Rabu, 28 Oktober 2009

siluet ka`bah dalam lengkung pelangi

Cerita Pendek

SETIAPKALI senja mengendap di altar cakrawala, dan tampak lengkung pelangi berwarna jingga merona di balik kabut, ayah selalu duduk termangu di beranda rumah seakan-akan sedang menunggu seseorang yang hendak bertamu ke rumah kami. Tetapi, aku tidak pernah menjumpai ada tamu yang kemudian datang ke rumah kami. Aku sering kali justru menjumpai ayah memasuki rumah dengan memendam rasa kecewa, tatkala adzan maghrib berkumandang. Dengan tergesa, ayah lalu ganti baju, meraih kopiah di atas almari, dan bergegas pergi ke sebuah masjid di dekat rumah kami.

Aku tak tahu, kapan tepatnya ayah mulai mencintai senja dan suka memandang langit yang dihiasi lengkung pelangi. Semula, aku menduga, ayah mulai sering duduk sendiri di beranda, sejak ibu meninggal tiga tahun yang lalu. Aku pikir, ayah masih diliputi perasaan berduka karena ditinggal pergi oleh ibu. Tapi, dugaanku itu ternyata salah.

“Aku tak sedang mengenang almarhumah ibumu dengan cara melihat senja di balik kabut yang dihiasi lengkung pelangi…” ujar ayah, pada suatu senja, “Jika itu yang kukenang, aku mungkin akan kau anggap gila, karena aku ini tahu bahwa orang yang sudah meninggal jelas tak akan hidup lagi...”

“Jika tidak mengenang almarhumah ibu lantas untuk apa ayah duduk termangu di beranda rumah, memandang lengkung pelangi di balik senja yang melindap?”

“Aku hanya ingin memandangi siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi,” jawab ayah, membuatku tak mengerti. “Dan setelah melihat bayangan Ka`bah itu, aku seperti merasakan kesenangan yang tidak terkira …”

Kupandangi senja yang baru saja melindap di cakrawala, menerawang jauh ke balik bayangan lengkung pelangi yang disepuh seribu rupa warna-warni. Setitik pun, tak kulihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Hanya kulihat senja yang ungu, lengkung pelangi dan hamparan langit temaram yang hampir petang.

“Kamu melihat?” tanya ayah.

“Hmmm… Tidak!”

“Sayang, kamu tidak bisa melihat! Jika bisa, pasti kamu akan duduk di beranda ini setiap senja dan kemudian merengkuh silut itu untuk ayahmu!”

Aku sama sekali tak mengerti. Di mataku, ini sungguh tak masuk akal. Bagaimana mungkin ayah bisa melihat sileut Ka`bah dalam lengkung pelangi, sementara aku tidak melihat setitik pun bayangan Ka`bah melintas dalam mataku. Aku jadi penasaran, dan berusaha mendesak ayah.

Tapi ayah tak pernah mau berterus terang. Aku jadi diliputi penasaran.

Tapi siang ini, aku baru sadar, kalau ayah sering duduk di beranda memandangi lengkung pelangi, tepat sebulan setelah lebaran setelah dua kakak perempuanku dan anak-anak mereka yang lucu meninggalkan rumah kami untuk kembali ke kota. Sempat aku menduga, kepergian mereka itulah yang membuat ayah merasa kesepian lantaran setelah kepergian mereka, praktis ayah tinggal bersamaku, putri terakhirnya.

Tetapi, aku tahu, ayah tak pernah merasa kesepian dengan kepergian mereka. Ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi lantaran ayah memendam impian. Sebuah impian yang mengumpal dan perlahan mampu menyingkap awan ketika senja melindap lalu siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi terpampang di mata ayah.

Sayangnya, aku terlambat bisa mengantar ayah merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi yang diimpikan itu …
***

SIANG ini aku tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi ayah yang mendadak diserang panas. Sejak ditinggal pergi oleh ibu tiga tahun lalu, ayah memang sering sakit-sakitan. Maklum, usia ayah sudah enam puluh tahun lebih. Setiap satu bulan sekali, aku terpaksa harus mengantar ayah berobat jalan dengan setumpuk penyakit yang dia derita, mulai dari serangan paru-paru, lemah jantung hingga kencing manis dan entah apa lagi.

Tetapi, sakit panas yang diderita ayah kali ini sungguh di luar dugaanku. Kemarin sore, ayah masih terlihat sehat bahkan lahap menghabiskan sepiring nasi dengan sayur asam yang kubuat sebelum beliau duduk di beranda menengadah ke langit yang kata ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung palangi. Dan siang ini, tahu-tahu ia diserang panas sebelum aku pamit pergi ke rumah paman Salim yang kebetulan hendak pergi ke tanah suci bersama bibi Jumroh, besok sore.

Awalnya aku nyaris tak jadi berangkat ke rumah paman, tak tega meninggalkan ayah di rumah sendiri. Tapi, ayah memaksaku untuk tetap pergi dan sebelum aku pergi, masih kuingat pesan pendek ayah, “Salam buat pamanmu. Sampaikan pesanku agar di tanah suci nanti ayah didoakan cepat-cepat dipanggil Allah untuk segera menyusul…”

Dalam perjalanan ke rumah paman di kampung sebelah, aku menyimpan pesan ayah dalam ingatanku. Aku tak tahu, di kemudian hari, pesan ayah itu masih tersimpan dalam ingatan dan membuatku selalu ditikam salah.
***

ORANG-ORANG lalu lalang, dan rumah paman Salim terlihat ramai saat aku tiba di depan rumah paman diantar oleh seorang tukang ojeg. Aku cepat-cepat menelusup masuk rumah paman melalui pintu belakang, dan disambut bibi Jumroh yang kebetulan sedang di dapur. Bibi menggandeng tanganku, memasuki ruang tengah yang dipenuhi beberapa tamu yang nyaris tak kukenal. Kulihat, orang-orang menyalami bibi dengan wajah berbinar, saling mengharapkan sebuah doa. Lalu, beberapa orang bersalaman untuk pamit pulang tapi dari luar pintu, datang beberapa tamu lagi seperti tiada henti.

Hingga akhirnya, perlahan tamu mulai susut dan pulang. Hanya tinggal keluarga dekat. Aku memberanikan diri mendekati tempat paman Salim duduk, menyampaikan pesan ayah. Tidak kuduga, wajah paman mendadak berubah merah seakan tertampar oleh pesan ayah.

“Setelah mendengar pesan dari ayahmu, aku tiba-tiba teringat peristiwa di masa lalu. Dulu sebelum kamu lahir, sekitar tahun 70-an dan orang-orang naik haji masih naik kapal, ayahmu sudah berniat hendak pergi ke tanah suci. Tapi, ayahmu mungkin belum beruntung atau takdir yang memang belum membawa ayahmu pergi ke tanah suci…” ujar paman tiba-tiba, membuatku kaget dan termangu, “Aku tak tahu! Aku hanya tahu, orang-orang bercerita bahwa ayahmu pernah ikut arisan haji dan separoh dari mereka itu sudah berangkat ke tanah suci, tapi jatah untuk ayahmu tidak juga kunjung keluar…”

“Jika yang diikuti ayah itu serupa arisan, kenapa ayah tidak mendapatkan jatah atau giliran, meskipun berangkat belakangan?” tanyaku, ingin tahu lebih jauh lantaran sampai detik ini ayah belum kesampaian pergi ke tanah suci.

“Sayangnya, arisan haji itu kemudian berhenti di tengah jalan! Tak lagi berlanjut, karena orang-orang yang jadi anggota arisan itu kebetulan sudah tua dan satu persatu mulai meninggal dunia. Tragisnya lagi, ahli waris anggota arisan tak dibebani tanggung jawab membayar padahal ayahmu belum mendapat giliran pergi ke tanah suci …”

Aku diam dan terpaku mendengar cerita paman Salim. Alangkah, malang nasib ayah! Air mataku, perlahan mulai mengalir dari sudut mataku, membasahi wajahku. Dan aku baru sadar, jika ayah memendam sebuah mimpi yang belum kesampaian. Kupikir, impian terpendam ayah itulah yang membuatnya duduk di beranda, membayangkan siluet Ka`bah setiapkali senja mengendap di balik awan.

“Pantas,” ucapku seketika, “Ayah selalu membayangkan siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi setiapkali senja melindap. Aku tak tahu, kalau ayah duduk di beranda dan menengadah ke arah langit itu, seakan-akan ayah benar-benar melihat Ka`bah…”

“Jika kau tidak keberatan, juallah tegalan yang menjadi warisanmu! Mumpung, ayahmu masih sehat…!”

Dalam hati, aku tidak keberatan dengan usul paman Salam.
***

SENJA baru saja turun dan seperti terapung-apung di cakrawala, ketika aku tiba di rumah. Tetapi belum sempat aku memasuki rumah, Kang Paijo, salah satu tetanggaku sebelah rumah, buru-buru menyambutku. Ia terlihat gugup. Wajahnya seperti bimbang. Dan akhirnya, dia gemetar berucap, “Ayahmu pingsan…!” suaranya, seperti tercekat, “Tadi, aku temukan ayahmu jatuh dari teras.”

Buru-buru, aku memasuki rumah, dan menemukan ayah dalam keadaan terbujur kaku di atas balai. Napas ayah naik turun, membuatku masih dapat bernapas lega. Aku mendekati ayah, kupegang erat-erat tangannya. Entah kenapa, aku tiba-tiba cemas seperti disergap perasaan bersalah dan dosa.

“Sebaiknya, ayahmu segera dibawa ke rumah sakit. Mungkin aku bisa meminta tolong kepada pak Burhan untuk membawa ayahmu ke rumah sakit dengan mobilnya,” akhirnya Kang Paijo menawarkan bantuan.

Aku mengangguk.

Buru-buru, Kang Paijo pergi.

Air mataku perlahan membasahi kening. Kulihat mata ayah terpejam, seakan ia tertidur dengan nyenyak. Aku gerayangi bagian kepalanya dan kutemukan ada darah segar menggenang di sebagian rambutnya.

Lima menit berlalu. Lalu, sepuluh menit. Setelah lima belas menit berlalu, Kang Paijo tidak juga kunjung datang, aku disergap takut. Napas ayah mulai tidak terkendali. Hingga sesuatu tidak terduga, akhirnya terjadi. Mataku seperti terganggu oleh sebuah perkembangan yang nyaris tak kusangka. Napas ayah mendadak berhenti. Kupegang urat nadi ayah, tak ada darah mengalir di sepanjang tanganya.

Aku memeluk tubuh ayah erat-erat, tak ingin ayah meninggal sebelum mimpinya melihat Ka`bah terwujud ketika aku sudah bertekat hendak menjual tanah warisan. Tapi tubuh ayah sudah beku. Dan aku tahu, ayah sudah meninggal dunia…

Perlahan, aku bangkit lalu berjalan menuju beranda. Senja masih mengapung di cakrawala. Pelangi berwarna jingga merona di balik awan. Tiba-tiba, senja hari itu, aku melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Tetapi, aku sudah terlambat mengantar ayah bisa merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi itu… ***

Ciputat, 06/11/ 2008

baca lebih lanjut...?

Jumat, 11 September 2009

sang saka kecil di atap rumah

cerpen

Empat belas Agustus, dua puluh empat tahun yang lalu. Usiaku masih sembilan tahun. Aku masih ingat, tatkala itu, aku masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Tapi prahara bendera mungil yang sempat berkibar sebentar di atap rumahku itu seperti terjadi kemarin sore. Kibar bendera mungil yang kujahit dengan susah payah ketika aku kecil itu masih terpatri kuat dalam ingatanku. Aku sedih menatap bendera kecil itu tidak lagi berkibar di atas rumah, setelah ayah ditikam marah.

Siang itu cakrawala kulihat berwarna kelabu, serupa warna sendu relung hatiku. Aku pulang dari sekolah dengan langkah lunglai, memakai sepatu dengan tali yang kusut dan berdebu. Aku terus melangkah, dahaga menggaruk tenggorakanku. Gang sempit ke arah rumahku lengang, dan aku ingin cepat sampai ke rumah. Tapi aku seperti digelayuti lelah untuk berlari.

Tidak tampak anak-anak kecil berseragam sekolah merah putih bermain di gang sempit itu, kecuali aku seorang diri –yang sedang berjalan pulang dengan galau. Tetapi, entah mengapa, siang itu kelengangan gang ke rumahku seperti berbeda. Angin berisik seperti mengabarkan kemerdekaan yang pernah diukir para pejuang di zaman dulu. Aku merasakan hembusan ruh pahlawan menelusup di sela-sela dedaunan tanaman di depan rumah tetangga-tetanggaku yang tampak sahdu.

Aku terus melangkah, dan sesekali mengamati setiap rumah yang aku lewati. Aku lihat tiang-tiang tertancap di depan rumah dan di setiap tiang itu bendera merah putih berkibaran diterpa angin yang bertiup sahdu. Sesekali, angin bertiup kencang membuat setiap bendera yang ada di depan rumah tetanggaku berkibar menawan.

Tapi tiba-tiba aku merasa heran, ada setangkup perasaan ganjil yang menelusup diam-diam dan gamang dalam hatiku tatkala aku sudah berdiri tepat di depan rumahku. Seperti ada yang hilang dari sesap ganjil mataku. Tak kulihat tiang bendera tertancam di depan rumah. Tidak ada sang saka merah putih berkibar di tiang bambu yang biasa ayah tancamkan di depan rumah.

Siang itu, aku seperti berdiri di depan rumahku yang asing. Aku seperti berdiri di depan rumah orang luar yang tak kena peraturan untuk memasang bendera selama satu minggu sampai hari proklamasi kemerdekaan. Sejenak, aku menatap sekeliling. Tak ada rumah tetanggaku yang tidak memasang bendera merah putih kecuali rumahku. Rumah yang tampak sepi dan beku, lantaran tidak ada kibar sang saka merah putih di hari menjelang kemerdekaan bangsaku.

Penghormatanku pada para pahlawan yang gugur di medan perang sebagaimana cerita yang pernah aku dengar dari guru sejarah-ku, seperti menyeretku pada kesedihan. Aku merasa seperti anak orang Belanda yang sedang bertandang ke kampungku sendiri, tak seperti seorang anak Sekolah Dasar yang pulang dari sekolah dengan seragam merah putih.

Kakiku gemetaran, saat aku kembali melihat setiap rumah tetanggaku dan kibar sang saka merah putih di setiap rumah serasa meluruhkan jiwaku. Langkah kakiku kaku. Aku ditikam kerinduan untuk mengingat masa lalu, mengingat para pejuang dulu ketika mereka berperang melawan penjajah.

Aku bergegas memasuki rumah, langsung menerabas ke dapur. Di rumah hanya ada nenek yang termangu di dapur menanak nasi. Diam-diam, aku mengambil gelas dan melangkah dengan kaki gemetar. “Kau sudah pulang?” tanya nenek saat melihatku.

“Anak-anak dipulangkan lebih pagi dari biasa karena besok anak-anak berangkat kemah, nek…” jawabku seraya menuang air putih dari baskom.

Setelah segelas air putih meluruhkan tenggorokanku, aku memasuki ruang kerja ayah. Kulihat kain berserakan di lantai, di bawah mesin jahit tua ayah –yang terongggok membisu. Siang itu, ayah dan ibu kebetulan belum pulang masih di pasar menjual segala jenis pakaian yang sebagian ayah jahit sendiri, termasuk bendera.

Tak pernah ayah mengajariku menjahit, membuatku ditikam bingung. Apa yang harus kulakukan untuk merajut kain merah putih itu agar bisa menjadi sebuah bendera? Berdiri serupa patung, tiba-tiba sekelebat bayangan ayah yang sedang menjahit sepulang dari pasar seakan memberiku pelajaran tidak langsung. Tak ingin ayah pulang dan tahu apa yang aku lakukan, buru-buru aku pungut kain merah dan putih yang berserak yang kutahu; kain itu sisa dari potongan bendera yang dijahit ayah kemarin sore.

Setelah aku pilih-pilih, aku temukan dua lembar kain merah-putih yang nyaris seukuran. Selanjutnya, untuk membuat kedua kain merah putih itu jadi sama seukuran, kuraih gunting yang tergeletak di sisi lengan mesin jahit. Kupotong sisi kain merah yang berukuran lebih besar. Lalu, aku duduk di kursi mesin jahit.

Sial, benang yang biasanya terpasang di lubang jarum ternyata lepas. Terpaksa, aku memasukkan ujung benang ke lubang jarum. Awalnya, kesulitan. Tetapi setelah tiga kali bersusah payah memasukkan jarum ke lubang, aku dapat bernapas panjang. Benang terpasang, dua lembar kain merah dan putih yang sudah kupotong seukuran sudah siap untuk dijahit.

Entah dapat ilmu menjahit dari mana, aku seperti merasa ada tangan ghaib yang menuntun tanganku tiba-tiba menjadi cekatan. Dua kain merah putih berukuran kecil itu kujahit, lalu bagian ujung kain kurekatkan untuk merapikan bentuk bendera. Setelah aku menjahit tiga tali sebagai pengait untuk diikatkan pada bambu, betapa senangnya hatiku ketika menatap bendera kecil seukuran 30 x 17 cm itu sudah siap aku kibarkan.
***

AKU tahu apa yang kulakukan terhadap bendera kecilku itu sebelum ayah pulang dari pasar. Kembali aku melangkah ke dapur. Aku lihat nenek masih menunggu tungku dengan diam. Gagang sapu yang terkulai di sudut dapur, kusambar diam-diam. Untung, nenek tak melihatku. Dengan langkah bersijingkat aku melangkah ke depan rumah. Tapi sial. Aku lupa mengambil parang.

Buru-buru, aku kembali ke dapur. Aku ambil parang yang terletak tak jauh dari tempat nenek merunduk tepat di depan kompor.

“Untuk apa parang itu?“ tanya nenek mengagetkanku.

“Untuk memotong gagang sapu yang tak berguna, nek,” kilahku, “Ini untuk tugas besok sebelum berangkat kemah,” lanjutku berbohong.

“Hati-hati, parang itu bisa melukai tangamu!”

“Tak usah takut nek, aku sudah besar dan tahu cara menggunakan parang yang benar,” sombongku seraya melangkah ke depan rumah.

Sampai di depan rumah, parang itu aku tebaskan pada gagang sapu serat kelapa. Gagang sapu itu putus dengan sempurna. Cepat-cepat aku ikatkan tali bendera kecilku di gagang bekas sapu itu. Aku lalu mengambil tangga di sebelah rumah, dan aku pasang di sisi rumah agar aku bisa naik ke atap rumah. Setelah aku naik ke atap rumah, kuikatkan gagang sapu itu di sebuah kayu. Aku tak ingin benderaku yang kecil itu tidak berkibar di antara bendera-bendera yang lain dari milik tetangga kecuali benderaku nanti berkibar dan terpasang paling tinggi.

Tak butuh waktu lama, bendera kecilku itu sudah terpasang di atap rumah. Saat angin bertiup dengan kencang, aku tahu, benderaku berkibar mirip sebuah layar yang terikat pada tiang kapal. Aku buru-buru turun dari atap rumah, dengan perasaan bangga sebab telah mengibarkan bendera menjelang hari kemerdekaan. Aku turun dengan cepat lantaran takut ayah keburu datang.

Sesampai di bawah, aku kemudian mendongakkan kepala ke atap rumah. Kulihat bendera kecilku mulai berkibar diterpa angin, dan aku menghormat –seakan melakukan sebuah upacara seorang diri.

Tepat di saat aku baru saja menurunkan tanganku memberi penghormatan pada sang saka kecilku, nenek memanggilku. Dia memintaku untuk segera makan siang. Aku masih ingat, siang itu aku makan dengan lahap.
***

SORE itu, aku terbangun dari tidur siangku yang cukup panjang. Aku mendengar ayah dan ibu bertengkar, tetapi aku tidak tahu apa yang mereka ributkan. Aku lirik jam dinding di kamarku. Pukul 15.30 WIB.

Aku masih belum sadar penuh. Lamat–lamat kudengar ayah seperti dibakar api amarah. “Itulah anakmu yang selama ini kau manjakan! Setiap kali aku memarahinya, kau membela. Sekarang mau kutaruh di mana mukaku ini!” bentak ayah pada ibuku.

“Dia masih kecil, tak tahu apa-apa! Itu pun salahmu sendiri, kenapa kau tak mau masang bendera menjelang hari kemerdekaan padahal kau sendiri menjahit dan jualan bendera… ” bela ibuku.

“Tetapi kalau anakmu itu tidak memasang bendera di atap rumah, tidak mungkin aku dipanggil pak lurah dan dimarahi seperti tadi,” ujar ayah.

Ibu hanya diam.

“Kau tahu, apa kata pak lurah padaku?” tanya ayah pada ibu, “Aku dianggapnya tak bisa mendidik anak…”

“Harusnya kau bilang, anak kita masih kecil dan tidak tahu apa-apa..” bela ibu

“Sudah kubilang seperti itu,” tangkis ayah “Justru karena itulah pak lurah punya bahan untuk menganggapku sebagai ayah yang tidak becus mendidik anak…”

Aku bangkit, dan keluar dari kamar. Aku merasa semua itu ada sangkut pautnya denganku, sehingga aku ingin tahu lebih jauh. Tetapi, betapa hatiku langsung ciut ketika ayah memandang ke arahku. Mata ayah seperti menyala merah, dan seumur hidupku tak pernah kulihat mata ayah merah seperti itu. “Anak kurang ajar,” bentak ayah kepadaku,

Aku diam, tak berkata-kata. Aku lihat ayah memegang bendera mungilku dengan masih utuh sebagaimana aku tadi mengikatkannya pada gagang sapu yang kupotong.

Jantungku berdegup kencang. Tetapi, langkah kakiku ingin membuktikan sendiri apa yang sedang terjadi. Aku melangkah ke depan rumah. Aku dongakkan kepalaku. Tak ada bendera kecil yang tadi berkibar tinggi di antara bendera milik tetanggaku.

Air mataku menitik. Aku kemudian melangkah ke dalam rumah. Aku berjalan ke arah ibuku berdiri, tepat di sisi ayah. Aku tahu, ayah hendak memarahiku. Tetapi, buru-buru ibu mendekapku.

“Kau tidak salah, anakku! Tadi memang pak lurah marah pada ayahmu gara-gara kau memasang bendera kecil di atap rumah. Tetapi, tindakanmu itu menjadi salah sebab ayahmu tak memasang bendera besar sebagaimana tetangga yang lain. Jadinya, ayahmu dikira telah menghina pak Lurah, sebab tidak memasang bendera besar… Besok, tolong jangan diulangi lagi…” ucap ibuku seraya mengelus-elus rambutku.

Sore itu, hatiku serasa damai dan jiwaku serasa dibelai oleh alunan cinta seorang ibu yang penuh perhatian. “Apa yang membuatmu tiba-tiba memasang bendera kecil itu di atap rumah, nak?” tanya ibu membuatku terperanjak.

Mulutku seperti terekam oleh lem. Aku tak bisa angkat bicara.

Tetapi, entah mengapa, tiba-tiba mulutku ingin bicara dan akhirnya keluar suatu hal yang tak pernah aku duga, “Bunda, apa anak kecil tidak boleh mengibarkan bendera kecil di atap rumah untuk menghormati kemerdekaan dengan caranya sendiri?”

Ibu melirik ke arah ayah. Ayah pun melirik ke arah ibu. Aku tak akan pernah bisa melupakan peristiwa itu, peristiwa yang terjadi dua puluh empat tahun yang lalu. ***

Ciputat, 31 Agustus 2009

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 29 Agustus 2009

doa kutukan di pagi lebaran

cerita pendek

/1/
PANTASKAH aku menyebut perempuan misterius yang mengirimiku setumpuk pesan pendek di pagi buta itu sebagai bidadari yang dikirim Tuhan di akhir Ramadhan? Atau justru sebaliknya, dia pantas aku sebut sebagai sundal? Tetapi, kalau ia itu bidadari yang dikirim oleh Tuhan, kenapa ia mengutukku di subuh lebaran seolah-olah aku ini manusia berlumur dosa yang tak bisa tersepuh oleh embun pagi bulan suci Ramadhan?

Menjelang subuh. Ponselku yang tergeletak lunglai di samping tubuhku bergetar. Sudah tiga jam yang lalu, aku menimang-nimangnya seperti bayi yang minta untuk disentuh. Aku tak bisa tidur, disergap gelisah. Padahal, malam itu, aku baru tiba di rumah. Diseret letih. Perjalanan jauh dari Jakarta, ternyata tidak mampu membuatku lelap dalam tidur nyenyak. Bahkan, memejamkan mata sekali pun. Sekedar mengisi lengang pagi, aku mengirim sejumlah pesan pendek ke beberapa kenalan, rekan kerja dan sanak keluarga.

Tetapi, tiga jam berlalu, ponselku tak mendapatkan sapaan hangat. Tak ada satu pun, pesan pendekku terbalas. Tiga jam, ponselku membeku hanya mengirim pesan, tak dihinggapi balasan. Jadi, aku disergap malas untuk meraih ponselku di subuh itu, meski pun aku tahu ponselku bergetar, dan layarnya menyala. Pertanda ada pesan pendek menghampiri benda mungil itu, tapi mataku sudah mulai disergap kantuk.

Aku meringkuk, bagai sosis dalam balutan selimut.

Gema takbir terdengar sayup-sayup, merambat di sela-sela ranting dan daun pohon pisang di samping rumah. Kesiur angin terdengar merintih, daun-daun di pekarangan bergoyang dan merambatkan irama yang ganjil. Aku memejamkan mata. Tetapi rasa kantuk tidak juga kunjung menyeretku ke dunia mimpi. Aku menyibak selimut, mengambil ponsel yang tergolek di samping tubuhku, dan membuka pesan pendek yang masuk. Dingin merayap menerobos lubang-lubang jendela, merayapkan sepenggal kecemasan di dada. Hawa dingin menggigilkan kulit, kala aku lihat di layar ponselku tercantum nama seorang perempuan misterius.

Subuh itu, dia mengirimiku sebuah pesan pendek lagi. Sebuah pesan yang telah menggiringku pada ruas waktu yang rumpil, menyudutkanku di lorong petaka. Aku tercekat, membaca pesannya. Aku dikutuknya, tepat di pagi lebaran.

/2/
AKU tak mengenal perempuan misterius itu kecuali lewat sebuah perkenalan yang tak terduga di akhir bulan Ramadhan, tepatnya lima hari menjelang lebaran.

Siang itu, aku disergap bingung, setelah mencari buku di rak, dan tak menemukan buku yang kucari. Aku duduk tercenung, mengingat terakhir kali aku menyentuh buku tersebut. Tapi, ingatanku hilang. Mataku kabur dan tiba-tiba aku dikejutkan getaran ponselku di atas meja.

Kuraih benda mungil itu. Kubuka sms yang menelusup di dalam ponsel. Tak kusangka ternyata pesan itu datang dari nomor yang tidak aku catat. "Aku nawang, boleh kenalan? Jika tak keberatan, siapa namamu?"

Tak ada pekerjaan yang membuatku sibuk, aku membalas. "Boleh! Tetapi, kamu dapat nomor-ku dari mana?"

Tidak ada balasan. Aku kecewa. Menjelang malam, pesanku masih tak terbalas. Aku mengambil kesimpulan; ia tak lebih perempuan iseng. Dan malam itu, aku tidur memeluk ponselku, erat-erat.

/3/
TETAPI, betapa terkejutnya tatkala bangun tidur, aku mendapati ponselku disinggahi sebuah pesan. Aku buka. Entah mengapa, aku merasa pesan pendek kadang bisa menghibur, mengundang takjub. Lagi-lagi, aku dikejutkan pesan pendek perempuan misterius itu. "Aku dapat nomor kau dari temanku yang kau benci setengah mati," balasnya. Singkat, membuatku jengah.

Aku tak punya musuh, mengapa tiba-tiba ada perempuan yang ngaku, bahwa aku telah membenci seseorang sampai setengah mati? Aku penasaran. Maka, aku membalas, "Maaf, aku tak pernah membenci siapa pun. Maka tak ada alasan juga jika aku membenci setengah mati temanmu! Mungkin, kamu salah orang?"

Tak ada balasan. Aku kecewa. Mentari belum terbit lantas bangkit ke kamar mandi, membasuh muka.

Menjelang malam, pesan singkatku padanya belum dibalas. Aku mengambil kesimpulan; ia itu perempuan iseng. Dan malam itu, aku kembali tidur memeluk ponselku, erat-erat.

/4/
TIGA hari lagi, lebaran datang. Kantor tempatku bekerja sudah libur. Siang itu, buru-buru aku beli tiket. Antrian panjang di stasiun, terpaksa jalani jika aku memaksakan diri pulang. Maka aku berdiri mematung berjam-jam. Iseng-iseng aku mengirim pesan pendek pada kekasihku. Tak sampai semenit, aku mendapat balasan. Tapi, dugaanku ternyata salah. Pesan yang menyelusup ternyata dari perempuan misterius, bukan balasan dari kekasihku.

Pandangan mataku kabur, ketika kubaca pesannya, "Tidak! Aku tidak salah. Aku hanya heran, kenapa kamu membenci setengah mati kepada temanku, bahkan sampai-sampai kamu tega menuduh dia itu perempuan gila?"

Degggg! Hatiku bergetar. Jantungku berdetak. Angin berhembus kencang, seakan badai datang tiba-tiba. Apa dia itu Ani, adik kelasku dulu sewaktu aku kuliah di Yogyakarta? Aku menahan napas dan tak berusaha membalas! Aku bingung, siapa dia?

Antrian tiket masih panjang.

Sore hari, aku baru mendapat tiket yang akan membawaku pulang, esok hari.

/5/
SELEPAS subuh, kereta membawaku pulang ke kampung. Aku menyandarkan tubuh dan menuntaskan sisa kantuk yang tertunda. Tapi belum sempat tidur disergap mimpi, tiba-tiba sebuah pesan singkat menelusup ke hpku. Aku buka, penasaran, lantaran ibu di rumah sudah berkali-kali menyanyakan hari kepulanganku.

Tetapi, lagi-lagi aku tertipu. Pesan yang masuk bukan datang dari ibuku, melainkan datang dari perempuan misterius yang kembali mengusikku. "Kenapa kau menuduh ia gila? Bukankah kamu yang sebenarnya gila?" tulisnya, singkat dan padat. Hatiku bergemuruh, dibakar amarah.

Semestinya, aku menelponnya untuk menjelasnya duduk perkara agar ia tidak sembarang kirim pesan. Tetapi, aku urung.

Kereta melaju, membawaju pulang ke kampung. Aku tidur sepanjang perjalanan.

/6/
SEHARI sebelum lebaran, aku sampai di kotaku. Tetapi, aku tidak langsung pulang ke rumah, lantaran ada urusan dengan teman. Aku naik bus, dan kembali menyambung tidurku yang tak nyenyak.

Tapi, lagi-lagi perempuan misterius itu membuatku terjengah. Ia kembali kirim sms.

"Kau masih belum tahu, siapa sebenarnya nama temanku yang kamu tuduh gila itu? Dia adalah Susan. Dia kini tinggal di Jepang, lho!. Kamu mungkin dapat menghubungi, jika mau nanti aku kasih nomornya atau emailnya."

Oh...., aku baru ingat dan tersadar kalau teman perempuan misterius itu tidak lain adalah Susan. Sosok perempuan yang tak pernah aku kenal, tapi ia merasa kenal akrab denganku.

Bus yang aku tumpangi, sampai di pangkalan. Aku turun dan menyambung lagi naik becak.

Aku sampai di rumah temanku, saat matahari tenggelam. Ia memintaku menginap. Aku tak bisa mengelak.

/7/
PERSIS selepas isak, aku baru tiba di rumah. Ibu menyambutku, memelukku erat-erat, seakan aku ini seorang anak hilang yang baru pulang. "Kau tambah gemuk!" puji ibu.

Aku hanya tersenyum.

"Kau sudah makan? Ibu sudah siapkan ikan sotong yang katamu, selalu membuatmu tidak betah tinggal di Jakarta karena di sana tak seenak yang ibu buat..." rayu ibu, membuat perutku seketika digaruk lapar.

Buru-buru mandi lalu kuhabiskan masakan yang disediakan ibu di atas meja. Setelah kenyang ibu memintaku istirahat.

Malam merambat sunyi. Gema takbir dan suara bedug terus berkumandang memecah malam.

/8/
DI atas ranjang, tubuhku tergolek lemas. Tetapi aku tidak bisa pergi ke dunia mimpi. Rasa capek nyaris melumatku terbujur kaku sepanjang malam hingga hari berganti pagi.

Sekedar mengisi kelengangan pagi, aku mengirimi sejumlah pesan ke beberapa kenalan dekat, rekan kerja dan sanak keluarga. Tetapi, tiga jam berlalu, ponselku tak mendapatkan sapaan hangat. Tidak ada satu pun pesan yang aku kirim terbalas. Tiga jam, ponselku membeku hanya mengirim pesan dan tak dihinggapi balasan. Maka, aku disergap malas meraih ponselku di pagi itu ketika tiba-tiba ada pesan yang masuk. Aku bergeming.

Aku menggeliat, lalu meringkuk bagai sosis dalam balutan selimut tebal.

Gema takbir terdengar sayup-sayup, merambat di daun pohon pisang di samping rumah. Kesiur angin terdengar merintih, daun-daun di pekarangan bergoyang merambatkan sebuah irama yang ganjil. Aku memejamkan mata, ingin tidur. Tetapi kantuk tidak juga kunjung menyeretku ke dunia mimpi. Aku sibak selimut. Beringsut mengambil ponsel dan membuka pesan yang masuk. Dingin pagi merayap pelan menerobos lubang jendela, merayapkan kecemasan. Hawa dingin terasa sepi, menyentuh kulitku ketika kulihat di layar ponselku tercantum nama perempuan misterius.

Dengan hati berdebar, aku membuka pesan singkatnya. Aku yakin, dia akan mengucapkan "kata maaf" di hari raya idul fitri di pagi itu. Tapi, lagi-lagi aku tertipu.

"Benar kata Susan, kamu itu memang lelaki gila. Tahu tidak? Dendam Susan padamu itu bagai petir, sampai-sampai aku ngeri mendengar sumpahnya! Siapa sebenarnya temanmu itu yang sampai tega melukai hati Susan karena telah memperkosanya? Ternyata, sebagai temannya, hatimu itu tak ubahnya binatang juga!" tulisnya, panjang. Menyakitkan!

Hatiku pedih, seperti diguyur hujan api. Tetapi aku tetap tidak membalasnya dengan pedas. Aku ingat wejangan seorang kiai yang pernah kukunjungi, kalau engkau diumpat orang dengan umpatan pedas bahwa kamu dikatakan mirip binatang, justru kamu harus bersyukur. Pasalnya, binatang itu di sisi Allah tak punya dosa. "Umpatan itu mirip sebuah doa," ujar pak kiai.

Maka, aku membalasnya dengan lembut. "Amin! Kamu menganggapku orang gila bahkan binatang. Bukankah orang gila dan binatang itu tak punya dosa di sisi Allah? Trima kasih di hari yang fitri ini kau telah mendoakanku tak punya dosa --seperti orang gila dan binatang yang tak punya dosa."

Tapi, hati perempuan itu mungkin tertutup kabut yang tak mampu disingkap embun pagi bulan suci Ramadhan. Ia tak tahu, jika di hari lebaran seharusnya ia minta maaf atas segala dosa, bukan justru mengumbar kutukan.

"Apa? Kamu mengangap dirimu tak punya dosa di sisi Allah? Munafik! Bagaimana tidak nyata, kamu saat melihat temanku terpuruk? Apa? Apa? Malah, kamu sms kepada temanku dan menuduh dia itu sebagai wanita gila, dan pantas masuk rumah sakit jiwa. Ingat baik-baik, apa otakmu dapat disebut sebagai manusia saat Jum`at kelabu itu kamu melihat temanku hampir mati bunuh diri, sementara itu kamu berpangku tangan? Cihhh..., tidak malu mengaku sebagai orang suci!!!" balasnya, panjang dan menyulut amarah.

/9/
PANTASKAH aku menyebut perempuan misterius yang mengirimiku setumpuk pesan pendek di pagi itu sebagai bidadari? Atau justru sebaliknya, dia pantas aku sebut sebagai sundal? Tetapi, kalau ia bidadari yang dikirim Tuhan, kenapa ia mengutukku di subuh lebaran seolah-olah aku ini manusia berlumur dosa yang tak bisa tersepuh oleh embun pagi bulan suci Ramadhan?

Tak lagi kupedulikan sms perempuan misterius yang mengutukku di pagi lebaran itu. Seratus sms dari rekan kerja, kenalan dekat dan sanak famili di pagi lebaran, pagi yang fitri di hari itu serasa mengguyurku dengan sejuta tetesan embun dan salju suci.

Dan di pagi lebaran itu, aku serasa terlahir kembali... ***

Tangerang, 22 Ramadhan 1429

baca lebih lanjut...?

