Minggu, 13 Desember 2009

kiai musthafa

cerpen ini dimuat di KEDAULATAN RAKYAT, Minggu 13 des 2009

/1/
BATU akik hijau lumut yang melingkar di jari tangan kiai Musthafa itu sempat kulihat memancarkan cahaya putih mengkilat, saat kiai tua itu duduk di depan kami, lalu bersendawa dengan menangkupkan kedua tangan. Kedatangan kiai yang sudah kami tunggu-tunggu itu seketika membuat kami semua seperti patung. Kami diam, membisu. Tak ada yang berani menatap kiai. Kami tertunduk. Ruangan aula pesantren mendadak jadi hening.


Aku kembali menatap batu akik yang melingkar di tangan kiai Musthafa. Kulihat cahaya putih keperakan, menerpa sudut mataku. Sekejap, mataku seperti disergap silau. Kuseka mataku dengan tangan dan sembunyi-sembunyi aku menatap wajah kiai Musthafa. Tak kuduga, kiai menatapku hingga kami sempat bersitatap pandang. Sinar kecoklatan memancar dari matanya, membuat aku tertunduk lemas. Kakiku kaku, dan jantungku bergemuruh. Mata kiai Musthafa aku rasakan menikam ulu hatiku, menusuk-nusuk jantungku.

Kiai Musthafa masih diam. Aku lihat ia mengubah letak batu akik hijau lumut yang melingkar di jarinya, sebelum mengucap salam, dan kemudian membuka pertemuan. "Adakah yang perlu dibicarakan, sehingga kalian meminta saya untuk hadir di majlis ini?"

Kami diam meski hati kami berkecamuk sejuta pernyataan yang akan kami ajukan pada kiai. Hampir setengah tahun ini, santer dikabarkan jika pesantren tempat kami bernaung, yang didirikan kiai tujuh tahun lampau diberitakan akan dijual setelah warga kampung sekitar mengancam akan membakar pesantren karena kiai Musthafa mengaku telah mendapat wahyu.

Kami semua masih diam. Keheningan menyeruak. Tapi Riawan Malik, lurah pondok dan pemimpin redaksi buletin Hijaiyah yang diterbitkan kiai Musthafa, tiba-tiba menanggapi, "Maaf kiai, jika kami meminta kiai untuk hadir di sini. Kami ingin membicarakan persoalan nasib pesantren dan buletin Hijaiyah..."

Muka kiai Musthafa bersemu merah, disergap gelisah. "Tak ada mendung, tidak ada hujan. Kenapa tiba-tiba ada asap mengepul? Ada apa ini?" tanya kiai seraya mengedarkan padang. Mata kiai menyala mirip gumpalan larva panas.

"Memang tak ada hujan di pesantren ini, kiai! Tetapi kami semua telah mendengar kabar, kiai akan menjual pesantren ini. Apakah itu kabar dari orang munafik yang tak perlu kami percayai mulut busuknya itu?" tanya Mungad, wakil pimpinan buletin Hijaiyah dan suaranya menggema sampai sudut aula.

Sontak, kiai tersentak. Kembali aku lihat kiai Musthafa memutar-mutar akik di jari tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak akan kujual sejengkalpun tanah pesantren ini! Kalian catat itu, saya tak akan menjualnya! Jadi tak usah risau. Keadaan pesantren masih aman!"

Hatiku mendidih. Kembali batu akik hijau lumut yang melingkar di jari kiai memancarkan cahaya dan menerpa tepat di sudut mataku. Aku tertegun kaget dengan keyakinan kiai yang berani menantang ancaman warga, yang akan membakar pesantren kalau kiai tak segera pergi. Padahal, sebulan ini hati kami ditikam gelisah.

"Tetapi, bukankah komitmen tak menjual pesantren itu menantang badai, kiai? Padahal warga tahu kiai mendirikan pesantren, menjual buletin Hijaiyah hanya untuk merengkuh keuntungan, bukan untuk dakwah. Sementara saat buletin mulai tak laku, kenapa kiai menimpakan kerugian pada kami? Apa itu adil kiai? Juga, saya masih ingat dulu kiai berjanji akan membayar ganti rugi sumbangan warga, kenapa janji itu tak ditepati oleh kiai?" tanyaku, dicekam rasa takut. Tapi, ketakutanku akan ancaman warga yang hendak membakar pesantren membuatku berani menatap wajah kiai meski kakiku gemetaran.

Kulihat wajah kiai merah, seakan tersengat listrik. Tatapan mata kiai mengusutku. Sinar kecoklatan matanya menikam hatiku, menusuk-nusuk jantungku. Kulihat ia memutar akik hijau lumut yang melingkar di jarinya, seraya dicekam amarah, "Tak perlu kau ingatkan aku dengan janjiku pada warga untuk melunasi pembayaran itu! Aku akan segara melunasinya! Itu masalah sepele!"

Ruangan aula kembali hening. Mata kiai menatap ke arah kami semua dan kami menunduk. Tak ada lagi santri bersuara. Kiai Musthafa pun pamit. "Kalau tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan, saya kira pertemuan ini cukup," ujar kiai Musthafa seraya meninggalkan aula pesantren.

Jejak-jejak kaki kiai Musthafa ketika melangkah di atas karepet hijau lumut, masih meninggalkan keheningan tatkala kami mendongakkan kepala menatap kepergiannya. Langkah kiai tegak. Kiai membusungkan dada seakan dia tak ingin ditundukkan...


/2/
DELAPAN tahun yang lalu kiai Musthafa datang ke kampung Cidubur hanya membawa kopor, dan sebuntal pakaian kumal. Tak ada setumpuk uang di kopornya. Dia datang sebatang kara, menyeberang laut. Tak seperti kisah-kisah para nabi yang meninggalkan negerinya, dengan membawa risalah kenabian dan memihak kaum miskin, kiai Musthafa konon meninggalkan negeri seberang, memakai jubah kumuh dan baju lusuh. Juga, tak berkopyah meski rambutnya brekele.

Di kampung Cidubur, kiai mengontrak sebuah kamar sempit, dengan harga murah untuk menekan biaya hidup. Untung, ibu pemilik kontrakan kiai Musthafa itu seorang wanita padang yang memiliki putri cantik bernama Winda yang sudah menjanda tiga tahun. Kiai musthafa yang juga lama menduda, terpikat putri ibu kostnya. Cinta kiai tak bertepuk sebelah tangan. Setahun kemudian ia menikahi Winda.

Kiai beruntung, lantaran ibu mertuanya memberi modal untuk mendirikan penerbitan tabloit Kabar Negeri. Sayang usaha penerbitan tabloit yang dirilis kiai Musthafa kurang memikat. Tidak cukup laku, meski ia sudah berjuang keras menjualnya ke negeri seberang. Akhirnya, kiai menghabiskan waktu mengunjungi tempat-tempat keramat. Di penghujung tahun 2000, kiai mendapatkan wahyu, lalu mengaku sebagai nabi. Selanjutnya, kiai mendirikan pesantren dan mendakwahkan ajarannya yang diilhami dari "cerita-cerita kematian" yang aneh lewat buletin Hijaiyah.

Buletin Hijaiyah ternyata menjadi dakwah ajaib bagi kiai. Kisah-kisah kematian janggal akibat perbuatan buruk seseorang yang diceritakan di buletin bisa membuat orang taubat dan datang ke pesantren untuk jadi pengikutnya. Dia disakralkan, dicium dengan takzim serupa nabi. Sehabis shalat Jum`at biasanya kiai menggelar pengajian, mendakwahkan ajarannya.

Dalam waktu singkat, buletin Hijaiyah membuat kiai mendadak kaya. Tak puas hanya memiliki buletin Hijaiyah dan Tabloit Kabar Negeri, ia menerbitkan majalah Maslahah, lantas disusul majalah Fatimah, majalah Farjasari, majalah Tarbiyah, majalah A`isyah dan majalah Shaf. Tahun berlalu dan menginjak tahun keempat, pesantren kiai sudah menjadi besar.

