Jumat, 26 Oktober 2007

Senja yang Cerah

Cerpen ini dimuat di Suara Pembaruan, Minggu 15 Juni 2003

LELAKI muda itu masih diam seribu bahasa, menatap cakrawala ketika senja mulai turun di sebuah pantai kecil dan pelangi yang menggantung di langit nyaris jatuh dalam gulungan ombak. Sementara, di sebelahnya, seorang perempuan cantik hanya memainkan jemarinya, dan dalam kebisuan yang runyam seringkali ia cuma melemparkan batu-batu kecil ke permukaan air laut. Lalu, hamparan air berkecipak dengan menyemburkan kristal-kristal kecil yang berhamburan dan berpendar-pendar yang akhirnya jatuh dalam derasnya gelombang.


Kebisuan seperti itu semakin menambah kesunyian senja dan keduanya seakan terbungkus pelangi, tepat saat sekelebat burung camar menyambar ikan untuk dimangsa. Padahal, sudah sering keduanya menikmati senja dengan duduk di bongkahan batu karang di pantai kecil itu, dengan berbagi cerita. Selalu saja, ada kisah menarik untuk diceritakan dan perahu-perahu nelayan yang tak berlayar jadi saksi jalinan kisah untuk dikenang dalam ingatan. Tetapi, senja yang cerah itu justru berlalu tiada cerita. Juga tiada sepenggal kata cinta dari lelaki itu untuk diucapkan. Padahal, perempuan itu sungguh berharap akan hal itu.

Namun, harapan itu tambah membuatnya merasa sunyi ketika hanya ada beberapa sampan kecil yang saling berhimpitan, bergoyang-goyang ketika ombak menghantapnya dan air laut bagai ditampar sinar keemasan mentari yang menambah senja itu semakin tampak cerah, akan tetapi tak secerah hatinya. Sayup-sayup terdengar derai ombak yang menjadikan keduanya seperti terusik jika hanya saling diam, tanpa ada percakapan.

Tiba-tiba, keduanya saling bersitatap dan seperti biasanya percakapan selalu dimulai dari bibir perempuan, setelah ia merasakan ada tatapan dahsyat dari lelaki di sebelahnya yang menghujam ulu hatinya.

"Eh, lihatlah mentari yang tertutup awan itu! Ia seperti diselimuti awan," ucap yang perempuan.

"Oh, ya. Matahari itu seperti aku dan awan itu seperti kamu." jawab yang lelaki tak mau kalah.
"Kalau begitu kamu kalah denganku! Karena aku telah menghalangi sinarmu," ujar perempuan itu, seraya menatap cakrawala dan mentari yang muncul dari balik awan seperti mengintip keduanya ketika awan telah bergeser.

"Oh, itu cuma perumpamaan. Lihatlah! Buktinya, mentari itu sudah tak lagi dihalangi awan dan ia bebas lagi menyinari bumi."

"Apakah kau akan seperti mentari itu, yang selalu menyinari bumi dan setia terbit dan tenggelam selalu?"

"Hmm..." Lelaki itu cuma bergumam dan dia tahu, si perempuan menatap ke arahnya dengan tatapan mata yang murai. Desah nafasnya, tiba-tiba dirasai seperti ditikam ombak. Ia tahu, jika tatapan perempuan itu sepenuhnya menyimpan desir senja yang cerah.

"Hei, kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?"

Lelaki itu masih diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Perempuan itu, selalu membuatnya kehilangan kalimat untuk dirangkainya jadi sebuah jawaban.

"Ah, sebal!" Perempuan itu menggerutu. Dilemparkannya batu kecil dan air berkecipak lagi di atas permukaan gelombang.

"Ada apa sih, kamu?" tanya si lelaki dengan gemas.

"Sebel. Karena kamu selalu diam dan tak mau bercerita. Memang, untuk apa kamu mengajakku ke sini?" Perempuan itu kembali merengut.

"Memangnya kenapa?"

"Aku ingin mendengar ceritamu! Tapi, kali ini kamu justru tak mau bercerita."

"Cerita apa lagi?"

"Betul khan. Ah, aku sebel sama kamu. Selalu bertanya, justru setiap kali aku bertanya kepadamu."

Lelaki itu, lagi-lagi tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ditatapnya cakrawala luas yang tanpa batas, dan senja sudah hampir mendekati petang.

