Jumat, 26 Oktober 2007

Kupu-kupu yang Hinggap di Pintu


(Cerpen ini dimuat di Sinar harapan, Sabtu 18 Oktober 2003)

/1/
SEEKOR kupu-kupu berwarna kuning kecoklat-coklatan hinggap di pintu pondokanku, pada suatu malam yang sekarat. Ia hinggap dan mendekap di pintu dengan rasa gigil yang teramat sangat, seperti sehelai daun sehabis diterpa angin bahorok. Nyenyat. Kedinginan. Hanya kedua sayapnya saja yang bergoyang ringan, ketika angin membelai kegelapan malam.



Kutatap binatang itu dengan sorot mata yang tajam, menelisik pada kedua sayapnya dengan juling kerling mataku. Namun, kupu-kupu itu melungker dengan tenang, seperti tak peduli kedatanganku. Ia sama sekali tak terusik. Bergeming. Tak terisak. Juga, tak tidur—tentunya.

Angin berembus kencang, kian menambah dingin terasa mencincang sukma. Entah dari mana kupu-kupu itu datang. Tahu-tahu, ia sudah hinggap di pintu pondokanku begitu aku tiba pada suatu malam—dari satu bepergian yang tanpa tujuan. Rupanya, angin malam yang bangsat telah menghempaskan kupu-kupu itu untuk sejenak berteduh dari jari-jemari usil angin belitung. Mungkin kupu-kupu itu sekedar ingin mampir setelah lelah terbang di angkasa, lalu hinggap pada bundelan kertas pesan tamuku yang kupasang di pintu pondokan dan seolah-olah kedatangannya memang ingin mengabarkan sesuatu.

Kuperhatikan lagi binatang itu dengan saksama sebelum aku putuskan memasuki pondokan. Namun, seketika itu, muncul pertanyaan dalam benakku, ”Apakah besok aku akan kedatangan tamu?”

Tak tahulah, aku. Entah kenapa pertanyataan itu tiba-tiba mendongkak ingatanku dan seketika itu pula aku teringat ibu. Sebab, hampir setiap kali ada kupu-kupu hinggap di pintu rumah kami, ibu selalu berkata, ”Kupu-kupu itu mengabari kita kalau rumah ini akan kedatangan tamu!”

Aneh, memang! Meski aku tak yakin, ucapan ibu selalu benar. Entah malam atau keesokan harinya, rumah kami, setelah dihinggapi kupu-kupu, selalu kedatangan tamu. Memang tamu itu tak selalu orang penting. Kadang famili, kadang juga teman kerja ayahku. Namun, kedatangan kupu-kupu yang menempel di pintu, yang kemudian diikuti dengan tamu yang datang ke rumah kami, hampir tak bisa kubantah!

Aku masih kecil ketika itu, namun ingatanku sungguh luar biasa untuk sekadar mengenang sebuah kejadian yang sepele sekalipun. Suatu pagi, ibu melihat seekor kupu-kupu hinggap di pintu. Seperti tahu, ibu dengan segera menyiapkan segalanya. Tak cuma disuruh aku membersihkan rumah, namun ibu memasak ayam, juga menyiapkan kamar dan menyuruhku menjemput ayah (yang bekerja sebagai pedagang di pasar kecamatan kota kami) untuk segera pulang jika pasar sudah sepi.

Seharian penuh, kala itu, tak ada yang kupikirkan kecuali segenggam kegelisahan. Benarkah akan datang tamu ke rumah kami? Kapan pula tamu itu akan datang?

Namun, hingga malam tiba, tak juga ada pintu diketuk. Tak juga ada ucapan salam. Malam itu, aku yakin, ayah sudah tidur setelah memarahi ibu hanya gara-gara punya keyakinan tak masuk akal tentang kupu-kupu itu. Tapi, sebelum aku beranjak tidur, kulihat ibu duduk di ruang tengah, merajut kain seolah menyulam pada malam. Aku tak tahu, apa yang ada dalam pikirannya.

Tetapi, ketika malam sudah larut dan aku hampir saja terlelap, kudengar pintu rumah kami diketuk. Seketika itu, aku bangun. Berjingkat, mengintip dari balik tirai kamar dengan rasa penasaran yang tak tertahan. Tak kuduga sebelumnya dan rasa heranku belum juga sirna, ketika seorang tua dengan baju batik yang tak lain kakekku sendiri berdiri di depan pintu, dan ibu mencium tangannya dengan takzim.

Sebenarnya, aku masih tak yakin akan firasat ibu tentang kupu-kupu itu. Namun, setelah berkali-kali aku menjumpai kenyataan dan ibuku selalu benar, aku pun akhirnya dilingkupi suatu kepercayaan; jika ada kupu-kupu yang hinggap di pintu pasti akan ada tamu yang datang. Seperti kejadian pada malam ini, seekor kupu-kupu berwarna kuning kecoklat-coklatan hinggap di pintu pondokanku. Aku yakin, besok aku akan didatangi tamu. Tetapi, entah siapa tamu itu? Aku tak tahu!

Angin berhembus kencang, memaksaku untuk segera masuk pondokan jika tak ingin disengat dingin dan gigil. Kubuka pintu dengan lirih. Karena, aku tak ingin kupu-kupu itu terusik. Namun, sebelum pintu kututup, di langit masih kulihat bulan setengah baya seperti mengintip dari balik awan dan kulihat seberkas cahaya rembulan tak menyiratkan akan adanya duka.

Malam itu, aku benar-benar tertidur pulas. Terhempas oleh mimpi...


/2/
PAGI itu tiba dengan cepat, tak seperti pada hari-hari biasanya. Mungkin saja, karena semalam aku tidur dengan pulas dalam letih yang teramat sangat. Rupanya, dingin pagi telah membangunkanku lebih awal. Lalu, kuseduh kopi untuk menghangatkan tubuh dalam suasana pagi yang sungguh menjerang tulang, namun masih juga membuat sendiku terasa segar.

Sinar mentari pagi belum juga muncul. Dari kaca jendela pondokan murahku yang tak bergorden, gelap subuh masih menggoreskan warna hitam pekat pada pagi. Ada titik-titik embun yang membekas di kaca jendela. Juga di setiap sudut jalan sana, masih kulihat pancaran pijar kekuningan dari sinar lampu-lampu kecil di sepanjang jalan. Masih belum ada suara keramaian dan kendaraan lewat.

Tiba-tiba, aku ingin menikmati pagi. Kubuka pintu dengan segurat harapan pada langit. Tak kulihat dewa pada pagi itu. Langit hanya sekeping gelap yang kosong. Tanpa bintang. Tanpa pijar. Aku masih teringat untuk berdoa ketika angin menelusup ke ruangan, menampar mukaku yang masam oleh penat. Tapi, betapa terkejutnya aku, setelah pintu kubuka. Astaga! kupu-kupu itu masih juga menempel di pintu. Ia melungker seperti bayi yang haus kasih sayang seorang ibu. Kulihat, binatang itu terlelap, meski pagi membelai kedua sayapnya dengan nyenyat dan aku sungguh tak ingin mengusiknya. Tak ingin mengusirnya. Setidaknya, karena kasihan...

Hingga pagi beranjak hampir siang, aku lihat kupu-kupu itu masih juga menempel di pintu. Aku tak habis pikir, kenapa ia betah menempel di pintu, tak beranjak untuk terbang. Apakah kehidupan di luar sana sungguh ganas karena bisa membuat kupu-kupu itu terluka sehingga urung terbang?


/3/
SIANG datang seakan diseret waktu untuk mentas dari pagi yang murai. Entah kenapa, siang itu aku terdorong untuk membersihkan kamar, lalu mencuci pakaian. Setelah itu, aku membaca beberapa buku sekedar mengisi waktu.

Sengaja, aku tak pergi, siang itu. Selain, karena aku letih setelah bepergian, juga tak ingin mengecewakan tamuku jika nantinya datang. Namun, kecapekan membersihkan kamar, lagi-lagi membuatku tak sadar begitu tubuhku terhempas di atas kasur, terlelap. Tidur.

Siang itu, aku pun ditikam mimpi siang bolong yang bohong...


/4/
SORE akhirnya tiba juga, tanpa kuikuti proses perjalanan waktu yang berjalan dengan cepat karena aku terhempas dalam mimpi. Masih juga kurasakan letih yang seakan mematahkan tulang. Aku malas beranjak, memang. Namun tetap kupaksa juga untuk bangun. Sorot dari pandangan mataku seketika tertuju pada pintu pondokan yang tak kututup. Ada rasa kecewa. Ada rasa kehilangan yang seakan hadir menggores kalbu. Hampa...

Kukucek-kucek mataku. Di pintu, tak lagi kulihat kupu-kupu berwarna kuning kecoklat-coklatan menempel di sana. Ia telah tiada. Hilang. Lenyap. Terbang entah ke mana. Tak juga kulihat ada jejak kepakan kedua sayapnya ketika pergi meninggalkan pintu pondokanku, atau mungkin juga aku.

Dari pintu yang terbuka lebar, kulihat cakrawala hanya semburat batas penglihatan mataku yang kabur. Dan senja cuma memberikan sepotong pelangi, tanpa kupahami warnanya. Kenapa harus ada kekecewaan untuk sebuah kepergian (seperti kepergian kupu-kupu itu, meski aku tak punya hak dan tak punya nyanyian untuk membuatnya betah dan tinggal lebih lama)?


