Minggu, 09 Februari 2014

Subuh Kesembilan

Cerpen ini dimuat di Republika, Minggu 9 Februari 2014

SUBUH. Mobil jeep melaju kencang dari arah Selatan, melintasi sebuah mushalla, lalu berhenti di tikungan jalan. Suara musik dari sound mobil memekakkan telinga. Seorang lelaki berumur tiga puluh lima tahun turun dari jeeb, lalu berjalan dengan gontai. Jeep menderu lagi dengan kencang, seperti pada Subuh yang lain, dan lelaki itu melangkah memasuki gang sempit ke arah rumahnya.


Bau alkohol masih menyeruak dari mulutnya bergumul dengan aroma busuk selokan di pinggir gang yang mampet. Lelaki itu hampir terpeleset saat kaki kirinya tanpa disadari menginjak lumut di pinggir gang. Untung, ia bisa menjaga keseimbangan, tak tercebur selokan. Sejenak ia menyandarkan tubuh ringkihnya di tembok rumah warga. Dalam keadaan mabuk, ia merasa gang ke arah rumahnya itu jauh. Ia seperti berjalan tak sampai-sampai. Padahal jarak tikungan dengan rumahnya tak sampai tiga ratus meter.

Adzan Subuh berkumandang. Ia menggigil; seperti merasa ada suara gaib yang merambat di telinganya. Ia masih bersandar di tembok. Suara adzan itu semakin mendenging jelas di telinganya. Ia pun mendengarkan adzan hingga selesai.

Tatkala dia hendak melangkah pulang, dari arah depan gang, ia sekilas melihat sosok kakek tua bersurban yang berjalan tertatih dengan tongkat. Sudah seminggu ini, ia selalu bertemu kakek itu di gang. Kakek itu berjalan ke masjid, dia melangkah pulang. Tapi, kali ini ia baru sadar, kakek itu bukan warga asli kampungnya. Lalu siapa kakek itu? Tapi saat ingatannya belum menemukan jawaban, ia melihat keanehan lain. Surban si kakek memancarkan pendar cahaya putih berkilau, membuat matanya silau. Ia hanya termangu diam seperti patung.

Kakek itu terus berjalan dalam gugusan cahaya dan tiba-tiba sudah ada di depannya.  

"Selalu ada rumah untuk kembali," ucap kakek tua itu.

Ia tahu, kakek itu berbicara dengannya.

"Ada tempat yang bisa membuat hatimu lebih tenteram, kenapa kau mencarinya di tempat lain?" 

Sebenarnya, ia tak paham ucapan kakek itu. Ia ingin bertanya. Sayang, mulutnya terkunci. Ia tak bisa mengucap sepatah kata pun. Bahkan setelah kakek itu menegurnya, ia merasa ada tangan gaib yang mengangkat tubuhnya untuk minggir, seakan-akan dia disingkirkan dari gang itu untuk memberi jalan kakek itu bisa melangkah. Dan benar, kakek itu lalu melangkah ke mushalla. Tertatih-tatih. Ia memandang dengan bingung, hingga kakek itu masuk mushalla.

Ia urung melangkah pulang. Ia penasaran, berbalik arah melangkah ke tikungan, mengintip ke ruang mushalla. Tidak lama kemudian, orang-orang di mushalla berdiri. Shalat berjamaah pun dimulai. Ia melihat orang-orang di mushalla itu tenteram, dan bahagia.
                                                                             ***

DULU, lelaki itu dikenal warga bukan sebagai pemuda yang suka mabuk, dan pulang Subuh. Ia justru dikenal orang-orang kampung sebagai pemuda yang membanggakan; penyanyi yang berbakat. Pemuda itu bahkan pernah mengangkat nama kampungnya karena ia pernah mengisi acara musik di televisi swasta Nasional. Ia jadi bahan pembicaraan orang-orang. Di kampungnya, nama lelaki itu tenar, dan sering dijadikan teladan, dan contoh orang sukses yang merantau ke Jakarta. Para remaja mengidolakan dan ingin meniru jejak lelaki itu merintis jalan hidup menjadi penyanyi.

Dua tahun berselang, tidak ada satu orang pun yang tahu apa yang menimpa lelaki itu. Namanya perlahan meredup. Group band yang didirikan bubar. Ia seperti hilang dari dunia. Orang-orang tak pernah lagi mendengar namanya, bahkan kemudian mulai melupakan lelaki itu sebagai warga kampung.

Hingga suatu hari, dia pulang kampung. Tapi ia berubah: suka mabuk dan pulang dini hari. Orang-orang kampung seketika heran. Maklum, dulu, saat masih remaja hingga tamat SMA, dia pernah belajar agama di sebuah pesantren. Jadi, dia bukan pemuda yang tak mengenal agama. Ia sepenuhnya tahu: mabuk itu dilarang agama. Tapi, kehidupan kota Jakarta, kata orang kampung, bisa mengubah orang baik menjadi tidaK baik, termasuk pemuda itu.

Dari desas-desus yang beredar, orang kampung mendapat kabar bahwa lelaki itu frustasi ketika ia tak kuasa menundukkan persaingan dunia musik di ibu kota. Ia tersisih dan dipinggirkan. Pemuda itu kemudian menjadikan minuman keras sebagai tempat pelarian. Ia dulu bukan antipati minuman keras, kadang-kadang ikut minum. Tetapi, tidak kecanduan. Sejak ia tak lagi dikenal, dan tak memiliki jadwal manggung itulah ia mulai suka minum. Lama-lama, ia kecanduan.

