Sabtu, 04 Agustus 2012

Sepasang Mata yang Melihat Surga

cerpen ini dimuat di Femina edisi 31, 4-10 Agustus 2012

Akhirnya, aku pulang. Nasib ibu, kali ini benar-benar tidak bisa membuatku tenang. Aku merasakan gagang telepon seperti mengambang dan masih menempel di telingaku. Telepon dari kakakku, pada malam itu, membuatku gemetar.


"Ibu tak lagi bisa menerawang. Bahkan, Ibu tidak lagi bisa membedakan antara uang dan kain rombengan. Jika kau tak ingin tangan Ibu tertusuk jarum atau jatuh, pulanglah walau sejenak. Aku ingin kau yang memutuskan...," kata kakakku dalam pembicaraan lewat telepon.


"Jika keadaan Ibu sudah seperti itu, besok pagi aku akan pulang," jawabku sebelum menutup telepon.

Dalam perjalanan pulang, tak henti-henti aku merenung. Apa ibu sudah buta?

Setelah menempuh perjalanan dua belas jam, aku tiba di kampungku tepat petang hari. Aku melewati lorong sempit, gang kecil yang dulu jadi tempatku bermain, sebelum sampai di rumah mungil yang teronggok di ujung gang, rumah warisan mendiang ayah. Ketika aku menginjakkan kaki di beranda, kucium sekelebat kenangan masa lalu. Pintu rumahku terbuka setengah. Aku masuk dengan langkah setengah letih.

Aku melihat ibu duduk di kursi ruang tengah. Kaca mata tebal yang sudah hampir sepuluh tahun dikenakan Ibu masih menempel gagah, tepat di depan mata ibu. Kaca mata tebal itulah yang selama ini membantu ibu bisa melihat. Sebab, ibu sejak kecil memang sudah minus. Tetapi kali ini bola mata ibu menerawang
jauh. Aku mendekati ibu, mencium lembut tangannya.

"Kau ini siapa?" Sebuah suara serak keluar dari bibir ibu, membuatku tercekat.

Aku diam, memandang mata ibuku dengan tajam. Dalam hati, aku kembali merenung; apakah ibu sudah buta? Tetapi, tak mungkin aku mengucapkan kata yang tak enak didengar itu.

"Apa Ibu sudah lupa dan tak lagi mengenal suaraku?"

"Ya, Tuhan..." Tangan ibu mengusap-usap rambutku. "Kamu akhirnya pulang."


Tak ada lagi kilatan cahaya yang memancar dari mata ibu. Mata ibu keruh, serupa warna limbah prabrik yang mengenangi aliran sungai di belakang kontrakanku di Jakarta.

Kakakku keluar dari kamar, setelah mendengar ibu berbicara denganku. Ia menjabat tanganku dan aku sudah membuat keputusan. "Ibu harus menjalani operasi. Aku ingin ibu bisa melihat kembali."

"Tidak usah, Nak. Ibu sudah tua. Tak ada gunanya kau membuang-buang uang untuk membiayai operasi ibu."

"Tidak, Bu. Ibu harus bisa melihat lagi. Itulah kebahagianku sebagai anak.  Aku bahagia jika ibu bisa melihat lagi. Aku bahagia ketika ibu bisa melihatku pulang dan tersenyum menyambutku."

"Tetapi, ibu tak ingin menyusahkanmu."

"Aku tidak akan pernah merasa disusahkan. Kalau ibu tidak memberiku kesempatan kali ini untuk membalas jasa kebaikan ibu selama ini kepadaku, kapan lagi aku akan bisa membalas ibu?"

Ibu diam lama, seperti berpikir. Dan aku sudah memutuskan akan melakukan apa pun demi penglihatan ibu. Bukankah surgaku itu ada di telapak kaki ibu? Bagaimana aku akan bisa masuk surga jika aku tidak berkorban untuk ibu.

"Ibu harus menjalani operasi!" ujarku.

Ibu masih diam.

"Ibu tak boleh pasrah begitu saja. Ibu harus berusaha. Dan kini..., ibu tidak usah lagi memikirkan yang lain. Ibu harus operasi!" kakakku ikut menyakinkan ibu.

Ibu luluh, mengangguk pelan.
                                                         ***

DULU, waktu aku masih duduk di bangku kelas enam SD, ibu sebenarnya pernah menjalani operasi mata akibat katarak. Bahkan katarak yang diderita ibu tergolong kritis. Ibu hampir tidak bisa melihat. Tetapi ketika itu tidak ada kendala bagi keluarga kami karena ayahku saat itu masih hidup. Akhirnya ayah memaksa ibu menjalani operasi di kota propinsi. Operasi yang dijalani ibu saat itu masih dengan teknik lama, karena lensa ibu diangkat untuk pengambilan katarak dan bola mata ibu kemudian dijahit.

