Jumat, 26 November 2010

Tulislah Buku untuk Orang Lain...!

/1/
KANTOR redaksi majalah Anggun, suatu siang yang begitu merona. Aku berdiri mematung, bersidekap di tangga terakhir sebelum kaki kananku menginjak lantai ruang itu. Sejenak, aku edarkan pandangan. Sebuah ruangan yang tak asing. Ruangan sebuah redaksi yang dipenuhi meja komputer. Lima reporter sibuk menulis di depan komputer. Di sudut ruangan, dua layouter sedang mengolah desain. Dari kaca terang yang tembus pandang, aku menatap ruang terpisah, tempat pimred Anggun. Ia duduk menyandarkan kepala, seraya menatap langit-langit.

Gamang, aku melangkah. Tetapi, satu langkah kakiku yang kemudian menginjak lantai redaksi, rupanya menimbulkan ruangan itu terusik dengan kehadiranku. Semua menoleh sebentar ke arahku --sebelum kemudian melanjutkan kerja kembali.

“Jika orang Indonesia sibuk seperti orang-orang yang ada di sini, Indonesia pasti tak akan jadi negara miskin dan banyak utang...” gurauku saat berdiri di tengah ruangan.

“Setiap kali datang ke Anggun selalu menjadi pengganggu!” jawab Imam Ma`ruf, pimred majalah Anggun dari balik ruangan.

Aku menoleh ke arahnya. Dari balik kaca ruangan, aku mengumbar senyum yang sumbang seraya melangkahkan kakiku memasuki ruangannya, lalu duduk di depannya. “Setiap aku datang ke sini, suasana redaksi selalu mencekam seperti ruangan mayat di rumah sakit. Tak ada senyum. Tak ada tawa...”

“Biasa, lagi deadline...” ujarnya pendek “Oh, ya... kau sibuk apa? Daripada datang cuma menjadi pengganggu, mending kau membantu menulis untuk rubrik kata buku di majalah Anggun. Aku tak ada waktu lagi...”

“Tapi aku tidak ada buku yang bertema pernikahan yang cocok untuk diresensi di majalah Anggun...” jawabku pendek.

Ia tidak menjawab, tetapi berdiri, mendekati rak buku, memilih sebuah buku dari deretan buku yang ada: buku bersampul merah. Ia kemudian meletakkan buku itu tepat di depanku, “Ini buku yang bisa kau resensi...”

Aku meraih buku di hadapanku –buku berjudul Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta, karya Salim A. Fillah. Aku membalik halaman buku itu, menimang waktu yang harus aku butuhkan untuk membaca, dan menulis menjadi sebuah resensi. Memang tak sulit bagiku membuat resensi buku mengingat aku sudah bertahun-tahun menulis resensi di media masa. Tapi, kecepatan membaca di saat deadline yang pendek, membuatku harus kerja keras.

“Tak sulit memang membuat resensi. Tapi kerja ikhlas dengan tanpa honor inilah yang membuatku tidak bisa berpikir dengan cepat,” jawabku sambil tertawa.

“Sesekali menulislah dengan ikhlas, tanpa menghitung honor,” timpalnya dengan tawa yang keras. “Siapa tahu, kelak di kemudian hari kau akan mendapatkan berkah dari keikhlasanmu ini...”

Aku hanya diam, kemudian merenung...

/2/
TAK ada satu kejadian yang terjadi secara kebetulan dalam hidup ini. Itulah titik awal aku berkenalan dengan buku terbitan Pro-U Media. Malam itu, aku membaca buku itu dengan mengerahkan jurus cepat. Maklum, deadline menghadang di ujung waktu dan aku harus segera menulis resensi buku tersebut.

Waktu itu, aku belum menikah. Jadi, hembusan pesan yang digemakan oleh sang penulis hanya memberiku suntikan untuk bisa mengamalkannya jika kelak di kemudian hari aku menikah. Tapi, satu hal yang membuatku tergugah setelah membaca buku itu adalah keinginan untuk bisa menulis buku.

Semua itu, memang bukan sebuah kebetulan, karena setelah itu aku mendapat tempat di redaksi Anggun. Aku kerap datang ke kantor redaksi Anggun, membaca buku-buku kiriman dari penerbit --termasuk buku kiriman dari kelompok Pro-U Media. Juga berkah yang lain, aku kemudian jadi kontributor yang mengisi resensi buku, cerpen dan beberapa rubrik lain di majalah Anggun. Kesempatan itu yang mengantarku berkenalan dengan bapak Fauzil Adzim ketika suatu hari penulis bestseller itu jadi narasumber pada acara seminar di Universitas Indonesia dan Imam Ma`ruf mengajakku menjemput pak Fauzil Adzim untuk berbincang-bincang tentang rubrik “kolom Fauzil Adzim” tentang pernikahan yang sudah lama ada di majalah Anggun.

Siang hampir berganti sore. Setelah berbicang “panjang” tentang rubrik tersebut dan berbagai tema seputar pernikahan, Imam Ma`ruf menawarkan diri mengantar ke Bandara Soekarno Hatta. Senja masih menggantung di langit, tatkala sampai di bandara, dan waktu ternyata masih tersisa cukup panjang. Dalam kesempatan itu, aku berbincang dengan bapak Fauzil Adzim tentang penerbitan dan buku-buku best-seller yang dia tulis. Tapi bagiku, ada satu pertanyaan menganjal dan ingin aku telisik lebih jauh lagi tentang kesuksesan bapak Faudzin Adzin dalam menulis buku.

“Saya sudah membaca beberapa buku yang bapak tulis meskipun harus saya akui tidak semuanya. Tapi saya tidak menutup mata, hampir semua buku yang bapak tulis bisa menjadi best-seller,” aku menarik napas panjang, diam sejenak, sebelum kemudian melanjutkan, “Ini terkait buku-buku yang bapak tulis..., di balik itu sebenarnya faktor apa yang berperan penting bisa menjadikan hampir semua buku bapak bisa best-seller?”

Bapak Fauzin Adzim menoleh ke kerumunan orang di bandara Soekarno-Hatta. Orang-orang hilir mudik, orang-orang seperti berjalan dengan bergegas. Sementara aku, Imam Ma1ruf dan bapak Fauzil Adzin duduk santai di depan bandara membunuh waktu. Tetapi, tanpa aku sadari, tiba-tiba bapak Fauzil Adzim menjawab dengan pendek “Saya sebenarnya tak memiliki pretensi yang cukup melambung. Saya menulis buku di mana hal itu menurut saya bisa bermanfaat bagi orang lain...”

Aku mengangguk. Sesuatu yang terkesan sepele.

“Sekarang ini, saya sebenarnya sedang merencanakan untuk menulis buku. Tapi, saya masih bingung dengan tema yang hendak saya tulis. Mungkin novel, atau bisa jadi sebuah memoar. Apa kira-kira resep yang ingin bapak usulkan seputar tema buku yang bisa saya tulis?”

“Tulislah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan cara itulah, buku yang kau tulis pasti akan dibaca orang!” jawab bapak Fauzil Adzin.

Senja turun pelan, seiring gugusan pelangi yang mengguratkan warna jingga di cakrawala. Tak lama kemudian, Fauzil Adzim terbang ke Yogyakarta. Tapi, ucapan bapak Fauzin Adzim itu seperti menggenangi pikiranku, bahkan terkenang dalam ingatan...

/3/
Keinginanku untuk menulis sebuah buku tentang pengalaman menulis di media massa -yang pernah aku ceritakan pada bapak Faudil Adzim— sebenarnya sudah cukup lama aku konsep. Tetapi, setiap kali keinginan itu melingkupi pikiranku, ada segumpal keraguan yang menyergap: “aku merasa tidak percaya diri”.

Hingga suatu hari, aku berkesempatan bertemu Mas Cecep Romli [dari penerbit Adelweiss] di sebuah rumah makan padang di daerah Ciputat. Dalam pertemuan itu, aku iseng-iseng menceritakan sepenggal kisah dari pengalaman hidupku. Di luar dugaanku, Mas Cecep ternyata menanamkan api dukungan dan mendorong nyaliku agar aku tidak perlu digenggam keraguan dan segera menulis pengalamanku ini dalam sebuah buku. Ia bahkan berjanji, kelak akan menerbitkan jika sudah jadi buku.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku kembali terjerumus ke dalam lumpur keraguaan. Janji itu tak mampu menyulut inspirasiku tergerak menulis. Setahun berlalu, aku bergeming. Aku seperti tidak memiliki nyali, tak punya hasrat yang kuat untuk dapat menulis. Keinginan itu lantas pudar. Niat untuk menuangkan pengalaman itu, akhirnya mengendap dalam lorong waktu.

Setelah aku menikah, keinginan menulis buku itu kembali berkelebat. Dorongan itu datang dari istriku. Setiap kali ia dilanda letih setelah mengajar, aku menceritakan sepenggal demi sepenggal kisahku sebagai dongeng pengantar tidur. Di luar dugaanku, setelah aku menceritakan hampir seluruh pengalamanku, ia memintaku menuliskan pengalamanku itu dalam sebuah buku memoar.

Tetapi, impitan hidup kerap kali menjebol tembok ketangguhanku. Aku bahkan dihinggapi kejenuhan untuk menulis. Selama dua bulan, aku tak menulis sebagai penulis freelance di media. Satu hal yang nyaris membunuhku dalam ruang rumpil yang ganjil. Pasalnya, media massa itu ibarat “sawah ladangku” sejak aku mulai menulis. Anehnya, selama dua bulan itu aku seperti lupa dengan masa lalu, lupa perjuanganku yang penuh leleran keringat untuk berjuang menembus media koran atau majalah...

Hingga suatu hari, aku merasa tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk istriku, aku merasa tak berguna karena tidak bisa membuatnya bisa meraih kebahagiaan seperti umumnya kehidupan orang berumah tangga. Pada titik itulah, aku kembali ingat buku Barakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta, karya Salim A. Fillah. Aku yakin buku itu ditulis untuk orang lain –sebagaimana pernah diucapkan bapak Fauzil Adzim kurang lebih 3 tahun lalu. Sebelum terbang ke Yogya, ia sempat berpesan. “Tulislah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan cara itu, buku yang kau tulis akan dibaca orang!”

Selama 3 tahun, ucapan itu masih terekam kuat di otakku, jadi obor yang mampu menyalakan sisa ingatanku untuk menulis buku memoar. Jadi, dari obor itu aku lantas memberanikan menulis pengalamanku -berbagi pangalaman dan menularkan sepenggal perjuangan dalam merebut halaman koran. Dengan menulis itu, aku berharapa di kelak kemudian hari akan memberikan manfaat bagi orang lain. Jika tidak mampu memberi manfaat bagi orang lain, setidaknya aku sudah berusaha menjadikan diriku bermanfaat bagi istriku.

Sekarang buku memoar yang aku tulis itu (berjudul Tidur Berbantal Buku) sudah selesai dan ada di salah satu penerbit di Jakarta. Dalam waktu dekat, buku itu pun akan terbit. Ini memang berkah dari suatu peristiwa, yang terangkum dari rentetan panjang berbagai kejadian, yang tidak terjadi secara kebetulan. ***



Tidak ada komentar: