<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065</id><updated>2012-01-12T22:08:55.064+07:00</updated><category term='resensi buku'/><category term='esai sastra'/><category term='di balik proses kreatif'/><category term='opini'/><category term='wawancara dan sosok di media'/><category term='cerpen'/><category term='esai film'/><category term='opini di balik buku'/><title type='text'>P  O  T  L  O  T</title><subtitle type='html'>malam ini aku harus menulis novel setebal 1000 halaman. jika sampai ayam jantan berkokok aku masih belum rampung, maka aku akan berubah menjadi patung. kekasihku, kenapa kau mengutukku?</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>100</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-2901837504993676849</id><published>2012-01-12T12:15:00.002+07:00</published><updated>2012-01-12T22:08:55.076+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Harapan Baru Pemberantasan Korupsi</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-cXP2ZQh5jEc/Tw5sAy3l08I/AAAAAAAACMY/rteXZqcrIOc/s1600/foto+jurnas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-cXP2ZQh5jEc/Tw5sAy3l08I/AAAAAAAACMY/rteXZqcrIOc/s200/foto+jurnas.jpg" width="134" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Opini ini dimuat di &lt;a href="http://nasional.jurnas.com/halaman/10/2012-01-12/195283"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Jurnal Nasional&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Kamis 12 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TAHUN 2011 telah berlalu. Kini bangsa Indonesia memasuki lembaran baru tahun 2012 dengan setumpuk harapan baru --terlebih dalam praktek pemberantasan korupsi. Maklum, sepanjang tahun 2011 tidak sedikit "permasalahan" bangsa yang masih meninggalkan debu dan setumpuk lumpur korupsi yang belum tertuntaskan -seperti kasus Bank Century, kasus Wisma Atlet, mafian pajak, dugaan korupsi proyek Hambalang bahkan sampai aktor di balik Nunun Nurbaetie terkait suap travel cheque dalam pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) Miranda Goeltom.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, "harapan baru" dalam tindak pemberantasan korupsi pada 2012 seperti mendapatkan "angin segar" setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mendapat mandat dari negara sebagai polisi antikorupsi memiliki nahkoda baru; Abraham Samad --yang menggantikan Busyro Muqoddas pada penghujung tahun 2011-- dengan dikawal punggawa, seperti Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, dan Zulkarnain, dan Busyro Muqoddas (yang memang belum habis masa jabatan). Di bawah kepemimpinan para punggawa baru KPK itu, kepercayaan publik kini disematkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak pelak, kalau harapan pada KPK di bawah Abraham Samad pun mendapat "dukungan" -apalagi Abraham Samad pernah berjanji akan mundur kalau ia dalam satu tahun tidak berhasil memenuhi janji. Janji Abraham itu, tidak bisa dinafikan-- seakan menegaskan bahwa tahun 2012 adalah lembaran dan harapan baru bagi bangsa Indonesia dalam pemberantasan korupsi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Catatan Pemberantasan Korupsi 2011&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang tahun 2011, beberapa prestasi yang telah ditorehkan KPK memang tak bisa dipandang sebalah mata. Meski, sejumlah kalangan masih melihat KPK tebang pilih dalam menangani korupsi dan tidak berani menyentuh lingkaran kekuasaan, bahkan ada yang menuding KPK tidak independen karena ditengarai kerap diintervensi, dan bahkan catatan kelam terkait pembebasan koruptor --sebagaimana yang ditemukan Indonesia Corruption Watch (ICW) bahwa pada tahun 2011 terdapat 45 orang terdakwa kasus korupsi yang divonis bebas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Tanah Air, tetapi tidak harus peta keberhasilan KPK pada 2011 ditenggelamkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 2011, KPK berhasil menangkap Nazaruddin --mantan bendahara umum dari Partai Demokrat- (di Kolombia) yang jadi buron interpol setelah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Selain Nazaruddin, di penghujung tahun 2011, KPK berhasil menangkap Nunun Nurbaetie di Thailand atas bantuan polisi setempat. Penangkapan Nazaruddin dan Nunun Nurbaetie itu seakan jadi secuil bukti bahwa KPK berani menyentuh orang-orang di lingkaran kekuasaan. Maklum, Nazaruddin adalah orang penting di Partai Demokrat mengingat jabatan yang disandangnya adalah bendara umum. Sementara itu, Nunun Nurbaetie bukanlah orang bisa mengingat ia adalah istri dari Adang Dorodjatun --mantan Wakapolri-- yang masih memiliki pengaruh kuat di tubuh polri dan partai di balik Andang --yakni PKS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain penangkapan dua orang penting itu, pada tahun 2011 KPK pun mencatat telah berhasil menyelamatkan aset negara yang mencapai Rp. 152.957.821.529.773. &amp;nbsp;Dalam laporan akhir tahun KPK memberikan perincian, bahwa jumlah tersebut terdiri atas penyelamatan potensi kerugian negara akibat pengalihan hak barang milik negara (BMN) Rp 532.198.228.000 dan penyelamatan keuangan negara dan kekayaan negara dari sektor hulu migas Rp 152.425.623.301.773. Dengan jumlah sebanyak itu, KPK telah membuktikan diri bawah peran dan amanat yang diemban dalam misi pemberantasan korupsi di Indonesia ini tidaklah sia-sia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebab, tidak sedikit kalangan yang menuding bahwa KPK telah menghabiskan banyak anggaran tetapi tidak berhasil mendapatkan target jika dihitung secara kalkulasi. Bahkan beberapa politisi sempat menggembor-gemborkan dengan kencang untuk membubarkan KPK --setelah dilihat dari hasil anggaran yang dikeluarkan tapi tidak menghasilkan pemberantasan korupsi yang maksimal. Padahal, tulis Bambang Soesatyo (2011) dana anggaran untuk KPK yang disetujui oleh DPR pada tahun 2011 Rp 574 milyar -naik lebih tinggi dibandingkan tahun 2010 yang hanya mencapai Rp 398 milyar. Jadi, dari laporan akhir 2011 yang dikeluarkan oleh KPK, bisa dilihat dengan jelas bahwa KPK tidak lebih besar pasak daripada tiang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harapan Tahun 2012&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan terpilihnya Abraham Samad sebagai Ketua (baru) KPK, tahun 2012 bisa disebut sebagai lembaran baru pemberantasan korupsi di Indonesia. Pasalnya, janji yang diucapkan Abraham Samad untuk menitikberatkan pemberantasan korupsi kelas kakap telah meniupkan optimisme di benak banyak orang bahwa di bawah kepimpinanan Abraham, KPK akan mampu membuat gebrakan. Tetapi, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya lewat janji. Karena itu, pada tahun 2012 ini, Abraham Samad harus memenuhi janjinya. Sebab jika tidak dapat memenuhi janji yang telah dia ucapkan, maka ia harus rela mundur. Dan pilihan mundur jika tidak berhasil itulah, yang menjadi harapan baru bagi keberadaan KPK pada 2012 ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sisi yang lain, pada tahun 2012 pemerintah sendiri sebenarnya tidak main-main dalam upaya pemberantasan korupsi. Komitmen itu dibuktikan dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) 17/2011 tentang Aksi Pencegahan, dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012. Inpres ini adalah lanjutan Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2011.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dua Inpres ini Pemerintah mengimplementasikan enam strategi sesuai rekomendasi United Nation Convention Against Corruption (UNCAC). Dari keenam (6) strategi itu, antara lain Pencegahan pada Lembaga Penegak Hukum; Pencegahan pada Lembaga Lainnya; Penindakan; Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan; Penyelamatan Aset Hasil Korupsi; Kerjasama Internasional; dan Pelaporan. Memang, target Impres yang meliputi enam (6) strategi itu tidak bisa sepenuhnya diwujudkan pada tahun 2012. Setidaknya, target itu diperkirakan baru terwujud pada 2014 dengan harapan Indeks Persepsi Korupsi atau Corruption Perception Index (CPI) Indonesia mencapai angka 5,0. &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak pelak, kalau tahun 2012 ini bisa disebut sebagai lembaran baru bagi penataan "bangunan yang kuat" untuk pemberantasan korupsi di Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;*) N. Mursidi&lt;/b&gt;, peneliti pada Al-Mu`id Institute, Lasem, Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-2901837504993676849?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/2901837504993676849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=2901837504993676849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/2901837504993676849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/2901837504993676849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2012/01/2012-harapan-baru-pemberantasan-korupsi.html' title='Harapan Baru Pemberantasan Korupsi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cXP2ZQh5jEc/Tw5sAy3l08I/AAAAAAAACMY/rteXZqcrIOc/s72-c/foto+jurnas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-7803263817312698561</id><published>2012-01-05T14:46:00.000+07:00</published><updated>2012-01-12T21:52:35.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Ironi Keadilan dan "Sandal untuk Kapolri"</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-c46lvw3BjpY/TwVUlgjJ-pI/AAAAAAAACMQ/ct3KdZ0w_4A/s1600/foto+jurnas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-c46lvw3BjpY/TwVUlgjJ-pI/AAAAAAAACMQ/ct3KdZ0w_4A/s200/foto+jurnas.jpg" width="134" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Opini ini dimuat di &lt;a href="http://www.jurnas.com/halaman/10/2012-01-05/194464"&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;Jurnal Nasional&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kamis 5 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KAPOLRI Jenderal Timur Pradopo benar -benar sedang diuji. Belum usai kasus yang melibatkan jajaran polisi terkait pelanggaran HAM di Mesuji dan Bima yang menuntut tindakan tegas dan profesionalisme Polri bahkan sampai memunculkan suara miring agar Timur Pradopo mundur (dari jabatan Kapolri), kini ia harus disibukkan dengan urusan sepele. Gara-gara urusan sandal, ia seakan dipermalukan dan dibuat gerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebab, aksi pengumpulan "sandal untuk Kapolri" yang dilatarbelakangi sebuncah empati demi keadilan AAL, seorang pelajar SMKN 3 di Palu--yang dituduh mencuri sandal milik Briptu Ahmad Rusdi--seakan menegaskan protes masyarakat tentang "ironisme keadilan" di negeri ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai bentuk protes, aksi itu langsung membetot kesadaran banyak orang. Dalam waktu singkat, sejak digelar posko di beberapa daerah seperti di Tangerang, Bekasi, Depok, Jakarta dan Palembang, aksi itu menjadi pembicaraan hangat, bahkan menjadi berita koran di luar negeri. Kasus sandal jepit ini pun mengingatkan kita atas aksi pengumpulan "koin untuk Prita"--sebagai bentuk protes ketidakadilan yang dialami Prita Mulyasari setelah ia mengeluhkan (lewat milis) terkait pelayanan RS Omni Internasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dukungan yang dilakukan sebagian kecil warga terhadap ALL dengan mengumpulkan sandal sebagaimana koin untuk Prita memang tak bisa dimaknai sebagai bentuk protes untuk menafikan bahwa tindakan ALL mencuri sandal itu dibenarkan. Aksi itu tidak lebih harus dimaknai sebagai metafora ketidakadilan hukum di negeri ini; bentuk protes kalangan bawah terhadap ironi hukum yang kerap tak berpihak pada orang kecil. Sebab hanya gara-gara mencuri sandal diancam lima tahun penjara. Kasus ini juga mengingatkan kita tentang tragedi hukum yang dialami Nenek Minah: hanya gara-gara mencuri 3 butir kakao ia harus diseret ke pengadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Logika Hukum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah yang memicu "pengumpulan sandal" ini bermula dari pencurian sandal yang dilakukan ALL. Kisah ini sudah terjadi sekitar setahun lalu, November 2010. Suatu hari, AAL bersama temannya lewat di Jalan Zebra di depan kost Briptu Ahmad Rusdi dan ketika ia melihat ada sandal jepit, ia kemudian mencurinya. Aksi pencurian itu akhirnya diketahui, dan ALL dipanggil. Setelah diinterogasi, rupanya kasus ini berbuntut panjang. Kasus ini tidak berakhir damai, tetapi kemudian bergulir ke pengadilan. Bahkan, AAL didudukkan di kursi persidangan dan didakwa sebagai pencuri sandal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jaksa dalam dakwaannya menyatakan AAL melakukan tindak pidana--sebagaimana pasal 362 KUHP tentang Pencurian dan diancam lima tahun penjara. Tuntutan jaksa (lima tahun penjara) itu memang tuntutan maksimal. Jadi, dalam proses persidangan nanti, bisa jadi ALL dihukum lebih ringan--dan vonis tahanan final nanti ada di pundak hakim. Tapi tuntutan jaksa dengan ancaman lima tahun itu yang dirasa sebagian kalangan terlalu bombastis dan dirasa mencederai rasa keadilan masyarakat. Tuntutan itu yang "memunculkan protes" dan berujung aksi pengumpulan sandal untuk Kapolri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara hukum, kasus (ALL yang mencuri sandal) ini memang menempatkan "posisi" penyidik dalam impitan. Sebab, bagaimanapun, mencuri adalah tindakan melanggar hukum karena telah merugikan orang lain. Hal ini pun telah diatur dalam KUHAP. Tetapi, dalam KUHAP tak diatur untuk mengesampingkan perkara, meski pun kasus pencurian tersebut menimbulkan kerugian materi yang kecil. Dalam hal ini kerugian materi itu berupa sandal yang tidak lebih berharga 30 ribu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi, jika kerugian materi kecil itu kemudian harus ditebus oleh pelaku dengan ancaman kurangan penjara lima tahun, memang mencederai logika hukum. Tak salah, jika tuntutan itu dirasa telah mencederai rasa keadilan di tengah masyarakat. Dalam kasus ini penyidik memang tidak bisa mengesampingkan perkara, meski pun kasus pencurian tersebut menimbulkan kerugian materi yang kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ironi Ketidakadilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasus yang mengundang dukungan terhadap ALL dengan aksi pengumpulan sandal jepit ini memang sepele. ALL hanya mencuri sandal. Jika dibandingkan dengan "setumpuk kasus besar" yang menimpa negeri ini, mulai dari penggelapan pajak, perampokan anggaran, korupsi di sejumlah lembaga kementerian, dan berbagai megaskandal korupsi yang nilainya mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah, kasus ALL ini nilainya memang tak seberapa. Sebab, sandal yang dicuri ALL itu cuma senilai kurang lebih 30 ribu rupiah. Tapi, justru di situ letak ketidakadilan yang hendak diprotes.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, aksi pengumpulan sandal untuk Kapolri ini adalah protes terhadap setumpuk masalah korupsi dan berbagai pelanggaran hukum di negeri ini. Sebab hampir sebagian besar kasus-kasus itu mengendap dan tak tertangani dengan baik. Jadi, aksi pengumpulan sandal jepit ini seakan menegaskan bahwa hukum di negeri ini bagai sebilah pisau--tumpul di bagian atas tetapi tajam di bagian bawah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kata lain, orang miskin di negeri ini kerap tidak menerima keadilan sebagaimana mestinya. Tak pelak, kalau ALL harus diseret ke pengadilan dan diancam hukuman lima tahun penjara hanya gara-gara mencuri sandal. Demikian juga dengan Mak Minah, hanya gara-gara mencuri tiga biji kakao yang tidak seberapa harganya harus dijatuhi hukuman penjara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sisi lain, polisi yang menganiaya ALL konon memang telah dijatuhi sanksi. Tetapi lagi-lagi ada ironi ketidakadilan dalam kasus ini. Padahal selama interogasi, ALL telah dipukuli dengan tangan kosong dan benda tumpul. Tetapi, Polda Sulteng hanya menghukum Briptu Ahmad Rusdi dengan dikenai sanksi tahanan tujuh hari. Sementara itu, Briptu Simson J Sipayang dihukum 21 hari. Kenapa ALL yang hanya "mencuri sandal" diseret ke pengadilan dan diancam hukuman lima tahun penjara, sementara kedua polisi yang telah melanggar hukum melakukan penganiayaan dalam interogasi cuma dijatuhi sanksi ringan? Kenapa kedua polisi itu tidak dibawa ke pengadilan atas tuduhan penganiayaan terhadap ALL?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, aksi pengumpulan sandal untuk Kapolri ini tidak serta-merta menolak hukuman yang harus diterima ALL. ALL memang bersalah karena mencuri (walaupun cuma mencuri sandal). Tetapi maksud di balik itu adalah "tuntutan akan profesionalisme" yang harus diemban para penegak hukum di negeri ini. Dengan kata lain, di balik aksi itu terselip sebuah tuntutan bahwa hukum harus ditegakkan--"tidak pandang bulu" dan rakyat miskin yang kerap terluka harus tetap dianggap sebagai manusia yang memiliki kesamaan hukum di depan pengadilan. n&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;*) N Mursidi, adalah Peneliti pada Al-Mu'id Institute, Lasem, Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-7803263817312698561?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/7803263817312698561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=7803263817312698561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/7803263817312698561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/7803263817312698561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2012/01/opini-ini-dimuat-di-jurnal-nasional.html' title='Ironi Keadilan dan &quot;Sandal untuk Kapolri&quot;'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-c46lvw3BjpY/TwVUlgjJ-pI/AAAAAAAACMQ/ct3KdZ0w_4A/s72-c/foto+jurnas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-8885370944653497979</id><published>2011-12-12T15:16:00.001+07:00</published><updated>2011-12-12T15:30:21.652+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='di balik proses kreatif'/><title type='text'>Sekelumit Kisah di Balik acara "Apa dan Siapa" TVOne</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-V7vS-JPWiZM/TuW57HylWCI/AAAAAAAACLo/gNojpgvkKwU/s1600/acara+apa+dan+siapa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-V7vS-JPWiZM/TuW57HylWCI/AAAAAAAACLo/gNojpgvkKwU/s200/acara+apa+dan+siapa.jpg" width="155" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku -sebenarnya-- bukan siapa-siapa. Tidak ada yang istimewa. Tak ada yang patut dibanggakan. Dari SD sampai kuliah di Perguruan Tinggi, nyaris selalu digulung setumpuk kegagalan. Setelah lulus SD, tak bisa meraih impian bisa sekolah SMP favorit. Ketika lulus SMP, kembali tak lagi bisa merengkuh mimpi bisa masuk SMA unggulan. Bahkan ketika lulus SMA, dua kali gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terpaksa harus menganggur selama dua tahun. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rentetan kegagalan itu kerap membuatku serasa tersingkir di luar arena. Tidak jadi apa-apa. Tidak bisa mewujudkan apa yang selama ini menjadi harapan orangtua. Akhirnya, setelah nganggur dua tahun, aku pun diimpit sesak pikiran. Hidup di sebuah kampung kecil (di daerah Lasem, Rembang Jateng) membuatku dihantam badai kegelisahan. Apalagi, setelah tiga temanku sudah menentukan pilihan. Aku tersentak berpikir: kalau aku tinggal di kampung selamanya, pasti aku tak akan pernah bisa mengubah nasib. Aku kemudian memutuskan ke Yogyakarta. Di kota itulah, aku kuliah di Universitas swasta (Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, harapan indah itu berubah jadi kenestapaan. Tepat sebulan di Yogyakarta, tiba-tiba ayahku jatuh sakit dan kondisi itu memengaruhi keuangan keluargaku. Ada dua (2) pilihan yang saat itu harus aku ambil: aku tetap kuliah dengan modal nekat atau pulang kampung. Aku memilih tetap kuliah meski dengan terlunta-lunta. Jualan koran di jalanan, sempat tidak memiliki kost (terpaksa harus numpang ke kontrakan teman secara bergantian dan bergiliran), sempat tidur di jalanan (sering tidur di Malioboro dan alun-alun wetan), hidup "nomaden" dengan mengandalkan sepeda onthel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kehidupan di jalanan itu justru membuatku merasa benar menjalani kuliah yang sebenarnya. Apalagi, ketika aku tidak lagi mampu membayar biaya kuliah dan kemudian keluar.&amp;nbsp; Dari sanalah, aku tersadar dan kemudian belajar menulis; "menulis dari jalanan". Sehabis jual koran, aku pergi ke perpustakaan Daerah (di Malioboro dan Jalan Tentara Rakyat Mataram) Yogyakarta. Di saat teman-temanku pergi kuliah, aku "kuliah di jalan". Rupanya, semua itu menjadi modal bagiku untuk bangkit dan bertekat mengubah nasib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, aku memutuskan mencari kampus yang murah. Tujuanku waktu itu, agar aku tidak disuruh pulang oleh ibuku. Maka, aku pun mendaftar kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebab, jika aku di Yogyakarta hanya jualan koran, pasti ibuku akan meminta untuk pulang. "Ngapain jauh-jauh ke Yogyakarta jika hanya jualan koran?" Itulah alasanku memilih kuliah lagi. Tapi, intinya, di jalanan itulah aku justru mendapatkan pelajaran dan mata kuliah kehidupan yang sejati. Aku berkumpul dengan pegadang asongan, anak jalanan, pengamen, pencopet, dan preman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan jalanan yang keras dan bahkan kejam itu justru meneguhkanku untuk kuat dan tidak ditikam putus asa ketika tulisanku tidak dimuat di koran. Aku yang semula menulis cerpen, belajar fotografi (untuk aku kirim ke koran) kemudian beralih menulis resensi. Rupanya, "jalan" lempang dari menulis resensi itu mengawali karierku di dunia menulis --meski untuk pertama kali karyaku yang dimuat sebenarnya adalah bidang fotografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tak ada yang tahu kehidupanku di jalanan, kecuali hanya teman-teman dekatku. Wajar ketika beberapa tahun kemudian tulisanku sudah mulai sering dimuat, tidak ada penulis lain yang tahu jika aku memulai karier menulis dari jalanan. tak mustahil, ketika aku sudah pindah ke Jakarta dan kemudian Endah Sulwesi (yang ketika itu masih bekerja sebagai markom penerbit Serambi) mengundangku untuk bicara tentang dunia tulis menulis -bersama Ibu Laela Chudori dari Tempo- nyaris semua peserta terbelak kaget. Bahkan, Endah sendiri tak menyangka jika aku memulai karier menulis dari jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tiga hari kemudian, ketika aku bertemu dengan Endah Sulwesi di stand Serambi (di acara pameran buku Jakarta Islamic Fair 11), Endah berseloroh, "Tidak kusangka jika kisah hidupmu dalam dunia tulis menulis begitu menginspirasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menimpali dengan seulas senyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali menjanjikan, "Teman-teman dari Goodread Indonesia juga ingin mengundangmu. Semoga kau tidak keberatan jika suatu hari nanti diundang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh. Tetapi, sejujurnya aku tidak pernah berbicara di depan umum. Dan kemarin itu adalah pengalamanku pertama berbicara di depan umum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Endah terkejut dengan pengakuanku itu. Tetapi, tak kusangka, tiba-tiba Endah memecah keheningan. "Rasanya, sebentar lagi kamu akan diundang salah satu stasiun televisi. Kau akan masuk TV."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika aku bisa masuk TV itu berarti semua ini bermula dari kebaikan Endah yang telah mengundangku jadi pembicara. Jadi kaulah orang yang berjasa. Karena kamu yang pertama mengawali mengundangku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku menjawab dengan tanpa pretensi. Tetapi prediksi Endah ternyata menjadi kenyataan. Sekitar lima bulan kemudian, tiba-tiba Mas Dedi Prastya menulis email kepadaku dan memintaku jadi narasumber di acara APA dan SIAPA di TVOne. Semula, aku merasa undangan itu hanyalah gurauan. Mana mungkin aku yang bukan siapa-siapa ini diundang untuk tampil di TVOne. Kendati demikian, dalam menjawab email itu aku memberikan nomor handphone-ku. Ketika itu, istriku sudah memasuki hari kelahiran. Maka, aku pun memesan tiket pulang ke kampung untuk menemani kelahiran istriku. Siang hari sebelum aku pulang, Mas Dedi Prasetya menghubungiku. Dia memintaku hadir di studio TVOne hari Senin, tanggal 22 Agustus 2011. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berani menjanjikan, aku pun setengah hati menyanggupi --dengan catatan jika anakku belum lahir. Sampai hari Minggu, ternyata anakku belum lahir. Maka, esok harinya, tanggal 22 Agustus 2011 aku yang saat itu sudah berada di Demak diterbangkan oleh Mas Dedi Prasetya ke Jakarta. Malam itu, aku menjalani syuting --taping-- untuk acara Apa dan Siapa di studio TVOne. Syuting berjalan lancar, dan esoknya aku kembali diterbangkan ke Demak. Rupanya, setibaku ke Demak istriku masih belum lahiran. Padahal, perkiraan dokter anakku lahir tanggal 15 Agustus 2011. Akhirnya, tepat tanggal 27 Agustus 2011, anakku baru lahir. Jadi, syuting di acara Apa dan Siapa di TVOne itu sebenarnya berkah dari Tuhan untuk menyambut kelahiran anakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih tiga bulan kemudian, taping acara Apa dan Siapa itu ditayangkan, tepat pada hari Jum`at 18 November 2011 pukul 13.30 - 14.30 WIB. Dalam acara itulah, aku diundang untuk dimintai bercerita tentang kehidupanku dulu sewaktu jadi anak jalanan dan proses perjuangan panjangku menjadi penulis. Maka titel untuk acara Apa dan Siapa itu diberi judul "Dari Jalanan Untuk Masa Depan". Semoga tayangan itu memberi asupan energi dan "inspirasi" bagi pemirsa untuk tetap optimis dengan apa pun keadaan yang dialami. Sebab Tuhan selalu mengulurkan tangan bagi hamba-Nya yang mau mengubah nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan itu kupersembahkan kepada anakku; sebagai bekal menatap masa depan. Dan aku? Sampai kapan pun tetap bukan siapa-siapa. Aku hanya orang biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 November 2011&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-8885370944653497979?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/8885370944653497979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=8885370944653497979' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/8885370944653497979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/8885370944653497979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/12/sekelumit-kisah-di-balik-acara-apa-dan.html' title='Sekelumit Kisah di Balik acara &quot;Apa dan Siapa&quot; TVOne'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-V7vS-JPWiZM/TuW57HylWCI/AAAAAAAACLo/gNojpgvkKwU/s72-c/acara+apa+dan+siapa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-1706437477613887135</id><published>2011-12-05T17:05:00.001+07:00</published><updated>2011-12-05T17:09:23.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Setumpuk PR buat (Pimpinan Baru) KPK</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zVsEGCa7oh0/TtyX13QUJpI/AAAAAAAACLY/-9uIB8pKnMQ/s1600/foto+opini.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-zVsEGCa7oh0/TtyX13QUJpI/AAAAAAAACLY/-9uIB8pKnMQ/s200/foto+opini.jpg" width="134" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Opini ini dimuat di &lt;a href="http://www.jurnas.com/halaman/10/2011-12-05/191335" style="color: red;"&gt;Jurnal Nasional&lt;/a&gt;, Senin 5 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SETELAH sempat tertunda, akhirnya Komisi III DPR-RI, (Jumat, 2/12/11) resmi memilih 4 pimpinan baru KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Keempat pimpinan yang terpilih itu adalah Abraham Samad (berhasil mendapat 55 suara), Bambang Widjojanto (55 suara), Adnan Pandu Praja (51 suara), dan Zulkarnain (37 suara). "Formasi baru pimpinan KPK" terpilih itu akan bahu membahu memberantas korupsi bersama dengan Busyro Muqoddas. Tetapi, dalam empat tahun ke depan (2011-2015), KPK tidak lagi dinahkodai Busyro Muqoddas, melainkan oleh Abraham Samad --setelah ia berhasil mengumpulkan 43 suara dalam pemilihan Ketua KPK. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terpilihnya Abraham Samad sebagai Ketua baru KPK bisa dikata sungguh di luar dugaan. Maklum, namanya kalah populer dibandingkan dengan Bambang Widjojanto yang sebelumnya santer digadang-gadang jadi calon Ketua KPK terkuat untuk menggantikan posisi Busyro Muqoddas. Tapi, janji Abraham Samad, rupanya cukup memukau sehingga ia bisa unggul dan kemudian dipilih sebagai Ketua. Kini, setelah pemilihan pimpinan KPK itu, rakyat tidak lagi butuh janji melainkan butuh kerja nyata dari formasi baru pimpinan KPK. Karena, dalam empat tahun ke depan, pimpinan KPK itu menghadapi setumpuk PR (Pekerjaan Rumah) yang harus segera dituntaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembalikan Kepercayaan Publik&lt;br /&gt;Sebenarnya, orang-orang yang tergabung dalam formasi baru yang sekarang ini menjadi pimpinan KPK memiliki Pekerjaan Rumah yang tidak bisa dikata ringan. Bahkan, PR yang harus dipanggul pimpinan baru KPK itu tergolong berat dan cukup akut. Pasalnya, tugas empat tahun ke depan yang berada di pundak KPK itu tidak semata-mata sekadar memberantas korupsi, melainkan juga bagaimana "mengembalikan" kepercayaan publik terhadap KPK yang dalam dua tahun belakangan ini sedang dihimpit krisis kepercayaan. Padahal, KPK sebagai lembaga antibody diharapkan independen dan tidak tebang pilih dalam memberantas kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, setelah Antasari Azhar --mantan Ketua KPK-- "terlilit" kasus pembunuhan terhadap Nasruddin Zulkarnain kemudian divonis bersalah dan harus meringkuk di balik jeruji penjara, KPK sebagai "lembaga antikorupsi" seperti terjerembat di lumpuh yang cukup dalam. Sebelum posisi Antasari Azhar digantikan oleh Busyro Muqoddas, KPK seperti lembaga tumpul dan kehilangan wibawa. Praktis, KPK minus Antasari Azhar --yang kemudian hanya digerakkan oleh Chandra M. Hamzah, Bibit Samad Rianto, Haryono Umar dan Mochammad Jasin- serupa bangunan megah tetapi kehilangan satu tiang penyangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai kasus Antasari Azhar membuat KPK seperti tersungkur, kasus lain kembali melanda. Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Rianto ditimpa beban berat lantaran dituduh menerima suap dan melakukan pelanggaran prosedural. Kasus yang sempat menghebohkan publik dan dikenal dengan kasus cicak dan buaya itu sempat mengantarkan kedua pimpinan KPK, Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Rianto "mendekam di balik penjara". Kasus cicak dan buaya itu pula yang menjadikan KPK dan kepolisian seakan saling serang. Tetapi, setelah mendapatkan desakan dari masyarakat, akhirnya Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Rianto dibebaskan. Bahkan, akhirnya kedua pimpinan KPK itu pun mendapat putusan deponeering dari Kejaksaan Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pimpinan KPK itu pun dapat kembali aktif duduk di kursi pimpinan KPK. Di balik tudingan suap yang melilit Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Rianto, banyak pihak yang menilai bahwa tudingan itu tidak lebih merupakan bentuk kriminalisasi KPK untuk melemahkan KPK. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tetapi, belum pupus ingatan publik dengan kasus yang melilit Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Riyanto, publik kembali dikejutkan dengan isu atau rumor yang digelontorkan oleh Nazaruddin dari balik persembunyiannya di luar negeri. Bankan, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu menuding Chandra M Hamzah tidak saja telah bertemu dengannya sebanyak lima kali, tetapi juga Chandra telah dituduh "menerima uang" dan dia mengklaim memiliki rekaman CCTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tudingan Nazaruddin itulah, kemudian dibentuk komite etik. Meski pada akhirnya Chandra diputuskan tidak terindikasi pelanggaran pidana dan pelanggaran kode etik tetapi tudingan Nazaruddin itu telah membuat publik digelayuti keraguan terhadap reputasi Chandra M Hamzah. Sederet kasus yang melilit beberapa pimpinan KPK periode 2007-2011 itulah, yang menjadikan lembaga KPK nyaris kehilangan kepercayaan. Karena itulah, tugas formasi baru pimpinan KPK periode 2011-2015 ini cukup berat lantaran mereka itu harus mengembalikan kepercayaan publik terhadap KPK yang terjadi di masa lalu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Dituntut Menuntaskan Setumpuk PR&lt;br /&gt;Dengan terpilihnya empat pimpinan baru KPK, sekarang ini KPK seperti memiliki "napas baru" untuk bernapas kembali. Jadi, moment ini harus dijadikan sebagai senjata bagi pimpinan baru KPK untuk kembali menegakkan keadilan demi memberantas korupsi. Pasalnya, dalam 4 tahun ke depan, ada setumpuk PR yang melilit bahkan menuntut untuk segera dituntaskan. Setidaknya, beberapa PR yang menuntut KPK itu antara lain; pertama, KPK harus berani menuntaskan kasus-kasus korupsi besar yang selama ini ditangani KPK tetapi terkesan mandeg. Di antara kasus besar itu adalah skandal Bank Century, kasus Wisma Atlet, mafian pajak, dugaan korupsi proyek Hambalang, serta suap travel cheque terhadap Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) Miranda Goeltom yang melibatkan Nunun Nurbaetie yang hingga kini masih menjadi buron lantaran ditengarai ada kekuatan besar yang melindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, KPK harus berhasil mengembalikan aset negara yang dikorup. Karena selama ini, ditengarai KPK telah menghabiskan biaya tidak sedikit tetapi tak berhasil mengembalikan aset-aset negara yang dikorup sebagaimana target. Tak pelak, jika KPK dituding lebih besar pasak daripada tiang. Ketiga, KPK harus memperkuat aspek pencegahan tak sekadar memberantas korupsi. Inilah salah satu titik lemah KPK yang selama ini sangat disayangkan oleh berbagai pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, KPK harus menunjukkan bukti sebagai lembaga independen yang tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Pasalnya, selama ini KPK masih dianggap kurang greget --ibarat pisau yang hanya tajam ke bawah tetapi tumpul bagian atas. Dengan kata lain, KPK masih tebang pilih dalam memberantas kasus korupsi, dan kerap gentar ketika berhadapan dengan orang-orang yang ada di tubuh pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan empat PR di atas, KPK&amp;nbsp; -mau tidak mau-- harus bisa menuntaskan bahkan harus bisa mengukir prestasi dengan gemilang. Itulah setumpuk PR yang tak bisa dihindari oleh formasi baru dari pimpinan KPK yang terpilih untuk periode 2011-2015 sekarang ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, peneliti politik pada Lasem Institute, Rembang, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-1706437477613887135?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/1706437477613887135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=1706437477613887135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1706437477613887135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1706437477613887135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/12/setumpuk-pr-buat-pimpinan-baru-kpk.html' title='Setumpuk PR buat (Pimpinan Baru) KPK'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zVsEGCa7oh0/TtyX13QUJpI/AAAAAAAACLY/-9uIB8pKnMQ/s72-c/foto+opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-9760647895464175</id><published>2011-11-16T11:20:00.001+07:00</published><updated>2011-11-16T11:47:10.728+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Haji dan Perlawanan pada Korupsi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_Uvj4AFXr-Q/TsM6lOEfKqI/AAAAAAAACKs/rkr_ECKBu6o/s1600/haji.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-_Uvj4AFXr-Q/TsM6lOEfKqI/AAAAAAAACKs/rkr_ECKBu6o/s200/haji.jpg" width="178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;opini ini dimuat di &lt;a href="http://republika.co.id:8080/koran/24/147826/Haji_dan_Perlawanan_pada_Korupsi" style="color: #cc0000;"&gt;Republika&lt;/a&gt;, Rabu 16 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rentang waktu selama kurang lebih dua bulan ini, umat Islam dari Indonesia kembali mendapatkan kesempatan bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Tapi di tengah kemeriahan orang pergi haji itu, pada sisi lain justru rakyat Indonesia dihadapkan pada kondisi perpolitikan&amp;nbsp; di tanah air yang runyam dan sarat dengan prahara korupsi. Berita dugaan korupsi Wisma Atlet yang sempat jadi berita hangat, sekan menegaskan negeri ini dihimpit korupsi yang akut dan parah. Bahkan, belum tuntas pengusutan kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet, berita seputar korupsi lain muncul silih berganti. Berita-berita miring itu kian menegaskan bahwa negeri ini terjerembab pada lumpur korupsi yang cukup dalam.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak pelak, kehadiran musim haji kali ini tidak saja sebagai media instropeksi diri, tetapi sebagai momentum purifikasi atas nafsu koprusi". Karena negeri ini sedang dilanda masalah korupsi serius, bahkan di era reformasi yang lantang digemakan slogan perang melawan korupsi, ternyata korupsi tak kian sembuh melainkan tampil memprihatinkan. Tak berlebihan, jika musim "ibadah haji" ini harus dimaknai sebagai jalan asketis untuk membangun "kesadaran dekonstruktif" bagi jamaah haji dari Indonesia -terutama bagi kaum elite yang berkesempatan pergi haji- untuk melakukan penyucian diri dari praktik korupsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosa Korupsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Spirit keagamaan&amp;nbsp; dan kebangsaan, tak bisa disangkal dibangun dengan misi keadilan dan kesadaran setiap umat manusia. Sementara itu, praktek haji meluruskan setumpuk nafsu yang coba membelokkan spirit tersebut. Sebab -saat hendak memulai rangkai praktek manasik haji-- setiap jamaah mengenakan yang sederhana dan tanpa jahitan. Pakaian itu menjadi simbol tidak saja setiap jamaah haji menyadari akan kelemahan serta kerendahan hati di hadapan Allah, melainkan juga setiap jamaah dituntut menanggalkan ego. Dan kain tanpa jahitan itu menandakan "kekosongan" dari lekatan dunia dan segala perhiasan dunia. Jadi, ritual haji itu lambang kesucian bahkan sebagai simbol purifikasi segala bentuk nafsu, termasuk nafsu korupsi. &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak dapat dimungkiri, jika ibadah haji --secara substansial-- sebenarnya upaya pembersihan diri --tidak saja dari himpitan penyakit tubuh melainkan juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa.&amp;nbsp; Tak pelak, kalau ritual haji itu pada hakekatnya membersihkan nafsu untuk korupsi. Apalagi, Rasulullah dengan tegas dan lantang mengecam praktek korupsi. Bahkan dalam suatu kisah, Rasululah diceritakan cukup geram dan murka tatkala melihat praktek korupsi, bahkan tak segan-segan mengejar koruptor hingga ke liang kubur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah, waktu pulang dari Khaybar, tepatnya di Wadi Guraa, Mad`am terkena panah misterius yang membuatnya langsung meninggal. Maka, para sahabat pun berpendapat bahwa ia akan mendapatkan balasan surga --sebagai syuhada`. Tetapi Nabi menanggapi&amp;nbsp; ‘Tidaklah demikian, Demi diriku berada di tangan-Nya bahwa jubah yang ia ambil pada hari Khaybar itu adalah ghanimah yang belum dibagikan, maka akan menyala padanya neraka."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah lain adalah kisah yang dituturkan oleh Zaid bin Khalid al Juhaini— ada seorang anggota pasukan muslim yang tewas dalam perang Hunain. Para sahabat melaporkan kepada nabi. Tapi para sahabat tak menduga jika mendapatkan jawaban yang mencengangkan sebab Rasulullah memerintahkan, “Sholatkanlah sahabatmu ini!” Kekagetan para sahabat itu berasalan karena jenazah syuhada’ --orang yang gugur dalam perang-- akan mendapat keistimewaan bisa langsung dimakamkan, tanpa dimandikan dan dishalati lebih dulu. Tapi keheranan sahabat itu dijawab tegas oleh Rasulullah “Sahabatmu ini telah curang dalam perjuangan di jalan Allah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zaid membongkar perbekalan almarhum, dan menemukan permata milik orang Yahudi senilai kurang dari dua dirham. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua kisah di atas menjadi bukti nyata bahwa nabi tak ingin sahabat yang syahid tak mendapatkan keistimewaan di hadapan Allah hanya semata-mata karena korupsi (mengambil ghanimah yang belum dibagi). Dan kisah itu memiliki pesan penting bahwa Rasulullah mengejar koruptor hingga ke liang kubur. Itu menandakan bahwa korupsi bukanlah dosa kecil, tapi dosa yang besar bahkan bisa menghapus martabat sang syuhada`. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada aras lain, kisah di atas sebenarnya menegaskan pada para sahabat; bagaimana Rasul memberikan hukuman kepada sang koruptor. Nabi memberikan jawaban jelas bahwa hasil korupsi --ghanimah yang belum dibagikan itu- akan menyala padanya di neraka, dan lantang menolak syuhada yang korup langsung dimakamkan, tapi harus melewati prosedur normal untuk dishalatkan --sebagaimana kematian setiap muslim secara normal. Jawaban Nabi ini menegaskan bahwa korupsi itu dosa yang tak sembarangan --karena ia telah mencuri harta atau ghanimah yang menjadi milik bersama. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Purifikasi Nafsu Korupsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkaca dari kisah yang terjadi di zaman Nabi dan 'prahara korupsi' yang cukup akut melanda negeri ini, tak bisa dipungkiri bahwa nafsu korupsi itu tidak saja menjerumuskan koruptor terjungkal pada jurang ketidaksyahidan melainkan juga dianggap telah melukai spirit keberagamaan dan keadilan sosial. Sebab itu, di tengah prahara korupsi yang melanda negeri ini, ibadah haji kali ini haruslah dimaknai sebagai "jalan asketis" untuk membangun "kesadaran dekonstruktif" (bagi jiwa) untuk berbenah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setidaknya, untuk membangun kesadaran dekonstruktif itu ritual haji kali ini haruslah dimaknai sebagai praktek purifikasi terhadap nafsu korupsi. Pertama, ibadah haji menuntut kerendahan dan kehinaan manusia sebab dalam praktek haji, setiap jamaah melepas segala atribut, jabatan bahkan semua kelekatan duniawi. Jadi, praktek haji "menepis" berbagai bentuk nafsu kemaruk, keserakahan, dan ketamakan. Kedua, praktek ibadah haji meniscayakan rasa syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Ini bertolak belakang dengan nafsu korupsi. Sebab korupsi menandakan keserakahan dan hilangnya rasa bersyukur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, ritual haji mendidik jiwa jamaah agar mencapai derajat kemuliaan secara individu tetapi sekaligus membangun rasa kebersamaan dan saling membantu. Pendidikan bagi asupan jiwa ini secara nyata memberikan teladan bahwa setiap jamaah haruslah tetap berperilaku mulia dan jalan itu harus dicapai dengan tidak mengorbankan kehidupan atau mengurangi hak orang lain. Praktek ini mengikis nafsu korupsi karena koruptor yang menggasak uang rakyat demi memperkaya diri sendiri (kelompok atau golongannya) adalah akhlak yang tidak terpuji.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat, praktek ibadah haji menumbuhkan jiwa kesempuranaan dan sikap tawaduk (tunduk kepada perintah Allah). Setiap jamaah tak bisa mengelak, ketika menunaikan ritual haji ia harus tunduk-- taat kepada Allah. Jadi, praktek dari ritual ini menandaskan akan "ketundukan jiwa" agar tidak berbuat culas dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tidak culas melakukan korupsi. Dengan kesadaran seperti itulah, maka spirit ibadah haji bisa membangun jiwa para elite dalam membangun bangsa ini untuk kepentingan rakyat bukan demi golongan --apalagi demi memperkaya diri sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan memaknai ibadah haji sebagai jalan asketis untuk purifikasi nafsu korupsi, tak bisa disangkal, jika ibadah haji yang dijalani tahun ini tak saja akan membawa kesadaran baru atau melahirkan perubahan yang signifikan, tetapi juga akan membangun semangat dan mental setiap jamaah --terlebih elite politik yang pergi haji-- untuk meraih derajat kemuliaan di sisi Tuhan. Lebih dari itu, spirit haji itu akan jadi semangat untuk membangun bangsa ini lepas dari jerat nafsu korupsi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, alumnus Aqidah-Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-9760647895464175?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/9760647895464175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=9760647895464175' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/9760647895464175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/9760647895464175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/11/haji-dan-perlawanan-pada-korupsi.html' title='Haji dan Perlawanan pada Korupsi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_Uvj4AFXr-Q/TsM6lOEfKqI/AAAAAAAACKs/rkr_ECKBu6o/s72-c/haji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-8727170446110948966</id><published>2011-11-11T19:19:00.001+07:00</published><updated>2011-11-11T19:36:27.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Capres 2014 dalam Lipatan Survei</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Y4eodJBBixc/Tr0WeDiZOdI/AAAAAAAACKc/UUV2md7POzo/s1600/foto+opini.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-Y4eodJBBixc/Tr0WeDiZOdI/AAAAAAAACKc/UUV2md7POzo/s200/foto+opini.jpg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Opini ini dimuat di &lt;a href="http://www.jurnas.com/halaman/10/2011-11-11/188580" style="color: #cc0000;"&gt;Jurnal Nasional&lt;/a&gt; Jumat 11 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PILPRES masih 3 tahun lagi, namun beberapa lembaga survei sudah mengeluarkan nama-nama calon presiden (capres) 2014. Tak lama ini, sejumlah lembaga survei memaparkan hasil surveinya dengan mengunggulkan calon Presiden (Capres) yang populer. Hasil jajak pendapat yang dirilis Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), misalnya, menempatkan Prabowo Subianto pada tempat teratas dengan perolehan 28%. Setelah itu, peringkat di bawahnya diduduki Mahfud MD (10,6%), Sri Mulyani Indrawati (7,4%), Ical alis Aburizal Bakrie (6,8%), K.H. Said Agil Siradj (6%), dan Megawati yang pernah menjadi presiden dan cukup dikenal publik ternyata mendapatkan posisi bawah; 0,3%.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sementara hasil survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) menempatkan Megawati pada peringkat puncak dengan perolehan suara 23,8%, disusul Prabowo Subianto 17,6%, kemudian Aburizal Bakrie dengan 13,7%. Adapun Survei Reform Institute menyebutkan Ketua Umum Golkar Ical -sebutan akrab Aburizal Bakrie-- sebagai tokoh yang paling dikenal jika pilpres dilaksanakan sekarang. Dari 25 nama capres yang disurvei, responden yang memilih Ical sebanyak 13,58 %. Urutan kedua diduduki oleh Prabowo Subianto 8,46 %, Jusuf Kalla 7,06 %, Hidayat Nur Wahid 5,17 % dan Ani Yudhoyono 4,13 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil survei ketiga lembaga tersebut, dapat dikatakan sungguh "mencengangkan". Bukan lantaran Prabowo (yang diunggulkan SSS), Megawati&amp;nbsp; (unggulan JSI) dan Aburizal Bakrie (disebut tokoh paling populer sekarang ini oleh lembaga Survei Reform Institute) tak pantas menjadi presiden. Tetapi, yang jadi pertanyaan krusial adalah; kenapa antara satu survei dengan survei yang lain menampilkan hasil yang berbeda? Padahal, survei itu dilakukan dalam waktu berdekatan. Ada apa di balik hasil survei tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Lepas dari Kepentingan &lt;br /&gt;Dalam menanggapi hasil survei yang dirilis itu -dengan memunculkan capres yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan-, wajar jika kemudian muncul semacam kecurigaan. Apalagi, agenda suksesi kepemimpinan 2014 itu masih sangat jauh gelar. Artinya, kebutuhan survei itu belum mendesak. Tak berlebihan, jika kecurigaan itu bisa disimpulkan dalam dua kategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hasil survei dari sejumlah lembaga jajak pendapat yang dirilis ke publik itu tak lepas dari kepentingan tertentu. Dengan kata lain, di balik lembaga survei itu ditopang oleh kepentingan modal yang memberikan dana. Dalam kaitan dengan kasus ini, tidak berlebihan jika kerap kali terdengar slogan bahwa survei tersebut dirilis semata-mata untuk "membela yang bayar". Jadi, kepentingan modal telah memanfaatkan survei yang seharusnya independent dan netral ternyata diskenariokan untuk membangun citra capres tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, responden yang dipilih pun bisa dimanipulasi untuk mengetahui jawaban yang sudah diperkirakan. Tentu hasil yang didapatkan dan akhirnya dirilis itu sangat menyesatkan. Sebab, jajak pendapat dilakukan itu tidak lepas dari kepentingan tertentu untuk membangun citra. Yang sangat&amp;nbsp; dikhawatirkan jika data statistik itu kemudian digunakan untuk menggiring opini publik demi citra tokoh tertentu. Sangat ironis kalau hal ini yang terjadi. Pasalnya, survei tidak melakukan pendidikan politik kepada masyarakat, melainkan justru langkah pembodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dengan adanya perbedaan hasil survei mengingat tema dan waktu pelaksanaan jajak pendapat itu berdekatan, tentu menimbulkan kecurigaan dari sudut pandang akademik. Bagaimana tidak? Hasil survei tersebut tidak bisa dijadikan indikator akademik yang bersifat netral karena hasil yang didapat tidak membangun konfigurasi yang seirama atau senapas. Padahal, masih kuat dalam ingatan sebagian besar masyarakat tatkala pemilu tahun 2004 kemarin digelar. Dari beberapa hasil jajak pendapat, bisa ditemukan hasil survei yang nyaris tidak menunjukkan prosentasi yang jauh berbeda. Kalau ada perbedaan, itu pun toh tidak cukup jauh. Tetapi kenapa hasil survei yang dirilis sebelum pilpres digelar bahkan ketika agenda pilpres itu masih sangat jauh dilaksanakan bisa menghasilkan tokoh populer yang diunggulkan berbeda?&amp;nbsp; Ada apa di balik survei tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua poin penting kecurigaan di atas, setidaknya bisa ditarik kesimpulan bahwa hasil jajak pendapat tersebut tidak mencerminkan apa yang ada di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kode Etik (?)&lt;br /&gt;Dari dua kecurigaan itu, maka patut disayangkan jika lembaga survei mempertaruhkan kredibilitas demi kepentingan sesaat. Padahal, hal itu bisa berimpikasi sangat jauh; menjatuhkan independensi, kewibawaan dan netralitas sebuah lembaga survei. Memang, sah-sah saja sebuah jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei mendudukkan tokoh tertentu dalam lembaga survei seraya mengesampingkan tokoh yang lain. Tetapi cara atau barometer pemilihan tokoh itu pun harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak dari konteks perbedaan hasil survei yang dirilis di atas, tidak berlebihan jika kemudian perlu diterapkan kode etik untuk dijadikan barometer. Hal itu selain untuk menepis kepentingan tertentu yang telah menyumbangkan dana bagi lembaga survei juga untuk menghalau praktik pencitraan terhadap tokoh tertentu untuk melakukan penggirangan opini publik. Pasalnya, survei yang dirilis --sedikit banyak-- bisa memengaruhi pilihan konstituen di kelak kemudian hari. Pendek kata, hasil survei itu bisa dijadikan sebagai rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks yang lain dapat dikatakan bahwa orientasi survei tersebut lebih menitikberatkan pada area politik kekuasaan. Hasil survei itu tidak memiliki manfaat yang krusial bagi rakyat, dan bahkan tidak memberikan solusi bagi permasalahan bangsa. Karena itu, alangkah baiknya jika dana itu dialihkan untuk menggelar "survei yang realistis", dan bersentuhan dengan kepentingan rakyat. Dari hasil survei itu kemudian bisa diajukan ke pemerintah sebagai data statistik demi kemajuan bangsa. Lembaga survei memang memiliki hak dengan survei yang digelar, tapi ketika tidak ada nilai manfaat yang diusung bagi rakyat dan bangsa, alangkah sia-sianya. Dengan kata lain, dana survei itu menghambur dan tidak membumi --alias tidak berpijak demi membangun kesejahteraan rakyat. Sungguh disayangkan! ***&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; *) N. Mursidi, pemerhati Sosial Politik, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-8727170446110948966?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/8727170446110948966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=8727170446110948966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/8727170446110948966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/8727170446110948966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/11/opini-ini-dimuat-di-jurnal-nasional.html' title='Capres 2014 dalam Lipatan Survei'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Y4eodJBBixc/Tr0WeDiZOdI/AAAAAAAACKc/UUV2md7POzo/s72-c/foto+opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3724945604918283018</id><published>2011-10-14T11:11:00.003+07:00</published><updated>2011-10-14T11:19:35.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Meraih Haji Substantif</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-oV_CnDLyfCQ/Tpe2KZ4KuOI/AAAAAAAACIg/jUf3TgW9Q4o/s1600/kabah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-oV_CnDLyfCQ/Tpe2KZ4KuOI/AAAAAAAACIg/jUf3TgW9Q4o/s200/kabah.jpg" width="165" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Opini ini dimuat &lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=288856"&gt;Suara karya&lt;/a&gt;, Jumat, 14 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Musim haji kembali tiba, Indonesia sudah menerbangkan jemaah haji melalui kelompok terbang di sembilan embarkasi. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, negeri ini telah mencatat sejarah yang cukup spektakuler karena bisa memberangkatkan jemaah haji dengan jumlah yang fenomenal. Bahkan, daftar tunggu (waiting list) calon jemaah haji sudah mencapai 6-7 tahun. Fenomena ini bisa dikatakan cukup menggembirakan, tetapi sekaligus menggundang keprihatian.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan menggembirakan, karena hal itu menunjukkan secara kuantitatif ghirah umat Islam Indonesia tinggi dalam memenuhi panggilan Allah sebagai bentuk perwujudan dari praktek rukun Islam yang kelima. Tapi, di tengah spirit umat Islam Indonesia untuk pergi ke tanah suci yang menggebu-gebu itu, tidak diimbangi dengan praktek tranformasi dalam menafsirkan pesan penting ibadah haji. Itulah fenomena yang bisa dikata cukup memprihatinkan. Tak sedikit jemaah haji yang pergi demi mendapatkan gelar haji semata. Tak mustahil, jika demi mendapat "predikat haji" itu kabar miring bahwa mereka pergi haji dari uang korupsi, tidak peduli terhadap tetangga yang dililit kemiskinan bahkan saat pulang dari haji pun tidak mengalami perubahan dramatis sebagai buah manis dari imbalan haji mabrur, bukan bualan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang setiap orang (muslim) bisa pergi haji, selama ia memiliki dana cukup. Tetapi, hanya orang khusus yang bisa meraih haji mabrur. Karena untuk meraih haji mabrur itu tidaklah gampang. Bahkan, ada satu kisah yang cukup menghentak dari sepasang suami istri yang tak sempat ke Mekah tetapi bisa meraih derajat seperti haji mabrur. Syahdan, sepasang suami-istri yang tidak tergolong kaya ingin pergi haji. Praktis, keduanya bekerja siang malam, dan bekerja dengan susah payah untuk bisa mengumpulkan uang sebagai bekal ke Mekah. Rupanya, kerja keras itu tidak sia-sia, mereka berhasil mengumpulkan uang dan bisa berangkat. Akhirnya, saat musim haji tiba, mereka berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum keduanya tiba di Mekah, di perjalanan mereka menemui perkampungan miskin, banyak warga miskin dan anak-anak diserang busung lapar. Saat itu, keduanya tak kuasa menahan air mata. Keduanya merasa iba, bahkan akhirnya memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke Mekah, dan memberikan semua uang dan bekal yang dibawa kepada penduduk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik keputusan itu, keduanya ingat sebuah hadits nabi, "Tidak beriman seseorang yang tidur lelap sementara ia mengetahui tetangganya kelaparan." Itulah yang menjadi landasan bagi keduanya. Apalagi, mereka paham bahwa ibadah haji adalah perintah Allah yang wajib ditunaikan tetapi manfaatnya hanya bagi mereka berdua. Karena itu, mereka pun memilih memberikan bekal yang dibawa dan kemudian pulang ke kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tak terduga pun terjadi. Ketika suami istri itu sampai di rumah, ada orang asing tidak dikenal yang menunggu di rumah. Setelah memberi salam, orang itu berkata, "Selamat datang dari haji mabrur." Tentu, suami istri itu terperangah. Keduanya tak merasa pergi haji. Akhirnnya, mereka menceritakan apa yang dialami di perjalanan. Anehnya, setelah mendengarkan cerita dari sepasang suami istri itu, tamu tersebut menjawab, "Itulah haji mabrur!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini - dalam tradisi sufi - memang cukup populer. Kendati kisah ini bisa didramatisasi bahkan bisa jadi tidak sepenuhnya benar, tapi pesan di balik kisah itu bisa jadi bahan renungan. Apalagi, ketika musim haji tiba, orang-orang kaya berlomba-lomba pergi ke Mekah, tetapi mereka nyaris menutup mata dan telinga terhadap keadaan di sekeliling, tetangga yang dilanda kepahitan hidup. Jadi, pesan dari kisah tersebut tidak lain bahwa untuk meraih haji mabrur itu selain menyinergikan nilai keimanan pada Tuhan, faktor lain adalah tak melupakan perhatian atau empati terhadap kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang muslim yang pergi ke tanah suci, tidak ada lain kecuali ingin merengkuh buah manis ibadah haji berupa haji mabrur. Tetapi, ruh (substansi) penting dari haji mabrur itu kerap kali diabaikan oleh sebagian besar jamaah haji Indonesia. Padahal, praktek ibadah haji haruslah dapat melahirkan beberapa poin penting. Pertama, secara substansi ibadah haji itu untuk meraih tingkat ketaqwaan yang lebih tinggi. Mustahil, jika jemaah sepulang dari tanah suci akan lahir sebagai manusia yang memiliki kesadaran baru. Ibadah haji bukan piknik, tetapi ritual agung yang dapat membawa manfat besar, bisa mengubah prilaku dan sikap hidup pasca haji, serta merengkuh tahap demi tahap perubahan ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, semua jenis ibadah (mahdah), termasuk haji, titik tekannya adalah aspek vertikal (habl min Allah), tetapi bukan berarti lepas dari aspek vertikal atau kemanusiaan (habl min al-nas). Karena itu, tanpa dibarengi aspek terakhir tersebut, tentu ibadah haji yang dilaksanakan dengan susah payah bisa saja berkurang maknanya di hadapan Allah. Tidak jarang jamaah haji hanya lebih menekankan aspek vertikal dan melupakan aspek sosial. Karena iming-iming surga, orang kemudian egois dan berkali-kali pergi haji, sementara tetangga di sekitar banyak yang menderita dan hidup dalam kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh Ali Syari`ati bahwa makna ibadah haji tidak bisa dilepaskan dari tiga hal penting, yakni aspek horisontal, vertikal dan aspek diagonal frontal. Ketiga aspek penting tersebut membangun konfigurasi spiritual dan sosial bagi jemaah haji pasca dari tanah suci. Ketika bangunan ketiga aspek itu diejawantahkan dalam kehidupan sosial, maka yang lahir adalah terkikisnya ego dan kesombongan (keangkuhan). Dengan cara pemaknaan itulah, maka seseorang muslim kkembali dari haji akan menemukan jati diri sebagai manusia yang memiliki kesadaran baru, yang penuh pengabdian kepada sang Khalik di samping memiliki kesadaran untuk berempati pada dunia, lingkungan, dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Kiranya, itulah substansi haji yang harusnya direngkuh oleh setiap jemaah haji, bukan gelar. Haji memang wajib bagi orang yang mampu, tetapi apabila tidak memberikan manfaat pada orang-orang di sekitar, ibadah haji bisa menjadi tidak berarti. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah alumnus Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3724945604918283018?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3724945604918283018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3724945604918283018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3724945604918283018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3724945604918283018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/10/meraih-haji-substantif.html' title='Meraih Haji Substantif'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-oV_CnDLyfCQ/Tpe2KZ4KuOI/AAAAAAAACIg/jUf3TgW9Q4o/s72-c/kabah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-620799240051452956</id><published>2011-10-02T01:53:00.005+07:00</published><updated>2011-10-02T02:04:13.799+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai sastra'/><title type='text'>Sejarah Kelam 1965 dalam Sastra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-K7jCgiYe4r0/TodiMUctbII/AAAAAAAACIc/fy8Nwfc6Eyk/s1600/2_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-K7jCgiYe4r0/TodiMUctbII/AAAAAAAACIc/fy8Nwfc6Eyk/s200/2_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658599420601396354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Esai ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Radar Surabaya&lt;/span&gt;, Minggu 2 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SEJARAH kelam peristiwa tragis tahun 65 seperti tak pernah kering untuk dijadikan sebagai latar sebuah cerita -termasuk novel. Apalagi peristiwa kelabu itu tidak saja menimbulkan "kontroversi" hingga sekarang ini, melainkan juga masih meninggalkan kenangan bahkan pengalaman pahit bagi sebagian orang yang terlibat ataupun dituduh terlibat organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari peristiwa "tragis" itu, pengarang bisa melakukan rekonstruksi bahkan memberi "tafsir baru" atas fakta di masa lalu yang kelabu. Pada sisi lain, pengarang ingin mengenang sekeping kisah dari seseorang yang pernah dituduh terlibat dalam peristiwa kelabu itu --dengan harapan kisah itu bisa menjadi bahan renungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan, jika novel Lasmi --karya Nusya Kuswantin yang mengangkat tokoh Lasmi, korban dari peristiwa tragis 1965 lantaran dia menjadi anggota Gerwani-- ini tidak saja menjadi bahan renungan, melainkan melengkapi deretan kisah novel yang mengungkap "fagmen sejarah" buram bangsa Indonesia tahun 1965. Meski pun novel Lasmi ini bisa dikata tidak memiliki pretensi untuk mengungkap fakta baru di balik peristiwa kelabu 1965 itu, duka lara yang menyelimuti kisah Lasmi (tokoh utama dalam novel ini) bisa mematik kesadaran pembaca untuk merenung sejarah kelabu di masa lalu. Sebab, Lasmi telah menjadi korban dari peristiwa sejarah yang buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menanggung Takdir dari Pilihan Hidup &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lasmi, hanyalah prototif dari sosok wanita kampung di sebuah desa, di Malang (Jawa Timur). Meski tinggal di desa, dia ternyata memiliki jiwa moderat. Dia yang dianugerahi pengetahuan dan kebetulan lahir dari keluarga terpandang kemudian ingin membantu orang kampung dengan membangun sekolah (untuk orang tua dan anak-anak). Bersuamikan Sutikno, seorang guru --cita-cita Lasmi itu tidak menemui jalan buntu bahkan bisa berjalan dengan mulus. Mungkin, satu hal yang membuatnya terbebani, ia tak bisa menggaji guru yang ikut mengajar di sekolah. Hingga suatu hari, ia yang sedang membutuhkan guru menjahit bertemu dengan Mbak Sum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Mbak Sum ternyata mengubah jalan hidup Lasmi. Untuk memajukan sekolah, atas saran Mbak Sum, Lasmi ikut up-grading. Habis itu Lasmi memutuskan menggabungkan Taman Kanak-kanak Melati (yang ia dirikan susah payah itu) ke dalam yayasan Melati. Konsekuensi dari pilihan itu, Lasmi tercatat sebagai anggota Gerwani. Pilihan itu diambil, karena ia merasa terbebas dari beban memikirkan gaji. Tapi, sejak itu ia mulai sibuk dengan aktivitas dan rapat, bahkan tak lama kemudian menjadi ketua Gerwani tingkat desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi peristiwa tragis 1965 membuat Lasmi harus menjadi korban. Ia pun harus menanggung takdir dari pilihan hidup yang telah ia jalani. Ia bersama Sutikno (dan anaknya Gong) lalu melarikan diri untuk cari selamat. Deretan penderitaan harus ia alami bersama keluarga, lari dari satu desa ke desa lain, tidak lain untuk sembunyi. Tapi, pelarian itu kemudian menemui takdir akhir --sebuah ending yang nyaris tidak bisa ditebak atas apa yang dipilih Lasmi, penderitaan Gong dan akhir kisah Sutikno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak Ada Terobosan Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, tak sedikit pengarang di negeri ini yang menggarap novel dengan sandaran setting peristiwa tragis 1965 dalam sebuah novel, termasuk Lasmi ini. Tapi, dalam novel ini nyaris tidak ada terobosan yang digemakan. Pertama, sejarah tragis 1965 seperti hanya dijadikan tempelan sehingga nyaris tak memberikan nuansa baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Kedua, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tetapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan novel memang terletak pada kekuatan narasi. Tetapi dalam menulis novel, dikenal cara menggambarkan bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tidak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh "aku") untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun "tak mendedahkan teknik baru". Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin dan tidak njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil. Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara masif --menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini.  Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk anti-kekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi wanita --persamaan derajat. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-620799240051452956?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/620799240051452956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=620799240051452956' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/620799240051452956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/620799240051452956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/10/sejarah-kelam-1965-dalam-sastra.html' title='Sejarah Kelam 1965 dalam Sastra'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-K7jCgiYe4r0/TodiMUctbII/AAAAAAAACIc/fy8Nwfc6Eyk/s72-c/2_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-1695288947295600574</id><published>2011-09-30T21:01:00.007+07:00</published><updated>2011-10-01T20:55:56.312+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Pendidikan Antikorupsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-5AUihqzNaWY/ToXMwDE6o6I/AAAAAAAACIU/USBeKCqtGzs/s1600/Stop%2BKorupsi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 148px; height: 209px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5AUihqzNaWY/ToXMwDE6o6I/AAAAAAAACIU/USBeKCqtGzs/s200/Stop%2BKorupsi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658153632692609954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Opini ini dimuat di &lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=287761"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Kamis 29 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Tujuan besar pendidikan itu bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan." (Herbert Spencer)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah tak terhitung lagi sekolah dan lembaga pendidikan di negeri ini yang didirikan. Juga tidak terhitung pula lulusan yang dihasilkan, seperti teknisi, menteri, hakim, polisi, tentara, dosen, guru dan sejumlah tenaga profesional bergelar Ir, MA, PhD dan bahkan profesor. Tetapi, yang menjadi persoalan, kenapa Indonesia justru kian terpuruk serta dilanda korupsi yang cukup akut dan bahkan terkesan tak bisa disembuhkan?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terbongkarnya kasus korupsi di sejumlah lembaga, dan badan pemerintahan, telah menjadi bukti bahwa "pendidikan" di negeri ini belum mampu menjadi obat mujarab dalam pemberantasan korupsi. Padahal, bukan rahasia lagi, mereka yang melakukan korupsi rata-rata orang-orang yang berpendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, bagaimana peranan pendidikan telah mengubah dunia dan peradaban. Maka, tidak berlebihan, kebesaran peradaban (kebudayaan) Mesir Kuno, Sumeria, India, China dan Yunani masa itu tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan para pendidik yang "menggali" sumber ilmu pengetahuan dari ajaran dan risalah yang termaktub di dalam kitab-kitab suci. Nama tokoh-tokoh besar seperti; Budha, Confusius, Lao Tzu, Socrates, Plato, serta Aristoteles, dikenal sebagai orang-orang besar yang mengubah bangsa dan dunia lewat jalur pendidikan yang disebarkan kepada generasi-generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan dan kebenaran, satu hal penting yang diajarkan mereka adalah pentingnya pendidikan sebagai sarana penyadaran. Penyadaran di sini meliputi "sadar diri", sadar terhadap lingkungan, serta sadar akan makna dan tujuan hidup. Socrates dalam pengajarannya menerapkan prinsip-prinsip universal yang tidak lepas dari prinsip kebenaran, keindahan, serta kebaikan secara umum dengan tidak lupa melibatkan kesadaran anak didik. Prinsip-prinsip itu pula yang kemudian dilanjutkan oleh Plato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh pendidikan lain yang mengumandangkan pentingnya penyadaran dari tujuan pendidikan tidak lain adalah Foerster. Dia adalah seorang pedagog yang melihat tujuan pendidikan dengan menandaskan akan arti pembentukan karakter. Karena, dengan pembentukan karakter, subyek (baca: anak didik) akan memiliki mentalitas yang kuat selain ditunjang dengan "intelektualitas" (rasio) dalam memahami sebuah masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan dari sang pedagog Foerster itu yang telah dilupakan dalam penyelenggaraan pendidikan di negara Indonesia ini sehingga korupsi tak berkurang, meski lulusan dari bangku sekolah dan Perguruan Tinggi berjibun dan bergelimang. Memang, tidak sedikit negeri ini memiliki orang yang berpengetahuan tinggi tapi anehnya toh korupsi masih tidak bisa dikendalikan. Kenapa? Karena tiadanya karakter yang kuat dalam pribadi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyenggaraan pendidikan kita lebih menitikberatkan kecerdasan akal, dan mengesampingkan emosi dan karakter. Akibatnya, tingginya tingkat intelegensi tidak diimbangi dengan komitmen yang tinggi pada upaya dan kesadaran dalam bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, penyelenggaran pendidikan kemudian menjadi semacam industri. Tak pelak, kalau segalanya diukur dengan uang (materi). Alih-alih, pendidikan akan dapat menjadi ruang publik memberantas tindak korupsi, justru pendidikan bahkan "sarat muatan korupsi". Satu kenyataan yang sulit diingkari dan sudah jadi rahasia umum adalah "suap" dalam seleksi calon PNS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada awal seleksi, seorang guru sudah melakukan penyuapan, maka tak mustahil dalam proses belajar selanjutnya akan berlangsung keadaan yang tak sehat. Tak ayal, jika, guru kemudian ingin mengembalikan modal (suap) yang telah dikeluarkan pada awal masuk dengan menghalalkan segala cara. Praktik penjualan buku yang bisa disebut memaksa murid, manipulasi nilai rapor, menjadi calo penerimaan murid baru dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Peribahasa itu, mungkin sangat pas untuk menggambarkan potret wajah pendidikan kita. Kalau guru sudah berani menilap uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah), maka murid pun sudah barang tentu akan berperilaku lebih bobrok, semisal tawuran, nyontek, dan melakukan penyuapan bila rapornya jelek. Rapor pun bisa disulap jadi sederatan rupa yang bisa ditentukan dengan sejumlah uang yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah wajah pendidikan negeri ini yang bopeng, kropos dan sarat muatan korupsi? Karena itulah, meski lulusan dari lembaga pendidikan di negara kita bertitel atau bergelar insinyur, master, doktor dan profesor, tapi korupsi toh berjalan terus. Bagaimana membuat pendidikan kita menjadi sarana penyadaran, terutama dalam memberantas korupsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan "wajah pendidikan" kita yang buruk muka, maka sudah seharusnya digalakkan revolusi pendidikan. Apalagi, sejak reformasi bergulir di negeri ini, nyaris pendidikan tak tersentuh gerakan angin reformasi. Salah satu upaya untuk melakukan reformasi pendidikan adalah dengan menerapkan pelajaran 'antikorupsi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan antikorupsi" sudah digulirkan oleh Basuki Sugito, seorang guru di SMPK, Kudus, Jateng. Pelajaran ini tak sekedar mampu "mengebrak kurikulum", namun bahkan telah "menabuh" genderang perang melawan korupsi lewat jalur pendidikan. Tentu, "pendidikan antikorupsi" ini merupakan aplikasi lebih jauh dari tujuan pendidikan Foerster, di mana pembentukan karakter dengan memberikan penguatan komitmen, loyalitas dengan tidak menyontek, masuk sekolah "tepat waktu", disiplin dan melakukan tindakan berkepribadian baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pendidikan antikorupsi ini diterapkan di seluruh sekolah - sebagaimana yang telah diterapkan di negara Kamboja -, bukan mustahil, korupsi di negeri ini akan bisa dicegah sejak dini lewat jalur pendidikan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, adalah peneliti pada Pusat Kemajuan Kebudayaan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-1695288947295600574?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/1695288947295600574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=1695288947295600574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1695288947295600574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1695288947295600574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/09/pendidikan-antikorupsi.html' title='Pendidikan Antikorupsi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5AUihqzNaWY/ToXMwDE6o6I/AAAAAAAACIU/USBeKCqtGzs/s72-c/Stop%2BKorupsi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-5113209830814911184</id><published>2011-09-14T00:01:00.004+07:00</published><updated>2011-09-14T00:12:08.479+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Korupsi Khianati Pancasila</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-m-hOYmZDVjQ/Tm-NRYDWvJI/AAAAAAAACIE/tWr-ystC2iw/s1600/pancasila.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 148px; height: 183px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-m-hOYmZDVjQ/Tm-NRYDWvJI/AAAAAAAACIE/tWr-ystC2iw/s200/pancasila.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651891387027078290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Opini ini dimuat di &lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=286605"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Selasa, 13 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain sebagai ideologi dan dasar negara, Pancasila juga merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Lahir dari akar sejarah budaya bangsa, Pancasila tak dapat dipungkiri, mengandung nilai-nilai luhur universal yang menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa. Nilai-nilai luhur lima sila Pancasila - Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia - ini tak sekedar dihafalkan, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya, dalam kehidupan pribadi atau kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, benarkah nilai-nilai lihur Pancasila telah diamalkan seluruh komponen bangsa? Jika nilai-nilai universal sudah diamalkan, mengapa negara Indonesia yang menjunjung moralitas justru marak praktik korupsi, kolusi dan nepotisme sampai Indonesia dicap sebagai negara korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai luhur Pancasila yang seharusnya dijadikan acuan seperti dilupakan. Akibatnya, korupsi marak di mana-mana. Ironisnya, tindak korupsi itu dilakukan elite politik yang seharusnya memberikan contoh dalam menjunjung moralitas. Terkuaknya kasus korupsi di hampir semua lembaga atau departemen pemerintahan seakan meneguhkan bahwa kekuasaan cenderung korup. Fenomena itu menegaskan bahwa Pancasila selama ini hanya dijadikan slogan, tak dijiwai sebagai nilai luhur yang patut dijunjung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun negara ini didirikan atas landasan moral yang luhur. Sebelum terbentuk Negara Indonesia, etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari warga di bumi Nusantara sudah menjadi pegangan yang dimaklumatkan penguasa kerajaan besar mulai dari Kerajaan Sriwijaya, Majapahit hingga Mataram. Hidup penuh toleransi, tolong-menolong, gotong-royong, bermusyawarah untuk menciptakan rasa aman, tenteram dan sejahtera seperti diungkapkan dengan semboyan gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo sudah menjadi harapan semua orang yang belakangan populer disebut "masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acuan moral atau etika kehidupan itu bisa ditemukan dalam karya para pujangga kerajaan, seperti dilukiskan oleh Empu Tantular dalam Sotasoma dan Empu Prapanca dalam Negara Kertagama. Nilai-nilai luhur itulah yang digali oleh para pendiri bangsa dan dirumuskan dalam Pancasila. Jadi, nilai-nilai luhur dan agung dalam Pancasila bukanlah sebuah atribut tanpa makna, melainkan ungkapan 'jiwa bangsa Indonesia'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai falsafah hidup, Pancasila memuat nilai-nilai luhur dan sudah semestinya diamalkan agar tercipta kehidupan yang baik. Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan "konsekuensi logis" dari kesadaran kehendak, yang berawal dari dalam diri atau pengekangan dalam diri. Jika diterapkan, menimbulkan kehidupan manusia yang mencerminkan: 1) rasa keimanan, 2) rasa kemanusiaan, 3) rasa berbangsa/kebangsaan, 4) rasa demokrasi, dan 5) rasa keadilan sebagai implementasi lima sila dari Pancasila. (Prof Drs HAW Widjaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan nilai-nilai Pancasila memiliki kesesuaian dengan fitrah Ilahiyah yang termuat di dalam ajaran sejumlah kitab suci dalam semua agama. Nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dimiliki dan diamalkan sebagai landasan hidup pemeluk agama apa pun. Maka, Pancasila dianggap sebagai ideologi yang bersifat universal karena dalam Pancasila ada nilai-nilai sosialis religius dan nilai-nilai etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang seribu sayang, nilai-nilai itu tampaknya belum diamalkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Pancasila kerap kali ditafsirkan sepihak, dan cenderung diselewengkan sejumlah oknum dan pejabat negara. Nurani sebagian pejabat di Indonesia tidak lagi berjiwa Pancasilais. Tak heran, jika korupsi merajalela dan merebak di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Indonesia yang dibangun di atas pijakan keluhuran budi kebhinnekaan Nusantara oleh para pendiri bangsa seperti dilupakan. Korupsi pun menjadi penyakit yang sulit disembuhkan, karena dilakukan secara sistemik. Terkuaknya kasus-kasus korupsi di lembaga-lembaga penegak hukum, belakangan ini merupakan wajah buram sejarah korupsi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa korupsi menjadi penyakit menahun di setiap lembaga dan departemen/kementerian di Indonesia? Pasalnya, Pancasila yang memuat nilai-nilai moral dan etis seakan menjadi pepesan kosong yang tak bermakna dan cenderung dilupakan. Karena itu, kini waktunya menjadikan Pancasila sebagai rumah bagi mentalitas semua komponen masyarakat. Pancasila harus kembali dijadikan sebagai 'kompas' atau 'rambu-rambu' untuk bertindak dan berperilaku agar tak melenceng dari nilai-nilai yang telah dijadikan sebagai kontrak sosial bersama sejak Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aras lain, Pancasila harus kembali dijadikan acuan hukum bahkan sumber dari segala sumber hukum. Karena, dengan cara itu, Indonesia benar-benar menjadi negara hukum, tidak lagi menjadikan nafsu atau ketamakan harta di balik kepentingan setiap perundang-undangan atau konstitusi. Sistem warisan rezim Orde Baru yang kental ketamakan akan kekuasaan dan harta tampaknya tetap menyelimuti di antara komponen warga bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, cara-cara lama penyusunan konstitusi yang kerap ditengarai hanya untuk mencari celah pembenaran atas kehendak kelompok, golongan, atau pribadi tertentu, tetap saja marak. Tak sedikit perundang-undangan dibuat dengan mencederai prinsip sila keempat Pancasila, yang lebih mengedepankan musyawarah-mufakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa banyak di antara elite politik dan pejabat negeri ini ramai-ramai korupsi, tak dapat disangkal, tidak sesuai acuan nilai-nilai luhur universal Pancasila. Perilaku pemimpin korup demikian jelas merupakan pengkhianatan terhadap Pancasila. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Nur Mursidi, alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-5113209830814911184?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/5113209830814911184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=5113209830814911184' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5113209830814911184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5113209830814911184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/09/korupsi-khianati-pancasila.html' title='Korupsi Khianati Pancasila'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-m-hOYmZDVjQ/Tm-NRYDWvJI/AAAAAAAACIE/tWr-ystC2iw/s72-c/pancasila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3290389527374402689</id><published>2011-08-24T15:02:00.004+07:00</published><updated>2011-08-25T20:07:25.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Siluet Ka`bah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SRaaOck33fI/AAAAAAAABHA/-0ISqEKnSZg/s1600-h/kabah_cerpen.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 145px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SRaaOck33fI/AAAAAAAABHA/-0ISqEKnSZg/s200/kabah_cerpen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266566387236068850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cerpen  ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Tabloid NOVA&lt;/span&gt; ed 1227/xxiv 29 Agust - 4 Sept 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    SETIAPKALI senja mengendap di altar cakrawala, dan tampak lengkung pelangi berwarna jingga merona di balik kabut, ayah selalu duduk termangu di beranda rumah seakan-akan sedang menunggu seseorang yang hendak bertamu ke rumah kami. Tetapi, aku tidak pernah menjumpai ada tamu yang kemudian datang ke rumah kami. Aku sering kali justru menjumpai ayah memasuki rumah dengan memendam rasa kecewa, tatkala adzan maghrib berkumandang. Dengan tergesa, ayah lalu ganti baju, meraih kopiah di atas almari, dan bergegas pergi ke sebuah masjid di dekat rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu, kapan tepatnya ayah mulai mencintai senja dan suka memandang langit yang dihiasi lengkung pelangi. Semula, aku menduga, ayah mulai sering duduk sendiri di beranda, sejak ibu meninggal tiga tahun yang lalu. Aku pikir, ayah masih diliputi perasaan berduka karena ditinggal pergi oleh ibu. Tapi, dugaanku itu ternyata salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak sedang mengenang almarhumah ibumu dengan cara melihat senja di balik kabut yang dihiasi lengkung pelangi…”  ujar ayah, pada suatu senja, “Jika itu yang kukenang, aku mungkin akan kau anggap gila, karena aku ini tahu bahwa orang yang sudah meninggal jelas tak akan hidup lagi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika tidak mengenang almarhumah ibu lantas untuk apa ayah duduk termangu di beranda rumah, memandang lengkung pelangi di balik senja yang melindap?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin memandangi siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi,” jawab ayah, membuatku tak mengerti. “Dan setelah melihat bayangan Ka`bah itu, aku seperti merasakan kesenangan yang tidak terkira …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi senja yang baru saja melindap di cakrawala, menerawang jauh ke balik bayangan lengkung pelangi yang disepuh seribu rupa warna-warni. Setitik pun, tak kulihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Hanya kulihat senja yang ungu, lengkung pelangi dan hamparan langit temaram yang hampir petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu melihat?” tanya ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm… Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, kamu tidak bisa melihat! Jika bisa, pasti kamu akan duduk di beranda ini setiap senja dan kemudian merengkuh silut itu untuk ayahmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama sekali tak mengerti. Di mataku, ini sungguh tak masuk akal. Bagaimana mungkin ayah bisa melihat sileut Ka`bah dalam lengkung pelangi, sementara aku tidak melihat setitik pun bayangan Ka`bah melintas dalam mataku. Aku jadi penasaran, dan berusaha mendesak ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ayah tak pernah mau berterus terang. Aku jadi diliputi penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siang ini, aku baru sadar, kalau ayah sering duduk di beranda memandangi lengkung pelangi, tepat sebulan setelah lebaran setelah dua kakak perempuanku dan anak-anak mereka yang lucu meninggalkan rumah kami untuk kembali ke kota. Sempat aku menduga, kepergian mereka itulah yang membuat ayah merasa kesepian lantaran setelah kepergian mereka, praktis ayah tinggal bersamaku, putri terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, aku tahu, ayah tak pernah merasa kesepian dengan kepergian mereka. Ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi lantaran ayah memendam impian. Sebuah impian yang mengumpal dan perlahan mampu menyingkap awan ketika senja melindap lalu siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi terpampang di mata ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, aku terlambat bisa mengantar ayah merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi yang diimpikan itu …&lt;br /&gt;               ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIANG ini aku tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi ayah yang mendadak diserang panas. Sejak ditinggal pergi oleh ibu tiga tahun lalu, ayah memang sering sakit-sakitan. Maklum, usia ayah sudah enam puluh tahun lebih. Setiap satu bulan sekali, aku terpaksa harus mengantar ayah berobat jalan dengan setumpuk penyakit yang dia derita, mulai dari serangan paru-paru, lemah jantung hingga kencing manis dan entah apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sakit panas yang diderita ayah kali ini sungguh di luar dugaanku. Kemarin sore, ayah masih terlihat sehat bahkan lahap menghabiskan sepiring nasi dengan sayur asam yang kubuat sebelum beliau duduk di beranda menengadah ke langit yang kata ayah melihat siluet Ka`bah dalam lengkung palangi. Dan siang ini, tahu-tahu ia diserang panas sebelum aku pamit pergi ke rumah paman Salim yang kebetulan hendak pergi ke tanah suci bersama bibi Jumroh, besok sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku nyaris tak jadi berangkat ke rumah paman, tak tega meninggalkan ayah di rumah sendiri. Tapi, ayah memaksaku untuk tetap pergi dan sebelum aku pergi, masih kuingat pesan pendek ayah, “Salam buat pamanmu. Sampaikan pesanku agar di tanah suci nanti ayah didoakan cepat-cepat dipanggil Allah untuk segera menyusul…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke rumah paman di kampung sebelah, aku menyimpan pesan ayah dalam ingatanku. Aku tak tahu, di kemudian hari, pesan ayah itu masih tersimpan dalam ingatan dan membuatku selalu ditikam salah.&lt;br /&gt;               ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG-ORANG lalu lalang, dan rumah paman Salim terlihat ramai saat aku tiba di depan rumah paman diantar oleh seorang tukang ojeg. Aku cepat-cepat menelusup masuk rumah paman melalui pintu belakang, dan disambut bibi Jumroh yang kebetulan sedang di dapur. Bibi menggandeng tanganku, memasuki ruang tengah yang dipenuhi beberapa tamu yang nyaris tak kukenal. Kulihat, orang-orang menyalami bibi dengan wajah berbinar, saling mengharapkan sebuah doa. Lalu, beberapa orang bersalaman untuk pamit pulang tapi dari luar pintu, datang beberapa tamu lagi seperti tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, perlahan tamu mulai susut dan pulang. Hanya tinggal keluarga dekat. Aku memberanikan diri mendekati tempat paman Salim duduk, menyampaikan pesan ayah. Tidak kuduga, wajah paman mendadak berubah merah seakan tertampar oleh pesan ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah mendengar pesan dari ayahmu, aku tiba-tiba teringat peristiwa di masa lalu. Dulu sebelum kamu lahir, sekitar tahun 70-an dan orang-orang naik haji masih naik kapal, ayahmu sudah berniat hendak pergi ke tanah suci. Tapi, ayahmu mungkin belum beruntung atau takdir yang memang belum membawa ayahmu pergi ke tanah suci…” ujar paman tiba-tiba, membuatku kaget dan termangu, “Aku tak tahu! Aku hanya tahu, orang-orang bercerita bahwa ayahmu pernah ikut arisan haji dan separoh dari mereka itu sudah berangkat ke tanah suci, tapi jatah untuk ayahmu tidak juga kunjung keluar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika yang diikuti ayah itu serupa arisan, kenapa ayah tidak mendapatkan jatah atau giliran, meskipun berangkat belakangan?” tanyaku, ingin tahu lebih jauh lantaran sampai detik ini ayah belum kesampaian pergi ke tanah suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya, arisan haji itu kemudian berhenti di tengah jalan! Tak lagi berlanjut, karena orang-orang yang jadi anggota arisan itu kebetulan sudah tua dan satu persatu mulai meninggal dunia. Tragisnya lagi, ahli waris anggota arisan tak dibebani tanggung jawab membayar padahal ayahmu belum mendapat giliran pergi ke tanah suci …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam dan terpaku mendengar cerita paman Salim. Alangkah, malang nasib ayah! Air mataku, perlahan mulai mengalir dari sudut mataku, membasahi wajahku. Dan aku baru sadar, jika ayah memendam sebuah mimpi yang belum kesampaian. Kupikir, impian terpendam ayah itulah yang membuatnya duduk di beranda, membayangkan siluet Ka`bah setiapkali senja mengendap di balik awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas,” ucapku seketika, “Ayah selalu membayangkan siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi setiapkali senja melindap. Aku tak tahu, kalau ayah duduk di beranda dan menengadah ke arah langit itu, seakan-akan ayah benar-benar melihat Ka`bah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kau tidak keberatan, juallah tegalan yang menjadi warisanmu! Mumpung, ayahmu masih sehat…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, aku tidak keberatan dengan usul paman Salam.&lt;br /&gt;               ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENJA baru saja turun dan seperti terapung-apung di cakrawala, ketika aku tiba di rumah. Tetapi belum sempat aku memasuki rumah, Kang Paijo, salah satu tetanggaku sebelah rumah, buru-buru menyambutku. Ia terlihat gugup. Wajahnya seperti bimbang. Dan akhirnya, dia gemetar berucap, “Ayahmu pingsan…!”  suaranya, seperti tercekat, “Tadi, aku temukan ayahmu jatuh dari teras.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru, aku memasuki rumah, dan menemukan ayah dalam keadaan terbujur kaku di atas balai. Napas ayah naik turun, membuatku masih dapat bernapas lega. Aku mendekati ayah, kupegang erat-erat tangannya. Entah kenapa, aku tiba-tiba cemas seperti disergap perasaan bersalah dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya, ayahmu segera dibawa ke rumah sakit. Mungkin aku bisa meminta tolong kepada pak Burhan untuk membawa ayahmu ke rumah sakit dengan mobilnya,”  akhirnya Kang Paijo menawarkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru, Kang Paijo pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku perlahan membasahi kening. Kulihat mata ayah terpejam, seakan ia tertidur dengan nyenyak. Aku gerayangi bagian kepalanya dan kutemukan ada darah segar menggenang di sebagian rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit berlalu. Lalu, sepuluh menit. Setelah lima belas menit berlalu, Kang Paijo tidak juga kunjung datang, aku disergap takut. Napas ayah mulai tidak terkendali. Hingga sesuatu tidak terduga, akhirnya terjadi. Mataku seperti terganggu oleh sebuah perkembangan yang nyaris tak kusangka. Napas ayah mendadak berhenti. Kupegang urat nadi ayah, tak ada darah mengalir di sepanjang tanganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memeluk tubuh ayah erat-erat, tak ingin ayah meninggal sebelum mimpinya melihat Ka`bah terwujud ketika aku sudah bertekat hendak menjual tanah warisan. Tapi tubuh ayah sudah beku. Dan aku tahu, ayah sudah meninggal dunia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, aku bangkit lalu berjalan menuju beranda. Senja masih mengapung di cakrawala. Pelangi berwarna jingga merona di balik awan. Tiba-tiba, senja hari itu, aku melihat siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi. Tetapi, aku sudah terlambat mengantar ayah bisa merengkuh siluet Ka`bah dalam lengkung pelangi itu… ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat,  06/11/ 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3290389527374402689?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3290389527374402689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3290389527374402689' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3290389527374402689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3290389527374402689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/11/siluet-kabah-dalam-lengkung-pelangi.html' title='Siluet Ka`bah'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SRaaOck33fI/AAAAAAAABHA/-0ISqEKnSZg/s72-c/kabah_cerpen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-7394175272080939656</id><published>2011-08-21T19:34:00.001+07:00</published><updated>2011-08-25T20:01:57.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Air Mata Mentari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-bmtnfvtcj8E/TlZHIwroJvI/AAAAAAAACHs/3Py74Dil05Q/s1600/Tenun%2BSambas%252C%2Boke.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-bmtnfvtcj8E/TlZHIwroJvI/AAAAAAAACHs/3Py74Dil05Q/s200/Tenun%2BSambas%252C%2Boke.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644777398787909362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;RADAR SURABAYA&lt;/span&gt;, Minggu 21 Agustus 11&lt;br /&gt;Cerpen: N. Mursidi &amp;amp; Achmad Ridwan *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PAGI begitu ungu saat Mentari menangis tersedu. Ia merunduk, menutupi wajah bulatnya dalam balutan duka. Hanya tampak rambutnya yang lurus terburai bagai disisir angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar dengan sahdu, hatinya tersayat pilu. Aku bangkit dari beranda, melangkah ke arahnya. Langkah kaki-ku menginjak dedaun kering, melewati halaman dan membuat kepodang kuning yang hinggap di dahan sawit muda, tak sempat menyisir kembang: terbang ke angkasa. Serbuk sari kembang melur disesap kupu-kupu. Sebentar. Setelah itu, binatang itu pun mengepakkan sayap...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Di beranda rumahmu kenapa engkau menangis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu membisu, tetap tersedu. Gadis kecil yang berparas cantik itu tidak peduli kehadiranku. Aku berdiri mematung tepat di hadapannya. Ia sudah tumbuh besar dengan kulit langsat-manis serupa mutiara dari Arab, laksana pualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau seharusnya tak perlu bersedih, karena kesedihan akan mengantarmu ke jurang penderitaan...,” mintaku, berusaha menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangkat wajah. Wajahnya merah dengan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menunggu ceritamu! Engkaulah yang dengan sabar mendengar cerita ibuku kala keputusasaan mendera dengan dahsyat. Ya, hanya engkau yang bisa menceritakan petaka itu! Ceritakanlah tragedi itu....! Mentari menjawab dengan linangan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangku, ketahuilah bahwa cerita itu begitu pahit untuk kamu dengar. Jangan kau rusak kelembutan pagi ini dengan kisah pilu. Biarlah kisah itu disimpan oleh catatan sejarah agar akal dan pikiranmu tak disesaki dendam, laksana rayap memakan sepertiga meranti tua itu. Jangan!” ujarku tegas, seraya menatap pohon meranti tua.&lt;br /&gt;                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELALU. Selalu, aku tak sanggup untuk mengenang peristiwa itu, rasa ketidak- sanggupanku kian bertambah hingga membuat tubuh ini kian terpuruk dalam lingkaran kenestapaan. Petaka itu tergurat jelas dalam setiap detail ingatanku dan ratusan ingatan saudara-saudaraku yang dalam hidupnya dikelilingi pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab tuntas. Aku pun meringkuk di sini: di relokasi korban tragedi berdarah Kampung Mekar Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah saksi perekam nyanyian jerit hati yang menyayat, melebihi suara lolong serigala pada kelam malam hutan belantara Khatulistiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di pagi ini, aku harus bercerita tragedi itu. Sanggupkah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, setiap Minggu pagi, di beranda rumah yang berukuran tidak lebih dari 12 x 5 meter persegi, Mentari menungguku. Seperti pagi ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu sungguh kecil. Aku tak pernah menganggapnya rumah, tetapi tempat pembuangan sampah. Tak ada apa-apa di rumah itu. Tak ada ruang tamu, tak ada sofa, apalagi deretan lukisan. Hanya kamar dan seonggok perkakas alat dapur yang sedikit berkarat. Tak ada sumur dan WC. Di sana mereka menjalani hidup, berusaha menggapai impian yang gelap. Di depan rumah, berdiri pohan nangka muda yang belum berbuah. Tiga batang bunga kertas. Serumpun bunga melur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi, Mentari selalu menunggu ceritaku, persis seperti ribuan orang-orang kota yang menunggu koran pagi dengan kehangatan secangkir kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seratus delapan puluh empat pagi kami lalui sejak perkenalan itu. Engkau selalu mendengar cerita indah dan ketenteraman surga Firdaus. Kali ini kau menagihku, dan aku terlanjur menyanggupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mentari,” berat rasanya aku memulai. Tapi akhirnya, aku tidak kuasa menahan, “Engkau terlahir bukan di sini, tapi di desa yang jaraknya jauh tersekat hamparan pulau. Desa Rambeyan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti menangis, membetulkan posisi duduknya hingga kami berhadapan. Di kejauhan, puluhan petani melangkahkan kaki di pematang sawah hendak mengolah tanah gambut jadi butiran nasi yang kelak mengisi perut mereka biar tidak tergerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengar kisah ini dari ibumu waktu engkau masih merah, darah belum tuntas benar. Air susu ibumu keluar tiga-empat tetes. Demi keselamatan dirinya dan kamu dari kekejaman perang; engkau dibawa mengungsi walau usiamu baru tiga hari,” suaraku tersekat dalam impitan dada yang perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik napas panjang untuk melenyapkan kegalauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itulah segala sesuatunya bermula. Malam itu sehari sebelum umat Islam merayakan kemenangan Idul Fitri, saat ribuan insan beriman tinggal selangkah lagi menuju kemenangan, dalam sebuah perjuangan mematahkan bujuk rayu setan melalui segentong pundi-pundi kenikmatan duniawi, tragedi itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam itu,” aku kembali menarik napas panjang untuk melenyapkan kegalauan. Aku diam. Tapi, hati kami seperti bercengkrama dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, di desa Parit Setia tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong setelah ada sekelebat orang masuk ke rumahnya. Teriakan itu membangunkan para peronda untuk mendatangi asal suara: melakukan pengepungan. Seorang pemuda dari desa Rambeyan tertangkap, lalu oleh warga ia diamankan dan rencannya diserahkan pada polisi esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernahkah engkau mendengar kabar yang tidak terjadi sebagaimana mestinya?” tanyaku pada Mentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam, menatapku dengan polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kabar yang  diembuskan angin ke desamu. Orang-orang desamu dihimpit marah karena warganya dikabarkan disiksa...” lanjutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali diam. Tapi, hati kami bercengkrama dalam diam. Aku bercerita, dia tertegun mendengar ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat adzan Ashar berkumandang memanggil umat untuk sujud menyerahkan jiwa, laksana badai tiba-tiba menerjang dua ratus lebih tubuh yang dirasuki amarah, menghantam dan membabat mereka. Celurit, golok berayun merobohkan tubuh-tubuh yang berusaha menghadang. Tiga nyawa melayang dari ubun-ubun warga Parit Setia pada Ashar yang kelabu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api memercik. Ilalang kering terbakar dan merambat ke segala penjuru karena dihembus angin. Tanah merambatkan panas memancarkan kilatan-kilatan lidah Dajjal. Lalu, menjelma serupa burung nazar.&lt;br /&gt;                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELALU. Selalu, aku tak sanggup untuk mengenang peristiwa itu.     Tetapi, di pagi ini, aku harus bercerita tragedi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi itu membuat langit menjadi kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, Minggu 21 Februari 1999 di Tebas, Rodi mengamuk. Pada mulanya Bujang Lebik, seorang kernet bus meminta ongkos untuk jasa transportasi tapi bukan bayaran yang diterima melainkan sabetan celurit yang berkelebat membabat tangan dan kaki kanan Bujang. Laksana angin kisah itu menyebar ke seluruh Sambas. Bujang Lebik dikabarkan mati dibunuh Rodi. Warga marah. Bagai bara dalam sekam yang tersiram minyak, orang-orang yang masih marah akibat kasus Parit Setia mendidih. Kota kami hampir dipenuhi warna merah darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, satu bintang muncul karena musnah tersapu badai yang membawa dendam. Tiga ratus orang mengepung Rodi dengan wajah bertopeng bengis. Adalah senapan lantak yang menyambut. Pelipis pun tersayat dan justru dari sini dendam kesumat itu mulai membara dalam panas yang menghanguskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari diam membisu, menatap langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mendengarku, Mentari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota kami hangus. Darah berceceran. Sang nazar mengepakkan sayap mengikuti bau anyir, berputar di angkasa sambil mencakar-cakar. Bau itu terus merambat ke segala kota. Kemarahan membuncah di bumi Borneo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Nazar memakan bangkai. Cacing dan lalat menari di tumpukan otak yang terburai melebihi gundukan pasir. Bermil-mil jauhnya, sungai-sungai menghanyutkan kepala yang terpenggal, membusuk menguarkan aroma senyau. Dan... akhirnya, orang-orang seperjuanganmu mati di negeri yang berjarak ribuan km dari tanah asalmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku berhenti, tenggelam dalam ngilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang sehari, tragedi tumpah di Pemangkat. Puting beliung belum reda, terus menyapu kesadaran. Hembusan angin bergemuruh melebihi ledakan bom, melengking melebihi jeritan, meraung melebihi badai, dan terkapar melebihi maut. Api membakar tiga puluh tiga rumah dan menerjangkan berpuluh nyawa. Pedang, klewang, senapan lantak, kapak dan belati membabat apa pun dengan mata terpejam tak menghiraukan ayat. Semua terus mengibarkan panji-panji darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari menggigil, dan menggeserkan tubuhnya sejengkal dariku. Dia menatap sekumpulan kumbang sawah yang terbang, meninggalkan suara berdengung menyelinap di telinga kami. Rambutnya yang lurus bagai disisir angin tiba-tiba berubah serupa belati yang menusuk jantungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gagap aku merayu Mentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Empat hari perang itu terjadi. Tapi pada empat kehidupan ingatan itu tak akan hilang. Air mata menetes terbawa tetesan darah saudara-saudaraku seiman yang mulai kering, tabahkanlah hatimu. Jangan salahkan agama. Ini hanya keangkuhan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari mendekapku dalam rengkuhan yang gamang  sambil menyeka keperihan yang mengendon dalam jiwanya, ia pun berdendang “Satu-satu, daun berguguran, jatuh ke bumi, dimakan usia, tak terdengar tangis, tak terdengar tawa, redalah reda…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat akan lagu yang kau nyanyikan....&lt;br /&gt;                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIRNYA, di beranda rumahmu aku pun menangis. “Aku teringat akan ibumu Mentari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurjati! Baru kemarin kamu melahirkan. Dokter dan bidan belum menyuruhmu pulang, dan selang oksigen masih menempel di kedua rongga pernafasanmu. Tubuhmu rapuh serupa ranting kering. Darah persalinanmu belum tuntas, dan air susumu baru tiga empat tetes memberi kehidupan pada anakmu. Kini kenapa engkau meringkuk di Mekar Sari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perang membawaku ke sini Along” Nurjati menjelaskan padaku pada suatu hari tepat enam tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumahku terbakar. Entah berapa puluh nyawa melayang. Laki-laki, perempuan, orangtua dan anak-anak pun tak luput amukan. Mereka mati sebelum sempat bertanya ‘Engkau siapa? Ada apa ini? Apa salahku? Kenapa…?’ Suamiku pun begitu. Aku hanya membawa dia, si bayi mungil yang kuajak berlari di titian kematian walau baru kemarin ia hidup, karena aku tak mau ia mati. Aku melawan ketakutan, mengumpulkan tenaga pada tulang-tulangku yang pucat pasi untuk berani berlari walau rahimku terbakar. Aku ingin Mentari hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di pengungsian, aku dan sekian puluh ribu saudaraku meminta perlindungan, perjuangan kami belum usai untuk melawan kematian. Bukan senjata namun kelaparan, gizi buruk, sanitasi dan sejuta penyakit berusaha merenggut nyawa kami, hanya Mentari yang memberiku kekuatan....” Nurjati menangis mengenang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu masa lalu Along, kini aku dan mereka sudah menang setelah melawan derita. Kami membangun hidup ini dengan tangan kami, tanpa jera. Dan yang penting bagiku adalah Mentari tetap hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam cukup lama. Mentari berjalan mendekati pohon nangka muda itu, ia keluarkan secarik kertas lantas menulis sebuah puisi dengan polpen yang tidak bertutup di antara cabang pohon yang rendah. Dan sekian menit berikutnya sebuah puisi tertulis. Sedikit dan sederhana, tapi memberi arti. Ia tempel puisinya di batang dengan kekuatan terisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah, lalu membaca puisi yang ia tulis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku terjungkal hidupnya di sini.&lt;br /&gt;Di kampung ini. Yang berderet seratus dua puluh rumah tanpa kepastian.&lt;br /&gt;Kecuali ilalang liar dan hutan keras untuk diolah&lt;br /&gt;sebagai ladang di tanah gambut khatulistiwa.&lt;br /&gt;Di mana mataharinya mampu membakar batu-batu&lt;br /&gt;menjadi sekubik abu yang membumbungkan berlaksa-laksa kabut asap.&lt;br /&gt;Bangkitkan aku anak-anakmu ibu.&lt;br /&gt;Dengan cinta bukan peperangan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah engkau berduka Mentari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatapku. Dan di matanya, aku melihat selaksa kabut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambas, 8/6/08 – Jakarta, 30/06/11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N Mursidi, cerpenis asal Lasem, Jateng. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media, seperti: The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Republika, Seputar Indonesia, Suara Karya, Surya, Surabaya Post, Batam Pos, Lampung Post, Nova, Jurnal Nasional, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi dan Solo Pos. Kini, dia bekerja sebagai wartawan dan sedang menulis Novel. Kumpulan cerpennya yang sudah terbit: Dua Janji (Leutika Prio, 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Achmad Ridwan, pekerja teater, pengelola Lembaga Pendidikan Al-Kautsar dan Sanggar Teater Babak Pemangkat, Kalimantan Barat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-7394175272080939656?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/7394175272080939656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=7394175272080939656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/7394175272080939656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/7394175272080939656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/08/air-mata-mentari.html' title='Air Mata Mentari'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-bmtnfvtcj8E/TlZHIwroJvI/AAAAAAAACHs/3Py74Dil05Q/s72-c/Tenun%2BSambas%252C%2Boke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3059294616420558261</id><published>2011-08-21T17:11:00.002+07:00</published><updated>2011-08-26T10:27:32.130+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='di balik proses kreatif'/><title type='text'>Kekuatan Imajinasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R-TbrDvVN3I/AAAAAAAAArw/Q54zVGhVC2E/s1600-h/otak-atik2.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180507004167599986" style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 170px; cursor: pointer; height: 134px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R-TbrDvVN3I/AAAAAAAAArw/Q54zVGhVC2E/s400/otak-atik2.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Esai ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Radar Surabaya&lt;/span&gt;, Minggu 21 Agustus 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DULU, tatkala dorongan menulis itu menjeratku, aku langsung menyalakan komputer dan menuangkan ide yang melintas tersebut -begitu saja. Tak peduli malam. Tak peduli siang. Aku menulis, seakan aku dirasuki kekuatan gaib -yang menuntun tanganku untuk bergerak. Aku seperti sebuah robot yang dikendalikan kekuatan gaib yang tak pernah kukenal. Aku menulis lantaran aku didorong oleh keinginan untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi ironisnya, sering kali aku tak bisa merampungkan tulisanku itu daripada sukses merakit cerita sampai tuntas. Jujur kuakui! Meskipun dorongan menulis itu kerap datang menggebu-gebu, lantaran tak ada konsep dan tak ada bayangan yang jelas tentang apa yang harus kutulis, akhirnya kekuatan gaib yang "mendorongku" itu pun hanya membuatku kecewa setelah aku berjuang sekuat tenaga mencurahkan kekuatanku, tetapi tak menghasilkan sebuah cerita -seperti yang terlintas dalam kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit, tulisanku tak rampung. Mungkin, hanya satu atau dua yang dapat kurampungkan. Selebihnya? Kadang teronggok di komputer bahkan kerap tak kusentuh lagi. Terlupakan, tidak pernah menjadi sebuah cerita pendek. Tragis! Tetapi, itulah pengalaman buruk yang dulu sering aku alami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung jika suatu hari aku tiba-tiba ingat kembali dan mendapat ilham baru untuk cerita yang pernah terbengkalai itu. Aku lalu menyentuhnya lagi dan mampu merampungkannya, meski harus tertatih-tatih dan kedodoran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak pernah tahu, dan tak pernah peduli. Aku hanya merasakan, saat ada dorongan lagi menulis untuk merampungkan tulisanku yang terbengkali, rasanya ada semacam "kebahagiaan" yang membuatku digelayuti kedamaian setelah bisa menuntaskan ide itu jadi sebuah cerpen. Rasanya habis buang hajat dan kegelisahan yang sempat membuatku terus dicekam rasa cemas itu pun akhirnya bebas dan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plooooong! Itulah satu perasaan senang, tatkala aku bisa merampungkan sebuah tulisan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik Imaging&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun petaka itu terjadi dan berlalu tanpa pernah ada solusi dan jawaban! Aku tak pernah tahu, jawaban kebuntuanku itu. Hingga suatu hari, aku membaca sebuah buku yang mengisahkan kesuksesan Jack Niclaus bermain golf yang dibantu teknik imaging. Pendeknya, Niclaus sukses karena ia mengandalkan kekuatan imajinasi (atau kekuatan pikiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, setiap kali Jack Niclaus ingin menganyunkan tongkat, dalam benaknya, ia menggambarkan (membayangkan) jalannya bola. Lalu datang proyeksi kedua, yakni cara dia memukul tongkat agar mampu menghasilkan jalan bola yang ia inginkan. Tak pelak, setelah dia mengayunkan tongkatnya, bola pun masuk ke lubang sebagaimana yang ia inginkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah teknik imaging a la Niclaus yang membuatnya sukses di lapangan golf! Meski teknik itu terkesan sepele dan gampang dilakukan lantaran tinggal membayangkan jalannya bola, dan cara memukul tongkat tapi hasil yang diraih ternyata sungguh gemilang. Kekuatan imajinasi itu ternyata dapat berubah menjadi kenyataan setelah dibayangkan dalam pikiran dengan kuat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku renungkan, ternyata teknik imaging ala Jack Niclaus dalam bermain golf itu tidak beda jauh dengan teknik dalam menulis cerpen. Maka aku kemudian berusaha mempraktekkan teknik ala Jack Niclaus itu. Tak kupungkiri, ternyata teknik imaging itu cukup ampuh. Gamblangnya, setiapkali ide sebuah cerita itu melintas dalam benakku dan kemudian aku menyalakan komputer, aku membayangkan jalannya cerita itu seperti jalannya sebuah bola. Selanjutnya, ketika aku hendak nulis muncul bayangan kedua, gerakan tanganku menekan huruf-huruf di keyboad supaya jalannya cerita itu bisa bergulir sampai berakhir pada ending cerita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik imaging itu akhirnya membuatku tidak lagi menemui jalan buntu. Apalagi dalam teknik menulis cerita pendek, dikenal satu adagium "Saat menulis sebuah cerita pendek, kuncinya Anda harus tahu ending cerita. Jika sudah tahu ending cerita, maka tak ada kesulitan karena semua akan bergulir..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saat ending cerita itu sudah aku temukan, tak ada lagi kesulitan menulis. Ibarat jalannya sebuah bola yang terbayangkan hingga ke lobang, maka aku tinggal menulis mengikuti alur yang bergulir ke ending cerita sebagaimana yang aku inginkan. Apakah ending itu akan menunju akhir yang mengejutkan? Itu perlu dibangun dengan sering latihan dan uji coba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan "teknik imaging" yang diterapkan Jack Niclaus dalam bermain golf itu ternyata sejalan dengan himbauan Mary T. Browne dalam memanfaatkan kekuatan pikiran untuk meraih segala hal yang ingin diraih seseorang. Dari 5 aturan pikiran yang disusun Mary, salah satunya adalah "melihat hal itu telah terjadi". Dengan kata lain, membayangkan bola itu terjadi masuk ke lubang dan membayangkan cerita yang ditulis selesai sampai ending cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di balik Kekuatan Imajinasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Albert Einstein pernah berkata, "Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan." Apa yang dikatakan Eintein itu, memang tidak salah. Dari sebuah imajinasi, cerita pendek lahir. Dari sebuah imajinasi, sebuah teori bergulir. Dari sebuah imajinasi, apa pun yang Anda inginkan bisa menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana menggunakan kekuatan imajinasi dalam menulis cerpen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi adalah ruh. Imajinasi adalah energi. Imajinasi adalah daya kreatif. Imajinasi adalah energi. Imajinasi itu adalah sebuah getaran. Pendek kata, imajinasi adalah embrio sebuah cerita pendek. Jadi kerja cerpenis tanpa ditopang kekuatan imajinasi ibarat pengembara yang berjalan tanpa peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal yang dikehendaki oleh seorang cerpenis adalah berjalan menuju akhir cerita. Kekuatan imajinasi itu, tak lain adalah peta yang menuntut Anda berjalan ke garis finish (ending cerita).***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Ciputat, 22 Maret 2008)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3059294616420558261?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3059294616420558261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3059294616420558261' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3059294616420558261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3059294616420558261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/03/kekuatan-imajinasi.html' title='Kekuatan Imajinasi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R-TbrDvVN3I/AAAAAAAAArw/Q54zVGhVC2E/s72-c/otak-atik2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6225729212003305009</id><published>2011-07-31T11:15:00.001+07:00</published><updated>2011-08-31T11:22:45.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberotak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vfALWzMd5es/Tl22Fydc3wI/AAAAAAAACH0/T72BG8cj8fY/s1600/Suikoden.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vfALWzMd5es/Tl22Fydc3wI/AAAAAAAACH0/T72BG8cj8fY/s200/Suikoden.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646869718353370882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Minggu 31 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku  : Shin Suikoden: Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air&lt;br /&gt;Penulis         : Eiji Yoshikawa&lt;br /&gt;Penerbit      : Kansha Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan       : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal buku : 486 halaman&lt;br /&gt;Harga          : 69.800,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    BAGI Machiavelli, seseorang bisa menjadi pengeran dalam sebuah negera kerajaan karena ia memang diberkahi keberuntungan. Sebab dalam (negara) kerajaan, orang diangkat jadi pengeran berdasarkan keturunan. Tapi tanpa didukung kemampuan, jelas keberuntungan itu akan sirna.  Dengan kata lain, keberuntungan itu harus ditopang dengan kemampuan besar, otak genius, tahu cara memimpin, bertahan, dan bahkan bertindak demi mempertahankan kekuasaan itu. Dan tindakan kejam (meski pun tidak bermoral, dan tidak beragama), tetap dibutuhkan untuk memberikan sebuah kekuatan. Sekali pun langkah itu tidak mengantarkan sang pangeran pada kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sejarah menorehkan segudang kisah. Ketika sang pangeran (negara kerajaan) mengandalkan keberuntungan semata, pastilah akan berujung tragis --tersungkur dari tahta. Pasalnya, tatkala rakyat ditikam duka lara kelaparan, dan elite politik hanya mengurus perut sendiri, bahkan ketidakadilan teronggok di sudut-sudut kota, benih pemberontakan pun meneguhkan tindakan brutal di luar konstitusi untuk menumbangkan "kursi kekuasaan" sang pangeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan oleh Machiavelli di atas, tidak dapat ditepis mengukuhkan ruh cerita novel Shin Suikoden karya Eiji Yoshikawa yang mengisahkan kepahlawanan 108 pendekar --yang di mata rakyat disebut-sebut pahlawan tetapi di mata penguasa disebut bandit-- untuk melakukan pemberontakan melawan "kebengisan pemerintah Dinasti Song. Cerita ini sebenarnya adalah penuturan ulang Eiji Yoshikawa terhadap kisah klasik China Suikoden (Batas Air). Tetapi, Yoshikawa mampu menorehkan tinta dengan gemulai. Tak pelak, kisah ini pun menjadi kisah yang populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan Yang Terlukai&lt;br /&gt;Di masa pemerintahan kaisar Jin Sou (keturunan keempat dinasti Sou), wabah penyakit merebak dan rakyat terlilit kematian. Tidak ingin rakyat dekat dengan maut, sang kaisar memerintahkan Jenderal Kou menemui pendeta Kyo Sei di kuil Jou Sei. Tetapi, sang pendeta tahu lebih dulu sehingga ia secepat kilat memenuhi panggilan kaisar. Jadinya, Jenderal Kou tak berhasil menemui sang pendeta -meskipun misi itu telah ditunaikan pendeta. Jenderal Kou pun tidak buru-buru kembali ke istana. Sewaktu dia minta diantar melihat keadaan kuil, ada satu ruangan yang menarik rasa keingintahuannya. Sebab di pintu ruangan itu ia melihat jelas tulisan "Ruang Pengekangan Iblis". Sebenarnya, itu ruang rahasia --tidak seorang pun diizinkan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jenderal Kou memaksa untuk membuka ruangan tersebut. Karena, baginya, cerita sekelompok iblis yang dirantai itu kisah konyol. Pengurus kuil tidak kuasa menolak permintaan jenderal Kou. Ruangan itu pun dibuka dan kemudian terjadi sesuatu yang tidak terduga: 108 bintang jahat terlepas dari kekangan turun ke dunia manusia --satu demi satu bintang-bintang itu pun menjelma manusia dan membetuk benteng Ryou Zan Paku, yang di kemudian hari menjadi tempat berkumpulnya 108 jawara yang hampir menghancurkan Dinasti Sou. (hal. 