Selasa, 11 Desember 2007

Lelaki yang Mencintai Boneka

Cerpen ini dimuat di Suara Karya, Minggu 28 Mei 2006

HARI itu, pagi tampak ungu dan sisa hujan masih terasa senyap, saat aku tiba di kantor sekitar pukul delapan kurang lima belas menit. Aku turun dari mobil, menjejaki halaman kantor yang digenangi sedikit air. Sisa hujan semalam masih meninggalkan bercak genangan. Langit berwarna kelabu dan nyaris dirundung mendung. Aku melangkah, menyibak halaman yang basah dan sepatuku ditipuki kristal-kristal air yang memerciki bagian bawah celanaku.


Kantor masih tampak lengang dan sepi. Hanya ada seorang satpam di ujung jalan, yang aku lihat mirip sebuah boneka di etalase. Angin pagi telah menggigilkan sosoknya yang beringas, dan rasa kantuk menyekapnya dalam pos tua yang renta. Setelah menaiki tangga, aku membuka pintu dan bergegas masuk ke dalam. Terpaan AC di ruangan membuatku sedikit nyaman. Wangi ruangan segera meraup ke penciumanku bersamaan silau di mataku yang terbiasi lampu akibat pantulan ke mukaku. Sekilas, kulihat bayangan di dinding, mirip sebuah lukisan gelap tanpa warna.

Tetapi seperti biasa, senyuman manis resepsionis yang menyambut kedatanganku segera membukakan penglihatanku. Selanjutnya, aku dapat mengenali dengan jelas ruangan itu seperti biasa, kecuali sesosok laki-laki berkaca mata minus yang tak kukenal sedang duduk termangu di ruang tunggu. Aku segera mengenalinya, bahwa dia itu seorang tamu.

Kehadiranku yang tiba-tiba membuat dia tergeragap. Aku menatapnya, sorot mataku sempat beradu. Tapi laki-laki yang kutaksir berusia sekitar 40 tahun itu segera menunduk. Dari sorot matanya yang kelabu, aku dapat menebak bahwa ia itu seorang lelaki romantis yang memiliki istri cantik dan mungkin dua anak yang cukup manis. Aku cukup yakin, karena aku tak pernah salah dengan dugaanku, meski hanya melihat sekilas.

Aku menutup pintu, lalu belok ke arah kiri menuju ruang kerjaku dan tak melintasi tempat duduknya. Pagi itu, aku tak ingin berbasa-basi, sebab di meja kerjaku tumpukan tugas sudah menunggu sentuhan tanganku. Tapi sebelum kumasuki ruangan, sempat kulihat sosoknya dalam sebuah bayangan yang melekat di dinding. Lelaki itu, masih duduk termangu menatap beberapa lukisan - sejumlah karikatur, gambar orang-orang terkenal - yang sudah kukenal dengan akrab. Semuanya masih tertempel seperti dahulu, saat aku pertama kali masuk kerja dan menjadi karyawan baru di kantor ini setahun lalu.


* * *
DI dalam ruang kerjaku, perhatianku segera tersita tumpukan tugas. Kunyalakan komputer, kemudian keseduh secangkir kopi. Sejurus berikutnya, aku tenggelam dalam rutinitas kerja hingga tanpa kusadari telepon di mejaku berdering nyaring sekitar pukul sebelas lebih lima menit.

Kuangkat telepon, kudengar suara sekretaris memberitahuku untuk segera hadir di ruang rapat.

"Rapat apa lagi?" bentakku. "Bukankah hari ini tak ada jadwal rapat?"

"Ini rapat di luar agenda!" jelasnya dari gagang telepon. Suaranya yang mendesah, masih tertinggal di gagang telepon, dan biasanya membangkitkanku untuk menggodanya. Tapi kali ini, kepalaku lagi pening. Keningku berkerut dan aku lagi tak enak badan.
Aku segera berdiri, menuju ruang rapat.

Setibaku di ruang rapat, semua sudah berkumpul. Aku segera mengambil tempat, seraya mengedarkan pandang ke segala arah. Kulihat wajah-wajah yang tidak asing, kecuali sosok lelaki berkaca mata minus yang tadi kulihat di ruang tunggu. Dia duduk di samping pimpinanku, dengan muka yang menyiratkan tanda tanya bagiku.

"Perkenalkan, di samping saya ini adalah Bapak Saeful yang mulai hari ini bekerja di sini..." suara serak Pak Ridwan Malik --pimpinan kami membuka rapat. "Mohon, Pak Saeful bisa memperkenalkan diri kepada semua pegawai sekaligus merepresentasikan cara kerja yang nanti akan menjadi tanggung jawab tugas Bapak."

Aku seketika tersentak. Di luar dugaanku, laki-laki itu ternyata diangkat jadi karyawan baru sebagai editor. Rapat yang diadakan di luar jadwal kerap membuatku pening tiba-tiba. Karenanya, aku hanya mendengar sayup-sayup suaranya yang mantap ketika dia berbicara serta memperkenalkan dirinya - ketika teman-temanku menanyakan soal statusnya. Tetapi aku tiba-tiba tersentak lagi saat sayup-sayup aku mendengar pengakuannya bahwa dia masih membujang... Tidak terbayang dalam pikiranku, jika lelaki berusia 39 tahun itu, ternyata belum menikah.

