Tampilkan postingan dengan label opini di balik buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini di balik buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2016

Tanggung Jawab Moral Penulis Biografi

Satu tahun yang lalu (tepatnya tanggal 7 Agustus 2015), aku menerima "sebuah e-mail" dari seseorang yang tidak kukenal. E-mail tersebut diberi judul "permohonan". Dari judul yang dibuat, rasanya tidak ada yang menarik untuk kubaca lebih jauh. Sejenak aku berpikir: ah, ini paling-paling surat elektronik dari seseorang yang ingin minta sumbangan, atau bisa jadi surat elektronik dari orang di luar negeri untuk minta bantuan kepadaku lantaran dia dinikahi orang asing, lalu suaminya meninggal (biasanya kecelakaan), dan dia memiliki dana cukup besar yang ditawarkan kepadaku untuk bisa kurahasiakan.

baca lebih lanjut...?

Senin, 10 Desember 2007

buku berbau lendir dan moralitas penulis

Tanggapan utk Ahmad Fatoni

HARI itu, Sabtu 18 Juni 2005. Jakarta masih sesak dengan denging mobil dan kemacetan saat saya turun dari bus dan menginjakkan kaki persis di depan toko buku Gramedia, Matraman. Di akhir pekan seperti itu, saya biasa "melanglang buana" untuk melepas kejenuhan sejak lima bulan bekerja di Jakarta. Sebelum kuputuskan untuk masuk ke toko buku Gramedia, saya melangkahkan kaki ke kios koran. Kubuka Sinar Harapan terbitan hari itu, dan ketika membaca kolom budaya berjudul "Melirik Buku-Buku Berbasis Lendir" (Sabtu, 18/06/05) karya Ahmad Fatoni, seketika saya dibuat tercengang dan kaget.

baca lebih lanjut...?

Kamis, 22 November 2007

Ada Apa dengan Buku Berbau Lendir

(Tanggapan untuk Ahmad Fatoni/ dimuat di Jawa Pos, Minggu, 31 Okt 2004)


MEMBACA tulisan Ahmad Fatoni (Melirik Buku-Buku Berbasis Lendir, Jawa Pos, 24/10/2004) saya melihat ada keprihatinan yang ingin disampaikan berkaitan dengan maraknya buku-buku yang bersinggungan "kehidupan esek-esek" serta penyimpangan seksual. Apalagi, setelah Orde Baru tumbang, yang secara seporadis diikuti dengan pertumbuhan "dunia penerbitan" dan kemunculan buku bertema seks, ternyata menjadi idola pembaca. Tidak berlebihan jika kemudian Ahmad Fatoni menyayangkan fenomena itu. Dia tampaknya sangat geram!

baca lebih lanjut...?

Selasa, 20 November 2007

Merindukan Buku Pendobrak dan Langgeng

(Tulisan Tanggapan buat Ahmad Fatoni)
Oleh: n. mursidi *)


KERINDUAN Ahmad Fatoni (Merindukan Buku Jaminan Mutu, Surya Minggu, 17/06/07) terhadap buku-buku yang bermutu di tengah euforia perbukuan Indonesia sejak reformasi bergulir sembilan tahun lalu memang menjadi harapan bagi pembaca dan penggila buku di seantero negeri ini. Tapi, harapan itu ternyata kekecewaan. Karena buku-buku yang beredar di pasar dan dijejer di sejumlah toko buku, nyaris dipenuhi dengan buku-buku yang tak bagus (meski tak seluruhnya), alias mutunya tak menjadi jaminan. Wajar jika Ahmad Fatoni --saya juga pembaca di Indonesia-- kemudian geram!

baca lebih lanjut...?

Senin, 12 November 2007

buku dan dunia sepak bola

DARI event pertandingan sepak bola, terutama "Piala Dunia" (World Cup) di Jerman 2006 ini, dunia seolah-olah disimpulkan dalam sepetak lapangan. Olah raga paling pupuler sejagat itu nyaris menyedot perhatian manusia di seluruh dunia dan lapangan seakan cermin kehidupan. Ia tidak sekadar permainan, melainkan suatu tontonan "hasrat purba" manusia; adu kekuatan yang saling bermain untuk mempertontonkan skill, kerjasama dan inisiatif dalam mencetak gol dan berlomba untuk menang. Mirip seperti kehidupan di atas bumi ini!

baca lebih lanjut...?

Rabu, 07 November 2007

penulis, mana sumbanganmu pada peradaban?

(esai ini dimuat di Suara Pembaruan, Minggu 18 Juni 2004)

Orang boleh saja kecewa dengan lahirnya reformasi yang tidak membawa angin perubahan di bidang politik. Sebab, tumbangnya Orde Baru ternyata tak serta-merta membuat tatanan pemerintahan lebih baik, bersih, dan negara bisa maju sebagaimana agenda reformasi yang dihembuskan sejak enam tahun lalu. Bisa dikatakan, korupsi malah merajalela dan tampil dengan vulgar. Ya, reformasi di bidang politik mengalami stagnan. Juga reformasi hukum masih menunjukkan anomali keadilan. Lebih parah lagi, ekonomi tak semakin membaik, malah kian menggelisahkan perut rakyat.

baca lebih lanjut...?