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, saat tapuk kekuasaan dipegang oleh Kaisar Ki Sou (kaisar kedelapan Dinasti Sou), 108 bintang jahat itu seperti menemukan tempat berpijak. Apalagi Kaisar Ki Sou tidak menopang keberuntungan menjadi pangeran itu berpihak kepadanya dengan mendasarkan pada geniusan berpikir dan kemampuan mengelola pemerintahan. Kecintaan yang dalam pada seni dan kemegahan istana, membuat ia lengah serta abai pada rakyat. Pajak dipungut dengan tinggi yang mengakibatkan rakyat seperti dicekik. Di sisi lain, elit pemerintahan di sekeliling bertindak jahat dan semena-mena. Keberuntungan yang digenggang itu telah dilukai. Tak pelak, jika kemudian menimbulkan 108 jawara melawan kekuasaan sang kaisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para jawara penjelmaan "108 iblis jahat" itu pun kemudian digerakkan semangat untuk melawan dan satu demi satu kemudian bertemu di benteng Ryou Zan Paku. Beberapa dari jawara yang budiman itu tidak lain Shi Shin yang dikenal dengan nama si naga sembilan, Ro Chi Shin yang dijuluki si Pendeta Bunga, yang dulunya pernah menjadi polisi militer dan Cendekiawan Go --seorang guru cerdik, bijak bahkan memiliki ketajaman akal dalam membuat stategis. Berkat kecerdikannya, hadiah (ulang tahun) dari panglima Ryou Chu Sho yang hendak diberikan kepada perdana mentari Sai Kei berhasil dirampas dengan gampang. Dari situlah, Cendekiawan Go bersama komplotannya lalu berlari ke  Ryou Zan Paku, tidak lain untuk melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumit dan Berliku&lt;br /&gt;Kisah dalam novel ini, tak dapat dimungkiri dibangun dengan setumpuk tokoh dan alur cerita yang cukup panjang dan berbelit. Tak salah, jika satu tokoh dengan tokoh lain yang lain --tidak saling terkait karena memang latar belakang sebagian besar tokoh dalam cerita ini lahir di daerah tertentu dan klan yang beragam. Ujungnya, dalam setiap bab seolah cerita ini tidak memiliki benang merah dan nyaris tidak memiliki kaitan antara satu bab dengan bab lain, bahkan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Maklum, cerita novel ini cukup panjang melibatkan banyak tokoh, dan itu yang membutuhkan pembaca harus kejelian dan butuh daya ingat untuk mengenali tokoh-tokoh dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mendekati akhir kisah, sebagian tokoh bertemu dan menguatkan sebuah spirit perlawanan yang berujung pada berkumpulnya para jawara itu ke Ryou Zan Paku. Kendati demikian, novel ini -yang secara keseluruhan ada 4 jilid-- tidak bisa berdiri sendiri. Dengan kata lain, novel ini     menyisakan sekelumit cerita yang belum selesai, karena tidak dapat dikatakan sebagai sepanggal kisah yang bisa dipahami dengan jelas atau berdiri sendiri. Novel ini tidak bisa dipahami jika tidak digabungkan dengan jilid lain atau selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tidak dapat ditepis bahwa di tangan Eiji Yoshikawa, novel ini menjadi enak dibaca, mengalir dan renyah. Itu tidak lain karena sang pengarang menulis kisah ini dengan menumbuhkan minat pada sejarah ditopang dengan gaya penulisan yang populer, dan bahasa sederhana. Meski tak dimungkiri, banyak novelnya yang bernuansa sejarah selalu disesaki dengan setumpuk tokoh sehingga cerita pun menjadi berliku. Itu salah satu kehebatan Yoshikawa. Maka, jika ada yang patut diajungi jempol dari kerja keras Eiji Yoshikawa satu satunya adalah cara dia menumbuhkan minat baca dengan mengenalkan sejarah dalam bentuk novel. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6225729212003305009?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6225729212003305009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6225729212003305009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6225729212003305009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6225729212003305009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/08/arogansi-penguasa-dan-spirit-pemberotak.html' title='Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberotak'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vfALWzMd5es/Tl22Fydc3wI/AAAAAAAACH0/T72BG8cj8fY/s72-c/Suikoden.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-1800208451355026919</id><published>2011-07-10T07:11:00.002+07:00</published><updated>2011-08-07T01:41:23.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai sastra'/><title type='text'>Rekonsiliasi Konflik lewat Sastra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-eK1MU64cN3Q/TjyHPqEYzSI/AAAAAAAACHc/zSyqLjeebYA/s1600/ridwan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 144px; height: 190px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eK1MU64cN3Q/TjyHPqEYzSI/AAAAAAAACHc/zSyqLjeebYA/s200/ridwan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637529536621497634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Esai ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(204, 0, 0);" href="http://lampungpost.com/apresiasi/2748-rekonsiliasi-konflik-lewat-sastra.html"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;, Minggu 10 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PASCAPECAH konflik Sambas 1999, berbagai upaya membangun konstelasi rekonsiliasi bisa dikatakan belum berjalan baik. Hubungan sosial kelompok antaretnis yang pernah bersitegang (Madura-Melayu) masih meninggalkan segregasi kuat untuk saling curiga, khawatir, bahkan diliputi kebencian. Warga Madura hingga kini masih tidak bisa kembali ke Bumi Sambas. Rekonsiliasi seperti berhadapan dengan jurang kebekuan. Dengan kondisi memprihatinkan itu, berbagai program digagas dan dicanangkan untuk membuka ruang pertikaian itu mencair kembali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari berbagai program kegiatan yang coba ditawarkan itu, belum pernah melibatkan media sastra untuk dijadikan alternatif atau terobosan. Padahal, sastra tidak bisa disangkal memiliki peranan dalam setiap perubahan sosial pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra berperan tak hanya sebagai refleksi, tapi sekaligus refraksi atas totalitas peristiwa sejarah dari perjalanan suatu bangsa. Dengan peran sastra sebagai ruang refleksi itu, sastra bisa memberi sumbangan pada proses transformasi: menanamkan kesadaran yang ujungnya berpotensi menjadi amunisi untuk jembaran rekonsiliasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra dan Misi Perdamaian&lt;br /&gt;Misi yang diemban pengarang melalui sastra itulah yang mendorong Sashi Tharoor—sastrawan India yang mengemban misi perdamaian PBB—tak ragu merangkul atau melibatkan sastra dibanding dengan melibatkan peran agama dan sains ilmiah demi menciptakan perdamaian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena—di mata Sashi Tharoor—sastra mampu melengkapi apa yang "hilang atau sengaja dihilangkan" dari agama dan sains. Itu tidak lain karena agama pada satu sisi justru bisa memunculkan konflik, sementara sains—tidak jarang—membuka ruang kosong yang mengurung manusia dalam ruang kehampaan jiwa dan spiritualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah, kalau tak sedikit pengarang melahirkan karya sastra untuk mengetuk nurani dan kesadaran umat manusia demi menciptakan perdamaian. Dr. Ang Swee Chai, seorang dokter yang pernah terlibat dalam kamp pengungsian Palestina, melalui buku From Beirut to Jerussalem mengungkapkan kesaksian terhadap pembantaian warga Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ia berdarah Yahudi dan beragama Kristen. Namun, kesaksian yang diberikan mampu mengetuk hati nurani dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra lain yang mengembuskan semangat misi perdamaian dan mengutuk pertikaian itu juga didengungkan Tolstoy melalui novel War and Peace. Dengan karya itu, Tolstoy yang ikut terlibat perang dan menjadi saksi sejarah tak saja mengutuk perang, tetapi juga mengharapkan pintu perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Tolstoy itu juga diemban Mary Shelley, Wordsworth. Konon, karya-karya sastra itu mampu memberi suntikan dan semangat hidup bagi korban perang untuk bisa menatap kembali masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam deretan sastrawan dalam negeri, dapat disebutkan nama seperti W.S. Rendra, Seno Gumira Adjidarma, Pramoedya Ananta Toer, dan beberapa sastrawan lain lagi. W.S. Rendra lewat puisi Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang (1960), menggambarkan duka lara akibat perang. Seno, lewat buku kumpulan cerpen Saksi Mata, merekam kejahatan-kejahatan yang dilakukan TNI terhadap masyarakat Timur Leste pada masa transisi Timor Timur menjadi Timur Leste.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dengan tegas, Seno—lewat kumpulan esai—mengatakan "Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara". Adapun Pramoedya mengisahkan banyak cerita tentang perang dan penjajahan. Dengan tema itu, ia ingin mengusung pesan perdamaian lewat karya yang ia tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pijar Kedalaman Empati&lt;br /&gt;Karya sastra yang mengisahkan tema perang dan kejahatan—konflik dan tragedi pembantaian— haruslah diakui bukan hasil liputan di permukaan belaka atas peristiwa perang atau segala bentuk kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra yang mengibarkan bendera perdamaian dari cerita perang adalah pijar kedalaman empati tentang kehancuran tubuh, ceceran darah, rasa empati demi orang-orang yang kehilangan anggota keluarga (seperti anak, istri, orang tua), bahkan pantulan dari renik psikologis manusia dalam situasi konflik yang dapat menumbuhkan makna baru: memperkaya pemahaman atas kenyataan, berdasarkan sudut pandang, visi, perspektif, dan kesadaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak ada salahnya menjadikan terobosan terkait dengan apa yang dikatakan Friedrich Schiller (1993). Schiller berpendapat sastra itu memiliki peran dan fungsi yang sungguh menakjubkan. Sastra bisa tampil sebagai permainan penyeimbang bagi tatanan mental manusia terkait dengan adanya energi yang butuh diekspresikan. Energi itulah kemudian mendorong manusia untuk kreatif, mermiliki kepekaan dan human of interest terhadap sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun harus diakui bahwa tidak semua karya sastra mengembuskan pesan dan misi perdamaian, karya-karya sastra yang digali dan terinspirasi dari kedalaman sukma untuk kemudian merefleksikan konflik, perang, dan penjajahan dapat menjadi "warta perdamaian dan kebenaran". Ia mengusung pesan agung mengutuk perang, dan mengharapkan tatanan baru yang harmonis antarkehidupan umat manusia, di mana pun bahkan sampai kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penjelasan di atas, tak ada salahnya jika progam kegiatan rekonsiliasi untuk perdamaian Sambas pascakonflik 1999 dicanangkan atau digagas dengan melibatkan media sastra sebagai sebuah terobosan—atau alternatif. Upaya itu tentu tidak saja demi mengenang atau sekadar ajang romantisme konflik pada masa lalu, tetapi lebih menekankan pada setiap pihak atau kelompok antaretnis untuk melakukan refleksi sekaligus refraksi atas peristiwa berdarah tersebut. Dengan demikian, akan bisa muncul kesadaran baru demi mencapai rekonsiliasi pascakonflik yang sampai sekarang mengalami kebekuan hingga akhirnya lahir perdamaian bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N. Mursidi, aktivis Yayasan Anak Layang-Layang, Kini sedang melakukan riset perdamaian pascakonflik Sambas 1999 untuk novel "Anak 7 Pulau"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-1800208451355026919?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/1800208451355026919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=1800208451355026919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1800208451355026919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1800208451355026919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/07/rekonsiliasi-konflik-lewat-sastra.html' title='Rekonsiliasi Konflik lewat Sastra'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-eK1MU64cN3Q/TjyHPqEYzSI/AAAAAAAACHc/zSyqLjeebYA/s72-c/ridwan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-388658810075718076</id><published>2011-07-09T14:07:00.004+07:00</published><updated>2011-07-10T19:57:42.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Islamisasi Digital</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gsdQA1zV4VE/ThgA3aohqAI/AAAAAAAACHE/5yQUVqvwnLM/s1600/HP.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 118px; height: 178px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gsdQA1zV4VE/ThgA3aohqAI/AAAAAAAACHE/5yQUVqvwnLM/s200/HP.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627248686441539586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Opini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=282376"&gt;Suara Karya&lt;/a&gt;, Jum`at 8 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Lima belas abad yang lalu, Rasulullah saw. pernah memprediksi, bahwa di akhir zaman nanti akan terjadi berbagai peristiwa dan kejadian yang belum pernah dialami pada masa beliau hidup. Rupanya, apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu tidak meleset. Kini, kita dapat menemukan kebenaran dari apa yang dikatakan Rasulullah itu di tengah perubahan zaman yang terjadi sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Islam memang tak berubah dan zamanlah yang mengalami perubahan. Dengan kata lain, Islam tidak akan pernah tergerus zaman. Toh, kemudian ada perubahan, itu sebenarnya terjadi di tingkat keberagamaan umat sebagai akibat dari perkembangan serta kemajuan teknologi. Salah satu contoh, belakangan ini, kita dapat menyaksikan fenomena religiositas yang hadir dalam wajah bahkan bentuk yang baru atau lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dahulu, umat Islam butuh siraman rohani harus dengan susah payah mendatangi majelis taklim atau tempat pengajian, rupanya peristiwa itu kini dapat ditemui dalam "bentuk baru". Sebab orang bisa saja duduk di depan komputer dan tinggal mengakses internet untuk belajar agama Islam. Layanan bagi umat yang “ingin tahu” tentang Islam, sekarang dirancang dan disetting secara modern sebagai layanan dakwah yang bisa diakses dari website, homepage atau situs-situs Islam. Tidak cuma itu, sekarang ini sudah hadir sebuah layanan agama atau informasi ruhani secara seluler yang bisa diakses lewat hp. Maka, lahirlah "seperangkat layanan Islami" seperti Al-Qur`an seluler, SMS Paket Doa, SMS Paket Hadis, MMS Risalah Doa dan sejenisnya. Itu sebagian contoh dari layanan agama yang awalnya dimotori oleh seorang muallaf bernama Craig Abrurrahim Owensby sebagai penggagas Al-Qur`an Seluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menampilkan Islam Secara Populer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi Craig Abrurrahim Owensby, konsep "Al-Qur`an Seluler" merupakan sebuah konsep tentang bagaimana orang dapat belajar tentang Al-Qur`an dengan cara mudah dan menarik. Ide ini muncul dari keinginan Craig untuk berdakwah dan memperkenalkan Al-Quran kepada umat Islam secara massal.  Layanan Al-Qur`an Seluler, intinya memperdengarkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur`an disertai kupasan hikmahnya secara singkat selama 6 menit. Urutannya berupa pembacaan tiga atau lebih ayat suci Al-Qur`an selama 1 -2 menit, kemudian disusul dengan pembacaan hikmah ayat termaksud selama 2-3 menit kemudian ditutup dengan pembacaan Muratal -pembacaan ayat dalam bacaan asli Al-Qur`an- selama 2 menit. Dengan demikian, layanan setiapkali akses akan berlangsung sekitar enam menit. Bahkan, sekarang pelanggan bisa mengakses nasyid, seperti dari Aa Gym, Debu, dan MQ Voice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keberadaan layanan dan informasi ruhani seperti itu, setidaknya ada satu keinginan kuat dari mereka untuk menampilkan Islam dengan cara populer, sehingga baik sebagai ajaran maupun sebagai komunitas, Islam dapat "diterima" oleh semua kalangan (umat)-–terutama bagi kalangan atas yang disibukkan dengan dunia kerja dan tak ada waktu untuk belajar Islam. Padahal, ghirrah untuk belajar Islam itu ada dan cukup kuat di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fenomena di atas, setidaknya ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, Islam adalah agama yang bisa menyesuaikan zaman dan bukan merupakan agama di masa lalu yang hanya dipeluk oleh orang-orang terdahulu saja. Buktinya, dengan perkembangan zaman di tengah arus globalisasi, Islam dalam bentuk dan wajah yang sekarang ini dapat diharapkan diterima oleh semua kalangan dan lapisan. Terlepas dari unsur bisnis ataupun komersialisasi agama, setidaknya kecanggihan teknologi itu tidak semata-mata berdimensi negatif sebagaimana selama ini ditakutkan oleh sebagian umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, fenemona di atas itu -diakui atau tidak- merupakan lahirnya semangat dari sebagian umat terutama kalangan atas untuk belajar Islam dengan cara mudah tanpa perlu merasa takut, atau malu lagi. Sebab dengan layanan yang disediakan AQS, misalnya, itu akan menjadi satu alternatif lain untuk memperkenalkan keindahan Al-Qur`an kepada masyarakat, khususnya di saat orang terlalu sibuk untuk membaca dan mempelajari Al-Qur`an secara khusus dengan mendatangi majlis-majlis taklim dan tempat pengajian (masal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hadir dalam Bentuk Tanda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Media dakwah, layanan agama dan informasi ruhani dari media digital, internet dan seluler itu memang membawa nilai plus. Karena, hal itu memberikan kemudahahn bagi mereka -–sebagian umat Islam—- untuk belajar agama maupun mempertebal iman. Kendati demikian, tentunya ada sisi lain yang terkesampingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, keberagamaan umat Islam akibat kecanggihan teknologi itu telah melahirkan bentuk spiritualitas digital atau seluler. Dengan kata lain, agama hadir dalam bentuk "tanda-tanda" atau simbol-simbol. Tak salah, kalau kemudian meneguhkan pola hidup eksklusif keberagamaan dari sebagian umat Islam sebagai akibat moderniasasi --di mana bentuk individualisme menjadi satu hal yang tidak dapat dimungkiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, model pembelajaran Islam lewat media digital dan seluler itu setidaknya telah menjadi alternatif, meski tak lantas membuat umat jauh dari majelis taklim atau tempat pengajian. Sebab cara belajar klasik mendatangi kiai atau ustadz, tidak dinafikan menjadi "pembelajaran" yang paling efektif. Sebab, belajar agama tidak dapat ditempuh dalam hitungan hari, melainkan sejak lahir sampai meninggal. Jika demikian yang terjadi, maka pembelajaran agama (baca: Islam) dalam bentuk seperti itu akan melahirkan insan muslim yang bisa diibaratkan pemetik buah dari pohon agama dengan jalan pintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, bahwa layanan agama atau informasi ruhani itu memang dapat menjangkau kalangan tertentu yang semula tidak mengenal Islam atau belum paham Islam secara mendalam. Dengan demikian, tentunya fasilitas dan kemudahan itu bisa menjadi pintu masuk seseorang untuk merengkuh Islam secara kaffah, tentunya setelah melalui rentang waktu yang lama dan panjang. Kalau itu yang dimaksud, maka dampak Islamisasi seluler (digital) adalah sesuatu terobasan yang tidak bisa ditolak apalagi dikecam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*) N. Mursidi&lt;/span&gt;, alumnus Aqidah-Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-388658810075718076?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/388658810075718076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=388658810075718076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/388658810075718076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/388658810075718076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/07/islamisasi-digital.html' title='Islamisasi Digital'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gsdQA1zV4VE/ThgA3aohqAI/AAAAAAAACHE/5yQUVqvwnLM/s72-c/HP.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6672733247721889611</id><published>2011-03-14T09:25:00.010+07:00</published><updated>2011-07-09T23:42:22.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><title type='text'>Mursidi, Loper Koran yang 'Terjebak' di Dunia Menulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-KKGVWLG-WXE/TX19WSPpLdI/AAAAAAAACDw/JLvc9L9Pvbk/s1600/pembicara%2Bibf.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 206px; height: 158px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-KKGVWLG-WXE/TX19WSPpLdI/AAAAAAAACDw/JLvc9L9Pvbk/s200/pembicara%2Bibf.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5583756934817328594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tulisan ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://tnol.co.id/id/special-guest/8595-mursidi-loper-koran-yang-terjebak-di-dunia-menulis.html"&gt;tnol.co.id&lt;/a&gt; Minggu, 13 Maret 2011&lt;br /&gt;oleh: &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Safari Sidakaton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nama Nur Mursidi (36 tahun) mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda yang gemar membaca resensi buku di berbagai media nasional. Hampir sebelas tahun lelaki kelahiran Rembang, 30 Maret 1975 ini kerap menulis resensi buku dalam berbagai tema yang dimuat di media nasional. Seperti, Kompas, The Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Majalah Gatra, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia dan masih banyak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sebelumnya lelaki yang akrab disapa Mursid ini adalah seorang penjual koran alias loper koran di sekitar Terminal Umbulharjo Yogyakarta. Mursid mulai terpacu untuk membaca ketika mendapati tukang becak yang membeli korannya membaca berita koran dengan tekun. Ditambah saat membaca ada mahasiswa yang tulisannya berhasil dimuat di Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas Hasrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa, otak saya serasa mendidih. Ada sekelebat mimpi di dada untuk bisa menulis dan menorehkan nama saya di koran. Dalam hati, saya berjanji suatu saat nanti harus bisa menulis di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak itu aku pun mulai rajin membaca koran dan mempelajari tulisan yang dimuat di koran secara otodidak,” kenang Mursid yang saat itu tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Akidah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mursid mulai belajar menulis pada malam hari dan mengirimkannya ke sejumlah koran . Tapi, jalan yang dilalui tidaklah mulus karena  semua tulisannya ditolak oleh redaktur media tersebut. Namun, hal tersebut tidak membuatnya patah arang. Dengan usaha keras, ditunjang kesabaran dan mental yang kuat ia tetap mengirimkan tulisannya ke berbagai media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjuang dengan keras, satu persatu, tulisannya dimuat di koran lokal hingga kemudian menembus koran nasional. Karena kepiawainnya menulis berbagai resensi buku, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini kerap menjadi pembicara dalam diskusi seputar dunia kepenulisan. Dan, TNOL berkesempatan menemui lelaki berpenampilan sederhana dengan rambut ikal agak gondrong ini saat menjadi pembicara dalam diskusi di ajang Islamic Book Fair Senayan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menjadi pembicara ia menuturkan kepada TNOL, menulis resensi buku adalah langkah untuk mengikat makna agar buku yang pernah dibaca itu tidak lupa. Tapi, kalau lupa maka tidak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir melainkan tinggal membaca resensi yang telah ditulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, agar makna atau pemahaman kita atas sebuah buku itu tetap teringat dan terjaga, setelah membaca sebuah buku selayaknya menulis resensi (atau minimal membuat sinopsis). Itu langkah yang baik,” kata lelaki ini memberi alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mursidi, yang juga berprofesi sebagai wartawan di majalah Hidayah ini mengatakan,  modal utama dalam meresensi buku adalah paham (berusaha mendekati maksud yang dikehendaki penulis buku) tentang “sebuah buku yang hendak diresensi”. Jika modal utama itu sudah digenggaman otak, maka menulis resensi tidak lagi sesuatu yang sulit. Karena hal-hal yang lain, seperti teknik menulis resensi, memilih jenis buku, dan unsur-unsur yang harus dikuasai dalam menulis resensi bisa mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Mursid mengatakan, bagi yang tidak mempunyai uang untuk membeli buku juga bukan berarti jalan untuk bisa meresensi buku kemudian tertutup rapat-rapat. Karena saat awal-awal menulis resensi buku, ia juga kerap meminjam buku dari teman jika memang tidak punya uang untuk beli buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah saya intens menulis resensi buku dan mulai kenal akrab dengan bagian promosi beberapa penerbit buku, saya tidak segan meminta buku untuk dikirimi. Apalagi sebagian besar penerbit juga menganjurkan kepada saya untuk memintanya jika ada buku yang saya kehendaki,” jelas lelaki yang pernah kuliah di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit tidak akan keberatan mengirim bukunya mengingat permintaan buku oleh peresensi bisa dikata sebanding lurus dengan promosi sebuah buku. Di sini, ada timbal balik antara penerbit dan peresensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis resensi buku, sambung Mursid, mudah atau susah itu tergantung dari kemauan atau ketekunan seseorang. Setiap ada kemauan, pastilah ada jalan. Jadi kalau ingin menulis resensi buku dan serius maka menulis resensi itu akan jadi mudah. Tapi sebaliknya, bagi orang yang malas dan mudah menyerah bahkan tak mau belajar maka menulis resensi buku itu akan menjadi sesuatu yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kunci utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa maksimal meresensi buku, kunci utama adalah memahami isi buku. Karena itu, dibutuhkan pembacaan yang detail (menyeluruh) agar nanti dapat meresensi dengan bagus. Bisa saja, membaca buku dengan cara membaca sekilas, tapi hasil resensinya tidak akan bisa maksimal. Ada “celah dan lubang” yang tidak bisa diungkap karena membaca buku yang diresensi dengan tidak detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa unsur dalam meresensi, pertama, judul buku. Dalam membuat judul, usahakan yang menarik dan mewakili isi tulisan resensi. Kedua, data buku; meliputi judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, cetakan, tebal buku dan harga buku.  Ketiga, pengantar atau pembuka resensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuka inilah yang cukup memiliki kekuatan muat, karena dengan pembuka yang memikat bisa dipastikan redaktur akan terpikat setidaknya untuk pertama kali membaca sebuah resensi. Keempat, mengungkap isi buku; lebih jauh lagi jika kemudian dijelaskan dengan mengikutkan “teori” yang bisa menjelaskan buku itu dengan analisis yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kritik peresensi atas buku itu (mengungkapkan kelebihan dan kekurangan buku, tema yang diangkat, teknis penulisan dan lain). Keenam, penutup; mengungkap kontektualitas buku dikaitkan dengan kondisi kekinian, untuk siapa buku itu ditulis dan bisa ditambah lain lagi ulasan khusus tentang buku tersebut secara spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh peresensi agar resensi yang ditulis itu bisa dimuat. Pertama, adalah pilihan buku yang diresensi. Kedua, adalah siapa penulis buku itu. Karena penulis yang terkenal bisa dipastikan memiliki nilai muat yang tinggi. Ketiga adalah mengetahui kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur sebuah media yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ketiga faktor tersebut diperhatikan, maka peresensi tidak akan mengalami kesusahan untuk menembus atau bisa dimuat di media. Memang, kedekatan peresensi dengan redaktur itu bisa sedikit banyak membantu, tetapi hal itu bukanlah segalanya,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak keuntungan dalam meresensi buku. Pertama bisa belajar (dari membaca semua jenis buku), mendapat honor, mendapat buku gratis (secara berkala), dan di belakang hari akan menemukan bahwa menulis – entah itu resensi buku atau menulis genre lain adalah sebuah pertarungan, pergulatan hidup dan sekaligus menemukan jati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun satu kerugian dalam meresensi buku yang pada ujungnya menjadikan kecanduan. Saya seperti terjebak pada genangan lumpur dan anehnya saya susah meloloskan diri,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah sebelas tahun lebih Mursid menjadi penulis freelance di sejumlah koran lokal dan nasional: menulis resensi buku, opini, esai sastra, esai film dan cerita pendek. Tidak kurang ada sekitar 300 tulisan resensi yang sudah dimuat di koran lokal dan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua prestasi itu seperti sebuah mimpi. Pasalnya, sejarah hidupku nyaris selalu diliputi rentetan kegagalan,” tandasnya.(Subhan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6672733247721889611?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6672733247721889611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6672733247721889611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6672733247721889611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6672733247721889611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/03/mursidi-loper-koran-yang-terjebak-di.html' title='Mursidi, Loper Koran yang &apos;Terjebak&apos; di Dunia Menulis'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-KKGVWLG-WXE/TX19WSPpLdI/AAAAAAAACDw/JLvc9L9Pvbk/s72-c/pembicara%2Bibf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3046724755355723961</id><published>2011-03-08T11:21:00.006+07:00</published><updated>2011-09-17T18:29:40.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='di balik proses kreatif'/><title type='text'>Tidur Berbantal Buku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-zsdqbfSgfIw/TXWzdoX6c0I/AAAAAAAACDI/iCWSIjTlfJ8/s1600/tdr%2Bberbantal%2Bbuku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 179px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-zsdqbfSgfIw/TXWzdoX6c0I/AAAAAAAACDI/iCWSIjTlfJ8/s200/tdr%2Bberbantal%2Bbuku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581564634830893890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lahir sebagai anak dari keluarga pedagang (kaki lima), buku merupakan barang langka yang nyaris tak mendapatkan tempat istimewa di rumah kami. Hampir setiap sudut rumah kami, sejauh mata memandang, dipenuhi tumpukan barang dagangan; baju, seragam sekolah, dan kaos.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada rak buku. Tak ada tumpukan buku. Tidak ada koran harian yang diantar tukang loper koran ke rumah kami. Tetapi, kontras dengan pemandangan itu, di salah satu sudut rumah kami, ironisnya ada setumpuk koran bekas. Setumpuk koran itulah yang membuat kami --kakakku, aku dan adikku-- memiliki hiburan. Tak jarang, setelah ayah membeli berkilo-kilo koran bekas, kami rebutan menggunting koran bekas tersebut untuk kami jadikan sebagai kliping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setumpuk koran bekas itu, memang dibeli oleh ayah untuk membungkus barang dagangan. Tetapi kami memanfaatkannya dengan cara lain. Meski hanya setumpuk koran bekas, tetap tidak menghalangi kami untuk membacanya. Praktis, dari setumpuk koran bekas itulah, kami bisa mengintip bahkan mengenal dunia. Karena untuk menunjang sekolah -terus terang-, kami hanya dibekali ayah dengan dua sampai tiga buku pelajaran. Buku-buku pelajaran itu pun nyaris tidak pernah kami keluarkan bahkan selalu tersimpan rapi di dalam tas (kami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan menyedihkan itu, ironisnya berlangsung hingga aku lulus SMA. Tidak betah tinggal di rumah --setelah lulus SMA-- akhirnya aku melanglang buana ke Yogyakarta. Tidak ada niat untuk kuliah, kecuali hanya sekedar lari dari rumah untuk mencari pekerjaan. Tetapi kota Yogja ternyata mampu menghipnotis-ku. Tanpa pikir panjang lagi, aku memutuskan untuk kuliah setelah eksotisme kota Gudeg tersebut membuatku betah. Tak pernah kusangka, keputusan itu kemudian menjerumuskanku bisa mencintai buku (padahal aku lahir dari keluarga yang nyaris tak mengajarkan kami semua untuk dekat atau mencintai buku), bahkan mengantarkanku untuk menjadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Jadi Peresensi&lt;br /&gt;Perkenalanku dengan buku, diawali dengan serentetan kisah-kisah unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak pertama aku tinggal di rumah tua yang aku kontrak bersama teman-teman di daaerah Krapyak, Yogyakarta. Setelah kami membayar uang kontrakan, ternyata kami mendapat kabar jika rumah itu tergolong angker. Aku yang memiliki jiwa usil, seketika itu dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Maka, tepat hari pertama aku tinggal, aku langsung menelisik semua bagian rumah tersebut dan saat aku temukan sebuah bangunan kamar di belakang rumah, aku pun ditikam penasaran. Aku pun mengintip ke dalam kamar itu lewat lubang kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuduga sebelumnya, ternyata di dalam kamar itu tersimpan bertumpuk-tumpuk buku. Tidak sabar lagi, aku pun mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintunya, aku lalu menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak sia-sia di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang kuraih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, aku yang waktu itu belum pernah membaca buku --maksudku; selain buku pelajaran sekolah-- langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Terus terang, novel itu pula yang telah membuka mataku untuk mengenal sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku bisa terjerat dan tertarik dengan buku-buku sastra --terutama novel-- daripada buku-buku bertema lain? Pertama, buku sastra, terlebih novel tatkala dibaca melibatkan emosi atau perasaan pembaca. Tak mustahil, jika buku sastra (baca: novel) bisa mengaduk perasaan pembaca dan bahkan bisa membuatnya menitikkan air mata, karena hanyut kisah tragis yang dirangkai oleh sang pengarang. Karena itu, tak jarang ada cerita dari seorang pembaca berubah setelah membaca novel lantaran dia mendapatkan spirit yang dibangun dari konflik yang diracik oleh sang pengarang. Juga berkat selarik pesan yang dihembuskan sebuah novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari konteks inilah, wajar kalau tidak sedikit para pembaca novel seperti Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi merasa tercerahkan. Kendati demikian, tak sedikit juga novel yang mencemaskan, membahayakan dan mencelakakan --sampai-sampai dilarang terbit, disweeping bahkan dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, buku-buku sastra khususnya novel ditulis sang pengarang dengan kekuatan imajinasi. Sementara imajinasi itu, bisa melambungkan seseorang meraih cita-cita, mewujudkan impian pembaca yang nyaris tidak mungkin terwujudkan. Tak salah, jika Albert Einstein pernah berkata, "Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan." Apa yang dikatakan Eintein itu, memang tidak salah. Dari sebuah imajinasi, novel lahir. Dari sebuah imajinasi, sebuah teori kemudian bergulir. Dari sebuah imajinasi, apa pun yang kita inginkan bisa menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perjumpanku dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, aku diam-diam sering kali bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis kubaca, aku pun kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang aku baca, menjadikanku disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya aku kuliah, dan tidak sengaja bertemu Arief Syarwani --temanku sekampus-- yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mataku seperti berbinar. Aku pun langsung meminjamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika ini bukuku, pasti aku tidak keberatan meminjamkannya padamu. Tetapi, buku ini juga aku pinjam dari seorang teman dan aku telah berjanji untuk meresensinya di media massa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang waktu itu masih awam dengan dunia tulis-menulis, jelas tak paham apa itu resensi buku. Maka aku dengan lugunya segera mencercanya dengan setumpuk pertanyaan untuk menjelaskan apa itu resensi buku, bagaimana cara membuat resensi buku dan kemudian mengirimkannya ke media massa. Di hadapan temanku itu, aku seperti orang dungu. Orang dari kampung yang tidak tahu peta buku dan seluk-beluk menulis. Untung, dia mau menjelaskan dengan gamblang dan tidak segan-segan memberikan saran jika aku berminat mau menulis resensi buku dan mengirim ke media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaran ingin mencoba, membuatku kehilangan harga diri. Maka, dengan "memaksa" aku minta dia tidak keberatan merelakan buku itu aku bawa pulang, "Bagaimana kalau aku yang meresensi buku itu lebih dulu. Aku berjanji, dua hari lagi buku itu aku kembalikan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kejatuhan durian, aku hanya terpana saat dia mengulurkan novel itu untuk aku bawa pulang. Maka semalam suntuk, aku melahap buku itu. Esoknya, aku pun resensinya. Sebagaimana saran yang ia berikan, aku lalu mengirim resensi itu ke harian Kedaulatan Rakyat. Dua minggu kemudian, keberuntungan itu tiba; resensiku dimuat. Seketika itu, aku bangga. Karena, sebelumnya aku telah berkali-kali menulis cerpen. Tragisnya, tak ada satu pun yang dimuat. Jadi, tulisan resensi itu adalah tulisan pertamaku yang dimuat di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, tulisan pertama-ku itu merupakan jalan lempang bagiku untuk menjadi peresensi. Setelah itu, resensiku sering dimuat di media massa. Akhirnya, setelah bertahun-tahun aku menulis resensi buku, aku pun mendapatkan keuntungan. Setidaknya, ada tiga keuntungan yang didapat dari meresensi buku. Pertama, mendapatkan honor dari media massa bersangkutan. Kedua, mendapatkan buku (kiriman gratis) dari penerbit, dan tidak jarang masih ditambahi dengan bonus berupa uang sebagai tanda terima kasih. Ketiga, dengan menulis resensi, pembaca bisa belajar tak sekadar jadi pembaca pasif, melainkan bisa mengungkapkan apa yang telah dibaca, mengkritisi, dan bahkan membantah buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur Berbantal Buku&lt;br /&gt;Seiring dengan perjalanan waktu, setelah aku menulis sejumlah resensi buku, terus terang, berkah paling menyenangkan adalah datangnya buku-buku baru yang dialamatkan ke tempat tinggalku. Wajar, ketika aku masih tinggal di Yogja, kamar kost-ku sudah dipenuhi dengan buku-buku kiriman dari penerbit. Ada beberapa buku yang dikirim sebagai hadiah setelah aku meresensi buku. Ada juga beberapa buku yang aku dapatkan dari penerbit, tetapi tidak sebagai bonus resensi melainkan lebih pada jalinan kerjasama timbal-balik. Artinya, aku dikirimi buku itu dengan catatan nanti diminta untuk mempublikasikan ke media dalam bentuk resensi buku. Di samping itu, ada juga buku-buku yang aku dapatkan dari beberapa teman yang kebetulan jadi penulis, atau bekerja di salah satu penerbit sebagai editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan datangnya buku-buku gratis kiriman dari penerbit itu, tak mustahil kamarku banjir buku. Jika dahulu rumahku dipenuhi dengan barang dagangan, dan sepanjang mata memandang nyaris dipenuhi baju, seragam sekolah, kaos dan sejumlah pakaian, pemandangan itu telah berubah seratus delapan puluh derajat dan nyaris bertolak belakang. Sejak masih tinggal di kota Gudeg, hampir di setiap sudut kamarku nyaris dipenuhi dengan buku. Maklum, selain sering mendapatkan buku kiriman gratis dari penerbit, tak jarang aku membeli beberapa buku setelah mendapat honor dari menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertumpuknya buku di kamarku, aku pernah memiliki kebiasaan unik. Hal itu bermula saat aku masih tinggal di Yogja dan bisa disebut keranjingan menulis resensi buku. Tuntutan untuk membaca serius sebelum meresensi buku, membuatku kerapkali harus tidur sampai larut malam. Tetapi ketika mataku sudah disergap rasa kantuk, tiba-tiba setumpuk buku yang ada di sampingku kemudian tak sengaja kujadikan sebagai bantal. Setelah bangun, aku baru tersadar kalau semalaman aku tidur berbantalkan setumpuk buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski setelah bangun dari tidur leherku seperti terkilir, anehnya kebiasaan itu tak dapat aku hilangkan. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu dan aku sudah pindah ke Jakarta, memiliki pekerjaan tetap, bahkan sudah bisa membeli bantal, uniknya kebiasaan itu masih kerap terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang aku lakukan itu dapat dikatakan sebagai penghinaan terhadap buku lantaran aku menjadikannya sebagai bantal untuk tidurku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, aku tak pernah tahu; apa kebiasaanku itu buruk atau justru tergolong kurang ajar. Untuk itu, aku senang jika ada pembaca blog ini yang bisa membantuku untuk memberi jawaban yang melegakan! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ciputat, 26 Juni 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3046724755355723961?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3046724755355723961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3046724755355723961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3046724755355723961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3046724755355723961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/03/tidur-berbantal-buku.html' title='Tidur Berbantal Buku'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zsdqbfSgfIw/TXWzdoX6c0I/AAAAAAAACDI/iCWSIjTlfJ8/s72-c/tdr%2Bberbantal%2Bbuku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-5700740408876644373</id><published>2011-03-07T00:14:00.012+07:00</published><updated>2011-03-08T12:38:46.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><title type='text'>Daya Tahan Meresensi Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-H1NowH0Lv6U/TXPC4W9Au3I/AAAAAAAACC4/klnsNbV_aHQ/s1600/foto_serambi_1a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 143px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-H1NowH0Lv6U/TXPC4W9Au3I/AAAAAAAACC4/klnsNbV_aHQ/s200/foto_serambi_1a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581018636732119922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;[sumber http://indonesiabuku.com (23 juni 2009)] foto: Endah Sulwesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambahnya. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya [di sini]. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang membaca buku hanya sekadar membaca. Tapi ada juga orang menuliskannya resensinya. Bagaimana menurutmu yang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca pada dasarnya adalah menyelami sebuah buku untuk dikuak lebih jauh tentang apa yang disampaikan oleh si penulis buku. Tetapi ingatan seorang pembaca itu tak jarang terbentur pada keterbatasan; lupa. Karena itu, bagi saya menulis resensi buku adalah langkah untuk “mengikat makna” –meminjam istilah Hernowo—agar buku yang pernah dibaca itu tidak lupa. Toh kalau lupa, tak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir melainkan tinggal membaca resensi yang telah ditulis.&lt;br /&gt;Karena itu, menurut saya, agar makna atau pemahaman kita atas sebuah buku itu tetap teringat dan terjaga, setelah membaca sebuah buku selayaknya menulis resensi (atau minimal membuat sinopsis). Itu langkah yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa modal utama dalam meresensi buku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal utama meresensi buku itu, bagi saya adalah paham (berusaha mendekati maksud yang dikehendaki penulis buku) tentang “sebuah buku yang hendak diresensi”. Jika modal utama itu sudah digenggaman otak, maka menulis resensi tidak lagi sesuatu yang sulit. Karena hal-hal yang lain, seperti teknik menulis resensi, memilih jenis buku, dan unsur-unsur yang harus dikuasai dalam menulis resensi bisa mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku apa baiknya kita resensi. Lama atau baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menulis resensi buku, jika sedari awal memang ditargetkan untuk dimuat di media maka buku yang diresensi hendaknya buku baru. Palagi ada redaktur resensi buku yang memang menetapkan; dia akan memuat resensi buku; setidaknya 6 bulan dari terbitnya buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita nggak punya uang beli buku baru, langkah2 taktis apa yang kita lakukan? Apa penerbit mau ngasih kalau kita minta???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak punya uang untuk membeli buku bukan berarti jalan untuk bisa meresensi buku kemudian tertutup rapat-rapat. Dulu, waktu saya masih awal-awal menulis resensi buku, saya kerap meminjam buku dari teman jika memang tidak punya uang untuk beli buku. Setelah saya intens menulis resensi buku dan mulai kenal akrab dengan bagian promosi beberapa penerbit buku, jika memang ada buku baru yang bagus saya tak segan meminta untuk dikirimi karena sebagian besar penerbit tak jarang menganjurkan pada saya untuk meminta buku jika ada buku yang saya kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, penerbit tak keberatan mengirim buku jika memang buku yang diminta itu kemudian diresensi, karena permintaan buku oleh peresensi bisa dikata sebanding lurus dengan promosi sebuah buku. Di sini, ada timbal balik antara penerbit dan peresensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang meresensi itu mudah. Tetapi, ada juga yang bilang sulit. Bagaimana itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, menulis resensi buku itu tak seperti yang dibayangkan banyak orang. Mudah atau susah itu tergantung dari kemauan atau ketekunan seseorang. Setiap ada kemauan, pastilah ada jalan. Jadi kalau ingin menulis resensi buku dan serius, maka menulis resensi itu akan jadi mudah. Tapi sebaliknya, bagi orang yang malas dan mudah menyerah bahkan tak mau belajar, maka menulis resensi buku itu akan menjadi sesuatu yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana baiknya meresensi. Baca semua isinya atau asal-asalan saja. Baca pendahuluan misalnya, langsung diresensi. Bagaimana itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa maksimal meresensi buku, kunci utama adalah memahami isi buku. Karena itu, dibutuhkan pembacaan yang detail (menyeluruh) agar nanti dapat meresensi dengan bagus. Bisa saja, membaca buku dengan cara membaca sekilas, tapi saya berani jamin; hasil resensi itu tidak akan bisa maksimal. Ada “celah dan lubang” yang tidak bisa diungkap karena membaca buku yang diresensi dengan tidak detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja unsur dalam meresensi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur dalam meresensi buku itu sebenarnya simpel. Pertama, judul buku. Dalam membuat judul, usahakan yang menarik dan mewakili isi tulisan resensi. Kedua, data buku; meliputi a) judul buku,  b) penulis, c) penerbit, d) tahun terbit, e) cetakan, f)  tebal buku dan g) harga buku (jika memang diperlukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pengantar atau pembuka resensi. Pembuka inilah yang cukup memiliki kekuatan muat, karena dengan pembuka yang memikat bisa dipastikan redaktur akan terpikat setidaknya untuk pertama kali membaca sebuah resensi. Keempat, mengungkap isi buku; lebih jauh lagi jika kemudian dijelaskan dengan mengikutkan “teori” yang bisa menjelaskan buku itu dengan analisis yang tajam. Kelima, kritik peresensi atas buku itu (mengungkapkan kelebihan dan kekurangan buku, tema yang diangkat, teknis penulisan dan lain). Keenam, penutup; mengungkap kontektualitas buku dikaitkan dengan kondisi kekinian, untuk siapa buku itu ditulis dan bisa ditambah lain lagi ulasan khusus tentang buku tersebut secara spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang apa sih meresensi buku. Maksudnya jumlah halaman???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika resensi itu “ditargetkan” untuk dikirim ke media massa, panjang pendeknya resensi harus menyesuaikan space atau kolom yang disediakan media yang akan dikirimi naskah resensi. Misal di Kompas, resensi bisa panjang sekitar 7500 karakter, sementara di media yang lain bisa sekitar 6000-6500 karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meresensi, di kemanakan resensi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menulis resensi, biasanya saya mengirimnya ke media. Karena sejak awal menulis resensi dulu (waktu itu memang belum ada blog) saya sudah menargetkan nulis untuk dimuat di media massa. Baru jika kemudian tidak dimuat di koran atau majalah, saya mempublikasikan resensi tersebut di blog (saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya resensi menembus media massa. Perlu gak ndekatin redakturnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pengalaman saya menulis resensi buku di sejumlah media massa, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh peresensi agar resensi yang ditulis itu bisa dimuat. Pertama, adalah pilihan buku yang diresensi. Kedua, adalah siapa penulis buku itu. Karena penulis yang terkenal bisa dipastikan memiliki nilai muat yang tinggi. Ketiga adalah mengetahui kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur sebuah media yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ketiga faktor tersebut diperhatikan, maka peresensi tidak akan mengalami kesusahan untuk menembus atau bisa dimuat di media!  Memang, kedekatan peresensi dengan redaktur itu bisa sedikit banyak membantu, tetapi hal itu bukanlah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 11 tahun meresensi apa saja untung dan ruginya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan saya selama sebelah tahun meresensi buku tidaklah sedikit. Pertama adalah saya bisa belajar (dari membaca semua jenis buku), mendapat honor, mendapat buku gratis (secara berkala), dan di belakang hari saya menemukan bahwa menulis – entah itu resensi buku atau menulis genre lain adalah sebuah pertarungan, pergulatan hidup dan sekaligus menemukan jati diri.&lt;br /&gt;Adapun satu kerugian yang saya alami; menulis resensi seperti mata rantai yang pada ujungnya menjadikan kecanduan. Saya tak tahu; apakah ini dialami oleh peresensi lain atau tidak. Tetapi setelah saya menceburkan diri untuk intens menulis resensi, saya seperti terjebak pada genangan lumpur dan anehnya saya susah meloloskan diri. Kenapa bisa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman buku-buku gratis kerapkali tak memberi ruang bagi saya untuk punya kebebasan. Ada beban moral jika saya tidak meresensi ketika saya mendapatkan kiriman buku gratis dan itu seperti sebuah mata rantai yang susah untuk dilepaskan. Selain itu, keranjingan membaca tak jarang menuntut saya dihinggapi perasaan rugi jika kemudian tak menulis dalam bentuk resensi buku setelah saya membaca sebuah buku. Untungnya, sudah satu tahun ini saya bisa membebaskan diri; untuk intens menulis cerpen, esai dan novel. Saya menulis tidak terpaku pada resensi buku. Dengan cara itu, sekarang saya tak lagi terkooptasi lingkaran dunia resensi buku. Pendek kata, ada hal lain yang jauh lebih penting yang memang harus saya kejar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di koran mana saja resensi Anda dimuat? Sebutkan rincinya ya. Nama-nama korannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama rentang waktu sebelas tahun, resensi saya sudah dimuat di hampir semua media nasional dan lokal, di antaranya Kompas, The Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Majalah Gatra, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Bisnis Indonesia, Majalah Gamma, Tabloit Nova, Forum Keadilan, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Bernas, Keadaulatan Rakyat, Wawasan, Suara Merdeka, Solo Pos, Bengawan Post dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-5700740408876644373?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/5700740408876644373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=5700740408876644373' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5700740408876644373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5700740408876644373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/03/daya-tahan-meresensi-buku.html' title='Daya Tahan Meresensi Buku'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-H1NowH0Lv6U/TXPC4W9Au3I/AAAAAAAACC4/klnsNbV_aHQ/s72-c/foto_serambi_1a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-453980309867102570</id><published>2011-03-07T00:14:00.010+07:00</published><updated>2011-03-07T00:35:58.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><title type='text'>Nur Mursidi, Juara Blog Buku karena Daya Tahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-kicC-1M4vIk/TXPCRaSNP-I/AAAAAAAACCw/LZR0FrC297w/s1600/sketsh_gondrong.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kicC-1M4vIk/TXPCRaSNP-I/AAAAAAAACCw/LZR0FrC297w/s200/sketsh_gondrong.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581017967611428834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;[sumber http://indonesiabuku.com (23 juni 2009)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambahnya. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya denger dari teman, blogmu pernah menjadi juara untuk blog resensi buku di Jakarta Islamic Book Fair. Diceritakan ya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog saya (http://etalasebuku.blogspot) memang pernah meraih juara pertama lomba blog buku yang diadakan Pesta Buku Jakarta 2008. Ceritanya, waktu itu (tahun 2008) Pesta Buku Jakarta 2008 menggelar beberapa lomba di antaranya adalah lomba blog buku. Karena saya kebetulan memiliki blog buku yang semula saya jadikan sebagai “dokumentasi resensi-resensi buku” yang pernah dimuat di media massa, maka saya pun iseng-iseng mengikutkan blog saya dalam lomba tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di luar dugaan, ternyata blog saya itu meraih juara pertama. Padahal, sejak awal saya ikut lomba sudah tidak yakin kalau bisa menjuarai lomba, apalagi persyaratan yang ditentukan panitia nyaris tak bisa saya penuhi. Jika pada akhirnya blog saya bisa meraih juara, saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku bahkan juga proses kreatis menulis dan semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain; baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal saya ikut lomba hanya iseng, maka saya pun melupakan lomba blog tersebut. Anehnya, justru saya meraih juara dan saya tahu jika saya meraih juara justru dari seorang teman saya kebetulan pada waktu itu hadir di Pesta Buku Jakarta sewaktu pengumuman pemenang blog diumumkan panitia. Cerita yang lucu…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dirimu mencintai buku sepenuh2nya. Bisa diceritakan latarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga saya adalah keluarga yang jauh dari buku. Perkenalan saya dengan buku diawali dengan kisah yang unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak tinggal di rumah tua yang saya kontrak bersama beberapa teman di Krapyak, Yogyakarta di masa awal kuliah dulu. Tak tahunya, rumah itu angker. Saya yang memiliki jiwa usil, dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Tepat hari pertama, saya langsung menelisik rumah itu dan saat saya temukan kamar di belakang rumah, saya ditikam penasaran. Di kamar itu, ternyata tersimpan bertumpuk-tumpuk buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sabar, saya mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintu, saya menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang saya raih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, saya yang waktu itu belum pernah baca buku –maksud saya; selain buku pelajaran sekolah– langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Jujur, novel itu pula yang membuka mata saya mengenal sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perjumpan saya dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, diam-diam saya sering bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis saya baca, saya kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang saya baca, menjadikan saya disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya saya kuliah, dan tak sengaja bertemu Arief Syarwani –teman sekampus– yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mata saya seperti berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu kemudian saya pinjam. Meski dia sendiri meminjam buku tersebut dari Muhammad Rifa`i, ternyata ia tak keberatan meminjamkan buku itu padaku. Ia bahkan mengajari saya menulis resensi buku untuk buku tersebut. Dua hari, buku itu saya baca lalu saya resensi–untuk saya kirimkan ke Kedaulatan Rakyat.  Tidak pernah saya duga, kalau resensi saya itu pada akhirnya dimuat. Rentetan “peristiwa-peristiwa” itulah yang membuat saya mencintai buku sepenuhnya, apalagi setelah saya “menerjunkan diri jadi peresensi buku”. Ada kegilaan untuk membaca, membaca dan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa orang menyuntuki buku. Apa yang bisa dicari di sana. Bagaimana suka dukamu jadi pembaca yang sekaligus penulis resensi buku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang menyukai buku, karena lewat buku orang bisa melihat dunia. Ada banyak hal yang dapat dicari seseorang lewat buku, tetapi bagi saya pribadi, setidaknya saya bisa belajar dari buku tentang banyak hal, ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Lebih dari itu, lewat buku saya mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup setelah melakukan semacam kontemplasi dan perenungan lebih jauh dan dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cerita sukanya menjadi pembaca dan sekaligus peresensi buku tidak lain adalah saat mendapatkan kiriman “hadiah buku dan honor” dari menulis resensi. Meski buku dan honor itu bukan segala-galanya, karena membaca dan menulis resensi itu bagi saya adalah satu proses belajar yang menyenangkan sekaligus sebagai media terapi dari keterasingan hidup, tapi kiriman buku gratis dan honor itu tetap menjadi motivasi yang tak bisa dinafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk cerita duka menjadi pembaca sekaligus peresensi buku adalah saat kita salah melakukan penafsiran atas sebuah buku. Karena pada dasarnya membaca dan menulis resensi itu adalah proses menafsrikan dan menilai sebuah buku. Tentu, ada kritik yang kadang dikemukakan oleh orang (pembaca) lain yang kemudian menanggapi hasil pembacaan kita, jika kita memang salah menimbang sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa buku di rak? Dari mana saja (sebagian besar) asalnya kalau boleh tahu? Gratis dari penerbit atau beli sendiri???