Jumat, 2009 Mei 22

sebuah pertanyaan tentang calon suami

cerpen ini dimuat di majalah Anggun edisi 6/II/Juni 2009

JIKA kebahagiaan seorang lelaki yang sedang jatuh cinta itu seperti rinai gerimis, mungkin lelaki itu tak akan kesulitan menampung air serupa kristal berkilau yang jatuh dari langit ketika turun gerimis. Ia akan menengadahkan kedua tangannya, lalu meraup rintik yang turun mirip salju itu hingga kedua tangannya basah bagai habis mengambil wudhu. Ia akan membasuh wajahnya, lantas mendesiskan selarik doa; berharap gerimis yang turun akan memberi setangkup kebahagiaan.

Tetapi, kebahagiaan yang dia rasakan di malam yang rumpil sehabis pulang dari rumah kontrakan perempuan itu seperti menyisakan mendung bimbang yang terkenang dalam ingatan. Ia hanya termangu. Sepi menusuk kalbu. Gerimis yang turun tiba-tiba di malam itu masih menyisakan mendung yang kelabu. Di balik jendela, ia berdiri menatap langit. Tidak ada pendar rembulan, tak ada kerlip bintang. Cakrawala serupa bentangan hitam yang merambatkan bimbang lantaran pikirannya mengembara, menelusup setiap jejak peristiwa yang terjadi sejak dua minggu lalu ketika pagi dilingkupi mendung yang sendu.

“Kau pasti tak percaya jika pagi ini aku memenuhi janjiku untuk mengunjungimu dan aku merasa tidak perlu memberitahumu lewat telepon lebih dulu.”

Laki-laki itu hanya termangu, menatap wajah seorang perempuan yang berdiri di depan pintu kontrakannya. Seorang perempuan yang baru ia kenal, tapi sudah memberi kejutan yang tak pernah ia duga –ia datang mengejutkan. Ia datang tiba-tiba, dan tahu-tahu sudah berdiri di depan kontrakan setelah ia dikejutkan ketukan di pintu.

“Aku sudah datang jauh-jauh, kenapa kamu biarkan aku terpaku di depan pintu? Tidak bolehkah aku mengunjungimu sehingga kau tidak mempersilahkanku masuk?”

“Rumah ini terbuka untuk siapa pun yang datang ke sini, tidak terkecuali untuk seorang yang baru aku kenal,” ucap laki-laki itu gugup “Masuklah, dan anggaplah rumah mungil yang aku kontrak ini seperti rumahmu sendiri….”

Perempuan itu masuk, tetapi disergap bingung untuk menyandarkan diri setelah menempuh perjalanan jauh. Hanya ada selembar karpet kumuh, lusuh, berdebu yang terbentang di depan tv. Ia kemudian duduk, tanpa mempedulikan koran yang terserak di lantai, buku bertumpuk bersamaan koran yang terbentang habis dibaca tidak serius.

“Ini kubawakan separoh kue yang dulu pernah kujanjikan. Aku berharap, kue ini bisa membuatmu senang…”

Lelaki itu ingat perbincangan tempo hari melaui email atau chating saat melihat bungkusan kue yang ada di depannya. “Terima kasih. Kenapa repot-repot membawa kue segala? Aku sudah senang, kamu mau datang untuk berkunjung.“

Perempuan itu tertawa memecah suasana yang semula terkesan kaku. Lelaki itu ikut tertawa seakan perempuan itu sudah lama ia kenal, meski sebenarnya baru ia kenal sebulan lalu. Sebuah perkenalan aneh, karena perempuan itu sebenarnya adik kelasnya sewaktu kuliah dulu tetapi keduanya tak pernah bertatap muka, dan baru dipertemukan setelah keduanya tinggal di kota yang sama lewat jaringan internet.

“Kenapa dulu aku tidak pernah melihatmu di kampus?”

“Kau pasti bohong! Aku ini cukup dikenal di kampus, bagaimana bisa kamu tidak pernah melihatku?”

Keduanya tertawa, seakan terkenang di masa kuliah dulu. Jarak tiga tahun yang terbentang antara dua mantan mahasiswa satu fakultas itu, tidak menutup kemungkinan hanya saling tahu sebatas wajah, tapi tak mengenal lebih jauh. Hingga kemudian kedua orang itu dipertemukan, berkenalan dan tidak disangka; ternyata dulu pernah kuliah di fakultas yang sama.

Siang datang dengan cepat dan hari tiba-tiba sudah berganti sore. Perempuan itu sebenarnya ingin pulang sore itu tetapi gerimis yang turun tiba-tiba mencegahnya untuk pulang segera. “Tahukah kau bahwa aku sebenarnya benci gerimis!’” ucap perempuan itu kesal. Ia tidak bisa pulang, dan gerimis seperti mencegahnya bertahan lebih lama di kontrakan mungil itu --setidaknya harus menunggu sampai reda.

“Kenapa kau benci gerimis? Bukankah gerimis yang turun itu akan memberikan setangkup kebahagiaan bagi petani?”

“Tapi setiap turun gerimis, entah kenapa, aku selalu terkenang akan perpisahan. Dan setiap perpisahan, selalu membuatku tiba-tiba ingin menangis…”

Gerimis masih turun. Dari gorden jendela depan yang tersingkap, lelaki itu bisa melihat dengan jelas gerimis yang turun dari balik kaca jendela. Ia tak ingin perempuan itu menangis serupa gerimis yang turun di senja itu. Senja yang meninggalkan kenangan tentang gerimis, dan perpisahan yang akan segera terjadi.

“Kau tak perlu sedih, nanti aku bisa mengantarmu pulang…”

“Aku tak mau kau mengantarku. Aku bisa naik taksi…!”

Gerimis reda, dan petang tiba-tiba sudah melingkupi cakrawala. Adzan maghrib menggema dari masjid di dekat kontrakan. Lelaki itu terpaku sejenak sebelum kemudian berpesan pendek. “Kau bisa shalat di sini. Aku akan ke masjid dulu, baru setelah itu aku akan mengantarmu pulang…”

Perempuan itu termangu, membiarkan lelaki itu berlalu dari hadapannya; hilang di telan hamparan petang setelah keluar dari pintu kontrakan. Perempuan itu kemudian melangkah ke kamar mandi. Air kran terdengar parau. Ia mengambil wudhu dan keluar dengan muka setengah basah. Lalu, masuk kamar menunaikan shalat.

Lelaki itu pulang dari masjid, membuka pintu kontrakan. Dari balik pintu kamar, ia mendapati perempuan itu sudah selesai menunaikan shalat, dan dia menanti di luar kamar dengan galau.

”Sudah siap kuantar pulang?” tanyanya ketika perempuan itu keluar dari kamar.

”Tak usah mengantarku, kau hanya perlu memanggilkan taksi untukku…”

Ia menatap perempuan itu dengan melotot ”Aku harus mengantarmu karena aku khawatir terjadi apa-apa denganmu di jalan.”

”Bagaimana jika kamu hanya mengantarku sampai di jalan raya, setelah itu aku naik taksi?”

Lelaki itu kembali menatap wajah perempuan itu. ”Aku tak akan membiarkamu pulang sendirian.”

Sisa gerimis masih meninggalkan hawa dingin di sepanjang jalan, ketika lelaki itu mengantar perempuan itu pulang.

Malam mengambang di langit. Di balik jendela lelaki itu masih terkenang jalanan yang disergap macet, sebelum akhirnya ia tiba di kontrakan perempuan itu dengan letih. Dan malam sehabis turun gerimis di senja itu, dia tak pernah bisa melupakan kisah yang membuatnya terkenang tentang gerimis lantaran dia terlanjur menceritakan sepenggal hidupnya pada perempuan itu.