Perempuan itu, menatapnya lagi namun dengan mata yang kecewa. Gundah. Wajahnya kian nampak cemberut, akibat pertanyaannya dikibaskan begitu saja. Sinar mentari senja yang cerah menyapu gurat di wajahnya yang justru tambah menyelimuti kegalauan jiwanya. Ah, senja itu dirasainya lambat beranjak. Senja yang tiba-tiba jadi hening. Sehening kebisuan di hatinya. Ah, kenapa ia selalu mau saja diajak lelaki itu dan berharap akan mendapatkan cintanya. Bukankah selama ini ia sia-sia saja, selalu menunggu laki-laki itu untuk mengucapkan sebait kalimat cinta, namun tak pernah diucapkan kepadanya?

Khayalannya menerawang, menerobos siluet senja seperti juga pikiran sang lelaki yang menatap cakrawala luas. Dalam kegalauan itu, ia coba mengenang masa lalunya dengan lelaki yang kini disebelahnya. Lelaki itu adalah teman sekolah SMP-nya, yang sejak lama ia rindukan untuk menjadi kekasihnya. Ia yang sudah merasa terpukau tiap kali menatapnya, semakin tak mampu menghalau getaran dahsyat yang membuatnya semakin merindukan untuk menjadi kekasihnya.

Tetapi, ia tahu! Perempuan tak pantas untuk memulai, apalagi tanpa adanya sebuah perhitungan. Hingga keduanya lulus dan perempuan itu melanjutkan sekolah SMU di kota dan tak lagi bisa bertemu, namun getar di hati itu tak juga mau sirna. Namun, setelah sepuluh tahun telah berlalu dan ia masih merasakan getaran itu belum punah, keduanya bertemu kembali. Ia yakin, mungkin takdir telah mempertemukan mereka berdua. Karena, pernah perempuan itu memiliki kekasih, namun selalu dirasainya hambar.

Ia rasai cintanya hanya pada lelaki itu dan kini, ia sungguh tak tahu apa yang harus diperbuat setelah mereka bertemu kembali. Sudah lama mereka berpisah dalam jarak, hingga lelaki itu bekerja di kota dan takdir telah mempertemukannya lagi, ketika mereka secara tidak sengaja bertemu dalam sebuah acara pameran lukisan. Kemudian keduanya kian akrab, tentunya setelah saling bertemu. Sampai keduanya sering menikmati senja yang cerah di sebuah pantai kecil seperti saat itu. Apakah lelaki itu juga mencintainya?

Perempuan itu sepenuhnya tak tahu, hatinya menunggu dipungut, namun senja yang cerah di pantai kecil itu selalu berlalu tanpa ada kata cinta, sebuah rangkaian kata manis yang ditungguinya untuk diucapkan lelaki itu kepadanya. Gemuruh ombak menghantam beberapa sampan kecil dan angin berhembus dengan kencang.

"Hei, kok ngelamun!" Lelaki itu membuatnya kaget sehingga perempuan itu jadi terhentak.
Lalu, ia menoleh dengan berucap: "Ah, aku sungguh sebel pada kamu!"

"Ha-ha-ha...."

"Kok tertawa? Apa aku salah kalau sebel sama kamu?"

"Tidak! Asal kamu tahu saja! Sebel itu sebenarnya tak bertaut dengan cinta!"

Seketika, rona di wajah perempuan itu jadi memerah. Namun, seketika itu juga, entah sadar atau tidak, ia berucap dengan nada bertanya: "Bagaimana kalau aku memang cinta sama kamu?"

Lelaki itu seketika diam, menatap cakrawala ketika senja sudah hampir ditelan oleh gelap. Sementara, perempuan itu tak tahu; apakah ia betul-betul sadar setelah mengucapkan kalimat itu ataukah semua itu meluncur begitu saja?

Tetapi, gemuruh ombak telah menusuk kalbunya dan ia membisu seperti senja yang sebentar lagi ditelan oleh gelap. "Ayo pulang! Sebentar lagi akan gelap." ajak yang lelaki, sambil meraih tangan perempuan itu.

"Aku benar-benar mencintaimu! Aku kira kau sudah dengar dan aku tak akan pulang jika kamu hanya diam dan mau mengajakku pulang tanpa memberikan sebuah jawaban!"
"Sudahlah! Senja mau gelap, ayo pulang!"

"Tidak mau!"

"Ah, apa sih yang kamu harapkan dariku?"