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mungkin termasuk penulis yang tidak setia memelihara dan merawat buku. Karena itu, saya tidak tahu berapa jumlah buku yang saya miliki. Tak sedikit buku-buku saya yang dipinjam orang lain, ternyata tak kembali ke rak buku saya. Bahkan, sebagian besar buku saya masih saya titipkan seorang teman di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari semua itu, buku-buku yang saya miliki sebagian adalah hadiah dari penerbit dan sebagian yang lain saya beli dari uang honor menulis. Apalagi tatkala saya dulu gemar memburu buku-buku bekas dari penampung barang-barang bekas (rongsok) di mana saya banyak membeli buku dengan cara kiloan. Hampir tiap hari saya mendapat buku loak dengan harga murah karena saya membeli kiloan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-453980309867102570?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/453980309867102570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=453980309867102570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/453980309867102570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/453980309867102570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/03/nur-mursidi-juara-blog-buku-karena-daya.html' title='Nur Mursidi, Juara Blog Buku karena Daya Tahan'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kicC-1M4vIk/TXPCRaSNP-I/AAAAAAAACCw/LZR0FrC297w/s72-c/sketsh_gondrong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-323398979707628236</id><published>2011-03-07T00:02:00.002+07:00</published><updated>2011-03-07T00:14:02.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><title type='text'>Nur Mursidi: Dijuluki Spesialisasi Meresensi Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/--Mp0CO5RZ8o/TXO_GSIMqdI/AAAAAAAACCo/4wOIQjlKtzg/s1600/Foto018.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/--Mp0CO5RZ8o/TXO_GSIMqdI/AAAAAAAACCo/4wOIQjlKtzg/s200/Foto018.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581014477908519378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dimuat di koran &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Analisa Medan&lt;/span&gt;, Minggu 15 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Sudah cukup lama saya kagum dengan sosok penulis yang satu ini. Setiap saya mengirimkan email berisi pertanyaan, permintaan kritik-saran, atau pun permohonan untuk mengupas karya-karya saya, doi selalu membalas dengan cepat dan tidak tanggung-tanggung….balasannya bisa mencapai berlembar-lembar! Sangat teliti dan detil! Senang sekali ketika mengetahui bahwa seorang penulis yang telah memiliki nama, tapi tetap low profile,  mau meluangkan waktu, dan serius membahas karya-karya kita, di sela-sela kesibukannya yang sudah pasti sangat padat-dat-dat!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sobat muda, doi adalah Nur Mursidi (Mursid), pria kelahiran Rembang, 30 Maret 1975. Bagi Mursid, menjadi penulis adalah pilihan hidup. “Maka, jika pekerjaan itu telah dipilih, sudah semestinya kita merasa nyaman dan cinta pada pekerjaan yang kita tekuni,” tutur  Mursid memulai percakapan.  “Lebih dari itu, bagi saya menulis adalah kerja psikologis dan pikiran. Pada tataran psikologis, menulis bisa ‘membebaskan diri’ dari tekanan dan beban hidup. Sementara kerja pikiran, menulis berarti ‘memberi makanan’ ruhani pada jiwa,” jelas pria berambut ikal ini. Ya, tak dimungkiri,  dengan menulis, ada proses belajar pada satu sisi dan menyebarkan ilmu pada sisi lain. Hmmm….setuju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Mursid sebagai reporter (di majalah Hidayah) dan reporter tidak tetap di dua majalah lain, tentu banyak menguras waktu. Namun  sesekali di waktu luang, Mursid masih menyempatkan menulis cerpen, esai sastra, dan resensi buku di sejumlah media massa. Bahkan  tahun 2008 lalu, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini mengukir prestasi bergengsi seputar dunia kepenulisan. Iseng-iseng Mursid mengikutkan blognya (http://etalasebuku.blogspot.com)  dalam Lomba Blog Buku yang diselenggarakan oleh Pesta Buku Jakarta 2008. Awalnya Mursid pesimis bisa memenangkan lomba tersebut karena ada persyaratan yang ditentukan panitia, nyaris tak bisa ia penuhi. Namun tiada disangka, ia malah sukses meraih  juara I! Hadiah uang jutaan rupiah pun mengalir ke koceknya! “Saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku, bahkan juga proses kreatif menulis. Semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain, baru membuat blog  justru pada saat diadakan lomba blog tersebut,” tegas Mursid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai topik menulis resensi buku, boleh dikata  Mursid-lah pakarnya! Di kalangan teman-teman, Mursid lebih dikenal sebagai peresensi buku  daripada penulis cerpen atau esai. Mengapa demikian? “Menulis resensi buku adalah sejarah awal saya mulai menulis. Pertama kali saya menulis resensi buku, langsung dimuat di harian Kedaulatan Rakyat. Setelah itu, rentetan peristiwa lain menyusul, menumbuhkan ‘kegilaan’ saya akan membaca buku, kemudian meresensinya. Bertahun-tahun saya menggeluti dunia ini. Akhirnya teman-teman  menjuluki saya spesialisasi menulis resensi buku  karena saking lamanya saya berkecimpung di dunia ini!” kenang pria lulusan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, tersenyum. Bayangkan Sobat muda, 11 tahun! Kompas, The Jakarta Post, Gatra, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, dan sederet media nasional lainnya telah memuat resensi buku karya Mursid.  Ingin tahu resepnya? Yuk, mari kita intip!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membaca pada dasarnya adalah menyelami sebuah buku untuk dikuak lebih jauh tentang perihal  yang disampaikan oleh si penulis buku. Tetapi ingatan seorang pembaca itu tak jarang terbentur pada keterbatasan; lupa. Karena itu, bagi saya menulis resensi buku adalah langkah untuk ‘mengikat makna’ –meminjam istilah Hernowo—agar konten buku yang pernah dibaca,  tidak menguap begitu saja. Toh kalau seandainya terjadi, kita tak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir,  melainkan tinggal melirik resensi yang telah ditulis,” jelas Mursid tentang pentingnya arti resensi sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara menulis resensi buku yang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, sebenarnya kalau ditanya pertanyaan ini, saya selalu susah menjawab. Kebetulan saya belajar menulis secara otodidak, tidak punya guru menulis,’ ujar Mursid merendah.  “Tapi baiklah, saya coba ya. Pertama, jika saya ingin tulisan saya dimuat di media A, maka saya akan membeli media A, mempelajarinya dengan seksama; mulai dari kecenderungan tema resensi buku yang biasa dimuat, sistematika tulisan resensi bahkan sampai pada hal-hal  kecil lain. Kedua, sepanjang pengalaman saya menulis resensi buku di sejumlah media massa, ada 3 hal penting yang harus diperhatikan peresensi: a) pilihan buku yang akan diresensi  b) penulis buku c) kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur media bersangkutan,” papar pria yang pernah mengecap  pendidikan di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini, panjang lebar. Intinya Sobat muda, agar resensi buku yang kita tulis bisa menetas optimal, bacalah bukunya secara menyeluruh dan pahami benar isinya! Ohya, ada tambahan nih, sebaiknya buku-buku yang akan diresensi untuk media adalah buku-buku baru. Biasanya redaktur menetapkan, resensi buku yang dimuat, paling tidak umurnya 6 bulan dari terbitnya buku. Catat ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman  Mursid, kalau kita rutin menulis resensi buku dan dimuat di media, selain menangguk honor lumayan, penerbit juga akan mengirimkan buku-buku gratis secara berkala. Hmmm…bukankah buku ibarat harta karun bagi para penulis? Senangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, berbagai cemoohan kerap menghampiri saya karena saya menekuni dunia tulis menulis. Profesi ini dianggap ‘aneh’ dan tidak menjanjikan. Tapi saya tidak terpuruk. Saya justru semakin bersemangat! Setelah tulisan-tulisan saya terbit di media, lalu bekerja menjadi wartawan, akhirnya saya bisa membuktikan eksistensi profesi kepenulisan saya. Jadi, jika kita ingin berkiprah di bidang ini, kuncinya hanya dua: kerja keras dan tak pernah putus asa!” demikian pesan penulis yang berencana naik pelaminan dalam waktu dekat ini,  kepada remaja Medan.*** Haya Aliya Zaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Agustus 2009&lt;br /&gt;(beberapa kalimat dalam artikel ini dikutip dari http://indonesiabuku.com  atas seijin nara sumber bersangkutan)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-323398979707628236?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/323398979707628236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=323398979707628236' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/323398979707628236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/323398979707628236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2011/03/nur-mursidi-dijuluki-spesialisasi.html' title='Nur Mursidi: Dijuluki Spesialisasi Meresensi Buku'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/--Mp0CO5RZ8o/TXO_GSIMqdI/AAAAAAAACCo/4wOIQjlKtzg/s72-c/Foto018.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-342262307841547597</id><published>2010-12-15T08:08:00.004+07:00</published><updated>2011-03-14T09:51:23.585+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='di balik proses kreatif'/><title type='text'>Dari Penjual Koran (Jalanan) Jadi Penulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJAdOR8b1gI/AAAAAAAAB7I/iKdKZI49YDA/s1600/100_4283.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 126px; height: 175px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJAdOR8b1gI/AAAAAAAAB7I/iKdKZI49YDA/s200/100_4283.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5516941674701116930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://indonesiabuku.com/?p=3988"&gt;indonesiabuku.com&lt;/a&gt; [14 Februari 2010] dan "prolog" untuk buku saya: &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tidur Berbatal Buku&lt;/span&gt; yang akan  terbit dalam waktu dekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Batu permata tidak bisa menjadi berkilap tanpa gesekan; demikian juga dengan manusia; tidak akan bisa menjadi baik tanpa cobaan (&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;William Shakespeare&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa dihimpit oleh cobaan, aku mungkin tidak akan pernah jadi penulis. Sebab cobaan yang datang tanpa pernah aku undang itu, seperti menjerumuskanku ke jalanan yang penuh dengan debu. Aku pun terpaksa jadi penjual koran di jalanan Yogyakarta ketika ayah jatuh sakit dan tak mampu mengirimiku uang kuliah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dari lempeng jalanan kota Gudeg itu, aku justru mengenal kehidupan. Aku merasa didewasakan oleh kehidupan keras jalanan, dan dari halaman koran, aku belajar menulis. Meski tidak ada guru menulis di sampingku yang membimbing, aku merasa lembaran-lembaran koran itu adalah guru yang bijak di tengah kehidupan jalanan sebab lembaran-lembaran koran itu telah membakar spirit dan membuka mataku untuk bisa menulis di kelak kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu, berawal dari kisah yang unik. Sebuah kisah yang membuatku tersadar bahwa aku harus berubah. Tak mungkin, aku akan menjadi penjual koran di sepanjang jalanan terus. Tak mungkin, aku harus menjadi anak jalan, disengat terik mentari yang garang dan bergelantungan di pintu bus, naik turun dari satu bus ke bus yang lain. Jadi, aku harus bisa mewujudkan mimpiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, tepat di hari ketujuh aku jualan koran. Matahari bersinar dengan cerah. Itu adalah pagi yang akan membawa berkah dan anugerah. Beda ketika hari diselimuti dengan mendung dan hari sedang turun hujan. Aku pasti hanya bisa duduk termangu di emperan toko dan menatap gelap langit dengan raut sedih. Karena kehadiran matahari di pagi hari bisa membuatku leluasa menjajakan setumpuk koran di tanganku sepanjang jalan, menumpang naik bus; menawarkan berita hangat yang jadi headline koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja mengambil setumpuk koran di agen pasar Gading, lalu melangkah ke tepi jalan untuk menunggu tumpangan bus dari terminal Umbulharjo. Tapi, nasibku pagi itu seperti didekap kemujuran. Ketika keluar dari pasar, lampu trafick light ternyata menyala merah. Kondisi itu menjadikan semua kendaraan yang melaju dari arah Timur harus berhenti.  Kebetulan bus Mustika –salah satu bus jurusan Yogyakarta-Semarang—sedang terdampar di perempatan Gading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun segera berlari, kemudian menaiki bus Mustika itu dengan memendam setangkup harapan bisa mengais rezeki. Setelah aku di atas bus, aku pun beraksi dengan cepat: aku membagi-bagikan koran ke seluruh penumpang. Itu jurus jitu jualan koran yang biasa aku terapkan untuk menarik rasa penasaran penumpang agar mau membeli. Dengan cara itu, para penumpang dapat membaca koran sekitar dua sampai tiga menit, lalu aku menarik koran yang aku bagikan itu dari depan. Jika mereka sempat membaca sebentar, tapi diliputi penasaran untuk membaca lebih lanjut, maka tidak ada jalan lain kecuali mereka harus rela merogoh uang dari saku mereka untuk membeli koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksiku di atas bus di pagi itu, rupanya membawa kerkah. Ada tiga penumpang yang membeli koran Kedaulatan Rakyat yang aku jajakan. Hatiku lega. Aku mengelus dada, karena aku telah mengantongi uang Rp 600.00 di sakuku. Waktu itu, tahun 1995 harga koran Kedaulatan Rakyat Rp 200.00 dan dari setiap 1 eksemplar yang berhasil aku jual, aku mendapatkan keuntungan separoh (Rp 100.00). Jadi, pagi itu, aku sudah meraup keuntungan Rp 300.00. Keuntungan di awal pagi itu, membuatku ingin istirahat sejenak. Aku ingin menghirup segelas kecil teh manis dan makan satu pisang goreng di warung Bu Tum, di Pojok Benteng Kulon untuk sekadar mengganjal perut agar aku tidak terkulai lemas di jalanan atau jatuh dari bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelecut Kesadaran dari Tukang Becak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pagi masih terasa menggigilkan tubuhku, meskipun sinar mentari sudah bersinar cerah dari ufuk Timur. Angin pagi yang menelusup kencang dari celah-celah jendela bus, membuat kantukku hilang. Aku merapat ke pintu bus. Bus masih terus melaju, dan aku menggelantung di pintu bus. Tepat di perempatan Pojok Benteng Kulon, bus berhenti untuk menaikkan penumpang. Aku turun, kemudian melangkahkan kaki ke warung Bu Tum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perutku sudah terasa seperti melilit. Tenggorokanku dicekam haus. Lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan membuat aku tidak sabar. Aku menunggu di pinggir jalan dengan cemas. Akhirnya, ketika jalanan agak sepi, aku pun buru-buru melangkah. Tetapi, di saat aku melangkahkan kaki dengan lunglai ke arah warung bu Tum, tiba-tiba sebuah suara membuyarkan harapanku untuk bisa segera menenggak teh hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Koran…, mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh. Tidak kulihat ada orang yang aku yakini akan membeli koranku, kecuali aku hanya melihat tiga tukang becak yang menyandarkan tubuhnya di atas becak masing-masing. Aku sama sekali tak percaya, jika suara mengagetkan yang aku dengar itu bersumber dari salah satu tukang becak tersebut. Aku merasa ada hantu di pagi hari yang sengaja iseng menggodaku. Aku celingukan, menoleh ke sekitar untuk memastikan sumber suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lamat-lamat, dari kejauhan aku melihat salah satu dari tukang becak itu melambaikan tangannya ke arahku. Aku menoleh ke belakang, mengira tukang becak itu melambaikan tangannya memanggil seseorang di belakangku. Lagi-lagi, tak kulihat ada orang lain yang dipanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Koran, mas…!” kembali suara misterius itu membuatku terhenyak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh, dan kulihat satu dari tiga tukang becak itu melambaikan tangan ke arahku. Aku menunjuk ke dadaku, kemudian mengangkat tumpukan koran yang masih menggunung di tangan kananku untuk sekadar memastikan bahwa tukang becak itulah yang memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menggangguk. Aku segera berlari ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ini jualan koran, tapi kayak orang tidak butuh duit. Dipanggil berkali-kali, seperti orang bingung saja. Kamu boleh melihat tampangku ini memang sebagai tukang becak, tapi jujur, aku tetap tidak mau ketinggalan berita koran…” omel tukang becak itu, ketika aku berada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum geli, tetapi aku tak peduli dengan omelan tukang becak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kira sampeyan bercanda waktu memanggilku, pak,” jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merogoh uang dari sakunya yang kumal. “Koran Kedaulatan Rakyat,” ucapnya seraya mengulurkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengulurkan koran kemudian menerima uangnya, seraya tersenyum. Tapi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa heran dengan tukang becak itu. Dia rela merogoh kocek dari saku kumalnya untuk membeli koran dari tanganku dan sesaat kemudian, ketika aku melangkah pergi dari hadapannya, aku melihat ia membaca koran tersebut dengan cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu, rubrik apa yang dibaca oleh tukang becak itu. Apa berita kriminal? Lowongan kerja ataukah berita politik? Tapi, sindiran tukang becak tersebut membuatku serasa tersulut api yang membuatku tergeragap. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Selama tujuh hari aku jualan koran, aku tidak pernah membaca koran yang kujajakan sendiri. Aku seperti tak peduli dengan apa yang kujual karena yang aku inginkan adalah koranku laku. Tak peduli, apa isi berita di koran kecuali aku melihat sekilas berita pada halaman awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mengejar keuntungan, aku terpaksa berlari sekencang angin mengejar bus; naik turun dari satu bus ke bus lain, numpang jualan dari terminal Umbulharjo sampai jalan Magelang kemudian kembali ke terminal lagi, dan seterusnya --berkali-kali hingga siang hati lalu aku pulang ke kontrakan dengan disergap letih dan capek. Tak pernah aku meluangkan waktu untuk membaca dengan detail isi berita koran yang aku jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkahkan kakiku ke warung Bu Tum, tetapi pikiranku masih dikerubuti rasa heran dengan tukang becak tersebut. Rasa hausku lenyap tiba-tiba. Rasa lapar yang tadi mengoyak perutku seperti sirna. Maka setibaku di warung bu Tum, aku pun duduk lemas di sudut warung. Tetapi, nanar pandangan mataku seperti tak bisa berpaling: aku menatap ke arah tukang becak itu yang sedang membaca koran dengan mata khusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa aku pesan, bu Tum seperti tahu apa yang aku inginkan. Tidak lama setelah aku duduk, teh hangat porsi gelas kecil seharga Rp 50.00 pun terhidang di depanku. Aku masih tercenung. Pandangan mataku terus menatap sosok tukang becak yang suntuk membaca koran di atas bacaknya. Sementara itu, teh hangat di hadapanku seperti tidak menarik perhatianku. Pisang goreng yang lezat di atas piring di depanku juga tidak lagi menarik simpatiku. Pagi itu, aku benar-benar merasa disadarkan oleh tukang becak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kemudian, bu Tum menatapku heran, “Engkau datang ke warung ini untuk memesan teh atau mau melamun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tegeragap. Suara bu Tum --seketika menyadarkanku. “Tentu saja aku datang ke sini untuk minum teh bu. Dari tadi aku bahkan sudah haus…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi, kenapa teh itu dibiarkan dingin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap segelas teh yang masih mengepulkan asap tepat di hadapanku. Saat itulah, aku baru merasakan jika tenggorokanku haus.  Aku meminum teh  di hadapanku dengan beringas. Haus di tenggorokanku tandas dalam sekali teguk. Satu pisang goreng di atas meja pun segera aku santap. Perutku tidak lagi melilit. Itulah moment-moment di pagi hari yang membahagiakan tatkala aku istirahat, mensyukuri hasil keringat di awal menjajakan koran meskipun aku harus rela menunggu koranku laku terlebih dahulu dua sampai tiga eksemplar untuk bisa minum teh hangat dan satu pisang goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar Menulis dari Koran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengalamanku bertemu dengan tukang becak yang membeli koran daganganku dan menyindirku di pagi itu, ternyata menyadarkan pola pikirku dan mengukir sejarah baru dalam kehidupanku di jalanan. Sebab sejak itu, tukang becak itu jadi langgananku; hampir tiap hari ia membeli koran dariku. Hasrat tukang becak yang membeli koran dari tanganku dan membacanya di atas becak dengan muka masih kusut, telah mendorongku membiasakan membaca setumpuk koran yang aku jual. Sehabis menunaikan ritual pagi minum teh hangat dan makan satu pisang goreng di warung, aku duduk di emperan toko untuk meluangkan waktu sekitar setengah jam atau satu jam membaca setumpuk koran daganganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kebiasaan baca koran di emperan toko [dan kadang-kadang di bawah pohon di tepi jalan di perempatan Bugisan dan Patangpuluhan] itu, pada satu hari aku tiba-tiba disadarkan sebuah tulisan yang ditulis mahasiswa di rubrik Opini atau Debat Mahasiswa di Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas. Saat membaca, aku benar-benar tersadar dan terhenyak, karena ternyata aku menemukan kenyataan seorang mahasiswa bisa menulis di koran. Apalagi, saat aku membaca koran Minggu di rubrik resensi buku, sering kali aku menjumpai deretan “nama penulis” dengan identitas masih mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap selesai membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa itu, otakku serasa mendidih bagai air yang dijerang di atas tungku. Ada sekelebat mimpi di dadaku yang memompaku untuk bisa menulis: menorehkan namaku di koran seperti mereka. Maka dalam hati, aku berjanji bahwa suatu saat nanti aku harus bisa menulis di koran. Dan sejak itu aku pun mulai rajin membaca koran yang aku jual dan mempelajari tulisan yang dimuat di koran secara autodidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, tidak jarang, ketika aku khusuk membaca koran di emperan toko, aku kerap kali lupa kuliah: “bolos”. Jujur, di jalanan aku mengenal kehidupan. Dari halaman koran, aku bisa belajar menulis. Aku merasa seperti dianugerahi sepasang mata untuk melihat sekeliling dengan mata yang tajam. Dengan tanpa bimbingan seorang tutor atau guru menulis, aku belajar menulis dengan jurus tanpa “kitab suci”. Ibarat murid di biara Shaolin, aku belajar ilmu bela diri dengan hanya melihat hasil lukisan tendangan atau pukulan yang terpampang di tembok biara Shaolin lalu tengah malam gulita aku belajar untuk mempraktekkan apa yang aku lihat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, setiap pagi hari aku melakoni ritual jualan koran di jalanan, lalu menjelang siang berangkat kuliah dengan mengayuh sepeda dari Krapyak ke kampus dan malam hari aku melatih diri untuk menulis. Semua itu kulakukan untuk mewujudkan mimpiku; aku harus bisa menorehkan namaku di lembaran koran, tidak harus jadi penjaja koran jalanan terus atau jadi anak jalanan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belajar menulis di malam hari, lalu aku kirim ke sejumlah koran. Tapi, jalan yang aku lalui tidaklah mulus. Seratus halangan dan terpaan, nyaris membuatku hampir putus asa saat tulisan yang aku buat itu ditolak oleh redaktur media massa. Aku diliputi kegamangan, patah arah. Bahkan dalam hatiku, sempat terbesit keraguan: apakah aku memang benar-benar tidak akan pernah jadi penulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak Patah Arang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku memang kerap gamang! Tapi, usaha keras, tidak jarang membuahkan hasil. Aku tidak jadi patah arah. Sekeras apa pun persaingan merebut lembaran koran, bagiku masih keras dan kejam kehidupan di jalanan. Itu yang aku ketahui. Sebab di jalanan, aku sempat diancam dengan sebilah belati yang dihunuskan tepat di wajahku. Di jalanan, aku sempat berkelahi dengan penjaja koran dari Madura, karena ia merasa lahannya aku rebut. Di jalanan, aku juga bergaul dengan preman yang kerap kali mabuk dan berkelahi. Di jalanan, aku kerap kali bertemu dengan copet yang dengan jeli dan cekatan menguntit dompet para penumpang. Itu alasanku, kenapa aku tak patah arah jika hanya berjuang bisa menembus koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha keras, ditunjang kesabaran dan mental tidak patah arah, rupanya mampu merubah “jalan hidupku”. Setelah berjuang dengan keras, satu persatu, tulisanku dimuat di koran lokal hingga kemudian menembus koran nasional, yakni di Kedaulatan Rakyat, Bernas, Solo Pos, Bengawan Pos, Wawasan, Suara Merdeka, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Suara Indonesia, Lampung Post, Batam Post, Harian Riau Mandiri, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Matabaca, Gatra, Tempo, Koran Tempo, Republika, Seputar Indonesia, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Bisnis Indonesia, Suara Karya, Tabloit Nova, Majalah Anggun, Gamma, Forum Keadilan, The Jakarta Post dan Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menginjakkan kaki di Yogyakarta untuk kuliah dan menjadi penjual koran pada penghujung tahun 1995. Keterbatasan pengetahuan dan tidak ada guru yang membimbingku, menjadikanku tidak bisa mewujudkan mimpiku untuk menjadi penulis dengan mudah. Mimpiku hanya menggumpal di sudut otakku. Apalagi, waktu itu aku tak memiliki uang lebih untuk membeli mesin ketik yang dapat mewujudkan mimpiku bisa menulis di lembaran koran. Di sisi lain, tak ada teman yang punya mesin ketik yang bisa aku pinjam dengan leluasa. Jadi, mimpiku itu terkubur dalam lorong waktu kurang lebih dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu. Deraan, cobaan dan ujian hidup pun silih berganti. Aku bahkan terpaksa keluar kuliah ketika menginjak semester dua --karena tak bisa bayar SPP. Tapi mimpiku untuk mampu menulis di lembaran koran seperti tidak pernah padam. Apalagi, setelah keluar kuliah aku praktis hidup di jalanan. Hampir setiap pagi aku jualan koran. Tapi di jalanan itu, aku belajar mengenal kehidupan dan bersentuhan dengan setumpuk koran: belajar autodidak cara menulis di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1996, aku daftar kuliah lagi. Seiring dengan berjalannya waktu, satu tahun kemudian aku mulai merintis menulis dan mengirim tulisan berupa cerpen ke koran di sela-sela kesibukan kuliah dan jualan koran. Hampir satu tahun, kerja kerasku bahkan tak membuahkan hasil. Tidak ada satu pun tulisanku yang dimuat di koran. Aku hampir putus asa. Tetapi dalam “keputusasaanku” itu, aku mulai menekuni bidang fotografi dan iseng-iseng aku mengirimkan foto yang aku hasilkan itu ke koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, dari keisengan tersebut ternyata membuahkan hasil. Sebuah foto yang aku kirim ke koran ternyata berbuah manis: dimuat di rubrik “Citra Foto” di Kedaulatan Rakyat (Kamis, 11 Desember 1997). Bermula dari pemuatan fotoku itulah, “rasa percaya diriku” untuk menulis bersemi lagi. Mesin ketik yang sempat kugadaikan, kemudian aku tebus. Aku kemudian berjuang keras untuk menulis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, perjuangan kerasku ternyata tidak mulus. Aku mengalami jatuh bangun, dan hampir setahun kemudian, aku bisa bernapas lega ketika tulisan resensiku berjudul “Potret Yogya Sehari-Semalam” dimuat di koran harian Kedaulatan Rakyat (Minggu, 01 November 1998). Lalu, disusul tulisan resensiku yang berjudul “Sekolah dan Kepelikan Sistem Pendidikan” yang juga dimuat di koran Kedaulatan Rakyat belum genap sebulan (Minggu, 29 November 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tulisanku yang dimuat di koran itu memang membuatku percaya diri. Tetapi jalan lempang ke depan, tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan. Karena menginjak tahun 1999, tidak ada ada satu pun tulisanku yang dimuat. Baru memasuki tahun 2000, aku kembali bisa bernapas lega lantaran empat (4) tulisan resensi-ku dimuat di Bernas, Kedaulatan Rakyat dan Majalah Forum Keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mulai Merambah Sejumlah Media&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui perjuangan keras, pada tahun 2001 tulisanku mulai bertebaran di koran. Tahun 2001, ada tujuh belas (17) tulisan resensiku yang dimuat di koran --mulai dari koran Kedaulatan Rakyat, Surabaya Post, Majalah Gamma, Pikiran Rakyat, Media Indonesia bahkan sudah tembus Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berikutnya, 2002, tulisanku yang dimuat di koran mulai meningkat. Dari tujuh belas tulisan yang dimuat tahun 2001, meningkat menjadi tiga puluh (30) tulisan. Pada tahun 2002, selain banyak tulisanku yang dimuat di media massa yang sebelumnya belum pernah memuat tulisanku (seperti di Solo Pos, Bengawan Post, Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Surya, Jawa Pos dan bahkan Jakarta Post) aku juga kembali menulis cerpen. Cerita pendek pertamaku berjudul “Mbah Kardoen” dimuat di Solo Pos (Minggu, 28 Juli 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2003, proses kreatifku mencapai puncaknya karena kerja kerasku berhasil menorehkan lima puluh enam (56) tulisan --dalam berbagai genre- yang dimuat di koran dan majalah. Aku tidak hanya menulis resensi buku dan cerpen, melainkan menulis esai sastra, esai film, opini dan bahkan juga puisi. Tahun 2004, bisa dikatakan tulisanku yang dimuat di koran menurun jumlahnya karena cuma ada tiga puluh tujuh (37) tulisanku yang dimuat di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005, aku hijrah ke Jakarta bekerja sebagai wartawan. Kesibukanku mulai merenggut waktuku sebagai penulis freelance di sejumlah koran dan majalah yang sudah mulai aku rintis sejak 1998. Tak salah, jika ada dua belas (12) tulisanku yang dimuat di koran selama tahun 2005. Tahun 2006, ada dua puluh dua (22) tulisan yang dimuat di koran. Lalu, tahun 2007, ada dua puluh delapan (28) tulisan. Tahun 2008, ada empat puluh tiga (43) tulisan dan tahun 2009, ada dua puluh sembilan (29) tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah sepuluh tahun lebih aku menjadi penulis freelance di sejumlah koran lokal dan nasional: menulis resensi buku, opini, esai sastra, esai film dan cerita pendek. Tak kurang ada 300 tulisanku yang sudah dimuat di koran lokal dan nasional. Mimpiku untuk bisa jadi penulis akhirnya terwujud. Bahkan, berkat tulisanku yang banyak dimuat di koran itulah aku kemudian bisa menjadi wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sebelum lulus kuliah UIN Yogyakarta, ketika kampus tempatku menimba ilmu mengadakan lomba cerpen dan resensi buku yang dijaring dari tulisan-tulisan yang pernah dimuat di koran, aku mendapat juara pertama untuk kategori lomba cerpen dan resensi buku (tahun 2002). Tahun berikutnya, 2003, aku kembali merebut juara. Selain itu, beberapa kali aku juga memenangi lomba menulis resensi buku yang diadakan oleh beberapa penerbit. Satu “prestasi gemilang” aku raih tatkala IKAPI mengadakan lomba blog buku; aku berhasil terpilih jadi juara pertama dalam lomba blog Pesta Buku Jakarta 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua prestasi itu seperti sebuah mimpi. Pasalnya, sejarah hidupku nyaris selalu diliputi rentetan kegagalan. Sedari kecil, bahkan aku nyaris kehilangan mimpi dan masa depan. Sebelum kuliah, aku tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Apalagi, terbesit sebuah mimpi besar untuk jadi wartawan. Jika sekarang ini aku berhasil jadi penulis dan wartawan, itu semata-mata karena “kecelakaan sejarah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, aku terjerumus menjadi penjual koran dan setelah membaca koran aku memiliki mimpi untuk jadi penulis. Mimpiku itu, sekarang sudah terwujud. Karena itu, bermimpilah setinggi langit. Suatu hari nanti, mimpimu itu akan jadi kenyataan. Dalam meraih mimpu itu, aku tidak memungkiri apa yang dikatakan oleh Dough Hoper, “you are what you think (Anda adalah apa yang Anda pikirkan)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan takut untuk bermimpi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-342262307841547597?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/342262307841547597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=342262307841547597' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/342262307841547597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/342262307841547597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2010/09/dari-penjual-koran-jalanan-jadi-penulis.html' title='Dari Penjual Koran (Jalanan) Jadi Penulis'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJAdOR8b1gI/AAAAAAAAB7I/iKdKZI49YDA/s72-c/100_4283.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6347464931252102127</id><published>2010-11-26T12:46:00.010+07:00</published><updated>2011-03-06T09:03:42.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='di balik proses kreatif'/><title type='text'>Tulislah Buku untuk Orang Lain...!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TO9KaI1c3iI/AAAAAAAAB-4/HrBl9B2yqPw/s1600/100_4283.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TO9KaI1c3iI/AAAAAAAAB-4/HrBl9B2yqPw/s200/100_4283.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543731479225097762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;/1/&lt;br /&gt;KANTOR redaksi majalah Anggun, suatu siang yang begitu merona. Aku berdiri mematung, bersidekap di tangga terakhir sebelum kaki kananku menginjak lantai ruang itu. Sejenak, aku edarkan pandangan. Sebuah ruangan yang tak asing. Ruangan sebuah redaksi yang dipenuhi meja komputer. Lima reporter sibuk menulis di depan komputer. Di sudut ruangan, dua layouter sedang mengolah desain. Dari kaca terang yang tembus pandang, aku menatap ruang terpisah, tempat pimred Anggun. Ia duduk menyandarkan kepala, seraya menatap langit-langit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gamang, aku melangkah. Tetapi, satu langkah kakiku yang kemudian menginjak lantai redaksi, rupanya menimbulkan ruangan itu terusik dengan kehadiranku. Semua menoleh sebentar ke arahku --sebelum kemudian melanjutkan kerja kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika orang Indonesia sibuk seperti orang-orang yang ada di sini, Indonesia pasti tak akan jadi negara miskin dan banyak utang...” gurauku saat berdiri di tengah ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kali datang ke Anggun selalu menjadi pengganggu!” jawab Imam Ma`ruf, pimred majalah Anggun dari balik ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh ke arahnya. Dari balik kaca ruangan, aku mengumbar senyum yang sumbang seraya melangkahkan kakiku memasuki ruangannya, lalu duduk di depannya. “Setiap aku datang ke sini, suasana redaksi selalu mencekam seperti ruangan mayat di rumah sakit. Tak ada senyum. Tak ada tawa...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasa, lagi deadline...” ujarnya pendek “Oh, ya... kau sibuk apa? Daripada datang cuma menjadi pengganggu, mending kau membantu menulis untuk rubrik kata buku di majalah Anggun. Aku tak ada waktu lagi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tidak ada buku yang bertema pernikahan yang cocok untuk diresensi di majalah Anggun...” jawabku pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak menjawab, tetapi berdiri, mendekati rak buku, memilih sebuah buku dari deretan buku yang ada: buku bersampul merah. Ia kemudian meletakkan buku itu tepat di depanku, “Ini buku yang bisa kau resensi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meraih buku di hadapanku –buku berjudul Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta, karya Salim A. Fillah. Aku membalik halaman buku itu, menimang waktu yang harus aku butuhkan untuk membaca, dan menulis menjadi sebuah resensi. Memang tak sulit bagiku membuat resensi buku mengingat aku sudah bertahun-tahun menulis resensi di media masa. Tapi, kecepatan membaca di saat deadline yang pendek, membuatku harus kerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak sulit memang membuat resensi. Tapi kerja ikhlas dengan tanpa honor inilah yang membuatku tidak bisa berpikir dengan cepat,” jawabku sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesekali menulislah dengan ikhlas, tanpa menghitung honor,” timpalnya dengan tawa yang keras. “Siapa tahu, kelak di kemudian hari kau akan mendapatkan berkah dari keikhlasanmu ini...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam, kemudian merenung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;TAK ada satu kejadian yang terjadi secara kebetulan dalam hidup ini. Itulah titik awal aku berkenalan dengan buku terbitan Pro-U Media. Malam itu, aku membaca buku itu dengan mengerahkan jurus cepat. Maklum, deadline menghadang di ujung waktu dan aku harus segera menulis resensi buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, aku belum menikah. Jadi, hembusan pesan yang digemakan oleh sang penulis hanya memberiku suntikan untuk bisa mengamalkannya jika kelak di kemudian hari aku menikah. Tapi, satu hal yang membuatku tergugah setelah membaca buku itu adalah keinginan untuk bisa menulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu, memang bukan sebuah kebetulan, karena setelah itu aku mendapat tempat di redaksi Anggun. Aku kerap datang ke kantor redaksi Anggun, membaca buku-buku kiriman dari penerbit --termasuk buku kiriman dari kelompok Pro-U Media. Juga berkah yang lain, aku kemudian jadi kontributor yang mengisi resensi buku, cerpen dan beberapa rubrik lain di majalah Anggun. Kesempatan itu yang mengantarku berkenalan dengan bapak Fauzil Adzim ketika suatu hari penulis bestseller itu jadi narasumber pada acara seminar di Universitas Indonesia dan Imam Ma`ruf mengajakku menjemput pak Fauzil Adzim untuk berbincang-bincang tentang rubrik “kolom Fauzil Adzim” tentang pernikahan yang sudah lama ada di majalah Anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hampir berganti sore. Setelah berbicang “panjang” tentang rubrik tersebut dan berbagai tema seputar pernikahan, Imam Ma`ruf menawarkan diri mengantar ke Bandara Soekarno Hatta. Senja masih menggantung di langit, tatkala sampai di bandara, dan waktu ternyata masih tersisa cukup panjang. Dalam kesempatan itu, aku berbincang dengan bapak Fauzil Adzim tentang penerbitan dan buku-buku best-seller yang dia tulis. Tapi bagiku, ada satu pertanyaan menganjal dan ingin aku telisik lebih jauh lagi tentang kesuksesan bapak Faudzin Adzin dalam menulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah membaca beberapa buku yang bapak tulis meskipun harus saya akui tidak semuanya. Tapi saya tidak menutup mata, hampir semua buku yang bapak tulis bisa menjadi best-seller,” aku menarik napas panjang, diam sejenak, sebelum kemudian melanjutkan, “Ini terkait buku-buku yang bapak tulis..., di balik itu sebenarnya faktor apa yang berperan penting bisa menjadikan hampir semua buku bapak bisa best-seller?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Fauzin Adzim menoleh ke kerumunan orang di bandara Soekarno-Hatta. Orang-orang hilir mudik, orang-orang seperti berjalan dengan bergegas. Sementara aku, Imam Ma1ruf dan bapak Fauzil Adzin duduk santai di depan bandara membunuh waktu. Tetapi, tanpa aku sadari, tiba-tiba bapak Fauzil Adzim menjawab dengan pendek “Saya sebenarnya tak memiliki pretensi yang cukup melambung. Saya menulis buku di mana hal itu menurut saya bisa bermanfaat bagi orang lain...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Sesuatu yang terkesan sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang ini, saya sebenarnya sedang merencanakan untuk menulis buku. Tapi, saya masih bingung dengan tema yang hendak saya tulis. Mungkin novel, atau bisa jadi sebuah memoar. Apa kira-kira resep yang ingin bapak usulkan seputar tema buku yang bisa saya tulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulislah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan cara itulah, buku yang kau tulis pasti akan dibaca orang!” jawab bapak Fauzil Adzin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja turun pelan, seiring gugusan pelangi yang mengguratkan warna jingga di cakrawala. Tak lama kemudian, Fauzil Adzim terbang ke Yogyakarta. Tapi, ucapan bapak Fauzin Adzim itu seperti menggenangi pikiranku, bahkan terkenang dalam ingatan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;Keinginanku untuk menulis sebuah buku tentang pengalaman menulis di media massa -yang pernah aku ceritakan pada bapak Faudil Adzim— sebenarnya sudah cukup lama aku konsep. Tetapi, setiap kali keinginan itu melingkupi pikiranku, ada segumpal keraguan yang menyergap: “aku merasa tidak percaya diri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, aku berkesempatan bertemu Mas Cecep Romli [dari penerbit Adelweiss] di sebuah rumah makan padang di daerah Ciputat. Dalam pertemuan itu, aku iseng-iseng menceritakan sepenggal kisah dari pengalaman hidupku. Di luar dugaanku, Mas Cecep ternyata menanamkan api dukungan dan mendorong nyaliku agar aku tidak perlu digenggam keraguan dan segera menulis pengalamanku ini dalam sebuah buku. Ia bahkan berjanji, kelak akan menerbitkan jika sudah jadi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku kembali terjerumus ke dalam lumpur keraguaan. Janji itu tak mampu menyulut inspirasiku tergerak menulis. Setahun berlalu, aku bergeming. Aku seperti tidak memiliki nyali, tak punya hasrat yang kuat untuk dapat menulis. Keinginan itu lantas pudar. Niat untuk menuangkan pengalaman itu, akhirnya mengendap dalam lorong waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku menikah, keinginan menulis buku itu kembali berkelebat. Dorongan itu datang dari istriku. Setiap kali ia dilanda letih setelah mengajar, aku menceritakan sepenggal demi sepenggal kisahku sebagai dongeng pengantar tidur. Di luar dugaanku, setelah aku menceritakan hampir seluruh pengalamanku, ia memintaku menuliskan pengalamanku itu dalam sebuah buku memoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, impitan hidup kerap kali menjebol tembok ketangguhanku. Aku bahkan dihinggapi kejenuhan untuk menulis. Selama dua bulan, aku tak menulis sebagai penulis freelance  di media. Satu hal yang nyaris membunuhku dalam ruang rumpil yang ganjil. Pasalnya, media massa itu ibarat “sawah ladangku” sejak aku mulai menulis. Anehnya, selama dua bulan itu aku seperti lupa dengan masa lalu, lupa perjuanganku yang penuh leleran keringat untuk berjuang menembus media koran atau majalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, aku merasa tidak melakukan apa pun. Bahkan untuk istriku, aku merasa tak berguna karena tidak bisa membuatnya bisa meraih kebahagiaan seperti umumnya kehidupan orang berumah tangga. Pada titik itulah, aku kembali ingat buku Barakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta, karya Salim A. Fillah. Aku yakin buku itu ditulis untuk orang lain –sebagaimana pernah diucapkan bapak Fauzil Adzim kurang lebih 3 tahun lalu. Sebelum terbang ke Yogya, ia sempat berpesan. “Tulislah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan cara itu, buku yang kau tulis akan dibaca orang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 3 tahun, ucapan itu masih terekam kuat di otakku, jadi obor yang mampu menyalakan sisa ingatanku untuk menulis buku memoar. Jadi, dari obor itu aku lantas memberanikan menulis pengalamanku -berbagi pangalaman dan menularkan sepenggal perjuangan dalam merebut halaman koran. Dengan menulis itu, aku berharapa di kelak kemudian hari akan memberikan manfaat bagi orang lain. Jika tidak mampu memberi manfaat bagi orang lain, setidaknya aku sudah berusaha menjadikan diriku bermanfaat bagi istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang buku memoar yang aku tulis itu (berjudul Tidur Berbantal Buku) sudah selesai dan ada di salah satu penerbit di Jakarta. Dalam waktu dekat, buku itu pun akan terbit. Ini memang berkah dari suatu peristiwa, yang terangkum dari rentetan panjang berbagai kejadian, yang tidak terjadi secara kebetulan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6347464931252102127?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6347464931252102127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6347464931252102127' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6347464931252102127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6347464931252102127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2010/11/tulislah-buku-untuk-orang-lain.html' title='Tulislah Buku untuk Orang Lain...!'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TO9KaI1c3iI/AAAAAAAAB-4/HrBl9B2yqPw/s72-c/100_4283.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6545842071833236517</id><published>2010-10-18T10:14:00.007+07:00</published><updated>2010-10-18T10:30:28.126+07:00</updated><title type='text'>Kiswanti: Beribadah dengan Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TLu8HNPnDuI/AAAAAAAAB9g/QopozWS8w84/s1600/beribadah+dengan+buku_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 153px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TLu8HNPnDuI/AAAAAAAAB9g/QopozWS8w84/s200/beribadah+dengan+buku_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529219799527657186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;# tulisan ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hidayah&lt;/span&gt; ed 109/ Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keterbatasan ekonomi, ternyata tak menjadi penghalang bagi wanita yang dekat dengan buku ini berbuat kebaikan --menolong sesama. Justru, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan dan hanya mengenyam pendidikan SD, lahir perasaan keperpihakan. Ia tidak segan-segan merelakan koleksi buku yang ia miliki rusak karena dipinjam orang untuk dibaca. Ia bahkan senang buku-buku yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun itu dibaca orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak ada tujuan di balik kiprah mulia itu, selain ingin melakukan perubahan dan membangun kehidupan yang gemilang bagi masa depan anak-anak di Desa Pemagarsari, Parung dan sekitar dengan cara menanamkan gemar membaca. Perjuangan itulah yang diemban Kiswanti selama belasan tahun. Ia berjuang mengajak anak-anak dan warga di sekitar mencintai buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kiprah Kiswanti itu sudah menumbuhkan anak-anak di Parung sadar akan gemar membaca. Dari kiprah itulah, kini berdiri tempat belajar bagi anak-anak usia dini (PUD), SD, SMP dan SMA yang belajar di rumahnya. Buku koleksi yang ia kumpulkan bertahun-tahun pun sudah jadi taman bacaan Warabal. Tapi, di balik semua itu dulu ibu Kiswanti membangun dengan jerih payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Putus Sekolah, Tapi Gemar Membaca&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Lahir di sebuah kampung di Bantul, Yogyakarta –4 Desember 1965-- ia tergolong anak yang tak beruntung. Keinginan terus sekolah ternyata tak sebanding lurus dengan kondisi ekonomi keluarga. Ayah Kiswanti yang jadi penarik becak menghalangi Kiswanti kecil bisa sekolah tinggi. Meski demikian, sang ayah menanamkan jiwa membaca sejak Kiswanti usia 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak saya itu bukanlah orang yang setiap minggu atau setiap bulan dapat gaji, karena bapak saya itu penarik becak. Tapi bapak itu orang pertama yang mengenalkan saya gemar baca dan cinta buku. Saat saya berumur 5 atau 6 tahun, beliau menggunting huruf-huruf di koran kemudian mengajarkan bagaimana cara membaca dari guntingan huruf koran itu,” kisah Kiswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat teman-teman sebaya masuk SD, Kiswanti pun meminta sekolah. “Waktu itu yang membuat saya bertekat minta sekolah, karena waktu itu saya ingin masuk TV ikut cerdas cermat. Jika tidak sekolah, tidak mungkin ada kesempatan masuk TV. Itulah yang membuat saya gemar membaca…” kata Kiswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, cita-cita itu kandas. Bahkan setelah lulus SD, dengan getir ia mendengar permintaan maaf sang ayah. “Tahun 1980, saya lulus SD. Dengan berat ayah meminta maaf, karena tak bisa membiayai saya masuk SMP. Tapi ayah berpesan ‘Jika ingin pinter kau banyak-banyak baca buku. Pulang bekerja, bapak belikan buku atau koran bekas’,” kenang wanita yang henya sempat mengenyam pendidikan SD ini dengan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah tidak ingkar janji. Ia membelikan buku-buku buat Kiswanti dan meski tak melanjutkan sekolah SMP, minat Kiswanti pada buku tak pupus. Bahkan ia mulai mengoleksi buku. Akhirnya tahun 1987 ia merantau ke Jakarta -- bekerja jadi pembantu agar bisa beli buku. “Orangtua sempat melarang. Saya tak diijinkan. Di mata orangtua, semiskin-miskinnya kita, masih ada pekerjaan lain selain itu. Tapi, saya beralasan, itu pilihan aman dan lebih terlindungi. Di sisi lain, saya yang lulusan SD tak mungkin bisa kerja di pabrik. Kebetulan, niat awal kerja ke Jakarta itu untuk menambah koleksi buku, dan majikan saya kebetulan memiliki koleksi buku banyak. Saya sempat mengajukan untuk tak digaji dengan uang, melainkan dengan buku. Itu karena saya ingin menambah buku saya yang waktu itu sudah mencapai 1500 buku. Tetapi, majikan saya menolak dan tetap menggaji saya dengan uang,” kisah Kiswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan kemudian, Kiswanti pun menerima gaji. Sebagaimana niat awal kerja untuk menambah koleksi buku maka hasil kerja 3 bulan sebesar 120.000 ia belikan buku 95.000. Ia mendapat 45 judul buku. Dari situlah, ia terus mengoleksi buku dan jumlah buku yang ia miliki terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersepeda Onthel Meminjamkan Buku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sekitar tahun 1998, ibu Kurwanti pindah ke Parung. Waktu itu, Parung masih sepi tak jauh beda dengan suasana kampung halamannya. Tak sedikit anak-anak yang bermain kurang pengarahan, karena orangtua bekerja. Tapi yang lebih memprihatinkan di mata Kuswanti, ulah anak-anak usia 5-6 tahun tidak jarang saat berselisih —keluar umpatan yang comot dari isi kebun binatang, toilet dan bahkan kata-kata organ wanita yang seronok. Kuswanti mengelus dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak menyalahkan kenapa itu terjadi, tetapi saya berusaha mencari kenapa itu terjadi? Saya tak mungkin merubah itu seperti membalik telapak tangan. Maka, saya mengajak anak-anak itu bermain. Karena kebutuhan anak-anak itu bermain dan di saat bermain itu, mereka senang. Tapi kemudian saya menerapkan syarat-syarat bagi mereka yang ingin bermain dengan saya: tak boleh mengucap loe, guwa, isi kebon binatang, isi toilet. Ada beberapa peraturan seperti itu, dan saat mereka sudah terkondisikan dan senang, saya mulai memperkenalkan buku dengan cara saya bercerita. Tetapi, cerita dari buku bacaaan itu tidak saya selesaikan, karena saya ingin tahu; apakah ada minat baca dalam diri anak-anak itu?” ujar ibu Kiswanti –yang oleh anak-anak dipanggil Bude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan mengajak anak bermain juga menanamkan minat baca itu dijalani kurang lebih empat tahun. Setelah enam tahun warga dan di sekitar ibu Kuswanti tahu akan keberadaannya dan buku yang ia miliki, hal itu membuat ibu Kuswanti ingin keluar lebih jauh. Maka, niat mengajak orang-orang yang jauh pun menjadikan ibu Kuswanti harus keliling kampung dengan sepeda onthel seraya menjual jamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya ingin orang yang jauh dari saya tahu tentang keberadaan saya dan buku, maka saya mengayuh sepeda onthel menawarkan buku-buku saya untuk dipinjam dengan gratis. Kebetulan orangtua saya itu pedagang jamu dan saya hanya bisa meracik kunyit asem. Akhirnya saya keliling bersepeda menjual jamu dan menawarkan kepada orang-orang untuk membaca buku-buku yang saya bawa. Maka, setiap kali saya keliling itu, saya menawarkan jamu dan buku. Siapa yang ingin sehat minum jamu. Siapa yang ingin pintar baca buku. Uang dari kalian membeli jamu, bisa saya belikan buku baru dan kalian pinjam kembali. Itu satu-satunya jalan bagi saya untuk menambah koleksi buku saya,” kisah ibu Kiswanti saat masih keliling menawarkan pinjaman buku kepada warga Parung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warabal dan Tempat Belajar&lt;br /&gt;Kini, koleksi buku bisa dinikmati oleh warga Patung. Sebidang ruangan pun jadi Taman Bacaan yang diberi nama Warabal. Taman bacaan yang dirintis ibu Kuswanti ini pun tidak hanya jadi tempat anak-anak dan warga untuk meminjam buku, melainkan juga sekaligus jadi tempat belajar. Karena keterbatan ruang sedang animo masyarakat tak terbendung, tempat belajar pun kurang memadai. Bahkan ibu Kiswanti merelakan ruang tamunya untuk menjadi tempat belajar komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kiprah dan perjuangan tiada henti dari ibu Kiswanti. Dalam keterbatasan, ia tetap berjuang dan buku --harta berharga yang ia miliki tak segan-segan ia pinjamkan. “Saya mau sedekah uang tapi kebutuhan saya hanya cukup untuk kami sekeluarga, ingin sedekah senyum sedang saya dikasih wajah begini oleh Allah. Ya saya syukuri tapi belum tentu semua orang bisa menerima senyum saya meski saya berusaha tersenyum ikhlas. Sementara saya punya banyak buku, karena itu saya ingin mengajak mereka membaca buku-buku saya dengan gratis. Saya meminjamkan buku gratis bisa dimasukkan dalam kategori beribadah,” jelas Kiswanti ketika Hidayah bertanya tentang slogan “beribadah dengan buku” yang tertulis jelas di Warabal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah ibu Kiswanti tentu mengundang decak kagum. Kita patut berterima kasih. Apalagi jika di antara kita ada yang mau menyisihkan tenaga, pikiran dan materi untuk ikut membantu perjuangan Ibu Kiswanti ini. (n. mursidi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6545842071833236517?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6545842071833236517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6545842071833236517' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6545842071833236517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6545842071833236517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2010/10/kiswanti-beribadah-dengan-buku.html' title='Kiswanti: Beribadah dengan Buku'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TLu8HNPnDuI/AAAAAAAAB9g/QopozWS8w84/s72-c/beribadah+dengan+buku_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-184026360756947656</id><published>2010-03-02T21:02:00.007+07:00</published><updated>2010-03-02T21:10:52.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>surat dari surga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S40av9N2DUI/AAAAAAAABu4/i0qSa9z3Xb8/s1600-h/surat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 109px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S40av9N2DUI/AAAAAAAABu4/i0qSa9z3Xb8/s200/surat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444036935749602626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di koran &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/307214/"&gt;SEPUTAR INDONESIA&lt;/a&gt;, Minggu 28 Feb 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/1/&lt;br /&gt;SORE hampir gelap. Aku membuka pintu pagar rumah, seraya bernapas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu. Setibaku di depan rumah, sepulang dari bekerja, rasa letih seketika hilang saat aku berdiri di depan pintu pagar. Sejenak, aku biasanya melihat sekeliling sebelum bergegas menutup pintu pagar lalu memasuki rumahku dengan beringas. Sebuah rumah yang baru kutempati sebulan yang lalu setelah aku cicil dari sepertiga gajiku itu, ternyata selalu menantiku dengan setia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi petang ini aku merasakan beda. Jalanan lengang. Angin serasa tak berbisik. Dedaun di taman serasa menggigil dan kaku. Padahal, seharian tadi tidak turun hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menutup pintu pagar seraya mengedarkan mata. Tapi sebelum menghambur ke beranda, tiba-tiba sudut mataku melihat sebuah amplop putih terselip di kotak surat rumahku. Amplop itu nyaris jatuh, sepertiga bagiannya menyergapku segera melangkah dan menggerakan tanganku cepat-cepat memungutnya agar tak jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyempatkan waktu sejenak untuk membaca alamat pengirimnya dan aku nyaris pingsan setelah membaca halaman depan dan belakang surat itu. Tak ada alamat pengirim, hanya ada sepenggal namaku yang tertera di halaman depan surat, perangko kusam di ujung kiri atas amplop, dan juga stempel pos. Aku tidak ragu, surat itu dikirim seseorang yang sudah aku kenal dari kota kelahiranku, tapi sudah tak lagi aku lihat tiga tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku serasa berhenti berdegup, bahkan hampir rontok. Sepucuk surat itu membuatku seketika tersekap dalam ruang rumpil, terlipat dalam lorong waktu sampai-sampai aku lupa untuk segera membuka pintu dan bergegas memasuki rumahku. Aku termangu, disergap bingung. Bagaimana mungkin orang yang meninggal tiga tahun lalu bisa menulis sepucuk surat buat anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mengenali tulisan tangan ayahku, meski aku ragu jika surat itu ditulis oleh ayah dari surga. Aku tidak lupa, ayah sudah meninggal tiga tahun lalu. Aku memang tak sempat berbicara dengan ayah sebelum sakratul maut menjemput, meski aku masih menjumpai ayah terbaring kaku, tak sadarkan diri di rumah sakit sebelum maut datang menjemput. Lalu kabar apa yang akan beliau ceritakan kepadaku sampai harus menulis sepucuk surat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemariku seperti berlipatan, dan basah oleh keringat. Aku menelan ludah yang hampir kering dan masam. Selama beberapa saat sekujur tubuhku bergidik. Aku dilanda takut tetapi tetap aku putuskan untuk membukanya. Dan aku tak dapat membayangkan, berita apa yang ditulis ayah kepadaku. Bayanganku tentang sosok ayah yang terbaring lemas sebelum ajal itu menjemput justru membuatku lunglai. Aku hanya bisa menerka-nerka; apa salahku sampai-sampai beliau perlu menulis sepucuk surat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat saat ibu menelpon dan bercerita bahwa ayah terkena stroke dan terbaring di rumah sakit. Hari itu, aku langsung minta izin cuti dari kantor, buru-buru mengepak barang-barang dan bergegas ke terminal untuk pulang ke kampung. Tapi, aku benar-benar diburu waktu. Aku langsung ke rumah sakit kabupaten, dan tak langsung ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampaiku di rumah sakit, aku menjumpai ayah terbaring kaku. Aku sudah tak sempat mendengar pesan terakhir dari beliau. Ayah koma, tak bisa buka mulut, matanya terpejam dan empat hari kemudian maut memisahkan kami. Aku duduk lemas, merasa berdosa. Aku dicekam rasa bersalah, karena tidak mampu memindahkan ayah ke rumah sakit propinsi ketika dokter memvonis ayah tidak bisa ditolong lagi dengan alasan bahwa peralatan medis di rumah sakit kabupaten tidak memadai. Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika mendengar vonis dokter itu menelusup ke daun telingaku. Secuil rasa bersalah itulah yang sampai sekarang ini masih kupikul, membuat dadaku serasa sesak jika aku mengingat kematian ayah tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ayah masih belum bisa memaafkan kesalahanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdegup kencang. Dadaku kembali serasa sesak. Aku menarik napas panjang, merobek pinggiran amplop. Surat itu tak panjang, ditulis tangan menggunakan polpoin berwarna biru dengan bahasa yang cukup sederhana. Sebuah surat yang ditulis tanpa tanggal, mungkin ayah menulisnya dengan tangan gemetar di atas secarik kertas yang disobek dengan buru-buru dari buku tulis anak sekolah dasar, yang kuyakini buku tulis milikku dulu yang sempat disimpan ayah dengan baik sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Ayah tidak ragu, kamu besok akan meraih gelar sarjana dan bisa mendapatkan pekerjaan layak seperti yang kauimpikan. Ayah tak ragu itu! Sejak kau pergi dari rumah melanjutkan kuliah, ayah selalu membayangkan malam-malam yang menggelisahkan, saat kamu mengerjakan pekerjaan rumah dengan teliti, tidak pernah mau menyerah. Itu yang membuat ayah yakin. Tetapi, ayah cuma tidak yakin satu hal; apakah kamu besok akan ingat rumah dan mau pulang setelah jadi orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Ayahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa benar surat itu dikirim ayah dari surga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secarik kertas dalam surat itu tiba-tiba terhempas dari tanganku. Aku yakin, itu tulisan tangan ayah. Aku tak ragu. Keringat dingin seperti membasahi telapak tanganku, mengalirkan hawa dingin yang membuatku bergidik takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;MEMANG, tak sekali ini aku menerima surat dari ayah. Dulu, sewaktu aku masih kuliah, ayah pun sering berkirim surat. Apalagi sejak ayah jatuh sakit, tatkala sudah tak kuat lagi membanting tulang untuk kerja mencari uang untuk mengirimiku uang kuliah. Aku pikir karena deraan rasa bersalah setelah tak mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang, ayah lantas menulis surat buat anaknya, termasuk buatku yang waktu itu baru memasuki tahun pertama kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menyangka ayah akan ambruk diserang stroke justru ketika aku belum lulus kuliah, dan masih membutuhkan banyak biaya. Aku masih ingat surat yang ditulis ayah di secarik kertas bekas obat nyamuk bakar yang kusam dan berdebu. Sepucuk surat yang dititipkan ayah melalui teman kuliahku itu justru membuatku hampir limbung dan nyaris putus asa. Bagaimana aku tak limbung jika di awal bulan biasanya ayah mengirim surat disertai uang, justru di surat ayah itu, aku hanya menjumpai secarik kertas belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Anakku, bagaimana kabarmu? Semoga dalam keadaan sehat.&lt;br /&gt;Ayah minta maaf, bulan ini tak bisa mengirimi uang. Ayah hanya minta, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Ayah sudah tua, juga diserang sakit. Ayah yakin, kau pasti bisa! Ayah mengenalmu, kau anak yang tak mudah menyerah. Ayah hanya tak ingin kau lupa mengerjakan shalat. Itu saja!&lt;br /&gt;Selanjutnya, ayah hanya berharap. Usai shalat, kamu mau berdoa agar kesehatan ayah segera pulih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;Ayahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat yang ditulis oleh ayah di atas secarik kertas obat nyamuk bakar kusam itu langsung membuatku menitikkan air mata. Tak pernah aku menangis untuk ayah, tetapi kali ini, air mataku seperti menjebol tanggul kelopak mataku. Aku bahkan tidak mampu membendung. Air mataku bercucuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak aku jauh dari rumah, surat itu adalah surat pertama yang ditulis oleh ayah buatku. Aku kira di bulan berikutnya ayah sudah pulih, dan sembuh dari sakit sehingga bisa mengirimiku uang kembali sebagaimana biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi harapanku itu tak pernah terjadi! Sejak surat pertama yang menyedihkan itu, bulan-bulan berikutnya aku menerima surat ayah dengan tulisan yang susah kubaca dan lebih tragis lagi: tak disertai kiriman uang. Sepucuk surat yang selalu kuterima pada awal bulan dengan sedih, bukan karena aku tidak bisa mencari uang, tapi semata-mata karena aku tidak tega mendengar kabar ayah semakin tidak berdaya diserang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung, sejak ayah sakit, aku mampu mencari uang sendiri. Bisa jadi, itu berkat do`a ayah yang membuatku tak kesulitan mendapatkan pekerjaan paruh waktu sebagai desainer grafis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;TAK ingin lama berdiri di pintu pagar disergap rasa takut, aku segera memungut surat ayah yang terjatuh dari tanganku, kemudian aku bergegas memasuki rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari hampir gelap. Aku segera menyalakan lampu setelah memasuki rumah. Lalu aku cari-cari album keluargaku. Masih kuingat, di album itulah dulu aku menyimpan surat terakhir yang ditulis ayah buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setelah almari kamar, laci, rak buku dan seluruh ruangan, aku obrak-abrik, ternyata tidak aku temukan album yang menyimpan foto ayah dan surat terakhir beliau. Aku disergap gugup, juga bergidik. Siapakah yang telah mencuri surat terakhir ayah dari rumahku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mondar-mandir, mengelilingi setiap ruangan. Bingung. Bimbang. Ragu juga dilanda takut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;AKU menerima surat terakhir dari ayahku yang dikirim buatku pada hari yang cukup menentramkan saat aku diwisuda. Di hari wisudaku itu, sebenarnya aku berharap ayah akan datang ditemani oleh bunda. Karena waktu itu, ayah tidak lagi sakit, meski masih belum mampu bekerja kembali. Tapi, yang tiba mengiringi wisudaku adalah surat terakhir ayah yang membuatku ditikam sedih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Anakku, ayahmu bangga padamu karena akhirnya kamu bisa lulus, dan diwisuda. Sayang, ayahmu tak kuat untuk datang pada hari yang membahagiakan itu. Ayah hanya berharap, kamu cepat mendapat kerja! Ayah bangga kamu terlahir sebagai anak yang tak mudah menyerah, meski didera nasib getir dan kehidupan yang pahit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berjuang,&lt;br /&gt;Ayahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedih, tepat di hari yang cukup membahagiakan itu! Di saat teman-temanku memakai toga dengan sungging senyum dikelilingi segenap keluarga bisa mengabadikan kenangan kelulusan itu melalui sudut kamera. Tetapi, aku hanya berpangku tangan. Tak merasa ada orang dekat yang mendampingiku. Aku tak jadi ikut wisuda, langsung pergi dari aula kampus dan pulang ke kontrakan: mengepak pakaian, lantas pulang ke rumah. Aku ingin menjenguk ayah. Aku ingin mempersembahkan baktiku, gelar sarjanaku yang baru aku raih dengan susah payah itu buat ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/5/&lt;br /&gt;MESKI seluruh isi rumah sudah berantakan, karena aku obrak-abrik, tetap saja surat terakhir dari ayah itu tidak berhasil aku temukan. Di mana surat itu aku simpan? Padahal, selama ini aku tidak pernah lupa menyimpan surat kenangan yang pernah aku terima bahkan surat terakhir dari ayah itu. Seingatku, surat dari ayah itu kusimpan rapi di almari. Tetapi bagaimana bisa surat terakhir ayah itu, kini tak ada di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengedarkan pandangan ke segala arah. Semua buku berceceran. Nyaris semua pakaianku tumpah dari almari. Tapi surat itu tak juga aku temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa aku lupa kalau surat dari ayah itu sudah kubawa pulang ke kampung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraih gagang telepon. Sejurus kemudian, kudengar suara ibu di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda, ini Wahyu. Gimana kabar bunda?" tanyaku, gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, kau sudah sampai mana? Berapa jam lagi sampai di rumah?" tanya bunda, membuatku terpana. Aku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda... aku masih di Jakarta. Aku menelepon bunda karena ingin menanyakan sesuatu. Apa bunda tahu surat..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kau ini gimana? Seluruh keluarga di rumah sudah menunggumu, tapi kau belum juga tiba di sini?" potong bunda tanpa menungguku selesai bicara soal surat ayah yang membuatku pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah seminggu lalu bunda sudah menelponmu? Apa kamu lupa, kalau hari ini seribu hari meninggalnya ayahmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg!!! Jantungku berdegup. Gagang telepon yang kupegang nyaris jatuh. Adzan maghrib yang menggema dari masjid komplek perumahan, serasa membuatku bergidik. Jantungku nyaris copot. Mataku berkunang-kunang. Aku termangu, "Apakah surat itu benar-benar dikirim ayah dari surga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku gemetar, dan aku terhuyung jatuh.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasem - Jakarta, Feb 2007 – Feb 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-184026360756947656?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/184026360756947656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=184026360756947656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/184026360756947656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/184026360756947656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2010/03/surat-dari-surga.html' title='surat dari surga'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S40av9N2DUI/AAAAAAAABu4/i0qSa9z3Xb8/s72-c/surat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-2943165292483599452</id><published>2010-02-02T23:50:00.002+07:00</published><updated>2011-08-26T10:26:17.588+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>justine</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SFfrYIJqG4I/AAAAAAAAA3s/1tarvnrRkOw/s1600-h/perempuan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 107px; height: 170px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SFfrYIJqG4I/AAAAAAAAA3s/1tarvnrRkOw/s200/perempuan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212893893442018178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;/1/&lt;br /&gt;AKU tak mengenal perempuan itu, kecuali hanya sepenggal namanya. Justine. Sebuah nama yang melankolis. Tapi, tak pernah kusangka kalau pemilik nama itu ternyata seonggok tubuh perempuan yang menyimpan duka lara dan kabut malam. Mirip jerit parade jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang --yang harus menerima kutukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu? Aku merasa tidak pernah mengenalnya. Ia serupa hantu. Aku hanya mendengar jeritnya, tetapi tidak pernah melihat wajahnya. Kami -aku dan dia- tidak pernah bertemu. Tak pernah berpapasan di jalan. Apalagi, jalan bareng berdua atau kencan. Aku hanya tahu, dia seorang perempuan yang terluka dari serak suaranya saat pertama kali dia menelponku di siang yang bolong.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu tahun sejak dia menelpolku di siang bolong itu, yang tak pernah aku ingat lagi, tiba-tiba kudengar sebuah kabar mengejutkan. Dia bunuh diri menelan sepuluh pil penenang yang membuatnya terkapar tak berdaya. Empat orang satpam yang berjaga malam di sebuah taman rekreasi lantas membawanya ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang mengira, malam itu ia akan meninggal dunia. Tutup usia di usia muda. Tapi, diam-diam aku mengharap kehidupan menghampirinya. Doaku, tak terhalang langit. Dia masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada, mendengar ia bisa bernapas lagi. Sayang, empat satpam yang menyelamatkannya dan seorang dokter yang menolongnya tak pernah tahu alasan perempuan itu mengakhiri hidup lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;TAK kudengar lagi, kabar tentang perempuan malang itu setelah ia bisa menghirup udara segar. Ia hilang seperti ditelan bumi. Telpon kantor tak lagi berdering dan tak kudengar lagi suara seraknya di siang bolong seperti biasa. Aku pikir, ia sudah lupa dengan lelaki yang pernah dicintainya. Tapi, sebulan kemudian sebuah kabar mengejutkan bak menempelak telingaku, karena ia membuat geger di kantorku. Perempuan itu telah mengirim sepucuk surat kepada pimpinan kantorku dan mengadukan kalau dia telah diperkosa lelaki yang dicintainya. Ia mengaku telah dikhianati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa petir di siang bolong, laki-laki yang dicintainya yang bekerja sebagai sopir di kantorku, kemudian diskorsing. Kami semua, tidak pernah tahu apa yang dilakukan keduanya karena lelaki itu tak pernah membuka mulut. Dalam hati, kami diam-diam menuding lelaki itu sebagai bajingan. Dan, setelah sopir itu dijatuhi hukuman, tak ada surat lagi yang membuat geger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tak lama kemudian, pekak telpon kantorku kembali berdering. Perempuan itu kembali menelponku di siang bolong, mengganggu deadline kerjaku yang tinggal hitungan jam menjadi terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;DI SIANG yang bolong itu, dia menelponku bukan untuk pertama kalinya. Sebelumnya aku pernah menerima telpon darinya setelah lelaki yang dicintainya --sebelum ia menjalin cinta dengan sopir di kantor kami--, tak ada di tempat. Tapi jawabanku yang jujur ternyata tak membuatnya percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti kau bohong!" tuduhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, aku gundah. Kalau saja, perempuan itu ada di depanku, pasti ia akan kutampar! Gagang telpon langsung kututup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, aku membatin. Pantas saja, semua staf menghindar kalau ia menelpon ke kantor meski dengan alasan mau konsultasi. Tapi entah kenapa esok harinya, aku merasa kasihan dan kuterima telponnya kembali, tatkala laki-laki yang dicintainya, tak ada di tempat. Selalu, selalu digelayuti kasihan ketika aku membiarkannya merana. Tetapi rasa kasihanku, kelak ternyata kusadari jika aku justru dibohonginya dengan alasan sekadar mau berkonsultasi. Padahal, aku sudah terlanjur merelakan nomor hp-ku untuk dicatatnya, sehingga ia akan bisa leluasa menelponku bahkan menggangguku untuk mengungkapkan kekecewaan setelah ia dikhianati kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku memang tidak mengenalnya, kecuali hanya sepenggal namanya. Bahkan sampai kini, aku tidak pernah tahu; siapa nama aslinya, bahkan di mana tempat tinggalnya. Ia seperti hantu. Suatu pagi menelponku dengan nomor kartu mentari, dan esoknya bisa menelpon dengan kartu simpati. Habis menelponku, ia membuangnya. Karena setelah itu aku tahu nomor yang kemarin dipakai, ternyata tak aktif lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak pernah jujur dan selalu mengelak saat kutanya tentang lelaki yang dia cintai. Tapi, ketika ia dikhianati mantan kekasihnya, ia marah-marah kepadaku, seolah-olah aku merupakan tong sampang dari sebuah kekesalan. Juga, dia tak pernah jujur dalam semua hal. Aku dibuatnya seperti tidak mengenalnya meski hanya sekadar sepotong warna dari karakternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari, ia mengaku padaku memiliki sebuah rumah di komplek perumahan elit. Di hari lain, ia mengaku pernah kerja di KJRI, lalu aku harus membencinya karena ia membuatku linglung setelah ia berjanji akan meminjamiku uang yang ternyata tak pernah menjadi kenyataan. Aku yang saat itu lagi butuh uang untuk biaya operasi ibuku, berusaha menghubungi semua no. hp yang pernah ia berikan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semuanya tak aktif. Sejak itulah, aku membencinya setengah mati karena aku harus menerima tuduhan ibuku sebagai anak yang tak pernah berbakti pada orangtuaku.&lt;br /&gt;Aku membencinya, karena ia tak pernah jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;IA tak pernah jujur ketika bercerita kepadaku tentang siapa laki-laki yang dia cintai. Tetapi, aku sebenarnya tahu siapa lelaki yang ia cintai. Tak sulit buatku untuk tahu lantaran dia nyaris setiap hari menelpon kantor kami, mencari lelaki yang dia cintai, kemudian mengajaknya bercengkrama berjam-jam. Pantas, dering telepon kantor kami tak pernah sepi dari serak suara perempuan malang itu yang membahana kencang dan kadang jadi bahan tertawaan antara kami yang sedang sibuk kerja dikejar deadline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris semua staf di kantor kami pernah menerima teleponnya yang awal mulanya memang menanggapi keluhan perempuan malang itu yang ingin konsultasi. Tapi, lambat laun semua staf tak mau lagi disibukkan dengan urusan satu orang yang tidak jelas itu. Apalagi ia sering menelpon hingga merepotkan dan alasan konsultasi pun kemudian oleh semua staf diketahui, tidak lebih sekadar alasan saja atau iseng belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, kalau hampir semua staf di kantor lantas menuduh perempuan itu mengidap gangguan jiwa. Lalu, beredarlah kabar miring bahwa perempuan itu sudah gila lantaran tak kuat menanggung depresi akibat kedua orangtuanya yang bercerai. Dan, karena bicaranya nyaris ngelantur, akhirnya tidak ada yang mau menerima telepon-nya lagi, kecuali mungkin office boy yang menginap di kantor kami ketika semua staf di kantor harus pulang ke rumah pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/5/&lt;br /&gt;AKU tak pernah menghukum perempuan malang itu mengidap gangguan jiwa. Meski semua staf di kantor menuduhnya gila, aku masih membelanya. Tapi, sejak dia kerap meneleponku dan aku rupanya telah ceroboh memberikan no hp-ku, kini aku ditikam rasa aneh. Apalagi dari cerita-cerita yang pernah aku dengar dari staf yang pernah jadi pujaan hatinya, aku tahu jika ia kerap menelpon kelewat batas sampai berjam-jam. Tak peduli, tagihan rekening rumah orangtuanya harus melambung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, orangtua perempuan itu tak tahu lonjakan tagihan telpon bisa membengkak sampai setinggi langit. Tapi setelah diselidiki, kedua orangtuanya akhirnya tahu. Tak ada prolog untuk sebuah basa-basi murahan, telpon di rumah perempuan itu pun ditutup oleh orangtunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/6/&lt;br /&gt;SETELAH aku mendengar kabar telepon di rumah orangtuanya ditutup, aku tak lagi mendengar dering telpon di kantor kami. Juga, dering hp-ku kala pagi buta, atau siang yang bolong untuk mendengarkan keluh kesahnya yang tidak ada habisnya. Aku kembali hidup tenang. Tidur di balik selimut tebal, lalu bangun kesiangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tidak lebih dari tiga bulan kemudian, aku tiba-tiba mendengar kabar mengejutkan. Perempuan malang itu, kudengar telah menikah dengan lelaki yang bekerja sebagai office boy di kantor kami. Padahal, office boy di kantor kami sudah beristri dan punya tiga anak. Perempuan malang itu telah dijadikan istri kedua. Semua staf di kantor kami, tak henti-henti menggunjingnya karena perempuan malang itu dianggap tak waras. Aku hanya mengelus dada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aneh! Bisa-bisanya, perempuan itu menikah dengan seorang office boy? Tidak jadi soal, kalau dia tak jadi istri kedua, tapi ini telah merusak rumah tangga orang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang dicari perempuan gila itu? Dasar perempuan gatel!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menutup telinga. Tak kudengar gunjingan murahan itu, tak kudengar pula apa alasan perempuan malang itu mau dijadikan istri kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu minggu gunjingan itu berlangsung. Selang itu kantor kami kembali tenang. Semua staf sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk bahkan nyaris tak ada waktu untuk bercanda atau bergurau. Hingga dua bulan kemudian, berita tidak sedap kembali kudengar, tatkala seorang pengurus masjid di dekat kantor kami tiba-tiba datang ke kantor, dan ingin bertemu dengan Junaedi, office boy di kantor kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua staf di kantor saling pandang, juga menebak-nebak tentang kabar apa yang akan dibawa pengurus masjid itu sampai-sampai dia mencari office boy kantor kami. Junaedi, lelaki yang bekerja jadi office boy di kantor kami lalu keluar dari dapur, kemudian menyambutnya dengan ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohon Anda segera datang ke rumah sakit! Karena, istri Anda sekarang sedang dirawat setelah pagi tadi mencoba bunuh diri di masjid!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Jantungku berdegup, nyaris tak percaya dengan apa yang kudengar. Kami hanya saling pandang, terperanjak kaget, tidak percaya perempuan malang itu nekat menelan beberapa butir pil penenang kembali untuk mengakhiri hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/7/&lt;br /&gt;Siang itu, semua orang mengira ia meninggal dunia. Tutup usia di usia muda. Tapi, aku berdoa untuk terakhir kalinya buat perempuan itu. Apalagi, di tengah kecemasan itu tersebar desas-desus bahwa suaminya yang bekerja sebagai office boy di kantor kami telah menceraikannya setelah ia tak kuat menanggung kegilaan perempuan malang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doaku ternyata tidak terhalang langit. Setelah aku sampai di rumahku, sepulang dari kantor, aku mendapat kabar bahwa perempuan malang itu, ternyata masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada. Karena, semua orang tahu alasan perempuan itu mengakhiri hidup, karena cintanya bertepuk sebelah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justine, nama perempuan malang itu. Aku tidak mengenalnya lebih jauh, kecuali hanya tahu sepenggal namanya. Sebuah nama yang melankolis. Tetapi tak kusangka jika pemilik nama itu adalah seonggok tubuh perempuan yang menyimpan kabut duka diselimuti kegelapan malam. Mirip serak jerit jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang yang harus menerima sebuah kutukan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, 02/02/08 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-2943165292483599452?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/2943165292483599452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=2943165292483599452' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/2943165292483599452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/2943165292483599452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/06/justine.html' title='justine'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SFfrYIJqG4I/AAAAAAAAA3s/1tarvnrRkOw/s72-c/perempuan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6667411479652826299</id><published>2010-01-31T12:41:00.000+07:00</published><updated>2010-03-19T01:21:06.419+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>ayah dimakamkan lagi...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S432wXguJ6I/AAAAAAAABvA/7pIcPRpC_eI/s1600-h/pemakaman.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 112px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S432wXguJ6I/AAAAAAAABvA/7pIcPRpC_eI/s200/pemakaman.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444278835366209442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TRIBUN JABAR&lt;/span&gt; [Minggu, 31 Jan 2010]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIANG yang kelabu. Aku tiba di kotaku. Sebuah kota yang nyaris tidak lagi memikatku untuk memiliki kerinduan menginjakkan kaki di beranda rumah sejak ayah meninggal tiga tahun yang lalu. Tapi kini aku kembali menginjakkan kaki di kota ini --kota yang hampir tiga tahun tak pernah aku kunjungi sejak aku pindah kerja ke kota seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun aku tak pulang. Kini, aku sudah menebus dosaku. Jadi, tidak ada dusta lagi, aku pulang ke kota ini setelah sekian lama hanya uang kirimanku yang menjenguk tangan bunda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Turun dari bus tepat di gang kecil menuju rumah, aku termangu menatap lorong panjang yang lengang. Tak seperti kepulanganku waktu masih kecil dulu ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Siang ini, aku merasa kelengangan ini mengabarkan berita petaka. Angin yang aku hirup seperti menguarkan aroma duka. Aku menatap sekeliling, dan aku merasa ditikam cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kerinduanku setelah lama tak bertemu ibu seakan menyeretku serupa orang asing di kampung sendiri. Aku merasa seperti seorang tamu yang akan bertandang ke rumahku, bukan seorang anak yang pulang ingin bertemu ibunya. Kakiku gemetar, tatkala aku melangkah dengan ragu melewati gapura di mulut gang mungil ke arah rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada anak-anak kecil berseragam merah putih sepulang sekolah atau bermain kelereng di sepanjang lorong. Angin membisu. Kakiku kaku. Padahal, aku ditikam kerinduan untuk segera memeluk bunda. Tetapi, belum jauh aku melangkah memasuki gang, tiba-tiba kulihat bendera putih tertancam di dekat gapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin kembali bertiup, mengibarkan kain di tiang bambu. Aku disergap gelisah. Aku tak tahu siapa yang meninggal dunia. Karena tak ada berita duka di papan pengumunan yang biasanya ditulis di dekat gapura. Aku berhenti, ragu untuk berjalan lebih jauh. Langkahku seperti tercekat, dan berat untuk kuajak pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat, aku mendengar langkah kaki iring-iringan orang. Tidak lama kemudian, muncul keranda yang ditutup dengan kain hijau dan diusung empat orang menyusuri lorong. Di belakang keranda, tiga orang berjalan mengikuti dengan muka tertunduk, ditikam sedih. Tidak jelas pandanganku, ketika aku menatap para pengusung keranda. Juga tiga orang yang ada di belakang. Aku berdiri mematung, menatap iring-iringan yang mengusung keranda semakin berjalan mendekat ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika iring-iringan pengusung keranda hampir dekat, aku nyaris tak percaya. Aku seketika terperanjak kaget. Tiga orang pengiring di belakang keranda tidak lain adalah ustadz Mukhtar, kakakku dan adikku. Iring-iringan pengantar jenazah berjalan cepat. Ketika melintas tepat di depanku, aku termangu. Orang-orang itu seperti tidak mengenalku. Kakakku diam. Adikku tak menoleh ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari mengejar iring-iringan itu dan berteriak, "Siapakah yang meninggal dunia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau ini aneh! Ayahmu sendiri yang meninggal, tapi kau justru tidak tahu," jawab kakakku marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergeragap. Jantungku membeku. "Jangan bercanda, kak! Ayah kan sudah meninggal tiga tahun lalu. Tak mungkin ayah meninggal dan dimakamkan lagi...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakakku diam. Adikku tidak menoleh ke arahku. Aku bingung. Tidak ada jawaban, aku memutuskan untuk mengikuti iring-iringan para pengantar jenazah. Anehnya, tak satu pun yang mengajakku bicara, seolah aku orang asing yang tidak pernah mereka kenal. Semua diam, seakan mereka sekumpulan orang bisu yang lagi dirundung sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, iring-iringan pengantar jenazah itu tiba di pemakaman. Keranda diturunkan. Jenazah yang sejak tadi telantar di balik keranda, segera dikeluarkan. Tak ada geledak. Tak ada petir. Jenazah yang konon jasad ayahku itu digeletakkan di tepian kubur dan tak segera dimakamkan. Tak ada orang, termasuk kakakku dan adikku yang merasa berhak untuk segera memakamkan jenazah ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termangu, menatap kejanggalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu termangu?" tanya salah satu dari pengusung jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tak segera dikuburkan?" balasku, merasa aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu itu tahu apa tentang prosesi pemakaman? Kini, carilah beberapa kancing baju agar ayahmu bisa segera dikuburkan!" perintah pengantar jenazah lain dengan muka cemberut dan murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa dengan kancing baju segala?" bentakku, tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Turutilah perintah itu supaya mereka segera memakamkan ayahmu!" ucap ustadz Mukhtar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata ustadz berwarna biru, membuatku tak kuasa membantah. Aku segera berlari meninggalkan pemakaman. Tak tahu harus mencari kancing baju ke mana, aku hanya berlari sepanjang jalan, tidak jelas arah. Sepanjang jalan yang kulintasi, sepenuhnya bentangan tanah kosong. Tak kutemukan toko. Tak kulihat pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berlari tak tentu arah, kakiku jadi lemas. Aku berhenti, menarik napas. Keringat mengucur. Terik mentari yang tadi menyengat, tiba-tiba berubah mendung. Langit kelam dan hujan turun. Aku berlari kembali, mencari tempat untuk berteduh. Untung kutemukan sebuah rumah di tepi sawah. Aku berteduh di teras rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bajuku basah. Aku mengibaskan rambutku biar segera kering dan agar kepalaku tak pening. Tapi, belum sempat aku merasa tenang, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan muncul seorang tua yang kuyakini sebagai pemilik rumah itu. Mata orang itu, kulihat teduh saat memintaku untuk masuk. Rupanya orang itu seorang penjahit. Kulihat mesin jahit tua yang teronggok di sudut ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seketika ingat ayah, yang memang bekerja sebagai penjahit. Kini aku sadar kenapa para pengantar jenazah itu memintaku mencari kancing baju. Aku tahu, kancing baju itu pasti untuk merekatkan kain kafan agar bisa melilit di jasad ayah dengan rapat, dikancingkan pada setiap sisi dengan sisi kafan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf pak, aku butuh kancing baju. Sekiranya bapak memiliki beberapa kancing, aku harap bapak tak keberatan aku membeli beberapa biji!" pintaku, ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu melihatku, ragu. Matanya bening, serupa telaga. "Tak usah membeli! Jika memang kau butuh, ambillah di kaleng dekat mesin jahit itu!" jawabnya seraya menuding ke arah mesin tua yang teronggok. "Aku tahu kau lagi butuh kancing itu untuk menebus dosamu!" lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlonjak kaget. Bagaimana mungkin bapak tua penjahit ini tahu dosaku pada ayah. Tapi aku tak peduli. Aku butuh kancing baju itu. Aku melangkah menuju mesin jahit, memilih kancing baju yang seragam. Kuambil sembilan buah, lalu aku segera pamit untuk pergi. Aku tak ingin ayah tergeletak, tak terurus di tepian makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betapa terkejutnya, saat keluar dari rumah penjahit itu, aku berpapasan dengan para pengusung jenazah ayah, termasuk kakakku, adikku dan ustadz Mukhtar yang ternyata sudah pulang dari pemakaman. Aku berdiri, heran. Menatap mereka dengan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayahmu sudah dimakamkan, kini pulanglah! Ibumu sedang menunggumu di rumah. Dia diliputi kesedihan karena kau sudah lama tak pulang!" pinta salah seorang dari pengantar jenazah ayah dengan sorot mata merah menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku sakit. Aku merasa ditipu. Bagaimana bisa aku dibiarkan tak mengikuti prosesi pemakaman ayah justru diminta mencari kancing yang ternyata tak terpakai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memukul mereka semua. Tetapi, aku ternyata tidak memiliki tenaga lagi. Mataku kabur. Kulihat semua berubah gelap. Bahkan setelah aku tiba di rumah, semua tampak gelap. Sosok kakakku bagai bayangan hitam, berdiri kaget waktu melihat kedatanganku di ambang pintu. Adikku tak kalah kaget. Sementara itu, wajah ibu kulihat gelap. Ia duduk di kursi, mematung serupa arca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku masih bisa melihat semua meski dengan samar. Maka, aku bersimpuh di kaki ibu. "Maafkan aku, bu! Aku pulang terlambat dan tak bisa mengikuti prosesi pemakaman ayah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu termangu, menatapku heran. "Kau ini ngomong apa? Sudah tiga tahun tak pulang, tapi begitu tiba di rumah ngomongmu ngelantur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah ayah baru saja dimakamkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu berdiri, menatap ke arah halaman seraya berkata pendek, "Ayahmu sudah meninggal tiga tahun lalu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri, menatap halaman. Tak ada bekas jejak kursi yang ditata untuk pelayat. Tidak ada terpal digelar di pelataran. Tidak ada aroma duka. Aku berpaling. Kulihat, kakak menatapku heran. Adikku nanar melihatku. Dan ibu berkata, "Kau masih waras khan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manatap ibu dengan pandangan ganjil. Ingatanku bagai tercerabut dari labirin waktu bagai gelombang yang datang tak terduga dan aku tiba-tiba merasa kenangan di masa laluku terburai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menatapku. Aku masih membisu, berdiri kaku. Keringat membasahi punggungku dan bajuku. Aku menengok jam dinding. Pukul tiga sore. Adzan ashar berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamat-lamat, aku kembali bisa mengingat ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Condet, 2007-2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6667411479652826299?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6667411479652826299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6667411479652826299' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6667411479652826299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6667411479652826299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2010/03/ayah-dimakamkan-lagi.html' title='ayah dimakamkan lagi...'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S432wXguJ6I/AAAAAAAABvA/7pIcPRpC_eI/s72-c/pemakaman.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-288210617228136589</id><published>2010-01-16T22:07:00.006+07:00</published><updated>2010-03-02T21:09:51.171+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>bunga dendam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SBc6VnWc_gI/AAAAAAAAAxA/WH4c3gV4Jb8/s1600-h/292694.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194684838209977858" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 231px; cursor: pointer; height: 156px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SBc6VnWc_gI/AAAAAAAAAxA/WH4c3gV4Jb8/s320/292694.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di koran &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Minggu Pagi&lt;/span&gt; [edisi 17 Jan 2010]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/1/&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HAMPIR satu tahun, aku menunggu ajalnya tiba. Aku tinggal menunggu purnama, tatkala bulan menyembul dari balik semak-semak di kaki bukit, lalu memancarkan cahaya terang. Saat itulah, aku menyembul dari balik malam; untuk membalas dendam. Aku menyibak keremangan malam yang meruncing, tertatih-tatih menerabas masuk ke rumahnya dengan hanya membawa sebilah belati. Setelah berjalan bersijingkat ke kamarnya lantas kusibak kelambu tipis ranjangnya yang tak berderit, maka aku akan menemui lelaki itu tengah tertidur pulas. Dengan cepat, aku akan menikam ulu hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah segar membuncah mengotori sebagian tanganku. Aku lihat lelaki itu mengejang-ngejang kesakitan dan meronta-ronta lantaran ditikam pedih kematian, sebelum ia tidak bergerak, beku, dan kaku. Sudah lama kunanti kematian mantan suamiku untuk mengobati penderitaanku, setelah dia pergi meninggalkanku kembali ke pangkuan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kucabut belati dari tubuh mantan suamiku, lalu aku berjalan gontai keluar kamar. Di bawah cahaya bulan purnama, aku menarik napas panjang. Dendamku sudah terbalas. Kini, aku tidak perduli lagi apa yang akan terjadi. Aku akan pergi ke kantor polisi atau memilih jalan lain; bunuh diri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berjalan mencari kantor polisi itu, malam makin gelap. Aku terus berjalan menelusuri jalan dan kakiku seperti hampir patah. Aku masih ingat tatkala aku tiba-tiba terhuyung jatuh, dan kemudian tak sadarkan diri. Langit gelap. Malam masih meruncing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;PAGI itu, aku bangun. Setengah sadar, aku lihat sosok tiga perawat mengelilingiku. Kakiku diikat, tanganku ditusuk jarum. Meski penglihatanku samar-samar, aku dapat menebak; aku berada di rumah sakit jiwa. Ah..., belum mati juga aku? Lalu, siapa yang membawaku ke rumah sakit? Bukankah semalam aku berjalan mencari kantor polisi terdekat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satup-sayup, kudengar suara seorang wanita tengah berbicara dengan seorang dokter. Wanita itu berdiri membelakangiku. Persis disampingnya, kulihat mantan suamiku berdiri. Aku tak tahu apa yang dibicarakan tapi samar-samar, kudengar ia menyebut diriku telah mengganggu rumah tangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka mataku, kulihat mantan suamiku. Ia tak melihatku, apalagi mendekat ke arahku untuk membelai rambutku, terlebih membantuku keluar dari rumah sakit. Jantungku sesak, hatiku terkoyak. Tapi aku berusaha tersenyum saat orang di sekeliling menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, perawat membantuku bangkit, karena aku sudah bisa pulang. Aku berusaha berdiri dan berjalan keluar ruangan. Sesampai di luar, kucari mantan suamiku. Aku edarkan mataku, dan kutemukan ia berdiri di tepi jalan tengah menunggu angkot. Aku mendekatinya. Sesampai di tepi jalan, sebuah angkot berhenti. Aku ikut naik bersamanya duduk di pojok. Angkot melaju, aku merasa diterkam dingin ketika angin menerabas masuk melalui jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Mantan suamiku diam, dan istrinya tidak menoleh ke arahku. Angkot terus melaju, sesekali berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang. Saat angkot itu melintasi kantor polisi aku meminta sopir angkut itu berhenti. Mantan suamiku mencegah, tapi aku menepis cengkraman tangannya seraya mengancam akan berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam, dan membiarkanku turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah angkot melaju, kumasuki kantor polisi. Aku lihat orang yang berjaga semalam sudah berganti sift tak lagi seorang yang menerimaku. Maka aku bukannya mendapat bantuan malah disambut dengan interograsi. Aku lemas. Setengah jam kemudian aku keluar, memendam kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan sempoyongan, aku pergi ke rumah teman mantan suamiku mengharap pertolongan, agar mantan suamiku kembali ke pangkuanku. Di pintu rumahnya, aku berdiri mematung mengetuk pintu. Dia menyambutku dingin. Tak ada senyum. "Aku tak mau tahu lagi urusanmu," sambutnya, seraya menampar mukaku. Aku terhuyung. Kurasakan pedih, lantaran tangannya kokoh laksana palu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meninggalkan rumahnya dan berjalan tanpa arah. Perutku keroncongan digaruk rasa lapar yang menusuk-nusuk. Di depan sebuah masjid, aku termangu. Gemetaran kumasuki, mengambil air wudhu lalu meraih mukena. Kudirikan shalat taubat dan setelah shalat, aku mengambil kitab suci. Kubaca kencang sambil menangis. Tidak aku pedulikan, orang melihatku. Tak kupedulikan orang menganggapku gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila hatimu terluka dan kau tak tahu harus berbuat apa, bersujudlah pada Tuhan...!" ucap seorang ibu setengah baya, mengangetkanku. Ia berada tepat di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah bersujud, tapi kini saya tidak tahu harus pergi ke mana karena saya tak punya bekal apa pun. Juga, uang untuk pulang..." keluhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini ada uang, pulanglah...." kata wanita itu, lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusambut uang itu, kemudian pamit. Senja hampir gelap tatkala aku keluar dari masjid. Aku naik bus untuk pulang ke kontrakanku. Tubuhku penuh luka meski darah telah mengering. Tapi hatiku masih terbalut kabut duka. Maka setelah di kontrakanku, aku bercermin. Kulihat wajahku lebam. Aku memendam dendam. Hatiku remuk. Kuraba jantungku. Masih berdetak. Aku remas hatiku, aku telusupkan tanganku untuk mengambil sebentuk dendam di ujung hatiku. Kuambil sebongkah dendam itu lantas aku keluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetesan darah mengucur dari gumpalan dendamku, disertai bau anyir. Tak kuat, aku menatap, aku putuskan untuk menanamnya. Aku keluar kamar, mencari pot. Tetapi, sekelebat kulihat bayangan kakek tua duduk termangu di bawah pohon tak jauh dari kamar-ku. Seberkas cahaya muncul dari balik dedaunan, semakin bertambah terang. Aku ingin melihat, lalu bergegas menanam sebongkah dendam itu dalam pot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai perempuan muda, apa yang kau lakukan dengan segumpal darah itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kudengar langkahnya, tiba-tiba kakek itu sudah berdiri mematung di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin menanamnya agar ia kelak tumbuh menjadi sekuntum bunga dendam!" jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak tahu apa yang terjadi denganmu. Tapi, aku melihat kau hidup dalam penderitaan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tak mau tahu bagaimana kakek bisa tahu saya menderita. Tapi bagaimana agar saya tak ditikam penderitaan karena dari penderitaan itu saya harus ditikam dendam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua penderitaan itu berasal dari keinginan yang tak kamu miliki. Maka kalau kamu tidak ingin menderita, tidak ada jalan lain kecuali kau harus mengakhiri keinginanmu dengan menunjukkan semua yang kau perlukan untuk hidup dalam kehidupan yang penuh dan bahagia, telah kau miliki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termangu. Petuah kakek itu, bukan merasuk dalam hatiku, melainkan membuatku bergidik. Aku ingin bertanya tentang penderitaanku, tapi belum sempat terlontar pertanyaan, tiba-tiba kekek itu telah raib. Tak kutemukan jejak kakinya di balik kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merinding, lantas bergegas masuk ke kamar. Kukunci pintu rapat-rapat, aku sembunyikan tubuhku di balik selimut. Aku memejamkan mata, dengan memendam dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;HARI berganti. Sebulan setelah peristiwa itu, aku tersentak melongok ke luar jendela, aku lihat setangkai tanaman tumbuh di pot yang dulu pernah kutanami sebongkah dendam. Rupanya, dendam yang aku tanam telah menjelma menjadi tanaman. Entah kenapa, di pagi itu aku merasa dendamku pada mantan suamiku akan terbalaskan. Maka, aku cepat-cepat mengambil air, kusiram tanaman itu sebelum aku berangkat kerja ke rumah majikanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setiap terbersit keinginan untuk membunuh lelaki itu, aku justru dihantui rasa takut dan akhirnya aku ingin bunuh diri. Maka, dalam perjalanan ke rumah majikanku itu, aku membeli pil tujuh tablet dan kutelan seketika. Aku terhuyung di depan pintu rumah majikanku, kakiku gemetaran dan aku berbuat nekat; berhenti kerja lalu pamit pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan tanpa tujuan seperti dihempas angin. Saat melintasi jembatan, aku memutuskan untuk mengakhiri hidup. Di bawahku, genangan air danau seperti meneduhkanku. Lalu aku menceburkan diri ke dalam danau. Badanku melayang, terjun ke dasar air berwarna kuning setelah semalam hujan. Setelah itu, tak lagi kuingat. Semua gelap. Semua hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;AKU merasa ada tangan kekar menggoyang-goyang tubuhku saat kudengar ada sebuah percakapan yang menggangguku. Entah bagaimana nasibku seusai terjatuh di dasar danau, saat aku membuka mata, aku menemukan diriku terbaring di pos satpam. Kulihat mantan suamiku diinterogasi dua satpam. Tak tahu, apa yang ditanyakan padanya, tahu-tahu aku dan mantan suamiku dibawa ke kantor polisi. Tiba di kantor polisi, aku tercekat setelah polisi menvonisku gila. Aku kemudian dibawa ke rumah sakit jiwa dengan mobil polisi seperti tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang menjaminnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak punya KTP dan mantan suamiku lepas tanggung jawab biaya perawatan. Maka aku hanya diberi obat penenang dan diminta pulang. Tak lagi sebagai suami-istri, malam itu kami tidur tanpa bercinta. Pagi harinya, mantan suamiku menghilang. Aku beranjak bangkit melongok ke luar jendela. Betapa terkejutnya aku saat kulihat tanaman yang dulu kutanam itu ditumbuhi bunga berwarna serupa darah, dan mendidihkan jantungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi sekuntum bunga itu. Kembali, aku ingin membunuh suamiku, tapi aku selalu tidak punya keberanian dan aku kemudian berbuat konyol lagi. Aku keluar kamar, berjalan menyusuri jalan setapak membawa langkah kakiku ke masjid. Aku bersujud, lalu aku sayat nadiku dengan silet. Darah muncrat dari nadiku. Pedih yang mendidih. Aku ambruk, tersungkur di atas karpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap, saat itu aku mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;/5/&lt;br /&gt;AKU terbangun pada suatu pagi yang menggelisahkan saat kudengar keributan di sekitar. Aku membuka mata, menemui kenyataan bahwa aku masih hidup. Aku terbaring di ranjang rumah sakit jiwa. Tubuhku lemas, bibirku kering dan perutku lapar. Kutatap langit-langit, terbesit ingatan saat aku memutuskan bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua penderitaan itu berasal dari keinginan yang tak kamu miliki. Maka kalau kamu tidak ingin menderita, tak ada jalan lain, kecuali kamu harus mengakhiri keinginanmu dengan menunjukkan semua yang kamu perlukan untuk hidup --dalam kehidupan yang penuh dan bahagia, telah kau miliki." terngiang suara kekek tua itu dalam genderang telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termangu, aku teringat pertemuan itu sewaktu aku menanam sekuntum bunga dendam. Maka saat ayahku datang menjemputku lalu memintaku untuk pulang ke kampung, aku menyempatkan sejenak mampir ke kontrakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi betapa terkejutnya aku ketika mampir di kontrakan di malam purnama yang sudah satu tahun kutunggu-tunggu dan kulihat setitik cahaya terang menyembul dari balik semak-semak ternyata aku melihat; sekuntum bunga dendamku layu. Warna bunganya yang mekar berwarna merah darah, sempat mendidihkan jantungku kini tidak lagi merona serupa bibir perawan yang dipoles gincu merah marun. Aku lemas. Angin berhempus kencang, setangkai bunga dendam yang menguning itu pun jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberkas cahaya purnama, mulai memudar. Kian redup, dan makin tak jelas terlihat. Semakin menjauh, hingga cahaya itu akhirnya menghilang. Kucari-cari seberkas cahaya purnama itu, dan yang kulihat ternyata langit berubah dilingkupi awan. Tak ada bintang. Tak ada bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak punya keberanian untuk membunuh, maka pada malam itu aku ingin mengakhiri hidupku lagi...***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, April 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-288210617228136589?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/288210617228136589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=288210617228136589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/288210617228136589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/288210617228136589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/04/sekuntum-bunga-dendam.html' title='bunga dendam'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SBc6VnWc_gI/AAAAAAAAAxA/WH4c3gV4Jb8/s72-c/292694.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-281127149553795277</id><published>2009-12-13T22:13:00.006+07:00</published><updated>2011-08-25T20:05:41.175+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>kiai musthafa</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R68ZqU7ozNI/AAAAAAAAAj8/3SMiiXZsiVc/s1600-h/js216.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165375512581295314" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 173px; height: 227px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R68ZqU7ozNI/AAAAAAAAAj8/3SMiiXZsiVc/s400/js216.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;KEDAULATAN RAKYAT&lt;/span&gt;, Minggu 13 des 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;/1/ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;BATU akik hijau lumut yang melingkar di jari tangan kiai Musthafa itu sempat kulihat memancarkan cahaya putih mengkilat, saat kiai tua itu duduk di depan kami, lalu bersendawa dengan menangkupkan kedua tangan. Kedatangan kiai yang sudah kami tunggu-tunggu itu seketika membuat kami semua seperti patung. Kami diam, membisu. Tak ada yang berani menatap kiai. Kami tertunduk. Ruangan aula pesantren mendadak jadi hening.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku kembali menatap batu akik yang melingkar di tangan kiai Musthafa. Kulihat cahaya putih keperakan, menerpa sudut mataku. Sekejap, mataku seperti disergap silau. Kuseka mataku dengan tangan dan sembunyi-sembunyi aku menatap wajah kiai Musthafa. Tak kuduga, kiai menatapku hingga kami sempat bersitatap pandang. Sinar kecoklatan memancar dari matanya, membuat aku tertunduk lemas. Kakiku kaku, dan jantungku bergemuruh. Mata kiai Musthafa aku rasakan menikam ulu hatiku, menusuk-nusuk jantungku. &lt;/div&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kiai Musthafa masih diam. Aku lihat ia mengubah letak batu akik hijau lumut yang melingkar di jarinya, sebelum mengucap salam, dan kemudian membuka pertemuan. "Adakah yang perlu dibicarakan, sehingga kalian meminta saya untuk hadir di majlis ini?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami diam meski hati kami berkecamuk sejuta pernyataan yang akan kami ajukan pada kiai. Hampir setengah tahun ini, santer dikabarkan jika pesantren tempat kami bernaung, yang didirikan kiai tujuh tahun lampau diberitakan akan dijual setelah warga kampung sekitar mengancam akan membakar pesantren karena kiai Musthafa mengaku telah mendapat wahyu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami semua masih diam. Keheningan menyeruak. Tapi Riawan Malik, lurah pondok dan pemimpin redaksi buletin Hijaiyah yang diterbitkan kiai Musthafa, tiba-tiba menanggapi, "Maaf kiai, jika kami meminta kiai untuk hadir di sini. Kami ingin membicarakan persoalan nasib pesantren dan buletin Hijaiyah..." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Muka kiai Musthafa bersemu merah, disergap gelisah. "Tak ada mendung, tidak ada hujan. Kenapa tiba-tiba ada asap mengepul? Ada apa ini?" tanya kiai seraya mengedarkan padang. Mata kiai menyala mirip gumpalan larva panas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Memang tak ada hujan di pesantren ini, kiai! Tetapi kami semua telah mendengar kabar, kiai akan menjual pesantren ini. Apakah itu kabar dari orang munafik yang tak perlu kami percayai mulut busuknya itu?" tanya Mungad, wakil pimpinan buletin Hijaiyah dan suaranya menggema sampai sudut aula. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sontak, kiai tersentak. Kembali aku lihat kiai Musthafa memutar-mutar akik di jari tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak akan kujual sejengkalpun tanah pesantren ini! Kalian catat itu, saya tak akan menjualnya! Jadi tak usah risau. Keadaan pesantren masih aman!"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hatiku mendidih. Kembali batu akik hijau lumut yang melingkar di jari kiai memancarkan cahaya dan menerpa tepat di sudut mataku. Aku tertegun kaget dengan keyakinan kiai yang berani menantang ancaman warga, yang akan membakar pesantren kalau kiai tak segera pergi. Padahal, sebulan ini hati kami ditikam gelisah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Tetapi, bukankah komitmen tak menjual pesantren itu menantang badai, kiai? Padahal warga tahu kiai mendirikan pesantren, menjual buletin Hijaiyah hanya untuk merengkuh keuntungan, bukan untuk dakwah. Sementara saat buletin mulai tak laku, kenapa kiai menimpakan kerugian pada kami? Apa itu adil kiai? Juga, saya masih ingat dulu kiai berjanji akan membayar ganti rugi sumbangan warga, kenapa janji itu tak ditepati oleh kiai?" tanyaku, dicekam rasa takut. Tapi, ketakutanku akan ancaman warga yang hendak membakar pesantren membuatku berani menatap wajah kiai meski kakiku gemetaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kulihat wajah kiai merah, seakan tersengat listrik. Tatapan mata kiai mengusutku. Sinar kecoklatan matanya menikam hatiku, menusuk-nusuk jantungku. Kulihat ia memutar akik hijau lumut yang melingkar di jarinya, seraya dicekam amarah, "Tak perlu kau ingatkan aku dengan janjiku pada warga untuk melunasi pembayaran itu! Aku akan segara melunasinya! Itu masalah sepele!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ruangan aula kembali hening. Mata kiai menatap ke arah kami semua dan kami menunduk. Tak ada lagi santri bersuara. Kiai Musthafa pun pamit. "Kalau tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan, saya kira pertemuan ini cukup," ujar kiai Musthafa seraya meninggalkan aula pesantren. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jejak-jejak kaki kiai Musthafa ketika melangkah di atas karepet hijau lumut, masih meninggalkan keheningan tatkala kami mendongakkan kepala menatap kepergiannya. Langkah kiai tegak. Kiai membusungkan dada seakan dia tak ingin ditundukkan... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;DELAPAN tahun yang lalu kiai Musthafa datang ke kampung Cidubur hanya membawa kopor, dan sebuntal pakaian kumal. Tak ada setumpuk uang di kopornya. Dia datang sebatang kara, menyeberang laut. Tak seperti kisah-kisah para nabi yang meninggalkan negerinya, dengan membawa risalah kenabian dan memihak kaum miskin, kiai Musthafa konon meninggalkan negeri seberang, memakai jubah kumuh dan baju lusuh. Juga, tak berkopyah meski rambutnya brekele. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di kampung Cidubur, kiai mengontrak sebuah kamar sempit, dengan harga murah untuk menekan biaya hidup. Untung, ibu pemilik kontrakan kiai Musthafa itu seorang wanita padang yang memiliki putri cantik bernama Winda yang sudah menjanda tiga tahun. Kiai musthafa yang juga lama menduda, terpikat putri ibu kostnya. Cinta kiai tak bertepuk sebelah tangan. Setahun kemudian ia menikahi Winda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kiai beruntung, lantaran ibu mertuanya memberi modal untuk mendirikan penerbitan tabloit Kabar Negeri. Sayang usaha penerbitan tabloit yang dirilis kiai Musthafa kurang memikat. Tidak cukup laku, meski ia sudah berjuang keras menjualnya ke negeri seberang. Akhirnya, kiai menghabiskan waktu mengunjungi tempat-tempat keramat. Di penghujung tahun 2000, kiai mendapatkan wahyu, lalu mengaku sebagai nabi. Selanjutnya, kiai mendirikan pesantren dan mendakwahkan ajarannya yang diilhami dari "cerita-cerita kematian" yang aneh lewat buletin Hijaiyah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buletin Hijaiyah ternyata menjadi dakwah ajaib bagi kiai. Kisah-kisah kematian janggal akibat perbuatan buruk seseorang yang diceritakan di buletin bisa membuat orang taubat dan datang ke pesantren untuk jadi pengikutnya. Dia disakralkan, dicium dengan takzim serupa nabi. Sehabis shalat Jum`at biasanya kiai menggelar pengajian, mendakwahkan ajarannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam waktu singkat, buletin Hijaiyah membuat kiai mendadak kaya. Tak puas hanya memiliki buletin Hijaiyah dan Tabloit Kabar Negeri, ia menerbitkan majalah Maslahah, lantas disusul majalah Fatimah, majalah Farjasari, majalah Tarbiyah, majalah A`isyah dan majalah Shaf. Tahun berlalu dan menginjak tahun keempat, pesantren kiai sudah menjadi besar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tahun keempat itulah, aku diajak seorang temanku nyantri di pesantren kiai Musthafa. Awalnya, aku bangga sebab sambil nyantri, aku kerja di buletin Hijaiyah dengan menulis kisah-kisah kematian. Cerita dari buletin itu, bahkan sempat diangkat ke layar kaca. Kiai untung berlipat-lipar. Tetapi ambisi kiai menyebarkan dakwah, mencari uang dengan cara menyebarkan ajaran lewat majalah ternyata tak sejalan dengan prilaku kiai. Akibatnya, pesantren bangkrut. Kiai Musthafa menanggung utang menumpuk. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kabar miring pun beredar. Ajaran kiai dianggap bohong, lantaran kiai kerap ingkar janji, terlebih saat kiai ditagih untuk melunasi utang-utangnya. Warga kampung Cidubur mengancam akan membakar pondok pesantren kiai Musthafa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi, kiai rupanya tak takut. Meski ia sudah ditikam utang bertumpuk, dan warga telah mengancam, kiai tetap tidak menjual tanah pesantren. Padahal, kami dilanda gelisah dengan ancaman warga. Maka, aku berani menantang tatapan mata kiai saat pertemuan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku tak ingin pesantren hangus, dilahap api. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;PAGI itu, aku bangun ketika kudengar pintu kamarku diketuk orang. Aku bangkit membuka pintu dengan mata masih setengah terpejam. Ketika aku membuka pintu, kulihat Mungad berdiri mematung di depanku, "Kau dipanggil pak kiai!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku menggangguk lalu bergegas ke kamar mandi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lima belas menit kemudian aku melangkah ke rumah kiai. Tepat di depan pintu, aku mengucap salam. Tidak kusangka, kiai sudah menunggu di ruang tamu. Aku melangkah masuk dengan kaki gemetar dan keringat membasahi bajuku. AC di rumah kiai kurasa tak sedingin biasanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Aku adalah kiaimu, dan kamu santriku. Kamu sudah berapa lama tinggal di pesantren ini?" tanya kiai Musthafa dengan mata menyala merah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Tiga tahun, pak kiai!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Apa yang kurang kuberikan padamu? Kau seperti orang yang tidak punya sopan santun! Apa kamu ingin kuusir dari pesantren?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku diam, tak menjawab. Kulihat mata kiai kian merah. Tak ada senyum. Ketika itu, kiai tak memakai kopyah, rambutnya serupa belukar. Aku mendengar cerita dari santri senior, jika rambut kiai sudah brekele, maka jangan sampai membantah. Maka, aku memilih diam. Senyum yang aku susun seketika luntur. Aku gugup. Mukaku pucat. Di luar dugaanku, kiai ternyata bisa marah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Jika kau masih ingin tinggal di pesantren ini, jangan coba-coba lagi mengusikku. Aku mual mendengar ucapanmu, kemarin pagi! Kini, pergilah sebelum aku menamparmu!"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku segera meninggalkan rumah pak kiai. Seakan bangun dari tidur, aku nyaris tak percaya. Kiai memanggilku hanya untuk memarahiku. Tapi sekembaliku di kamar, aku tak menarik selimut untuk tidur lagi, melainkan segera mengepak pakaianku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;/4/&lt;br /&gt;TEPAT tengah malam, aku meninggalkan pesantren. Tatkala aku melompati pagar pesantren, aku memutuskan tak akan menoleh ke belakang lagi dan berniat pergi jauh-jauh. Tapi saat aku sampai di luar pesantren, kulihat percikan api berkobar di belakangku. Aku akhirnya menoleh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Astaga! Aku hanya termangu. Kulihat api telah melahap pesantren. Tapi aku memutuskan segera bergegas pergi meninggalkan pesantren. Sesaat kemudian, ketika aku mampir di warung untuk menghilangkan dahaga, kulihat kiai Musthafa diangkut di atas mobil polisi. Rupanya, warga telah melaporkan aktivitas kiai Musthafa yang dianggap menyebarkan aliran sesat sebab mengaku sebagai nabi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku mengelus dada. Diam-diam, aku pergi dari kampung Cidubur. Kutatap pesantren untuk terakhir kali, dan tiga tahun masa laluku hangus di pesantren kiai Musthafa.***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lasem - Ciputat, 15/12/07&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-281127149553795277?