Sesaat setelah ia bercerita, di teras rumah kontrakan yang ditinggali perempuan itu, ia tiba-tiba diingatkan lagi peristiwa sepuluh tahun lalu. Peristiwa yang membuatnya tersedu, karena dia pernah membuat perempuan yang dia kenal dekat harus terluka dan dirawat di sebuah rumah sakit.

“Jika besok kau main ke sini, aku harap kau tidak keberatan untuk bercerita lagi. Aku akan selalu merindukan ceritamu. Aku tak menyangka, jika kau ini pandai bercerita dan mendongeng…” sanjung perempuan itu.

“Ini bukan dongeng. Tapi ini kisah nyata dalam hidupku…”

“Kenapa tak kamu tulis dalam novel? Aku yakin kisah itu bisa membuat pembaca tersihir dan terpikat…”

“Aku tak yakin dengan kemampuan diriku… Biarlah cerita itu akan menjadi kisah yang ada dalam kepalaku. Aku tak keberatan menceritakannya padamu sepenggal demi sepenggal jika aku besok datang ke sini lagi, tetapi tidak untuk kutulis dalam novel.”

Perempuan itu diam, melepas kepergian lelaki itu dari sebuah tangga. Tapi, lelaki itu seperti berat bergegas pergi meninggalkan perempuan itu dalam remang malam yang galau. Ia menoleh sekilas, kembali mendekati perempuan itu, “Aku ingin bertanya satu hal padamu…”

Perempuan itu diam, memandang lelaki itu dengan heran.

“Apa kau sudah memiliki calon suami?” tanya lelaki itu mengejutkan, membuat perempuan itu tercekat.

“Jika kau mau tahu jawabanku, aku harap kau mau menulis kisahmu itu menjadi novel. Jadi, selesaikan novelmu, setelah itu baru aku mau menjawab pertanyaanmu!”

Laki-laki itu beranjak pergi untuk pulang, tak mau menoleh melihat kembali ke arah perempuan itu. Ia merasa ditampar jawaban yang membuatnya tak bisa berpaling dan menoleh lagi. Bertahun-tahun, ia dibesarkan dalam kepingan kisah yang tak pernah membuatnya bisa mengukir prestasi sepanjang hidupnya, membuat ia terpikir mimpi yang pernah ia kubur dalam-dalam sewaktu ia merasa sebagai anak bodoh sekampung, yang kemudian bisa pergi ke kota besar berkat doa ibunya. Tetapi, kini ia merasa bahwa kesempatan ini adalah masa depannya yang sudah lama dia impikan. Sebuah kisah yang akan ia ceritakan untuk anak cucunya kelak di kemudian hari.

Sore tadi, ia kembali datang ke kontrakan perempuan itu. Tak ada yang ingin dia katakan, kecuali hanya untuk minta sebuah jawaban. Seperti di malam yang rumpil saat ia mengantar perempuan itu pulang, keduanya kembali duduk di teras rumah. Lelaki itu diam, termangu lama sebelum kemudian membuka percakapan.

“Kenapa kamu tak mau mengatakan jujur padaku untuk sebuah pertanyaan yang kemarin aku tanyakan.”

”Kamu tidak boleh begitu. Apa yang harus kukatakan kepadamu?”

“Apa kamu sudah punya calon suami?”

“Sudah kukatakan… Jika kau mau tahu jawabanku, aku harap kau mau menulis kisahmu itu jadi novel. Jadi, selesaikan novelmu, setelah itu baru aku mau menjawab pertanyaanmu!”

Lelaki itu pulang dengan membawa jawaban yang tak pernah ia dapatkan, meski ia sudah susah payah membujuk perempuan itu. Ia tahu, jika usahanya untuk membujuk dan merayu perempuan itu akan sia-sia. Dan pada malam yang rumpil, setelah dia tiba di kontrakannya sepulang dari kontrakan perempuan itu, ia hanya bisa menatap gerimis yang turun dari kaca jendela.

Ia tahu, kebahagiaan yang ia rasakan di malam yang rumpil seperti sekarang ini menyisakan mendung kebimbangan yang akan terkenang dalam ingatan. Sepi menusuk kalbu. Gerimis turun tiba-tiba, menyisakan mendung yang kelabu. Ia kembali menatap langit dengan sendu, sebelum kemudian melangkah ke arah meja di mana seperangkat komputer sudah menyala dari tadi.

Dan malam ini, di depan computer, dia mulai menuliskan sebuah kisah. Sebuah kisah tentang gerimis yang akan ia kenang selalu dalam ingatan. Karena dia tahu, empat bulan kemudian sejak ia memutuskan menuliskan kisah tentang gerimis, ia akan pergi menemui perempuan itu; menagih janji untuk jawaban dari sebuah pertanyaan tentang calon suami… ***

Cerita untuk Faza
Ciputat, 22 Mei 2009

baca lebih lanjut...?

Minggu, 2009 Maret 22

dua janji

cerpen di muat di majalah ANGGUN edisi 3/II/Maret 2009

/1/
LELAKI setengah baya yang menjabat sebagai Kepala Desa itu hanya termangu, dan diam lama saat tamu yang datang ke rumahnya sore itu akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya dengan jujur. Ada perasaan aneh yang menggumpal tepat di jantungnya, lantaran ia harus melakukan sesuatu yang selama ini menjadi pertentangan di lubuk hatinya. Sempat, ia digulung keraguan ingin menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Tetapi, entah mengapa, matanya tiba-tiba berbinar merah tepat ketika tamu berjas hitam itu meletakkan sebuah amplop putih berisi uang.

“Jangan khawatir, pak,” kata tamu tersebut, “Ini hanya uang muka! Kalau nanti, bapak bisa membantu saya jadi caleg, pasti ada tambahan bonus lagi. Ini memang tak seberapa, tetapi jika saya terpilih, nanti akan ada bonus lagi sebagai balas jasa.”

“Oh, jadi itu yang membuat bapak datang ke sini?” ujar Kepala Desa itu, serasa mendesah senang. Kilatan matanya menerka-nerka setumpuk uang dalam amplot putih yang tergetak di atas meja, “Kalau hanya bantuan seperti itu, urusan kecil, pak! Semua warga di sini, pasti mengikuti apa yang saya perintahkan!”

“Saya tidak ragu lagi! Saya percaya dengan kecerdikan bapak! Jika tak cerdik, bagaimana mungkin bapak dulu bisa terpilih jadi Kepala Desa…”

Kepala Desa itu kembali termangu, merasa tersanjung. Matanya menatap senja yang jatuh perlahan lewat bingkai kaca jendela. Ia tahu, gelap sebentar lagi akan tiba dan hari berganti menjadi malam. Tetapi di lubuk hatinya, ia merasa hari seperti masih pagi sebab kelak ia akan bisa memiliki uang tambahan untuk beli mobil baru dari balas jasa memenangkan pemilu. “Pasti dijamin jadi, pak!” tegas Kepala Desa.

“Terima kasih, pak!” ujar laki-laki berjas hitam itu seraya berdiri, menjabat tangan Kepala Desa. Lalu keduanya melangkah ke beranda. “Belakangan ini saya cukup sibuk. Apalagi malam nanti saya ada janji bertemu seseorang. Jadi, mohon pamit dulu!”

