Jumat, 30 November 2007

Tugas Penulis adalah Menulis....!

MINGGU pagi, 25 November 2007. Matahari terbit dari ufuk timur memancarkan harapan baru. Tetapi, entah kenapa aku bangun tidak terlalu pagi. Mungkin, dapat disebut agak kesiangan. Aku heran, kenapa belakangan ini selalu bangun kesiangan padahal sudah jarang lembur. Aku bahkan disergap rasa malas untuk bangun. Bantal yang kumuh, sarung yang berubah jadi selimut seringkali justru membuatku merasa nikmat terlelap dalam buaian mimpi.



Padahal, di hari Minggu seperti itu aku selalu menggantungkan mimpiku. Maklum, hari Minggu itu aku dihadapkan dengan sebuah harapan dan nasib sial. Jika ada tulisanku yang dimuat, maka berarti aku beruntung. Aku bisa mengelus dada, merasa tidak sia-sia dalam menulis dan satu hal cukup penting lagi; tinggal menunggu uang masuk ke rekening untuk honor sebuah tulisanku yang dimuat. Kalau nasib baik itu yang datang, aku tak lagi sedih menghadapi akhir bulanku yang selalu menyengsarakan.

Akhirnya, di Minggu pagi itu (meski dengan malas) aku beranjak bangun ke lapak koran, untuk membeli koran Minggu. Selalu. Selalu aku rasakan debar jantungku berdetak kencang dan itu sering jadi pertanda kalau aku akan dihadang ketidakberuntungan: tak ada satu pun tulisan yang dimuat. Apalagi di Minggu pagi itu, aku tidak menerima satu sms pun dari temanku yang mengabarkan nasib baik jika ada tulisanku dimuat. Aku merasa kabut hitam sudah menyelimuti akhir bulan November kali ini.

Rupanya benar! Saat aku buka koran Minggu, ternyata tak ada satu pun tulisanku yang dimuat. Seketika itu, aku merasa lemas. Apalagi, sudah hampir dua minggu ini aku diserang sakit perut. Maka, lengkap sudah penderitaanku. Sempurna sudah kesialanku. Selama sebulan ini ternyata tak ada satu pun tulisanku yang dimuat. Aku merana, dan juga nelongso. Kesedihan di Minggu itu serasa menggenapi tiga minggu sebelumnya. Karena selama bulan November, tidak ada satu pun tulisanku yang dimuat. Padahal sudah 11 tahun, aku jadi penulis. Tapi di Minggu pagi ini -entah kenapa- aku merasa sungguh sengsara, sial dan celaka.

Bagaimana tidak sial? Aku memiliki 15 tulisan (10 tulisan berupa resensi buku, 1 opini, 1 esai dan 3 cerita pendek) yang sudah aku kirim ke sejumlah media massa, tetapi anehnya tak ada satu pun di antara 15 tulisanku itu yang tembus. Maka, wajar aku lemas. Pulang dengan membawa koran Tempo dan Kompas, aku pun berjalan menyusuri jalanan dengan gontai, dihinggapi kekecewaan.

Hanya Soal Waktu
Memang, aku menulis di media, tidak aku mulai sejak kemarin sore. Aku sudah 11 tahun nulis! Jadi kala aku bernasib sial (tak ada tulisanku yang dimuat), tentu sudah biasa. Apalagi pada masa-masa awal aku belajar nulis. Tentu, nasib buntung saat tulisanku tak lolos muat sudah bukan hal aneh. Tetapi entah kenapa, di Minggu pagi, 25 Novermber 2007 ini aku merasa dihinggapi kesedihan yang aneh. Aku nyaris tak percaya kala menjumpai kenyataan bahwa "tak ada satu pun tulisanku yang dimuat".

Setibaku di kontrakan, aku pun disergap pertanyaan aneh. Pertanda apakah ini? Aku tidak bisa menjawab. Aku terkapar, merebahkan tubuh. Aku pun mengingat masa-masa sulit dulu, saat aku masih berjuang mati-matian agar bisa menulis, dan berharap besar dimuat di media. Ketika ingat masa-masa awal saat belajar menulis dulu, aku ingat dengan pesan Mas Didik Pudji Yuwono mantan redaktur budaya Jawa Pos yang sempat memberi-ku obat penawar di kala aku harus menjumpai tulisanku tidak dimuat di media.