Senin, 24 Agustus 2009

pulang lebaran tahun lalu...

cerita pendek

TIGA hari menjelang lebaran, aku pulang ke kotaku. Sebuah kota kecil yang nyaris tak lagi memikatku. Kota yang hanya menyisakan keping-keping kisah usang tak menarik. Kota yang menyimpan sepotong dendam, desau dari sebuah risau tentang masa kecil yang memilukan. Juga, kota yang tidak memiliki harapan dan masa depan untuk seorang anak pembangkang. Maka jangan salahkan aku jika aku nyaris tak memiliki kerinduan untuk menginjakkan kaki di beranda rumah, sejak ayah meninggal tiga tahun yang lalu. Tapi entah kenapa, sekarang ini aku kembali menginjakkan kaki di kota mungil ini -kota yang hampir tiga tahun tidak pernah aku kunjungi- sejak aku pindah kerja ke kota seberang.

Tiga tahun sudah, aku menepati janjiku pada ayah. Aku tidak pulang, dan aku sudah menebus dosaku. Jadi, tidak ada dusta lagi aku pulang ke kota ini, setelah tiga tahun cuma uang kirimanku yang menjenguk tangan bunda. Dan kini, aku sudah menginjakkan kaki di kota kelahiranku dan hampir sampai di rumah.

Tetapi, saat turun dari bus tepat di gang kecil menuju rumah, aku termangu menatap lorong panjang yang lengang. Tak seperti kepulanganku waktu kecil dulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Siang itu, aku merasa kelengangan lorong menuju rumahku mengabarkan berita petaka. Angin tiba-tiba menguarkan aroma duka. Aku disergap cemas, lantas menatap sekeliling. Kerinduanku setelah lama tak bertemu dengan bunda, seperti menyeretku menjadi orang asing di kampung sendiri. Aku merasa mirip seperti seorang tamu yang akan bertandang ke rumahku, tidak sebagai seorang anak yang pulang ingin bertemu dengan ibu kandungnya.

Kakiku gemetar, tatkala aku melangkah dengan ragu melewati gapura di mulut gang mungil ke arah rumah. Tidak ada anak-anak kecil berkaos lusuh, bermain kelereng di sepanjang lorong. Angin seperti membisu. Langkah kakiku kaku. Padahal, aku ditikam kerinduan untuk segera memeluk bunda. Tapi belum jauh aku melangkah memasuki gang mungil itu, tiba-tiba kulihat bendera putih tertancam di dekat gapura.

Angin kembali bertiup, mengibarkan kain kecil di tiang bambu itu yang membuatku disergap gelisah. Aku tak tahu siapa yang meninggal dunia. Karena tak ada berita duka di papan pengumunan yang biasa ditulis dekat gapura kalau ada orang yang meninggal.

Aku berhenti, ragu untuk berjalan lebih jauh. Langkah kakiku seperti terpikat tanah untuk terus kuajak pulang ke rumah. Lamat-lamat, telingaku mendengar langkah kaki iring-iringan orang. Tidak lama kemudian, muncul keranda yang ditutup kain hijau diusung empat orang menyusuri lorong dari arah rumahku. Di belakang keranda, ada tiga orang berjalan mengikuti dengan muka tertunduk, ditikam sedih. Tak jelas pandanganku, ketika aku menatap para pengusung keranda. Juga tiga orang yang ada di belakang keranda. Aku berdiri mematung, menatap iring-iringan orang yang mengusung keranda, semakin berjalan mendekat ke arahku.

Tetapi, tatkala iring-iringan pengusung keranda itu hampir dekat, aku nyaris tak percaya. Aku seketika terperanjak kaget. Tiga orang pengiring yang berjalan di belakang keranda itu tidak lain ustadz Mukhtar, kakakku dan adikku. Iring-iringan pengantar jenazah berjalan cepat. Tatkala melintas tepat di depanku, aku hanya termangu. Karena orang-orang itu tidak mengenalku. Kakakku diam. Adikku tak menoleh ke arahku. Aku lantas berlari mengejar iring-iringan itu dan berteriak, dengan kencang, "Siapakah yang meninggal dunia?"

"Kau ini aneh! Ayahmu sendiri yang meninggal, tapi kau justru tidak tahu," jawab kakakku, dengan muka marah.

Aku tergeragap. Nyaris jantungku membeku. "Jangan bercanda, kak! Ayah kan sudah meninggal tiga tahun lalu. Jadi, tidak mungkin ayah meninggal dunia dan dimakamkan lagi...!"

Kakakku diam. Tak menjawab. Adikku, bahkan tak menoleh ke arahku. Aku jadi bingung. Tidak ada jawaban, aku memutuskan untuk mengikuti iring-iringan para pengantar jenazah. Anehnya, semua orang yang mengantar jenazah, tidak satu pun yang mengajakku bicara, seolah-olah aku orang asing yang tidak pernah mereka kenal. Semua diam, seakan mereka sekumpulan orang bisu yang lagi dilanda sedih.

Iring-iringan pengantar jenazah itu akhirnya tiba di pemakaman. Lalu, keranda diturunkan. Jenazah yang sejak tadi telantar di balik keranda, segera dikeluarkan. Tidak ada geledak. Tak ada petir. Jenazah, yang konon jasad ayahku itu kemudian digeletakkan di tepian tanah galian, dan tak segera dimakamkan. Tidak ada orang, termasuk kakakku, dan adikku yang merasa berhak untuk segera memakamkan jenazah ayah.

Aku termangu, menatap kejanggalan itu.

"Kenapa kamu termangu?" tanya salah satu pengusung jenazah.

"Kenapa tak segera dikuburkan?" balasku, merasa aneh.

"Kau tahu apa tentang prosesi pemakaman? Kini, carilah beberapa kancing baju agar ayahmu bisa segera dikuburkan!" perintah pengantar jenazah lain dengan muka cemberut dan murka.

"Untuk apa dengan kancing baju segala?" bentakku, tak mengerti.

"Turutilah perintah itu supaya mereka segera memakamkan ayahmu!" ucap ustadz Mukhtar.

Mata ustadz berwarna biru, membuatku tak kuasa membantah. Aku segera berlari meninggalkan pemakaman.

Tak tahu harus mencari kancing baju ke mana, aku kemudian berlari sepanjang jalan, tidak jelas arah. Anehnya, sepanjang jalan yang kulintasi itu, sepenuhnya bentangan tanah kosong. Tidak kutemukan toko. Tak kulihat pasar.

Setelah berlari tak tentu arah, kakiku jadi lemas. Aku berhenti, menarik napas. Keringat mengucur. Terik mentari yang tadi menyengat, tiba-tiba berubah menjadi mendung. Langit kelam dan hujan kemudian turun. Aku mencari tempat untuk berteduh, berlari kembali. Untung kutemukan sebuah rumah di tepian sawah. Aku berteduh di teras rumah itu. Bajuku sudah basah kuyup. Aku mengibaskan rambutku biar segera kering dan agar kepalaku tidak pening. Tapi, belum sempat aku merasa tenang, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan muncul seorang tua yang kuyakini sebagai pimilik rumah itu. Mata orang itu, kulihat teduh saat dia memintaku untuk masuk ke rumah. Rupanya, orang itu seorang penjahit. Kulihat mesin jahit tua, teronggok kaku di sudut ruangan.

Aku seketika ingat ayah, yang memang bekerja sebagai penjahit. Kini aku sadar kenapa para pengantar jenazah itu memintaku untuk mencari kancing baju. Aku tahu kancing baju itu pasti untuk merekatkan kain kafan agar bisa melilit di jasad ayah dengan rapat, dikancingkan pada setiap sisi dengan sisi kafan yang lain.

"Maaf pak, aku butuh beberapa kancing baju. Sekiranya bapak memiliki kancing-kancing itu, aku harap bapak tak keberatan jika aku membeli beberapa biji!" pintaku, ragu.

Orang itu melihatku, ragu. Matanya bening, serupa telaga. "Tak usah membeli! Jika memang kau butuh, ambillah di kaleng dekat mesin jahit itu!" jawabnya seraya menuding ke arah mesin tua yang teronggok. "Aku tahu kau lagi butuh kancing itu untuk menebus dosamu!" lanjutnya.

Aku terlonjak kaget. Bagaimana mungkin bapak tua penjahit ini tahu akan dosa-dosaku pada ayah. Tapi aku tak peduli. Aku butuh kancing baju itu segera dan aku melangkah menuju mesin jahit tua yang teronggok, memilih kancing baju yang seragam. Aku ambil sembilan buah kancing baju, lalu segera pamit. Aku tak ingin ayah tergelatak terlalu lama, tak terurus di tepian makam.

Tapi betapa terkejutnya aku, ketika keluar dari rumah penjahit itu, aku berpapasan dengan para pengusung jenazah ayah, termasuk kakakku, adikku, bahkan ustadz Mukhtar yang ternyata sudah pulang dari pemakaman. Aku berdiri, heran. Menatap mereka dengan bingung.

"Ayahmu sudah dimakamkan, kini pulanglah! Ibumu sedang menunggumu di rumah. Dia diliputi kesedihan karena kau sudah lama tak pulang!" pinta salah seorang dari pengantar jenazah ayah dengan sorot mata merah menyala.

Hatiku sakit, dan aku merasa ditipu. Bagaimana bisa aku dibiarkan tidak mengikuti prosesi pemakaman ayah, justru diminta mencari kancing yang ternyata tak terpakai dan sia-sia?

Dengan sekuat tenaga, aku ingin memukul mereka semua. Tetapi, aku ternyata tidak memiliki tenaga lagi. Kepalaku pening. Mataku kabur. Kulihat semuanya tiba-tiba berubah gelap serta kabur. Dan aku tergeragap, bangun. Keringat sudah membasahi punggungku dan bahkan hampir seluruh bajuku. Aku menengok jam dinding. Pukul empat lebih tiga puluh menit. Adzan subuh sudah berkumandang.

Lamat-lamat, aku mulai sadar dan ingat tentang mimpi yang barusan menghampiriku.

Aku bersimpuh. Kini aku baru ingat. Seminggu yang lalu, ketika aku pulang ke rumah, bunda memang sempat memintaku berziarah ke makam ayah. Tapi karena dihajar kesibukan yang harus kuurus, akhirnya aku pun tak lagi ingat untuk memenuhi permintaan bunda. Aku tak sempat menziarahi makam ayah sewaktu pulang di hari lebaran kemarin. Sekarang, aku merasa bersalah. Kenapa pulang lebaran kemarin, aku hanya menjenguk bunda dan melupakan ayah yang sudah meninggal dunia? Apa karena ayah sudah tiada sehingga tak perlu aku jenguk sampai aku dihantui mimpi melihat ayah dimakamkan lagi? Bukankah dosaku pada ayah sudah aku tebus? Tetapi, kenapa ayah masih muncul dalam mimpiku? Apakah ayah masih belum bisa memaafkanku lantaran aku tidak pernah mau menuruti permintan ayahku menjadi seorang penjahit --sebagaimana pekerjaan ayah sepanjang hidupnya?

Aku tidak tahu! Tapi, setelah tiga tahun ayah wafat, aku sudah menebus dosaku. Meski, aku menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, aku tetap merasa sudah menuruti permintaan ayah. Kini, aku membuka sebuah garmen. Usaha itu aku rasa lebih dari permintaan ayah yang mengharap aku jadi penjahit. Lalu, pertanda apakah sampai aku melihat dalam mimpiku ayah dimakamkan lagi?

Kini, aku sudah balik ke kota. Jelas, tak mungkin aku ambil cuti lagi dan pulang ke rumah untuk menziarahi makam ayah, kecuali pulang lebaran tahun depan.***

Jakarta, 05/12/07-11/10/08

baca lebih lanjut...?

Minggu, 09 Agustus 2009

seribu kunang-kunang di malam ramadhan

cerita pendek

/1/
BERTAHUN-TAHUN, lelaki itu menunggu Ramadhan (tahun ini) cepat datang. Ramadhan yang akan menggenapi usianya tepat enam puluh tiga tahun dan ia merasa yakin jika Ramadhan tahun ini, suatu peristiwa yang sudah ditunggu-tunggu lama itu akan tiba. Dia menemui ajal, selepas shalat tarawih tepat di malam Lailatul Qadar.

Di malam yang ditunggu-tunggu itu, ia akan menunaikan shalat Tawarih di tengah malam yang hening. Malam yang membuat lelaki itu harus rela meninggalkan semua yang dia miliki, dan tidak lagi memikirkan dunia. Malam yang membuatnya harus khusuk bersujud dalam hening waktu yang bisu, sunyi dan sepi --seakan-akan malam tak pernah beranjak menjadi pagi atau siang. Malam yang tidak pernah dia rasakan, lantaran tak ada angin berhembus. Dan malam itu, ia benar-benar merasakan ajal yang ditunggu-tunggu itu akan tiba; maka ia menunaikan shalat Tarawih tepat di malam yang hening -yang menurutnya malam Lailatul Qadar.

Tepat pada malam itulah, sebagaimana yang pernah dia rasakan dalam mimpinya sepuluh tahun yang lalu, ia akan beranjak tidur dengan tenang selepas menunaikan shalat tarawih dan ia berharap tak akan bangun lagi karena ia akan meninggal dengan tenang tepat di malam Lailatul Qadar setelah ia melihat seribu kunang-kunang.

/2/
RAMADHAN hari pertama, sepulang dari menunaikan shalat subuh di masjid, laki-laki itu tak kembali tidur. Ia pulang tergesa lalu meraih sepeda. Dalam gelap pagi, dia menggayuh pedal dengan napas tersengal menuju pasar. Ia menggenjot sepedanya diiringi derit jeruji yang hampir terlepas, dan gesekan salah satu jeruji sepada yang terlepas itu menimbulkan suara sesak di dada.

Lelaki itu tak pernah bercerita pada anaknya, mengenai kematian yang akan menjemputnya di bulan Ramadhan ini. Tahu-tahu, lelaki itu pulang dari pasar tepat ketika mentari beranjak naik di atas kepala, dan menjinjing kain kafan yang dibungkus plastik putih. Berjalan semboyongan dilanda haus, lelaki itu menyandarkan sepeda di teras lalu memasuki rumah dengan langkah terhuyung hampir jatuh. Di ruang tengah, dia menghempaskan tubuh seraya menaruh plastik putih berisi kain kafan di atas meja.

Mahmud, anak keduanya keluar dari kamar, menguap seraya mendapati ayahnya yang terlentang di kursi panjang melepas lelah. Tubuh ayahnya gemetar, seluruh mukanya merona merah sebab dibakar terik mentari.

"Ayah dari mana? Selepas subuh sudah mengeluarkan sepeda dan pulang seperti orang dikejar hantu?"

"Dari pasar..."

"Untuk apa ayah harus pergi ke pasar pagi-pagi sekali?"

"Beli kain untuk baju...."

Mahmud melirik bungkusan plastik di atas meja, membukanya lantas membentangkan kain kafan dalam bungkusan itu. "Mana mungkin ayah akan membuat baju lebaran dari kain seperti ini?"

"Siapa bilang kain kafan itu untuk baju lebaran ayah? Itu baju kematian ayah. Mungkin, di bulan Ramadhan ini ayahmu akan dipanggil oleh Tuhan."

Mahmud tersentak. "Ayah jangan bercanda dengan Tuhan. Ayah masih sehat dan kuat menggayut sepeda sampai ke pasar... Jangan berpikir aneh-aneh!"

Lelaki itu diam dan Mahmud melangkah ke kamar mandi.

/3/
BELUM cukup Mahmud dikejutkan dengan kain kafan yang dibeli ayahnya, hari kedua Ramadhan, ayahnya kembali membuat anaknya terparangah. Kali ini, ayah tiga anak itu pergi ke pemakaman.

Sesudah menunaikan shalat Asar, lelaki itu pulang dari masjid dengan langkah tergesa-gesa mengambil cangkul di belakang rumah lantas berjalan ke luar perkampungan, menyusuri jalan setapak ke pemakaman umum. Setiba di sudut pemakaman, lelaki itu membersihkan rumput makam istrinya -yang sudah meninggal enam tahun lalu. Setelah rumput tak lagi menghuni gundukan makam istrinya, lelaki itu bersimpuh dan menangis. Hening senja itu semakin membuat ia larut. Tak ada kata yang terucap, kecuali hanya sebait doa dalam hati yang sendu membasahi bibirnya. Ia menghapus air mata, sebelum pulang saat matahari hampir tenggelam.

Sesampai di rumah, lelaki itu seperti tidak dapat mengelak tatkala Romdon, anak ketiganya pulang kerja dan menemukan ayahnya pulang dari pemakaman dengan sebuah cangkul di pundak. "Banyak kuburan tak terurus, termasuk kuburan ibumu. Jadi, apa salahnya jika aku pergi ke pemakaman untuk membersihkannya?”

"Tapi, kenapa ayah sendiri yang harus melakukan? Tidak bisakah ayah meminta bantuan orang lain dengan memberinya upah?"

"Ada satu hal yang kita tak bisa minta bantuan orang lain. Ayahmu tahu kematian tak dapat digantikan. Ayahmu sudah tua. Jadi, tak mungkin ayahmu mengupah orang untuk menggantikan kematian ayah yang sebantar lagi akan datang..."

Romdon termangu menatap wajah ayahnya yang mulai menua di makan usia. Tetapi, Romdon sama sekali tak menemukan garis putih di dahi ayahnya yang bisa memberinya tanda jika ajal ayahnya tak lama lagi akan tiba.

/4/
TIDAK hanya hari kedua di bulan Ramadhan tahun ini, lelaki tua itu pergi ke pemamakan dan baru pulang saat senja tenggelam. Tetapi di hari ketiga, keempat, dan seterusnya lelaki itu masih tetap pergi ke pemakaman. Laki-laki itu pergi ke pemakanan seakan ia sudah merindukan tempat yang akan dihuni kelak, tepat usai shalat Tarawih di malam Lailatul Qadar.

Dan malam ini laki-laki itu sudah menjalani puasa selama dua puluh hari.

Bulan di langit tidak lagi penuh, mirip buah semangka dibelah dua. Di bilik kamar, lelaki itu berdiri melongok jendela. Tak diduga, tiba-tiba dia melihat seribu kunang-kunang berterbangan di langit dengan memancar kelap-kelip aneka warna. Kegalapan tidak lagi gelap, dan langit seperti tersepuh warna seribu kunang-kunang. Lelaki itu tidak ragu, bahwa malam ini adalah malam Ramadhan yang ditunggu-tunggu. Malam penuh berkah, dan dia merasakan ada secercah kedamaian yang menelusup dalam dadanya...

Tak ingin ia kehilangan suasana yang tak pernah ia rasakan sepanjang hidup, ia memandang ke angkasa dengan diam. Adzan isya` sudah lama berlalu, tapi suara langkah kaki orang-orang yang pergi ke masjid untuk shalat Tawarih tak menggoyahkan kakinya beranjak pergi ke masjid. Ia sudah merasa ajalnya sudah dekat. Langit yang dipenuhi dengan seribu kunang-kunang seperti mengabarkan akan berita duka tersebut.

Kini, malam yang ditunggu-tunggu itu, sudah tiba dan dia harus menunaikan shalat Tawarih di tengah malam yang hening. Malam yang membuatnya harus rela meninggalkan semua yang dia miliki. Malam yang membuatnya harus khusuk bersujud dalam hening waktu, seakan-akan malam tidak beranjak menjadi pagi atau siang. Malam yang tidak pernah ia rasakan, lantaran tidak ada angin. Dan, malam ini, ia merasakan ajal yang ditunggu-tunggu akan tiba. Ia melangkah mengambil air wudhu, kemudian kembali ke kamar, berdiri lagi di balik jendela.

Seribu kunang-kunang yang barusan dilihatnya tak lagi terlihat. Dia mengedarkan pandangan mencarinya di segala penjuru langit. Tapi seribu kunang-kunang itu sudah hilang, tidak ia temukan lagi. Angin berhembus, menyelimuti sekujur tubuhnya dalam balutan rasa tentram yang tak pernah ia temui sepanjang hidup.

Malam seakan lama beringsut. Suara orang-orang yang menunaikan shalat Tarawih di masjid, terdengar di telinganya. Ia tahu, malam belum sepenuhnya hening. Maka, ia mengambil kitab suci di atas meja lalu membacanya dengan suara lirih. Tatkala anak-anaknya tiba dari masjid, tak menaruh curiga; kenapa ayahnya malam itu tidak shalat tarawih di masjid.

Malam merambat menjadi hening. Ia tahu anak-anaknya sudah beranjak tidur. Tepat di malam itu, dia berdiri menunaikan shalat terawih di tengah malam yang hening. Malam yang membuat lelaki itu harus rela meninggalkan semua yang dimiliki, tak lagi memikirkan dunia. Malam yang membuatnya harus khusuk bersujud dalam hening waktu yang bisu, seakan-akan malam tak pernah beranjak menjadi pagi atau siang. Malam yang tidak pernah dia rasakan, lantaran tak ada angin berhembus. Dan malam ini ia benar-benar merasakan ajal yang ditunggu-tunggu itu akan tiba dan ia pun segera menunaikan shalat Tarawih.

Malam benar-benar hening.

Angin seperti diam, dan membisu.

Ia khusuk dalam sujud, dan tidak memikirkan dunia.

Usai shalat tarawih, pelan-pelan ia beranjak ke ranjang untuk tidur dan berharap di malam yang sudah beranjak menjadi pagi itu, ia tidak akan bangun lagi lantaran ia akan meninggal dengan tenang selepas shalat Tarawih, tepat di malam Lailatul Qadar.

Tapi betapa terkejutnya lelaki itu tatkala waktu makan sahur tiba, Abdul, anak pertamanya menggoyang-goyang tubuhnya. "Ayah...., bangun! Sudah waktunya makan sahur!"

Lelaki itu membuka matanya, dan dilihatnya sosok anak pertamanya berdiri di tepi ranjang. Ia beranjak dari ranjang, lantas membuka jendela dan melongok ke luar dengan mata masih setengah terpejam.

Tak ada seribu kunang-kunang di langit. Hanya ada bulan separoh bulat mirip buah semangka yang dibelah menjadi dua... ***

Ciputat, 9 Ramadhan 1429

baca lebih lanjut...?