Keduanya terus melangkah. Sampai di beranda, lelaki berjas hitam itu menepuk-nepuk bahu Kepala Desa setelah dia memberikan isyarat pada sopir pribadinya untuk segera pergi. Kepala Desa mengangguk, melepas kepergian lelaki itu dengan senyum tanpa dosa. Petang jatuh perlahan, seiring semburat gelap yang melingkupi halaman. Dan Kepala Desa itu melangkah memasuki rumah dengan memendam harapan.
***

/2/
ANIRMA hanya termangu, dan diam cukup lama tatkala senja itu Iswadi datang ke kontrakannya. Tanpa ada angin, lelaki yang bekerja satu kantor dengannya itu tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya. Ada perasaan aneh yang menjalar di hati Anirma dan menggedor-gedor pedih masa lalunya yang kelabu. Ia serasa digulung secuil keraguan menerima lelaki itu. Tapi entah mengapa, Anirma seperti tercekat, tak bisa menjawab.

“Kenapa? Kamu ragu dengan keseriusanku?” tanya Iswadi lembut tapi menusuk ulu hati Anirma.

Anirma tergeragap, mukanya berwarna merah --seakan habis ditampar. Tetapi, Anirma tidak segera memberikan jawaban.

“Aku sudah mengenal kamu lebih dari dua tahun dan kini aku ingin mengajakmu menikah. Lalu apa yang membuatmu ragu untuk memberikan secuil jawaban?”

Anirma kembali diam, tidak menjawab.

Harusnya, kamu tahu jawabanku: aku tidak pernah mampu memberikan secuil jawaban pada siapa pun lelaki yang jatuh cinta padaku! Jawaban cinta itu adalah satu janji yang harus aku pegah teguh. Padahal aku merantau ke jakarta dengan mimpi bisa membawa perubahan besar. Maka aku hanya berharap satu hal pada lelaki yang jatuh cinta padaku, jangan sampai mawar di hatiku layu sebelum ia berbunga!

Anirma dan Iswadi terdiam. Saling pandang.

“Boleh aku bertanya padamu?”

“Bertanya tentang apa?” tanya Anirma ragu.

“Apa kau menyukai bunga mawar?”

“Hmm…”

“Jika kamu suka, besok aku akan memesan bunga mawar untukmu! Kamu bisa menanam bunga itu di mana pun kamu suka!”

Anirma kembali diam. Entah kenapa, senja itu Anirma seperti susah untuk diajak bercanda. Dan lelaki itu tak tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya, ia pamit dengan meninggalkan bau parfum yang sunyi. Dan sebelum pulang ke rumah, lelaki itu mampir ke toko bunga. Ia memesan bunga mawar untuk diantar ke alamat Anirma.
***

/3/
SETENGAH tahun berlalu, laki-laki setengah baya yang menjabat sebagai Kepala Desa itu mendapati kabar bahwa lelaki berjas hitam yang pernah datang ke rumahnya, ternyata terpilih menjadi anggota dewan. Sebagai orang yang berjasa besar, dia tidak lupa dengan janji yang pernah diucapkan lelaki itu. Ia sudah lama menunggu saat yang ia nantikan itu dengan dada berbinar dan mendebarkan.

Senja baru turun, meninggalkan kenangan akan kedatangan lelaki berjas hitam itu dengan senyum menjanjikan. Maka, ia tak mau kehilangan kesempatan. Buru-buru ia mengangkat gagang telepon …

"Saya ucapkan terima kasih atas bantuannya, pak Kepala Desa! Tanpa bantuan bapak, tentu tidak mungkin saya bisa terpilih,” jawab lelaki berjas hitam dari seberang.

“Tapi kapan akan bertandang ke rumah, pak? Rumah saya selalu terbuka lebar menunggu kedatangan bapak! Juga, warga saya yang telah memilih bapak!”

“Sabar, pak! Saya masih agak sibuk, apalagi saya harus menanti pelantikan!”

“Oh, tentu... Saya tahu itu! Tapi, bagaimana dengan janji bapak tentang bonus tambahan yang dulu pernah bapak janjikan setelah bapak terpilih?”

“Pasti itu, pak! Saya tak akan memungkiri janji yang telah saya ucapkan!”

Hati Kepala Desa berdebar girang, seperti tidak sabar. Tapi ia paham, kesibukan lelaki yang dulu pernah datang ke rumahnya, kini sudah menjadi orang penting dan ia harus rela menunggu.
***

/4/
SETENGAH tahun berlalu. Iswadi tidak pernah patah arah. Ia selalu mengunjungi Anirma meski dengan hati pilu --seperti tertusuk duri bunga mawar. Tetapi, ia tahu, ada setangkup bungan merah yang mulai bisa ia lihat sejak ia mengirim bunga mawar untuk Anirma. Setiap kali ia datang ke kontrakan Anirma, ia bisa menjumpai bunga mawar itu tumbuh dan hatinya berdebar ketika ia menatap bunga itu sudah berbunga.

”Kau suka bunga mawar itu?” tanya Iswadi, gugup.

”Kenapa tidak bertanya yang lain…” jawab Anirma.

”Hanya ingin tahu. Kau keberatan...?”

”Hmm.”

”Aku suka matamu...”

”Kenapa tidak ngomong yang lain…”

“Seperti ada setangkup bunga mawar dalam matamu.”

”Ah, kau pasti membual… Aku tak percaya denganmu!”

Kembali, pemuda itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. ia ditikam bingung, dan akhirnya pamit pulang dengan meninggalkan aroma parfum yang sunyi.
***

/5/
DUA bulan kemudian, sejak Kepala Desa menelpon lelaki berjas hitam yang dulu datang ke rumahnya, ia mulai kehilangan kesabaran. Lelaki berjas hitam ternyata tidak pernah memenuhi janji. Kepala Desa kembali memberanikan diri untuk menelpon lelaki itu untuk menagih…

“Rasanya, jika orang sudah jadi orang penting seperti tidak pernah punya waktu lagi untuk turun ke bawah” sindir Kepala Desa itu lewat telepon.

Tapi lelaki berjas hitam yang dulu pernah menemuinya, ternyata tak menangkap sindiran itu, “Bukan tidak ada waktu, pak! Lebih tepatnya, jadwal sidang cukup padat sehingga belum ada kesempatan untuk turun ke bawah.”

“Tapi, bapak tidak lupa khan dengan janji bapak sebelum pemilihan dulu….”

“Oh, janji apa ya…?”

“Itu lho, pak! Masak bapak bisa lupa?” ucap Kepala Desa itu ragu, “Janji untuk memberi tambahan bonus!”

“Maaf, pak! Rasa-rasanya, saya tidak pernah berjanji seperti itu…!”

Deggg! Jantung Kepala Desa itu berdegup dengan kencang. Gagang telepon yang dipegangnya nyaris jatuh. Adzan maghrib yang menggema di petang itu serasa menjalar ke persendian kaki. Ia hanya diam, termangu, menatap petang yang berganti menjadi malam. Hatinya kecut, serasa ditikam…
***

/6/
SUDAH dua bulan, Iswadi tak mengunjungi Anirma.

Senja jatuh perlahan. Di depan kontrakannya, Anirma menatap bunga mawar di dalam pot dengan diam. Wanita itu, entah mengapa, menganggap Iswadi tak gigih menggoyahkan hatinya. Padahal bunga mawar itu ia rawat dengan baik untuk tumbuh di hatinya. Kini, ia disergap keraguan dan sudah memutuskan untuk mencabut bunga itu sebelum ia pulang ke kampung sebab ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.

Ragu, Anirma memandang bunga mawar itu terakhir kali sebelum ia mencabut dengan beringas. Dulu ia merasa ada pertentangan dalam dirinya sewaktu menanam bunga itu. Seakan, dia tidak ingin bunga itu tumbuh dan mekar, apalagi bisa berbunga. Tapi, kini ia harus ditikam kecewa setelah bunga itu tumbuh ternyata Iswadi tak kunjung datang. Kini, ia sudah memutuskan untuk mencabut bunga mawar itu….

“Tunggu!” sebuah suara membuat Anirma kaget. Ia diam, menengadah ke arah datanganya suara. Tak disangka, Iswadi sudah berdiri kaku di dekatnya.