Tahun keempat itulah, aku diajak seorang temanku nyantri di pesantren kiai Musthafa. Awalnya, aku bangga sebab sambil nyantri, aku kerja di buletin Hijaiyah dengan menulis kisah-kisah kematian. Cerita dari buletin itu, bahkan sempat diangkat ke layar kaca. Kiai untung berlipat-lipar. Tetapi ambisi kiai menyebarkan dakwah, mencari uang dengan cara menyebarkan ajaran lewat majalah ternyata tak sejalan dengan prilaku kiai. Akibatnya, pesantren bangkrut. Kiai Musthafa menanggung utang menumpuk.

Kabar miring pun beredar. Ajaran kiai dianggap bohong, lantaran kiai kerap ingkar janji, terlebih saat kiai ditagih untuk melunasi utang-utangnya. Warga kampung Cidubur mengancam akan membakar pondok pesantren kiai Musthafa.

Tapi, kiai rupanya tak takut. Meski ia sudah ditikam utang bertumpuk, dan warga telah mengancam, kiai tetap tidak menjual tanah pesantren. Padahal, kami dilanda gelisah dengan ancaman warga. Maka, aku berani menantang tatapan mata kiai saat pertemuan itu.

Aku tak ingin pesantren hangus, dilahap api.


/3/
PAGI itu, aku bangun ketika kudengar pintu kamarku diketuk orang. Aku bangkit membuka pintu dengan mata masih setengah terpejam. Ketika aku membuka pintu, kulihat Mungad berdiri mematung di depanku, "Kau dipanggil pak kiai!"

Aku menggangguk lalu bergegas ke kamar mandi.

Lima belas menit kemudian aku melangkah ke rumah kiai. Tepat di depan pintu, aku mengucap salam. Tidak kusangka, kiai sudah menunggu di ruang tamu. Aku melangkah masuk dengan kaki gemetar dan keringat membasahi bajuku. AC di rumah kiai kurasa tak sedingin biasanya.

"Aku adalah kiaimu, dan kamu santriku. Kamu sudah berapa lama tinggal di pesantren ini?" tanya kiai Musthafa dengan mata menyala merah.

"Tiga tahun, pak kiai!"

"Apa yang kurang kuberikan padamu? Kau seperti orang yang tidak punya sopan santun! Apa kamu ingin kuusir dari pesantren?"

Aku diam, tak menjawab. Kulihat mata kiai kian merah. Tak ada senyum. Ketika itu, kiai tak memakai kopyah, rambutnya serupa belukar. Aku mendengar cerita dari santri senior, jika rambut kiai sudah brekele, maka jangan sampai membantah. Maka, aku memilih diam. Senyum yang aku susun seketika luntur. Aku gugup. Mukaku pucat. Di luar dugaanku, kiai ternyata bisa marah.

"Jika kau masih ingin tinggal di pesantren ini, jangan coba-coba lagi mengusikku. Aku mual mendengar ucapanmu, kemarin pagi! Kini, pergilah sebelum aku menamparmu!"

Aku segera meninggalkan rumah pak kiai. Seakan bangun dari tidur, aku nyaris tak percaya. Kiai memanggilku hanya untuk memarahiku. Tapi sekembaliku di kamar, aku tak menarik selimut untuk tidur lagi, melainkan segera mengepak pakaianku.

/4/
TEPAT tengah malam, aku meninggalkan pesantren. Tatkala aku melompati pagar pesantren, aku memutuskan tak akan menoleh ke belakang lagi dan berniat pergi jauh-jauh. Tapi saat aku sampai di luar pesantren, kulihat percikan api berkobar di belakangku. Aku akhirnya menoleh.

Astaga! Aku hanya termangu. Kulihat api telah melahap pesantren. Tapi aku memutuskan segera bergegas pergi meninggalkan pesantren. Sesaat kemudian, ketika aku mampir di warung untuk menghilangkan dahaga, kulihat kiai Musthafa diangkut di atas mobil polisi. Rupanya, warga telah melaporkan aktivitas kiai Musthafa yang dianggap menyebarkan aliran sesat sebab mengaku sebagai nabi.

Aku mengelus dada. Diam-diam, aku pergi dari kampung Cidubur. Kutatap pesantren untuk terakhir kali, dan tiga tahun masa laluku hangus di pesantren kiai Musthafa.***

Lasem - Ciputat, 15/12/07

1 komentar:

n mursidi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.