"Sebuah jawaban!"

"Bagaimana kalau aku tak menjawabnya."

"Kalau begitu, pulanglah sendiri, nanti aku akan menyusul."

"Tidak! Hari sudah gelap."

"Lantas, apa susahnya memberikan sebuah jawaban, meski itu pahit untuk kudengar?"

Lelaki itu merasakan dirinya ditikam angin, tak pernah membayangkan akan dicintai oleh perempuan yang biasa diajaknya menikmati senja di pantai kecil itu. Ombak berderai dan senja lenyap dalam gugusan cakrawala. "Kalau kau ingin jawaban, tunggulah saat senja yang cerah di pantai ini yang justru akan memberikanmu awan untuk menyelimuti matahari."

***
DUA minggu telah berlalu. Perempuan itu sungguh dibuat gelisah. Apakah, ia akan mendapatkan sebuah jawaban cinta seperti halnya panorama sebuah senja yang cerah, ketika lelaki itu mengajaknya bertemu lagi di sebuah pantai yang sudah biasa dikunjungi untuk menghantarkannya menikmati senja dengan awan menyelimuti mentari dan senja membungkus mereka berdua dalam sebuah kebahagiaan tanpa luka?

Lelaki muda itu masih diam seribu bahasa, menatap cakrawala ketika senja sudah mulai turun di sebuah pantai pada pertemuan yang dijanjikan, dan pelangi yang menggantung di langit nyaris hampir jatuh dalam gulungan ombak. Sementara, di sebelahnya, perempuan cantik tampak cemas dengan memainkan jemarinya, dan dalam kebisuan yang runyam ia berupaya melemparkan batu-batu kecil ke permukaan laut untuk menghibur kegelisahan di hati.

Lalu, hamparan air berkecipak menyemburkan kristal-kristal kecil yang berhamburan dan berpendar-pendar, yang akhirnya jatuh dalam derasnya gelombang. Senja yang cerah, bagi perempuan itu untuk sekedar menanti sebuah jawaban cinta adalah saat debar jantungnya kian tak karuan yang benar-benar ditunggunya. Dan ketika senja yang cerah benar-benar menampar mukanya yang gelisah, setelah mentari tertutup awan kembali muncul, lelaki itu memulai percakapan.

"Lihatlah... mentari sudah kembali muncul dan awan tak lagi menutupi sinarnya!"

"Ya, apakah dengan begitu kau akan menjadi matahari?"

"Aku akan jadi matahari yang selalu menyinari bumi. Kalau kau ingin tahu jawabanku; aku sebenarnya juga mencintaimu!"

Perempuan itu hampir tak percaya kalau ia akan mendapatkan jawaban yang membuatnya seketika seperti dihantam ombak yang mampu menghantarkan pada satu pulau di ujung dunia antah barantah. Bahkan telinganya masih terngiang sebuah kata manis yang telah ditunggunya selama ini dan senja yang cerah, akhirnya menjadi saksi kalau keduanya akan saling mencinta untuk selamanya.

Senja masih cerah, ketika keduanya membisu lagi. Tak ada percakapan, hanya hati mereka saja yang seolah bercengkrama untuk saling bertaut untuk tetap bersatu dalam kemesraan seperti senja yang cerah, dan membungkus keduanya ketika sinar keemasan mentari senja memantulkan silau emas yang membuat wajah keduanya ceria, bahagia dan bergelora...

Hanya ada beberapa sampan kecil yang saling berhimpitan ketika ombak menghantam tembok pada tepian pantai, yang membuat beberapa sampan kecil itu bergoyang-goyang dan air laut bagai ditampar sinar keemasan mentari yang menambah senja itu semakin tampak cerah. Sayup-sayup terdengar derai ombak yang menjadikan keduanya tak ingin lama-lama di situ, sebelum senja dilingkupi oleh gelap.

Hanya tinggal bekas jejak-jejak langkah keduanya, ketika senja sudah mulai jatuh di ganti gelap dan mereka berjalan dengan bergandengan meninggalkan pantai itu, beranjak untuk pulang. ***

Kado ultah buat Elis Martutiningrum
Yogyakarta, 14 Maret 03



2 komentar:

rea mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
n. mursidi mengatakan...

thanks, cerpen ini aku tulis sebagai kado ultah-nya elis. mgkn, mas lebih kenal jauh dengan elis drpd saya!!!!