“Kenapa kau hendak mencabut bunga itu?”

“Aku pikir, kau tidak akan pernah datang lagi…”

“Janji seorang lelaki yang jatuh cinta, tak akan pernah dipatahkan oleh duri dan musim panas. Sebab, ia berjanji bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk kehidupan.”

Anirma terpaku, menatap pemuda itu dengan tersipu. Kini dia tahu, janji seorang pecinta sejati memang tak bisa disamakan dengan janji seorang politisi. Tapi diam-diam Anirma tak bisa menepis semerbak wangi bunga mawar yang mulai bersemi dalam pot.

Dan ia tahu, bunga mawar itu tidak layu sebelum berbunga! ***

Kado pernikahan buat Anir MA
Ciputat, 10 Februari 2009

baca lebih lanjut...?

Minggu, 2009 Februari 15

pernikahan yang hampa



/1/

MALAM itu, Anita sungguh merasa hambar. Ia menggeliat, memeluk guling dan hanya mampu mendesah sedih. Anita menatap jam di dinding. Pukul sebelas lewat lima menit. Sudah berulang kali, ia memejamkan mata tapi di sudut kelopak matanya seperti ditimbuni kepedihan yang semakin menusuk tajam; membuat hati Anita seperti diterjang perih. Ia tahu, tak ada yang bisa ia lakukan selain memandangi potret pernikahan yang terpajang di dinding kamar untuk sekedar mengenang secuil kisah saat sepi menyelinap diam-diam, lalu menjebol tanggul matanya; mengantar air matanya tumpah.

Setahun yang lalu, ketika ia hendak melangsungkan pernikahan dengan Arjuna, dia tidak membayangkan akan mengalami sebuah masa yang rumpil dalam kehidupan rumah tangganya. Ia tahu, memang tak semua pengantin baru bisa merajut kehidupan manis dipenuhi untaian kisah-kisah bahgaia. Sebab tidak sedikit teman-teman Anita dari kampung yang mengadu nasib ke Jakarta dan sudah melangsungkan pernikahan tiga sampai lima tahun, ternyata hidup biasa-biasa saja!

Anita tidak menutup mata bahwa sebagian besar dari mereka itu adalah orang-orang urban yang bekerja di Jakarta dengan gaji yang tidak terlalu besar. Wajar, meski sudah menikah sekitar lima tahun dan memiliki anak; sebagian besar dari mereka masih ngontrak rumah dan tidak memiliki tabungan untuk mampu membeli rumah sendiri.

Anita sebenarnya beruntung. Selepas kuliah, dia bisa mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan kariernya tak tersandung-sandung. Ia bekerja di sebuah bank ternama dan menduduki posisi lumayan. Tapi ketika beberapa teman wanita yang dikenalnya mulai menikah satu per satu, ia diterjang iri. Bukan karena ia tidak memiliki kekasih yang siap diajak menikah, tapi ia bingung menerima kenyataan; kekasihnya pengangguran.

“Kini, kamu sudah kerja, mapan dan memiliki calon! Apa lagi yang kamu tunggu sehingga kamu tidak segera menikah, padahal banyak temanmu yang sudah menikah dan punya anak,” tanya ibu Anita saat Anita pulang ke rumah. “Aku sudah tua, sudah tidak sabar menunggu lama lagi menimang cucu!”

Pertanyaan ibu Anita itu, membuat Anita seperti tersudut. Setiapkali ia pulang ke rumah pada awal bulan, ibunya selalu mendesaknya menikah. Ia tidak bisa mengelak. Ironisnya, ia tidak sanggup untuk menjawab jujur; bagaimana mungkin ia akan menikah, sementara Arjuna masih menganggur? Di sisi lain ia tak mau dianggap tidak setia untuk meninggalkan Arjuna, laki-laki yang menjadi kekasihnya sedari awal masa kuliah.

“Tak usah kamu pikir! Jika kamu sudah cocok dengan Arjuna, menikahlah segera karena pernikahan itu bisa mengundang datangnya rezeki. Siapa tahu, setelah menikah nanti Arjuna mendapat pekerjaan,” ucap ibu Anita, seperti tahu keraguaan hati Anita.

“Tapi bu! Apa nanti kata famili dan keluarga kita? Jauh-jauh aku kuliah, dan kini sudah bekerja, ternyata harus menikah dengan suami pengangguran!”

“Kau ini masih muda, belum pernah mengalami terjangan badai bahtera rumah tangga. Serahkan pada Tuhan, apa yang terjadi hari esok!”

Anita merasa mendapat angin. Maka ia pun mendesak Arjuna meminangnya. Empat bulan kemudian, Anita dan Arjuna melangsungkan pernikahan.

Malam semakin menua. Anita menghapus kristal-kristal air mata yang mengalir di sudut matanya. Ia sadar, apa yang dulu dikatakan ibunya itu ternyata benar. Tiga bulan setelah menikah, Arjuna mendapat panggilan kerja.

Kini, Arjuna sudah mendapat pekerjaan sebagai editor bahasa di sebuah koran harian. Hanya saja, perkejaan Arjuna harus membuat Anita diterjang sepi tatkala malam tiba --lantaran jam kerja Anita dan Arjuna nyaris seperti bulan dan matahari. Keduanya nyaris tak pernah bertemu dan bercengkrama, meski pun tinggal dalam satu atap.

/2/
MALAM hampir pagi. Anita sudah tertidur, saat Arjuna pulang ke rumah. Seperti kepulangan Arjuna di malam yang lain, Arjuna meraih kunci dari saku celananya, lalu memasukkan benda mungil itu ke lubang pintu. Selanjutnya, dia memutar kunci dengan pelan. Pintu pun terbuka tanpa halangan.

Arjuna mengunci pintu, sebelum memasuki rumah dengan langkah yang nyaris sempoyongan lantaran ditikam kantuk. Dia berjalan seperti tak menginjak lantai, seraya melepas jaket dan masuk kamar. Seperti di hari-hari yang lain, Arjuna menjumpai istrinya tidur pulas, bagai sosis dalam setangkup roti. Arjuna menatap Anita, ia merasa iba.

Malam kian memucat. Arjuna menatap jam dinding. Pukul dua dini hari. Setelah mengganti baju dengan kaos, ia meringkuk di sebelah Anita dan cepat-cepat menarik selimut. Rasa kantuk yang menggumpal di sudut matanya membuat Arjuna tidak kuat menahan kelopak matanya terjaga lebih lama lagi. Akhinya, ia tertidur pulas kala kota Jakarta mulai terlihat murung karena masih ditingkupi gelap.

/3/
ANITA terbangun ketika gema adzan subuh menggema. Serasa tergeragap dari mimpi, Anita segera menyibak selimut. Dingin merayap pelan menjalar ke sekujur tubuh Anita. Ia tatap wajah Arjuna yang tidur pulas, tidak berdaya. Dengkur Arjuna terdengar sendu. Anita serasa sesak napas. Kebiasaan buruk Arjuna itu yang kerap kali membuat Anita merasa sebel dan kesal. “Mas bangun, sudah subuh. Shalat dulu, setelah itu nanti bisa tidur lagi!” bujuk Anita seraya menggoyang-goyang tubuh suaminya.

Tetapi Arjuna tidur seperti selongsong peluru. Dia seperti tidak mendengar suara Anita. Juga, tak merasakan tangan Anita yang menggoyang-goyang dengan kesal.

Anita tahu, Arjuna masih perlu tidur untuk beberapa waktu lagi. Di pagi itu, Anita membiarkan Arjuna, lantaran merasa iba. Malas Anita beranjak dari ranjang melangkah ke kamar mandi; mengambil wudhu. Dan pagi itu, sehabis shalat Anita berdoa dengan khusuk. Ia berdo`a meminta untuk segera diberi keturunan.