Sayangnya, di Jakarta ia tak lagi bisa mendapat uang dengan mudah. Ia tak lagi seberuntung dulu. Lama-lama, dia tidak kuat hidup di Jakarta, apalagi menghabiskan waktu dengan minum. Setahun lalu, ia memutuskan pulang dan tinggal di kampungnya. Kebetulan, di kampung sebelah ada pemuda kaya yang suka musik dan punya band. Ia diminta untuk jadi pemandu. Dari situlah, ia bisa mendapat uang walau tidak seberapa. Setiap malam, ia tidak kehilangan akal untuk mendapatkan apa yang diinginkan: ia pun nongkrong di tempat mangkal anak-anak muda. Ia diminta mengajari main gitar dan bernyanyi. Dari situ, dia mendapatkan imbalan minuman, bisa mabuk dan baru pulang Subuh.
                            ***
   
TAPI semakin jauh ia tenggelam dalam dunia malam, ternyata ia merasa tak mendapatkan kedamaian. Awalnya, ia berharap, pelarian itu bisa memulihkan impiannya bisa membentuk band lagi seperti dulu, dan bisa bernyanyi lagi. Tapi, di kampung kecil itu, ia tak bisa berbuat banyak. Ia merasa hidupnya semakin suram.

Akhirnya, Subuh yang mendebarkan itu ia bertemu kakek tua yang membuatnya merenung. Ia melihat orang bisa mendapatkan kebahagiaan di mushalla. Dia ingat masa lalunya ketika hidup di pesantren. Subuh sudah bangun, dan mandi rebutan kamar mandi, lalu shalat jamaah di masjid pesantren. Ada nuansa damai yang menelusup dalam hati. Ia merindukan suasana seperti itu lagi.

Subuh itu, setelah ia melihat orang-orang shalat berjamaah di mushalla, ia buru-buru pulang. Jalannya sempoyongan dan matanya masih merah. Ia mengguyur seluruh tubuhnya, kemudian shalat Subuh. Itulah shalat Subuh yang ia tunaikan dengan syahdu setelah hampir lima tahun ia tak shalat.
                            ***

SUDAH seminggu ini, ia mengurung di kamar, dan tidak keluar rumah. Ia mengaku sakit ketika ada teman-temannya mencari atau mengajaknya pergi. Padahal, ia sedang merenung. Ia merenungkan kejadian aneh Subuh itu. Tapi, setiap kali ia merenungkan kejadian itu, ia tak pernah menemukan jawaban. Apalagi, sosok kakek tua itu. Ia kenal setiap wajah orang di kampungnya. Jadi, ia tak mungkin salah. Lalu, siapa kakek itu?

Diam-diam, sejak kejadian itu, esoknya ia ikut shalat Subuh di mushalla. Tapi ia tak pernah lagi bertemu dengan kakek itu. Semula, ia berpikir, kakek tua itu mungkin sakit. Tetapi ia penasaran. Ia pun ikut shalat jama`ah Dhuhur, Asar, Maghrib, atau Isya`. Siapa tahu, pada shalat lain itu ia bisa bertemu kakek itu.

Tapi ia tetap tak bertemu kakek misterius itu. Ia putus asa dan ingin melupakan kejadian Subuh yang menggetarkan itu. Tapi pada Subuh kesembilan, sejak kejadian menggetarkan itu, selesai mengucap salam, ia melihat kakek tua itu ikut berjamaah. Kakek itu persis ada di belakangnya. Ia memutuskan; usai dzikir ia akan menemuinya dan mengajaknya bicara. Tapi, begitu usai dzikir, dan jamaah bubar, lalu ia menoleh, kakek itu sudah tidak ada. Ia buru-buru keluar dari mushalla, mengejar jejak kakek itu. Ia pikir, tak mungkin orang tua itu sudah melangkah jauh. Benar, ia menemukan kakek itu berjalan tertatih di gang, tepat ia bertemu dengannya pada Subuh yang menggetarkan.

Ia pun berlari ingin menuntun kakek itu berjalan. Tetapi begitu sudah dekat dengan kakek itu, tiba-tiba orang tua itu menghilang.

Ia celingukan.

"Tak mungkin!" Ia mengusap matanya. Ia tak percaya apa yang terjadi.

Sementara itu, di belakangnya, empat orang kampung yang tadi ikut jamaah Subuh pulang melintasi gang itu. 

"Gito, kau sedang mencari apa?"

Ia diam tak menjawab. Ia bingung. Ia seperti orang mabuk yang tak tahu apa pun.

"Uangmu hilang di gang ini?" tanya yang lain.

Lelaki berumur tiga puluh lima tahun itu pun makin pusing. Apalagi, ketika ia kemudian bertanya kepada mereka tentang sosok kakek tua bersurban yang berjalan tertatih dengan tongkat kayu, dan sering ikut jamaah Subuh. Keempat orang kampung itu menggeleng, dan merasa tak pernah melihat apalagi mengenal kakek tua bersurban putih yang ikut shalat Subuh berjamaah.

"Benarkah?"   

Keempat orang itu saling pandang. Mereka mengira bekas penyanyi itu mabuk lagi dan benar-benar belum taubat.***

Jakarta, 12/11/2013

*) N. Mursidi, cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Republika, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Nova, Majalah Femina, Majalah Anggun, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Batam Pos, Radar Surabaya, Surabaya Post, Surya, Lampung Post, Bengawan Post, Solo Post, Inilah Koran, Suara Merdeka, dan Tabloid Cempaka. Dia bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. Karya terbarunya: Tidur Berbantal Koran (Elex Media: 2013)

1 komentar:

Ardian zakaria mengatakan...

tulisan yang sangat bagus dan
Bisnis Sampingan Modal Kecil