Minggu, 05 Januari 2014

Tak ada Bidadari Pada Malam Tahun Baru

cerpen ini dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 5 Januari 2014

/1/
APAKAH perempuan misterius yang mengirimiku pesan pendek pada malam tahun baru itu adalah bidadari?

Malam itu, aku tiba di rumah. Perjalanan jauh dari Jakarta, ternyata tidak mampu membuatku langsung tertidur. Sekadar mengusir sepi, aku mengirim pesan pendek ke beberapa kenalan.


Tapi setengah jam berlalu, aku tak mendapat balasan. Satu jam, ponselku seperti beku. Aku menaruhnya di meja, lantas menarik selimut. Saat aku memejamkan mata, ponselku bergetar. Ada pesan masuk, tapi aku malas membukanya.

Terompet tahun baru terdengar lagi. Satu dua petasan meletus disusul petasan lain. Aku heran orang-orang di kampungku kini sudah seperti orang kota; merayakan tahun baru. Padahal, saat aku kecil, tak ada petasan dan kembang api saat pergantian tahun. Kesiur angin seperti merintih, daun-daun di pekarangan bergoyang dan merambatkan irama ganjil. Aku berusaha memejamkan mata. Tapi kantuk tak kunjung menyergapku. Aku mengambil ponsel. Malam menggigilkan tengkukku saat aku lihat di layar ponsel; nama perempuan itu lagi.

Malam itu, ia mengirimiku pesan pendek lagi. Sebuah pesan yang menggiringku pada ruang yang rumpil, dan menyudutkanku di lorong sepi. Ia mengutukku pada malam tahun baru.

/2/
AKU tak mengenal perempuan itu kecuali lewat sebuah perkenalan yang tak terduga, tepat lima hari sebelum tahun baru.

Siang itu, aku disergap bingung setelah mencari buku di rak, tak menemukan buku yang kucari. Aku tercenung, mengingat terakhir kali menyentuh buku itu. Lalu, tiba-tiba, aku dikejutkan getar ponselku. Aku meraihnya. Tak kusangka, ternyata pesan itu datang dari nomor asing. "Aku nawang, boleh kenalan? Jika tak keberatan, siapa namamu?"

"Boleh! Tapi, kau dapat nomor-ku dari mana?"

Tak ada balasan. Hingga tengah malam, pesanku tak dibalas. Aku berkesimpulan; ia iseng.
   
/3/
Tapi, betapa terkejut ketika bangun tidur, aku mendapat pesan balasan. Aku buka. Lagi-lagi, aku dikejutkan perempuan misterius itu. "Aku dapat nomormu dari temanku yang kaubenci setengah mati," balasnya.

Aku tak punya musuh, mengapa kini ada perempuan menuduhku membenci orang sampai setengah mati? Aku membalas, "Maaf, aku tak pernah membenci siapa pun. Tak ada alasan aku benci temanmu setengah mati! Mungkin, kau salah orang..."

Tak ada balasan. Aku kecewa. 

Tengah malam, pesan singkatku belum dibalas. Aku berkesimpulan; ia iseng.
                   
/4/
TIGA hari lagi tahun baru, dan aku sudah mengambil cuti. Siang itu, aku membeli tiket di stasiun. Saat antre, iseng-iseng aku mengirim pesan kepada kekasihku. Tak sampai satu menit, ada pesan masuk. Aku senang. Tetapi, aku salah. Pesan yang menelusup justru dari perempuan misterius itu.

"Tidak! Aku tak salah. Aku hanya heran, kenapa kau membenci temanku setengah mati, sampai tega menuduh ia gila?"

Deg! Jantungku berdetak. Angin berhembus kencang, seakan badai datang tiba-tiba. Apa ia itu Ani, adik kelasku waktu kuliah di Yogyakarta? Aku menahan napas, tak membalas pesannya! Tapi, aku penasaran: siapa dia?

Orang di depanku yang antre tiket sudah berlalu, dan aku mendapat giliran maju. Akhirnya, aku mendapatkan tiket yang akan membawaku pulang esok hari.

/5/
SELEPAS subuh, kereta membawaku pulang. Aku menyandarkan tubuh, ingin tidur. Tapi belum sempat disergap mimpi, tiba-tiba pesan singkat masuk hpku. Penasaran. Aku buka. Apalagi, ibu sudah berkali-kali menanyakan kepulanganku.

Tapi, lagi-lagi aku tertipu. Pesan itu bukan dari ibu melainkan dari perempuan itu lagi. "Kenapa kau menuduh ia gila? Bukankah kau yang sebenarnya gila?" tulisnya, singkat dan padat.

Hatiku bergemuruh, dibakar amarah. Semestinya, aku menelponnya untuk menjelaskan duduk perkara agar ia tak sembarang kirim pesan. Tapi, aku urung.

Kereta seperti merangkak, membawaku ke kampung. Dan aku memilih tidur...

/6/
SAAT sampai Semarang, aku terbangun. Tapi lagi-lagi perempuan itu membuatku tercekat. Ia mengirim pesan lagi.