Sepanjang rapat, aku diam, memegang kepala dan mematung seperti batu. Tidak sempat bertanya dan tak kusadari tiba-tiba rapat usai. Aku masih duduk tercenung saat semua orang sudah keluar ruangan dan waktu istirahat telah tiba. Rencanaku untuk kembali ke ruanganku dan menyeduh segelas kopi agar tak ngantuk seketika menjadi batal. Aku segera ke kantin. Sebab, rasa lapar telah menggaruk perutku.

* * *
DI kantin, aku segera memesan makan dan mencari tempat duduk. Rupanya semua tempat sudah terisi, kecuali meja di sudut ruangan yang aku tahu ditempati lelaki berkaca mata minus itu. Aku melangkah ke arahnya dan berucap, "Selamat bekerja di tempat baru." Aku sedikit gugup dan sebutir keringat menetes dari dahiku, mengalir di pipi.

"Terima kasih...," ucapnya lirih. "Silahkan duduk!" lanjutnya dengan disertai senyum yang mengembang bak bunga mawar.

Aku mengambil duduk berhadapan. Sambil makan, kami bercengkrama.

Denting sendok dan garpu yang menyeruak di piring kami, sesekali menyelingi obrolan di siang itu. Laki-laki itu berbicara banyak dan tak kuduga sebelumnya, kalau ia ternyata enak diajak bicara. Aku sampai dibuatnya terkesima dan perutku menjadi seperti mual akibat guyonan yang meluncur dari bibirnya. Meski banyak canda, ia juga tergolong orang yang amat cerdas dari obrolan yang kutangkap saat ia mengaitkan masalah yang terjadi dengan teori sosial dan filsafat. Aku pikir, laki-laki di hadapanku ini memang orang idealis, apalagi saat dia berbicara tentang cinta dan perempuan.

Tetapi kenapa ia sampai kini belum menikah? Apakah ia memang belum menemukan jodohnya? Atau, ia... jangan-jangan seorang gay? Hampir pertanyaan itu meloncat dari mulutku. Tapi, tak sempat kutanyakan karena obrolan di siang itu adalah pertemuan pertama kami sehingga saat jam istirahat usai dan kami kembali ke kantor, pertanyaan itu masih terus menggumpal di dalam pikiranku dan kemudian melorot ke perutku. Dan aku, akhirnya harus membuang semua itu ke toilet. Bahkan sampai aku pulang ke rumah, perutku masih terasa mual.

* * *
SEJAK obrolan di kantin itu, aku tak lagi bertemu dengannya. Sebab esoknya, aku mendapat tugas ke luar kota selama seminggu. Sepulangku dari luar kota sudah lumrah kudengar adanya gosip baru. Tapi di siang itu, aku seperti disambar petir.

Tatkala aku duduk di ruang kerjaku, tiba-tiba aku dikagetkan oleh canda tawa yang menyeruak dari celah ruangan. Beberapa karyawan perempuan di ruang administrasi, rupanya sedang memperbincangkan tingkah laki-laki berkaca mata minus itu.

"Sudah tua kok masih kayak anak kecil ya...! Lagi pula dia itu kan seorang lelaki, kayak perempuan aja tingkahnya! Amit-amit kalau suamiku sampai seperti dia.." suara Isna nyaring di tengah obrolan dengan karyawan perempuan. Lalu disusul tawa perempuan yang lain.
"Bisa-bisanya itu lho, setiap hari membawa boneka!" suara yang lain menimpali.

"Dia itu memiliki berapa boneka sih... kok setiap hari kulihat gonta-ganti terus?"

Tidak kuat menahan geli, aku bergegas naik ke lantai dua, ruang kerja lelaki itu. Dengan alasan untuk menyerahkan naskahku, aku memasuki ruang kerjanya dengan mengendap-endap. Dengan demikian, tak akan ada kecurigaan yang membuatnya siap menerimaku dalam keadaan biasa. Jadi, yang kuinginkan kali ini adalah lelaki itu akan tertangkap basah di depan mataku. Aku mesti berjalan tanpa derap sepatu supaya dia tak tahu kalau aku datang.

Tapi persis di depan ruang kerjanya, tubuhku jadi gemetar. Aku gugup seakan mau menangkap seorang maling. Bukankah dia itu bukan seorang maling? Kenapa aku bergidik?

Keringat membasahi bajuku. Udara AC di ruangan, seperti tidak sedingin biasanya. Aku menarik nafas panjang. Sejurus kemudian, kubuka pintu ruang kerjanya. Tapi setelah pintu itu terkuak....

Astaga!!!! Apa yang menjadi pergunjingan itu ternyata tidak menipu mataku. Aku melihat dengan bola mata terbelalak. Dia memeluk dengan manja sebuah boneka cantik seperti bayi. Senyum yang kususun seketika menjadi runtuh dan luntur. Aku gugup. Mukaku berubah warna menjadi merah jambu.

Sungguh di luar dugaanku, lelaki itu justru bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa. "Oh... kamu, rupanya. Silahkan duduk. Apa yang bisa saya bantu?" ucapnya terdengar getir dan hambar di telingaku.

Naskah di tanganku, jatuh dan kertas-kertas itu terburai di lantai. Aku memunguti, dan menyerahkan kepadanya. Dia menerimanya, sementara tangan kirinya masih memeluk boneka.
Saat itu, kepalaku terasa pening. Aku seakan-akan bangun dari tidur siangku yang runyam. Aku nyaris tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku, apa yang ada dalam bayanganku, apa yang kuingat, dan apa yang kulihat dengan mata kepalaku.

Tapi aku tahu, di siang itu aku tak sedang bermimpi atau bangun dari tidur. ***



Tidak ada komentar: