perempuan itu mungkin tertutup kabut yang tak mampu disingkap embun pagi bulan suci Ramadhan. Ia tak tahu, jika di hari lebaran seharusnya ia minta maaf atas segala dosa, bukan justru mengumbar kutukan.

"Apa? Kamu mengangap dirimu tak punya dosa di sisi Allah? Munafik! Bagaimana tidak nyata, kamu saat melihat temanku terpuruk? Apa? Apa? Malah, kamu sms kepada temanku dan menuduh dia itu sebagai wanita gila, dan pantas masuk rumah sakit jiwa. Ingat baik-baik, apa otakmu dapat disebut sebagai manusia saat Jum`at kelabu itu kamu melihat temanku hampir mati bunuh diri, sementara itu kamu berpangku tangan? Cihhh..., tidak malu mengaku sebagai orang suci!!!" balasnya, panjang dan menyulut amarah.

/9/
PANTASKAH aku menyebut perempuan misterius yang mengirimiku setumpuk pesan pendek di pagi itu sebagai bidadari? Atau justru sebaliknya, dia pantas aku sebut sebagai sundal? Tetapi, kalau ia bidadari yang dikirim Tuhan, kenapa ia mengutukku di subuh lebaran seolah-olah aku ini manusia berlumur dosa yang tak bisa tersepuh oleh embun pagi bulan suci Ramadhan?

Tak lagi kupedulikan sms perempuan misterius yang mengutukku di pagi lebaran itu. Seratus sms dari rekan kerja, kenalan dekat dan sanak famili di pagi lebaran, pagi yang fitri di hari itu serasa mengguyurku dengan sejuta tetesan embun dan salju suci.

Dan di pagi lebaran itu, aku serasa terlahir kembali... ***

Tangerang, 22 Ramadhan 1429

baca lebih lanjut...?

Senin, 24 Agustus 2009

pulang lebaran tahun lalu...

cerita pendek

TIGA hari menjelang lebaran, aku pulang ke kotaku. Sebuah kota kecil yang nyaris tak lagi memikatku. Kota yang hanya menyisakan keping-keping kisah usang tak menarik. Kota yang menyimpan sepotong dendam, desau dari sebuah risau tentang masa kecil yang memilukan. Juga, kota yang tidak memiliki harapan dan masa depan untuk seorang anak pembangkang. Maka jangan salahkan aku jika aku nyaris tak memiliki kerinduan untuk menginjakkan kaki di beranda rumah, sejak ayah meninggal tiga tahun yang lalu. Tapi entah kenapa, sekarang ini aku kembali menginjakkan kaki di kota mungil ini -kota yang hampir tiga tahun tidak pernah aku kunjungi- sejak aku pindah kerja ke kota seberang.

Tiga tahun sudah, aku menepati janjiku pada ayah. Aku tidak pulang, dan aku sudah menebus dosaku. Jadi, tidak ada dusta lagi aku pulang ke kota ini, setelah tiga tahun cuma uang kirimanku yang menjenguk tangan bunda. Dan kini, aku sudah menginjakkan kaki di kota kelahiranku dan hampir sampai di rumah.

Tetapi, saat turun dari bus tepat di gang kecil menuju rumah, aku termangu menatap lorong panjang yang lengang. Tak seperti kepulanganku waktu kecil dulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Siang itu, aku merasa kelengangan lorong menuju rumahku mengabarkan berita petaka. Angin tiba-tiba menguarkan aroma duka. Aku disergap cemas, lantas menatap sekeliling. Kerinduanku setelah lama tak bertemu dengan bunda, seperti menyeretku menjadi orang asing di kampung sendiri. Aku merasa mirip seperti seorang tamu yang akan bertandang ke rumahku, tidak sebagai seorang anak yang pulang ingin bertemu dengan ibu kandungnya.

Kakiku gemetar, tatkala aku melangkah dengan ragu melewati gapura di mulut gang mungil ke arah rumah. Tidak ada anak-anak kecil berkaos lusuh, bermain kelereng di sepanjang lorong. Angin seperti membisu. Langkah kakiku kaku. Padahal, aku ditikam kerinduan untuk segera memeluk bunda. Tapi belum jauh aku melangkah memasuki gang mungil itu, tiba-tiba kulihat bendera putih tertancam di dekat gapura.

Angin kembali bertiup, mengibarkan kain kecil di tiang bambu itu yang membuatku disergap gelisah. Aku tak tahu siapa yang meninggal dunia. Karena tak ada berita duka di papan pengumunan yang biasa ditulis dekat gapura kalau ada orang yang meninggal.

