Rabu, 24 Agustus 2011

Siluet Ka`bah

Cerpen ini dimuat di Tabloid NOVA ed 1227/xxiv 29 Agust - 4 Sept 11

SETIAPKALI senja mengendap di altar cakrawala, dan tampak lengkung pelangi berwarna jingga merona di balik kabut, ayah selalu duduk termangu di beranda rumah seakan-akan sedang menunggu seseorang yang hendak bertamu ke rumah kami. Tetapi, aku tidak pernah menjumpai ada tamu yang kemudian datang ke rumah kami. Aku sering kali justru menjumpai ayah memasuki rumah dengan memendam rasa kecewa, tatkala adzan maghrib berkumandang. Dengan tergesa, ayah lalu ganti baju, meraih kopiah di atas almari, dan bergegas pergi ke sebuah masjid di dekat rumah kami.

Aku tak tahu, kapan tepatnya ayah mulai mencintai senja dan suka memandang langit yang dihiasi lengkung pelangi. Semula, aku menduga, ayah mulai sering duduk sendiri di beranda, sejak ibu meninggal tiga tahun yang lalu. Aku pikir, ayah masih diliputi perasaan berduka karena ditinggal pergi oleh ibu. Tapi, dugaanku itu ternyata salah.

“Aku tak sedang mengenang almarhumah ibumu dengan cara melihat senja di balik kabut yang dihiasi lengkung pelangi…” ujar ayah, pada suatu senja, “Jika itu yang kukenang, aku mungkin akan kau anggap gila, karena aku ini tahu bahwa orang yang sudah meninggal jelas tak akan hidup lagi...”

“Jika tidak mengenang almarhumah ibu lantas untuk apa ayah duduk termangu di beranda rumah, memandang lengkung pelangi di balik senja yang melindap?”

“Aku hanya ingin memandangi siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi,” jawab ayah, membuatku tak mengerti. “Dan setelah melihat bayangan Ka`bah itu, aku seperti merasakan kesenangan yang tidak terkira …”

Kupandangi senja yang baru saja melindap di cakrawala, menerawang jauh ke balik bayangan lengkung pelangi yang disepuh seribu rupa warna-warni. Setitik pun, tak kulihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Hanya kulihat senja yang ungu, lengkung pelangi dan hamparan langit temaram yang hampir petang.

“Kamu melihat?” tanya ayah.

“Hmmm… Tidak!”

“Sayang, kamu tidak bisa melihat! Jika bisa, pasti kamu akan duduk di beranda ini setiap senja dan kemudian merengkuh silut itu untuk ayahmu!”

Aku sama sekali tak mengerti. Di mataku, ini sungguh tak masuk akal. Bagaimana mungkin ayah bisa melihat sileut Ka`bah dalam lengkung pelangi, sementara aku tidak melihat setitik pun bayangan Ka`bah melintas dalam mataku. Aku jadi penasaran, dan berusaha mendesak ayah.

Tapi ayah tak pernah mau berterus terang. Aku jadi diliputi penasaran.

Tapi siang ini, aku baru sadar, kalau ayah sering duduk di beranda memandangi lengkung pelangi, tepat sebulan setelah lebaran setelah dua kakak perempuanku dan anak-anak mereka yang lucu meninggalkan rumah kami untuk kembali ke kota. Sempat aku menduga, kepergian mereka itulah yang membuat ayah merasa kesepian lantaran setelah kepergian mereka, praktis ayah tinggal bersamaku, putri terakhirnya.

Tetapi, aku tahu, ayah tak pernah merasa kesepian dengan kepergian mereka. Ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi lantaran ayah memendam impian. Sebuah impian yang mengumpal dan perlahan mampu menyingkap awan ketika senja melindap lalu siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi terpampang di mata ayah.

Sayangnya, aku terlambat bisa mengantar ayah merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi yang diimpikan itu …
***

SIANG ini aku tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi ayah yang mendadak diserang panas. Sejak ditinggal pergi oleh ibu tiga tahun lalu, ayah memang sering sakit-sakitan. Maklum, usia ayah sudah enam puluh tahun lebih. Setiap satu bulan sekali, aku terpaksa harus mengantar ayah berobat jalan dengan setumpuk penyakit yang dia derita, mulai dari serangan paru-paru, lemah jantung hingga kencing manis dan entah apa lagi.

Tetapi, sakit panas yang diderita ayah kali ini sungguh di luar dugaanku. Kemarin sore, ayah masih terlihat sehat bahkan lahap menghabiskan sepiring nasi dengan sayur asam yang kubuat sebelum beliau duduk di beranda menengadah ke langit yang kata ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung palangi. Dan siang ini, tahu-tahu ia diserang panas sebelum aku pamit pergi ke rumah paman Salim yang kebetulan hendak pergi ke tanah suci bersama bibi Jumroh, besok sore.

Awalnya aku nyaris tak jadi berangkat ke rumah paman, tak tega meninggalkan ayah di rumah sendiri. Tapi, ayah memaksaku untuk tetap pergi dan sebelum aku pergi, masih kuingat pesan pendek ayah, “Salam buat pamanmu. Sampaikan pesanku agar di tanah suci nanti ayah didoakan cepat-cepat dipanggil Allah untuk segera menyusul…”

Dalam perjalanan ke rumah paman di kampung sebelah, aku menyimpan pesan ayah dalam ingatanku. Aku tak tahu, di kemudian hari, pesan ayah itu masih tersimpan dalam ingatan dan membuatku selalu ditikam salah.
***

ORANG-ORANG lalu lalang, dan rumah paman Salim terlihat ramai saat aku tiba di depan rumah paman diantar oleh seorang tukang ojeg. Aku cepat-cepat menelusup masuk rumah paman melalui pintu belakang, dan disambut bibi Jumroh yang kebetulan sedang di dapur. Bibi menggandeng tanganku, memasuki ruang tengah yang dipenuhi beberapa tamu yang nyaris tak kukenal. Kulihat, orang-orang menyalami bibi dengan wajah berbinar, saling mengharapkan sebuah doa. Lalu, beberapa orang bersalaman untuk pamit pulang tapi dari luar pintu, datang beberapa tamu lagi seperti tiada henti.

Hingga akhirnya, perlahan tamu mulai susut dan pulang. Hanya tinggal keluarga dekat. Aku memberanikan diri mendekati tempat paman Salim duduk, menyampaikan pesan ayah. Tidak kuduga, wajah paman mendadak berubah merah seakan tertampar oleh pesan ayah.

“Setelah mendengar pesan dari ayahmu, aku tiba-tiba teringat peristiwa di masa lalu. Dulu sebelum kamu lahir, sekitar tahun 70-an dan orang-orang naik haji masih naik kapal, ayahmu sudah berniat hendak pergi ke tanah suci. Tapi, ayahmu mungkin belum beruntung atau takdir yang memang belum membawa ayahmu pergi ke tanah suci…” ujar paman tiba-tiba, membuatku kaget dan termangu, “Aku tak tahu! Aku hanya tahu, orang-orang bercerita bahwa ayahmu pernah ikut arisan haji dan separoh dari mereka itu sudah berangkat ke tanah suci, tapi jatah untuk ayahmu tidak juga kunjung keluar…”

“Jika yang diikuti ayah itu serupa arisan, kenapa ayah tidak mendapatkan jatah atau giliran, meskipun berangkat belakangan?” tanyaku, ingin tahu lebih jauh lantaran sampai detik ini ayah belum kesampaian pergi ke tanah suci.

“Sayangnya, arisan haji itu kemudian berhenti di tengah jalan! Tak lagi berlanjut, karena orang-orang yang jadi anggota arisan itu kebetulan sudah tua dan satu persatu mulai meninggal dunia. Tragisnya lagi, ahli waris anggota arisan tak dibebani tanggung jawab membayar padahal ayahmu belum mendapat giliran pergi ke tanah suci …”

Aku diam dan terpaku mendengar cerita paman Salim. Alangkah, malang nasib ayah! Air mataku, perlahan mulai mengalir dari sudut mataku, membasahi wajahku. Dan aku baru sadar, jika ayah memendam sebuah mimpi yang belum kesampaian. Kupikir, impian terpendam ayah itulah yang membuatnya duduk di beranda, membayangkan siluet Ka`bah setiapkali senja mengendap di balik awan.

“Pantas,” ucapku seketika, “Ayah selalu membayangkan siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi setiapkali senja melindap. Aku tak tahu, kalau ayah duduk di beranda dan menengadah ke arah langit itu, seakan-akan ayah benar-benar melihat Ka`bah…”

“Jika kau tidak keberatan, juallah tegalan yang menjadi warisanmu! Mumpung, ayahmu masih sehat…!”

Dalam hati, aku tidak keberatan dengan usul paman Salam.
***

SENJA baru saja turun dan seperti terapung-apung di cakrawala, ketika aku tiba di rumah. Tetapi belum sempat aku memasuki rumah, Kang Paijo, salah satu tetanggaku sebelah rumah, buru-buru menyambutku. Ia terlihat gugup. Wajahnya seperti bimbang. Dan akhirnya, dia gemetar berucap, “Ayahmu pingsan…!” suaranya, seperti tercekat, “Tadi, aku temukan ayahmu jatuh dari teras.”

Buru-buru, aku memasuki rumah, dan menemukan ayah dalam keadaan terbujur kaku di atas balai. Napas ayah naik turun, membuatku masih dapat bernapas lega. Aku mendekati ayah, kupegang erat-erat tangannya. Entah kenapa, aku tiba-tiba cemas seperti disergap perasaan bersalah dan dosa.

“Sebaiknya, ayahmu segera dibawa ke rumah sakit. Mungkin aku bisa meminta tolong kepada pak Burhan untuk membawa ayahmu ke rumah sakit dengan mobilnya,” akhirnya Kang Paijo menawarkan bantuan.

Aku mengangguk.

Buru-buru, Kang Paijo pergi.

Air mataku perlahan membasahi kening. Kulihat mata ayah terpejam, seakan ia tertidur dengan nyenyak. Aku gerayangi bagian kepalanya dan kutemukan ada darah segar menggenang di sebagian rambutnya.

Lima menit berlalu. Lalu, sepuluh menit. Setelah lima belas menit berlalu, Kang Paijo tidak juga kunjung datang, aku disergap takut. Napas ayah mulai tidak terkendali. Hingga sesuatu tidak terduga, akhirnya terjadi. Mataku seperti terganggu oleh sebuah perkembangan yang nyaris tak kusangka. Napas ayah mendadak berhenti. Kupegang urat nadi ayah, tak ada darah mengalir di sepanjang tanganya.

Aku memeluk tubuh ayah erat-erat, tak ingin ayah meninggal sebelum mimpinya melihat Ka`bah terwujud ketika aku sudah bertekat hendak menjual tanah warisan. Tapi tubuh ayah sudah beku. Dan aku tahu, ayah sudah meninggal dunia…

Perlahan, aku bangkit lalu berjalan menuju beranda. Senja masih mengapung di cakrawala. Pelangi berwarna jingga merona di balik awan. Tiba-tiba, senja hari itu, aku melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Tetapi, aku sudah terlambat mengantar ayah bisa merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi itu… ***

Ciputat, 06/11/ 2008

10 komentar:

Yosandy L. mengatakan...

agak sulit mencontek Mas Nur sebagai master cerpen dalam menghasilkan karya seindah ini

n. mursidi mengatakan...

wah, jangan tinggi2 mas memujinya, nanti aku jatuh.... aku juga masih belajar kok, dalam menulis cerpen!!! aku tunggu tulisan seputar makanan sunda-nya yg membuat lidah bs berdecak dan menggeliat

merpatisunyi mengatakan...

melihat gambar dan judul cerpen ini, aku teringat setahun lalu, saat aku juga menulis dikit tentang haji. Tapi kenapa harus kamu duluan yang nulis cerpen tentang ka'bah dan haji??? (bukan ngiri bung, tapi kamu memang yang terbaik soal kecepatan dan ketepatan menulis serta membaca peluang).
ehm,,dalam beberapa cerpenmu selalu yang menjadi tokoh utama adalah ayah atau ibu. kenapa? apa karena kalau ibu selalu terkesan lebih indah dan melankolis? atau merasa berkobar-kobar mendapatkan keindahan kupu-kupu??? hahahaha... (yang ini murni guyon bung...)

n. mursidi mengatakan...

he 3x. sory bung, kemarin aku sudah of line, gak lama di internet. ok, terima kasih atas komentarmu yang membuatku tercabik2, dan tertimbun kritik2 yang pedas.... mungkin, aku memang terlalu melankolis.....

mamul mengatakan...

sori, karena aku telah membuatmu tercabik, walau sesungguhnya tak ada taring atau kuku yang bisa mencabik proses kreatifmu. aku sendiri termotivasi ketika kamu menagih kpn blog film bisa aku bikin. aku merasa tertohok dan malamnya sudah aku bikin. memang masih kasar (karena aku gatek banget). alamatnya ranahfilm.blogspot.com. oh ya, sekalian aku minta saran untuk pembuatan blog seperti punya kamu ini. bisa kirim HTML atau apanya gitu, biar bisa ngetrend kaya punyamu. hehehehe....

FAJAR S PRAMONO mengatakan...

Mas, cerpen kamu kali ini "aku banget".

Ayahku pernah stroke, dan jatuh di rumah Kutoarjo beberapa tahun lalu. Usianya enam puluh lima. Pada waktu jatuh stroke, hanya adikku yg paling kecil --perempuan-- yang pada waktu itu ada di rumah.

Alhamdulillah, sekarang beliau cukup sehat, meski beberapa kali terpaksa masuk RS.

Obsesi beliau hanya satu saat ini : naik haji.

Sebagai anak, kami menyesal, baru tahun ini berhasil mendaftarkan beliau untuk menunaikan panggilan itu. Ini artinya, paling cepat tahun 2010 beliau baru bisa berangkat.

Mohon do'anya ya, Mas, agar endingnya tidak seperti ending cerpen Mas Nur Mursidi. Amien...

n. mursidi mengatakan...

buat mas fajar, aku nulis cerpen ini, entah dapat ide dari mana; mungkin emosiku aja yang meraba2 masa laluku yang pernah punya dosa sama ayahku. Tetapi, kematian yang dialaminya hy sebatas kematian psokologis, karena ayahku akhirnya bisa pergi haji tahun 1995, meski sebelum itu ayahku pernah ikut arisan haji yang tidak pernah dpt jatah. he 3x.

Jadi ini semoga tidak menimpa orang lain; aku doakan ayah mas fajar bisa melihat ka`bah di Mekkah nanti... aku berdoa dengan sungguh2 dan serius....

n. mursidi mengatakan...

buat mamul, justru aku butuh cabik2an kamu. agar bisa terpacu, jadi tidak perlu merasa bersalah. aku terima krn aku juga kadang tidak kokoh memegang karakter tpkoh2 cerotaku, atau lebih parah lagi selalu menggunakan tokoh ibu. sori, kawan.... aku soal blog juga masih buta, aku masih butuh panduan dari temanku. jadi belum bisa membantu..... aku tunggu ulasan film2 kamu, yang pasti akan menohok dan keren....

andi mengatakan...

mas mana cerpen2 barunya, ditunggu

n. mursidi mengatakan...

cerpen2 yg baru mash disembunyikan di dokumen komputer, blm ada yg dimuat lagi --jd, gak enak jk belum dimuat di media di upload dulu di blog. sbb ada media yg gak mau muat jk lebih dulu dimuat di blog.