Ibu butuh waktu yang cukup lama untuk kembali pulih, tidak saja agar bisa melihat lagi tetapi juga butuh banyak waktu istirahat selepas menjalani operasi. Ibu tidak diizinkan memasak untuk menghindari kepulan asap. Ibu juga dilarang mengangkat barang berat, bahkan tak diizinkan mengerjakan apa pun. "Kalian harus mandiri! Sebab ibumu tak diizinkan dokter melakukan apa pun!" alasan ayah saat ibu tak lagi memasak untuk kami.

Di saat ibu menjalani masa pemulihan itulah, aku dan kakakku belajar memasak. Kadang kakakku memasak sayur asam, aku memasak mie instan dan ayahku baru memasak untuk kami sekeluarga sepulang dari kerja. Ayahku sebagai pedagang keliling kerap berangkat kerja pada saat fajar menyingsing dan baru pulang selepas Dhuhur. Itulah masa-masa setengah sulit bagi keluarga kami. Tatkala aku harus mengerjakan Pekerjaan Rumah, aku tidak bisa meminta bantuan ibu. Dengan sabar aku harus bisa menerima kenyataan jika ibu belum bisa membaca pekerjaan rumahku, apalagi di malam hari.

Aku pernah diajak ayah untuk mengantarkan ibu kontrol. Di sebuah ruangan, dokter yang menangani ibu melakukan pengetesan dengan meminta ibu membaca huruf di dinding rumah sakit yang dinyalakan. Huruf yang menyala itulah yang harus disebutkan oleh ibu. Setelah melewati dengan sukses, ibu akhirnya dinyatakan pulih. Aku tahu, ibu waktu itu mengalami ketakutan luar biasa. Ibu takut jika operasi yang dijalani itu gagal dan ibu tak bisa melihat. Tapi ibu masih bisa melihat kembali. Meski demikian, ibu masih menyimpan kenangan ketika dokter sempat berkata kalau mata ibu suatu saat nanti bisa kembali mengalami hal serupa, setidaknya mata yang sebelah.

Bertahun-tahun, ibu memendam kenangan itu. Hingga ayah meninggal, dan dengan terpaksa ibu membesarkanku dan kakakku seorang diri. Aku kemudian bisa kerja di Jakarta, tapi kakakku tinggal di rumah menemani ibu. Kini, apa yang dulu ditakutkan ibu menjadi kenyataan. Mata ibu yang sebelah mulai berair, kerap silau tatkala terkena sinar dan tidak lagi bisa melihat dengan jelas. Padahal, mata ibu yang dulu pernah operasi nyaris sudah tak bisa melihat.

Tatkala aku mengantar ibu untuk menjalani operasi, dokter yang menangani ibu sempat diam setelah memeriksa mata ibu. Lama, dokter itu tak kunjung memberi jawaban. Aku melihat, dokter yang sudah setengah tua yang duduk di depanku itu seperti berat berkata dengan jujur.

"Apa pun yang terjadi pada ibu, aku akan berusaha untuk membuatnya pulih lagi. Jadi, apa sebenarnya yang menjadi kendala bagi dokter untuk melakukan operasi?"

"Tidak ada yang jadi kendala," dokter itu berkata dengan suara tenang seolah tidak memendam sesuatu "hanya saja, operasi kali ini butuh kecermatan yang akurat sebab mata ibu Anda tergolong kritis dan agak lain. Jika sekadar katarak ringan, bisa operasi dengan sayatan kecil yang tak butuh waktu sampai sepuluh menit. Tapi, kali ini di dalam bola mata ibu Anda, seperti ada benda yang aneh."

Aku memandang bola mata dokter itu tanpa berkedip.

"Pasti Anda ingin bertanya benda apa itu? Jujur, aku tak mampu mengatakan benda itu seperti apa. Bentuknya bulat seperti batu mutiara tetapi memancarkan cahaya kehijauan..."

"Dokter ini mengada-ngada atau serius?"

"Di dunia ini, tidak ada dokter yang tidak serius. Jika dokter tidak serius, ia tidak pantas menjadi dokter. Ia lebih pantas jadi pelawak."

Aku sempat ingin tersenyum tetapi raut muka dokter itu membuatku tercenung. Apa yang dikatakan dokter itu benar? Ah, aku tak yakin. Tapi, aku mendesak dokter itu segera melakukan operasi kalau prosedur yang dijalani sudah memungkinkan ibu masuk ruang operasi.