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/281127149553795277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=281127149553795277' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/281127149553795277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/281127149553795277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/02/kiai-musthafa.html' title='kiai musthafa'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R68ZqU7ozNI/AAAAAAAAAj8/3SMiiXZsiVc/s72-c/js216.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3509660571368798256</id><published>2009-11-17T22:14:00.005+07:00</published><updated>2011-08-26T10:26:45.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>sepeda onthel kenangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SwLBVZw-fVI/AAAAAAAABpw/-dJEuJNtoSc/s1600/sepeda+onthel+kenangan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 129px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SwLBVZw-fVI/AAAAAAAABpw/-dJEuJNtoSc/s200/sepeda+onthel+kenangan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405095076235738450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerita pendek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DI KOTA kecil itu –mungkin engkau tidak akan pernah mememukan pada selembar peta- aku dulu dilahirkan. Kota itu tidak pernah diguyur salju, tetapi menyimpan tetes cerita kehidupan masa kecilku. Tetapi, saat aku menginjak usia dua puluh tahun, aku meninggalkan kota kecil yang tidak ramai itu. Aku pergi, mengayuh sepeda dengan memanggul tas punggung yang sarat dengan bara dendam --di suatu pagi yang rumpil. Itulah pagi yang paling menyedihkan sekaligus menyenangkan dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, tanganku gemetar ketika aku hendak menyeret sepeda onthel tua milik ayahku keluar dari rumah -sepeda onthel tua yang dulu pernah digunakan ayahku untuk keliling pulau Jawa. Ayah yang dari tadi diam dan membisu, duduk di kursi seperti tidak rela hendak melepas kepergianku. Atau mungkin dugaanku salah! Bisa jadi ayah tidak rela aku membawa pergi sepeda onthel tua yang dahulu menjadi sahabat karibnya dalam menjelajahi jalanan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari sorot mata ayah, aku menangkap denah kesedihan yang mirip dasar sebuah danau. Ada genangan lumpur, bongkahan batu karang dan sorot mata ayah yang tajam menatap itu, ah… aku rasakan seperti mata orang yang ditinggal mati salah seorang anak yang ia cintai dengan sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang hendak pergi jauh, seperti tak rela meninggalkan genangan air mata itu menggumpal di sudut kelopak mata ayah, orang yang sudah mulai udzur itu. Aku dekati ayah yang duduk termangu –seperti kebiasaan yang selalu dijalani ayah setiap Minggu pagi ketika ayah tidak pergi ke pasar untuk jualan baju dan seragam sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan ayah, aku seperti cicak kecil di hadapan seekor buaya. Aku diam, berdiri mematung dengan kaki gemetar dilanda cemas. Tapi bertahun-tahun aku dididik ayah untuk tidak takut. Diam-diam, aku mengumpulkan keberanian untuk pamit pergi. Aku tak ingin ayah tak memberiku restu. Sekali pun aku tahu, sebenarnya ayah tidak setuju aku kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, aku akan pergi. Tak ada yang aku harapkan dari ayah, kecuali sebongkah doa,” ucapku pelan, tetapi aku yakin masih cukup terdengar dengan jelas di telinga ayah. “Aku ingin setiap langkahku menginjak tanah ini mendapatkan restu ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah masih diam, seakan sedang berpikir. Lama, aku menunggu sebuah jawaban menentramkan yang akan keluar dari mulut ayah, seorang lelaki yang telah mewariskan segumpal darah dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak semestinya kau kuliah. Kau tahu, aku sudah tak kuat untuk bekerja seperti dulu lagi. Tetapi, jika itu kemauanmu, aku tak bisa mencegahmu,” akhirnya, ayah berkata dengan berat hati. “Apalagi ibumu tak tega melihatmu kerap kali menghabiskan malam-malammu hanya duduk di ujung gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Seperti ada jarak yang memisahkan antara kami -–aku dan ayah. Aku merasa ada di tempat yang cukup jauh yang tak akan bisa terjangkau oleh ayah. Jarak yang bisa memisahkan kami, sekali pun aku di dekat ayah. Jadi, tidak perlu aku menambah luka di hati ayah. Aku tahu, hati ayah bergemuruh. Aku bisa merasakan gemuruh hati ayah itu sebagaimana degup yang kurasakan di dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tidak cukup dekat dengan ayah, tetapi aku bisa mencium kecemasan di relung hati ayah. Rupanya, kecemasan ayah akan kepergianku masih belum pupus. Seminggu yang lalu, ketika aku bercerita pada ayah tentang keinginanku melanjutkan kuliah, aku dapat melihat dengan jelas wajah ayah langsung bersemu merah. Ayah terhenyak kaget. Dua tahun aku menganggur dan menghabiskan malam di ujung gang membuat ayahku sepeti tidak percaya dengan keputusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa kau kuliah? Tidak cukupkah kau jadi penjahit dan berdagang melanjutkan usaha ayah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak kaget dengan ucapan ayah. Aku anak yang tidak berprestasi. Dari MI –sekolah setingkat SD-- sampai SMA, aku nyaris tak pernah berhasil mengukir prestasi. Beda dengan adik dan kakakku. Dari SD sampai SMA, aku selalu terjerumus sekolah swasta sementara adik dan kakakku berhasil masuk SMP dan SMA Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal ayah adalah orang paling pendiam yang pernah aku kenal. Tidak banyak kata. Tidak banyak bicara. Sepatah kata yang diucapkan ayah ibarat hujan yang tiba-tiba turun setelah musim kemarau yang panjang. Jadi, jika ayah sudah bicara, pasti ayah tak sedang bergurau. Ada kegalauan di hati ayah dengan keinginanku itu. Aku tahu ayah tidak setuju dari sorot mata ayah yang berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin meninggalkan kampung ini, ayah!” jawabku sedikit bimbang, “Aku tahu, jalan ini adalah jalan terbaik bagiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kampungmu ini kau tak henti-henti membuat ulah, lalu bagaimana kau dapat membuat ayahmu percaya jika di kota nanti kau tidak akan menjadi lebih nakal karena sewaktu tinggal di kampungmu yang aku awasi saja kau sudah cukup merepotkan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu kenapa ayah mengkhawatirkanku. Tapi aku ingin mengubah takdirku dan pilihanku pergi dari kampung melanjutkan kuliah adalah satu jalan yang akan mengubah masa laluku. Aku berhak menentukan masa depanku. Aku berhak mengukir takdir yang akan aku warnai dalam lembaran hidupku. Aku ibarat pelukis. Aku ingin mewarnai kanvas hidupku dengan cat dan warna yang aku inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginanku sudah bulat tak bisa dicegah oleh siapa pun, kecuali ibu. Maka ayah tak bisa mencegah kepergianku. Dan pagi itu adalah pagi yang membahagiakan dalam hidupku. Aku akan pergi meninggalkan kampung untuk melanjutkan kuliah. Tapi, aku tak pantas tak menghormati ayah. Maka, aku mencium tangan ayah sebelum aku pergi. Itulah untuk kedua kalinya aku mencium tangan ayahku –yang pertama, dulu saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD tepat hari raya Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ayah tak setuju, aku merasakan tangan ayah perlahan-lahan mulai berubah dingin, padahal sebelumnya tangan ayah terasa hangat. Tapi tangan ayah yang dingin itu seperti merambatkan secuil keberanian di hatiku. Tapi, ayah tidak mengucapkan sepatah pun kata. Dia diam serupa patung. Dingin bagai bongkahan es batu. Aku seperti bersalaman dengan arca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakangku, ibu –wanita setengah bidadari yang telah jadi penyelamat masa depanku-- sudah berdiri dengan diam. Air mata ibu hampir menitik, ketika aku berpaling. Aku melihat dengan jelas tangan ibu menggenggap sesuatu. “Kamu akan berangkat sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Entah mengapa, aku selalu tak bisa mengatakan sesuatu pada ibu, apalagi pagi itu aku harus berpamitan untuk sebuah perpisahan. Aku tak akan pernah pergi melanjutkan kuliah, jika ibu seminggu lalu tidak jadi pembelaku di hadapan ayah. “Sudahlah, pak! Biarlah anakmu pergi. Siapa tahu, kehidupan dia tak di kampung ini. Biarlah dia pergi dan aku yang akan mengusahakan uang untuknya,” jawab ibu waktu ayah berusaha mencegah kepergianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada keluarga, saudara dan famili yang rela melepaskan kepergianku. Apalagi, aku akan pergi kuliah. Tetapi, aku sejujurnya tak butuh dukungan keluarga, saudara dan famili. Aku hanya butuh restu dan doa ibu. Bagiku, itu sudah cukup karena doa ibu adalah jalan lempang masa depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, ayah dan ibu habis pulang dari tanah suci. Jadi, sudah tidak memiliki tabungan lagi. Lalu, dari mana ayah dan ibu mengirimi uang bulanan untuk kuliahmu?” ujar ibu lembut,” Jika kau kuliah tahun lalu, mungkin kami dapat membatalkan berangkat ke tanah suci. Tapi sekarang ini keadaannya sudah lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu tak usah cemas,” jawabku tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, dari mana biaya untuk kuliahmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah di kota nanti, aku akan berusaha mencari pekerjaan!” rayuku pada ibu. “Jadi aku hanya butuh dukungan dan doa dari ibu. Itu adalah bekal yang tidak terkira buat kepergianku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu luluh. Bagai matahari yang hampir tenggelam di waktu senja, ibu kemudian memberiku restu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah pergi merantau dan kepergianku di pagi itu adalah perantauanku untuk kali pertama. Ibuku tentu akan merasa kehilangan. Tetapi, di sudut mata ibu, aku melihat ada seberkas sinar yang bisa aku tangkap sebagai bentuk kebanggaan. Anak kedua dari tiga bersaudara yang selama ini kerapkali menjadi omongan dan gunjingan tetangga akan pergi jauh -pergi untuk kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doa ibu adalah wesel dari Tuhan yang akan membuatku hidup bahagia,” kataku tegas sebelum kepergianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku beruntung, kau berani hidup di kota dengan keyakinan seperti itu. Ibumu tidak percaya jika Tuhan akan membiarkan hidupmu menderita setelah kau tiba di kota nanti. Tetapi, kau pasti butuh uang jajan dan makan,“ ujar ibu, seraya memasukkan lembaran uang ke dalam sakuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ibu mengulum seulas senyum. Tapi senyum ibu kurasakan meninggalkan tanda tanya di lubuk hatiku. Ibu tersenyum manis, tetapi aku melihat di sudut mata ibu ada mendung yang hampir pecah. Mata ibu seperti basah. Aku dapat memahami, karena tepat di kelopak mata ibu, ada selarik kecemasan. Juga, rasa bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk, “Doa ibu sudah cukup menjadi bekal kepergianku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan pernah ibu berhenti mendoakanmu, anakku. Pesan ibu, jangan pernah engkau meninggalkan shalat dan mengaji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk lagi, meski anggukanku itu setengah hati. Aku sudah tidak kuat menahan pilu di hatiku lebih lama lagi menggegoti ulu hatiku karena aku cukup lama menangguhkan perpisahan segera berakhir. Air mataku bisa menitik dan karena itu; aku memutuskan untuk segera pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah ke ruang tamu. Kuseret sepeda onthel tua milik ayah keluar dari rumah. Ibu mengikutiku dari belakang tapi aku tak ingin melihat mata ibuku yang mulai dibebani mendung. Aku tak menoleh. Aku tuntun pelan-pelan sepeda onthel itu ke gang kecil di depan rumah dan tanganku gemetaran. Aku merasa ada kekuatan yang tiba-tiba muncul memberiku tenaga tatkala aku menaiki sepeda onthel tua itu melaju menyusuri gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, aku mengayuh sepeda tua itu pelan-pelan. Tetapi, ketika gayuhan kakiku yang pelan itu mulai menjauhkanku dari rumah, aku mengayuh pedal sepeda onthel itu sekuat tenaga. Sepeda tua yang aku naiki itu –mulai menyusuri gang kecil yang tak lama lagi akan membawaku pergi meninggalkan kota kelahiranku. Dengan sepeda onthel tua milik ayah itu, aku akan pergi ke kota Gudeg dan aku ingin membuktikan kepada orang-orang di kampungku; bahwa bocah tengil yang dahulu kerap kali gagal sekolah kini akan melanjutkan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, bocah tengil itu mengayuh sepeda onthel tua meninggalkan rumah dan tak ingin menoleh ke belakang seakan-akan aku tak punya rumah untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Condet, 6 November 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3509660571368798256?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3509660571368798256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3509660571368798256' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3509660571368798256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3509660571368798256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2009/11/sepeda-onthel-kenangan.html' title='sepeda onthel kenangan'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SwLBVZw-fVI/AAAAAAAABpw/-dJEuJNtoSc/s72-c/sepeda+onthel+kenangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3530519611844498862</id><published>2009-07-24T08:32:00.001+07:00</published><updated>2009-07-27T14:34:46.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>gerimis di senja ramadhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R63DCU7ozMI/AAAAAAAAAj0/uIHH8QGaGSc/s1600-h/senja_di_pantai_kuta.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164998792409828546" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 195px; height: 135px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R63DCU7ozMI/AAAAAAAAAj0/uIHH8QGaGSc/s400/senja_di_pantai_kuta.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt; edisi 9/II/Okt 09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;SETIAP kali menjelang senja, Juwita selalu bangun seakan ia menemukan sebuah pagi yang mencemaskan. Mirip sebuah pagi yang dijumpai Juwita, sewaktu ia masih duduk di bangku sekolah dasar saat ia harus bangun dengan rasa galau karena menemukan matahari akan segera terbit dan ia harus mandi, memakai baju seragam lantas sarapan sebelum pergi ke sekolah. Sebuah pagi yang tak mungkin ia lupakan, nyaris sama seperti senja hari yang kini ia temui, setelah bangun di petang hari yang cukup melelahkan. Alangkah risaunya Juwita, ketika bangun tidur lalu melongok keluar jendela, ia menjumpai matahari sudah tenggelam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitulah Juwita menjalani hidup. Seperti di senja ini saat ia bangun dari tidur. Ia terpaksa bangkit melangkah ke sudut kamar, mengambil handuk di dekat almari, lalu masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, ia menyembul dari balik kamar mandi dengan tubuh yang dililit handuk, rambut panjang yang tergerai basah serta bau segar dari aroma wewangian yang menyeruak ke penjuru kamar. Ia lantas masuk ke kamar yang hanya dipisahkan dengan tembok, duduk di depan cermin untuk sekedar bersolek.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Duduk di depan cermin, Juwita bersolek agar terlihat secantik mungkin tak beda dengan kesiapannya sebelum pergi ke sekolah ketika masih kecil dulu. Ia harus terlihat mempesona, jelita dan menarik tetapi bedanya kali ini harus tampil menggairahkan dan sexy. Karena itu, ia membaluri ketiak dengan rexona, menjentikkan bulu mata, menghitamkan alis sebelum mengambil pakaian di almari dan memilih yang pantas untuk dikenakan. Di depan cermin ia berkacak pinggang sebelum kembali duduk lalu memoleskan bedak dan merias seraut wajahnya dengan kosmetik, lalu berakhir dengan ritual menggoreskan lipstik di bibir mungilnya yang selalu basah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di luar kamarnya, senja belum sepenuhnya gelap. Dia memandangi cermin untuk memastikan yang kurang dari riasan di senja itu seraya mengambil tas di bawah laci di meja rias, memasukkan celana dalam yang sudah dipersiapkan juga cermin kecil, bedak dan alat rias lain yang dibutuhkan sepanjang malam selama ia ada di luar nanti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lama ia bersolek, tiba-tiba hari sudah berganti petang. Langit nyaris pekat, hitam dan dia akhirnya keluar kamar, melangkah ke jalan raya, menunggu bus yang akan membawanya ke suatu tempat. Tak ada tetangga Juwita yang tahu, ke mana ia pergi. Juga tidak ada orang di sekitar kontrakannya yang tahu, apa pekerjaan Juwita. Orang-orang di sekitar kontrakannya hanya tahu Juwita pergi sebelum malam dan selalu pulang ketika hari menjelang pagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;TETAPI hampir dua minggu selama bulan Ramadhan ini setiap kali Juwita bangun dari tidur siang saat menjelang petang ia tak lagi menemukan pagi yang mencemaskan seperti dulu, ketika ia masih kanak-kanak. Ia nyaris tak beranjak dari ranjang meski hari sudah petang. Dia hanya melongok keluar jendela, lalu menggeliat. Dengan sebal, menengadah ke langit-langit. Tak dapat dibayangkan, kalau kini dia harus menghabiskan malam di kamar kontrakan sejak peristiwa di malam pertama bulan Ramadhan itu membuat Juwita takut dan bergidik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malam belum larut ketika awal bulan Ramadhan itu, ia berdiri mematung di luar pagar sebuah gedung tua. Di angkasa tak ada bulan, langit sepenuhnya berwarna seperti kerak habis terbakar. Hanya percik bintang-bintang, menyala di hamparan langit. Hati Juwita pedih mirip hamparan langit yang hitam legam. Malam terlihat murung, tak satu pun lelaki yang mengajaknya pergi dari gedung tua itu sejak ia datang di petang itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia sebenarnya tahu, di malam bulan Ramadhan itu seharusnya dia tidak berangkat karena di malam Ramadhan itu selalu jadi musim paceklik. Tetapi, ia harus berdiri dan mematung di pinggir keremangan jalan karena di hari lebaran nanti dia harus pulang ke kampung membelikan baju baru buat anaknya dan biaya untuk mudik. Karena itu, ia terpaksa pergi meski malam itu malam pertama pada bulan Ramadhan. Dia harus berdiri mematung di luar pagar gedung tua, menanti laki-laki yang akan membawanya pergi entah ke mana dan ia bisa pulang membawa sejumlah uang setelah menukarnya dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan cinta? Ah...., Juwita tak tahu! Apakah yang Juwita berikan itu cinta atau sekedar gairah. Karena bagi wanita desa seperti Juwita sudah cukup menderita ketika mempercayai laki-laki yang datang dan menawari akan menikahi Juwita. Ia tahu, jika tawaran itu seperti gigitan nyamuk, yang pada malam itu mulai mengerubuti kaki dan tangannya, serupa luka yang meninggalkan kepedihan saat seorang lelaki yang dia percayai tiba-tiba pergi dan hilang tanpa jejak. Padahal, dalam perut Juwita ketika itu sudah tersimpan janin. Ia pun terpaksa merawat bayi yang lahir dari buah lelaki itu sejak lima tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malam kian muram saat di sebuah masjid sebelah gedung tua, terdengar keriuhan orang melaksanakan shalat tarawih. Dan bersamaan dengan keriuhan di masjid itu, sekelompok orang memakai seragam tiba-tiba datang. Sayup-sayup ia sempat mendengar derap langkah sepatu lalu disusul teriakan, "Lari. Lari!!!!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak sempat dia berlari jauh atau bersembunyi di gedung tua, seorang petugas telah menarik tangannya. "Mau lari ke mana kau pelacur tengik?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ampun pak, mohon saya jangan dibawa ke kantor!" pekik Juwita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi petugas itu seperti tak mendengar teriakannya. Ia digeret paksa, dinaikkan dalam sebuah truk. Untung, esok paginya, Juwita dilepaskan. Dengan jaminan tidak akan berdiri mematung lagi di pagar gedung tua dalam keremangan malam. Tetapi, hati Juwita tersayat. Bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk pulang kampung saat lebaran tiba kalau tak kembali berdiri mematung, menunggu di keremangan malam untuk menanti lelaki yang mau membawanya pergi?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Senja belum gelap. Ia tergeragap dari lamunan saat mendengar teriakan anak-anak di luar kamar, menjerit serta berteriak kencang. Ia menelungkupkan tubuh, meraih bantal untuk menumpahkan air matanya yang perlahan mulai jatuh. Sebuah air mata kepedihan yang telah dia simpan nyaris lima tahun lalu. Dan, rengekan anak-anak yang menolak diajak pulang ketika ibu-ibu mereka berkata hari sudah senja, terasa menyanyat kerinduan Juwita untuk bisa memeluk Atika, putrinya yang tinggal di kampung terpencil dan jauh dari pelukan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ia tersedu. Air matanya mengalir deras, tatkala senja nyaris berganti petang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"APA sebenarnya pekerjaanmu di kota, Nduk?" tanya ibu Juwita, di hari lebaran tiga tahun lalu, ketika ia pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ah ibu, bukankah Juwita sudah bercerita berkali-kali kepada ibu jika Juwita kerja di sebuah salon kecantikan!" jawab Juwita, sedikit jengah. "Lagi pula, untuk apa ibu perlu tahu segala?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Jelas, Nduk! Ibumu harus tahu. Kamu tidak tahu perasaan ibu, setahun ini orang-orang di kampung seperti sengit melihat ibumu.." tegas ibunya, "Ibu hanya tak ingin mendengar kalau yang diceritakan orang-orang itu benar, bahwa kamu itu sebagai...?" Hampir saja ibunya meneruskan ucapannya tetapi tercekat rasa pedih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu Juwita, akhirnya hanya memandangnya dengan perasaan serba salah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Sebagai pelacur...?!? Ibu percaya dengan cerita bohong itu?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Juwita membuang muka. Lalu berdiri, melangkah ke kamar. Hatinya luka, pedih dan perih. Omongan orang di kampungnya seperti runcingnya bambu runcing yang tajam telah menggores tepat di kulit Juwita. Tapi ia tak bisa berbohong. Memang dulu sempat bekerja di sebuah salon kecantikan, tetapi tuntutan hidup di kota tak dapat menjadi gantungan kalau ia harus bertahan bekerja di salon sehingga empat tahun lalu ia memutuskan hidup di keremangan malam dan menanti lelaki yang akan membawanya pergi ke mana saja, asal dia bisa pulang membawa sejumlah uang!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;SENJA itu, mendadak, Juwita tiba-tiba teringat ibunya di kampung. Air matanya seperti tak terbendung lagi, tumpah membasahi bantal. Ingin ia pulang secepatnya agar bisa mencium telapak kaki perempuan yang telah melahirkannya, minta maaf dengan tulus. Apalagi, kini tinggal ibunya semata sebagai orangtua satu-satunya yang dia miliki sejak lima tahun lalu, ayahnya meninggal setelah mendengar ia hamil tanpa lelaki yang akan menjadi ayah Atika, anak yang lahir dari rahim Juwita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi, keinginan untuk pulang itu justru membuatnya kian pening. Sudah dua minggu di bulan Ramadhan ini dia tidak mendapatkan sepersen pun uang. Dan dia tak lagi memiliki tabungan, karena selalu terkurang habis lantaran setiap awal bulan Juwita selalu mengirim uang ke rumah guna mencukupi kebutuhan anak semata wayangnya dan ibu kandungnya di kampung. Ia tak habis pikir, bagaimana mendapatkan uang untuk pulang di hari lebaran nanti? Juga bagaimana dia dapat uang guna membelikan baju baru buat anaknya saat lebaran nanti jika ia pulang ke kampung?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adzan maghrib berkumandang. Juwita menarik napas panjang, dan menyeka air matanya yang masih tersisa. Ia melangkah sempoyongan ke arah meja, meraih gelas, lantas menuangkan botol aqua yang masih separuh. Petang itu ia berbuka puasa, dengan hanya minum air putih dari aqua dengan bibir gemetar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di luar, gerimis tiba-tiba turun, membuat Juwita ingin menangis lagi. Juwita tidak tahu, apa yang akan terjadi esok pagi. Air matanya sudah seperti gerimis yang turun di senja bulan Ramadhan itu. Dia merasakan pedih. Gerimis di senja Ramadhan itu membuatnya sadar sehingga dia memutuskan untuk pergi ke masjid guna melaksanakan tarawih di malam itu, dan bertekat akan meminta maaf kepada ibunya di hari lebaran nanti, tatkala pulang ke kampung meski dia tahu dia pulang tanpa membawa uang.***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cibubur, Ramadhan 1427&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3530519611844498862?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3530519611844498862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3530519611844498862' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3530519611844498862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3530519611844498862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2007/12/gerimis-di-senja-ramadhan.html' title='gerimis di senja ramadhan'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R63DCU7ozMI/AAAAAAAAAj0/uIHH8QGaGSc/s72-c/senja_di_pantai_kuta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3828632018207751810</id><published>2009-05-22T05:10:00.005+07:00</published><updated>2009-06-20T16:05:27.330+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>sebuah pertanyaan tentang calon suami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/ShXSDSZM3cI/AAAAAAAABmA/7T9KdIR9tUk/s1600-h/2_DSC_0497.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/ShXSDSZM3cI/AAAAAAAABmA/7T9KdIR9tUk/s200/2_DSC_0497.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338403887236570562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt; edisi 6/II/Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;            JIKA kebahagiaan seorang lelaki yang sedang jatuh cinta itu seperti rinai gerimis, mungkin lelaki itu tak akan kesulitan menampung air serupa kristal berkilau yang jatuh dari langit ketika turun gerimis. Ia akan menengadahkan kedua tangannya, lalu meraup rintik yang turun mirip salju itu hingga kedua tangannya basah bagai habis mengambil wudhu. Ia akan membasuh wajahnya, lantas mendesiskan selarik doa; berharap gerimis yang turun akan memberi setangkup kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Tetapi, kebahagiaan yang dia rasakan di malam yang rumpil sehabis pulang dari rumah kontrakan perempuan itu seperti menyisakan mendung bimbang yang terkenang dalam ingatan. Ia hanya termangu. Sepi menusuk kalbu. Gerimis yang turun tiba-tiba di malam itu masih menyisakan mendung yang kelabu. Di balik jendela, ia berdiri menatap langit. Tidak ada pendar rembulan, tak ada kerlip bintang. Cakrawala serupa bentangan hitam yang merambatkan bimbang lantaran pikirannya mengembara, menelusup setiap jejak peristiwa yang terjadi sejak dua minggu lalu ketika pagi dilingkupi mendung yang sendu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;       “Kau pasti tak percaya jika pagi ini aku memenuhi janjiku untuk mengunjungimu dan aku merasa tidak perlu memberitahumu lewat telepon lebih dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Laki-laki itu hanya termangu, menatap wajah seorang perempuan yang berdiri di depan pintu kontrakannya. Seorang perempuan yang baru ia kenal, tapi sudah memberi kejutan yang tak pernah ia duga –ia datang mengejutkan. Ia datang tiba-tiba, dan tahu-tahu sudah berdiri di depan kontrakan setelah ia dikejutkan ketukan di pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Aku sudah datang jauh-jauh, kenapa kamu biarkan aku terpaku di depan pintu? Tidak bolehkah aku mengunjungimu sehingga kau tidak mempersilahkanku masuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Rumah ini terbuka untuk siapa pun yang datang ke sini, tidak terkecuali untuk seorang yang baru aku kenal,” ucap laki-laki itu gugup “Masuklah, dan anggaplah rumah mungil yang aku kontrak ini seperti rumahmu sendiri….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Perempuan itu masuk, tetapi disergap bingung untuk menyandarkan diri setelah menempuh perjalanan jauh. Hanya ada selembar karpet kumuh, lusuh, berdebu yang terbentang di depan tv. Ia kemudian duduk, tanpa mempedulikan koran yang terserak di lantai, buku bertumpuk bersamaan koran yang terbentang habis dibaca tidak serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Ini kubawakan separoh kue yang dulu pernah kujanjikan. Aku berharap, kue ini bisa membuatmu senang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Lelaki itu ingat perbincangan tempo hari melaui email atau chating saat melihat bungkusan kue yang ada di depannya. “Terima kasih. Kenapa repot-repot membawa kue segala? Aku sudah senang, kamu mau datang untuk berkunjung.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Perempuan itu tertawa memecah suasana yang semula terkesan kaku. Lelaki itu ikut tertawa seakan perempuan itu sudah lama ia kenal, meski sebenarnya baru ia kenal sebulan lalu. Sebuah perkenalan aneh, karena perempuan itu sebenarnya adik kelasnya sewaktu kuliah dulu tetapi keduanya tak pernah bertatap muka, dan baru dipertemukan setelah keduanya tinggal di kota yang sama lewat jaringan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Kenapa dulu aku tidak pernah melihatmu di kampus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Kau pasti bohong! Aku ini cukup dikenal di kampus, bagaimana bisa kamu tidak pernah melihatku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Keduanya tertawa, seakan terkenang di masa kuliah dulu. Jarak tiga tahun yang terbentang antara dua mantan mahasiswa satu fakultas itu, tidak menutup kemungkinan hanya saling tahu sebatas wajah, tapi tak mengenal lebih jauh. Hingga kemudian kedua orang itu dipertemukan, berkenalan dan tidak disangka; ternyata dulu pernah kuliah di fakultas yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Siang datang dengan cepat dan hari tiba-tiba sudah berganti sore. Perempuan itu sebenarnya ingin pulang sore itu tetapi gerimis yang turun tiba-tiba mencegahnya untuk pulang segera. “Tahukah kau bahwa aku sebenarnya benci gerimis!’” ucap perempuan itu kesal. Ia tidak bisa pulang, dan gerimis seperti mencegahnya bertahan lebih lama di kontrakan mungil itu --setidaknya harus menunggu sampai reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Kenapa kau benci gerimis? Bukankah gerimis yang turun itu akan memberikan setangkup kebahagiaan bagi petani?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Tapi setiap turun gerimis, entah kenapa, aku selalu terkenang akan perpisahan. Dan setiap perpisahan, selalu membuatku tiba-tiba ingin menangis…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Gerimis masih turun. Dari gorden jendela depan yang tersingkap, lelaki itu bisa melihat dengan jelas gerimis yang turun dari balik kaca jendela. Ia tak ingin perempuan itu menangis serupa gerimis yang turun di senja itu. Senja yang meninggalkan kenangan tentang gerimis, dan perpisahan yang akan segera terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Kau tak perlu sedih, nanti aku bisa mengantarmu pulang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Aku tak mau kau mengantarku. Aku bisa naik taksi…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Gerimis reda, dan petang tiba-tiba sudah melingkupi cakrawala. Adzan maghrib menggema dari masjid di dekat kontrakan. Lelaki itu terpaku sejenak sebelum kemudian berpesan pendek. “Kau bisa shalat di sini. Aku akan ke masjid dulu, baru setelah itu aku akan mengantarmu pulang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Perempuan itu termangu, membiarkan lelaki itu berlalu dari hadapannya; hilang di telan hamparan petang setelah keluar dari pintu kontrakan. Perempuan itu kemudian melangkah ke kamar mandi. Air kran terdengar parau. Ia mengambil wudhu dan keluar dengan muka setengah basah. Lalu, masuk kamar menunaikan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Lelaki itu pulang dari masjid, membuka pintu kontrakan. Dari balik pintu kamar, ia mendapati perempuan itu sudah selesai menunaikan shalat, dan dia menanti di luar kamar dengan galau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       ”Sudah siap kuantar pulang?” tanyanya ketika perempuan itu keluar dari kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       ”Tak usah mengantarku, kau hanya perlu memanggilkan taksi untukku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ia menatap perempuan itu dengan melotot ”Aku harus mengantarmu karena aku khawatir terjadi apa-apa denganmu di jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       ”Bagaimana jika kamu hanya mengantarku sampai di jalan raya, setelah itu aku naik taksi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Lelaki itu kembali menatap wajah perempuan itu. ”Aku tak akan membiarkamu pulang sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sisa gerimis masih meninggalkan hawa dingin di sepanjang jalan, ketika lelaki itu mengantar perempuan itu pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Malam mengambang di langit. Di balik jendela lelaki itu masih terkenang jalanan yang disergap macet, sebelum akhirnya ia tiba di kontrakan perempuan itu dengan letih. Dan malam sehabis turun gerimis di senja itu, dia tak pernah bisa melupakan kisah yang membuatnya terkenang tentang gerimis lantaran dia terlanjur menceritakan sepenggal hidupnya pada perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sesaat setelah ia bercerita, di teras rumah kontrakan yang ditinggali perempuan itu, ia tiba-tiba diingatkan lagi peristiwa sepuluh tahun lalu. Peristiwa yang membuatnya tersedu, karena dia pernah membuat perempuan yang dia kenal dekat harus terluka dan dirawat di sebuah rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Jika besok kau main ke sini, aku harap kau tidak keberatan untuk bercerita lagi. Aku akan selalu merindukan ceritamu. Aku tak menyangka, jika kau ini pandai bercerita dan mendongeng…” sanjung perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Ini bukan dongeng. Tapi ini kisah nyata dalam hidupku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Kenapa tak kamu tulis dalam novel? Aku yakin kisah itu bisa membuat pembaca tersihir dan terpikat…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Aku tak yakin dengan kemampuan diriku… Biarlah cerita itu akan menjadi kisah yang ada dalam kepalaku. Aku tak keberatan menceritakannya padamu sepenggal demi sepenggal jika aku besok datang ke sini lagi, tetapi tidak untuk kutulis dalam novel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Perempuan itu diam, melepas kepergian lelaki itu dari sebuah tangga. Tapi, lelaki itu seperti berat bergegas pergi meninggalkan perempuan itu dalam remang malam yang galau. Ia menoleh sekilas, kembali mendekati perempuan itu, “Aku ingin bertanya satu hal padamu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Perempuan itu diam, memandang lelaki itu dengan heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Apa kau sudah memiliki calon suami?” tanya lelaki itu mengejutkan, membuat perempuan itu tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Jika kau mau tahu jawabanku, aku harap kau mau menulis kisahmu itu menjadi novel. Jadi, selesaikan novelmu, setelah itu baru aku mau menjawab pertanyaanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Laki-laki itu beranjak pergi untuk pulang, tak mau menoleh melihat kembali ke arah perempuan itu. Ia merasa ditampar jawaban yang membuatnya tak bisa berpaling dan menoleh lagi. Bertahun-tahun, ia dibesarkan dalam kepingan kisah yang tak pernah membuatnya bisa mengukir prestasi sepanjang hidupnya, membuat ia terpikir mimpi yang pernah ia kubur dalam-dalam sewaktu ia merasa sebagai anak bodoh sekampung, yang kemudian bisa pergi ke kota besar berkat doa ibunya. Tetapi, kini ia merasa bahwa kesempatan ini adalah masa depannya yang sudah lama dia impikan. Sebuah kisah yang akan ia ceritakan untuk anak cucunya kelak di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sore tadi, ia kembali datang ke kontrakan perempuan itu. Tak ada yang ingin dia katakan, kecuali hanya untuk minta sebuah jawaban. Seperti di malam yang rumpil saat ia mengantar perempuan itu pulang, keduanya kembali duduk di teras rumah. Lelaki itu diam, termangu lama sebelum kemudian membuka percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Kenapa kamu tak mau mengatakan jujur padaku untuk sebuah pertanyaan yang kemarin aku tanyakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       ”Kamu tidak boleh begitu. Apa yang harus kukatakan kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Apa kamu sudah punya calon suami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Sudah kukatakan… Jika kau mau tahu jawabanku, aku harap kau mau menulis kisahmu itu jadi novel. Jadi, selesaikan novelmu, setelah itu baru aku mau menjawab pertanyaanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Lelaki itu pulang dengan membawa jawaban yang tak pernah ia dapatkan, meski ia sudah susah payah membujuk perempuan itu. Ia tahu, jika usahanya untuk membujuk dan merayu perempuan itu akan sia-sia. Dan pada malam yang rumpil, setelah dia tiba di kontrakannya sepulang dari kontrakan perempuan itu, ia hanya bisa menatap gerimis yang turun dari kaca jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ia tahu, kebahagiaan yang ia rasakan di malam yang rumpil seperti sekarang ini menyisakan mendung kebimbangan yang akan terkenang dalam ingatan. Sepi menusuk kalbu. Gerimis turun tiba-tiba, menyisakan mendung yang kelabu. Ia kembali menatap langit dengan sendu, sebelum kemudian melangkah ke arah meja di mana seperangkat komputer sudah menyala dari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dan malam ini, di depan computer, dia mulai menuliskan sebuah kisah. Sebuah kisah tentang gerimis yang akan ia kenang selalu dalam ingatan. Karena dia tahu, empat bulan kemudian sejak ia memutuskan menuliskan kisah tentang gerimis, ia akan pergi menemui perempuan itu; menagih janji untuk jawaban dari sebuah pertanyaan tentang calon suami… ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita untuk Faza&lt;br /&gt;Ciputat, 22 Mei 2009&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3828632018207751810?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3828632018207751810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3828632018207751810' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3828632018207751810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3828632018207751810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2009/05/sebuah-pertanyaan-tentang-calon-suami.html' title='sebuah pertanyaan tentang calon suami'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/ShXSDSZM3cI/AAAAAAAABmA/7T9KdIR9tUk/s72-c/2_DSC_0497.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-5954033440382761541</id><published>2009-03-22T11:15:00.000+07:00</published><updated>2009-05-22T10:26:46.186+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>dua janji</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SZzdjqSqynI/AAAAAAAABic/nLa9BoPsow0/s1600-h/100_4704.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 239px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SZzdjqSqynI/AAAAAAAABic/nLa9BoPsow0/s200/100_4704.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304358065853352562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen di muat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ANGGUN&lt;/span&gt; edisi 3/II/Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;/1/&lt;br /&gt; LELAKI setengah baya yang menjabat sebagai Kepala Desa itu hanya termangu, dan diam lama saat tamu yang datang ke rumahnya sore itu akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya dengan jujur. Ada perasaan aneh yang menggumpal tepat di jantungnya, lantaran ia harus melakukan sesuatu yang selama ini menjadi pertentangan di lubuk hatinya. Sempat, ia digulung keraguan ingin menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Tetapi, entah mengapa, matanya tiba-tiba berbinar merah tepat ketika tamu berjas hitam itu meletakkan sebuah amplop putih berisi uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan khawatir, pak,” kata tamu tersebut, “Ini hanya uang muka! Kalau nanti, bapak bisa membantu saya jadi caleg, pasti ada tambahan bonus lagi. Ini memang tak seberapa, tetapi jika saya terpilih, nanti akan ada bonus lagi sebagai balas jasa.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; “Oh, jadi itu yang membuat bapak datang ke sini?” ujar Kepala Desa itu, serasa mendesah senang. Kilatan matanya menerka-nerka setumpuk uang dalam amplot putih yang tergetak di atas meja, “Kalau hanya bantuan seperti itu, urusan kecil, pak! Semua warga di sini, pasti mengikuti apa yang saya perintahkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saya tidak ragu lagi! Saya percaya dengan kecerdikan bapak! Jika tak cerdik, bagaimana mungkin bapak dulu bisa terpilih jadi Kepala Desa…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kepala Desa itu kembali termangu, merasa tersanjung. Matanya menatap senja yang jatuh perlahan lewat bingkai kaca jendela. Ia tahu, gelap sebentar lagi akan tiba dan hari berganti menjadi malam. Tetapi di lubuk hatinya, ia merasa hari seperti masih pagi sebab kelak ia akan bisa memiliki uang tambahan untuk beli mobil baru dari balas jasa memenangkan pemilu. “Pasti dijamin jadi, pak!”  tegas Kepala Desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Terima kasih, pak!” ujar laki-laki berjas hitam itu seraya berdiri, menjabat tangan Kepala Desa. Lalu keduanya melangkah ke beranda. “Belakangan ini saya cukup sibuk. Apalagi malam nanti saya ada janji bertemu seseorang. Jadi, mohon pamit dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keduanya terus melangkah. Sampai di beranda, lelaki berjas hitam itu menepuk-nepuk bahu Kepala Desa setelah dia memberikan isyarat pada sopir pribadinya untuk segera pergi. Kepala Desa mengangguk, melepas kepergian lelaki itu dengan senyum tanpa dosa.  Petang jatuh perlahan, seiring semburat gelap yang melingkupi halaman. Dan Kepala Desa itu melangkah memasuki rumah dengan memendam harapan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt; ANIRMA hanya termangu, dan diam cukup lama tatkala senja itu Iswadi datang ke kontrakannya. Tanpa ada angin, lelaki yang bekerja satu kantor dengannya itu tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya. Ada perasaan aneh yang menjalar di hati Anirma dan menggedor-gedor pedih masa lalunya yang kelabu. Ia serasa digulung secuil keraguan menerima lelaki itu. Tapi entah mengapa, Anirma seperti tercekat, tak bisa menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa? Kamu ragu dengan keseriusanku?” tanya Iswadi lembut tapi menusuk ulu hati Anirma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anirma tergeragap, mukanya berwarna merah --seakan habis ditampar.  Tetapi, Anirma tidak segera memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku sudah mengenal kamu lebih dari dua tahun dan kini aku ingin mengajakmu menikah. Lalu apa yang membuatmu ragu untuk memberikan secuil jawaban?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anirma kembali diam, tidak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Harusnya, kamu tahu jawabanku: aku tidak pernah mampu memberikan secuil jawaban pada siapa pun lelaki yang jatuh cinta padaku! Jawaban cinta itu adalah satu janji yang harus aku pegah teguh. Padahal aku merantau ke jakarta dengan mimpi bisa membawa perubahan besar. Maka aku hanya berharap satu hal pada lelaki yang jatuh cinta padaku, jangan sampai mawar di hatiku layu sebelum ia berbunga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anirma dan Iswadi terdiam. Saling pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Boleh aku bertanya padamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bertanya tentang apa?”  tanya Anirma ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa kau menyukai bunga mawar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hmm…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jika kamu suka, besok aku akan memesan bunga mawar untukmu! Kamu bisa menanam bunga itu di mana pun kamu suka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anirma kembali diam. Entah kenapa, senja itu Anirma seperti susah untuk diajak bercanda. Dan lelaki itu tak tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya, ia pamit dengan meninggalkan bau parfum yang sunyi. Dan sebelum pulang ke rumah, lelaki itu mampir ke toko bunga. Ia memesan bunga mawar untuk diantar ke alamat Anirma.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt; SETENGAH tahun berlalu, laki-laki setengah baya yang menjabat sebagai Kepala Desa itu mendapati kabar bahwa lelaki berjas hitam yang pernah datang ke rumahnya, ternyata terpilih menjadi anggota dewan. Sebagai orang yang berjasa besar, dia tidak lupa dengan janji yang pernah diucapkan lelaki itu. Ia sudah lama menunggu saat yang ia nantikan itu dengan dada berbinar dan mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Senja baru turun, meninggalkan kenangan akan kedatangan lelaki berjas hitam itu dengan senyum menjanjikan. Maka, ia tak mau kehilangan kesempatan. Buru-buru ia mengangkat gagang telepon …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Saya ucapkan terima kasih atas bantuannya, pak Kepala Desa! Tanpa bantuan bapak, tentu tidak mungkin saya bisa terpilih,”  jawab lelaki berjas hitam dari seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi kapan akan bertandang ke rumah, pak? Rumah saya selalu terbuka lebar menunggu kedatangan bapak! Juga, warga saya yang telah memilih bapak!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sabar, pak! Saya masih agak sibuk, apalagi saya harus menanti pelantikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh, tentu... Saya tahu itu!  Tapi, bagaimana dengan janji bapak tentang bonus tambahan yang dulu pernah bapak janjikan setelah bapak terpilih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pasti itu, pak! Saya tak akan memungkiri janji yang telah saya ucapkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hati Kepala Desa berdebar girang, seperti tidak sabar. Tapi ia paham, kesibukan lelaki yang dulu pernah datang ke rumahnya, kini sudah menjadi orang penting dan ia harus rela menunggu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt; SETENGAH tahun berlalu. Iswadi tidak pernah patah arah. Ia selalu mengunjungi Anirma meski dengan hati pilu --seperti tertusuk duri bunga mawar. Tetapi, ia tahu, ada setangkup bungan merah yang mulai bisa ia lihat sejak ia mengirim bunga mawar untuk Anirma. Setiap kali ia datang ke kontrakan Anirma, ia bisa menjumpai bunga mawar itu tumbuh dan hatinya berdebar ketika ia menatap bunga itu sudah berbunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kau suka bunga mawar itu?” tanya Iswadi, gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa tidak bertanya yang lain…” jawab Anirma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hanya ingin tahu. Kau keberatan...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Hmm.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Aku suka matamu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Kenapa tidak ngomong yang lain…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Seperti ada setangkup bunga mawar dalam matamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ah, kau pasti membual… Aku tak percaya denganmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembali, pemuda itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. ia ditikam bingung, dan akhirnya pamit pulang dengan meninggalkan aroma parfum yang sunyi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/5/&lt;br /&gt; DUA bulan kemudian, sejak Kepala Desa menelpon lelaki berjas hitam yang dulu datang ke rumahnya, ia mulai kehilangan kesabaran. Lelaki berjas hitam ternyata tidak pernah memenuhi janji. Kepala Desa kembali memberanikan diri untuk menelpon lelaki itu untuk menagih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Rasanya, jika orang sudah jadi orang penting seperti tidak pernah punya waktu lagi untuk turun ke bawah” sindir Kepala Desa itu lewat telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi lelaki berjas hitam yang dulu pernah menemuinya, ternyata tak menangkap sindiran itu, “Bukan tidak ada waktu, pak! Lebih tepatnya, jadwal sidang cukup padat sehingga belum ada kesempatan untuk turun ke bawah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi, bapak tidak lupa khan dengan janji bapak sebelum pemilihan dulu….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh, janji apa ya…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Itu lho, pak! Masak bapak bisa lupa?” ucap Kepala Desa itu ragu, “Janji untuk memberi tambahan bonus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Maaf, pak! Rasa-rasanya, saya tidak pernah berjanji seperti itu…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Deggg! Jantung Kepala Desa itu berdegup dengan kencang. Gagang telepon yang dipegangnya nyaris jatuh. Adzan maghrib yang menggema di petang itu serasa menjalar ke persendian kaki. Ia hanya diam, termangu, menatap petang yang berganti menjadi malam. Hatinya kecut, serasa ditikam…&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/6/&lt;br /&gt; SUDAH dua bulan, Iswadi tak mengunjungi Anirma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Senja jatuh perlahan. Di depan kontrakannya, Anirma menatap bunga mawar di dalam pot dengan diam. Wanita itu, entah mengapa, menganggap Iswadi tak gigih menggoyahkan hatinya. Padahal bunga mawar itu ia rawat dengan baik untuk tumbuh di hatinya. Kini, ia disergap keraguan dan sudah memutuskan untuk mencabut bunga itu sebelum ia pulang ke kampung sebab ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ragu, Anirma memandang bunga mawar itu terakhir kali sebelum ia mencabut dengan beringas. Dulu ia merasa ada pertentangan dalam dirinya sewaktu menanam bunga itu. Seakan, dia tidak ingin bunga itu tumbuh dan mekar, apalagi bisa berbunga. Tapi, kini ia harus ditikam kecewa setelah bunga itu tumbuh ternyata Iswadi tak kunjung datang. Kini, ia sudah memutuskan untuk mencabut bunga mawar itu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tunggu!” sebuah suara membuat Anirma kaget. Ia diam, menengadah ke arah datanganya suara. Tak disangka, Iswadi sudah berdiri kaku di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa kau hendak mencabut bunga itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku pikir, kau tidak akan pernah datang lagi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Janji seorang lelaki yang jatuh cinta, tak akan pernah dipatahkan oleh duri dan musim panas. Sebab, ia berjanji bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk kehidupan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anirma terpaku, menatap pemuda itu dengan tersipu. Kini dia tahu, janji seorang pecinta sejati memang tak bisa disamakan dengan janji seorang politisi. Tapi diam-diam Anirma tak bisa menepis semerbak wangi bunga mawar yang mulai bersemi dalam pot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan ia tahu, bunga mawar itu tidak layu sebelum berbunga! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kado pernikahan buat Anir  MA&lt;br /&gt;Ciputat, 10 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-5954033440382761541?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/5954033440382761541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=5954033440382761541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5954033440382761541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5954033440382761541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2009/02/dua-janji.html' title='dua janji'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SZzdjqSqynI/AAAAAAAABic/nLa9BoPsow0/s72-c/100_4704.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6568363788661417168</id><published>2009-02-15T16:40:00.000+07:00</published><updated>2009-02-20T00:45:45.051+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>pernikahan yang hampa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SW8Fa1knjdI/AAAAAAAABg4/m31YMkDE3t0/s1600-h/2_DSC_0208.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SW8Fa1knjdI/AAAAAAAABg4/m31YMkDE3t0/s200/2_DSC_0208.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291454045799026130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="email"&gt;cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;majalah Anggun&lt;/span&gt; edisi 7/bln februari 09&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/1/&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    MALAM itu, Anita sungguh merasa hambar. Ia menggeliat, memeluk guling dan hanya mampu mendesah sedih. Anita menatap jam di dinding. Pukul sebelas lewat lima menit. Sudah berulang kali, ia memejamkan mata tapi di sudut kelopak matanya seperti ditimbuni kepedihan yang semakin menusuk tajam; membuat hati Anita seperti diterjang perih. Ia tahu, tak ada yang bisa ia lakukan selain memandangi potret pernikahan yang terpajang di dinding kamar untuk sekedar mengenang secuil kisah saat sepi menyelinap diam-diam, lalu menjebol tanggul matanya; mengantar air matanya tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu, ketika ia hendak melangsungkan pernikahan dengan Arjuna, dia tidak membayangkan akan mengalami sebuah masa yang rumpil dalam kehidupan rumah tangganya. Ia tahu, memang tak semua pengantin baru bisa merajut kehidupan manis dipenuhi untaian kisah-kisah bahgaia. Sebab tidak sedikit teman-teman Anita dari kampung yang mengadu nasib ke Jakarta dan sudah melangsungkan pernikahan tiga sampai lima tahun, ternyata hidup biasa-biasa saja!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anita tidak menutup mata bahwa sebagian besar dari mereka itu adalah orang-orang urban yang bekerja di Jakarta dengan gaji yang tidak terlalu besar. Wajar, meski sudah menikah sekitar lima tahun dan memiliki anak; sebagian besar dari mereka masih ngontrak rumah dan tidak memiliki tabungan untuk mampu membeli rumah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita sebenarnya beruntung. Selepas kuliah, dia bisa mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan kariernya tak tersandung-sandung. Ia bekerja di sebuah  bank ternama dan menduduki posisi lumayan. Tapi ketika beberapa teman wanita yang dikenalnya mulai menikah satu per satu, ia diterjang iri. Bukan karena ia tidak memiliki kekasih yang siap diajak menikah, tapi ia bingung menerima kenyataan; kekasihnya pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kini, kamu sudah kerja, mapan dan memiliki calon! Apa lagi yang kamu tunggu sehingga kamu tidak segera menikah, padahal banyak temanmu yang sudah menikah dan punya anak,”  tanya ibu Anita saat Anita pulang ke rumah. “Aku sudah tua, sudah tidak sabar menunggu lama lagi menimang cucu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ibu Anita itu, membuat Anita seperti tersudut. Setiapkali ia pulang ke rumah pada awal bulan, ibunya selalu mendesaknya menikah. Ia tidak bisa mengelak. Ironisnya, ia tidak sanggup untuk menjawab jujur; bagaimana mungkin ia akan menikah, sementara Arjuna masih menganggur? Di sisi lain ia tak mau dianggap tidak setia untuk meninggalkan Arjuna, laki-laki yang menjadi kekasihnya sedari awal masa kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah kamu pikir! Jika kamu sudah cocok dengan Arjuna, menikahlah segera karena pernikahan itu bisa mengundang datangnya rezeki. Siapa tahu, setelah menikah nanti Arjuna mendapat pekerjaan,”  ucap ibu Anita, seperti tahu keraguaan hati Anita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bu! Apa nanti kata famili dan keluarga kita? Jauh-jauh aku kuliah, dan kini sudah bekerja, ternyata harus menikah dengan suami pengangguran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini masih muda, belum pernah mengalami terjangan badai bahtera rumah tangga. Serahkan pada Tuhan, apa yang terjadi hari esok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita merasa mendapat angin. Maka ia pun mendesak Arjuna meminangnya. Empat bulan kemudian, Anita dan Arjuna melangsungkan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin menua. Anita menghapus kristal-kristal air mata yang mengalir di sudut matanya. Ia sadar, apa yang dulu dikatakan ibunya itu ternyata benar. Tiga bulan setelah menikah, Arjuna mendapat panggilan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Arjuna sudah mendapat pekerjaan sebagai editor bahasa di sebuah koran harian. Hanya saja, perkejaan Arjuna harus membuat Anita diterjang sepi tatkala malam tiba --lantaran jam kerja Anita dan Arjuna nyaris seperti bulan dan matahari. Keduanya nyaris tak pernah bertemu dan bercengkrama, meski pun tinggal dalam satu atap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;MALAM hampir pagi. Anita sudah tertidur, saat Arjuna pulang ke rumah. Seperti kepulangan Arjuna di malam yang lain, Arjuna meraih kunci dari saku celananya, lalu memasukkan benda mungil itu ke lubang pintu. Selanjutnya, dia memutar kunci dengan pelan. Pintu pun terbuka tanpa halangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna mengunci pintu, sebelum memasuki rumah dengan langkah yang nyaris sempoyongan lantaran ditikam kantuk. Dia berjalan seperti tak menginjak lantai, seraya melepas jaket dan masuk kamar. Seperti di hari-hari yang lain, Arjuna menjumpai istrinya tidur pulas, bagai sosis dalam setangkup roti. Arjuna menatap Anita, ia merasa iba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kian memucat. Arjuna menatap jam dinding. Pukul dua dini hari. Setelah mengganti baju dengan kaos, ia meringkuk di sebelah Anita dan cepat-cepat menarik selimut. Rasa kantuk yang menggumpal di sudut matanya membuat Arjuna tidak kuat menahan kelopak matanya terjaga lebih lama lagi. Akhinya, ia tertidur pulas kala kota Jakarta mulai terlihat murung karena masih ditingkupi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;ANITA terbangun ketika gema adzan subuh menggema. Serasa tergeragap dari mimpi, Anita segera menyibak selimut. Dingin merayap pelan menjalar ke sekujur tubuh Anita. Ia tatap wajah Arjuna yang tidur pulas, tidak berdaya. Dengkur Arjuna terdengar sendu. Anita serasa sesak napas. Kebiasaan buruk Arjuna itu yang kerap kali membuat Anita merasa sebel dan kesal. “Mas bangun, sudah subuh. Shalat dulu, setelah itu nanti bisa tidur lagi!”  bujuk Anita seraya menggoyang-goyang tubuh suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Arjuna tidur seperti selongsong peluru. Dia seperti tidak mendengar suara Anita. Juga, tak merasakan tangan Anita yang menggoyang-goyang dengan kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita tahu, Arjuna masih perlu tidur untuk beberapa waktu lagi. Di pagi itu, Anita membiarkan Arjuna, lantaran merasa iba. Malas Anita beranjak dari ranjang melangkah ke kamar mandi; mengambil wudhu. Dan pagi itu, sehabis shalat Anita berdoa dengan khusuk. Ia berdo`a meminta untuk segera diberi keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Anita memasak di dapur, sebelum sinar matahari muncul dari ufuk Timur, ia mendengar langkah Arjuna keluar dari kamar lantas muncul di ambang pintu dapur.  “Kenapa kamu tidak membangunku untuk shalat subuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah aku bangunkan! Mas aja yang tidur seperti batu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika aku tidur menjelma menjadi batu, kenapa kamu mau menikah denganku?” lgurau Arjuna, “Jika boleh tahu, hari ini kamu masak apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memasak batu!”  jawab Anita, tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna tidak menanggapi, karena buru-buru melangkah ke kamar mandi. Arjuna tahu matahari sebentar lagi akan terbit. Maka ia harus segera menunaikan shalat. Sejak Arjuna bekerja, Anita tahu kebiasaan Arjuna; setelah shalat shubuh selalu melanjutkan tidur lagi. Padahal di awal pernikahan dulu, Arjuna biasa bangun pagi; mencuci piring, menyapu bahkan masak. Sementara Anita, setelah shalat melanjutkan tidur. Kini, Anita merasa benar-benar menikah dengan batu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;SEBELUM berangkat bekerja, Anita menulis di secarik kertas untuk memberitahu Arjuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masakan sudah tersedia di meja makan. Makanlah seakan-akan aku berada di sisimu, meski aku tidak ada di rumah! Aku berangkat kerja dulu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;   (Anita)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia letakkan kertas itu di meja riasnya, lalu cepat-cepat meraih tas kecil di atas meja karena ia tahu mobil jemputan dari kantor sudah hampir tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/5/&lt;br /&gt;SIANG itu, Arjuna terbangun ketika adzan dhuhur berkumandang. Ia menggeliat, menyibak selimut dan meregangkan otot seakan merasakan tulang rusuknya ada yang patah, akibat ditikam capek. Dengan malas, Arjuna bangkit dari ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hari-hari sebelumnya, Arjuna melangkah ke meja rias istrinya dan meraih secarik kertas yang ditinggalkan oleh Anita. Entah kenapa, setiap kali Arjuna membaca pesan yang ditulis Anita itu, ia merasa mendapat kiriman sepucuk surat cinta yang ditulis oleh kekasihnya yang cukup jauh dan sudah lama tidak bertemu. Padahal, Anita baru meninggalkannya lima jam yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, Arjuna tahu Anita sedang istirahat. Maka, buru-buru ia menelpon Anita untuk menumpahkan rasa kangen sebagaimana sepasang kekasih muda yang berada di sebuah tempat yang jauh dan sudah lama tidak ketemu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/6/&lt;br /&gt;SEHABIS menunaikan shalat maghrib, Arjuna meninggalkan rumah untuk pergi ke tempat kerja. Tetapi hari itu, Arjuna seperti diburu waktu. Kantor tempat Arjuna bekerja sudah menelponnya untuk segera datang lebih awal dari biasa. Arjuna pun tak sempat menulis sepucuk pesan di secarik kertas buat Anita sebagaimana biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam setelah Arjuna meninggalkan rumah, Anita tiba di rumah. Seperti di hari-hari sebelumnya, Anita menjumpai rumah dalam keadaan lengang. Sepi bahkan mati. Anita menjatuhkan diri di atas sofa, lalu meregangkan persendian tangan dan menarik napas panjang. Tetapi, ia tidak pernah bisa membohongi diri sendiri; hatinya merasa lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Arjuna mendapatkan pekerjaan dengan jam kerja malam, dan pulang di ujung pagi Anita sudah didesak hasrat kuat untuk segera memiliki momongan. Ia merasa kelahiran seorang anak, akan bisa memberinya teman di kala sepi menyelinap kuat di malam-malam yang rumpil. Jika dulu Arjuna masih menganggur, dia memang sengaja menunda sementara waktu untuk memiliki anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ia merasa waktu yang ia tunggu itu sudah tiba. Tetapi, kenyataan ternyata berbicara lain. Arjuna bekerja di malam hari, dan Anita bekerja di siang hari. Keduanya nyaris tidak pernah bertemu meski hidup dalam satu atap kecuali di malam minggu --di saat Arjuna libur. Padahal satu hari selama seminggu itu, bagi Anita tidaklah cukup untuk membuat hidupnya bisa menepis sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Anita kembali merasa getir. Sepi seperti merengguk sampai ke lubuk hatinya. Maka, sebelum tidur, Anita kembali menulis di secarik kertas untuk memberitahu pada Arjuna tentang secuil perasaan sepi yang tidak bisa ditanggungnya sendiri dalam diam. Pasalnya, Anita dan Arjuna sudah punya rumah sendiri, sukses kerja dengan karier lumayan. Hanya satu yang belum tercapai, keduanya belum dikarunia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/7/&lt;br /&gt;MALAM hampir pagi. Anita sudah tertidur nyenyak, tatkala Arjuna pulang. Tetapi, di malam itu Arjuna terperangah dan nyaris tidak percaya ketika ia memasuki kamar dan menjumpai secarik kertas yang ditulis Anita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kapan kita punya anak kalau kita menjalani pernikahan seperti ini? Untuk apa  menikah, jika kita hidup seperti matahari dan bulan, datang dan pergi di saat berlainan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;   (Anita)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna membaca pesan Anita itu dengan tubuh gemetar. Ia sadar, kota Jakarta telah melindasnya; dia dan Anita harus menjalani pernikahan yang hampa. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 10 Januari 2009&lt;br /&gt;ilustrasi foto: bayu ngenggo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6568363788661417168?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6568363788661417168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6568363788661417168' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6568363788661417168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6568363788661417168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2009/01/pernikahan-yang-hampa.html' title='pernikahan yang hampa'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SW8Fa1knjdI/AAAAAAAABg4/m31YMkDE3t0/s72-c/2_DSC_0208.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-5124503052337731144</id><published>2009-01-11T14:32:00.001+07:00</published><updated>2009-01-16T13:18:04.245+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>usia pernikahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SUdaB2ywWOI/AAAAAAAABfY/s8BkOdwzUCs/s1600-h/DSC_0142.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 158px; height: 211px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SUdaB2ywWOI/AAAAAAAABfY/s8BkOdwzUCs/s200/DSC_0142.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280288076049963234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;majalah Anggun&lt;/span&gt; edisi 6/bulan Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    SENJA itu, aku berdiri dibalik jendela kamarku tenggelam dalam labirin kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Senja mengambang di langit, dan matahari hampir tenggelam. Tetapi, ada yang menyelinap dalam pikiranku, dan seperti terkenang dalam ingatan ketika senja turun dengan pelan dan pelangi yang indah muncul dengan tiba-tiba menyibak keremangan. Aku yang melihat senja bertahun-tahun, seperti tidak sabar menunggu suatu hari yang menentramkan di mana seorang lelaki datang meminangku karena aku sudah beranjak dewasa; memasuki usia pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kini…, aku sudah dewasa. Usiaku menginjak dua puluh enam tahun. Seperti kekal dalam kenangan, ketika aku masih kecil dulu dan ibu sering mengajakku pergi ke pantai tepat selepas ayah mengambil uang gajinya. Mataku berbinar, sewaktu aku digandeng ibu berjalan di tepi pantai, lalu saat matahari hampir tenggelam, ibu menunjuk ke arah Barat; aku melihat matahari tenggelam di peraduan seakan hanyut di pusaran laut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;    Tapi senja ini, aku tidak bisa menikmati mentari yang hampir tenggelam, lantaran dari balik jendela aku tidak melihat sosok lelaki yang sudah aku tunggu dengan cemas muncul di tikungan. Padahal, mentari hampir tenggelam dan sudah setengah jam yang lalu, aku berdiri di balik jendela seraya menatap tikungan dengan tatapan hampa. Apa ia tidak akan datang ke rumahku lagi dan takut dengan sikap ayah yang sudah dua kali menolak keinginannya untuk menyuntingku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hatiku mulai cemas. Aku mengharap ia datang. Tapi, setengah jam telah berlalu aku justru disergap cemas, lantaran ia tak juga muncul dari balik tikungan. Kakiku terasa kaku. Aku sudah lama berdiri menunggunya dengan sabar. Tapi, aku ternyata disergap kecewa karena ia tidak juga muncul dari balik tikungan. Aku melangkahkan kakiku, ingin rebah di ranjang. Ingin rasanya, aku menangis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi saat aku ingin melangkah pelan, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dari balik tikungan. Aku kembali menengok ke luar jendela. Aku lihat, dia turun dari taksi, lalu berjalan ke rumah dengan langkah tegap seperti pangeran. Hatiku berdegup kencang, angin berhembus mengibaskan gorden di jendela. Hatiku bergemuruh, seperti diterjang ombak. Lalu, lekaki itu membuka pintu pagar rumahku dengan derit menyanyat. Ayah yang lagi duduk di beranda ditemani oleh ibu, mungkin hanya memandangnya heran. Aku tahu, ayah pasti tidak menghendaki kedatangannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi aku telah memaksanya datang kembali, setidaknya untuk yang terakhir kali. Dan senja ini, ia datang memenuhi permintaanku! Aku sungguh, bahagia melihat senja turun dan lelaki itu datang kembali ingin meminangku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah lelaki itu, aku tahu telah menginjakkan kaki di beranda rumah, aku tidak mendengar suara ayah menyambutnya dengan hangat, tapi lamat-lamat aku mampu mendengar kekasihku mengucap salam. Ingin rasanya, aku menghambur ke beranda, menyambut laki-laki itu dengan hangat; menyuguhkan segelas minuman untuk melepas dahaganya. Tetapi aku disergap takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Masih kuingat dalam labirin kenangan, perihal kedatangan lelaki itu sebulan lalu, tatkala dia benar-benar ingin menikahiku. “Engkau tahu, tidak!” ucapnya dengan tegas seakan-akan memintaku untuk mendengarkannya, “Aku ini sudah lama mendambakan seorang calon istri yang berjilbab, pintar dan bisa mendampingi hidupku. Aku memang belum lama mengenalmu, tetapi aku yakin bahwa kamu adalah wanita yang selama ini aku dambakan. Karena itu, aku ingin segera meminangmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku seperti disambar petir. Maklum, perkenalan kami baru berjalan dua minggu, tapi ia sudah merasa yakin bahwa aku ini adalah wanita yang selama ini ia cari susah payah. “Aku belum bisa menjawab niat baikmu, mungkin kamu bisa memberiku waktu untuk berpikir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Aku serius, jadi jangan kamu anggap main-main!” jawabnya, memintaku untuk segera memberi jawaban. “Aku selalu tidak salah dengan apa yang aku yakini, dan kau adalah calon istriku yang selama ini kuimpikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku tidak menjawabnya, tapi dia seperti tidak mau luluh dengan diamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hingga waktu berjalan tujuh bulan dan dia seperti tidak henti-henti memintaku untuk memberikan jawaban. “Sampai kapan aku akan sabar menunggumu? Apa kau masih belum melihat dan yakin dengan keseriusanku?”  cercanya pada suatu senja saat ia menjemputku dari tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Jika kamu serius, datanglah ke rumah dan temui ayahku!”  jawabku kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dia ternyata tidak main-main. Sebulan yang lalu, dia membuktikan diri datang ke rumah menumui ayahku. Tetapi ayah tidak pernah membuka pintu bagi lelaki itu selama kak Nouri, kakak perempuanku yang berusia dua puluh delapan tahun belum menikah. Ayah tak ingin aku melangkahi kak Nouri, “Aku tak keberatan dengan hubungan kalian, tapi aku tak akan pernah menerima pinanganmu selama Nouri belum menikah terlebih dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hatiku seperti remuk. Aku yang berdiri di balik pintu ruang tamu, bak mendengar gelegar petir yang menyanyat hatiku. Tak pernah aku bayangkan, ayah bisa keras dan tak menerima niat baik lelaki itu yang sudah datang ke rumah dengan baik-baik, ingin meminangku. Maka lelaki itu akhirnya pulang dengan memendam kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selepas kepergian lelaki itu, aku menghambur ke ruang tamu. Aku bersimpuh di bawah kaki ayah, “Kenapa ayah menolaknya? Sampai kapan aku menunggu kak Nouri nikah, padahal aku sudah berumur dua puluh enam tahun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ayah tetap kaku, “Aku tidak ingin kamu melangkahi kakakmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Tetapi, aku sudah meminta persetujuan kak Nouri dan kak Nouri tidak keberatan aku menikah dulu, ayah! Apalagi tidak ada aturan agama yang melarang seorang adik nikah lebih dulu. Ini hanya tradisi dan adat saja yang kadang dipandang tidak etis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ayah diam, lalu berdiri, “Aku tetap tidak merestui pernikahan kalian selama Nouri belum menikah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hatiku berdegup kencang, tatkala lelaki itu mulai membuka pembicaraan. Tidak kudengar ayah angkat bicara tetapi aku yakin suasana di beranda terasa kaku. Apakah senja ini dia akan pulang dengan memendam kecewa dan tak mampu menundukkan hati ayahku sebagaimana kedatangannya untuk pertama kali dan kedua kali dulu? Aku memanjatkan do`a, berharap ayah membuka hatinya setelah melihat keteguhan lelaki itu datang meminangku kembali untuk ketiga kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Senja hampir gelap. Hatiku kembali bergemuruh. Masih kuingat, betapa ayah, di mataku, tergolong orang yang keras, tak pernah mau membuka hati. Bahkan saat lelaki itu datang kembali untuk kedua kalinya, dua minggu yang lalu, ternyata ayah kembali menolak. “Aku tak merestui kedatanganmu untuk melamar putriku,” jawab ayah tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lelaki itu kembali pulang, memendam kecewa. Tetapi, aku selalu membesarkan hatinya, memintanya kembali datang ke rumahku untuk meluluhkan hati ayahku. “Apa jaminanmu, jika aku datang ketiga kalinya meminangmu?” tuntut lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Setidaknya, kamu sudah berupaya dan berusaha…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Baik, aku akan datang lagi tapi kedatanganku kalinya ini adalah kedatanganku untuk yang terakhir kali. Kalau, ayahmu tidak juga merestui, aku tidak akan datang lagi menginjakkan kakiku di beranda rumahmu untuk selama-lamanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hatiku bergidik. Senja hampir tenggelam, sepenuhnya. Tetapi apakah yang akan terjadi, jika ayah kembali menolak pinangan lelaki itu untuk ketiga kalinya? Apakah dia akan meninggalkanku, tak kembali lagi menginjakkan kaki di beranda rumahku apalagi meminangku kembali untuk selama-lamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semalam, aku sudah meminta ayah dengan tetes air mata. Aku merajuk, supaya ayah mau merestui pinangan lelaki itu, dan dengan segara aku bisa menikah. “Apakah ayah tidak pernah menengok sejarah, ketika ada lelaki yang menimang kak Nouri tetapi ayah menolak hingga kini kak Nouri tak pernah menerima pinangan laki-laki lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Muka ayah seperti memerah, mungkin pikirannya terkenang kejadian dua tahun yang lalu tatkala beliau dengan keras menolak pinangan seorang lelaki yang baik-baik hendak menikahi kak Nouri. Aku yakin, ayah tak akan pernah bisa lupa kejadian itu. Aku berharap ayah sadar dan berpikir jernih. Tetapi, tadi malam ayah diam, tak memberikan sebuah jawaban. Beliau kembali meninggalkanku bersimpuh di ruang tamu membuatku dirundung kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untung, ibuku membelai kepalaku, seakan ibu tahu penderitaanku. Tetapi semua keputusan ada di tangan ayah. Jika ayah tak memberi restu, ibu tak akan bisa berkutik apalagi bisa membantu memutuskan jalan lempang masa depanku sehingga aku bisa menikah dengan lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kembali, aku dengar sayup-sayup pembicaraan di beranda. Aku menajamkan pendengaranku, berharap bisa mendengar apa menjadi keputusan ayahku untuk lelaki itu yang senja ini datang kembali meminangku. Jendela kamar, kubuka lebar karena kali ini aku ingin mendengar jawaban melegakan; sebuah jawaban ayah yang membuatku diguyur bahagia lantaran ayah berubah pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah lima menit lelaki itu duduk di beranda, aku mendengar lelaki itu angkat bicara, “Mungkin ini kedatangan saya yang terakhir kalinya dan saya tak akan kembali selama-lamanya untuk minta pada bapak agar merestui pinangan saya! Mohon, bapak dan ibu berpikir lagi bahwa saya datang dengan niat baik dan tidak akan kembali lagi setelah ini jika pinangan saya tidak diterima…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku dengar ayah batuk-batuk, dan ibu hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Bagaimana, pak?” pinta lelaki itu. “Aku kembali meminta putri bapak…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kembali ayah batuk-batuk. Ibu hanya diam. Sementara, aku berdoa, berharap ayah berpikir kejadian dua tahun lalu yang menimpa kakak perempuanku, hingga ayah tak keberatan menerima pinangan lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aku cemas, menunggu ayah menjawab, tapi tidak juga kudengar jawaban dari ayah. Mentari sudah tenggelam dan di balik jendela, aku tak lagi melihat warna pelangi di langit. Tapi aku berharap ayah berubah pikiran. Satu detik berlalu. Dua detik memuaii dalam degup jantungku yang mendebarkan. Hingga kemudian, ayahku angkat bicara, “Aku tetap tak akan menerima pinanganmu selama Nouri belum menikah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mataku menjadi gelap, seiring turunnya petang yang tiba-tiba menggantung di langit. Dari balik jendela, kulihat lelaki itu membuka pintu pagar rumah, lalu melangkah dengan gontai. Ia berjalan dengan lemas, tidak seperti waktu tadi datang ke rumah. Ia berjalan seperti mengambang di atas tanah, dan aku tahu hatinya remuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu, malam seperti turun dengan cepat, tiba-tiba halaman di rumahku dilingkupi gelap. Seberkas sinar lampu di beranda menyala tetapi tak mampu membuat terang jiwaku. Hatiku redum oleh jawaban ayah yang tidak memberikan jawaban untuk masa depanku. Samar-samar, aku melihat bayangan lelaki itu hilang di balik tikungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu, tiba-tiba mataku kabur. Perutku terasa mual. Petang itu, rasanya aku ingin muntah. Apalagi, aku merasa ada denyut halus dalam perutku yang tiba-tiba melilit-lilit. Pedih. Perih. Aku merasa dalam perutku seperti ada seonggok daging yang menggeliat-geliat dengan halus. Aku sadar, sejak sebulan ini, perutku mulai seringkali mual, bahkan aku sudah kerapkali muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Terhuyung, aku berjalan ke ranjang seraya meraba perutku. Aku sadar, perutku mual karena maag-ku kambuh kembali setelah aku mendengar jawaban ayah menolak pinangan lelaki itu...***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta,  10 Desember 2008&lt;br /&gt;ilustrasi foto: bayu ngenggo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-5124503052337731144?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/5124503052337731144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=5124503052337731144' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5124503052337731144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/5124503052337731144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/12/usia-pernikahan.html' title='usia pernikahan'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SUdaB2ywWOI/AAAAAAAABfY/s8BkOdwzUCs/s72-c/DSC_0142.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-1465990647626558388</id><published>2008-12-06T15:40:00.005+07:00</published><updated>2009-09-11T19:14:21.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>kenangan retak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SaQ1rAkDpbI/AAAAAAAABi8/V7-io8mr1EE/s1600-h/2_green+linee.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 165px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SaQ1rAkDpbI/AAAAAAAABi8/V7-io8mr1EE/s200/2_green+linee.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306425273951167922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;majalah Anggun&lt;/span&gt; edisi 5/bln  Des 2008&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;TEPAT tengah malam, lelaki itu mendadak bangun serasa tergeragap dari mimpi menentramkan yang terpenggal. Dering ponsel di dekat kepalanya, yang terletak persis di atas meja ia dengar menyalak keras serupa anjing yang menggonggong kencang di tengah kelengangan malam. Gugup, ia diterkam gamang di antara mimpi dan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi suara handphone itu terus bergemuruh, berkecamuk serasa menghantam genderang telinganya. Lalu mulai sadar, beringsut menyibak selimut seraya menggosok-gosok matanya. Sisa kantuk membuat penglihatannya setengah kabur. Kesal, ia meraih ponsel.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam seperti ini, mengapa Winati menelepon? batin lelaki itu, setelah melihat sepenggal nama di layar ponselnya yang masih manyala kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo...." suara lembut Winati di seberang, “Kamu sudah tidur, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum,” jawab lelaki itu, bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa aku mengganggumu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Aku justru tak percaya, malam ini kamu menelponku. Aku mengira nomor hp-ku sudah kau buang jauh-jauh, setelah kamu melangsungkan pernikahan… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih menyimpannya! Kau keberatan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak…, tidak itu yang aku maksud,” tangkis lelaki itu, cepat, “Aku hanya heran, kenapa kamu meneleponku selarut ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin tahu tentang kabarmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang lain?” tanya lelaki itu, membuat Winati tergeragap, “Aku tidak yakin, jika tidak ada hal penting yang membuatmu menelponku! Ini sudah larut malam, bukankah besok hari masih ada waktu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sedang ada masalah dengan suamimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban di seberang. Lelaki itu termangu, ragu mencerca pertanyaan lagi. Tapi, dia masih diterkam bimbang. “Lantas, kenapa kamu belum juga tidur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali tak ada jawaban yang didengar lelaki itu, kecuali isak tangis yang tiba-tiba menelusup daun telinganya. Sebuah tangisan yang sudah dia hapal. Juga, sebuah tangisan yang serasa membasahi telinganya, merambatkan peta kesedihan yang harus ia sesap dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa diam? Ceritalah, jika kamu ada masalah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok kamu ada waktu?” akhirnya Winati bersuara, pelan dan dingin. “Aku ingin bertemu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbang, ia memberi jawaban. Tapi, ia tidak bisa menolak, “Ada. jam 12 siang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tunggu di tempat biasa kamu makan siang …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu sudah tahu, tempat Winati akan menunggu. Tapi, ia tidak tahu kenapa Winati ingin menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak dalam masalah, khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada sebuah jawaban. Hanya terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon di seberang telah ditutup.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;MALAM lagi purnama. Bulan di langit mengintip dari jendela, menaburkan kristal-kristal cahaya keemasan yang berpendar lembut, membungkus malam dalam bingkai waktu yang mulai memudar. Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur masih menggenggam handphone-nya erat-erat. Ia serasa dirambati hamparan awan, juga kabut putih yang muncul dari balik kegelapan setelah mendengar suara lembut Winati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru terjadi. Ia merasa bisa terbang bagai kelelawar yang keluar dari gua, menelusup di balik awan yang ganjil di musim sepi yang datang lebih awal. Apalagi isak tangis Winati seperti merampatkan jerit yang gelisah membuat sebuah janji untuk bertemu. Ya, sebuah pertemuan yang sudah lama dia nantikan setelah empat bulan yang lalu Winati tak bisa menemuinya di sebuah kafe ia biasa menghabiskan jeda jam kantor. Dan tahu-tahu, tak lama kemudian lelaki itu mendengar kabar mendebarkan yang membuat dadanya langsung sesak dan susah bernapas; Winati menikah dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di tepi ranjang, ia menatap bulan yang terbingkai dalam kaca jendela. Ia tidak tahu, kenapa tengah malam itu Winati tiba-tiba berbuat gila meneleponnya dan membuat janji bertemu. Tetapi jauh-jauh hari, ia sebenarnya sudah yakin jika suatu hari nanti, Winati akan menemuinya. Ia yakin akan hal itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar yang ia dengar dari seorang teman, meneguhkan hatinya untuk tak ragu, dan esok hari dia akan bertemu Winati di sebuah kafe tempat ia menghabiskan istirahat kantor untuk makan siang. Secuil harapan yang ia rajut dalam kenangan, setelah Winati menikah dengan orang lain, seperti merambatkan gelombang yang meluruh di lorong masa lalu. Semua itu, bermula sekitar sebulan lalu, ketika dia mendengar kabar miring yang merambat di telinganya bahwa Winati telah bercerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pada awalnya tidak peduli. Setumpuk desas-desus tentang kehidupan rumah tangga Winati yang retak mirip figura yang kemudian bisa pecah berkeping-keping dan berantakan di lantai. Seperti ingatan, pada awalnya berasal dari kenangan. Dua bulan setelah ia mendengar Winati menikah dengan orang lain, dia tahu Winati hidup dalam rumah tangga yang menyesakkan. Dari sahabat dekat Winati, ia mengetahui jika Winati sering diperlakukan kasar oleh suaminya, sehingga membuat perempuan itu tidak kuat mempertahankan perkawinan yang baru seumur jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tiga minggu lalu, laki-laki itu mendapatkan cerita yang melegakan. Winati menuntut cerai, karena sang suami ketahuan berselingkuh. Kini, lorong hampa yang dulu sempat menambatkan getir membuat lelaki itu semakin kukuh memeluk kenangan. Setangkup cinta yang dulu sempat menggumpal dalam kata, pun pelan-pelan mengisi ruang kosong. Seperti kesejukan malam yang merambat pelan, menggetarkan, lelaki itu serasa melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, lelaki itu ingin malam segera berlalu…&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;"KUPIKIR, kamu benar! Mestinya, aku tidak menikah dengan orang yang tak setia sehingga tidak terjadi perceraian…," desah Winati, seraya memandang jalanan ketika duduk berdua dengan lelaki itu di sebuah kafe. Mobil dan motor melintas serupa kilasan. Dan siang itu, kafe tempat Winati membuat janji bertemu dengan lelaki itu sungguh tak lagi membentangkan aroma yang puitis. Tampak asing dan ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sosok lelaki yang ada di hadapan Winati hanya mendesah, memandang Winati dengan sorot kelabu. Terik mentari menjadikan pertemuan kedua anak manusia yang dulu sempat menjadi kekasih sehidup semati itu, perlahan-lahan mulai menjelma serupa rentetan kenangan yang tak akan pernah menjadi kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang perlu disesali, aku pikir kamu masih memiliki masa depan,” ujar lelaki itu, “Juga tak ada yang perlu ditakuti. Kau sudah menyelamatkan hidupmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winati menunduk merasa bersalah berada di hadapan lelaki itu. Tak hanya siang itu tetapi sejak empat bulan lalu, ketika ia memutuskan menikah dengan orang lain. Dan orang lain itu, kemudian tragisnya selingkuh sehingga Winati menuntut cerai. Selebihnya, Winati diam. Lelaki itu diam. Tapi gema dering yang tertahan dalam tas Winati,  tiba-tiba membuyarkan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winati membuka tas, meraih ponselnya lantas beranjak dari kursi, menjauhi lelaki yang duduk di hadapannya dengan diliputi ketegangan yang lusuh. Lelaki itu, menatap Winati dengan gugup ditingkupi jengah sebab Winati menerima telepon dengan pelan. Sesaat kemudian, Winati mematikan handphone, kembali duduk di hadapan lelaki itu dengan wajah yang sudah berubah merah, dicekam takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu, aku ini masih dalam masalah! Tapi, aku berharap kau tak keberatan menerima teleponku,” suara Winati datar dan dingin, “Kini aku harus pulang. Pengacara suamiku sudah menungguku di rumah!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;WINATI beranjak, meninggalkan kafe dengan aroma wangi yang menghambur ke segala ruang, mengikuti bayangan dari langkah Winati akibat tertepias terik mentari yang membakar. Dan lelaki itu memandang kepergian Winati dengan wajah temaram, seakan tidak tega jika pertemuan yang singkat itu harus berakhir dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, lelaki itu duduk sendiri. Sebagaimana hari-hari biasa, setelah Winati menikah dengan orang lain empat bulan lalu, lelaki itu kerap lupa waktu. Ia tidak segera kembali ke kantor dengan cepat setelah menghabiskan makan tapi masih duduk di sudut kafe dengan pandangan kosong menatap jalanan. Ketika lelaki itu dibekap kenangan, tiba-tiba handphone di saku celananya berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat-cepat, dia merogoh handphone dan berharap Winati yang menelponya siang itu. Tapi harapan itu, hanya membuatnya kecewa lantaran panggilan itu datang dari kantornya. Ia lalu bangkit, berjalan ke arah kasir. Petugas yang duduk di meja kasir, menyambutnya dengan ramah dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua piring soto, dan dua gelas es jeruk!” kata lelaki itu, dengan tergesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi petugas di kasir tak menanggapi dengan meraih kalkulator, menghitung sebagaimana biasa, melainkan menatap lelaki itu dengan heran, seraya melihat meja yang barusan ditinggalkan oleh lelaki itu. “Bukankah, bapak makan cuma satu piring?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, nona…! Saya tadi memesan makanan dua, dan makan berdua dengan seorang wanita, tetapi dia kemudian pergi lebih dulu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bapak jangan bergurau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bergurau? Jelas tidak, nona! Karena tadi saya makan berdua dengan seorang wanita, hanya saja dia kebetulan sudah pulang lebih dulu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dari tadi, saya melihat bapak duduk sendiri. Bapak juga memesan makan satu piring, bukan dua piring!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menoleh, meneliti meja tempat dia makan. Ia melihat ada satu piring dan satu gelas yang sudah tandas. Tetapi, semua pengunjung dan penjaga kasir tidak tahu apa yang ada dalam ingatan lelaki itu. Dan penjaga kasir, tak heran dengan ulah lelaki itu yang sering menjengkelkan. Apalagi sejak empat bulan lalu, ia ditinggal pergi oleh kekasihnya; menikah dengan orang lain. Ia kerap duduk di sudut kafe menatap lalu lalang kendaran yang bergelombang, mirip ilalang diterpa angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tak segera membayar, masih berdiri kaku di depan maja kasir dengan pandangan ganjil, tajam mengingat kenangan yang retak, mengumpal dalam labirin waktu, serupa lesing gelombang yang lepas dari kendali dan mencerabut ingatan. Dan, panas di siang hari itu seperti membisu. Para pengunjung kafe, menatap lelaki itu seraya menggeleng-gelengkan kepala. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat,  01/11/ 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-1465990647626558388?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/1465990647626558388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=1465990647626558388' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1465990647626558388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/1465990647626558388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/10/kenangan-retak.html' title='kenangan retak'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SaQ1rAkDpbI/AAAAAAAABi8/V7-io8mr1EE/s72-c/2_green+linee.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-744791788063978803</id><published>2008-11-16T12:44:00.007+07:00</published><updated>2008-12-17T13:21:03.684+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai sastra'/><title type='text'>sastra dan terorisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SRmNUpv91mI/AAAAAAAABdo/Km7HlEU5GbY/s1600-h/dikawal_dalam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SRmNUpv91mI/AAAAAAAABdo/Km7HlEU5GbY/s200/dikawal_dalam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267396625130444386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;esai sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; TEKA-TEKI seputar eksekusi tiga terpidana mati pelaku kasus Bom Bali I –Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufron yang sempat menghebohkan selama enam tahun sejak terjadi peledakan yang menewaskan 202 orang dan pelaksanaannya tertunda-tunda-- akhirnya terjawab. Minggu (9/11), dini hari (sekitar pukul 00.15 WIB), ketiganya dieksekusi mati di Lembah Nirbaya, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas eksekusi itu, langsung mencuat pro-kontra. Sebagian besar penduduk di Indonesia dan warga dunia menilai hukuman mati terhadap tiga terpidana itu, pantas dan layak untuk diterima lantaran ulah Amrozi dkk telah merenggut 202 jiwa dan ratusan orang terluka. Ratusan jiwa yang melayang itulah yang dijadikan justifikasi atas eksekusi mati terhadap Amrozi cs itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, bagi anggota jaringan terorisme, “hukuman mati” itu dianggap sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Tak salah, jika anggota terorisme tidak gentar atau ciut bahkan dihinggapi rasa bangga sebab hukuman mati itu dianggap sebagai jihad tertinggi. Bangunan teologi jihad itu, yang memicu tindakan balas dendam di kemudian hari lantaran kelompok teroris menganggap akan mendapat janji tempat di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas pro-kontra di atas, ada pertanyaan yang patut untuk diajukan; apakah pasca eksekusi tiga terpidana mati  itu, Indonesia akan sepi dari serangan terorisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Terorisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentu, tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Tetapi, ada dua buah novel yang bercerita tentang terorisme (yakni Terrorist karya John Updike dan The Attack karya dari Yasmina Khadra) yang bisa dikata cukup bagus dan layak untuk diapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Terrorist, mengisahkan “ulah militan” seorang pemuda --bernama Ahmad-- yang hidup di daerah bagian Utara New Jersey, AS. Dengan memegang teguh Islam, ia merasa muak di tengah kehidupan hedonis di AS. Dia terasing dan tidak punya teman. Keterasingan Ahmad kian lengkap sebab di rumah tak mendapatkan perhatian ibunya padahal ia ditinggal pergi ayahnya sejak usia 3 tahun. Rupanya, kekeringan jiwa Ahmad itu mendapat jawaban setelah ia pergi ke masjid dan berguru pada Syeikh Rasyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah bimbingan Syeikh, ia menimba ilmu. Tapi dengan bertambahnya ilmu, ia justru menganggap teman-temannya musuh karena beda agama. Guru BP di sekolah dan Joreelyn, teman perempuannya di sekolah tak bisa membelokkan Ahmad. Hanya perkataan Syeikh Rasyid yang membuat Ahmad tak bisa berpaling. Maka, saat Ahmad lulus SMU dan ia diminta menjalankan tugas rahasia Syeikh Rasyid (melalui Charlie --anak pemilik toko Excellency) meledakkan terowongan Lincoln dengan truk yang dilengkapi bahan peledak, ia menurut. Dengan dalih jihad, Syeikh Rasyid menyakinkannya bahwa tugas itu akan membawanya ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi hidup kurang perhatian sang ibu, dan Jereelyn yang ia cintai lebih memilih Telynol, ia mantap mati. Jadi, ia ingin mati sebenarnya karena kecewa, bukan semata-mata mau merengkuh surga. Untung sebelum rencana terlaksana, Deparement of Homeland Security mencium tindakan Ahmad dan peledakan pun gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara novel The Attack mengisahkan tokoh utama dr. Amin Jaafari, dokter ahli bedah berketurunan Arab yang bekerja di rumah sakit Ichilov, Tel Aviv dan memilih bernaturalisasi. Ia punya istri, bernama Sihem. Di matanya, tak ada yang kurang dengan perhatian dan kebahagiaan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pada suatu malam, peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di restoran cepat saji membuat dirinya tidak habis pikir. Di luar dugaannya, di antara tubuh korban yang tergeletak, Amin dihadapkan tubuh Sihem yang hancur lebur. Lebih tragis, tubuh istrinya -menurut pemeriksaan kepolisian- diduga kuat sebagai tipikal pelaku bom bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, dia tidak percaya jika wanita yang selama ini dicintai itu memilih jalan menemui ajal dengan melakukan bom bunuh diri. Tetapi, setelah ia menerima surat dari Suhem (yang dikirim sebelum mati), hatinya remuk karena Sihem mengaku memilih jalan yang tak ia ketahui. Amin lalu terbang ke Bethlehem dan Jenin untuk “menyelidiki dan membuktikan” keterlibatan Sihem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, ia tersedak karena Sihem diketahuinya hidup tak bahagia bersamanya. Sihem tak mau menerima kebahagiaan yang ia tawarkan dan memilih menebus dosa dengan bergabung jadi pejuang bom bunuh diri untuk cita-cita kemerdekaan Palestina. Tragisnya, di Jenin, Amin meninggal dalam peristiwa peledakaan bom akibat ulah teroris yang ia tentang mati-matian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan apa yang dapat dipetik dari dua kisah novel itu? Pertama, gugatan telak aksi terorisme tentang makna hidup. Bagi Amin (seorang dokter), hidup adalah hal yang penting karena ia memiliki tanggung jawab menyelamatkan korban. Dilema memaknai hidup dan pilihan mati sebagai tujuan kemerdekaan dan untuk meraih surga itulah yang membuat novel The Attack mengajak pembaca “merenung” tentang arti hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, agama tidak mengajarkan kerusuhan. Dua novel di atas mengelaborasi dengan baik arti hidup damai. Meski hidup di dunia ini memuakkan, tak lantas membuat kita marah dan menjadikan orang tak bersalah jadi korban. Sebab kelahiran Islam (juga agama-agama lain) membawa pesan perdamaian bukan justru merusak kehidupan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anomali Psikologi Teroris(me)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski, dua novel di atas tak bercerita ulah perjuangan teroris tiga terpidana mati –Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra- tetapi pesan tersirat dalam novel tersebut bisa dijadikan batu pijakan untuk mengurai benang merah terorisme  a la Amrozi cs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dua novel di atas menggambarkan pelaku bom bunuh diri “dirundung” psikologis yang terbelah --baik Sihem maupun Ahmad hidup terasing dan tidak bahagia lalu keduanya menganggap hidup di dunia ini tak punya makna dan “jalan” menebus itu adalah dengan rela mati. Apalagi, doktrin jihad menjanjikan “surga” sebagai tempat yang kelak akan dihuni. Apakah Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra “tidak hidup bahagia” sehingga ketiganya rela mati? Tentu, butuh penelusuran lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dua novel itu menjelaskan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah korban dari sebuah konspirasi. Maka, tak menutup kemungkinan tiga terpidana mati, Amrozi cs adalah korban dari konspirasi terorisme global. Dengan kata lain, ketiga orang itu hanya dijadikan sebagai tumbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dua novel di atas menegaskan bahwa di balik aksi teror dan peledakan bom yang dilakukan pelaku tak semata-mata ditopang pandangan agama saja, tapi di mata dua pengarang --John Updike dan Yasmina Khadra-- sebenarnya ada motif lain; semisal politik (dalam novel The Attack demi kemerdekaan Palestiana) dan demi alasan ekonomi guna menyingkirkan orang lain (dalam novel Terrorist). Hanya, hal itu dibungkus dengan balutan perjuangan jihad demi perjuangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, tindakan Amrozi cs itu pun tak semata demi menegakkan agama Islam, sebagaimana ulah Sihem dan Ahmad, melainkan ada kepentingan lain dan penugasan Amrozi cs tersebut dibungkus dengan jeli dengan balutan demi penegakan Islam. Meski demikian, terorisme di Indonesia tak akan pernah surut. Pasalnya, terorisme telah berurat dan berakar dalam bentuk perang psikologis, dan tanpa memahami psikologi terorisme, mustahil kita bisa menghentikan aksi teror sekalipun tiga terpidana mati sudah “dijatuhi” hukuman mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang di antara sekian banyak sastrawan di negeri ini, tidak ada satu pun –atau setidaknya belum ada-- yang tersentuh menggarap tema terorisme apalagi menjadikan tiga pelaku bom Bali itu sebagai tokoh utama. Jika ada, tentu saja novel yang dihasilkan akan mencerahkan. Pasalnya, spirit agama tak menghancurkan peradaban, melainkan justru mengibarkan bendera perdamaian dan kesejukan di atas muka bumi ini!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan esais, tinggal di Ciputat, Tangerang &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-744791788063978803?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/744791788063978803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=744791788063978803' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/744791788063978803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/744791788063978803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/11/sastra-dan-terorisme.html' title='sastra dan terorisme'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SRmNUpv91mI/AAAAAAAABdo/Km7HlEU5GbY/s72-c/dikawal_dalam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-4367299827313941568</id><published>2008-10-26T22:56:00.005+07:00</published><updated>2008-12-10T19:33:34.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>perempuan bermata biru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SAoYfCBtLXI/AAAAAAAAAvE/fhxftYRjuow/s1600-h/art4727_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 175px; height: 227px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SAoYfCBtLXI/AAAAAAAAAvE/fhxftYRjuow/s320/art4727_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190988441896955250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;surabaya post&lt;/span&gt;, minggu 26 okt 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    AKU nyaris tak percaya, kalau perempuan bermata biru di hadapanku itu ternyata ibu kandungku. Perempuan yang telah melahirkanku duapuluh tahun yang lalu. Air mataku menitik ketika kurengkuh tubuh perempuan itu. Aku ditingkupi rasa bersalah. Bagaimana mungkin aku harus memanggil dengan sebutan ibu kalau sejak kecil, ayah kami telah mengenalkan perempuan bermata biru itu; pembantu di rumah kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bermata biru itu, mengangkat tubuhku, lalu menghapus tetes air mataku. Sorot matanya tajam, menghujam hatiku. Aku tidak sanggup mengucap kata yang puitis, untuk sekadar meminta maaf. "Sudahlah, semua sudah berlalu. Kini yang ada hanya masa depan," bisiknya di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suara perempuan bermata biru itu lembut dan halus. Dan aku hanya bisa menangis karena menyesali dosaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SELAMA dua puluh tahun, perempuan itu tidak pernah aku panggil dengan sebutan "ibu". Ah, aku memang anak yang kurang ajar. Apalagi aku seorang anak perempuan yang nantinya akan jadi ibu bagi anakku. Bahkan, aku tak punya nama panggilan lain yang lebih pantas hanya untuk memanggil perempuan itu, kecuali sebutan pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali, aku mau membuka mulut, untuk sekedar memanggil perempuan itu dengan naluriku, selalu ada mata yang menatap tajam mataku. Setiap sudut, seperti ada kunang-kunang bermata tajam yang mengancamku. Aku, akhirnya urung memanggil perempuan itu dengan sebutan yang lembut, apalagi memanggilnya ibu, nyaris seumur hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, selalu ada mata tajam yang tidak saja membuatku ciut tetapi juga membuatku ditikam cemas untuk akrab dengan perempuan yang telah dinikahi ayah itu. Karena, mata tajam itu tidak saja muncul di balik bola mata ayahku. Aku malah nyaris menemukan semua mata keluarga ayah cukup garang bahkan pedas menusuk mataku, kalau aku harus memanggil "perempuan desa" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, aku nyaris tidak pernah menemukan perempuan itu menuntut hal aneh pada ayah. Aku nyaris menemukan perempuan itu sempurna, dibanding dengan ibu tiriku. Ia tidak pernah marah, memaki atau mengumpatku. Bahkan, saat aku bawel merengek-rengek kepada ayah untuk dibelikan boneka dan ayah tak peduli, paginya --sepulang dari pasar-- perempuan itu sudah menenteng boneka barbie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rawatlah baik-baik seperti non merawat diri sendiri!" kata perempuan itu lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menerimanya dengan riang, lalu berlari ke kamar. Tak mengucapkan terima kasih. Tak mengumbar senyum manis. Aku sepertinya tak perlu berterima kasih, apalagi memanggilnya ibu. Karena, tatkala aku dapat bicara, ayah telah mengenalkanku jika perempuan itu pembantu di rumah kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai aku masuk sekolah Taman kanak-kanan, ia tak saja memandikanku sebelum aku berangkat sekolah tapi menyuapiku, mengantarku bahkan menungguku pulang. Saat aku lulus SD lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, perempuan itu tak lagi banyak menaruh perhatian padaku karena aku sudah memiliki adik amnis. Adik perempuan yang delapan belas tahun kemudian -saat aku kuliah- baru aku ketahui, ternyata adik tiriku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;DUA puluh dua tahun lalu, ayah menikahi perempuan itu. Saat aku sudah beranjak besar, pernah suatu hari aku bertanya kepada ayah tentang pentingnya sebongkah cinta dalam kehidupan rumah tangga. Karena ketika itu ada seseorang laki-laki yang melamarku, sedangkan aku tidak mencintainya. Ayah diam, seolah pernikahan itu takdir dari setiap manusia yang sudah beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku menebak-nebak jika di balik pernikahan ayah, ada rahasia yang terselimuti kabut tebal. Seiring bertambahnya umurku, apalagi ketika itu aku sudah memiliki kekasih, pemuda tampan yang memiliki sebuah keluarga besar yang cukup perhatian padaku. Aku tahu, mengapa pihak keluarga ayah tak pernah mampir ke rumah kami dan tak pernah menginjakkan kaki di beranda rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin, aku menanyakan perihal itu pada perempuan yang dikenalkan ayah sebagai pembantu di rumah kami. Tetapi, aku selalu tak berani mengungkap masa lalu ayah, hingga kesempatan itu tidak pernah ada lagi setelah aku kuliah dan tinggal di kota. Padahal, aku lahir dari rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah memang sengaja membuat jarak antara aku dengan ibu. Sejak kecil, aku seringkali diungsikan ke rumah nenek, tidur di bawah ketiak nenek, nyaris berbantal kasak-kusuk kisah tentang ibu yang tak ada baiknya. Nenek bercerita jika perempuan yang jadi ibuku itu berasal dari keluaga miskin pantas menjadi pembantu di rumah kami. Padahal aku, entah kenapa seperti menemukan kedamaian saat ibu mengantarku pergi sekolah bahkan menunggu saat aku pulang, digandeng dengan lembut melintasi taman kecil di kotaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tak berlangsung lama. Saat aku kelas tiga SD, aku nyaris tak menemukan kesejukan di mata perempuan itu lagi. Aku pergi, dan pulang sekolah sendiri. Ibu tak lebih seorang pembantu di rumah kami, dan ayah tidak ubahnya seorang tamu. Tetapi, aku sering mendengar pertengkaran di tengah malam buta. Kadang aku mendengar tangan ayah mampir ke tubuh ibu. Tangis menderai. Kutahu cukup sakit, saat ibu dipukul ayah. Kadang membuatku menangis. Peristiwa itu, hampir aku jumpai setiap hari hingga aku tak lagi mendengar, karena kuliah ke kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TAK kuat, dengan cacian dan makian dari famili ayah yang memang sejak mula pernikahan dulu tak merestui, ayah akhirnya menceraikan ibu. Anehnya ibu tak mau pergi dari rumah, dan memilih jadi pembantu di rumah kami. Ayah, lalu menikah lagi dengan perempuan lain. Aku masih kecil, tatkala perceraian ibuku itu tiba-tiba membuat ibu berubah menjadi pembantu di rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya salah ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu. Tapi, sebulan lalu aku pulang ke rumah. Ayah menelponku dan memintaku untuk segera pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di rumah, aku tak melihat wajah ayahku. Aku buka kamarnya, tak kutemukan sosok berbau semak-semak nanas yang melekat di tubuh ayah ada dalam ruang kamar itu. Tidak biasa, aku menjumpai ayah tidak ada di rumah saat sore seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kami benar-benar lengang dan aku tahu hanya ada ibu di kamarnya yang sedang tidur pulas. Aku tak berani mengetuk pintu kamarnya apalagi harus bertanya ke mana ayah pergi. Meski di mataku, dia pembantu, tapi aku tak tega membangunkannya. Aku pun duduk termangu di kursi, menatap rumah yang sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kami memang mirip sebuah perusahaan. Saat sore tiba nyaris sepi dengan urusan. Tapi saat malam tiba, dari adikku, aku tahu kalau ayah sengaja mengungsi. Rupanya, ayah memintaku pulang karena ada sebuah masalah. Dan ayah rupanya lebih memilih mengusir pembantu itu, yang tak lain adalah ibuku, demi menuruti permintaan dari keluarga ayah. Ayah lalu pergi, entah ke mana, sejak ibu tak mau diusir pergi. Bahkan ibu menantang mata tajam keluarga ayah, yang menyala jalang di penjuru ruangan, di pojok kamar dan dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata ibu --perempuan pembantu itu-- juling, tak mau diusir dari rumah bahkan bersumpah rela mati mengenaskan, jika sudah tak layak dianggap sebagai ibuku. Untuk apa perempuan harus melanjutkan hidup setelah bercerai, apalagi itu semata-mata dikarenakan soal ibuku berasal dari keluarga tidak mampu, dan sudah tak lagi memiliki keluarga untuk diikuti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tak mau disewenangi, diusir dari rumah! Lantas ibu bersumpah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;DUA hari, aku menunggu ayah. Tetapi ayah tak kunjung pulang ke rumah. Hingga suatu malam, tatkala aku sudah tak lagi tahan menanggung beban, karena rumah lengang dan sunyi, aku mendengar seseorang mengetuk pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap itu bukan seorang tamu tapi kedatangan ayah yang pulang. Dugaanku benar. Kulihat sosok hitam mirip aroma semak-semak nanas, berdiri di pintu. Aku tak ragu, itu ayah, meski sudah hampir satu tahun aku tidak pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi astaga! Wajah ayahku yang dulu cerah, kini kusut. Pakaian ayah nyaris kotor, bau semak-semak nanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan ayah. Karena ayah tak bisa berpikir seperti yang pernah kamu katakan... Kapan kamu pulang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dua hari yang lalu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah diam, menatapku dengan resah, bimbang dan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa ayah tak kunjung pulang? Ada apa sebenarnya dengan ayah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal tahu, perempuan yang selama ini kau panggil pembantu itu adalah ibu kandungmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tercekat, nyaris pingsan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ayah tak memedulikanku lagi lalu menerobos masuk ke rumah dan membuka pintu kamar ibu. Aku masih sempat mendengar ucapan ayah dan perempuan yang kini kuketahui sebagai ibuku. Rupanya ayah pulang karena tak ingin ibuku pergi dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah meminta ibuku untuk memaafkannya, karena sumpah ibu membuktikan akan kesalahan ayah. Ayah yang selama ini membenci ibuku, nyaris ditikam rasa takut setelah ibu bersumpah. Karena, sumpah ibu ternyata benar. Hasil tanaman nanas yang jadi gantungan hidup kami tak panen tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyusul ayah masuk ke kamar ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di kamar, mata ibu kulihat serupa bentangan laut biru. Tidak kuasa aku menanggung rasa bersalah, aku menghampiri ibu, memeluknya erat-erat dan menitikkan air mata. "Ibu, maafkan anakmu yang ikut-ikutan salah ini! Tak kuduga kalau semua berakhir seperti ini... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nyaris tak percaya, kalau perempuan bermata biru di hadapanku itu ternyata ibu kandungku. Perempuan yang telah melahirkanku duapuluh tahun yang lampau. Air mataku menitik saat kurengkuh tubuh perempuan itu. Aku ditingkupi rasa bersalah. Bagaimana mungkin aku harus memanggil dengan sebutan ibu kalau sejak kecil, ayah kami telah mengenalkan perempuan bermata biru itu; pembantu di rumah kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu bersimpuh, mencium kaki ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bermata biru itu, mengangkat tubuhku, lalu menghapus tetes air mataku. Sorot matanya tajam, menghujam hatiku. Aku tidak sanggup mengucap kata yang puitis, untuk sekadar meminta maaf. "Sudahlah, semua sudah berlalu. Kini yang ada hanya masa depan," bisiknya di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara perempuan bermata biru itu lembut dan halus. Dan aku hanya bisa menangis karena menyesali dosaku...***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita untuk Mia di Lampung&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2004-2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-4367299827313941568?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/4367299827313941568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=4367299827313941568' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/4367299827313941568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/4367299827313941568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/04/perempuan-bermata-biru.html' title='perempuan bermata biru'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SAoYfCBtLXI/AAAAAAAAAvE/fhxftYRjuow/s72-c/art4727_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6023888366280766831</id><published>2008-10-12T22:57:00.001+07:00</published><updated>2008-10-20T19:44:39.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>catatan harian seorang istri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SKmc5Yj9NoI/AAAAAAAABAQ/A0hToxcrGYU/s1600-h/034.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 174px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SKmc5Yj9NoI/AAAAAAAABAQ/A0hToxcrGYU/s320/034.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235888551454652034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerita pendek ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt;, edisi 3 bulan Oktober 08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    SENIN pagi, 9 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pagi masih buta. Sisa embun terasa menempel di kaca jendela, menyisakan gigil dingin di tulangku ketika aku terbangun dari tidur yang lelap. Detak jarum jam di dinding berdetak kencang, seperti sesosok patung kecil yang sedang bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan subuh belum menggema. Pagi masih cukup panjang. Tapi dingin pagi itu tak menghalangiku untuk bangun. Kusibak selimut. Aku lirik suamiku, ia meringkuk serupa ular. Ia tertidur lelap, terlihat sangat lelah. Maka, di pagi itu, aku tak membangunkannya untuk shalat malam.  Aku kasihan! Aku tahu, ia sering lebur, pulang tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari ranjang, melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dingin air pagi, sempat membuatku nyaris beringsut ke kamar tidur dan kembali menarik selimut. Tapi pesan ibu, seakan mencegahku tidur kembali ketika pagi sudah menjelang dan waktu telah memasuki sepertiga malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam seperti itu adalah malam yang setiap do`a seorang dipanjatkan, selalu dikabulkan!” pesan ibu serasa terngiang di telingaku. “Maka ketika kau berhajat sesuatu, bangunlah pada sepertiga malam, lalu kamu berdoa dengan hati yang khusuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar dari kamar mandi. Tanganku setengah basah. Remang rembulan di langit, membias di kaca jendela meninggalkan nuansa pagi mirip warna almunium. Aku meraih sajadah, dan kembali teringat pertanyaan ibu beberapa bulan lalu, “Kapan kau punya anak? Ibu sudah tak sabar lagi ingin menimangnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ibu…. Kenapa tidak bertanya yang lain?” jawabku, mengalihkan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku sebenarnya terluka dengan pertanyaan ibu. Tiga tahun sudah aku nikah dengan Mas Sobrur, tetapi Tuhan belum menganugerahi kami momongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka, bangunlah pada sepertiga malam. Berdo`alah pada Tuhan!” balas ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan ibu seperti merasuk sanubariku. Aku getaran. Kini, aku sudah bangun di ujung pagi dari sepertiga malam. Kuambil mukena dan tanganku gemetaran, sebelum kuangkat kedua tanganku untuk shalat. Pagi pekat dalam hening saat kuucapkan takbir lalu mendekapkan kedua tanganku di dada. Pagi hening. Aku shalat delapan raka`at dan menutup dengan witir. Sebelum adzan subuh menggema, aku berdo`a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi mendekapku. Tak lama kemudian, adzan menggema. Aku bangunkan dia untuk shalat subuh berjamaah. Setelah itu, ia tidur lagi. Aku melakukan tugas di dapur. Ah, jadi perempuan kadang terasa berat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sinar mentari menerabas masuk ke kamar, melalui celah jendela, suamiku bangun. Ia mandi lalu kami berdua sarapan dan berangkat kerja. Meski kami berangkat bareng bahkan ia mengantarku lebih dulu, tapi kami pulang tak bersamaan. Sebelum adzan maghrib, aku sudah di rumah. Sementara suamiku, kerap pulang tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    Selasa, 10 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semalam, suamiku kembali pulang malam. Aku masih sempat mendengar suara langkahnya saat ia masuk rumah lalu melepas sepatu dengan letih sebelum ia beranjak tidur di sampingku. “Tidak mandi dulu, Mas? Aku bisa jerangkan air panas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah!” jawabnya malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin bertanya lagi, tapi ia sudah jatuh tertidur. Aku menarik selimut, tepat ia mulai mendengkur. Dan aku tak lagi mendengar dengkurnya, saat aku jatuh tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    Rabu, 11 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun ketika pagi masih menyisakan sisa embun di kaca jendela.  Tak tega membangunkan suamiku, maka di ujung pagi itu aku shalat tahajud sendiri. Saat adzan subuh menggema, aku bangunkan suamiku. Pagi itu, aku menjalani hari seperti kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah…, jadi perempuan memang tidak gampang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    Kamis, 12 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu itu, kembali suamiku pulang tengah malam. Aku sempat mendengar desahnya waktu ia masuk ke kamar tidur, “Masih lembur, mas? Kenapa tidak dibawa ke rumah, biar aku bisa membantu…” sambutku, membuatnya sempat kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak etis membawa pekerjaan kantor ke rumah,” jawabnya, seraya merebahkan tubuh di sampingku. Tak lama kemudian, ia sudah mendengkur. Rasa lelah benar-benar menggurat di wajahnya. Aku kasihan! Ia bekerja, seakan-akan besuk tidak ada waktu lagi. Dan pagi itu, aku kembali bangun shalat tahajud, berdoa minta keturunan, seakan-akan besuk tidak ada hari lagi untuk berdoa…&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti biasanya, hari itu suamiku pulang lebih awal. Sebelum maghrib, dia sudah tiba di rumah. Lantas, ia mengajakku makan di luar.  