"Kau belum tahu, siapa sebenarnya nama temanku yang kau tuduh gila itu khan? Ia Susan. Kini ia di Jepang. Kau mungkin bisa menghubungi, jika mau nanti kukasih kontaknya."

Oh, aku baru tahu jika teman perempuan misterius itu Susan. Sosok perempuan yang tak pernah kukenal, tetapi ia merasa kenal denganku.

Kini, aku tahu; ia salah paham.
   
/7/
SEHARI sebelum tahun baru, aku akhirnya tiba di rumah. Ibu memelukku, seakan aku anak hilang yang baru pulang.

"Ibu sudah siapkan ikan sotong yang katamu, selalu membuatmu tak betah tinggal di Jakarta karena di sana tidak seenak yang ibu buat." rayu ibu, membuat perutku seketika digaruk lapar.

Aku buru-buru makan. Setelah kenyang, ibu minta aku segera tidur.

/8/
MALAM merambat. Tahun sebentar lagi berganti. Terompet dan petasan seperti memecah malam. Aku tidak bisa tidur. Letih nyaris melumat sekujur tubuhku.

Tetapi, malam itu, ia mengirimiku pesan lagi. Pesan yang menggiringku pada ruang yang rumpil, menyudutkanku di lorong sepi. Aku tercekat.

"Benar kata Susan, kau memang lelaki gila. Tahu tidak? Dendam Susan padamu bagai petir! Siapa sebenarnya temanmu itu, yang tega melukai Susan dan kau diam? Ternyata, sebagai temannya, kau itu tak ubahnya binatang juga!" tulisnya. Menyakitkan!

Hatiku pedih. Tapi aku tak membalas dengan pedas. Aku ingat pesan kiai yang pernah kukunjungi, jika kau diumpat orang dengan pedas bahwa kau dikata mirip binatang justru kau harus bersyukur. Pasalnya, binatang di sisi Allah itu tak punya dosa. "Umpatan itu mirip sebuah doa," ujar kiai itu.

Maka aku membalas sopan. "Amin! Kau menganggapku orang gila bahkan binatang. Bukankah orang gila dan binatang itu tak punya dosa di sisi Allah? Terima kasih pada malam tahun baru kau mendoakanku tak punya dosa --seperti orang gila dan binatang yang tak punya dosa."

Tapi, ia malah membalas lebih pedas. Ia seperti tak tahu, jika malam tahun baru seharusnya ia merenung dan mengoreksi diri, bukan justru mengumbar kutukan. "Apa? Kau mengangap dirimu tidak punya dosa? Munafik! Bagaimana tak nyata saat kaulihat temanku terpuruk? Malah kau sms kepada temanku dan menuduh ia itu wanita gila dan pantas masuk rumah sakit jiwa. Ingat baik-baik ya... apa otakmu bisa disebut sebagai manusia saat Jum`at kelabu kau lihat temanku hampir mati bunuh diri, sedang engkau berpangku tangan? Cihhh..., tak malu mengaku sebagai orang suci!" balasnya, panjang dan menyulut amarah.

Kini aku tahu; ia benar-benar tidak tahu dan salah paham.
   
/9/
Aku beranjak dari ranjang, mendekat ke arah jendela dan mendongak ke langit. Tak kulihat sekelebat perempuan berjubah putih. Tak ada bidadari pada malam tahun baru... ***
       
Condet, Malam Tahun Baru 2014
   
*) N. Mursidi, cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Republika, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Nova, Majalah Femina, Majalah Anggun, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Batam Pos, Radar Surabaya, Surabaya Post, Surya, Lampung Post, Bengawan Post, Solo Post, Inilah Koran, Suara Merdeka, dan Tabloid Cempaka. Dia bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. Kumpulan cerpennya yang sudah terbit “Dua Janji” (2010).

5 komentar:

komarudin tasdik mengatakan...

Izin membaca ya Mas....! Salam kenal :)

komarudin tasdik mengatakan...

Izin baca ya Mas...
Salam kenal dari saya yang sedang belajar ingin bisa menulis :)

Nur Mursidi mengatakan...

silakan, mas. salam kenal balik

Rizal Gueci mengatakan...

Terima kasih mas, sudah menikmati cerpen ini. Dari judul cerpen, aku tertarik memcaca sampai selesai. Karena tokoh "aku" , aku duga sendiri, benar juga ternyata sampai selesai sendiri.Tokohnya baik sabar membalas sms. Kenapa mas klo bidadari, mulai apakah bukan sipakah, kalau peri juga apakah? Mas malam tahun baru berada di Condet ya. Aku di Solo.

Nur Mursidi mengatakan...

"apakah" menunjukkan satu pertanyaan apakah benar itu bidadari atau tidak, terima kasih mas.... saya di conder, pas tahun baru dan menulis cerpen ini... lbih tepatnya merevisi cerpen ini, krn cerpen ini cerpen lama yg saya olah kembali.