Saat Anita memasak di dapur, sebelum sinar matahari muncul dari ufuk Timur, ia mendengar langkah Arjuna keluar dari kamar lantas muncul di ambang pintu dapur. “Kenapa kamu tidak membangunku untuk shalat subuh?”

“Sudah aku bangunkan! Mas aja yang tidur seperti batu!”

“Jika aku tidur menjelma menjadi batu, kenapa kamu mau menikah denganku?” lgurau Arjuna, “Jika boleh tahu, hari ini kamu masak apa?”

“Aku memasak batu!” jawab Anita, tak mau kalah.

Arjuna tidak menanggapi, karena buru-buru melangkah ke kamar mandi. Arjuna tahu matahari sebentar lagi akan terbit. Maka ia harus segera menunaikan shalat. Sejak Arjuna bekerja, Anita tahu kebiasaan Arjuna; setelah shalat shubuh selalu melanjutkan tidur lagi. Padahal di awal pernikahan dulu, Arjuna biasa bangun pagi; mencuci piring, menyapu bahkan masak. Sementara Anita, setelah shalat melanjutkan tidur. Kini, Anita merasa benar-benar menikah dengan batu!

/4/
SEBELUM berangkat bekerja, Anita menulis di secarik kertas untuk memberitahu Arjuna.

Masakan sudah tersedia di meja makan. Makanlah seakan-akan aku berada di sisimu, meski aku tidak ada di rumah! Aku berangkat kerja dulu!
(Anita)

Ia letakkan kertas itu di meja riasnya, lalu cepat-cepat meraih tas kecil di atas meja karena ia tahu mobil jemputan dari kantor sudah hampir tiba.

/5/
SIANG itu, Arjuna terbangun ketika adzan dhuhur berkumandang. Ia menggeliat, menyibak selimut dan meregangkan otot seakan merasakan tulang rusuknya ada yang patah, akibat ditikam capek. Dengan malas, Arjuna bangkit dari ranjang.

Seperti hari-hari sebelumnya, Arjuna melangkah ke meja rias istrinya dan meraih secarik kertas yang ditinggalkan oleh Anita. Entah kenapa, setiap kali Arjuna membaca pesan yang ditulis Anita itu, ia merasa mendapat kiriman sepucuk surat cinta yang ditulis oleh kekasihnya yang cukup jauh dan sudah lama tidak bertemu. Padahal, Anita baru meninggalkannya lima jam yang lalu.

Siang itu, Arjuna tahu Anita sedang istirahat. Maka, buru-buru ia menelpon Anita untuk menumpahkan rasa kangen sebagaimana sepasang kekasih muda yang berada di sebuah tempat yang jauh dan sudah lama tidak ketemu…

/6/
SEHABIS menunaikan shalat maghrib, Arjuna meninggalkan rumah untuk pergi ke tempat kerja. Tetapi hari itu, Arjuna seperti diburu waktu. Kantor tempat Arjuna bekerja sudah menelponnya untuk segera datang lebih awal dari biasa. Arjuna pun tak sempat menulis sepucuk pesan di secarik kertas buat Anita sebagaimana biasa.

Dua jam setelah Arjuna meninggalkan rumah, Anita tiba di rumah. Seperti di hari-hari sebelumnya, Anita menjumpai rumah dalam keadaan lengang. Sepi bahkan mati. Anita menjatuhkan diri di atas sofa, lalu meregangkan persendian tangan dan menarik napas panjang. Tetapi, ia tidak pernah bisa membohongi diri sendiri; hatinya merasa lengang.

Sejak Arjuna mendapatkan pekerjaan dengan jam kerja malam, dan pulang di ujung pagi Anita sudah didesak hasrat kuat untuk segera memiliki momongan. Ia merasa kelahiran seorang anak, akan bisa memberinya teman di kala sepi menyelinap kuat di malam-malam yang rumpil. Jika dulu Arjuna masih menganggur, dia memang sengaja menunda sementara waktu untuk memiliki anak.

Kini, ia merasa waktu yang ia tunggu itu sudah tiba. Tetapi, kenyataan ternyata berbicara lain. Arjuna bekerja di malam hari, dan Anita bekerja di siang hari. Keduanya nyaris tidak pernah bertemu meski hidup dalam satu atap kecuali di malam minggu --di saat Arjuna libur. Padahal satu hari selama seminggu itu, bagi Anita tidaklah cukup untuk membuat hidupnya bisa menepis sepi.

Malam itu, Anita kembali merasa getir. Sepi seperti merengguk sampai ke lubuk hatinya. Maka, sebelum tidur, Anita kembali menulis di secarik kertas untuk memberitahu pada Arjuna tentang secuil perasaan sepi yang tidak bisa ditanggungnya sendiri dalam diam. Pasalnya, Anita dan Arjuna sudah punya rumah sendiri, sukses kerja dengan karier lumayan. Hanya satu yang belum tercapai, keduanya belum dikarunia anak.

/7/
MALAM hampir pagi. Anita sudah tertidur nyenyak, tatkala Arjuna pulang. Tetapi, di malam itu Arjuna terperangah dan nyaris tidak percaya ketika ia memasuki kamar dan menjumpai secarik kertas yang ditulis Anita.

Kapan kita punya anak kalau kita menjalani pernikahan seperti ini? Untuk apa menikah, jika kita hidup seperti matahari dan bulan, datang dan pergi di saat berlainan!
(Anita)

Arjuna membaca pesan Anita itu dengan tubuh gemetar. Ia sadar, kota Jakarta telah melindasnya; dia dan Anita harus menjalani pernikahan yang hampa. ***

Ciputat, 10 Januari 2009
ilustrasi foto: bayu ngenggo

baca lebih lanjut...?

Minggu, 2009 Januari 11

usia pernikahan

cerpen ini dimuat di majalah Anggun edisi 6/bulan Januari 2009

SENJA itu, aku berdiri dibalik jendela kamarku tenggelam dalam labirin kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Senja mengambang di langit, dan matahari hampir tenggelam. Tetapi, ada yang menyelinap dalam pikiranku, dan seperti terkenang dalam ingatan ketika senja turun dengan pelan dan pelangi yang indah muncul dengan tiba-tiba menyibak keremangan. Aku yang melihat senja bertahun-tahun, seperti tidak sabar menunggu suatu hari yang menentramkan di mana seorang lelaki datang meminangku karena aku sudah beranjak dewasa; memasuki usia pernikahan.

Kini…, aku sudah dewasa. Usiaku menginjak dua puluh enam tahun. Seperti kekal dalam kenangan, ketika aku masih kecil dulu dan ibu sering mengajakku pergi ke pantai tepat selepas ayah mengambil uang gajinya. Mataku berbinar, sewaktu aku digandeng ibu berjalan di tepi pantai, lalu saat matahari hampir tenggelam, ibu menunjuk ke arah Barat; aku melihat matahari tenggelam di peraduan seakan hanyut di pusaran laut.

Tapi senja ini, aku tidak bisa menikmati mentari yang hampir tenggelam, lantaran dari balik jendela aku tidak melihat sosok lelaki yang sudah aku tunggu dengan cemas muncul di tikungan. Padahal, mentari hampir tenggelam dan sudah setengah jam yang lalu, aku berdiri di balik jendela seraya menatap tikungan dengan tatapan hampa. Apa ia tidak akan datang ke rumahku lagi dan takut dengan sikap ayah yang sudah dua kali menolak keinginannya untuk menyuntingku?

Hatiku mulai cemas. Aku mengharap ia datang. Tapi, setengah jam telah berlalu aku justru disergap cemas, lantaran ia tak juga muncul dari balik tikungan. Kakiku terasa kaku. Aku sudah lama berdiri menunggunya dengan sabar. Tapi, aku ternyata disergap kecewa karena ia tidak juga muncul dari balik tikungan. Aku melangkahkan kakiku, ingin rebah di ranjang. Ingin rasanya, aku menangis…

Tetapi saat aku ingin melangkah pelan, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dari balik tikungan. Aku kembali menengok ke luar jendela. Aku lihat, dia turun dari taksi, lalu berjalan ke rumah dengan langkah tegap seperti pangeran. Hatiku berdegup kencang, angin berhembus mengibaskan gorden di jendela. Hatiku bergemuruh, seperti diterjang ombak. Lalu, lekaki itu membuka pintu pagar rumahku dengan derit menyanyat. Ayah yang lagi duduk di beranda ditemani oleh ibu, mungkin hanya memandangnya heran. Aku tahu, ayah pasti tidak menghendaki kedatangannya!

Tapi aku telah memaksanya datang kembali, setidaknya untuk yang terakhir kali. Dan senja ini, ia datang memenuhi permintaanku! Aku sungguh, bahagia melihat senja turun dan lelaki itu datang kembali ingin meminangku…

Setelah lelaki itu, aku tahu telah menginjakkan kaki di beranda rumah, aku tidak mendengar suara ayah menyambutnya dengan hangat, tapi lamat-lamat aku mampu mendengar kekasihku mengucap salam. Ingin rasanya, aku menghambur ke beranda, menyambut laki-laki itu dengan hangat; menyuguhkan segelas minuman untuk melepas dahaganya. Tetapi aku disergap takut.

Masih kuingat dalam labirin kenangan, perihal kedatangan lelaki itu sebulan lalu, tatkala dia benar-benar ingin menikahiku. “Engkau tahu, tidak!” ucapnya dengan tegas seakan-akan memintaku untuk mendengarkannya, “Aku ini sudah lama mendambakan seorang calon istri yang berjilbab, pintar dan bisa mendampingi hidupku. Aku memang belum lama mengenalmu, tetapi aku yakin bahwa kamu adalah wanita yang selama ini aku dambakan. Karena itu, aku ingin segera meminangmu…”

Aku seperti disambar petir. Maklum, perkenalan kami baru berjalan dua minggu, tapi ia sudah merasa yakin bahwa aku ini adalah wanita yang selama ini ia cari susah payah. “Aku belum bisa menjawab niat baikmu, mungkin kamu bisa memberiku waktu untuk berpikir.”

“Aku serius, jadi jangan kamu anggap main-main!” jawabnya, memintaku untuk segera memberi jawaban. “Aku selalu tidak salah dengan apa yang aku yakini, dan kau adalah calon istriku yang selama ini kuimpikan!”

Aku tidak menjawabnya, tapi dia seperti tidak mau luluh dengan diamku.

Hingga waktu berjalan tujuh bulan dan dia seperti tidak henti-henti memintaku untuk memberikan jawaban. “Sampai kapan aku akan sabar menunggumu? Apa kau masih belum melihat dan yakin dengan keseriusanku?” cercanya pada suatu senja saat ia menjemputku dari tempat kerja.

“Jika kamu serius, datanglah ke rumah dan temui ayahku!” jawabku kala itu.

Dia ternyata tidak main-main. Sebulan yang lalu, dia membuktikan diri datang ke rumah menumui ayahku. Tetapi ayah tidak pernah membuka pintu bagi lelaki itu selama kak Nouri, kakak perempuanku yang berusia dua puluh delapan tahun belum menikah. Ayah tak ingin aku melangkahi kak Nouri, “Aku tak keberatan dengan hubungan kalian, tapi aku tak akan pernah menerima pinanganmu selama Nouri belum menikah terlebih dulu.”

Hatiku seperti remuk. Aku yang berdiri di balik pintu ruang tamu, bak mendengar gelegar petir yang menyanyat hatiku. Tak pernah aku bayangkan, ayah bisa keras dan tak menerima niat baik lelaki itu yang sudah datang ke rumah dengan baik-baik, ingin meminangku. Maka lelaki itu akhirnya pulang dengan memendam kecewa.

Selepas kepergian lelaki itu, aku menghambur ke ruang tamu. Aku bersimpuh di bawah kaki ayah, “Kenapa ayah menolaknya? Sampai kapan aku menunggu kak Nouri nikah, padahal aku sudah berumur dua puluh enam tahun?”

Ayah tetap kaku, “Aku tidak ingin kamu melangkahi kakakmu!”

“Tetapi, aku sudah meminta persetujuan kak Nouri dan kak Nouri tidak keberatan aku menikah dulu, ayah! Apalagi tidak ada aturan agama yang melarang seorang adik nikah lebih dulu. Ini hanya tradisi dan adat saja yang kadang dipandang tidak etis!”

Ayah diam, lalu berdiri, “Aku tetap tidak merestui pernikahan kalian selama Nouri belum menikah!”

Hatiku berdegup kencang, tatkala lelaki itu mulai membuka pembicaraan. Tidak kudengar ayah angkat bicara tetapi aku yakin suasana di beranda terasa kaku. Apakah senja ini dia akan pulang dengan memendam kecewa dan tak mampu menundukkan hati ayahku sebagaimana kedatangannya untuk pertama kali dan kedua kali dulu? Aku memanjatkan do`a, berharap ayah membuka hatinya setelah melihat keteguhan lelaki itu datang meminangku kembali untuk ketiga kalinya.

Senja hampir gelap. Hatiku kembali bergemuruh. Masih kuingat, betapa ayah, di mataku, tergolong orang yang keras, tak pernah mau membuka hati. Bahkan saat lelaki itu datang kembali untuk kedua kalinya, dua minggu yang lalu, ternyata ayah kembali menolak. “Aku tak merestui kedatanganmu untuk melamar putriku,” jawab ayah tegas.

Lelaki itu kembali pulang, memendam kecewa. Tetapi, aku selalu membesarkan hatinya, memintanya kembali datang ke rumahku untuk meluluhkan hati ayahku. “Apa jaminanmu, jika aku datang ketiga kalinya meminangmu?” tuntut lelaki itu.

“Setidaknya, kamu sudah berupaya dan berusaha…”

“Baik, aku akan datang lagi tapi kedatanganku kalinya ini adalah kedatanganku untuk yang terakhir kali. Kalau, ayahmu tidak juga merestui, aku tidak akan datang lagi menginjakkan kakiku di beranda rumahmu untuk selama-lamanya!”

Hatiku bergidik. Senja hampir tenggelam, sepenuhnya. Tetapi apakah yang akan terjadi, jika ayah kembali menolak pinangan lelaki itu untuk ketiga kalinya? Apakah dia akan meninggalkanku, tak kembali lagi menginjakkan kaki di beranda rumahku apalagi meminangku kembali untuk selama-lamanya?

Semalam, aku sudah meminta ayah dengan tetes air mata. Aku merajuk, supaya ayah mau merestui pinangan lelaki itu, dan dengan segara aku bisa menikah. “Apakah ayah tidak pernah menengok sejarah, ketika ada lelaki yang menimang kak Nouri tetapi ayah menolak hingga kini kak Nouri tak pernah menerima pinangan laki-laki lagi?”

Muka ayah seperti memerah, mungkin pikirannya terkenang kejadian dua tahun yang lalu tatkala beliau dengan keras menolak pinangan seorang lelaki yang baik-baik hendak menikahi kak Nouri. Aku yakin, ayah tak akan pernah bisa lupa kejadian itu. Aku berharap ayah sadar dan berpikir jernih. Tetapi, tadi malam ayah diam, tak memberikan sebuah jawaban. Beliau kembali meninggalkanku bersimpuh di ruang tamu membuatku dirundung kecewa.