Malam itu, kami seperti baru melangsungkan pernikahan seminggu yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;        Jum`at, 13 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jum`at pagi itu, kami bangun kemudian menunaikan shalat tajahud berjama`ah. Kami berdua berdoa dengan khusuk. Tapi di pagi yang menggigilkan itu, aku tidak tahu; doa apa yang dipanjatkan suamiku. Dia berdoa dalam diam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUM`AT itu, suamiku pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Bahkan, saat aku tiba di rumah, ia sudah duduk di depan TV. Mungkin, ia merasa kasihan padaku! Malam itu, dia mengajakku makan di luar lagi. Bahkan sebelum pulang, ia sempat mengajakku mampir ke butik. Ia membuatku bahagia, ia membelikanku dua potong baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku merasakan kebahagiaan yang cukup membahagiakan tak beda seperti awal kami menikah. Dan kebahagiaan malam itu mampu mengobati kerinduan kami yang jarang ketemu. Kesibukan suamiku, tak jarang membuatku ditikam sepi. Dan malam itu, adalah malam yang terasa lain. Aku tidur seperti bermimpi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    Sabtu, 14 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, sungguh dingin, tak seperti biasa. Aku merasa seperti ada sosok malaikat yang turun dari langit, mengabarkan berita gembira di ujung pagi. Tubuhku merasakan dingin. Karpet di lantai yang biasanya merambatkan hawa panas, tiba-tiba terasa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun, ketika adzan subuh menggema. Pagi itu aku terlelap dalam tidur dan tidak sempat bangun menunaikan shalat tahajud. Kulihat suamiku meringkuk, mirip ular yang melingkar di sampingku. Hanya dengkurnya yang terdengar, menandakan ia masih hidup. Aku bangunkan suamiku. Ia lalu menggeliat, mengucek-ngucek matanya sebelum bisa melihat sekeliling dengan jelas. “Ada apa?” tanyanya, heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah subuh, Mas! Aku tidak sempat bangun untuk shalat tahajud, kenapa mas tidak membangunkanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memandangku penuh selidik, seraya memicingkan telinga seakan-akan tidak percaya; adzan subuh sudah berkumandang. Ia mungkin merasa bersalah, lalu bangun dan melangkah ke kamar mandi. Aku dengar air mengucur. Seiring dengan kucuran air di kamar mandi, tangisku pecah. Tidak tahu kenapa, aku tiba-tiba menangis di pagi itu. Aku hanya tahu, di pagi itu aku benar-benar seorang perempuan!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, kami duduk di depan TV. Kami berdua, tak ingin keluar rumah meskipun  hari itu libur. Tiba-tiba, terdengar pintu rumah kami diketuk. Suamiku bangkit, membuka pintu. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan menenteng sebuah bungkusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada paket dari ibumu!” ucap suamiku, sebelum dia merebahkan tubuh di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kira-kira isinya, Mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukalah! Jangan memintaku menebak sesuatu yang tidak kulihat…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka bungkusan itu. Betapa senangnya hatiku saat kulihat bungkusan itu berisi beberapa pakaian wanita hamil. Suamiku sempat melirik, tetapi kemudian membuang muka seakan barang itu adalah ular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;        Minggu,  15 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, kulihat suamiku bertingkah aneh. Ia diam, tidak banyak bicara. Seharian ia di depan TV. Tapi sore itu kupaksa ia mengantarku ke dokter karena semalam perutku terasa mual. Dalam perjalanan, dia diam. Tatkala aku mengajaknya bicara, dia hanya menjawab dengan senyuman. Aku tak dapat menangkap apa yang ada dalam pikiran suamiku. Ia masih diam saat kami di dalam taksi, seakan aku ini tidak ada di sebelahnya. Dia juga masih diam, ketika kami sampai di tempat praktik dokter langgananku, bahkan tatkala kami mendapat giliran masuk ke ruang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kulihat wajahnya berubah merah, kaget ketika dokter menyalami suamiku, “Selamat, Anda akan menjadi seorang ayah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, kami pulang dengan perasaan yang berbeda. Sepanjang perjalanan, hatiku berbunga-bunga seperti seorang petani yang mendapat anugerah hujan. Tetapi, lagi-lagi ia tak menunjukkan muka senang. Ia diam. Aku mengajaknya bicara, dia tidak menjawab. Aku tak bisa menangkap, apa yang ada dalam pikirannya. Ia diam, seakan-akan aku ini tidak ada di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di rumah, ia masih diam, tak banyak bicara. Aku benar-benar tidak kenal suamiku. Ia lebih banyak duduk di depan TV; seakan-akan aku di matanya terlihat jauh. Juga, mungkin tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuputuskan ke kamar untuk beranjak tidur. Setengah jam kemudian, dia menyusul. Aku mengajaknya bicara, “Apa ada yang salah, Mas? Kenapa Mas… kulihat seperti tak senang dengan kehadiran buah hati kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada yang salah… Tidurlah, hari sudah malam!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kenapa mas diam sepanjang hari? Aku bingung, Mas…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, hari sudah malam…!” ucapnya pelan, kembali membuatku tambah bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak akan tidur sebelum mas bicara jujur,” rajukku, seraya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhhmm…, aku cuma heran. Sehabis shalat tahajud, aku selalu berdoa agar kita jangan dikaruniai momongan dahulu sebelum gajiku naik. Kamu semestinya tahu, aku ini siapa? Aku cuma seorang pesuruh! Jadi, aku belum siap …“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa…? Kenapa Mas tega berdoa seperti itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah..., rupanya Allah lebih mengabulkan do`amu!” ucapnya pelan --nyaris tak kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dia membalikkan badan, memunggungiku. Juga, diam dan tak bicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu, aku menangis sampai terlelap tidur. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciputat&lt;/span&gt;, 10 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6023888366280766831?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6023888366280766831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6023888366280766831' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6023888366280766831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6023888366280766831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/08/catatan-harian-seorang-istri.html' title='catatan harian seorang istri'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SKmc5Yj9NoI/AAAAAAAABAQ/A0hToxcrGYU/s72-c/034.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3296018036894111478</id><published>2008-10-06T17:30:00.001+07:00</published><updated>2008-10-09T10:23:17.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>tujuh tangisan pada tujuh malam lebaran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SNfkJeaLY9I/AAAAAAAABEw/yvtBUiMf7RU/s1600-h/lgt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 218px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SNfkJeaLY9I/AAAAAAAABEw/yvtBUiMf7RU/s200/lgt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248914742156420050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;tabloit NOVA&lt;/span&gt;, edisi 1076/xxi, 6-12 okt 08 dengan judul zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;/1/&lt;br /&gt;SETIAPKALI pulang di hari lebaran, Mudrik tak kuasa membendung air matanya jatuh menitik. Ia menangis diam-diam di malam lebaran, karena teringat pada kehidupan yang jauh menembus labirin waktu dan sepenggal masa lampau yang temaram. Sebuah malam yang menjerumuskan dia dalam kehidupan buram seperti lorong gelap yang meninggalkan luruh kelabu. Dan, dia tak bisa menghadang terjangan mendung di sudut matanya hingga mengalir serupa gerimis. Dia menangis diam-diam, dalam kamar yang usang, tepat di malam lebaran. Malam yang tak menyenangkan, setelah ia jauh-jauh pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tujuh tahun, Mudrik pulang hanya untuk menangis. Sebuah tangisan yang meninggalkan jejak memar pada ujung matanya di pagi lebaran seusai menangis hampir semalam suntuk. Tanpa suara dan tanpa sedu sedan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;/2/        &lt;br /&gt;MALAM rebah di altar langit. Gema takbir dan suara bedug terus bertalu-talu. Azan maghrib sudah lama berlalu dan waktu isak tinggal menunggu kabut gelap tergelincir. Tetapi langkah Mudrik seakan gamang menapaki lorong panjang ke arah rumahnya meskipun di pelupuk matanya sudah terlihat dengan jelas kerlip cahaya lampu yang menyala redup di teras rumahnya. Rumah yang tak akan pernah ia lupakan. Rumah yang nyaris tak berubah sejak ia tinggalkan tujuh tahun lalu. Rumah yang hampir roboh dan tak lagi bercat putih --lantaran mengelupas. Buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, seberkas cahaya redup di teras itu membuat Mudrik bernapas lega, lantaran dia tak lama lagi akan menginjakkan kaki di beranda. Tak ingin dikenali tetangga yang kebetulan melintas, maka Mudrik melangkah dengan cepat. Gema takbir dan suara bedug bertalu-talu seakan menghentakkan kakinya mengambang, tidak berjalan di atas jalanan. Tetapi setelah lelaki itu tiba di depan rumah dan tinggal membuka pintu, ia dihadang keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ia merasa berada di sebuah beranda rumah yang asing, yang tak pernah ia tinggali, sebelum kemudian tersadar dan buru-buru membuka pintu dengan beringas. Tetapi, setelah menerabas masuk ia hanya membisu. Tak ada sambutan hangat atau cium tangan takzim yang Mudrik haturkan pada emaknya yang kebetulan sedang duduk di ruang tengah, sendiri dalam kesunyian dan sedang menunggu kedatangan anak-anaknya dengan setangkup kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akhirnya, kamu datang dan masih tahu jalan pulang ke rumah ini. Aku kira kamu tidak akan pulang lebaran tahun ini, apalagi setelah kamu dapat pekerjaan di Jakarta!" sambut emaknya seraya bangkit dari tiduran, "Aku pikir, kamu lupa dengan emakmu sebagaimana adikmu dan kakakmu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak tahu, kenapa langkah kakiku membawaku pulang ke rumah ini, meski aku sudah janji untuk tidak pulang dan hendak mengirim uang lewat wesel!" ucap lelaki itu, setelah duduk tepat di hadapan emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup gema takbir dan suara bedug, masih terdengar bertalu-talu. Tak ada percapakan saat adzan isak berkumandang. Sejenak, Mudrik memandang wajah emaknya dengan teliti. Mudrik lihat wajah tua emaknya, wanita berusia enam puluh tahun yang sudah uzur dimakan usia. Perlahan, Mudrik merogoh saku celana mengeluarkan dompet dan menarik enam lembar lima puluh ribuan dan mengulurkan pada emaknya, "Ini ada sisa uang THR meskipun tak seberapa, Mak! Semoga uang dari keringat anakmu dan uang pertamakali yang aku berikan buat emak ini bisa membuat emak tak mengharapkan zakat dari tetangga lagi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu tak bisa menyembunyikan kegembiraan yang meruak, karena baru malam ini ia bisa merasakan jerih payahnya selama tujuh tahun membiayai kuliah anaknya, dan bahkan harus menanggung utang bertumpuk demi masa depan anak-anaknya. Tapi, kegembiraan yang menyelimuti wajah wanita tua itu tiba-tiba terkoyak, setelah terdengar ketukan di pintu, berkali-kali. Sebuah ketukan di pintu yang membuat wanita itu menghela napas lega, tapi bagi Mudrik seperti terhimpit ruang sempit, dan menyesakkan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketukan itu seketika membuat Mudrik galau. Sebuah ketukan yang serupa rintihan. Selalu ia tak kuat mendengar ketukan di pintu, lantaran ketukan itu akan membuatnya menangis meratapi malam lebaran hampir semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam ini ia kembali mendengar ketukan itu sebagaimana kepulangannya di malam lebaran tahun-tahun yang lalu. Maka, dia cepat-cepat berdiri, tetapi tidak untuk membuka pintu, melainkan masuk ke kamar. Dari balik kamar, Mudrik mendengar langkah kaki emaknya berjalan mendekati pintu, membuka dan menyambut seseorang. Mudrik tidak perlu melongokkan badan untuk memastikan siapa tamu yang datang lantaran dia tahu; tamu yang datang itu tak lain orang yang datang memberi zakat pada emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu. Sejak tujuh tahun lalu, emaknya jadi orang miskin yang berhak menerima zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;DULU, ketika Mudrik masih kecil, tatkala ia belum kuliah, ketika ayahnya masih hidup, dan bapak-emaknya belum menunaikan ibadah haji, tidak ada seseorang yang datang ke rumahnya; mengetuk pintu mengulurkan zakat berupa seplastik beras dan sepucuk amplop putih berisi uang. Dulu, justru setiap malam lebaran, bapaknya selalu minta anak-anaknya -Mudrik, adiknya dan kakaknya-- keliling kampung untuk membagikan zakat fitrah dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah tujuh tahun kemudian, semua itu tinggal kenangan. Akhir cerita itu, bermula setelah kedua orangtuanya pulang dari tanah suci, dan ia lulus SMU kemudian melanjutkan kuliah ke kota menyusul kakaknya yang lebih dulu kuliah. Ayahnya jatuh sakit saat mudrik menginjak semester satu, terserang stroke. Ayahnya dirawat di rumah sakit. Tidak ada tanda-tanda bisa pulih kemudian emaknya mengambil kendali usaha ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, biaya yang tidak sedikit membuat usaha konveksi yang dikendalikan emaknya itu harus kembang kempis. Utang emaknya menumpuk, untuk membiayai ayahnya, dan mengirim wesel kepada Mudrik dan kakaknya. Maka, lambat laun, keluarga Mudrik yang dikenal kaya raya itu jatuh miskin. Apalagi dua tahun setelah Mudrik kuliah, adiknya lulus SMU kemudian melanjutkan kuliah pula. Emaknya kian dililit utang bertumpuk. Badai datang silih berganti, lantaran kakaknya mengalami depresi; masuk rumah sakit jiwa. Sedangkan ayahnya tak juga kunjung sembuh dan harus menjalani terapi, dan butuh biaya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tujuh tahun yang lalu keluarga Mudrik tergolong orang kaya dan setiap lebaran selalu membagi zakat, sekarang kisah itu sudah jadi kisah usang. Sejak tujuh tahun yang lalu setiap kali lebaran, pintu rumahnya selalu diketuk orang. Tamu berdatangan memberi zakat pada emaknya apalagi sejak semester enam, ayah Mudrik meninggal, dan emaknya menjanda. Sejak tujuh tahun lalu, setiap kali lebaran tiba, Mudrik pulang ke rumah selalu mendengar ketukan di pintu. Sebuah ketukan yang menebarkan aroma kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hawa dingin yang dia rasakan merayap pelan di tengkuknya, dan dia tak bisa membendung air matanya untuk tak jatuh menitik. Sebuah tetes air mata yang harus dia tumpahkan saat teringat pada kehidupan yang jauh, menembus labirin waktu, dan sepenggal masa lampau ketika ia masih kecil dan berkeliling kampung untuk membagi-bagikan zakat. Kini malam lebaran yang ditemui Mudrik telah berubah jadi malam yang menjerumuskan dia dalam kehidupan yang buram, serupa lorong kenangan yang meninggalkan luruh kelabu. Dan diam-diam, dia tak kuasa menghadang kabut mendung di sudut matanya hingga mengalir air mata serupa gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tujuh tahun Mudrik pulang di hari lebaran hanya untuk menumpahkan air mata. Sebuah tangisan yang meninggalkan jejak merah di ujung matanya di pagi lebaran karena ia menangis hampir semalam suntuk. Tapi, Mudrik selalu mudik meski dia tahu jauh-jauh pulang hanya untuk menumpahkan air mata, sekali pun ia sekarang sudah bekerja dan mampu memberikan sisa uang THR pada emanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;PERLAHAN, Mudrik menyibak gorden kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di ambang pintu, kecuali hanya sosok emaknya yang berdiri mematung setelah melepas kepergian seorang tamu yang baru datang membagikan zakat. Sayup-sayup Mudrik mendengar gema takbir dan suara bedug bertalu-talu. Rumahnya kembali sepi. Dia tak tahu, kenapa kakaknya dan adiknya tidak mau pulang di hari lebaran ini. Apa kedua saudaranya itu tak tega melihat emak menerima zakat ketika pintu rumahnya diketuk seseorang berkali-kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudrik bernapas lega seperti lepas dari ancaman. Emaknya kembali menutup pintu, melangkah ke ruang tengah. Tapi belum sampai emaknya mengangkat kaki terlalu jauh dari ambang pintu kembali pintu rumahnya diketuk orang. Sebuah ketukan yang mencemaskan, membuat dia tidak kuasa membendung air matanya menitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, malam ini, Mudrik kembali mendengar ketukan di pintu rumahnya. Tapi, kali ini Mudrik cepat-cepat keluar kamar, mengintip dari balik lobang papan rumahnya. Entah kenapa, dia tiba-tiba ingin tahu tamu yang datang malam itu, meski ia tahu; tamu itu pasti akan memberikan zakat kepada emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari selongsong lobang, Mudrik mengintip celah ke arah pintu. Ia melihat emaknya berjalan mendekati pintu, membukanya, lalu menyambut seorang yang datang di malam lebaran itu. Hati Mudrik berdesir, berkecamuk dilanda gelisah. Tapi, setelah pintu dibuka dan sesosok wanita setengah baya muncul dari balik pintu, Mudrik nyaris tak menyangka jika yang datang di malam lebaran itu adalah Yu Sukemi, seorang pembantu rumah tangga yang sudah dua tahun ini bekerja di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sepuluh tahun yang lalu, Mudrik ingat ia diminta bapaknya membagi zakat. Dan, Yu Sukemi termasuk salah satu dari sekian puluh orang yang mudrik datangi; untuk diberi zakat. Kaki Mudrik gemetar menyangga tubuhnya yang mulai lemas. Buru-buru, dia masuk ke kamar. Ia tidak tahu, sampai kapan rumahnya tidak lagi diketuk seseorang yang datang memberi zakat pada emaknya padahal sekarang ini ia sudah bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam lebaran ini, Mudrik menangis kembali. Ia menangis diam-diam, teringat kehidupan jauh menembus labirin dan sepenggal masa lampau yang temaram. Sebuah malam yang menjerumuskan dia dalam kehidupan buram serupa lorong gelap yang meninggalkan luruh kelabu. Dan, Mudrik tidak kuasa menghadang terjangan mendung di sudut matanya, hingga mengalir air mata serupa gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.., malam lebaran ini, Mudrik diam-diam menangis kembali setelah ia jauh-jauh pulang ke rumah. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang, 21 Ramadhan 1429&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3296018036894111478?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3296018036894111478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3296018036894111478' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3296018036894111478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3296018036894111478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/09/tujuh-tangisan-pada-tujuh-malam-lebaran.html' title='tujuh tangisan pada tujuh malam lebaran'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SNfkJeaLY9I/AAAAAAAABEw/yvtBUiMf7RU/s72-c/lgt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-8028351058359258666</id><published>2008-09-03T07:32:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T19:33:35.811+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>sujud calon suami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SHB2BONBSmI/AAAAAAAAA8w/gtbWiBoqubo/s1600-h/sujud08.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 205px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SHB2BONBSmI/AAAAAAAAA8w/gtbWiBoqubo/s400/sujud08.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219801731487058530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt; edisi 2 September 08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Tak sabar, aku menunggu keputusan ayah. Tapi ayah tak kunjung angkat bicara. Kakiku serasa kesemutan, tubuhku seperti digerayangi gelisah. Sejak aku duduk di ruang tamu lima menit yang lalu, setelah ibu memintaku untuk segera menghadap ayah, aku seperti seorang terdakwa yang duduk di kursi persidangan, disergap takut. Ayah kulihat seakan-akan tidak menghendaki kehadiranku. Ayah masih menunduk, dan tak menoleh ke arahku. Sorot matanya khusuk, menatap lembaran koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku yang duduk di sebelah ayah, terlihat beku. Kaku. Dengan muka tertunduk, aku melirik ke arah ibu. Aku lihat, ibuku mengerdipkan mata, entah untuk apa. Tetapi tak lama kemudian, ayah melepas kaca matanya, dan meletakkan koran di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Sejauh mana kamu mengenal Mas Pras?” tanya ayah, membuatku terperanjak kaget. Mata ayah kulihat seperti berkilau dan membuatku tiba-tiba disergap resah. Ada kemilau warna putih yang terpancar dari kebeningan mata ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa disebut cukup dekat, yah!” jawabku dengan gugup, “Aku sudah mengenal Mas Pras setengah tahun yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu bisa menjadi jaminan bagimu, kalau kelak Mas Pras akan jadi suamimu yang baik dan mampu membimbingmu?” tanya ayah lagi membuatku teringat dengan kedatangan Mas Adi satu tahun yang lalu. Juga, Mas Arif satu setengah tahu lalu ketika keduanya datang menemui ayah. Sayang, kedua lelaki itu belum beruntung. Entah apa yang jadi pertimbangan ayah untuk calon suamiku, aku tidak tahu! Kedua pemuda itu, gagal meluluhkan hati ayah. Kini, pertanyaan ayah itu kembali terlontar. Aku tidak tahu, apa yang harus aku katakan pada ayah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini, kulihat ada nuansa yang berbeda di wajah ayah. Ayah tak bermuka durja, bahkan kulihat ada setitik kemilau warna putih yang memancar dari sorot mata lelaki yang menjadi ayahku itu. Dan sorot putih itulah yang telah membuatku sedikit lega lantaran aku memiliki semacam firasat, jika ayah akan menerima kehadiran Mas Pras di tengah-tengah keluarga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Pras sebenarnya baik. Ia juga punya sopan santun dan cerdas,” ucap ayah terbata-bata, “Tetapi, ada satu hal yang membuat ayah belum bisa menerima Mas Pras untuk menjadi menantu ayah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai disambar petir, keputusan ayah itu, seakan menempelak mukaku. Aku pun terlonjak kaget, sampai-sampai hampir terjatuh. Hatiku pedih, seperti ditusuk jarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang membuat ayah tak bisa menerima Mas Pras?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada satu kriteria amat penting bagi ayah untuk menentukan calon suami kamu! Terus terang, ayah tidak bisa menjelaskan hal itu padamu, sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ayah tidak mau menjelaskan, bagaimana mungkin aku akan tahu harapan yang ayah inginkan untuk calon suamiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ayah memberitahumu, kamu nanti akan membuat skenario di hadapan ayah. Dan ayah jelas tidak mau hal itu terjadi karena bisa membuka peluang bagi kamu untuk menipu ayah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mau membantah, aku bangkit dari kursi, berlari ke kamar. Di atas bantal, aku menumpahkan air mataku. Aku kesal karena pertimbangan ayah untuk menerima calon menantu, membuatku tak mengerti. Ayah tak pernah jujur ketika menolak tiga laki-laki yang datang baik-baik menemui ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadaku sesak, hatiku bagai diiris sembilu. Aku tak tahu, jawaban apa yang harus aku berikan kepada Mas Pras nanti, kalau aku balik ke kota. Padahal, aku sudah berjanji pada Mas Pras untuk membujuk ayah mati-matian. Tapi, usahaku kali ini gagal. Bahkan, ini untuk ketiga kalinya aku gagal membujuk ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar langkah kaki seseorang masuk ke kamar. Aku yakin, itu langkah kaki ibuku. Suara langkah kaki yang pelan, tak menimbulkan gaduh. Tapi, aku tidak lagi peduli pada ibu, lantaran ibu tak  mau membantuku. Ibu tak berkutik di hadapan ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin, Mas Pras bukan jodohmu! Sabarlah, karena orang yang sabar itu akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik!” bujuk ibu seraya membelai lembut kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan kesal, jika ayah mau jujur. Tapi ayah merahasiakan kriteria calon suamiku, bu!” ucapku dengan isak tangis, seraya membalikkan badan. Kutatap lekat-lekat wajah ibuku. Aku melihat ada kegetiran yang kutangkap dari sorot mata ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah ayahmu! Kamu harus paham! Ayahmu memang keras, tetapi sebenarnya ayahmu berbuat terbaik untuk memilih calon suami buatmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, apa sebenarnya kriteria ayah untuk menentukan calon suamiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tersenyum, dan kembali membelai kepalaku, “Kelak, kamu akan tahu sendiri. Ibu sudah berjanji pada ayahmu untuk tak mengatakannya padamu!”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;HARI ini, tepat hari ke-10 aku tinggal di rumah sejak pulang ke kampung. Dua hari yang lalu, seharusnya aku sudah balik ke kota, karena aku telah berjanji pada Mas Pras untuk memberikan jawaban. Tapi keputusan ayah, membuatku tidak berani menjumpai Mas Pras, apalagi berkata jujur. Setiap kali Mas Pras menelponlku, aku terpaksa berdusta dengan alasan masih membujuk ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sampai kapan aku akan tinggal di rumah dan menghindar dari Mas Pras? Aku tidak tahu! Penolakan ayahku terhadap Mas Pras yang telah jauh-jauh datang dari Jakarta ke rumahku, membuatku terguncang, dan tertampar duka. Padahal, tidak lama lagi, aku akan lulus S2 dan usiaku tidak lagi muda; 28 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sepuluh hari di rumah itu, aku hanya diam di kamar. Aku mengunci pintu rapat-rapat, tak pernah keluar, kecuali hanya untuk makan dan mandi. Aku benci pada ayah. Juga pada ibu, lantaran ibu tidak berani membocorkan kriteria calon suami yang dikehendaki oleh ayah. Berulangkali ibu membujukku untuk segara balik ke kota supaya tesisku cepat selesai. Tapi aku diam tak memberi jawaban. Penolakan ayah membuatku marah, dan aku sudah berjanji untuk tak balik ke kampus selama ayah masih bungkam soal kriteria calon suamiku. Aku pikir, dengan cara itu, ayah akan luluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ayah tetap diam, tak peduli ulahku. Hingga suatu siang, ibu mengetuk pintu kamarku. Semula, aku mengira kedatangan ibu atas suruhan ayah yang mau mengalah dan berdamai. Ternyata, dugaanku itu salah. “Ada temanmu yang datang! Apa kamu tak ingin menemuinya?”  kata ibu dari balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa namanya, bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Lutfi…” jawab ibu setelah berpikir agak lama, “Apa kamu masih akan tetap mengunci diri dalam kamar dan tak ingin menemuinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi, bu! Tolong ibu temui dulu Mas Lutfi, sekitar sepuluh menit lagi saya ke ruang tamu.”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“SATU kehormatan, akhirnya mas Lutfi mampir ke rumah,” sambutku saat berada di ruang tamu. Dan, ibu bangkit dari kursi, pergi ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan saja, apalagi saya sedang ada acara di Surabaya. Makanya, saya menyempatkan mampir. Toh, jarak Surabaya dari sini, tidak terlalu jauh. Tapi, kalau mau jujur, sebenarnya saya ke sini atas permintaan Rini. Semalam, dia menelpon saya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Jantungku hampir copot. Aku tidak menduga jika Rini -temanku sekampus-  telah bercerita kepada Mas Lutfi. “Pasti Mas Lutfi membawa pesan Rini untuk memintaku segera balik ke Jakarta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak salah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, aku sudah memutuskan tak akan balik, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Lutfi menarik napas panjang. Aku tahu, dia tidak akan menyerah untuk terus membujukku. Aku mengenal Mas Lutfi sejak kami kuliah S1 dan Mas Lutfi telah banyak membantu, mengajariku banyak hal, terutama ilmu agama. Maklum, dia dahulu pernah belajar di pesantren sewaktu masih SMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kamu butuh waktu untuk merenung. Tak ada salahnya menenangkan diri di rumah beberapa saat. Tapi, saya tetap memintamu untuk tak keluar kuliah. Jalan panjang yang kamu ukir, jangan sampai berakhir sia-sia hanya karena masalah ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pintu, ayahku yang baru pulang dari masjid menunaikan shalat dhuhur tiba-tiba muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupanya lagi ada tamu! Kenapa cuma disuguhi minuman saja? Sana… siapkan makan siang!” pinta ayah, seraya memberiku sebuah isyarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak usah repot-repot, pak! Kebetulan saya dikejar waktu, karena tiket pesawat yang saya pesan berangkat jam 5 sore nanti,” timpal Mas Lutfi, seraya menengok jam di tangannya. “Hanya saja, jika tak keberatan, saya bisa numpang shalat dhuhur di sini…”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SETUMPUK piring yang ada di tanganku hampir jatuh, tatkala aku melintasi ruang shalat hendak menaruh piring di meja makan. Aku lihat ayah mengendap-ngendap dari balik gorden, mengintip ke ruang shalat. “Apa yang ayah lakukan di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah tak menjawab, hanya memberi sebuah isyarat padaku untuk diam dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya. “Sssssst!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah ke ruang makan, memendam penasaran. Apa yang dilakukan ayah sampai harus mengintip Mas Lutfi shalat?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TIDAK lama setelah makan siang, Mas Lutfi pulang. Ayah dan ibu ikut mengantar Mas Lutfi sampai pintu pagar. Tapi setelah sosok Mas Lutfi menghilang dari pandangan kami, ayah tiba-tiba menggeret tanganku. “Kali ini, pilihanmu tidak salah! Aku merestui Mas Lutfi untuk jadi suamimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhhhh?!?” Aku terbengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau bisa, kau minta keluarga Mas Lufti untuk segera datang ke sini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang membuat ayah tiba-tiba memutuskan Mas Lutfi cocok untukku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia memenuhi kriteria sebagai calon suamimu. Tadi aku sengaja mengintipnya waktu ia menunaikan shalat. Dan saat ia sujud, aku melihatnya dengan jelas bahwa ia mengerjakan shalat dengan benar. Jadi, ia lulus ujian untuk jadi calon suamimu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, ayah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apa?!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Lutfi datang ke sini hanya sekedar main, tidak lebih dari itu…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah terperanjak, kaget. Kami semua saling melempar pandang. Ibu melirik ke arah ayah. Dan ayah melirik ke arah ibu. Aku tersenyum. Tapi ayah dan ibu hanya diam, memandangku dengan heran.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 01 Juli 08&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-8028351058359258666?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/8028351058359258666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=8028351058359258666' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/8028351058359258666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/8028351058359258666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/07/sujud-calon-suami.html' title='sujud calon suami'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SHB2BONBSmI/AAAAAAAAA8w/gtbWiBoqubo/s72-c/sujud08.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-3222505763697862128</id><published>2008-08-03T13:24:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T19:33:36.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>calon menantu buat ibu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SETjyclMoiI/AAAAAAAAA2E/9gmCAfqLttk/s1600-h/jilbab_kartun.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 290px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SETjyclMoiI/AAAAAAAAA2E/9gmCAfqLttk/s320/jilbab_kartun.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207537524952310306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cerpen ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt; edisi 1 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KAPAN kamu menikah?” tanya ibu, membuatku tersedak. Setangkup nasi di atas sendok yang hampir masuk ke mulutku, nyaris tumpah dalam piring. Tanganku gemetar, mukaku berubah memerah. Bagai disambar petir di siang bolong, aku termangu. Diam. Selera makanku mendadak hilang. Lalu, aku letakkan kembali sendok di atas piring. Tapi mulutku, entah kenapa, tiba-tiba jadi bungkam. Aku tak mampu menjawab pertanyaan ibu yang serasa menapar mukaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang makan di rumah kami yang semula dingin, ketika semilir angin masuk dari pintu dapur tiba-tiba merambatkan hawa panas. Apalagi, di atas kompor gas, ibu masih menjerang air, yang kebetulan mendidih. Suara jerangan air sekan-akan menghukumku dalam kesenyapan. Aku memandang ibu, dengan diam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu diam?” kembali ibu bertanya, yang justru membuatku bungkam “Apa kamu masih ragu menjadikan Winda sebagai istrimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih diam, tidak menjawab pertanyaan ibu.  Meski tak hanya sekali itu, ibu mendesakku untuk segera nikah, tapi aku tahu persis calon menantu yang didambakan  ibu. Karena itulah, aku bingung memberikan jawaban. Maklum, Winda perempuan yang tak masuk dalam kriteria calon menantu yang diidamkan ibu. Walau dalam banyak hal, Winda mampu meluluhkan hati ibu, setelah kuperkenalkan kepada ibu sekitar tiga tahun lalu, tapi masih ada dua penilaian yang selalu membuat ibu sulit menerimanya; ia tidak pernah belajar di pesantren dan tidak memakai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan pendapat ibu? Karena, aku masih belum bisa menentukan pilihan; apa Winda itu calon menantu ibu yang tepat…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu hanya ingin minta kepastianmu! Pasalnya, kemarin pamanmu datang ke sini menawarimu untuk dijodohkan dengan Novi, putrinya. Bagaimana dengan kamu? Jika ibu, tak keberatan! Novi itu gadis yang baik, penurut, patuh, dan tidak kurang apa pun jika kelak menjadi istrimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, Novi itu masih saudara, tepatnya masih sepupu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang, apa yang salah kalau kamu menikahi Novi? Agama tidak melarang itu, nak! Karena sepupu itu tidak termasuk golongan wanita yang haram untuk dinikahi!” potong ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun tidak tergolong wanita yang haram dinikahi tetapi dari catatan medis tak jarang kutemukan fakta lelaki yang menikahi saudara sepupu bisa mengakibatkan adanya….” tak kuasa aku melanjutkan apa yang mengumpal dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, ibumu tidak pernah sekolah dan baca Koran, tetapi tidak pernah agama membolehkan sesuatu hal yang dihalalkan itu kemudian bisa berakibat fatal…!” potong ibu kembali, yang membuatku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu memandangku, menunggu aku buka mulut. Tapi aku tak tega membantah ibu. Mata ibu yang berwarna biru, serupa ombak di tengah lautan, entah kenapa selalu membuatku tenggelam dalam kebisuan. Maka aku kemudian bangkit, dan berdiri dari kursi, meninggalkan ibu yang masih menghabiskan sisa nasi yang tergenang di tengah piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu masih menunggu jawabanmu. Maka, sebaiknya kamu memikirkan tawaran pamanmu itu sebab jika besuk pamanku datang ke sini lagi, ibu tak dihadang perasaan tak enak untuk memberikan sebuah jawaban!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam, tak menjawab, dan masuk kamar bahkan tak pernah berpikir tentang perjodohan itu. Dan esoknya, aku kembali ke Jakarta lebih awal dari jadwal yang aku rencanakan. Padahal, semula aku berniat pulang ke rumah selama seminggu. Tetapi, perjodohan itu membuatku tidak betah tinggal lebih dari dua hari.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KINI, sudah satu tahun perjodohan yang ditawarkan oleh ibu itu berlalu. Aku tidak pernah memberi sebuah jawaban pasti kepada ibu, dan aku juga tidak tahu; jawaban apa yang diberikan oleh ibu kepada paman. Tetapi diam-diam aku justru semakin akrab menjalin hubungan dengan Novi, meski hubungan itu hanya sekedar saling mengenal lebih dekat. Dan, itu terjadi setelah aku putus hubungan dengan Winda sekitar setengah tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kuingat, pertemuanku dengan Novi sekitar setengah tahun yang lalu saat ayahnya harus dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung. Apalagi saat itu paman dirawat di Jakarta sebab rumah sakit di Bogor, tempat tinggal Novi dan keluarga tidak memungkinkan paman bisa dirawat dengan peralatan modern. Maka aku memutuskan untuk menjenguk paman. Meski, ibu tidak memintaku menyempatkan datang ke rumah sakit karena ibu tahu kesibukanku sebagai wartawan sebuah radio asing Jerman yang ditugaskan di Jakarta sulit kutinggalkan, aku diam-diam, dan tanpa sepengetahuan ibu, justru menjenguk paman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun aku tak pernah melihat senyum Novi yang dulu terpahat dalam bingkai album foto yang masih aku simpan, aku masih belum lupa dengan seraut wajahnya. Ia masih seperti dulu, ramping, tidak terlalu gemuk, murah senyum, juga tidak pernah melepas jilbab. Saat-saat genting harus merawat ayahnya seperti itu, bahkan ia cukup cekatan. Pantas saja, ibuku senang dengan Novi, dan selalu mendesakku untuk memilih Novi agar menjadi istriku. Kini aku baru sadar kenapa dulu-dulu, setiap kali aku memperkenalkan kekasihku untuk kuajak pulang ke rumah yang hampir mencapai tiga belas calon, ibu seperti tak berkenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan di rumah sakit itu memang tak meninggalkan sebuah kenangan. Aku lebih banyak diam, dan Novi juga tak banyak bicara. Apalagi ia harus duduk menemani paman di tepi ranjang, merawat dengan telaten. Saat akhirnya jam besuk itu habis dan aku harus pulang, Novi sempat mengantarku sampai di pintu kamar. Ketika itu, aku tiba-tiba teringat dengan sebuah novel yang baru kubeli sebelum aku ke rumah sakit. “Tadi, aku sempat mampir di toko buku Gramedia, dan membeli sebuah novel. Aku berharap novel ini dapat menemanimu dan membuatmu tabah…” kataku, seraya menyerahkan bungkusan plastik putih yang berisi sebuah novel Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak kusangka, engkau masih sempat menjenguk dan meninggalkan sebuah novel untukku. Terima kasih, ya! Eh, aku hampir lupa, bagaimana dengan kabar mbak Winda? Kenapa tadi kamu tidak sekalian mengajak dia ke sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang hampir melangkah pulang meninggalkan lorong panjang rumah sakit, hanya berdiri mematung dan tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi, tak ada gunanya aku menutupi semua yang telah dia ketahui, karena aku tahu, ibu pasti sudah bercerita banyak tentang Winda kepada Novi. “Aku sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan Winda. Dia telah meninggalkanku dan lebih memilih lelaki lain…” jawabku pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, aku melihat senyum Novi yang tadi sempat tergambar jelas di tepi bibir manisnya tiba-tiba berubah seperti menyiratkan rasa iba. “Maaf, aku tak tahu. Semoga pertanyaanku tadi tidak membuatmu sedih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apa-apa! Aku doakan, semoga ayahmu cepat sembuh! Tolong, kabari aku jika ada apa-apa dengan paman!”  ucapku, seraya melangkah dengan tegak, seakan aku ini lelaki tangguh yang tidak sedang dirundung patah hati. Padahal dalam hati, aku sedang bergolak; desakan ibu untuk memintaku segera menikah dan aku masih dilanda sedih karena Winda telah meninggalkanku dan memilih menikah dengan lelaki lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, pertemuanku dengan Novi di rumah sakit itu membuat kami semakin akrab. Dua hari kemudian, dia kirim sms padaku memberi kabar bahwa ayahnya sudah dibawa pulang. Meski kami tidak pernah bertemu lagi setelah peristiwa itu, tetapi kami masih sering berkomunikasi. Tak jarang, aku kirim sms atau telpon Novi saat-saat tak lagi sibuk kerja. Hanya saja, aku tak pernah memberi kepastian tentang hubungan kami. Aku hanya tak mengerti, kenapa tiba-tiba ibu tahu hubungan kami dan menanyakan soal keseriusanku untuk memilih Novi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu tahu, kini kau dekat dengan Novi dan itu yang membuat ibu harus bertanya kepadamu. Apalagi yang membuatmu harus berpikir lama? Novi itu gadis baik, tidak kurang satu apa pun untuk kau jadikan istri! Lantas, apa yang membuamu ragu?” tanya ibu lewat telpon, yang membuatku nyaris terkejut. Tapi, aku hanya diam, tak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin, pamanmu kembali menanyakan pada ibu soal keseriusanmu dengan Novi. Jika kamu tidak mau, tentu ibu bisa menolak dengan halus, tetapi jika kamu diam, lantas apa yang harus ibu katakan? Padahal, Novi itu gadis baik…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu selalu saja melebih-lebih Novi. Jadi aku tak bisa obyektif untuk memutuskan. Jelas, itu bisa membuatku hanya menuruti permintaan ibu jika aku menikahi Novi, tapi jika ibu memintaku berkata jujur, terus terang aku ragu!”  jawabku setengah emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, ibu terkejut. Mungkin ibu tidak menduga akan mendengar jawabanku yang nyaris membuatnya terperanjak kaget, tapi aku pikir ibu sudah tahu apa yang ada dalam hatiku. Ibu tidak pernah salah membaca hatiku dan bertahun-tahun aku menjadi anaknya, ibu mengenalku cukup jauh. Maka ibu tidak menanyakan lebih jauh lagi, dan menutup telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, aku tahu apa yang akan dikatakan ibu pada paman.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK ada sesuatu yang mengejutkan jika hari ini aku menerima sms dari Novi yang memberi kabar padaku, bahwa ia akan menikah dua minggu lagi. Aku sudah tahu soal pernikahan itu dari ibu seminggu yang lalu saat ibu menelponku dan memarahiku habis-habisan lewat telpon. Aku hanya diam tapi yang membuatku bingung justru ibu kembali bertanya padaku, “Lalu, kapan kamu menikah? Usiamu sudah hampir tiga puluh tahun. Apa lagi yang kamu tunggu? Kamu ini sudah kerja, dan bahkan bisa dikatakan mapan. Maka aku belum bisa tenang dan bahagia selama melihatmu belum memiliki pasangan hidup. Ibu hanya ingin kamu segera menikah, sebelum ibu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, Novi mungkin bukan jodohku. Tapi, ibu tidak usah kawatir dan ragu! Karena aku sudah memiliki calon yang ibu dambakan. Dia itu gadis berjilbab seperti yang ibu harapkan. Di acara pernikahan Novi nanti, aku mungkin akan mengajak dia untuk aku kenalkan pada ibu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah? Dia dari mana? Apakah ia lebih cantik dari Novi sehingga kau tidak memilih Novi sebagai pilihanmu?” tanya ibu dengan girang. Aneh, aku merasa ibu tidak pernah senang seperti hari itu. Mungkin ibu sudah mengharap aku segera menikah dan aku memang tak punya pilihan lain apalagi ibu selalu berpesan padaku, menikah itu setengah dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kali aku terpaksa harus berbohong pada ibu.  “Sudahlah, bu! Nanti ibu juga akan tahu sendiri setelah bertemu dengan calon menantu ibu! Aku jamin, dia tidak akan mengecewakan ibu karena pilihanku kali ini tidak salah!”  tegasku, tanpa ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu saat ibu menutup telepon; apa ibu tahu aku berhohong atau tidak. Tapi aku kini justru dihadang persoalan baru. Karena aku tak tahu siapa nanti yang harus kukenalkan pada ibu sebagai calon menantunya, sementara kini aku tak punya teman akrab, apalagi kekasih yang bisa aku ajak ke acara pernikahan Novi dua minggu nanti. Padahal, aku yakin ibu sudah membayangkan dan menunggu dengan cemas, karena ingin melihat wajah calon menantunya yang akan aku perkenalkan nanti pada ibu.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kado pernikahan buat Zaki AM&lt;br /&gt;Ciputat, 3 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    *) n mursidi&lt;/span&gt;, cerpenis asal Lasem, Jateng. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa nasional dan lokal. Kini, ia sedang menulis sebuah novel.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-3222505763697862128?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/3222505763697862128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=3222505763697862128' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3222505763697862128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/3222505763697862128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/06/calon-menantu-buat-ibu.html' title='calon menantu buat ibu'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SETjyclMoiI/AAAAAAAAA2E/9gmCAfqLttk/s72-c/jilbab_kartun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-6073272166615784913</id><published>2008-07-27T07:51:00.006+07:00</published><updated>2008-12-10T19:33:36.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai sastra'/><title type='text'>kematian (Sejarah) novel (?)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SHB6rLE73vI/AAAAAAAAA84/LP83X7m4pUU/s1600-h/ayat_ayat_cinta_poster.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 156px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SHB6rLE73vI/AAAAAAAAA84/LP83X7m4pUU/s400/ayat_ayat_cinta_poster.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219806850248859378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;esai ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/budaya/kematian-sejarah-novel.html"&gt;Seputar Indonesia&lt;/a&gt;, Minggu 27 Juli 08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Jauh-jauh hari, ketika film Ayat-ayat Cinta (AAC) sedang santer diberitakan akan diangkat --diadaptasi-- ke layar lebar, saya sudah memprediksi kalau kelak film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu pasti akan melampaui novelnya. Ternyata, dugaan saya itu tidak meleset. Setelah film AAC diluncurkan dan diputar di sejumlah gedung bioskop, apa yang saya ramalkan itu tidak salah. Tidak kurang empat juta penonton (dari segala umur), rela antre berdesak-desakan untuk sekedar menonton akting Fedi Nuril, Rianti Catwright, Saskia A. Mecca, Carissa Putri, dan Melanie Putria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, novel Ayat-ayat Cinta besutan Habiburrahman El-Shirazy yang fenomenal itu, hanya mampu menembus penjualan sekitar 500.000 eksemplar (dalam rentang waktu tiga tahun). Jelas jumlah penonton film Ayat-ayat Cinta itu telah melibas jauh -delapan kali lipat. Tidak mustahil, tatkala Riri Reza sekarang ini sedang bekerja keras memproduksi novel bestseller Laskar Pelangi (besutan Andrea Hirata), saya pun berani bertaruh jika -kelak- film yang mengangkat kisah perjalanan hidup pengarang kelahiran Belitong itu pun akan melampaui (jumlah pembaca) novelnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena itu seakan mempertegas kematian sejarah novel di era budaya visual sekarang ini. Pasalnya, kesuksesan film AAC dalam menjaring jumlah penonton, tidak semata-mata mengukuhkan akan rendahnya tingkat baca masyarakat Indonesia. Lebih dari itu, dapat dibaca sebagai sebuah pertanda kematian (sejarah) novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Budaya Visual&lt;br /&gt;Kematian (sejarah) novel, tidak lain karena dunia sekarang ini telah mengalami pergeseran (masa transisi); dari dominasi fantasi, atau imajinasi ke konsumsi gambar instan (dunia visual). Pada masa transisi ini, sebagaimana diungkapkan John Naisbitt, dunia tulis Gutenberg atau sejarah tulisan yang dikenal sejak 6.000 tahun yang lalu telah direbut paksa faktor visual, mulai dari seni, arsitektur, fesyen hingga desain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kehadiran zaman film, TV, video, dunia memang dikuasai oleh narasi literal. Tidak salah, Aristoteles dalam Poetics pernah berujar, "Hal yang terhebat di dunia ini, adalah menjadi penguasa metafora." Apa yang dikatakan Aristoteles itu, memang tidak salah. Pasalnya, waktu itu dunia dikuasai oleh penguasa motafora. Tak mustahil, pada zaman itu, penulis cerita, dan penyair dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, masa kejayaan metafora itu sekarang telah memudar. Peradaban dunia imajinasi kini telah dikalahkan gambar langsung film, TV, video, dan DVD yang telah merebut dan bahkan mengganti kekuasaan cerita (cerpen, puisi dan novel). Maka, kini yang menjadi penguasa budaya (dunia) tidak lagi penguasa metafora (sebagaimana diungkapkan oleh Aristoteles), melainkan sang penguasa visual yang diperankan oleh artis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena akan kemenangan kekuasaan visual di dunia inilah, yang kemudian menjadikan artis seperti Fedi Nuril, Rianti Catwright, Saskia Mecca, bahkan Carissa Putri lebih dikenal oleh orang daripada Kang Abik --panggilan akrab pengarang Ayat-ayat Cinta-- bahkan sutradara film tersebut; Hanung Bramantyo. Kemenangan dari dunia visual itu dalam kasus yang lebih akrab bisa diamati dari tayangan acara infotainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta "peralihan" dari dunia narasi literal yang sekarang diambil alih oleh narasi visual ini pun semakin mempertegas akan kematian sejarah Novel. Logis, kalau Sir Vidia Naipaul, pemenang hadiah Nobel 2001 dalam bidang kesusastraan pernah berucap lantang, "Saya tidak yakin, novel akan dapat bertahan; hidupnya hampir berakhir." Ironisnya, dia bahkan menegaskan novel sudah "sekarat" --setidaknya-- selama satu abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak hanya Sir Vidia Naipaul yang mengklaim novel telah sekarat. Tetapi Vadarajan (redaktur fitur editor Wall Street Journal Europe-- ternyata tidak "menelan" mentah-mentah ucapan Naipaul itu. Pasalnya, ia justru menaruh curiga pada Naipaul bahwa "dibalik" ucapan itu, Naipaul bisa jadi justru sesumbar; ingin menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada --pengarang-- yang menulis novel sebaik dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas, apakah kecurigaan Vadarajan itu benar atau salah, yang jelas dunia sekarang ini telah diambil alih budaya visual. Imajinasi, sebagai kekuatan novel telah dilibas dominasi gambar visual dan novel pun berada di ambang kematian. Memang, novel yang sejatinya adalah ranah fantasi dan imajinasi, tidak mati. Tapi, tak dapat dimungkiri, sejarah novel sekarang ini telah mengalami pendarahan yang cukup parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dunia diambil alih budaya visual, penjualan novel di Indonesia yang mampu menembus penjualan 3.000 eksemplar lebih, jelas dianggap melegakan. Untuk sukses yang diraih Habiburrahman (Ayat-ayat Cinta) dan Andrea Hirata (Laskar Pelangi) jelas sebuah perkecualian. Kendati demikian, ketika diangkat ke layar lebar, toh visualisasi gambar melibas jumlah pembaca novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geliat Novel Grafis&lt;br /&gt;Pada saat novel konvensional mengalami pendarahan yang cukup parah justru novel bergambar (novel grafis) menunjukkan geliat yang bertolak belakang. Jika novel konvensional di era sekarang ini sedang sekarat, anehnya novel grafis semakin menggeliat dan mendapatkan tempat yang istimewa. Dua tahun terakhir, skala penjualan novel grafis rupanya semakin menunjukkan pertumbuhan. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia. Di negara Inggris tidak sedikit penerbit yang memperluas koleksi novel grafis untuk diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan pertumbuhan novel grafis itu, belakangan juga sedang tren sebuah film yang diangkat dari novel grafis. Jika dulu kisah heroik yang diangkat dari komik, bisa disebut seperti Supermen, Batman, X-Men, kini pun mulai dikenal; From Hell, The League of Extraordinary Gebtlemen dan V for Vendetta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena apakah yang dapat dibaca dibalik geliat pertumbuhan novel grafis, di saat novel konvensional justru mengalami sekarat? Setidaknya, ada dua hal yang menjadikan novel grafis bisa bersinar terang pada era budaya visual. Pertama, novel grafis tak semata-mata sebuah cerita yang lahir dengan mengandalkan narasi literal. Lebih dari itu, berusaha menjembatani kekuatan teks dan image untuk berkesinambungan. Karena itu, novel grafis tak ikut sekarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dalam novel grafis, kehadiran teks --sekali pun ada-- tidak lebih sebagai "sarana" untuk menjelaskan sebuah gambar (image). Kekuatan teks --sebenarnya-- bukan lagi suatu keharusan, karena sudah ada unsur motion yang dapat dianggap sebagai "jati diri" kekuatan novel grafis. Pada konteks ini, adanya ungkapan sebuah gambar bisa mewakili seribu kata seakan mempertegas kehadiran teks dalam novel grafis hanya sebagai pelengkap belaka. Karena itu, Claude Beylie dan F. Laccasin memasukkan komik (sekarang dikenal novel grafis) sebagai bagian dari seni; seni kesembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi keberadaan novel grafis tidak bisa disamakan dengan novel konvensional. Karena novel konvensional kini sedang sekarat. Kelak pemutaran film Laskah Pelangi setidaknya akan mempertegas kematian dari (sejarah) novel.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan esais, tinggal di Ciputat, Tangerang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6093390946387285065-6073272166615784913?l=n-mursidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://n-mursidi.blogspot.com/feeds/6073272166615784913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6093390946387285065&amp;postID=6073272166615784913' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6073272166615784913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6093390946387285065/posts/default/6073272166615784913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://n-mursidi.blogspot.com/2008/07/kematian-sejarah-novel.html' title='kematian (Sejarah) novel (?)'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SHB6rLE73vI/AAAAAAAAA84/LP83X7m4pUU/s72-c/ayat_ayat_cinta_poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6093390946387285065.post-2649812215740543930</id><published>2008-06-01T20:29:00.012+07:00</published><updated>2008-12-10T19:33:36.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>lelaki kayu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R_DqXjvVODI/AAAAAAAAAtY/iFzh5ITZAWk/s1600-h/y+3eh.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183900861555095602" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 178px; cursor: pointer; height: 248px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/R_DqXjvVODI/AAAAAAAAAtY/iFzh5ITZAWk/s200/y+3eh.jpg" border="0" height="226" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;cerita ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Jurnal Nasional&lt;/span&gt; Minggu 1 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/1/&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SAAT pertama kali aku bertemu dengan lelaki itu aku seakan-akan basah kuyup diguyur hujan. Aku merasakan ruangan seketika dingin. Padahal kala itu, aku sedang berada di ruang konferensi pers Mahkamah Konstitusi. Tapi, tubuhku tiba-tiba berkeringat. Punggungku basah. Dan, badanku disergap gigil. Aku kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata lelaki itu tajam. Sesekali melirik ke arahku, mencuri-curi pandang. Aku sempat melihatnya ketika ia mendongakkan kepala, lantas saat dia kembali melirikku, mata kami sempat bertemu. Kami hanya saling pandang, dalam diam. Ia membisu, serupa kayu dan tubuhnya kaku seolah-olah habis keluar dari kulkas. Dan, lantaran tubuh kakunya itulah kelak aku menamainya lelaki kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lama kami bersitatap pandang. Tetapi satu hal yang masih kuingat dari sorot matanya; ia seolah-olah menghakimiku dengan kutukan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku lebam seperti diterjang badai. Tak kuat menahan pedih di sudut mataku, aku merunduk. Sisa keringat masih membasahi pakaianku kala konferensi pers selesai dan tidak kusangka, ia sudah berdiri di depanku. Ia mengerdipkan mata, entah untuk apa. Aku serasa menangkap sebuah isyarat, ia mau mengajakku berkenalan. Kami kemudian bercakap-cakap sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya kami berpisah, ia melenggang pergi meninggalkan desah seperti bunyi genta yang kelak ternyata menggetarkan jantungku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;LAMA kami tak pernah bertemu lagi. Ia menghilang seperti sebuah musim yang hanya akan datang jika waktunya tiba. Aku pun tidak ingat lagi pertemuan menyedihkan itu hingga dua bulan kemudian kami bertemu kembali di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Terik mentari masih meninggalkan sisa panas di kaca, tatkala aku tengah memandangi sorot kamera usai tampil live memberitakan soal kondisi kritis mantan presiden di negeri ini, dan sepasang mataku menangkap sekelebat sosoknya berdiri dari kerumunan wartawan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyibak lalu lalang orang, dan kemunculannya itu sempat membuatku terkejut. Di tengah kerumunan, sepasang matanya itu serupa petir. Tak sepatah kata pun yang ia ucapkan saat ia menyodorkan secarik kertas kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap matanya. Ia masih diam, mematung serupa arca. "Kamu hanya membuatku bingung!" ucapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tulis aja alamat emailmu dan nomor hp-mu, setelah itu aku akan pergi agar kau tak lagi bingung! Gampang, kan?" pintanya setengah memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetaran, aku menulis email dan nomor hp-ku di secarik kertas kosong yang disodorkan. Tatapan matanya mengambang dan dia hanya mengucapkan sepatah kata pendek yang tidak puitis --sebagai tanda terima kasih. Lalu, lelaki kayu itu pergi dengan meninggalkan aroma parfum --yang kelak ternyata menggetarkan degup jantungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menatap diam ketika ia berjalan di tengah kerumunan, tetapi sebelum ia menghilang, aku tiba-tiba ingin meminta nomor ponselnya. "Jack..," teriakku membuatnya menoleh bersamaan dengan orang di sekitarnya. "Miss call aku, dong...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti, menarik napas panjang dan kemudian memasukkan nomor yang tertera di atas kertas. Tidak lama kemudian, hp-ku bergetar. Tampak sederatan nomor baru di layar ponselku, yang membuatku kembali basah kuyup seperti saat pertama kali bertemu dengan lelaki itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;MALAM belum berumur renta, saat aku menarik selimut untuk tidur lebih awal. Maklum, besok pagi buta aku harus kembali dihajar liputan. Tapi tatkala aku mematikan lampu kamar, tiba-tiba ponselku menyalak. Kuraih hpku dari meja dan aku bergidik ketika membaca di layar hp tertera sepenggal nama berinisial lelaki kayu. Entah ada dorongan apa, malam itu aku mau menerima telponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hallo...!" jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Angga, bisakah kamu meliput peristiwa kebakaran di dekat rumah susun tempat hunianku? Aku kini ada di balik jendela, lagi melihat kobaran api yang menyala da
