Senin, 24 Agustus 2009

pulang lebaran tahun lalu...

cerita pendek

TIGA hari menjelang lebaran, aku pulang ke kotaku. Sebuah kota kecil yang nyaris tak lagi memikatku. Kota yang hanya menyisakan keping-keping kisah usang tak menarik. Kota yang menyimpan sepotong dendam, desau dari sebuah risau tentang masa kecil yang memilukan. Juga, kota yang tidak memiliki harapan dan masa depan untuk seorang anak pembangkang. Maka jangan salahkan aku jika aku nyaris tak memiliki kerinduan untuk menginjakkan kaki di beranda rumah, sejak ayah meninggal tiga tahun yang lalu. Tapi entah kenapa, sekarang ini aku kembali menginjakkan kaki di kota mungil ini -kota yang hampir tiga tahun tidak pernah aku kunjungi- sejak aku pindah kerja ke kota seberang.

Tiga tahun sudah, aku menepati janjiku pada ayah. Aku tidak pulang, dan aku sudah menebus dosaku. Jadi, tidak ada dusta lagi aku pulang ke kota ini, setelah tiga tahun cuma uang kirimanku yang menjenguk tangan bunda. Dan kini, aku sudah menginjakkan kaki di kota kelahiranku dan hampir sampai di rumah.

Tetapi, saat turun dari bus tepat di gang kecil menuju rumah, aku termangu menatap lorong panjang yang lengang. Tak seperti kepulanganku waktu kecil dulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Siang itu, aku merasa kelengangan lorong menuju rumahku mengabarkan berita petaka. Angin tiba-tiba menguarkan aroma duka. Aku disergap cemas, lantas menatap sekeliling. Kerinduanku setelah lama tak bertemu dengan bunda, seperti menyeretku menjadi orang asing di kampung sendiri. Aku merasa mirip seperti seorang tamu yang akan bertandang ke rumahku, tidak sebagai seorang anak yang pulang ingin bertemu dengan ibu kandungnya.

Kakiku gemetar, tatkala aku melangkah dengan ragu melewati gapura di mulut gang mungil ke arah rumah. Tidak ada anak-anak kecil berkaos lusuh, bermain kelereng di sepanjang lorong. Angin seperti membisu. Langkah kakiku kaku. Padahal, aku ditikam kerinduan untuk segera memeluk bunda. Tapi belum jauh aku melangkah memasuki gang mungil itu, tiba-tiba kulihat bendera putih tertancam di dekat gapura.

Angin kembali bertiup, mengibarkan kain kecil di tiang bambu itu yang membuatku disergap gelisah. Aku tak tahu siapa yang meninggal dunia. Karena tak ada berita duka di papan pengumunan yang biasa ditulis dekat gapura kalau ada orang yang meninggal.

Aku berhenti, ragu untuk berjalan lebih jauh. Langkah kakiku seperti terpikat tanah untuk terus kuajak pulang ke rumah. Lamat-lamat, telingaku mendengar langkah kaki iring-iringan orang. Tidak lama kemudian, muncul keranda yang ditutup kain hijau diusung empat orang menyusuri lorong dari arah rumahku. Di belakang keranda, ada tiga orang berjalan mengikuti dengan muka tertunduk, ditikam sedih. Tak jelas pandanganku, ketika aku menatap para pengusung keranda. Juga tiga orang yang ada di belakang keranda. Aku berdiri mematung, menatap iring-iringan orang yang mengusung keranda, semakin berjalan mendekat ke arahku.

Tetapi, tatkala iring-iringan pengusung keranda itu hampir dekat, aku nyaris tak percaya. Aku seketika terperanjak kaget. Tiga orang pengiring yang berjalan di belakang keranda itu tidak lain ustadz Mukhtar, kakakku dan adikku. Iring-iringan pengantar jenazah berjalan cepat. Tatkala melintas tepat di depanku, aku hanya termangu. Karena orang-orang itu tidak mengenalku. Kakakku diam. Adikku tak menoleh ke arahku. Aku lantas berlari mengejar iring-iringan itu dan berteriak, dengan kencang, "Siapakah yang meninggal dunia?"

"Kau ini aneh! Ayahmu sendiri yang meninggal, tapi kau justru tidak tahu," jawab kakakku, dengan muka marah.

Aku tergeragap. Nyaris jantungku membeku. "Jangan bercanda, kak! Ayah kan sudah meninggal tiga tahun lalu. Jadi, tidak mungkin ayah meninggal dunia dan dimakamkan lagi...!"

Kakakku diam. Tak menjawab. Adikku, bahkan tak menoleh ke arahku. Aku jadi bingung. Tidak ada jawaban, aku memutuskan untuk mengikuti iring-iringan para pengantar jenazah. Anehnya, semua orang yang mengantar jenazah, tidak satu pun yang mengajakku bicara, seolah-olah aku orang asing yang tidak pernah mereka kenal. Semua diam, seakan mereka sekumpulan orang bisu yang lagi dilanda sedih.

Iring-iringan pengantar jenazah itu akhirnya tiba di pemakaman. Lalu, keranda diturunkan. Jenazah yang sejak tadi telantar di balik keranda, segera dikeluarkan. Tidak ada geledak. Tak ada petir. Jenazah, yang konon jasad ayahku itu kemudian digeletakkan di tepian tanah galian, dan tak segera dimakamkan. Tidak ada orang, termasuk kakakku, dan adikku yang merasa berhak untuk segera memakamkan jenazah ayah.

Aku termangu, menatap kejanggalan itu.

"Kenapa kamu termangu?" tanya salah satu pengusung jenazah.

"Kenapa tak segera dikuburkan?" balasku, merasa aneh.

"Kau tahu apa tentang prosesi pemakaman? Kini, carilah beberapa kancing baju agar ayahmu bisa segera dikuburkan!" perintah pengantar jenazah lain dengan muka cemberut dan murka.

"Untuk apa dengan kancing baju segala?" bentakku, tak mengerti.

"Turutilah perintah itu supaya mereka segera memakamkan ayahmu!" ucap ustadz Mukhtar.

Mata ustadz berwarna biru, membuatku tak kuasa membantah. Aku segera berlari meninggalkan pemakaman.

Tak tahu harus mencari kancing baju ke mana, aku kemudian berlari sepanjang jalan, tidak jelas arah. Anehnya, sepanjang jalan yang kulintasi itu, sepenuhnya bentangan tanah kosong. Tidak kutemukan toko. Tak kulihat pasar.

Setelah berlari tak tentu arah, kakiku jadi lemas. Aku berhenti, menarik napas. Keringat mengucur. Terik mentari yang tadi menyengat, tiba-tiba berubah menjadi mendung. Langit kelam dan hujan kemudian turun. Aku mencari tempat untuk berteduh, berlari kembali. Untung kutemukan sebuah rumah di tepian sawah. Aku berteduh di teras rumah itu. Bajuku sudah basah kuyup. Aku mengibaskan rambutku biar segera kering dan agar kepalaku tidak pening. Tapi, belum sempat aku merasa tenang, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan muncul seorang tua yang kuyakini sebagai pimilik rumah itu. Mata orang itu, kulihat teduh saat dia memintaku untuk masuk ke rumah. Rupanya, orang itu seorang penjahit. Kulihat mesin jahit tua, teronggok kaku di sudut ruangan.

Aku seketika ingat ayah, yang memang bekerja sebagai penjahit. Kini aku sadar kenapa para pengantar jenazah itu memintaku untuk mencari kancing baju. Aku tahu kancing baju itu pasti untuk merekatkan kain kafan agar bisa melilit di jasad ayah dengan rapat, dikancingkan pada setiap sisi dengan sisi kafan yang lain.

"Maaf pak, aku butuh beberapa kancing baju. Sekiranya bapak memiliki kancing-kancing itu, aku harap bapak tak keberatan jika aku membeli beberapa biji!" pintaku, ragu.

Orang itu melihatku, ragu. Matanya bening, serupa telaga. "Tak usah membeli! Jika memang kau butuh, ambillah di kaleng dekat mesin jahit itu!" jawabnya seraya menuding ke arah mesin tua yang teronggok. "Aku tahu kau lagi butuh kancing itu untuk menebus dosamu!" lanjutnya.

Aku terlonjak kaget. Bagaimana mungkin bapak tua penjahit ini tahu akan dosa-dosaku pada ayah. Tapi aku tak peduli. Aku butuh kancing baju itu segera dan aku melangkah menuju mesin jahit tua yang teronggok, memilih kancing baju yang seragam. Aku ambil sembilan buah kancing baju, lalu segera pamit. Aku tak ingin ayah tergelatak terlalu lama, tak terurus di tepian makam.

Tapi betapa terkejutnya aku, ketika keluar dari rumah penjahit itu, aku berpapasan dengan para pengusung jenazah ayah, termasuk kakakku, adikku, bahkan ustadz Mukhtar yang ternyata sudah pulang dari pemakaman. Aku berdiri, heran. Menatap mereka dengan bingung.

"Ayahmu sudah dimakamkan, kini pulanglah! Ibumu sedang menunggumu di rumah. Dia diliputi kesedihan karena kau sudah lama tak pulang!" pinta salah seorang dari pengantar jenazah ayah dengan sorot mata merah menyala.

Hatiku sakit, dan aku merasa ditipu. Bagaimana bisa aku dibiarkan tidak mengikuti prosesi pemakaman ayah, justru diminta mencari kancing yang ternyata tak terpakai dan sia-sia?

Dengan sekuat tenaga, aku ingin memukul mereka semua. Tetapi, aku ternyata tidak memiliki tenaga lagi. Kepalaku pening. Mataku kabur. Kulihat semuanya tiba-tiba berubah gelap serta kabur. Dan aku tergeragap, bangun. Keringat sudah membasahi punggungku dan bahkan hampir seluruh bajuku. Aku menengok jam dinding. Pukul empat lebih tiga puluh menit. Adzan subuh sudah berkumandang.

Lamat-lamat, aku mulai sadar dan ingat tentang mimpi yang barusan menghampiriku.

Aku bersimpuh. Kini aku baru ingat. Seminggu yang lalu, ketika aku pulang ke rumah, bunda memang sempat memintaku berziarah ke makam ayah. Tapi karena dihajar kesibukan yang harus kuurus, akhirnya aku pun tak lagi ingat untuk memenuhi permintaan bunda. Aku tak sempat menziarahi makam ayah sewaktu pulang di hari lebaran kemarin. Sekarang, aku merasa bersalah. Kenapa pulang lebaran kemarin, aku hanya menjenguk bunda dan melupakan ayah yang sudah meninggal dunia? Apa karena ayah sudah tiada sehingga tak perlu aku jenguk sampai aku dihantui mimpi melihat ayah dimakamkan lagi? Bukankah dosaku pada ayah sudah aku tebus? Tetapi, kenapa ayah masih muncul dalam mimpiku? Apakah ayah masih belum bisa memaafkanku lantaran aku tidak pernah mau menuruti permintan ayahku menjadi seorang penjahit --sebagaimana pekerjaan ayah sepanjang hidupnya?

Aku tidak tahu! Tapi, setelah tiga tahun ayah wafat, aku sudah menebus dosaku. Meski, aku menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, aku tetap merasa sudah menuruti permintaan ayah. Kini, aku membuka sebuah garmen. Usaha itu aku rasa lebih dari permintaan ayah yang mengharap aku jadi penjahit. Lalu, pertanda apakah sampai aku melihat dalam mimpiku ayah dimakamkan lagi?

Kini, aku sudah balik ke kota. Jelas, tak mungkin aku ambil cuti lagi dan pulang ke rumah untuk menziarahi makam ayah, kecuali pulang lebaran tahun depan.***

Jakarta, 05/12/07-11/10/08

2 komentar:

RIDWAN KAUTSAR mengatakan...

cerpen yang bagus. kamu beruntung bisa pulang kawan, sedangkan aku...sampai sekarang pun untuk bermimpi pulang saja belum sanggup. kalimantan menelanku hidup-hidup. entah karena ambisiku yang belum tercapai atau apa, aku enggak tahu. nasehatku "tersenyumlah di kampung halaman sendiri, walau di tempat lain kamu sakit". he..he ngguyu kang!!

n. mursidi mengatakan...

semoga di tempat lain, kau tidak sakit kawan. hihihihi. aku selalu merindukanmu, krn kau kawanku yg baik....