"Berdoalah untuk ibumu, besok ibu Anda sudah bisa menjalani operasi. Tetapi, sepanjang aku menangani orang yang menderita penyakit mata, terlebih katarak, hanya mata ibu Anda yang mengalami hal ganjil seperti ini."
                                                   ***

SEHARI setelah ibu menjalani operasi, dokter masih belum memberi izin ibu untuk membuka balutan yang menutupi matanya. Mata ibu yang sebelah sudah kabur dan bisa dikata tidak bisa melihat. Saat aku menjenguk, ibu berbaring di atas ranjang. Aku menawari ibu untuk menyuapi makan siang. Tapi, ibu menolak. "Ibu tak lapar, Nak."

Hening melingkupi ruangan rumah sakit. Ibu diam, tidak bersuara. Hingga akhirnya, beliau membuka suara yang mengejutkanku. "Nak, ibu mau bercerita tentang apa yang ibu lihat. Tetapi, jangan katakan jika ibu dusta."

"Ibu ini ada-ada saja. Jelas tak mungkin aku menuduh ibu bohong."

"Siapa tahu, kau menuduhku dusta karena Ibu tak bisa melihat."

"Apa yang ingin Ibu ceritakan?"

"Malam kemarin ibu merasakan hening. Angin bertiup kencang, sebelum kemudian sunyi. Ibu sempat kaget lalu meraba-raba ke ranjang. Ibu yakin, saat itu ibu ada di rumah sakit. Tetapi, dengan mata yang tertutup seperti ini, ibu entah mengapa seperti ada di surga. Ibu melihat langit yang hijau. Tidak itu saja, ibu bahkan melihat hamparan tanah penuh pohon, dan tanaman, daun-daun yang segar, basah, dan menentramkan. Ibu bahkan bisa menyentuhkan dengan jari ibu dan seperti sedang bermimpi. Tapi, ibu sadar, ibu tak sedang bermimpi. Tetapi, ibu memang benar-benar di surga. Ada aliran sungai yang mengalir; sungai itu mengalirkan susu dan madu.... Ibu merasa bisa melihat segala yang tak pernah ibu bayangkan sebelumnya. Dan ibu takjub. Ternyata, itulah surga. Ibu tak bisa menceritakan keindahan apa yang ibu lihat..."

"Lalu, apalagi yang Ibu lihat?"

"Ibu melihat segalanya, kecuali satu..."

"Apa yang tidak Ibu lihat?"

Ibu diam, lama.

Hingga aku kembali bertanya, "Apa yang tidak Ibu lihat?"

"Ibu tidak melihatmu, Nak."

"Ah, mungkin Ibu salah lihat..."

"Tadi sudah Ibu katakan, Nak. Jangan menuduh Ibu dusta hanya karena ibu tak bisa melihat."

"Tapi bagaimana mungkin Ibu tak melihatku ada di surga? Bukankah ibu pernah bercerita bahwa surga itu ada di bawah telapak kaki ibu dan anak yang berbakti akan bisa memasuki surga dengan kebaikan yang ia lakukan kepada ibunya?"

"Justru itulah yang ingin aku tanyakan, Nak."

Aku diam. Aku merasa ada yang aneh dengan kata-kata ibu.

"Jujur, dari mana uang yang kau gunakan untuk membiayai operasi ibu?"

Degggg! Jantungku berdegup kencang. Hatiku berkecamuk, apakah aku harus bercerita dengan jujur jika uang yang aku gunakan untuk biaya operasi itu hasil penggelapan uang di kantor? Tangan ibu meraba-raba. Setelah menemukan tanganku, ibu menggenggamnya dengan erat.

"Nak... ibu bercerita yang sebenarnya tapi jangan katakan Ibu berdusta karena mata Ibu tidak bisa melihat. Justru dengan mata ibu yang tertutup seperti ini, Ibu bisa melihat surga."

Aku tertunduk lemas, dan kuraih telapak kaki ibuku. Rasanya, tidak ada pilihan lain kecuali aku harus mencium kaki ibuku... ***

Jakarta, 2012

*) N. Mursidi, cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti di The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Republika, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Suara Karya, Tabloit Nova, Majalah "Anggun", Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Radar Surabaya, Surabaya Pos, Surya, Batam Pos, Lampung Post, dan Solo Post. Selain menulis cerpen, dia juga bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. Kumpulan cerpennya yang sudah diterbitkan “Dua Janji” (2010).

2 komentar:

Ivonie mengatakan...

Numpang baca cerpennya ya mas, endingnya bagus, mengejutkan dan tak tertebak :)

Salam kenal...

Nur Mursidi mengatakan...

trm ksh sdh meluangkan waktu membaca cerpen ini, thanks