Minggu, 11 Januari 2009

usia pernikahan

cerpen ini dimuat di majalah Anggun edisi 6/bulan Januari 2009

SENJA itu, aku berdiri dibalik jendela kamarku tenggelam dalam labirin kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Senja mengambang di langit, dan matahari hampir tenggelam. Tetapi, ada yang menyelinap dalam pikiranku, dan seperti terkenang dalam ingatan ketika senja turun dengan pelan dan pelangi yang indah muncul dengan tiba-tiba menyibak keremangan. Aku yang melihat senja bertahun-tahun, seperti tidak sabar menunggu suatu hari yang menentramkan di mana seorang lelaki datang meminangku karena aku sudah beranjak dewasa; memasuki usia pernikahan.



Kini…, aku sudah dewasa. Usiaku menginjak dua puluh enam tahun. Seperti kekal dalam kenangan, ketika aku masih kecil dulu dan ibu sering mengajakku pergi ke pantai tepat selepas ayah mengambil uang gajinya. Mataku berbinar, sewaktu aku digandeng ibu berjalan di tepi pantai, lalu saat matahari hampir tenggelam, ibu menunjuk ke arah Barat; aku melihat matahari tenggelam di peraduan seakan hanyut di pusaran laut.

Tapi senja ini, aku tidak bisa menikmati mentari yang hampir tenggelam, lantaran dari balik jendela aku tidak melihat sosok lelaki yang sudah aku tunggu dengan cemas muncul di tikungan. Padahal, mentari hampir tenggelam dan sudah setengah jam yang lalu, aku berdiri di balik jendela seraya menatap tikungan dengan tatapan hampa. Apa ia tidak akan datang ke rumahku lagi dan takut dengan sikap ayah yang sudah dua kali menolak keinginannya untuk menyuntingku?

Hatiku mulai cemas. Aku mengharap ia datang. Tapi, setengah jam telah berlalu aku justru disergap cemas, lantaran ia tak juga muncul dari balik tikungan. Kakiku terasa kaku. Aku sudah lama berdiri menunggunya dengan sabar. Tapi, aku ternyata disergap kecewa karena ia tidak juga muncul dari balik tikungan. Aku melangkahkan kakiku, ingin rebah di ranjang. Ingin rasanya, aku menangis…

Tetapi saat aku ingin melangkah pelan, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dari balik tikungan. Aku kembali menengok ke luar jendela. Aku lihat, dia turun dari taksi, lalu berjalan ke rumah dengan langkah tegap seperti pangeran. Hatiku berdegup kencang, angin berhembus mengibaskan gorden di jendela. Hatiku bergemuruh, seperti diterjang ombak. Lalu, lekaki itu membuka pintu pagar rumahku dengan derit menyanyat. Ayah yang lagi duduk di beranda ditemani oleh ibu, mungkin hanya memandangnya heran. Aku tahu, ayah pasti tidak menghendaki kedatangannya!

Tapi aku telah memaksanya datang kembali, setidaknya untuk yang terakhir kali. Dan senja ini, ia datang memenuhi permintaanku! Aku sungguh, bahagia melihat senja turun dan lelaki itu datang kembali ingin meminangku…

Setelah lelaki itu, aku tahu telah menginjakkan kaki di beranda rumah, aku tidak mendengar suara ayah menyambutnya dengan hangat, tapi lamat-lamat aku mampu mendengar kekasihku mengucap salam. Ingin rasanya, aku menghambur ke beranda, menyambut laki-laki itu dengan hangat; menyuguhkan segelas minuman untuk melepas dahaganya. Tetapi aku disergap takut.

Masih kuingat dalam labirin kenangan, perihal kedatangan lelaki itu sebulan lalu, tatkala dia benar-benar ingin menikahiku. “Engkau tahu, tidak!” ucapnya dengan tegas seakan-akan memintaku untuk mendengarkannya, “Aku ini sudah lama mendambakan seorang calon istri yang berjilbab, pintar dan bisa mendampingi hidupku. Aku memang belum lama mengenalmu, tetapi aku yakin bahwa kamu adalah wanita yang selama ini aku dambakan. Karena itu, aku ingin segera meminangmu…”

Aku seperti disambar petir. Maklum, perkenalan kami baru berjalan dua minggu, tapi ia sudah merasa yakin bahwa aku ini adalah wanita yang selama ini ia cari susah payah. “Aku belum bisa menjawab niat baikmu, mungkin kamu bisa memberiku waktu untuk berpikir.”

“Aku serius, jadi jangan kamu anggap main-main!” jawabnya, memintaku untuk segera memberi jawaban. “Aku selalu tidak salah dengan apa yang aku yakini, dan kau adalah calon istriku yang selama ini kuimpikan!”

Aku tidak menjawabnya, tapi dia seperti tidak mau luluh dengan diamku.