Aku berhenti, ragu untuk berjalan lebih jauh. Langkah kakiku seperti terpikat tanah untuk terus kuajak pulang ke rumah. Lamat-lamat, telingaku mendengar langkah kaki iring-iringan orang. Tidak lama kemudian, muncul keranda yang ditutup kain hijau diusung empat orang menyusuri lorong dari arah rumahku. Di belakang keranda, ada tiga orang berjalan mengikuti dengan muka tertunduk, ditikam sedih. Tak jelas pandanganku, ketika aku menatap para pengusung keranda. Juga tiga orang yang ada di belakang keranda. Aku berdiri mematung, menatap iring-iringan orang yang mengusung keranda, semakin berjalan mendekat ke arahku.

Tetapi, tatkala iring-iringan pengusung keranda itu hampir dekat, aku nyaris tak percaya. Aku seketika terperanjak kaget. Tiga orang pengiring yang berjalan di belakang keranda itu tidak lain ustadz Mukhtar, kakakku dan adikku. Iring-iringan pengantar jenazah berjalan cepat. Tatkala melintas tepat di depanku, aku hanya termangu. Karena orang-orang itu tidak mengenalku. Kakakku diam. Adikku tak menoleh ke arahku. Aku lantas berlari mengejar iring-iringan itu dan berteriak, dengan kencang, "Siapakah yang meninggal dunia?"

"Kau ini aneh! Ayahmu sendiri yang meninggal, tapi kau justru tidak tahu," jawab kakakku, dengan muka marah.

Aku tergeragap. Nyaris jantungku membeku. "Jangan bercanda, kak! Ayah kan sudah meninggal tiga tahun lalu. Jadi, tidak mungkin ayah meninggal dunia dan dimakamkan lagi...!"

Kakakku diam. Tak menjawab. Adikku, bahkan tak menoleh ke arahku. Aku jadi bingung. Tidak ada jawaban, aku memutuskan untuk mengikuti iring-iringan para pengantar jenazah. Anehnya, semua orang yang mengantar jenazah, tidak satu pun yang mengajakku bicara, seolah-olah aku orang asing yang tidak pernah mereka kenal. Semua diam, seakan mereka sekumpulan orang bisu yang lagi dilanda sedih.

Iring-iringan pengantar jenazah itu akhirnya tiba di pemakaman. Lalu, keranda diturunkan. Jenazah yang sejak tadi telantar di balik keranda, segera dikeluarkan. Tidak ada geledak. Tak ada petir. Jenazah, yang konon jasad ayahku itu kemudian digeletakkan di tepian tanah galian, dan tak segera dimakamkan. Tidak ada orang, termasuk kakakku, dan adikku yang merasa berhak untuk segera memakamkan jenazah ayah.

Aku termangu, menatap kejanggalan itu.

"Kenapa kamu termangu?" tanya salah satu pengusung jenazah.

"Kenapa tak segera dikuburkan?" balasku, merasa aneh.

"Kau tahu apa tentang prosesi pemakaman? Kini, carilah beberapa kancing baju agar ayahmu bisa segera dikuburkan!" perintah pengantar jenazah lain dengan muka cemberut dan murka.

"Untuk apa dengan kancing baju segala?" bentakku, tak mengerti.

"Turutilah perintah itu supaya mereka segera memakamkan ayahmu!" ucap ustadz Mukhtar.

Mata ustadz berwarna biru, membuatku tak kuasa membantah. Aku segera berlari meninggalkan pemakaman.

Tak tahu harus mencari kancing baju ke mana, aku kemudian berlari sepanjang jalan, tidak jelas arah. Anehnya, sepanjang jalan yang kulintasi itu, sepenuhnya bentangan tanah kosong. Tidak kutemukan toko. Tak kulihat pasar.

Setelah berlari tak tentu arah, kakiku jadi lemas. Aku berhenti, menarik napas. Keringat mengucur. Terik mentari yang tadi menyengat, tiba-tiba berubah menjadi mendung. Langit kelam dan hujan kemudian turun. Aku mencari tempat untuk berteduh, berlari kembali. Untung kutemukan sebuah rumah di tepian sawah. Aku berteduh di teras rumah itu. Bajuku sudah basah kuyup. Aku mengibaskan rambutku biar segera kering dan agar kepalaku tidak pening. Tapi, belum sempat aku merasa tenang, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan muncul seorang tua yang kuyakini sebagai pimilik rumah itu. Mata orang itu, kulihat teduh saat dia memintaku untuk masuk ke rumah. Rupanya, orang itu seorang penjahit. Kulihat mesin jahit tua, teronggok kaku di sudut ruangan.

