Minggu, 12 Februari 2012

sepeda onthel kenangan

cerpen ini dimuat di Suara Pembaruan, Minggu 12 Februari 2012

DI KOTA kecil itu –mungkin engkau tidak akan pernah mememukan pada selembar peta- aku dulu dilahirkan. Kota itu tidak pernah diguyur salju, tetapi menyimpan tetes cerita kehidupan masa kecilku. Tetapi, saat aku menginjak usia dua puluh tahun, aku meninggalkan kota kecil yang tidak ramai itu. Aku pergi, mengayuh sepeda dengan memanggul tas punggung yang sarat dengan bara dendam --di suatu pagi yang rumpil. Itulah pagi yang paling menyedihkan sekaligus menyenangkan dalam hidupku.



Pagi itu, tanganku gemetar ketika aku hendak menyeret sepeda onthel tua milik ayahku keluar dari rumah -sepeda onthel tua yang dulu pernah digunakan ayahku untuk keliling pulau Jawa. Ayah yang dari tadi diam dan membisu, duduk di kursi seperti tidak rela hendak melepas kepergianku. Atau mungkin dugaanku salah! Bisa jadi ayah tidak rela aku membawa pergi sepeda onthel tua yang dahulu menjadi sahabat karibnya dalam menjelajahi jalanan.

Dari sorot mata ayah, aku menangkap denah kesedihan yang mirip dasar sebuah danau. Ada genangan lumpur, bongkahan batu karang dan sorot mata ayah yang tajam menatap itu, ah… aku rasakan seperti mata orang yang ditinggal mati salah seorang anak yang ia cintai dengan sepenuh hati.

Aku yang hendak pergi jauh, seperti tak rela meninggalkan genangan air mata itu menggumpal di sudut kelopak mata ayah, orang yang sudah mulai udzur itu. Aku dekati ayah yang duduk termangu –seperti kebiasaan yang selalu dijalani ayah setiap Minggu pagi ketika ayah tidak pergi ke pasar untuk jualan baju dan seragam sekolah.

Di depan ayah, aku seperti cicak kecil di hadapan seekor buaya. Aku diam, berdiri mematung dengan kaki gemetar dilanda cemas. Tapi bertahun-tahun aku dididik ayah untuk tidak takut. Diam-diam, aku mengumpulkan keberanian untuk pamit pergi. Aku tak ingin ayah tak memberiku restu. Sekali pun aku tahu, sebenarnya ayah tidak setuju aku kuliah.

“Ayah, aku akan pergi. Tak ada yang aku harapkan dari ayah, kecuali sebongkah doa,” ucapku pelan, tetapi aku yakin masih cukup terdengar dengan jelas di telinga ayah. “Aku ingin setiap langkahku menginjak tanah ini mendapatkan restu ayah.”

Ayah masih diam, seakan sedang berpikir. Lama, aku menunggu sebuah jawaban menentramkan yang akan keluar dari mulut ayah, seorang lelaki yang telah mewariskan segumpal darah dalam diriku.

“Tak semestinya kau kuliah. Kau tahu, aku sudah tak kuat untuk bekerja seperti dulu lagi. Tetapi, jika itu kemauanmu, aku tak bisa mencegahmu,” akhirnya, ayah berkata dengan berat hati. “Apalagi ibumu tak tega melihatmu kerap kali menghabiskan malam-malammu hanya duduk di ujung gang.

Aku diam. Seperti ada jarak yang memisahkan antara kami -–aku dan ayah. Aku merasa ada di tempat yang cukup jauh yang tak akan bisa terjangkau oleh ayah. Jarak yang bisa memisahkan kami, sekali pun aku di dekat ayah. Jadi, tidak perlu aku menambah luka di hati ayah. Aku tahu, hati ayah bergemuruh. Aku bisa merasakan gemuruh hati ayah itu sebagaimana degup yang kurasakan di dadaku.

Aku memang tidak cukup dekat dengan ayah, tetapi aku bisa mencium kecemasan di relung hati ayah. Rupanya, kecemasan ayah akan kepergianku masih belum pupus. Seminggu yang lalu, ketika aku bercerita pada ayah tentang keinginanku melanjutkan kuliah, aku dapat melihat dengan jelas wajah ayah langsung bersemu merah. Ayah terhenyak kaget. Dua tahun aku menganggur dan menghabiskan malam di ujung gang membuat ayahku sepeti tidak percaya dengan keputusanku.