Untung, ibuku membelai kepalaku, seakan ibu tahu penderitaanku. Tetapi semua keputusan ada di tangan ayah. Jika ayah tak memberi restu, ibu tak akan bisa berkutik apalagi bisa membantu memutuskan jalan lempang masa depanku sehingga aku bisa menikah dengan lelaki itu.

Kembali, aku dengar sayup-sayup pembicaraan di beranda. Aku menajamkan pendengaranku, berharap bisa mendengar apa menjadi keputusan ayahku untuk lelaki itu yang senja ini datang kembali meminangku. Jendela kamar, kubuka lebar karena kali ini aku ingin mendengar jawaban melegakan; sebuah jawaban ayah yang membuatku diguyur bahagia lantaran ayah berubah pikiran.

Setelah lima menit lelaki itu duduk di beranda, aku mendengar lelaki itu angkat bicara, “Mungkin ini kedatangan saya yang terakhir kalinya dan saya tak akan kembali selama-lamanya untuk minta pada bapak agar merestui pinangan saya! Mohon, bapak dan ibu berpikir lagi bahwa saya datang dengan niat baik dan tidak akan kembali lagi setelah ini jika pinangan saya tidak diterima…”

Aku dengar ayah batuk-batuk, dan ibu hanya diam.

“Bagaimana, pak?” pinta lelaki itu. “Aku kembali meminta putri bapak…”

Kembali ayah batuk-batuk. Ibu hanya diam. Sementara, aku berdoa, berharap ayah berpikir kejadian dua tahun lalu yang menimpa kakak perempuanku, hingga ayah tak keberatan menerima pinangan lelaki itu.

Aku cemas, menunggu ayah menjawab, tapi tidak juga kudengar jawaban dari ayah. Mentari sudah tenggelam dan di balik jendela, aku tak lagi melihat warna pelangi di langit. Tapi aku berharap ayah berubah pikiran. Satu detik berlalu. Dua detik memuaii dalam degup jantungku yang mendebarkan. Hingga kemudian, ayahku angkat bicara, “Aku tetap tak akan menerima pinanganmu selama Nouri belum menikah…”

Mataku menjadi gelap, seiring turunnya petang yang tiba-tiba menggantung di langit. Dari balik jendela, kulihat lelaki itu membuka pintu pagar rumah, lalu melangkah dengan gontai. Ia berjalan dengan lemas, tidak seperti waktu tadi datang ke rumah. Ia berjalan seperti mengambang di atas tanah, dan aku tahu hatinya remuk.

Sementara itu, malam seperti turun dengan cepat, tiba-tiba halaman di rumahku dilingkupi gelap. Seberkas sinar lampu di beranda menyala tetapi tak mampu membuat terang jiwaku. Hatiku redum oleh jawaban ayah yang tidak memberikan jawaban untuk masa depanku. Samar-samar, aku melihat bayangan lelaki itu hilang di balik tikungan.

Lalu, tiba-tiba mataku kabur. Perutku terasa mual. Petang itu, rasanya aku ingin muntah. Apalagi, aku merasa ada denyut halus dalam perutku yang tiba-tiba melilit-lilit. Pedih. Perih. Aku merasa dalam perutku seperti ada seonggok daging yang menggeliat-geliat dengan halus. Aku sadar, sejak sebulan ini, perutku mulai seringkali mual, bahkan aku sudah kerapkali muntah.

Terhuyung, aku berjalan ke ranjang seraya meraba perutku. Aku sadar, perutku mual karena maag-ku kambuh kembali setelah aku mendengar jawaban ayah menolak pinangan lelaki itu...***

Jakarta, 10 Desember 2008
ilustrasi foto: bayu ngenggo

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 2008 Desember 06

kenangan retak

Cerpen ini dimuat di majalah Anggun edisi 5/bln Des 2008


TEPAT tengah malam, lelaki itu mendadak bangun serasa tergeragap dari mimpi menentramkan yang terpenggal. Dering ponsel di dekat kepalanya, yang terletak persis di atas meja ia dengar menyalak keras serupa anjing yang menggonggong kencang di tengah kelengangan malam. Gugup, ia diterkam gamang di antara mimpi dan terjaga.

Tetapi suara handphone itu terus bergemuruh, berkecamuk serasa menghantam genderang telinganya. Lalu mulai sadar, beringsut menyibak selimut seraya menggosok-gosok matanya. Sisa kantuk membuat penglihatannya setengah kabur. Kesal, ia meraih ponsel.

Tengah malam seperti ini, mengapa Winati menelepon? batin lelaki itu, setelah melihat sepenggal nama di layar ponselnya yang masih manyala kuning.

"Halo...." suara lembut Winati di seberang, “Kamu sudah tidur, ya?”

“Belum,” jawab lelaki itu, bohong.

“Apa aku mengganggumu?”

“Tidak! Aku justru tak percaya, malam ini kamu menelponku. Aku mengira nomor hp-ku sudah kau buang jauh-jauh, setelah kamu melangsungkan pernikahan… “

“Aku masih menyimpannya! Kau keberatan?”

“Tidak…, tidak itu yang aku maksud,” tangkis lelaki itu, cepat, “Aku hanya heran, kenapa kamu meneleponku selarut ini?”

“Aku hanya ingin tahu tentang kabarmu!”

“Tidak ada yang lain?” tanya lelaki itu, membuat Winati tergeragap, “Aku tidak yakin, jika tidak ada hal penting yang membuatmu menelponku! Ini sudah larut malam, bukankah besok hari masih ada waktu?”

“Hmmm…”

“Kau sedang ada masalah dengan suamimu?”

Tak ada jawaban di seberang. Lelaki itu termangu, ragu mencerca pertanyaan lagi. Tapi, dia masih diterkam bimbang. “Lantas, kenapa kamu belum juga tidur?”

Kembali tak ada jawaban yang didengar lelaki itu, kecuali isak tangis yang tiba-tiba menelusup daun telinganya. Sebuah tangisan yang sudah dia hapal. Juga, sebuah tangisan yang serasa membasahi telinganya, merambatkan peta kesedihan yang harus ia sesap dalam-dalam.

“Kenapa diam? Ceritalah, jika kamu ada masalah!”

“Besok kamu ada waktu?” akhirnya Winati bersuara, pelan dan dingin. “Aku ingin bertemu!”

Bimbang, ia memberi jawaban. Tapi, ia tidak bisa menolak, “Ada. jam 12 siang.”

“Aku tunggu di tempat biasa kamu makan siang …”

Lelaki itu sudah tahu, tempat Winati akan menunggu. Tapi, ia tidak tahu kenapa Winati ingin menemuinya.

“Kau tidak dalam masalah, khan?”

Tak ada sebuah jawaban. Hanya terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon di seberang telah ditutup.
***

/2/
MALAM lagi purnama. Bulan di langit mengintip dari jendela, menaburkan kristal-kristal cahaya keemasan yang berpendar lembut, membungkus malam dalam bingkai waktu yang mulai memudar. Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur masih menggenggam handphone-nya erat-erat. Ia serasa dirambati hamparan awan, juga kabut putih yang muncul dari balik kegelapan setelah mendengar suara lembut Winati.

Sungguh, ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru terjadi. Ia merasa bisa terbang bagai kelelawar yang keluar dari gua, menelusup di balik awan yang ganjil di musim sepi yang datang lebih awal. Apalagi isak tangis Winati seperti merampatkan jerit yang gelisah membuat sebuah janji untuk bertemu. Ya, sebuah pertemuan yang sudah lama dia nantikan setelah empat bulan yang lalu Winati tak bisa menemuinya di sebuah kafe ia biasa menghabiskan jeda jam kantor. Dan tahu-tahu, tak lama kemudian lelaki itu mendengar kabar mendebarkan yang membuat dadanya langsung sesak dan susah bernapas; Winati menikah dengan orang lain.