Aku seketika ingat ayah, yang memang bekerja sebagai penjahit. Kini aku sadar kenapa para pengantar jenazah itu memintaku untuk mencari kancing baju. Aku tahu kancing baju itu pasti untuk merekatkan kain kafan agar bisa melilit di jasad ayah dengan rapat, dikancingkan pada setiap sisi dengan sisi kafan yang lain.

"Maaf pak, aku butuh beberapa kancing baju. Sekiranya bapak memiliki kancing-kancing itu, aku harap bapak tak keberatan jika aku membeli beberapa biji!" pintaku, ragu.

Orang itu melihatku, ragu. Matanya bening, serupa telaga. "Tak usah membeli! Jika memang kau butuh, ambillah di kaleng dekat mesin jahit itu!" jawabnya seraya menuding ke arah mesin tua yang teronggok. "Aku tahu kau lagi butuh kancing itu untuk menebus dosamu!" lanjutnya.

Aku terlonjak kaget. Bagaimana mungkin bapak tua penjahit ini tahu akan dosa-dosaku pada ayah. Tapi aku tak peduli. Aku butuh kancing baju itu segera dan aku melangkah menuju mesin jahit tua yang teronggok, memilih kancing baju yang seragam. Aku ambil sembilan buah kancing baju, lalu segera pamit. Aku tak ingin ayah tergelatak terlalu lama, tak terurus di tepian makam.

Tapi betapa terkejutnya aku, ketika keluar dari rumah penjahit itu, aku berpapasan dengan para pengusung jenazah ayah, termasuk kakakku, adikku, bahkan ustadz Mukhtar yang ternyata sudah pulang dari pemakaman. Aku berdiri, heran. Menatap mereka dengan bingung.

"Ayahmu sudah dimakamkan, kini pulanglah! Ibumu sedang menunggumu di rumah. Dia diliputi kesedihan karena kau sudah lama tak pulang!" pinta salah seorang dari pengantar jenazah ayah dengan sorot mata merah menyala.

Hatiku sakit, dan aku merasa ditipu. Bagaimana bisa aku dibiarkan tidak mengikuti prosesi pemakaman ayah, justru diminta mencari kancing yang ternyata tak terpakai dan sia-sia?

Dengan sekuat tenaga, aku ingin memukul mereka semua. Tetapi, aku ternyata tidak memiliki tenaga lagi. Kepalaku pening. Mataku kabur. Kulihat semuanya tiba-tiba berubah gelap serta kabur. Dan aku tergeragap, bangun. Keringat sudah membasahi punggungku dan bahkan hampir seluruh bajuku. Aku menengok jam dinding. Pukul empat lebih tiga puluh menit. Adzan subuh sudah berkumandang.

Lamat-lamat, aku mulai sadar dan ingat tentang mimpi yang barusan menghampiriku.

Aku bersimpuh. Kini aku baru ingat. Seminggu yang lalu, ketika aku pulang ke rumah, bunda memang sempat memintaku berziarah ke makam ayah. Tapi karena dihajar kesibukan yang harus kuurus, akhirnya aku pun tak lagi ingat untuk memenuhi permintaan bunda. Aku tak sempat menziarahi makam ayah sewaktu pulang di hari lebaran kemarin. Sekarang, aku merasa bersalah. Kenapa pulang lebaran kemarin, aku hanya menjenguk bunda dan melupakan ayah yang sudah meninggal dunia? Apa karena ayah sudah tiada sehingga tak perlu aku jenguk sampai aku dihantui mimpi melihat ayah dimakamkan lagi? Bukankah dosaku pada ayah sudah aku tebus? Tetapi, kenapa ayah masih muncul dalam mimpiku? Apakah ayah masih belum bisa memaafkanku lantaran aku tidak pernah mau menuruti permintan ayahku menjadi seorang penjahit --sebagaimana pekerjaan ayah sepanjang hidupnya?

Aku tidak tahu! Tapi, setelah tiga tahun ayah wafat, aku sudah menebus dosaku. Meski, aku menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, aku tetap merasa sudah menuruti permintaan ayah. Kini, aku membuka sebuah garmen. Usaha itu aku rasa lebih dari permintaan ayah yang mengharap aku jadi penjahit. Lalu, pertanda apakah sampai aku melihat dalam mimpiku ayah dimakamkan lagi?

Kini, aku sudah balik ke kota. Jelas, tak mungkin aku ambil cuti lagi dan pulang ke rumah untuk menziarahi makam ayah, kecuali pulang lebaran tahun depan.***

Jakarta, 05/12/07-11/10/08

baca lebih lanjut...?