“Untuk apa kau kuliah? Tidak cukupkah kau jadi penjahit dan berdagang melanjutkan usaha ayah?”

Aku tidak kaget dengan ucapan ayah. Aku anak yang tidak berprestasi. Dari MI –sekolah setingkat SD-- sampai SMA, aku nyaris tak pernah berhasil mengukir prestasi. Beda dengan adik dan kakakku. Dari SD sampai SMA, aku selalu terjerumus sekolah swasta sementara adik dan kakakku berhasil masuk SMP dan SMA Negeri.

Aku mengenal ayah adalah orang paling pendiam yang pernah aku kenal. Tidak banyak kata. Tidak banyak bicara. Sepatah kata yang diucapkan ayah ibarat hujan yang tiba-tiba turun setelah musim kemarau yang panjang. Jadi, jika ayah sudah bicara, pasti ayah tak sedang bergurau. Ada kegalauan di hati ayah dengan keinginanku itu. Aku tahu ayah tidak setuju dari sorot mata ayah yang berwarna merah.

“Aku hanya ingin meninggalkan kampung ini, ayah!” jawabku sedikit bimbang, “Aku tahu, jalan ini adalah jalan terbaik bagiku.”

“Di kampungmu ini kau tak henti-henti membuat ulah, lalu bagaimana kau dapat membuat ayahmu percaya jika di kota nanti kau tidak akan menjadi lebih nakal karena sewaktu tinggal di kampungmu yang aku awasi saja kau sudah cukup merepotkan…”

Aku tahu kenapa ayah mengkhawatirkanku. Tapi aku ingin mengubah takdirku dan pilihanku pergi dari kampung melanjutkan kuliah adalah satu jalan yang akan mengubah masa laluku. Aku berhak menentukan masa depanku. Aku berhak mengukir takdir yang akan aku warnai dalam lembaran hidupku. Aku ibarat pelukis. Aku ingin mewarnai kanvas hidupku dengan cat dan warna yang aku inginkan.

Keinginanku sudah bulat tak bisa dicegah oleh siapa pun, kecuali ibu. Maka ayah tak bisa mencegah kepergianku. Dan pagi itu adalah pagi yang membahagiakan dalam hidupku. Aku akan pergi meninggalkan kampung untuk melanjutkan kuliah. Tapi, aku tak pantas tak menghormati ayah. Maka, aku mencium tangan ayah sebelum aku pergi. Itulah untuk kedua kalinya aku mencium tangan ayahku –yang pertama, dulu saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD tepat hari raya Idul Fitri.

Meski ayah tak setuju, aku merasakan tangan ayah perlahan-lahan mulai berubah dingin, padahal sebelumnya tangan ayah terasa hangat. Tapi tangan ayah yang dingin itu seperti merambatkan secuil keberanian di hatiku. Tapi, ayah tidak mengucapkan sepatah pun kata. Dia diam serupa patung. Dingin bagai bongkahan es batu. Aku seperti bersalaman dengan arca.

Di belakangku, ibu –wanita setengah bidadari yang telah jadi penyelamat masa depanku-- sudah berdiri dengan diam. Air mata ibu hampir menitik, ketika aku berpaling. Aku melihat dengan jelas tangan ibu menggenggap sesuatu. “Kamu akan berangkat sekarang?”

Aku mengangguk. Entah mengapa, aku selalu tak bisa mengatakan sesuatu pada ibu, apalagi pagi itu aku harus berpamitan untuk sebuah perpisahan. Aku tak akan pernah pergi melanjutkan kuliah, jika ibu seminggu lalu tidak jadi pembelaku di hadapan ayah. “Sudahlah, pak! Biarlah anakmu pergi. Siapa tahu, kehidupan dia tak di kampung ini. Biarlah dia pergi dan aku yang akan mengusahakan uang untuknya,” jawab ibu waktu ayah berusaha mencegah kepergianku.

Tak ada keluarga, saudara dan famili yang rela melepaskan kepergianku. Apalagi, aku akan pergi kuliah. Tetapi, aku sejujurnya tak butuh dukungan keluarga, saudara dan famili. Aku hanya butuh restu dan doa ibu. Bagiku, itu sudah cukup karena doa ibu adalah jalan lempang masa depanku.