Duduk di tepi ranjang, ia menatap bulan yang terbingkai dalam kaca jendela. Ia tidak tahu, kenapa tengah malam itu Winati tiba-tiba berbuat gila meneleponnya dan membuat janji bertemu. Tetapi jauh-jauh hari, ia sebenarnya sudah yakin jika suatu hari nanti, Winati akan menemuinya. Ia yakin akan hal itu!

Kabar yang ia dengar dari seorang teman, meneguhkan hatinya untuk tak ragu, dan esok hari dia akan bertemu Winati di sebuah kafe tempat ia menghabiskan istirahat kantor untuk makan siang. Secuil harapan yang ia rajut dalam kenangan, setelah Winati menikah dengan orang lain, seperti merambatkan gelombang yang meluruh di lorong masa lalu. Semua itu, bermula sekitar sebulan lalu, ketika dia mendengar kabar miring yang merambat di telinganya bahwa Winati telah bercerai.

Ia pada awalnya tidak peduli. Setumpuk desas-desus tentang kehidupan rumah tangga Winati yang retak mirip figura yang kemudian bisa pecah berkeping-keping dan berantakan di lantai. Seperti ingatan, pada awalnya berasal dari kenangan. Dua bulan setelah ia mendengar Winati menikah dengan orang lain, dia tahu Winati hidup dalam rumah tangga yang menyesakkan. Dari sahabat dekat Winati, ia mengetahui jika Winati sering diperlakukan kasar oleh suaminya, sehingga membuat perempuan itu tidak kuat mempertahankan perkawinan yang baru seumur jagung.

Lalu, tiga minggu lalu, laki-laki itu mendapatkan cerita yang melegakan. Winati menuntut cerai, karena sang suami ketahuan berselingkuh. Kini, lorong hampa yang dulu sempat menambatkan getir membuat lelaki itu semakin kukuh memeluk kenangan. Setangkup cinta yang dulu sempat menggumpal dalam kata, pun pelan-pelan mengisi ruang kosong. Seperti kesejukan malam yang merambat pelan, menggetarkan, lelaki itu serasa melayang.

Dan, lelaki itu ingin malam segera berlalu…
***

/3/
"KUPIKIR, kamu benar! Mestinya, aku tidak menikah dengan orang yang tak setia sehingga tidak terjadi perceraian…," desah Winati, seraya memandang jalanan ketika duduk berdua dengan lelaki itu di sebuah kafe. Mobil dan motor melintas serupa kilasan. Dan siang itu, kafe tempat Winati membuat janji bertemu dengan lelaki itu sungguh tak lagi membentangkan aroma yang puitis. Tampak asing dan ganjil.

Tetapi, sosok lelaki yang ada di hadapan Winati hanya mendesah, memandang Winati dengan sorot kelabu. Terik mentari menjadikan pertemuan kedua anak manusia yang dulu sempat menjadi kekasih sehidup semati itu, perlahan-lahan mulai menjelma serupa rentetan kenangan yang tak akan pernah menjadi kekal.

“Tidak ada yang perlu disesali, aku pikir kamu masih memiliki masa depan,” ujar lelaki itu, “Juga tak ada yang perlu ditakuti. Kau sudah menyelamatkan hidupmu…”

Winati menunduk merasa bersalah berada di hadapan lelaki itu. Tak hanya siang itu tetapi sejak empat bulan lalu, ketika ia memutuskan menikah dengan orang lain. Dan orang lain itu, kemudian tragisnya selingkuh sehingga Winati menuntut cerai. Selebihnya, Winati diam. Lelaki itu diam. Tapi gema dering yang tertahan dalam tas Winati, tiba-tiba membuyarkan suasana.

Winati membuka tas, meraih ponselnya lantas beranjak dari kursi, menjauhi lelaki yang duduk di hadapannya dengan diliputi ketegangan yang lusuh. Lelaki itu, menatap Winati dengan gugup ditingkupi jengah sebab Winati menerima telepon dengan pelan. Sesaat kemudian, Winati mematikan handphone, kembali duduk di hadapan lelaki itu dengan wajah yang sudah berubah merah, dicekam takut.

“Kamu tahu, aku ini masih dalam masalah! Tapi, aku berharap kau tak keberatan menerima teleponku,” suara Winati datar dan dingin, “Kini aku harus pulang. Pengacara suamiku sudah menungguku di rumah!”
***

/4/
WINATI beranjak, meninggalkan kafe dengan aroma wangi yang menghambur ke segala ruang, mengikuti bayangan dari langkah Winati akibat tertepias terik mentari yang membakar. Dan lelaki itu memandang kepergian Winati dengan wajah temaram, seakan tidak tega jika pertemuan yang singkat itu harus berakhir dengan cepat.

Dan, lelaki itu duduk sendiri. Sebagaimana hari-hari biasa, setelah Winati menikah dengan orang lain empat bulan lalu, lelaki itu kerap lupa waktu. Ia tidak segera kembali ke kantor dengan cepat setelah menghabiskan makan tapi masih duduk di sudut kafe dengan pandangan kosong menatap jalanan. Ketika lelaki itu dibekap kenangan, tiba-tiba handphone di saku celananya berdering.

Cepat-cepat, dia merogoh handphone dan berharap Winati yang menelponya siang itu. Tapi harapan itu, hanya membuatnya kecewa lantaran panggilan itu datang dari kantornya. Ia lalu bangkit, berjalan ke arah kasir. Petugas yang duduk di meja kasir, menyambutnya dengan ramah dan hangat.

“Dua piring soto, dan dua gelas es jeruk!” kata lelaki itu, dengan tergesa.

Tetapi petugas di kasir tak menanggapi dengan meraih kalkulator, menghitung sebagaimana biasa, melainkan menatap lelaki itu dengan heran, seraya melihat meja yang barusan ditinggalkan oleh lelaki itu. “Bukankah, bapak makan cuma satu piring?”

“Tidak, nona…! Saya tadi memesan makanan dua, dan makan berdua dengan seorang wanita, tetapi dia kemudian pergi lebih dulu…”

“Ah, bapak jangan bergurau!”

“Bergurau? Jelas tidak, nona! Karena tadi saya makan berdua dengan seorang wanita, hanya saja dia kebetulan sudah pulang lebih dulu..”

“Tapi dari tadi, saya melihat bapak duduk sendiri. Bapak juga memesan makan satu piring, bukan dua piring!”

Lelaki itu menoleh, meneliti meja tempat dia makan. Ia melihat ada satu piring dan satu gelas yang sudah tandas. Tetapi, semua pengunjung dan penjaga kasir tidak tahu apa yang ada dalam ingatan lelaki itu. Dan penjaga kasir, tak heran dengan ulah lelaki itu yang sering menjengkelkan. Apalagi sejak empat bulan lalu, ia ditinggal pergi oleh kekasihnya; menikah dengan orang lain. Ia kerap duduk di sudut kafe menatap lalu lalang kendaran yang bergelombang, mirip ilalang diterpa angin.

Lelaki itu tak segera membayar, masih berdiri kaku di depan maja kasir dengan pandangan ganjil, tajam mengingat kenangan yang retak, mengumpal dalam labirin waktu, serupa lesing gelombang yang lepas dari kendali dan mencerabut ingatan. Dan, panas di siang hari itu seperti membisu. Para pengunjung kafe, menatap lelaki itu seraya menggeleng-gelengkan kepala. ***

Ciputat, 01/11/ 2008

baca lebih lanjut...?