Hingga waktu berjalan tujuh bulan dan dia seperti tidak henti-henti memintaku untuk memberikan jawaban. “Sampai kapan aku akan sabar menunggumu? Apa kau masih belum melihat dan yakin dengan keseriusanku?” cercanya pada suatu senja saat ia menjemputku dari tempat kerja.

“Jika kamu serius, datanglah ke rumah dan temui ayahku!” jawabku kala itu.

Dia ternyata tidak main-main. Sebulan yang lalu, dia membuktikan diri datang ke rumah menumui ayahku. Tetapi ayah tidak pernah membuka pintu bagi lelaki itu selama kak Nouri, kakak perempuanku yang berusia dua puluh delapan tahun belum menikah. Ayah tak ingin aku melangkahi kak Nouri, “Aku tak keberatan dengan hubungan kalian, tapi aku tak akan pernah menerima pinanganmu selama Nouri belum menikah terlebih dulu.”

Hatiku seperti remuk. Aku yang berdiri di balik pintu ruang tamu, bak mendengar gelegar petir yang menyanyat hatiku. Tak pernah aku bayangkan, ayah bisa keras dan tak menerima niat baik lelaki itu yang sudah datang ke rumah dengan baik-baik, ingin meminangku. Maka lelaki itu akhirnya pulang dengan memendam kecewa.

Selepas kepergian lelaki itu, aku menghambur ke ruang tamu. Aku bersimpuh di bawah kaki ayah, “Kenapa ayah menolaknya? Sampai kapan aku menunggu kak Nouri nikah, padahal aku sudah berumur dua puluh enam tahun?”

Ayah tetap kaku, “Aku tidak ingin kamu melangkahi kakakmu!”

“Tetapi, aku sudah meminta persetujuan kak Nouri dan kak Nouri tidak keberatan aku menikah dulu, ayah! Apalagi tidak ada aturan agama yang melarang seorang adik nikah lebih dulu. Ini hanya tradisi dan adat saja yang kadang dipandang tidak etis!”

Ayah diam, lalu berdiri, “Aku tetap tidak merestui pernikahan kalian selama Nouri belum menikah!”

Hatiku berdegup kencang, tatkala lelaki itu mulai membuka pembicaraan. Tidak kudengar ayah angkat bicara tetapi aku yakin suasana di beranda terasa kaku. Apakah senja ini dia akan pulang dengan memendam kecewa dan tak mampu menundukkan hati ayahku sebagaimana kedatangannya untuk pertama kali dan kedua kali dulu? Aku memanjatkan do`a, berharap ayah membuka hatinya setelah melihat keteguhan lelaki itu datang meminangku kembali untuk ketiga kalinya.

Senja hampir gelap. Hatiku kembali bergemuruh. Masih kuingat, betapa ayah, di mataku, tergolong orang yang keras, tak pernah mau membuka hati. Bahkan saat lelaki itu datang kembali untuk kedua kalinya, dua minggu yang lalu, ternyata ayah kembali menolak. “Aku tak merestui kedatanganmu untuk melamar putriku,” jawab ayah tegas.

Lelaki itu kembali pulang, memendam kecewa. Tetapi, aku selalu membesarkan hatinya, memintanya kembali datang ke rumahku untuk meluluhkan hati ayahku. “Apa jaminanmu, jika aku datang ketiga kalinya meminangmu?” tuntut lelaki itu.

“Setidaknya, kamu sudah berupaya dan berusaha…”

“Baik, aku akan datang lagi tapi kedatanganku kalinya ini adalah kedatanganku untuk yang terakhir kali. Kalau, ayahmu tidak juga merestui, aku tidak akan datang lagi menginjakkan kakiku di beranda rumahmu untuk selama-lamanya!”

Hatiku bergidik. Senja hampir tenggelam, sepenuhnya. Tetapi apakah yang akan terjadi, jika ayah kembali menolak pinangan lelaki itu untuk ketiga kalinya? Apakah dia akan meninggalkanku, tak kembali lagi menginjakkan kaki di beranda rumahku apalagi meminangku kembali untuk selama-lamanya?

Semalam, aku sudah meminta ayah dengan tetes air mata. Aku merajuk, supaya ayah mau merestui pinangan lelaki itu, dan dengan segara aku bisa menikah. “Apakah ayah tidak pernah menengok sejarah, ketika ada lelaki yang menimang kak Nouri tetapi ayah menolak hingga kini kak Nouri tak pernah menerima pinangan laki-laki lagi?”

Muka ayah seperti memerah, mungkin pikirannya terkenang kejadian dua tahun yang lalu tatkala beliau dengan keras menolak pinangan seorang lelaki yang baik-baik hendak menikahi kak Nouri. Aku yakin, ayah tak akan pernah bisa lupa kejadian itu. Aku berharap ayah sadar dan berpikir jernih. Tetapi, tadi malam ayah diam, tak memberikan sebuah jawaban. Beliau kembali meninggalkanku bersimpuh di ruang tamu membuatku dirundung kecewa.