“Kau tahu, ayah dan ibu habis pulang dari tanah suci. Jadi, sudah tidak memiliki tabungan lagi. Lalu, dari mana ayah dan ibu mengirimi uang bulanan untuk kuliahmu?” ujar ibu lembut,” Jika kau kuliah tahun lalu, mungkin kami dapat membatalkan berangkat ke tanah suci. Tapi sekarang ini keadaannya sudah lain.”

“Ibu tak usah cemas,” jawabku tegas.

“Lantas, dari mana biaya untuk kuliahmu?”

“Setelah di kota nanti, aku akan berusaha mencari pekerjaan!” rayuku pada ibu. “Jadi aku hanya butuh dukungan dan doa dari ibu. Itu adalah bekal yang tidak terkira buat kepergianku…”

Ibu luluh. Bagai matahari yang hampir tenggelam di waktu senja, ibu kemudian memberiku restu.

Aku tidak pernah pergi merantau dan kepergianku di pagi itu adalah perantauanku untuk kali pertama. Ibuku tentu akan merasa kehilangan. Tetapi, di sudut mata ibu, aku melihat ada seberkas sinar yang bisa aku tangkap sebagai bentuk kebanggaan. Anak kedua dari tiga bersaudara yang selama ini kerapkali menjadi omongan dan gunjingan tetangga akan pergi jauh -pergi untuk kuliah.

“Doa ibu adalah wesel dari Tuhan yang akan membuatku hidup bahagia,” kataku tegas sebelum kepergianku.

“Aku beruntung, kau berani hidup di kota dengan keyakinan seperti itu. Ibumu tidak percaya jika Tuhan akan membiarkan hidupmu menderita setelah kau tiba di kota nanti. Tetapi, kau pasti butuh uang jajan dan makan,“ ujar ibu, seraya memasukkan lembaran uang ke dalam sakuku.

Kulihat ibu mengulum seulas senyum. Tapi senyum ibu kurasakan meninggalkan tanda tanya di lubuk hatiku. Ibu tersenyum manis, tetapi aku melihat di sudut mata ibu ada mendung yang hampir pecah. Mata ibu seperti basah. Aku dapat memahami, karena tepat di kelopak mata ibu, ada selarik kecemasan. Juga, rasa bangga.

Aku mengangguk, “Doa ibu sudah cukup menjadi bekal kepergianku.”

“Tak akan pernah ibu berhenti mendoakanmu, anakku. Pesan ibu, jangan pernah engkau meninggalkan shalat dan mengaji.”

Aku mengangguk lagi, meski anggukanku itu setengah hati. Aku sudah tidak kuat menahan pilu di hatiku lebih lama lagi menggegoti ulu hatiku karena aku cukup lama menangguhkan perpisahan segera berakhir. Air mataku bisa menitik dan karena itu; aku memutuskan untuk segera pergi.

Aku melangkah ke ruang tamu. Kuseret sepeda onthel tua milik ayah keluar dari rumah. Ibu mengikutiku dari belakang tapi aku tak ingin melihat mata ibuku yang mulai dibebani mendung. Aku tak menoleh. Aku tuntun pelan-pelan sepeda onthel itu ke gang kecil di depan rumah dan tanganku gemetaran. Aku merasa ada kekuatan yang tiba-tiba muncul memberiku tenaga tatkala aku menaiki sepeda onthel tua itu melaju menyusuri gang.

Semula, aku mengayuh sepeda tua itu pelan-pelan. Tetapi, ketika gayuhan kakiku yang pelan itu mulai menjauhkanku dari rumah, aku mengayuh pedal sepeda onthel itu sekuat tenaga. Sepeda tua yang aku naiki itu –mulai menyusuri gang kecil yang tak lama lagi akan membawaku pergi meninggalkan kota kelahiranku. Dengan sepeda onthel tua milik ayah itu, aku akan pergi ke kota Gudeg dan aku ingin membuktikan kepada orang-orang di kampungku; bahwa bocah tengil yang dahulu kerap kali gagal sekolah kini akan melanjutkan kuliah.

Aku, bocah tengil itu mengayuh sepeda onthel tua meninggalkan rumah dan tak ingin menoleh ke belakang seakan-akan aku tak punya rumah untuk pulang.

Condet, 6 November 2009

2 komentar:

el-finayani mengatakan...

Jadi kepikiran terus kopi Lasem nih..
masak aku bisa kalah dengan parkinson dalam urusan kopi.. :D

n. mursidi mengatakan...

jd, kapan nih ke lasem? biar gak kalah sama parkinson. hahahaha