/5/
MALAM datang pada hati yang gelisah. Malam itu aku ditikam cemas. Ah, kenapa aku masih termenung saja menunggu sesuatu yang tak pasti dari sebuah kepercayaan tentang kupu-kupu? Malam memang telah memberi kabar gembira padaku—begitu juga pada hari-hari biasa— sebagai seorang yang setia menunggu malam. Kulihat jam di dinding, pukul 19.00. Namun, malam itu masih juga belum ada temanku yang nongol dari balik pintu. Juga seuntai salam dari seorang tamu.

Kesepian adalah duka angin lara yang menghempas perasaan seseorang. Malam itu, sungguh lengang juga suasana pondokanku, apalagi tak ada teman bersamaku. Semua teman pondokan (tiga orang) sama pulang, karena musim liburan.

Kekasihku? Ah, seandainya kamu tak pergi meninggalkanku, dan kini entah di mana kamu, pasti ada tawa dan cerita yang sudah kurangkai untukmu tentang kisah kepergianku kemarin.

Pada malam seperti ini, bukankah kamu biasanya memintaku untuk selalu bercerita? Aku tahu sepenuhnya, kamu biasanya akan mendengarkan dengan hikmat, seolah aku ini seorang pengkhotbah. Oh, Kepergianmu hanya membuat malamku sepi dan hanya pada malam, kini aku bisa mengadu.

Malam merambat. Pukul 20.00. Belum ada tamu yang bertandang juga. Aku benar-benar ditikam kesal. Kuingat satu per satu temanku. Entah kenapa, malam itu, aku jadi seorang yang benar-benar ingat pada teman, janji dan tak ingin dikecewakan. Setidaknya untuk sebuah persahabatan. Akhirnya, teringat juga seorang teman yang sudah lama berjanji mau mengunjungiku. Tetapi, aku tak tahu; apakah ia akan datang malam ini atau tidak? Aku menunggunya di malam yang lengang, sendirian dengan rasa cemas yang meremas sumsum.

Malam semakin larut. Sudah pukul 21.00, dan aku sungguh dibuat kesal —setidaknya pada diriku sendiri. Karena sudah tak mungkin lagi ada tamu mau bertandang, mengingat hari sudah malam seperti ini. Aku sadar, kini, tak selalu apa yang kita yakini itu benar. Juga, tak selalu yang kita anggap salah itu tidak benar. Kupu-kupu adalah bintang bebas yang punya kemauan untuk terbang atau hinggap di mana pun, tak terkecuali jika ia mau hinggap dan berdiam lama di pintu pondokanku. Toh, jika aku kemudian menghubungkannya dengan kedatangan tamu, itu hanya sebuah kepercayaan dan toh jika nantinya benar, itu tak lebih sebuah kebetulan belaka.

Kututup pintu. Aku kesal. Lalu, kurebahkan tubuhku di kasur, pada kesunyian malam aku berbagi. Aku benar-benar ingin tidur dengan nyenyak meski dalam hati ada sebuah peta kekesalan yang kubuat sendiri...

Sulit juga, mataku terpejam. Namun akhirnya terlelap juga —setelah pegal mengutuk diri sendiri. Gemes. Dan setelah berapa menit aku terhempas, kurasai diriku melayang di angkasa luas. Terbang dengan kedua sayap. Ohoi... aku jadi seekor kupu-kupu. Lalu, aku hinggap pada pintu sebuah rumah mungil. Oh, betapa terkejutnya aku, setelah kutahu pemilik rumah itu ternyata ibuku dan rumah itu tak lain adalah rumahku.

Seketika, aku tergeragap. Bangun dengan mata bengkak. Aku tak tahu, apa arti mimpiku ini? Adakah mimpiku ini memang cermin realitas? Apa ibuku mengharap aku pulang ke rumah setelah kuliahku selesai?

Ah, aku pikir tak ada salahnya jika aku pulang ke kampung... Aku memang kangen ibu. Kuliah sudah selesai, tinggal nunggu wisuda dan tak ada lagi yang bisa kukerjakan lagi memang, kecuali beberapa editan tulisan yang belum jatuh tempo.

Akhirnya, malam itu kuputuskan pulang ke rumah. Segera aku berkemas, lalu naik becak menuju ke terminal. Setelah itu, kulanjutkan naik bis. Hanya ada satu pikiran yang bercokol dalam pikiranku selama perjalanan pulangku kali ini, dan itu akan kutanyakan pada ibu setelah aku nanti sampai di rumah, ”adakah kepulanganku kali ini, sebelumnya ada seekor kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah?”

Namun, perjalananku pulang kali ini benar-benar terasa lama. Rumahku terbayang dalam sebuah perjalanan yang tak sampai-sampai... ***


Souvenir kelulusan untuk ibu.
Yogya - Lasem, 30 Juni - 30 Juli 03

Tidak ada komentar:

Posting Komentar