Untung, ibuku membelai kepalaku, seakan ibu tahu penderitaanku. Tetapi semua keputusan ada di tangan ayah. Jika ayah tak memberi restu, ibu tak akan bisa berkutik apalagi bisa membantu memutuskan jalan lempang masa depanku sehingga aku bisa menikah dengan lelaki itu.

Kembali, aku dengar sayup-sayup pembicaraan di beranda. Aku menajamkan pendengaranku, berharap bisa mendengar apa menjadi keputusan ayahku untuk lelaki itu yang senja ini datang kembali meminangku. Jendela kamar, kubuka lebar karena kali ini aku ingin mendengar jawaban melegakan; sebuah jawaban ayah yang membuatku diguyur bahagia lantaran ayah berubah pikiran.

Setelah lima menit lelaki itu duduk di beranda, aku mendengar lelaki itu angkat bicara, “Mungkin ini kedatangan saya yang terakhir kalinya dan saya tak akan kembali selama-lamanya untuk minta pada bapak agar merestui pinangan saya! Mohon, bapak dan ibu berpikir lagi bahwa saya datang dengan niat baik dan tidak akan kembali lagi setelah ini jika pinangan saya tidak diterima…”

Aku dengar ayah batuk-batuk, dan ibu hanya diam.

“Bagaimana, pak?” pinta lelaki itu. “Aku kembali meminta putri bapak…”

Kembali ayah batuk-batuk. Ibu hanya diam. Sementara, aku berdoa, berharap ayah berpikir kejadian dua tahun lalu yang menimpa kakak perempuanku, hingga ayah tak keberatan menerima pinangan lelaki itu.

Aku cemas, menunggu ayah menjawab, tapi tidak juga kudengar jawaban dari ayah. Mentari sudah tenggelam dan di balik jendela, aku tak lagi melihat warna pelangi di langit. Tapi aku berharap ayah berubah pikiran. Satu detik berlalu. Dua detik memuaii dalam degup jantungku yang mendebarkan. Hingga kemudian, ayahku angkat bicara, “Aku tetap tak akan menerima pinanganmu selama Nouri belum menikah…”

Mataku menjadi gelap, seiring turunnya petang yang tiba-tiba menggantung di langit. Dari balik jendela, kulihat lelaki itu membuka pintu pagar rumah, lalu melangkah dengan gontai. Ia berjalan dengan lemas, tidak seperti waktu tadi datang ke rumah. Ia berjalan seperti mengambang di atas tanah, dan aku tahu hatinya remuk.

Sementara itu, malam seperti turun dengan cepat, tiba-tiba halaman di rumahku dilingkupi gelap. Seberkas sinar lampu di beranda menyala tetapi tak mampu membuat terang jiwaku. Hatiku redum oleh jawaban ayah yang tidak memberikan jawaban untuk masa depanku. Samar-samar, aku melihat bayangan lelaki itu hilang di balik tikungan.

Lalu, tiba-tiba mataku kabur. Perutku terasa mual. Petang itu, rasanya aku ingin muntah. Apalagi, aku merasa ada denyut halus dalam perutku yang tiba-tiba melilit-lilit. Pedih. Perih. Aku merasa dalam perutku seperti ada seonggok daging yang menggeliat-geliat dengan halus. Aku sadar, sejak sebulan ini, perutku mulai seringkali mual, bahkan aku sudah kerapkali muntah.

Terhuyung, aku berjalan ke ranjang seraya meraba perutku. Aku sadar, perutku mual karena maag-ku kambuh kembali setelah aku mendengar jawaban ayah menolak pinangan lelaki itu...***

Jakarta, 10 Desember 2008
ilustrasi foto: bayu ngenggo

4 komentar:

Nugroho AS mengatakan...

Mas nur, salam kenal dan hangat. membaca blog mas beberapa waktu lalu, membuat saya ingin meniru mas. tulisan-tulisan mas juga memberi inspirasi saya untuk belajar menulis. saya tahu nama mas dari teman kakak saya, Hasan yang dulu di UMY,,salam.

n. mursidi mengatakan...

terima kasih jk blog saya ini, bisa menginspirasi orang lain, termasuk mas nugroho. aku tunggu tulisannya! salam kenal buat mas nugroho, eh... titip salam buat hasan (katakan ia dicari2 picek ya)!!!

partaput mengatakan...

Mas Nur, Salam kenal ya,,,
saya baca dua cerpen terakhir, sangat menarik.
Cuma judul "usia pernikahan" kok rasa nya tidak inline... apa ini hanya karena gaya bahasa ya,,,
salam

n. mursidi mengatakan...

slm kenal blk. trm ksh sdh meluangkn waktu utk membaca cerpen2 saya. utk masukan anda, saya haturkan terima & smg ke depan bs lbh baik lagi...