Kala itu, aku masih belajar nulis, membanting tulang, lembur siang-malam, sempat berantem dengan tetangga kost lantaran bunyi mesin ketikku membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang. Tetapi apa yang kudapatkan setelah aku rajin menulis, dan mengirim ke beberapa media massa? Aku dihadang jalan buntu. Berkali-kali aku mengirim tulisan (resensi buku dan cerpen ke Jawa Pos), ternyata redaktur budaya Jawa Pos bergeming. Tak ada satu pun tulisanku yang dilirik. Padahal, ketika itu media KOMPAS sudah memuat tulisanku. Lebih tragis, selama 3 bulan tak ada satu pun tulisanku yang dimuat (padahal biasanya dalam 1 bulan ada yang dimuat 1 atau 2).

Aku mengalami jalan buntu, dan menulis email ke Mas Didik, redaktur Jawa Pos, menanyakan nasib tulisanku; kenapa tulisanku tak dimuat padahal aku sudah berkali-kali mengirim?

Apa jawaban Mas Didik? Ia membalas emailku, menasehati diriku bahwa aktivitas menulis itu tugas lain yang harus dipisahkan dengan pemuatan tulisan. JIka orang sudah serius menulis maka orang itu akan bisa memetik suasana hati yang tenang kala menulis. Itu anugerah besar yang tak dialami oleh semua orang! Karena menulis bisa membuat orang ekstasi. Jika sudah merasakan hal itu, maka dimuat atau tidaknya tulisanmu tak lagi penting. Tugas penulis adalah menulis dan soal pemuatan itu hanya soal waktu! Menulislah terus! Suatu saat nanti, kamu akan menemukan jalan terang!

Kadang Tak Disangka!
Pesan Mas Didik Pudji Yuwono itu, masih aku ingat hingga detik ini. Pesan Mas Didik itu selalu menjadi obat mujarab bagiku, ketika aku mengalami nasib sial, tak satu pun tulisanku dimuat di koran Minggu. Maka saat aku sedih lantaran tulisanku tak dimuat, aku pun sadar bahwa tugas penulis adalah menulis! Soal dimaut atau tidak, itu hanya soal waktu! Karena dengan menulis kamu sudah menjalankan tugasmu! Suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan keajaiban.

Aku tak menyangkal hal itu! Saat "nasib baik" itu datang, tanpa mengirim tulisan pun ke media massa, bisa saja tulisanmu tiba-tiba dimuat. Itu yang aku alami dengan sebuah cerpenku berjudul KADO PERNIKAHAN yang dimuat BERITA INDONESIA terbitan HONGKONG edisi 75 bulan November 2007 ini. Aku tak pernah mengirimkan cerpen itu ke BERITA INDONESIA, tetapi rupanya salah satu staf redaksi tabloit itu telah mencurinya (dari blogku), lalu memuat cerpen tersebut tanpa seizinku!

Keajaiban pun kadang datang tak disangka-sangka! Aku pernah nyaris tak percaya, ketika aku memiliki tulisan yang aku kirim ke media dan bernasib tragis tak dimuat, lalu kukirim ke media lain dan tragis lagi tak dimuat hingga tak satu pun media mau memuatnya. Akhirnya aku disergap rasa putus asa dan iseng mengirimkan tulisanku itu ke harian KOMPAS (yang menurut sejumlah pihak cukup sulit untuk ditembus). Tetapi tanpa aku duga, tulisanku yang di sejumlah media massa tidak laku, ternyata dimuat di KOMPAS. Itu yang aku alami dengan tulisanku berjudul DIMENSI RASIONALITAS TASAWUF AL-GHAZALI (KOMPAS, Sabtu, 23 November 2003).

Untuk itu, kenapa kamu harus bersedih hati kala tulisanmu tak dimuat di media massa? Suatu ketika, keajaiban pasti akan menghampiri-mu, setelah kamu berjuang dengan "keras dan mati-matian"! Maka, tak usah bersedih, karena kini tinggal menunggu waktu saja untuk menyambut keajaiban itu!***

---Cileungsi, 25 November 2007

1 komentar:

denisa mengatakan...

iya maaaaaaaas.ak dadi semangaaaaat ikiiiiiii.... doakan y mas, moga moga dimadahkan jalannya sama gusti Allah... amiiin